<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752</id><updated>2011-12-02T10:54:15.284-08:00</updated><category term='politik'/><category term='buku'/><category term='film'/><category term='puisi'/><category term='kehidupan'/><category term='teman'/><category term='coretan'/><category term='pribadi'/><title type='text'>hujanmimpi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8949576941778632370</id><published>2011-04-15T19:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-15T20:09:36.717-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Monas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NrOT7MdrC1A/TakHk1kVPaI/AAAAAAAAABw/G4YuGbkYlpE/s1600/IMG0047A.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NrOT7MdrC1A/TakHk1kVPaI/AAAAAAAAABw/G4YuGbkYlpE/s320/IMG0047A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596012341420703138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Proklamasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain, diselenggarakan, dengan cara dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Agustus 1945&lt;br /&gt;Atas nama bangsa Idonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seokarno-Hatta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah proklamasi tersebut dibaca Ir. Soekarno. Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dan menandai tonggak lahirnya negara kepulauan bernama Indonesia. Ir. Soekarno kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama, dan Hatta menjadi wakilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar naskah itu langsung dibaca oleh Ir. Soekarno, meskipun hanya lewat rekaman. Pada tanggal 5 Februari 2011 di Monumen Nasional, Monas. Saya tertegun mendengarnya, meskipun tidak melihat sosok Soekarno secara langsung. Terasa ada yang bergetar dalam dada saya. Mungkin karena saya mengingat momentum sejarah dimulainya kisah tentang bangsa Indonesia. Dan saat ini, telah hampir 66 tahun usia Indonesia sejak saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monas, menjadi salah satu bangunan penanda yang begitu monumental. Didalamnya, kita dapat melihat diorama perjalanan sejarah bangsa Indonesia—meskipun tak lengkap. Dan yang pasti, ia menjadi tonggak yang tetap kokoh menjadi identitas Indonesia, terutama Jakarta. Biarpun udara Jakarta semakin berpolusi, sinar matahari semakin menyengat, dan sampah bertebaran, Monas seolah menopang Ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, saya tak sempat melihat lanskap kota Jakarta dari puncak Monas. Kabarnya, kalau ingin dapat sampai puncak Monas, kita harus datang sebelum jam 9 pagi. Saat itu saya memang datang terlalu siang. Hampir setiap hari, antrian selalu ada untuk naik puncak Monas menggunakan lift. Meskipun tak sempat melihat lanskap Ibukota, saya cukup senang ketika telah mengunjungi Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monas, menjadi miniatur tonggak berdirinya republik Indonesia, maka tak heran dekat dengan sejarah. Ketika monas dibangun, sejarah mengikutinya menjadi sebuah identitas yang terekam dalam bangunan tegak menjulang dengan puncak yang berlapis emas. Monas, seolah menjadi satu tiang pancang yang mengingatkan kita pada bersatunya berbagai suku, ras dan agama atas nama bangsa Indonesia. Beribu-ribu pulau, berjuta-juta manusia menjadi sebuah identitas satu, negara Indonesia. Dan semuanya, tersimpan rapi dalam sejarah menjelma Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ketika melihat sejarah seolah mendengarkan kakek bercerita tentang masa lalunya—meskipun hanya dalam khayalan, karena saya tidak pernah mendengar kakek bercerita atau mendongeng. Dari sanalah masa lalu saya, asal muasal saya. Dan dari sanalah saya mengerti siapa saya. Sejarah menjadi dasar identitas yang melekat dalam diri saya. Sebagai orang Indonesia. Maka tidak salah ketika padamu negeri kami berbakti, padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami mengabdi, dan bagimu negeri jiwa raga kami....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal tentang Monas yang tak mungkin lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QbJo6j1Xb84/TakIROo7_xI/AAAAAAAAAB4/b7weNUXYeSM/s1600/IMG0050A.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QbJo6j1Xb84/TakIROo7_xI/AAAAAAAAAB4/b7weNUXYeSM/s320/IMG0050A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596013104065150738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 5 februari 2011. Berawal pada ketika pernah berjanji. Maka pada hari itu, tepatnya hari sabtu. Pagi-pagi dada saya telah berdebar-debar. Nanti, saya akan meakukan hal yang bagi saya sungguh dramatis. Darah saya akan diambil. Maka seperti yang telah direncanakan, saya berangkat menemui seseorang. Lalu berangkat menuju sebuh tempat yang sangat asing bagi saya. Palang Merah Indonesia. Letaknya di daerah Senen. Dua kali saya harus ganti busway untuk sampai ke tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu telah melewati apa saja. Saya seperti orang yang akan disunat kembali—bahkan lebih mengerikan. Ada semacam rasa takut, tapi tidak ada kelegaan setelahnya. Yang dapat saya ingat hanya Monumen Nasional, disebabkan oleh suatu janji juga. Jadi akhirnya sampai juga saya ke PMI. Saya mengambil formulir pendaftaran dengan gugup, lalu mengisi kotak-kotak kosong dengan tulisan sesuai dengan petunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu bertanya pada saya, yang lebih saya rasakan seperti sebuah hal yang wajar, apakah itu pertama kalinya saya donor darah. Saya jawab dengan perasaan yang takut, iya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tibalah waktunya jarum ditusukkan di lengan sebalah kiri saya. Rasanya seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya, ada rasa nyeri yang meggesek-gesek daging saya. Bagi saya bukan masalah rasa sakit, tapi lebih pada rasa geli dan nyeri yang mungkin saya takutkan karena merasa ada benda asing dalam tubuh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pertama kali saya mendonorkan darah. Sebelumnya, tak pernah ada keinginan sama sekali untuk donor darah. Alasannya bukan karena rasa sakit, tapi semacam rasa geli dan terganggu dengan benda atau semacamnya yang menempel di kulit dan menghisap darah saya. Saya persembahkan donor darah itu pada seseorang yang sangat berarti bagi saya. Donor darah itu akan jadi sebuah pemberian paling istimewa untuk hari yang istimewa buatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, bukan hanya jadi hari istimewa untuknya, tetap juga untuk saya. Alasan sebuah janji juga akhirnya dia menemani saya berkunjung ke Monas. Sejak sebelum menginjakkan kaki di Ibukota saya memang telah berniat untuk mengunjungi Monas. Saya ingin menikmati sensasi mengingat sejarah tentang Indonesia. Lalu juga kenyamanan bersama orang yang menemani saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berfoto, jalan-jalan, mendengarkan Presiden Soekarno membaca naskah proklamasi, dan makan bersama. Benar-benar hari yang istimewa untuk kami. Tapi masih belum lengkap.suatau hari nanti, kesemuanya itu akan lengkap, dan kami akan benar-benar merasa sempurna seutuhnya menikmati hari yang istimewa. Seperti hari itu. Iyakan? Na.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2011&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8949576941778632370?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8949576941778632370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8949576941778632370' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8949576941778632370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8949576941778632370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2011_04_01_archive.html#8949576941778632370' title='Monas'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NrOT7MdrC1A/TakHk1kVPaI/AAAAAAAAABw/G4YuGbkYlpE/s72-c/IMG0047A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3973755783961344872</id><published>2011-03-30T21:33:00.000-07:00</published><updated>2011-03-30T21:34:24.086-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Surat untuk Cinta #7: ‘Dari Ayah untuk Bunda’</title><content type='html'>Selamat bertemu kembali, Cinta…&lt;br /&gt;Dan selamat datang untuk hidup baru bersama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga hari-harimu yang lalu tak seperti hari ini yang terasa murung. Hari ini, menjadi hari yang sedikit ganjil. Hari yang harusnya membuka kisah kita dengan kalimat-kalimat gembira, justru mendung menahannya menjadi kata-kata gelisah. Untuk satu waktu yang kita selami maknanya—setelah bersama. Pada ruang yang kita coba urai maknanya—seusai merapat. Kalau kata Dee,”karena ada jarak kita mendekat”. Itulah kita saat ini, Cinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang telah lama memendam duka, kita yang semakin rajin memilin kisah dengan diam-diam. Akhirnya apa yang kita harap datang, akan datang sebagai anugerah paling indah bagi kedua kita. Jangan lupa kita pernah membuka waktu secara perlahan, dan sabar. Kita sesekali menggeser jarak dalam ruang, hingga akhirnya aku panggil kau, Cinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Apakah hari ini kau masih merinduiku? Seolah bertanya apakah kita menjadi manusia biasa yang akan lelah dan menjadi bosan? Bosan pada cerita-cerita indah yang makin lama menjadi hal biasa. Bosan pada kata-kata mesra yang akhirnya menjadi tak kalimat berakhiran titik saja. Atau bosan pada ungkapan cinta yang bagimu hanyalah suara tak mesra? Jika mulai lelah, dekapkan dirimu pada pelukanku, sandarkan hatimu pada cerita tentang betapa beratnya jalan yang pernah kita lalui. Aku bukan malam, dan kau bukan siang yang tak akan pernah bertemu. Kau  juga bukan bintang, sedang aku bukan bulan, yang mengenal waktu menemanimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Jika memikirkannya, aku tahu hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaanku padamu. Bukan hanya kecil, hatiku hanya ada satu, dan itu telah kutitipkan padamu. Maka jagalah ia selayaknya kau jaga hatimu sendiri. Aku telah berpaut denganmu, kau telah mengikat denganku. Tak lebih jika sebentar lagi kita bernama ‘ayah dan bunda’. Kedua kata itu seakan mengusik keadaan yang paling nyaman untuk minta didengarkan. Akan ada ayah bagi lahirnya idealisme yang tak akan mati. Juga bunda untuk melindungi segala yang kau kandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, Cinta…atau mari bunda… kita lahirkan kisah-kisah yang terkenang sepanjang sejarah. Kita bangun impian dengan penerus-penerus yang mampu berpikir, bertindak dan tak lupa berdoa. Ia adalah benih, yang lahir dari getirnya laju waktu membuktikan cinta, maka tiupkan nafas hidup bagi sesamanya. Ia adalah awal dari kisah sejarah tentang kita. Maka bahagialah kita dalam masa yang tak akan kita lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Ah, sapaan itu terasa membuatku nyeri. Begitu lembut dan sarat melankoli. Ada ruang-ruang manja yang mengisinya. Apakah kau suka dengan itu? Panggilan yang bagitu, ternyata membuktikan tingkatan yang lebih tingggi dari sekadar cinta. Karena dia melahirkan buah dari cinta. Sedang cinta hanya menjelma tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, hari ini kau terlihat begitu cantik—meskipun biasanya memang kau cantik. Tapi hari ini, setelah masa yang sudah lalu, kau membuatku merasa menjadi seorang ayah yang tak lagi mencerna frasa-frasa duka. Ayah tak lagi mengungkit bait-bait sakit. Terkadang juga harus berbisik lirih pada perih. Ayah telah menjadi seorang yang siap untuk membaca kisah yang akan jadi sejarah. Karena ada jarak kita mendekat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda… kau adalah jelmaan Cinta dari segala cinta yang kupunya, aku adalah puisi sebagai hadiah keberadaanmu. Semoga selalu jadi puisi paling indah untukmu, juga buah cinta yang akan ikut meramaikan dunia. Aku sadar adanya sabda bahwa lahirku memang untukmu. Karena aku sayang kau, Cinta.&lt;br /&gt;Terlebih, aku cinta kau, Bunda…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Maret 2011&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3973755783961344872?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3973755783961344872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3973755783961344872' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3973755783961344872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3973755783961344872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2011_03_01_archive.html#3973755783961344872' title='Surat untuk Cinta #7: ‘Dari Ayah untuk Bunda’'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-1832396258433983168</id><published>2011-02-28T02:10:00.000-08:00</published><updated>2011-03-01T07:52:00.351-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Maaf, dan Selamat Jalan!</title><content type='html'>Pada suatu waktu, rumah saya kedatangan ‘keluarga’ baru. Dua ekor. Satu warnanya hitam dengan sedikit corak coklat, dan satu lagi warna putih dengan totol warna hitam. Sosok itu tak lain adalah dua ekor anjing. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata keluarga bukan tanpa sebab. Saya ingin memberi tekanan pada kata itu. Alasannya adalah waktu itu, saya terpaksa menerima kehadiran dua anggota keluarga baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang terpaksa menerima kedatangan dua anggota keluarga baru itu, dengan beberapa alasan. Yang pertama, jelas, saya sebagai seorang muslim menghindari berinteraksi dengan anjing, karena air liur dari anjing yang dapat menyebabkan najis. Karena sepengetahuan saya, air liur anjing mengandung bakteri yang berbahaya bagi manusia. Meskipun itu hanya alasan logis yang belum dapat saya terima sepenuhnya, karena kita juga tidak mengharamkan air liur Komodo yang nyata-nyata banyak sekali kandungan bakterinya. Akan tetapi alasan keyakinanlah yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua adalah, saya meragukan nasib dua anjing yang datang kerumah itu. Akan seperti apa nantinya mereka kedepannya. Dan catatan saya ini, adalah arah dari nasib kedua keluarga baru tersebut. Kisahnya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua anjing itu, sebut saja yang jantan namanya Kampret, dan betina saya panggil Pini. Pini telah melahirkan anak kecil-kecil yang lucu-lucu. dari 4 anaknya, 2 diminta oleh saudara, jadi hanya tinggal 2 di rumah. Yang satu warnanya seperti Kampret, dan yang satu seperti Pini. Dari dua anak anjing ini, yang mirip Pini waktu kecil menderita lumpuh. Dia tidak bisa lari-lari seperti saudaranya. Saya merasa iba padanya, maka ketika saya dirumah, saya yang biasa memberi makan dan menemaninya. Hal itu terjadi sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia bisa berlari-lari, saudaranya yang mirip dengan Kampret telah pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Maka kami menyebutnya ‘hilang’. Alhasil, hanya tinggal tiga ekor. Beberapa waktu setelah anak anjing itu ‘hilang’, ternyata Kampret juga dinyatakan hilang, karena keluar tapi tak pernah kembali pulang. Pada akhirnya tinggalah dua anjing yang memiliki warna dan kesetiaan yang begitu hebat. Karena dua anjing ini ternyata yang selalu kembali ketika letih keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pini dan anaknya, saya kira tipe-tipe anjing pemburu. Saya melihat tipikal dari posturnya yang kecil kurus, tapi gesit dan kebiasaan anjing itu yang suka membawa ayam mati ketika pulang dari keluar. Terlebih Pini. Saya tidak heran karena pernah melihat anjing yang tipikalnya sama dengan anjing itu di acara televisi yang digunakan untuk berburu babi hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa kedua anjing ini juga sangat setia, terlebih anaknya Pini, terhadap saya. Bisa jadi dia masih mengingat bahwa yang merawatnya di waktu lumpuh adalah saya. Namun, catatan ini adalah ungkapan maaf yang mungkin tak akan pernah sampai. Saya begitu bodoh dan mungkin lebih hida dari dia. Saya tak akan marah, kalau dikatakan seperti itu. Ketika mengingat kejadian di suatu pagi itupun saya merasa menyesal dan selalu ingin menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi itu, ketika saya pulang dari Jakarta, saya mendengar bahwa Pini dan anaknya akan dijual. Sebelumnya saya sempat tidak percaya, akan tetapi hal itu ternyata kabar yang benar-benar terjadi. Pagi itu, datanglah seorang yang bernama Jenal. Laki-laki itu mungkin masih jadi satu-satunya penjual sate anjing di daerah saya. Lalu tawar menawar tentang harga dimulai. Saat itulah, saya benar-benar ingin marah dan ingin memaki orang-orang yang ada dirumah. Ketika saya tanya, kenapa anjingnya mau dijual, alasannya sungguh tidak bijaksana sama sekali. “Karena anjingnya suka menerkam ayam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, siapa sebenarnya yang tidak bermoral? Anjing yang berkelakuan sesuai naluri atau manusia yang menuntut anjing berkelakuan seperti manusia?! Bagi saya sungguh tidak bijak ketika menuduh seekor anjing ‘cluthak’ ketika menerkam ayam. Karena justru itulah naluri dasarnya sebagai seekor anjing pemakan daging!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, anaknya Pini yang akhirnya disepakati dijual. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih ketika itu, yang saya lakukan sesegera mungkin adalah pergi dari rumah. Saat itu saya piker apa yang dilakukan orang-orang di rumah saya sungguh keterlaluan. Kesetiaan dibayar dengan pengkhianatan. Itulah yang ada dalam kepala saya. Rasanya saya tidak ingin kembali lagi kerumah itu, atau pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat anaknya Pini—saya sebut Pini kecil—akan ditangkap, orang-orang rumah kesulitan. Pini kecil selalu mendekat ke saya. Lalu ibu saya yang waktu itu juga ingin menangkapnya memerintahkan saya untuk menangkapnya. Saya, yang saat itu menahan air mata, menjawab dengan kata “Rasudi!” yang memang kasar. Tapi, itu adalah ungkapan emosi saya atas apa yang terjadi. Setelah itu saya yang rencananya akan ke Solo siang, saat itu juga berangkat ke Solo. Saya tidak sanggup katika harus melihat apa yang akan terjadi dnegan Pini Kecil. Karena saya membayangkan Pini Kecil akan dibunuh dengan cara yang paling biadab, seperti oaring membunuh anjing pada umumnya untuk dijadikan sate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pini Kecil, maaf saya juga menjadi seorang pengkhianat karena tidak bisa menolongmu. Saya benar-benar menyesal tidak bisa menolongmu. Ketika mengingatmu, saya teringat dengan sebuah cerpen karya Martin Aleida, “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”. Sebuah contoh manusia bisa lebih rakus dan biadab dari seekor anjing. Sama seperti apa yang dikatakan Martin Aleida, “Mati Baik-baik, Kawan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, dan selamat jalan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 februari 2011&lt;br /&gt;agus raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-1832396258433983168?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/1832396258433983168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=1832396258433983168' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1832396258433983168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1832396258433983168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2011_02_01_archive.html#1832396258433983168' title='Maaf, dan Selamat Jalan!'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3026651823835339563</id><published>2010-05-23T16:30:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T16:33:27.725-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Surat Untuk Cinta #6</title><content type='html'>Cinta,,&lt;br /&gt;Apa yang harus kukatakan, jika engkau telah memenuhi warna hidup ini? Jika kuhirup udara pagi nan sejuk, terasa bagaikan embun di pucuk daun. Hampir jatuh dan terlepas bersama tetes resah mencium tanah. Lalu tanah telah basah akan doa dan keinginan. Menjalar, menyusup, dan membelai lembut akar-akar hidup. Dan kembali untuk menggapai bunga dan daun nafasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapalah aku cinta.&lt;br /&gt;Dengan merdu langkah-langkah anggun menuju tanah terang. Sapalah aku dengan suara dari ayat-ayat hayat. Akan kudengar setiap katamu bagaikan intonasi dan nada berharmoni tinggi. Akan kucerna bait demi bait suara yang menggemakan hatimu. Hingga kurasakan setiap tarikan nafasmu adalah obat dari segala rindu. Dia adalah penawar, dia adalah racun, dia adalah cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapalah aku ketika bulan merasa menang dari mentari. Di setiap cahaya jingga parasnya, meski disekeliling kita adalah malam tergelap. Akulah cahayamu, atau kamulah cahayaku. Dan katakanlah bahwa kita saling merindu kepada bulan. Agar dia tak lagi angkuh menjadi cahaya yang sementara pada gelap kita. Sapalah aku, Cinta.&lt;br /&gt;Cinta, tidakkah kau lihat kita tengah dipermainkan. Bagaikan boneka aku pasrah, bagaikan boneka kau selalu tersenyum. Kita menjadi lautan yang tak lagi diterka dalamnya. Dengan lantunan syair biru langitnya. Apakah kau malu pada pandangannya? Apakah kau takut kata tak setia? Namaku hanyalah nama. Sebab aku dipanggil oleh mereka. Tapi bukan namaku yang datang meminta cintamu. Jikapun namaku lain, aku tetap menjadi aku. Aku tetap yang mengurai makna keberadaanmu. Aku tetap mencintaimu. Cintaku hanya untuk Cinta. Untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta,&lt;br /&gt;Disini aku seperti hidup dalam kepingan kisah yang tak utuh. Ada bayangmu yang mengintai sejak senja menemukanku dalam airmata kehilangan. Kau jauh. Jauh dalam tapal imaji yang menggoda. Yang dibalik bukit kukira aku menemukan cakrawala. Tapi kau selalu ada dibatas malam. Ketika sabda Sang Esa terasa mendekat di telinga. Memanggil, memanggilku untuk takluk pada rayuan pagi yang melankoli. Hari esok yang terdengar lain dari saat ada kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghitung detik-detik yang berganti. Menandai bahwa kau terlalu lama bersembunyi. Adakah kau merasa bahwa kita seharusnya terbuka? Karena ada hal lain dari sekadar untuk bertahan hidup. Ada sosok yang muncul tenggelam diruang ego kita. Apakah cinta mendengarku? Apakah kau mau menyapaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tubuh dari derita semesta. Aku jiwa yang tertahan dunia. Apakah masih sama seperti impian berujud kata? Kata serupa mengganti frasa puitis. Kau adalah senja selamanya. Rawan, resah, melankoli, tapi tak mampu ku menolak cinta. Bibirmu memberi alunan setiap kata terdengar tak semestinya. Bagai sabda ratu menawan pencari hati. Melintang, dalam garis jelas penjaraku. matamu, hidungmu, rambutmu, dan semua tentangmu terlukis pada dewi keindahan. Aku takluk, aku tunduk, bersama bait-bait pembawa kabar gembira. Tentang kita yang semakin merasa dekat. Meski kau tak mendengarku. Meski ku tak melihatmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, aku ingin mengirim puisi terindah padamu. Puisi yang bukan aku penulisnya. Penulisnya berkata,”Berikanlah puisi terindah pada cinta terindah. Serahkanlah puisi teranggun pada cinta yang terpilih. Karena puisi ini hanya untuk dia yang berhak. Puisi ini lebih indah dari semua yang pernah ditulis. Karena puisi ini adalah kau! Maka serahkan jiwamu pada dia yang mampu membimbingmu! Dia bukan pencari dunia, tapi dia menyusun setiap keping pasir menjadi istana di surga. Dia adalah cinta yang akan abadi. Maka berikanlah puisiKu padanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, itulah kau. Yang tengah menyusun pasir-pasir kebijaksaan hingga menjelma istana di negeri sana. Aku ingin menyerahkan puisi terindah itu. Karena kau adalah cinta. Karena kau memang patut dipuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, berikanlah aku sapa. Agar aku menjelma puisi seindah lantunan ayat-ayat hayat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaten, 22 Mei 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3026651823835339563?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3026651823835339563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3026651823835339563' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3026651823835339563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3026651823835339563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_05_01_archive.html#3026651823835339563' title='Surat Untuk Cinta #6'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8226993061901759664</id><published>2010-05-23T16:07:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T16:09:50.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Mei: Setangkai bunga Morishcha yang Indah</title><content type='html'>Pada kisah Mei selanjutnya, saya ingin bercerita tentang sebuah imajinasi yang banal. Kisah ini bisa jadi akan selalu mengingatkan saya dengan bulan yang paling sedikit hurufnya, namun banyak cerita yang lahir di dalamnya. Ini tentang sebuah bunga, yang anggap saja kita mengenalnya seperti kita mengenal anggrek maupun melati—saya lebih menyukai anggrek. Terlebih anggrek putih yang meskipun tergolong murah, namun baunya sangat wangi. Ini kisah tentang setangkai bunga yang bisa kita gambar dalam imajinasi kita. Kisah tentang ‘setangkai bunga Morishcha’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setangkai bunga Morishcha, adalah setangkai bunga yang pernah saya dengar baru sekali. Entah nama latin untuk bunga apa atau nama bunga dari bahasa mana, saya tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah merasa kehilangan bunga itu pada bulan Mei, tahun lalu. Nama bunga itu untuk pertama kali saya dengar dari seseorang yang pernah diberitahu oleh seseorang yang dahulu adalah penari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah perkenalan saya dengan bunga Morishcha adalah sebuah kesengajaan yang tidak disengaja. Jauh sebelum saya mengenal bunga itu, jauh dalam imajinasi saya telah melukis sesosok bunga yang membuat saya merasa terkesan. Bunga itu, saya gambarkan sebagai bunga yang menyimpan misteri dalam keangkuhannya. Aura yang terpancar dari anggun warnanya membuat seseorang yang melihatnya akan tertawan jiwanya. Dari dasar imajinasinya segera menjelma sebuah misteri yang tak terjangkau dalamnya. Dan bunga itulah yang senantiasa membuat saya merasa ikut menjadi seorang yang angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya menemukan sosok bunga itu hanya dalam setangkai bunga Morishcha. Hanya setangkai. Karena memang bunga ini mekar tidak bersama-sama, hanya setangkai saja. Maka, itulah yang menarik. Bunga ini menjadi setangkai bunga yang anggun dan menawan. Keindahannya terletak pada satu tangkainya. Jika bunga ini menguncup pada tangkai yang banyak, maka keindahan itu akan sama saja dengan bunga-bunga yang lain. Maka, inilah bait-bait perpisahanku dengan setangkai bunga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan ini satu tahun yang lalu, saya dengan bunga Morishcha juga gambaran keindahannya mengarungi suatu masa ketika pada suatu malam kita kembali ke jaman Majapahit. Saat itu, kita dengan damai memasuki wilayah Majapahit yang tengah terjadi huru-hara. Sampai akhirnya kita bertemu dengan sosok yang penuh karismatik Pangeran Banjaransari—orang yang erat hubungannya dengan lahirnya nama Sukoharjo. Saya, bersama setangkai Morishcha, menjadi saksi betapa dengan gagahnya, pangeran yang berguru pada Sunan Kalijaga ini membantu rakyat alas Taruwongso keluar dari masa paceklik yang telah lama dialaminya. Meskipun hanya kisah yang pendek, namun saya memahami, begitu dekatnya saya, bunga Morishcha, dan Pangeran Banjaransari waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti halnya saya kehilangan Pangeran Banjaransari yang hanya dapat saya kenang melalui makamnya di Tamansari, Sukoharjo, sayapun merasa kehilangan bunga Morishcha dan hanya dapat mengenangnya melalui nisan yang tertancap dalam hati saya. Kisah itu begitu singkat, namun penuh liku. Dari sana, ada keberanian, ketakutan, kegelisahan, ketenangan, rasa pasrah, cemburu, tawa, tangis, dan kebijaksanaan serta ketololan. Hanya dari setangkai itu, telah lahir kisah yang selalu dapat saya ingat. Mungkin juga tidak akan pernah saya lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikapun ada sesal, sesal itu tak akan merubah apa-apa. Bunga itu telah hanyut dalam tangkainya entah pada imajinasi siapa. Saya masih dapat mengingatnya dengan jelas, ketika hujan menandai betapa kita saling membutuhkan. Hujan memberiku airmatanya, dan hujan mengantarkannya padaku sebagai setangkai bunga yang menakjubkan. Angkuh, anggun, namun menyimpan misteri yang menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya masih mempunyai kesempatan untuk membelai bunga itu lagi, saya ingin menyimpannya erat-erat dalam hati dan kutanam agar benih yang angkuh itu merebak dengan wangi didalam imajinasi. Akan kusiram tanah yang merekah menerimanya sebagai bunga abadi nan puitis. Setidaknya akan kujelmakan ia dengan bahasa yang santun. Tapi pada bulan Mei itu, saya harus merelakannya tercabut dari akar imajinasi saya. Dan mungkin saya masih ingin mengirimkan puisi ini untuk mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam rawan kelopakmu&lt;br /&gt;Kutemukan sabda ratu keindahan&lt;br /&gt;Meskipun angkuh, titahmu pernah menawanku&lt;br /&gt;Dan pada bait sepi, tertulis lirik-lirik sedih&lt;br /&gt;Aku telah kehilangan,&lt;br /&gt;Sebuah melankoli kokohnya setangkaimu&lt;br /&gt;Dari kata menjelma rupa, mewujud frasa takdirku&lt;br /&gt;Pergimu, kuharap bukan tanda baca nihilmu&lt;br /&gt;Aku lelap, dalam hujan yang membelaiku&lt;br /&gt;Pada bau tanah basah,&lt;br /&gt;Mengingatmu merindukan tanah merekah&lt;br /&gt;Tempat disemainya bulir-bulir keanggunan&lt;br /&gt;Setangkai bunga menjelma cinta, Morishcha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(RA: ‘Setangkai Bunga Morishcha yang Indah’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 21 Mei 2010 (02.45)&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8226993061901759664?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8226993061901759664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8226993061901759664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8226993061901759664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8226993061901759664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_05_01_archive.html#8226993061901759664' title='Mei: Setangkai bunga Morishcha yang Indah'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8255154996458256288</id><published>2010-05-23T15:57:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T16:02:22.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><title type='text'>Mei: Kisah 1</title><content type='html'>Hari ini, tanggal 12 Mei 2010, pada malam hari, jam menunjuk pukul 23.38, ketika mendengar lantunan nasyid, saya seperti memutar sebuah mesin waktu untuk kembali pada Mei tahun yang lalu. Atau bahkan pada hari, bulan, dan tahun yang lebuh lalu. Ini bukan cerita tentang peristiwa 12 Mei yang menjadi tonggak kepahlawanan mahasiswa menggulingkan rezim Orba. Yang tadi siang ketika saya lihat di televisi, tengah dilangsungkan upacara peringatan gugurnya mahasiswa Trisakti pada 12 Mei, 12 tahun yang lalu. Tapi ini adalah cerita yang mungkin saja tak layak untuk diceritakan pada orang banyak. Tapi kelak, saya ingin menulisnya lebih lengkap. Minimal untuk saya kenang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mendengarkan lantunan lagu berlirik Islami, saya teringat dengan teman-teman saya dulu. Teman-teman yang ikut andil dalam proses mencari siapa diri ini. Teman-teman yang senantiasa kuingat dengan kerinduan yang sungguh. Teman-teman yang membantuku untuk mengenalkan nuansa Islami yang bisa jadi saya dambakan sejak dulu. Karena baru ketika saya menginjakkan kaki di kampus tercinta ini, saya benar-benar baru mulai mengenal sebuah keyakinan yang seharusnya sejak kecil saya yakini. Entah kenapa, ketika saya mendengarkan lagu nasyid, ingatan saya membawa pada memori tentang banyak hal. Perihal yang dalam hati kecil sangat saya rindukan, keberadaan dan peristiwanya. Seolah saya ingin mengulang peristiwa itu berkali-kali.&lt;br /&gt;Ingatan saya pertama tertuju pada sebuah peristiwa ketika saat itu saya yang berada di masjid Nurul Huda, mengambil keputusan untuk ikut FRAKSI (saat itu dengan keterlaluan niat saya hanya pada sisi ekonomi, yaitu dengan duit 10 ribu, saya bisa hidup tiga hari dan nambah ilmu). Tapi dari kegiatan itu, saya dapat menitikkan airmata, ketika saya dan teman-teman melihat sebuah film dokumenter tentang kekerasan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina. Saya melihat adanya ketidakadilan dan kekejaman disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kedua adalah peristiwa yang nantinya akan melatih saya bertanggungjawab pada orang lain. Yaitu ketika malam-malam, saya dan sepuluh orang teman saya ada di hik di gerbang belakang kampus UNS. Saat itu, sebelas orang beserta saya ketika itu tengah mendiskusikan pembentukan sebuah forum yang dapat mempererat hubungan persaudaraan kita, dan teman-teman muslim angkatan 2004 di Fisip. Maka malam itu, lahirlah FORMMAT (Forum Mahasiswa Muslim Dua Ribu Empat), dan saya ditunjuk sebagai koordinatornya. Maka setelah itu, ketika kita diskusikan dengan perwakilan muslimah di Fisip, maka lahirnlah FORSA (Formmat+Sahabat). Sahabat adalah forum dari muslimah atau akhwat 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak saat itulah saya seperti mempunyai tanggungjawab lebih pada keberlangsungan forum ini. Walaupun hingga sekarang ini, saya merasa tidak bisa sepenuhnya memenuhi semua beban itu. Terlebih ketika saya berada di penghujung masa kuliah sekarang ini. Saya pun tidak mengetahui, apa yang ada di pikiran teman-teman saya sekarang tentang FORSA. Saya masih ingin mempertahankan teman-teman dan forum ini, sampai kelak saya tak lagi mengenal mereka dalam kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, banyak peristiwa silih berganti datang, baik suka maupun duka. Tentang lika-liku saya ada di Lembaga Kegiatan Islam, tentang saya yang masuk dalam barisan perjuangan politik BEM FISIP, atau tentang cerita-cerita saat saya harus ikut syuro’. Ah, cerita itu sungguh sangat indah untuk dikenang. Saya selalu dapat mengenang itu, karena saat itu meskipun saya harus berjalan tidak dekat untuk mencapai tempat syuro, tapi saya selalu menyukainya. Dalam hati saya selalu berpikir, suatu saat, apa yang saya lakukan itu akan membawa kebaikan pada diri saya. Dan apa yang ingin saya perjuangkan bukan menjadi sebuah hal yang sia-sia. Saya yakin itu. Dan tanpa terasa saya ada di BEM FISIP selama tiga tahun berturut-turut. Dari tahun pertama saya jadi staf Sosial Mayarakat, staf POSDM (karena menterinya Mbak Tika menikah 3 bulan sebelum kepengurusan habis, maka ditahun itu juga saya menggantikannya sebgai Menteri POSDM), lalu benar-benar menjadi menteri POSDM di FISIP. Tahun pertama ikut BEM saya tenang-tenang saja dan terbuka bahwa saya ikut BEM. Tapi untuk tahun kedua dan seterusnya nanti saya tidak memberitahukan hal itu pada keluarga. Saya hanya ingin menjalani apa yang menjadi keinginan saya, meskipun hal itu membuat saya tidak tenang dan merasa was-was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tahun keempat, karena suatu hal (Menteri sebenarnya mengalami musibah), maka saya diminta bergabung dalam barisan BEM UNS sebagai Menteri PSDM (menggantikan menteri yang kena musibah), yang niatnya sementara akhirnya sampai pada penghujung kepengurusan. Saya tidak pernah menyesali kalau saya hanya menjadi pengganti saja. Mungkin dengan begitulah Allah membuat jalan yang memang harus saya lalui. Karena dari sanalah, saya mengenal orang-orang hebat dengan idealisme yang hebat pula (walaupun sekarang saya tidak tahu pasti apakah idealisme itu masih ada pada mereka. Semoga masih!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagu nasyid itulah yang membuat saya menjadi teringat dengan mereka semua. Ada satu lagu yang hingga saat ini membuatku bertahan pada satu ingatan yang kuat dan membuat saya selalu ingin menangis ketika mendengarnya. Lagu itu, pertama kali saya dengar adalah di tahun kedua kuliah (yang saat itu saya belum berminat untuk mendengar lagu nasyid), tapi dua tahun setelah itu baru saya tahu judul dan belajar menyanyikannya. Lagu itu judulnya “Ainaul Mardiyah”. Ah, kalau saya mendengarnya, rasanya saya ingin menitikkan airmata. Mengingatkan saya pada yang hingga kini masih tak pernah pergi dari ingatan. Perihal itulah yang membuat saya hingga sekarang merasa punya penopang ketika jatuh, dan memberi embun ketika ada gersang. Saya ingin dapat mengingat hal ini selamanya. Bahkan mungkin dalam kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih telah membuatku seperti ini. Terima kasih untuk semua kejujuran, kelembutan, kekerasan jiwa, keteguhan prinsip, senyuman, amarah, kedewasaan, kekanak-kanakan, dan semua yang sangat pantas untuk dikenang. Suatu saat nanti, saya ingin kita semua berkumpul dalam setiap kenangan yang pernah kita buat bersama. FORSA, LKI FISIP, POSDM BEM FISIP, PSDM BEM UNS, dan semuanya. Saya benar-benar merindukan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar melantukan tulisan ini tadi malam, di pagi hari, seusai sholat shubuh dan menekuri ayat-ayat suci, rasanya saya ingin mengirimkan puisi untuk kalian. Meskipun tidak seindah lantunan kata Sapardi, atau semistis Chairil, setidaknya saya menuliskan kata-kata ini dengan goresan sedih yang kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ingatanku padamu,&lt;br /&gt;Bukan pada akhir perjalanan kita&lt;br /&gt;Yang kini semakin kita resapi sabdaNYA,&lt;br /&gt;Tapi pada perjalanan itu sendiri, yang ada percakapan kita&lt;br /&gt;Mungkin kita berada di ruang berbeda&lt;br /&gt;Lagu dan baju jirah yang berlainan&lt;br /&gt;Tapi kita ada dirumah yang sama&lt;br /&gt;Tempat meneduh dan menyulam mimpi&lt;br /&gt;Menikmati dari lelap yang angkuh,&lt;br /&gt;Selepas peperangan dalam medan nafsu dan keyakinan.&lt;br /&gt;Ingatan itu,&lt;br /&gt;Membuat kita saling kenang&lt;br /&gt;Pernah pada ketika sering berjabat tangan,&lt;br /&gt;Dan senyum seusai salam&lt;br /&gt;Kemudian ayat-ayat yang kita lantunkan&lt;br /&gt;Adalah embun di padang gersang&lt;br /&gt;Ah…betapa indah ingatan itu,&lt;br /&gt;Betapa patut untuk dikenang.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 12-13 Mei 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8255154996458256288?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8255154996458256288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8255154996458256288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8255154996458256288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8255154996458256288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_05_01_archive.html#8255154996458256288' title='Mei: Kisah 1'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6526372259504713305</id><published>2010-02-28T23:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T23:14:36.053-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Bulevard</title><content type='html'>Pada suatu pagi yang mendung, saya berkesempatan menikmati Bulevard dengan agak bingung. Setelah hampir enam tahun saya ikut menjejaki Universitas hijau Sebelas Maret, ini kali kedua saya menengok gerbang utamanya pada hari minggu. Saya tak tahu mengapa bukan sejak dulu saya sering menikmati keramaian minggu pagi Boulevard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun lewat, tak terhitung lagi saya melakukannya. Bahkan saya ingat, saya pernah ikut aksi disana, juga pernah saya dan teman-teman BEM aksi ulang untuk meminta maaf pada wartawan. Teman saya itu—Presiden BEM UNS waktu itu—telah mengeluarkan statemen yang melukai profesi wartawan. Saya sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu, karena saat itu saya memang telat datang. Meskipun begitu, saya juga tetap mendampingi teman-teman untuk aksi “permohonan maaf dan pencabutan statemen.” Pada waktu itu, saya sangat menyayangkan statemen rekan saya itu. Tapi, kesalahan sekali tidak akan membuat segala kebaikan dan pengorbanan menguap begitu saja. Itulah yang dapat saya pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah mengenalnya sejak masih di bangku SMP, dan saya tahu siapa dia bukan dari interaksi kita, tapi malah pada apa yang terpancar dari komunikasi tak verbal kami. Namun, saya tak menyesali untuk ikut aksi ulang bersama teman-teman. Saya merasa, saya harus selalu membersamai orang-orang yang saya tahu hidupnya untuk memikirkan orang lain tersebut. Dan keyakinan saya tak akan luntur dengan statement itu, terlebih saya juga menganggap diri sebagai calon wartawan. Saya bertekad akan selalu ada diantara mereka, dengan atau tanpa kehadiran fisik saya. Karena kita punya tujuan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulevard, saya selalu mengingatnya sebagai sebuah janji. Janji bertemu juga janji menanti. Ah, tempat itu menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi saya mengingat teman-teman saya. Saya ingat, ketika pada suatu waktu, saya dan teman-teman saat hendak bepergian kemana saja, Bulevard menjadi satu tujuan untuk kita saling menanti. Dari sanalah saya memahami, bahwa menunggu itu terasa lebih indah ketika saya tahu janji memang selalu terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi itu, bukan seperti pagi-pagi sebelumnya. Mungkin juga tak akan pernah ada minggu pagi yang akan sama. Akan ada perpisahan, meskipun bukan perpisahan otentik. Pada malam sebelumnya, saya tahu bahwa sekarang saya sangat merasa kehilangan teman-teman. Semua, telah meninggalkan Bulevard dan menatap dunia luar. Maka malam sebelumnya itu, saya memberanikan diri untuk sekadar melihat seseorang yang masih mau menemani saya. Dalam kasus ini, apa yang saya lakukan adalah sebuah hal yang memang tak seharusnya dilakukan, meskipun hanya sekadar bertemu dan melihat saja. Tapi, hal itu memang saya lakukan, bukan karena saya berniat melanggar sesuatu, tapi lebih pada saya yang merasa sendirian dan membutuhkan uluran semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seseorang itu, menjadikan saya sebagai manusia seutuhnya. Darinya, saya merasa bukan hanya menjadi seonggok tubuh yang terlalu pasrah pada alur sang nasib, tapi dengannya saya ingin mengatur nasib sendiri, bahkan kalau dikabulkan, saya ingin membantu nasib-nasib orang lain. Dengannya, semalam, saya hanya melihatnya sekilas—tidak berani memandangnya. Hanya sekilas, namun saya mampu merekam keberadaannya. Saya ingat gaya bicaranya, khas suaranya, juga gelora semangatnya. Meskipun malam itu gerimis membuat kisah pertemuan sebentar kami seolah murung. Tapi sebuah nada gembira justru terucap pada senandung kebersamaan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Bulevard, menjadi lambang pagi atas perpisanan sementara kami. Ada janji yang masih harus dipenuhi. Dan penantian yang tertera pada lambang gerbang pertemuan dimana semua kenangan terjalin seperti mimpi-mimpi. Mimpi ini masih belum sempurna, kenangan ini masih tak lengkap, sama seperti janji itu sendiri. Seseorang itu menjadi satu dari semua yang menyimpan diri dari kenangan saya mengawali perpisahan dengan Bulevard. Ada pohon menjulang menopang segala kisah di bait-baitnya. Ada nama tertera pada pangkal gerbangnya, itu penanda. Dan Bulevard selalu menyimpan kenangannya sendiri. Bagi kisah yang pernah melewatinya, juga singgah di kedalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, kuingat hari sebagai hari minggu, dan di penanda waktuku tertera tanggal 31 Januari 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Februari 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6526372259504713305?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6526372259504713305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6526372259504713305' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6526372259504713305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6526372259504713305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#6526372259504713305' title='Bulevard'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-7505904889846760310</id><published>2010-02-18T23:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T23:41:31.571-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Surat Untuk Cinta #5</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dengan hati dan seluruh jiwaku,&lt;br /&gt;Kuturutkan menyertai kegelisahanmu,&lt;br /&gt;Bukan untuk memperingati hari kasih sayang…&lt;br /&gt;Hari ini!&lt;br /&gt;Tapi inilah sebuah kisah sedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah adanya Cinta hari ini? Apakah hari yang serasa pilu ini juga membuatmu tertambat pada sedih yang mendung tawarkan? Atau langit memang sengaja membawa kegelisahanmu agar tampak dimataku dari tanda hujan?! Aku memang tak pernah merasa bisa untuk mengenyahkan gelisahmu seutuhnya. Tapi ingatlah bahwa aku juga tak akan pernah berhenti untuk mencoba melakukannya. Sampai nafas terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… Ada sesuatu yang tak selamanya dipandang dari satu pandangan saja, bahkan mungkin untuk kesemuanya barangkali. Aku juga tak tahu, apa memang begitu adanya. Yang pasti ada keyakinan ketika kita menjadi makhluk kritis saja kita bisa mencari kebenaran yang hakiki. Bukankah akal digunakan untuk hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kemarin, hari ini, juga hari esok adalah hari-hari yang seterusnya tetap berjalan seperti ini. Inilah hidup. Inilah kehidupan. Dan inilah putaran nasib yang selalu sigap memeluk keseluruhan kita. Kita hanya berusaha untuk bertahan darinya saat kita ada di bawah, dan kita harus ingat pada keyakinan kita, ketika kita ada di atas. Itulah bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… kegelisahanmu adalah bagian dari kesedihanku. Dan sepertinya hujan senang mengirim rintik tangisnya menyertaiku. Ah, hujan, kenapa lagi kau menjelma pada nyanyian sedih seorang yang selalu ada di hidupku?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tau? Hal yang membuatku sering bersedih adalah ketika seseorang membutuhkanku, dan aku tidak bisa memenuhinya. Aku tidak ingin menjadi seorang yang seperti itu!! Aku benci! Sangat membenci keadaan seperti itu!! Rasanya seolah hidupku adalah sesuatu yang tak ada nilainya. Menjadi orang yang tak berguna itu sungguh memuakkan. Mungkin inilah alasan aku tidak pernah benar-benar menyukai diriku sendiri. Terkadang memang harus seperti itulah badan ini diperlakukan. Agar ia terbiasa dengan sakit yang dirasakan badan-badan yang lain. Agar ia tahu rasanya sedih dari kesedihan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku ini hanyalah alat. Hanyalah tulang yang dibalut daging dan dialiri darah. Darinya, seharusnya aku mampu untuk menjadi sesuatu yang kuat memikul kesedihan dan beban orang lain. Dengan pikirannya, harusnya aku dapar mencarikan pemecahan dari semua permasalahan. Tapi yang terjadi, justru badan ini hanyalah seonggok tulang dibungkus daging yang terlalu tak berguna. Masih ikut larut memikirkan hal-hal remeh yang tak seharusnya. Apa sih pentingnya punya status? Apa sih perlunya pangkat? Kalau dengannya ada ketakutan manusia tamak. Ada penyesalan karena bersikap egois. Bukan itu yang seharusnya didambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersyukur Muhammad adalah teladanku. Dialah manusia yang tak akan digugat sebagai sosok yang paling mulia. Tak ada alasan bagi orang kaya karena kekayaannya untuk berwelas asih. Juga tak ada alasan bagi orang miskin untuk menunggu kaya baru dapat menolong sesama. Karena Muhammad adalah representasi yang tak terbantahkan. Dia adalah orang kaya, tapi tak lebih dari tiga hari kekayaan itu ada padanya. Seluruh hartanya adalah harta untuk orang lain. Dan dia juga orang miskin, yang dengan kemiskinannya dia masih mampu untuk bersedekah pada sesama. Dia adalah sosok yang gagah, garang bagi semua musuh keyakinannya. Tapi dia juga lemah lembut bagi sesamanya. Bahkan bagi seorang yang membenci dan sering memakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang sanggup memberi makan tiap hari pada seorang buta yang selalu saja memakinya. Meskipun Muhammad tahu persis bahwa orang buta itu adalah golongan dari musuh keyakinannya. Hingga seorang buta itu menyesal karena pada akhirnya tahu bahwa orang yang setiap hari menghampirinya dan member makan adalah orang yang senantiasa dia caci maki, bahkan ketika Muhammad ada di hadapannya. Siapa yang sanggup membantah kebaikan seperti itu? Dan badan ini, seharusnya bisa mencontohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… Itulah adanya dirimu. Seluruh jelmaan dari segala kebaikan. Dan akan menuju kebaikan. Aku tak pernah menganggap ini sesuatu yang berlebihan. Ini hanyalah harapan. Ini adalah keyakinan, bahwa hadirnya dirimu akan menjelma kebaikan bagi seluruh badan-badan ini. Ada sikap ramah yang akan menentramkan kegarangan. Ada kelembutan yang memeluk keras hati. Namun juga ada amarah yang senantiasa mengingatkan. Ternyata memang bukan hal yang berlebihan bukan?! Aku hanya ingin menjadi seorang yang mampu seutuhnya memperlakukan raga ini pada tempatnya. Maka jangan tepiskan keberadaanku di kehidupan ini. Karena kematian pasti akan datang ketika pada waktunya. Aku hanya tak ingin menyesali hidup yang terbuang percuma. Yang hanya tahu bagaimana memikirkan diri sendiri. Adanya diriku adalah karena ada kau. Denganmu, kita ubah penderitaan menjelmamu. Sebuah kebaikan yang akan menuju kebaikan. Dan pada akhirnya, tak akan kusesali adanya aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… sungguh kau menjadi yang selalu kurindukan. Selalu. Segera, akan kutemukan dirimu dalam hidup ini. Akan kujemput kau pada tegapnya kesetiaanmu. Sebentar lagi, akan ada babak yang mengeliminasi semua hal yang membuatku terkungkung ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Please, give me your smile...&lt;br /&gt;And look at my face, you’ll find the sun…&lt;br /&gt;(Lalu kita lantunkan Surat Ar Rahman sama-sama. Semoga ada airmata di wajah, namun ada bahagia di hati!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 14 Februari 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-7505904889846760310?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/7505904889846760310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=7505904889846760310' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7505904889846760310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7505904889846760310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#7505904889846760310' title='Surat Untuk Cinta #5'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-7139855973099666561</id><published>2010-01-14T15:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T15:43:16.760-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Fragmen: Khianat</title><content type='html'>“Aku ingin menjadi seorang penyendiri,” kata lelaki itu. Dan sang wanita menatapnya penuh curiga.&lt;br /&gt;Semalam, lelaki itu tak kunjung pulang. Sang wanita merasa sepi dalam penantiannya. Detak jam membuat mereka terpisah.&lt;br /&gt;“Aku ingin menjadi seorang penyendiri,” kata lelaki itu ketika di depan pintu. “Aku tidak akan terluka seperti ini!”&lt;br /&gt;Mata sang wanita mengikuti hingga lelaki itu masuk kamar mandi.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” teriak wanita itu.&lt;br /&gt;“Biarkan aku sendiri! Dan aku tak akan pernah merasa sakit ketika dikhianati seorang istri!” Lalu suara debur air menenggelamkan suara lelaki itu dalam perasaannya.&lt;br /&gt;Wanita itu gugup. Segera dia sadari bau parfum di seprei tempat tidurnya memang bukan milik lelaki itu.&lt;br /&gt;Di dalam kamar mandi, ada gemuruh suara air, juga kaca pecah sekali. Air itu, tetap seperti suara hujan, hingga sang wanita menyadari kata-kata sang lelaki bukan gertakan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Januari 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-7139855973099666561?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/7139855973099666561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=7139855973099666561' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7139855973099666561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7139855973099666561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_01_01_archive.html#7139855973099666561' title='Fragmen: Khianat'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6346724165928874279</id><published>2010-01-14T15:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T15:47:59.977-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Perempuan dan Lahirnya Rezim Orde Baru</title><content type='html'>Ketika tragedi ’65 terjadi, saat itulah Orde Lama mengalami akhir masanya. Sebagai gantinya, bagi saya Orde Baru lahir dari sebuah ironi yang tak lucu. Ada banyak pertanyaan yang ‘dibungkam’ terkait peristiwa yang kita kenal sebagai Gerakan 30 September (G30S PKI) setelah rezim baru itu muncul bak sang juru selamat. Peristiwa yang disusun sangat apik dalam tatanan politik untuk sebuah kekuasaan. Bahkan ‘pembungkaman’ itu berlanjut hingga berakhirnya rezim Orde Baru itu diruntuhkan oleh Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masih kecil, yang ada dalam bacaan buku sejarah saya adalah bahwa PKI adalah partai yang ‘seharusnya’ tidak ada di Indonesia. PKI adalah manifestasi dari bahaya laten sebuah kudeta. Sampai akhirnya peristiwa ’98 membuat semuanya seolah mengalami pembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu sebelumnya dalam buku sejarah, juga film terkait G30S PKI—yang tak tahu malu--  bahwa PKI adalah kumpulan algojo yang dengan entengnya mengakhiri hidup sesama manusia. Bahkan dalam film yang baru saja sekilas saya saksikan, sosok yang digambarkan menenteng palu dan arit tersebut menghabisi orang-orang yang selesai menjalankan sholat shubuh di masjid. Semua itu menjadi sebuah hal yang wajar dan dimaklumi ketika kita ada dalam masa kekuasaan rezim paling lama di Indonesia sampai saat ini tersebut. Namun, ketika lembaran fakta-fakta mulai dibuka kembali, semua propaganda itu menjadi sebuah tontonan yang tak lebih dari sebuah lelucon belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, saya menertawai diri saya pribadi dan orang-orang yang telah dibodohi sekian lamanya. Di sisi yang lain, saya ingin menertawai sekeras-kerasnya pada semua pembuat propaganda itu, karena mereka dapat membuat serial komedi yang berbentuk buku dan film. Namun tak bisa dipungkiri, propaganda saat itu seolah disusun dengan sangat lihai oleh ahlinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wajah Perempuan Komunis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Komunis adalah bagian lain dari sebuah elegi G30S PKI. Mereka adalah perempuan-perempuan ‘yang sengaja dikorbankan’. Terlebih bagi mereka anggota Gerwani dan semua ormas yang berafiliasi dengan PKI. Setelah tragedi pembunuhan para Jendral di Lubang Buaya, perempuan komunis menjadi sosok yang diburu dan paling banyak mengalami siksaan. Tak salah ketika Wieringa mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut membuat banyak pihak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mempersetankan perempuan komunis&lt;/span&gt;. N Bukan hal yang main-main, perempuan komunis menerima hukuman yang tak pernah tahu apa kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tuduhan ditimpakan pada perempuan-perempuan komunis sehingga banyak pihak yang seolah menganggap mereka adalah perempuan biadab. Hal ini sangat bisa dimaklumi, sebab Indonesia adalah negara yang mayoritas adalah penganut Islam. Ketika dihadapkan pada ‘sandiwara’ bahwa perempuan komunis telah melakukan tindakan senonoh dan keji pada jenderal-jenderal yang mati di Lubang Buaya, maka penganut Islam akan menganggap bahwa mereka adalah perempuan setan. Sungguh ironis namun cerdik. Seolah semua hal itu telah lama dipikirkan oleh ‘sang sutradara’. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa begitu bodohnya yang mengaku muslim tersebut termakan hasutan?! Hingga tidak terasa ikut andil dalam menghilangkan banyak nyawa yang seharusnya tidak terjadi demikian gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, anggapan bahwa penganut paham komunis adalah seorang ateis yag patut ‘diperangi’ masih dipertanyakan. Namun, semua itu telah terjadi, dan biarlah menjadi masa kelam bagi rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang patut kita ketahui perihal tentang gerakan membumikan rakyat Indonesia tersebut. Juga cerita-cerita tentang tindakan semena-mena yang diterima ‘perempuan setan’. Banyak kisah yang perlu kita cermati tentang penderitaan mereka.  Akan tetapi, hingga sekarangpun banyak yang masih menyimpan memori bahwa PKI adalah bahaya laten dari manifestasi kekejaman dan keberingasan atas kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar akan dilaksanakannya syuting film Lastri. Film tersebuat adalah film yang menceritakan keadaan perempuan korban dari kebengisan sesungguhnya dari lahirnya Orde Baru. Namun diluar dugaan, syuting film tersebut mendapat tentangan dari sebuah ormas Islam di Solo. Pertanyaannya adalah kenapa hal itu ditentang? Ketika hal itu ditakutkan menimbulkan kembali bahaya laten PKI, bukankah itu adalah sesuatu hal yang tidak perlu? Ataukah karena ditakutkan bahwa film tersebut akan menampilkan adegan-adegan penyiksaan seksual pada kaum perempuan? Diluar nanti terhalang dengan badan sensor, lagipula itulah realita yang sebenarnya terjadi disekitar lahirnya Orde Baru. Setidaknya hal itu saya ketahui setelah membaca “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65”nya Ita F. Nadia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Ita menulis pengalaman kejam yang dialami oleh perempuan-perempuan komunis untuk melahirkan rezim Orde Baru. Dalam kesaksian pertama akan kita temukan kata-kata “Akhirnya Pemerkosa itu Jenderal Pensiun”. Sungguh ironis, sang penjahat malah dapat menikmati ketenangan dalam masa pensiunnya. Siapakah sebenarnya yang tidak mempunyai hati nurani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada satu peristiwa yang bagi saya seorang laki-laki sungguh sangat biadab, ketika salah seorang korban menuturkan dalam buku Ita ketika dipenjara di Tanjung Gusta: “Mereka sengaja ingin mempertontonkan kepada suami saya, bagaimana saya diperkosa oleh beberapa laki-laki bergiliran. Jika suami saya menundukkan wajahnya, mereka menampar mukanya.” Sekali lagi saya bertanya, siapa sebenarnya yang biadab disini? Apakah mereka orang-orang PKI itu? Yang mengajari masyarakat kecil membaca dan menulis? Ataukah serdadu yang ‘menjadi’ juru selamat? Sungguh ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya sedikit berlelucon, bahwa Orde Baru lahir dari rahim-rahim perempuan yang diangggap setan. Atau seperti kutipan dari salah seorang korban yang bernama Yanti, bahwa Orde Baru “Membangun Kekuasaan di atas Perkosaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Januari 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6346724165928874279?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6346724165928874279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6346724165928874279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6346724165928874279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6346724165928874279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_01_01_archive.html#6346724165928874279' title='Perempuan dan Lahirnya Rezim Orde Baru'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-7767800752280881615</id><published>2010-01-06T08:24:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:32:58.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Surat Untuk Cinta #4</title><content type='html'>Kuturutkan dengan sebuah hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta,&lt;br /&gt;Bagaimana keadaan yang menyertaimu sekarang? Semoga kau masih merindui dan bertahan dari apa yang sampai saat ini ada pada diri kita. Apakah kita masih dapat berpuasa seperti ini terus, senantiasa menjaga apa yang coba kita buat? Aku selalu merindukan hal-hal tentang dirimu. Tentang apa yang pernah kita tulis bersama, juga tentang apa yang akan coba kita wujudkan hari depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah perihal yang tak menentu ini, kita akan menjalani dengan senang hati. Sampai sekarang kita masih diperbolehkan menangis untuk Ibu penjual macaroni di depan sekolah. Yang hanya sekeranjang saja dagangannya. Kita juga masih diperbolehkan menangis untuk seorang Ibu yang kau lihat sedang mencari jalan hidup ditengah terik yang menyengat. Kita masih boleh menangisi semua itu. Ah, bisa jadi kita bukan siapa-siapa bagi mereka, tapi apa harus kita kenal dulu sebelum dapat membantu mereka? Tidak, bukan yang seperti itu yang nantinya akan kita lakukan bersama. Kita tak harus mengenal siapa yang butuh dikeluarkan dari kubangan derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita saksikan hari ini, adalah sebuah pekerjaan besar yang nantinya akan kita bangun. Kita akan bukakan mereka pintu-pintu keluar dari lumpur. Bahkan aku ragu Negara ini masih berpikiran tentang semua itu. Apakah salah ketika mereka menjatuhkan diri pada hal hina hanya untuk bertahan hidup, sedangkan di lain tempat ada orang-orang yang dapat menghabiskan jutaan rupiah hanya dalam waktu satu malam saja dengan sekadar makan gengsi dan katanya untuk bersosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, begitu pandai manusia modern itu mencari kesenangan dan alasan. Sangat picik dengan semua hal yang begitu terlalu tolol tapi masih bisa berkata untuk bersosialisasi. Apakah semahal itu untuk mencari seorang teman? Bisa jadi bukan teman yang mereka dapatkan sebenarnya, tapi mereka menyewa robot-robot berbentuk manusia sempurna. Picik dan naïf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta,,, kita mungkin akan menjadi manusia yang dianggap aneh. Atau bahkan kau tidak menghendaki hal seperti itu? Apakah kau masih mau hidup yang hanya bukan memikirkan makan dan kesenangan semata? Dengan segala yang ada pada kita, aku ingin membuat surga hadir untuk orang-orang terpinggirkan itu. Aku ingin membuat surge bagi hidup kita secara otentik. Bukan tentang yang hanya semata kita lihat dimata. Bukan, bukan itu sesungguhnya. Tapi ada yang lebih jujur dan lebih mulia dari semua itu. Kita tak perlu memikirkan perselisihan orang-orang bertopeng yang saling berebut kekuasaan itu. Kalau diperlukan, kita manfaatkan keberadaan mereka, kita tak harus berpihak. Hanya siapa yang lebih dapat membuat surge bagi yang terpinggirkan itulah, kita akan menerima.  Tapi kita bukan berpihak pada mereka, melainkan pad terbukanya pintu-pintu yang akan membawa orang-orang yang senasib dengan Ibu pedagang makaroni itu keluar dari keterpurukan. Semoga kau juga masih berpegang pada cita-cita dan keyakinan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hfff… semakin aku merasa, merinduimu sama juga merindui sebuah impian, yang ingin aku bangun dan aku wujudkan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, kita harus mempersiapkan segalanya. Kita akan belajar menyusun balok-balok kepedulian hingga nantinya utuh membentuk rumah yang indah bagi semua hati yang menempatinya. Kita tahan dulu apa yang memang belum boleh untuk kita. Bukankah kita masih ingin melanjutkan puasa ini? Dan setapak-demi-setapak, puasa ini seharusnya meningkat. Aku tak akan pernah menyesalinya. Meskipun mungkin, derajat ikhlas masih jauh dari jangkauanku—karena aku masih takut kehilanganmu. Tapi dengan puasa ini, semoga kita bisa mengikhlaskan apa yang akan menimpa kita di depan. Jalan masih panjang, dan waktu masih membuat jurang. Hanya satu saja yang akan aku pegang, bahwa aku punya janji dan impian. Dan aku akan menuju padanya, menujumu, hingga pada waktunya nanti telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, setelah ini adalah pengembaraan. Ada jarak jauh yang harus kita tempuh dan lewati. Ada jeda waktu yang panjang menghalang. Tapi ini adalah jalan kita. Jalan kita untuk saling menjaga. Hanya doa-doa yang masih saja kita lantunkan sebelum ada cahaya. Ada keluh kesah dan harapan serta kerinduan yang masih tertahan di kebesaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa aku menjadi terlalu cengeng mengingat semua ini. Ada hal yang senantiasa akan selalu tertanam dalam hati tentangmu. Ada senyum yang tercekat dalam kelopak mataku. Ada airmata yang membasahi relung hatiku. Semuanya adalah milikmu. Dan semua dariku akan kuberikan untukmu. Sampai saat kita akan berjuang bersama, setelah pengembaraan ini. Setelah kita merasa kuat sebagai individu-individu. Dan kita akan membuat nyata apa yang telah kita dapatkan dalam kehidupan ini. Bukan untuk kita pribadi, tapi untuk orang lain yang kurang beruntung dari kita. Mereka yang diacuhkan, mereka yang dianggap sampah oleh manusia yang mengganggap diri mereka makhluk kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dunia ini memang bulat. Tak seharusnya digunakan manusia menggelindingkan manusia lain menjadi tersingkir dari harapannya sendiri. Dengan kebulatan ini, seharusnya kita diajarkan mengerti saat di atas dan saat di bawah. Dengannya kita belajar untuk peduli. Darinya kita menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta,&lt;br /&gt;Puasa ini adalah puasa tingkat akhir dari semua puasa yang memang kita jalani. Dan pada tingkat akhir inilah, semua hal bisa terjadi diantara kita. Tanpa kita dapat saling memberi senyum lagi, tanpa sapa yang menguatkan kita, semua hal dapat menjadi berat pada kita. Pada tingkat tertinggi ini, hanya pada Yang Memberi Cinta kita berpegang. DenganNya pula kita saling menggenggam benang penyatu hati. Selama kita masih selalu mendekat denganNya, maka benang itu tetap terjaga. Meskipun kita diruang berbeda. Ada tabir yang sementara menghalangi, ada ego yang coba kita luluhkan. Ingatlah, bahwa benang itu telah terikat mati pada genggamanku. Dan aku tak akan terlepas darinya. Kecuali kau memutuskan benang itu. Tapi dengan itu, bararti aku telah terlepas dari pegangan. Aku tak dapat menebak kemana aku akan terjatuh. Tapi semoga semua ini mengajariku sebuah keikhlasan. Ikhlas dalam menjagamu, ikhlas dalam mendekatiMu, dan ikhlas pada perjuanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, inilah babak akhir dari semua perjalanan ini. Ada doa disetiap sujud kita, doa yang melantun lirh karena besarnya kerinduan yang mendesak kita. Doa itu, serupa harapan agar kita menjadi orang yang lebih baik lagi dengan melewati semua ini. Kita selesaikan babak ini sampai akhir. Dan akhir yang bahagialah yang coba ingin kita rangkai. Akhir dari perjalanan panjang, dari penuntasan sebuah keyakinan yang masih belum sempurna untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf ketika pertemuan terakhir kita tak pernah sanggup kututup dengan kalimat yang sebenarnya ingin aku katakan, hanya padamu. Ah, aku terlalu tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung bahwa ‘aku sayang kamu’. Bukan karena aku tak punya nyali, hanya aku tidak ingin menggores hati yang kau miliki karena memang belum seharusnya kukatakan. Nanti, setiap pagi aku akan mengatakannya padamu. Setiap pagi ketika kita terbangun, juga sebelum kita terbuai dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa ragu pada keyakinan ini. Jangan pernah lelah untuk perjuangan ini. Ada aku yang akan selalu ada untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With Love and Spirit&lt;br /&gt;Dari Ra untukmu Na&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 1 Januari 2010&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-7767800752280881615?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/7767800752280881615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=7767800752280881615' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7767800752280881615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7767800752280881615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2010_01_01_archive.html#7767800752280881615' title='Surat Untuk Cinta #4'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6192828137682611333</id><published>2009-12-20T23:21:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T23:26:05.986-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Mahasiswa dan Demonstrasi</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu ada sebuah catatan yang sengaja ditempel di dinding Facebook saya. Isinya terkait dengan eksistensi mahasiswa—kurang lebih—dan aksi yang dilakukannya beberapa waktu lalu hingga peristiwa anarkisme terjadi. Membaca note tersebut, dalam hati ada sedikit pembenaran, bahwa memang aksi demontrasi mahasiswa sekarang ini memang bukan jalan terbaik untuk melakukan perubahan. Mungkin saja cara itu dianggap kuno oleh sebagian orang, dan terlebih lagi pada kenyataannya demontrasi adalah ‘angin lalu’ bagi pemerintah. Entah kenapa hal itu juga masih saja mendapat sorotan dari media. Karena tidak menjadi hal yang ‘wah’ lagi sebuah demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelik memang, atau telah ada dalam kebuntuan gerakan, hingga aksi sudah tak berarti lagi. Melihat atau mungkin mengikuti demonstrasi, memaksa saya untuk mengenang ‘aksi-massa’ yang dulu pernah menjadi sebuah senjata yang begitu diperhitungkan dan ditakuti. Tan Malaka, tokoh yang bagi saya menjadi korban ‘pengkhianatan’ dari kekuasaan, telah membuat ketar-ketir pemerintah dengan ideologi dan gerakannya untuk menegakkan kemerdekaan seratus persen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;putch&lt;/span&gt; atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.” Begitu Tan Malaka menerangkan aksi-massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi aksi-aksi yang dilakukan oleh berbagai mahasiswa belakangan ini hanyalah sebuah ‘tindakan berani seorang pahlawan’, atau malah keputusasaan dalam kungkungan status sebagai seorang mahasiswa. Bisa jadi kita lupa, banyak hal yang dapat dilakukan seorang mahasiswa melebihi sebuah aksi demonstrasi. Dalam hal ini saya sepakat dengan isi note dan beberapa komentar yang ditempel di dinding FB saya. Saya sangat sepakat ketika mahasiswa seharusnya terlepas dari kungkungan status seorang mahasiswa yang menampakkan diri dengan demonstrasinya. Dan saya sangat yakin aksi-aksi yang dilakukan tidak mempunyai pengaruh apapun selain diliput oleh media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terlepas dari itu semua, ada komentar yang menggelitik saya ketika ada yang berkomentar bahwa “mahasiswa yang seperti itu—anarkis—adalah seorang bajingan”. Betapa bodohnya yang berkomentar, atau mungkin dia bukan mahasiswa?! Entahlah, yang jelas sebagai mahasiswa yang seharusnya mempunyai pandangan lebih dalam menyikapi masalah, dia terburu-buru menjatuhkan vonis. Bukankah sebagai mahasiswa kita tidak diajarkan untuk berpandangan sesempit itu?! Perihal anarkisme, itu memang salah dari konteks perilaku sosialnya. Akan tetapi, perlu kita melihat dari sisi lainnya juga. Saya pribadi melihat anarkisme yang dilakukan oleh mahasiswa beberapa waktu yang lalu bisa dimaklumi. Saya tegaskan, bisa dimaklumi, bukan berarti saya sepakat dengan tindakan tersebut. Ketika melihat berita di media massa, terlihat bahwa mahasiswa merusak salah satu rumah makan cepat saji dengan label merk terkenal dan mungkin prestisius bagi sebagian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari akibat tindakannya, bukankah tindakan tersebut dapat diterjemahkan dalam konteks nasionalisme? Atau memang saya yang tidak tahu bahwa merk itu milik anak bangsa? Saya pikir, mungkin memang sudah saatnya kita tanamkan nasionalisme sedalam-dalamnya, dan tegakkan itu dalam setiap perilaku kita—bukan anarkismenya. Lagipula, ketika demonstrasi yang tertib dan sopan tak ada pengaruhnya bagi pembuat keputusan, lalu dengan demonstrasi yang seperti apa yang membuat aksi itu ‘diperhatikan’ oleh pembuat keputusan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya kita tidak punya pemahaman dalam perilaku boikot. Hanya menjadi sekadar kampanye saja. Padahal, kita telah lama belajar bagaimana kekuatan ‘boikot’ bagi korban-korbannya. Dan kita telah melihat betapa ampuhnya hal itu dalam langkah perjuangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada sebuah diskusi yang ada dalam note tersebut. Ketika saya menanyakan perihal apa yang telah dilakukannya untuk perubahan, saya pancing dengan sebuah pertanyaan “Lalu apa yang telah Anda lakukan? Jangan-jangan Anda hanya menonton televisi dan melihat mereka—mahasiswa—berdemo saja?” Tanpa saya duga, jawabannya meleset jauh dari perkiraan saya. Jawaban itu tertulis kira-kira begini,”Setidaknya dengan menonton televisi saya tidak membuat masalah lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya sempat beberapa saat merasa kecewa. Saya pikir orang yeng berkomentar akan memberi jawaban yang lebih dari apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa yang demonstrasi. Ternyata, jawaban yang saya dapatkan adalah jawaban dari pikiran kerdil seorang mahasiswa. Bukankah sebagai mahasiswa, pikiran seperti itu seharusnya dikikis jauh-jauh hari? Atau memang benar komentar dari seorang pengamen yang suatu kali pernah saya dengar, bahwa mahasiswa sekarang ini bukan dicetak menjadi seorang intelektuil, tapi dididik untuk menjadi seorang buruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikapun demikian adanya, maka prediksi Tan Malaka tentang akan banyaknya kaum terpelajar memang benar adanya. Tan Malaka pernah menulis dalam “Massa-Aksi”nya melihat bahwa dulu kaum terpelajar hanya sedikit adanya, bahwa “mereka akan luntang-luntung dan merasakan kemelaratan sebagai buruh industry dengan penuh ‘kegembiraan’ dalam medan perjuangan.” Hanya saja, disini ‘kegembiraan’ itu bukan pada sebuah perjuangan, tapi dalam pikiran sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sampai disinikah seharusnya seorang mahasiswa? Jikapun saya menjadi salah satu dari mahasiswa yang berdemo, saya akan bertanya pada para komentator itu,”Buktikan bahwa kalian bisa berbuat lebih dari kami! Atau berilah solusi, dan kita sama-sama berjuang untuk rakyat dan Indonesia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kubu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini&lt;br /&gt;ada bayi mati kelaparan atau seorang istri&lt;br /&gt;bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang&lt;br /&gt;wabah sakit - barangkali di dekat sini&lt;br /&gt;atau jauh di kampung orang,&lt;br /&gt;Tak ada alasan untuk bergembira selama masih&lt;br /&gt;ada orang menangis di hati atau berteriak serak&lt;br /&gt;minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi -&lt;br /&gt;barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.&lt;br /&gt;Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa&lt;br /&gt;untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata&lt;br /&gt;dekat dinding kubu dan menanti.&lt;/span&gt;(Subagyo Sastrowardoyo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dapat dijadikan perenungan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Desember 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6192828137682611333?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6192828137682611333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6192828137682611333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6192828137682611333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6192828137682611333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#6192828137682611333' title='Mahasiswa dan Demonstrasi'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-1844697960613685722</id><published>2009-12-20T21:46:00.000-08:00</published><updated>2009-12-23T15:45:48.331-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Surat Untuk Cinta #3</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Na, setiap waktu akan berlalu&lt;br /&gt;       setiap sedih menyisakan perih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na, jangan kau simpan kenangan ini, namun&lt;br /&gt;      jangan kau buang perasaanmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na, sepertinya kau terlalu lelah&lt;br /&gt;       Sepertinya aku terlalu lemah, kita sama-sama payah…&lt;/span&gt; (RA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Aku pernah menulis itu dalam sebuah saat yang sedih. Ketika itu, saat-saat merindukanmu adalah perihal yang menyiksa bagiku. Begitu berat, dan begitu menyesakkan. Ada sesuatu yang terasa tak lengkap saat kau tak ada. Dan begitu juga saat aku kesepian secara utuh. Kau, telah menawanku dalam alunan hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau masih tetap seperti dulu, ada di dalam ruang terdalam dalam hatiku. Ada hal yang tak pernah bisa kita mengerti, mungkin kau adalah hal yang paling indah bagiku, tapi kau tak merasakannya. Tapi apalah artinya pengakuanmu, aku hanya mengerti tentang perasaanku sendiri. Tak bisa menyelami perasaanmu, meskipun aku berusaha menyelami hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang bahwa kau membutuhkanku, aku sungguh sangat senang dangan hal itu. Aku tak akan membuatmu terluka, karena aku juga ingin selalu ada untukmu.&lt;br /&gt;Aku telah semakin kuat, tapi masih saja aku merasa lemah. Aku belum sanggup untuk sepenuhnya tak memikirkanmu. Dalam hidupku, kaulah ‘Rembulan di Langit Hatiku’. Ah…terlalu berlebihankah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Mungkinkah kau juga telah lelah? Menunggu itu memang melelahkan, tapi buah dari kesabaran adalah manis, semoga. Kau tahu, saat aku lemah, kaulah kekuatanku. Kau yang sanggup membimbingku untuk segera berbenah dan bangkit dari keterpurukan. Bukan melalui tangan-tanganmu, tapi hanya semangat dan kata-katamu, juga doa dan perhatianmu. Aku benar-benar merasa menjadi seorang yang seutuhnya ketika ada dirimu. Mungkinkah kau merasakan hal serupa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku tahu bahwa perasaanmu sepertiku, kita adalah orang-orang yang ternyata masih lemah. Bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah kita. Perasaan itu seolah mengalir tanpa sepengetahuan kita, merasuk semakin dalam, dan semakin kuat dalam hati kita. Lalu kita adalah sebagian yang saling membutuhkan. Berharap akan segera ada pertemuan. Dan kita jalani kehidupan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…Aku selalu ingat setiap melodi yang mengalun dari kata-katamu. Aku masih terngiang gemuruh semangatmu. Dan aku setiap hari dapat menggambar kenangan yang pernah kita lalui. Sebelum puasa yang kita lakukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah puasa. Dari kekotoran diri di dunia. Lalu kita berharap menjadi suci untuk perasaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga meditasi. Penenangan diri dari segala angkuhnya ambisi, sombongnya ego pribadi. Dan kita beranjak menjadi seorang yang selalu sadar diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ini bukanlah tentang penderitaan. Ini adalah perihal bagaimana menjaga. Tentang saat yang tepat untuk menikmati waktu berbuka, bukan ketika adzan Maghrib berkumandang. Tapi waktu aku meluruhkan perasaanku pada kata indah itu. Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengertikah kau betapa aku mungkin terlalu memuliakanmu? Selayaknya pangeran yang akan menjemput permaisurinya. Seumpama aku Bandung Bondowoso, Prambanan telah kubuat untukmu. Tapi aku tidak akan menjadikanmu arca bagi sempurnanya candi itu. Karena aku ingin menikmati kemegahan candi itu bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Jalani hidup ini dengan semua impian yang melekat dalam diri kita. Kita masih punya itu, dan kita akan wujudkan itu bersama-sama. Aku selalu ada untukmu, ingatlah itu. Biarpun sekarang ini ada ruang yang berbeda diantara kita, tapi hati kita telah sama-sama dekat. Kita terangi jalan ini dengan apa yang telah kita yakini, apa yang telah kita pahami, dan apa yang menjadi pegangan kita. Jangan terpancing dengan egonya dunia, jangan merasa iri dengan nikmatnya neraka di kanan-kiri, karena kita adalah kita. Dan kita adalah sebagian yang ingin menyatu dengan puasa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun aku masih lemah, biarpun aku terlalu payah, tapi aku juga masih ingin menjadi yang terbaik untukmu. Jangan lelah, jangan pernah lelah untuk menuntaskan puasa ini. Karena kita sebenarnya tidak ingin menjadi payah, meskipun kita adalah makhluk yang sebenarnya terlalu payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah setiap baris kata yang coba kita sematkan. “Ada aku yang membutuhkanmu” dan “aku yang selalu ada untukmu”. Itulah pegangan yang akan kita pegang, karena kita akan mewujudkan itu seutuhnya ketika saatnya kita telah berbuka. Dari puasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 20-21 Desember 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-1844697960613685722?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/1844697960613685722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=1844697960613685722' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1844697960613685722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1844697960613685722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#1844697960613685722' title='Surat Untuk Cinta #3'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-2410825478923489537</id><published>2009-12-10T00:27:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T22:16:51.795-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tak seorang akan tahu&lt;br /&gt;kur siapa yang nyanyi&lt;br /&gt;pada sebuah magrib&lt;br /&gt;dalam mimpiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;…. (GM, “sajak sehabis mimpi”) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorangpun akan tau. Begitulah sang penyair memberi batas dengan orang lain terhadap alam nyata dan alam bawah sadar yang dialaminya. Tak seorangpun akan tau, menjadi sebuah gertakan yang tegas selayaknya bahwa mimpi kemarin malam telah terjadi dan tidak akan seorangpun yang akan tau tentang mimpi apa. Bahkan ketika nyata sekali bahwa dalam mimpi itu bersuara keras, dan mungkin serempak seperti sebuah alunan kur.&lt;br /&gt;Mimpi, itu menjadi sebuah rahasia yang paling intim dalam kehidupan seseorang. Maka siapa yang dapat mengetahui mimpi setiap orang yang dialaminya setiap hari. Masing-masing dari kita menyimpan mimpi kita sendiri. Dan banyak cara untuk mengekspresikan itu semua. Atau lebih tepatnya banyak hal untuk dapat menjadikan mimpi itu menjadi sebuah ekspresi tertentu.&lt;br /&gt;Maka, hal manakah yang membuat mimpi kita menjadi sesuatu yang pantas ditafsirkan oleh orang lain? Harusnya kita sendiri yang paham akan arti mimpi itu. Karena kita dan apa yang pernah kita alamilah yang membentuk mimpi itu. Membuatnya seolah menjadi sebuah tanda yang akan dialami pada suatu waktu di hari depan. Bukan ramalan, tapi rekaan. Dari semua hal yang membentuk mimpi itu, secara tak sadar kita dapat mengasosiasikan hal itu dalam kehidupan nyata kita.&lt;br /&gt;Ketika kita mengingat sebuah nama, seorang filosof, Sigmund Freud, dengan teori psikoanalisisnya, erat hubungannya dengan keadaan alam bawah sadar manusia. Dengan membantu menterjemahkan setiap mimpi yang dialami seorang pasien, dia sedikit demi sedikit membantu pasien keluar dari kungkungan rasa tertekan yang dialaminya. Atau setidaknya bisa dikatakan menurut Freud, mimpi kita adalah manifestasi dari semua hasrat, juga keinginan yang dibentuk dari alam sadar kita. Kebanyakan mimpi kita lahir dari rasa tertekan karena kita tidak dapat mewujudkan keinginan tersebut dalam alam nyata.&lt;br /&gt;Keinginan-keinginan yang coba dtekan tersebut makin lama makin memenuhi alam bawah sadar kita, dan akhirnya muncul dan tergambar dari mimpi yang kita alami. Dan sejauh itu hanya menjadi sebuah mimpi, maka tak akan seorangpun yang tau, begitu menurut Goenawan Moehammad.&lt;br /&gt;Satu contoh diceritakan oleh Alberto pada Sophie, misalnya, ada seorang lelaki yang telah bermimpi bahwa lelaki itu diberi dua buah balon oleh saudara sepupu perempuannya. Maka, apakah arti dari mimpi itu?&lt;br /&gt;Berdasarkan psikoanalasisnya Freud, ketika seorang lelaki menerima dua buah balon dari saudara perempuannya maka, dikatakan bahwa sang lelaki sebenarnya mempunyai hasrat yang telah dipendamnya untuk memiliki saudara sepupu perempuannya itu. Hanya saja hal itu tidak akan terjadi, karena lingkungan status sosial masyarakatnya yang membuat tabu untuk hal itu. Hal itulah yang membuat hasrat itu hanya menjadi tekanan yang tersimpan dalam alam bawah sadar si lelaki. Sampai disini, arti dua buah balon yang diberikan oleh saudara sepupu perempuan bisa mempunyai arti. Itu menjadi sebuah penanda bagi seorang perempuan.&lt;br /&gt;Namun, ketika kita mengacu pada teori psikoanalisisnya Freud, kita hanya berkutat pada kejadian dan hasrat yang telah lampau. Dalam hal ini saya sedikit kurang sependapat. Kita harus juga ingat bahwa ada sebuah ‘impian’. Konteksnya, ketika mimpi itu terbentuk dari pengalaman masa lampau, maka impian adalah manifestasi keinginan untuk hal-hal yang belum terjadi, namun diinginkan untuk terjadi di masa datang. Sama-sama sebuah keinginan, namun kadangkala sebuah impian tidak bisa dianggap sebuah tekanan. &lt;br /&gt;Dalam mimpi, semua hal bisa sangat mungkin terjadi. Itulah pointnya. Bahkan untuk sebuah hal yang tak masuk akal sekalipun. Namun ada sedikit pertanyaan pada diri saya, apakah ketika kita bermimpi dan mengeluarkan seluruh pengalaman alam bawah sadar kita, kita masih dalam posisi yang tidak sadar? Berdasarkan apa yang saya amati dari model psikoanalisisnya Freud, kita bisa saja tidak sepenuhnya tertidur dan masuk dalam alam bawah sadar kita secara penuh. Maka dengan itu, apa yang sering saya alami menajdi sebuah hal yang sangat biasa terjadi. Walaupun begitu, ketika kita hanya setengah berada dalam alam bawah sadar kita, tetap saja kata GM, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tak seorangpun kan/ tau kur siapa yang nyanyi/ pada sebuah Maghrib/ dalam mimpiku//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Desember 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-2410825478923489537?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/2410825478923489537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=2410825478923489537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/2410825478923489537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/2410825478923489537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#2410825478923489537' title='Mimpi'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8270370012195371797</id><published>2009-11-25T17:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T17:55:27.192-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Surat Untuk Cinta #2</title><content type='html'>Night at November Rain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Apakah kau merindukanku? Atau hanya aku saja yang merasakan kerinduan ini. Betapa besar dan berat rasa ini harus kutanggung. Aku tidak mengerti, tentang kisah yang coba kita pahat dalam hidup ini. Begitu besarnya cinta, namun begitu sempitnya ruang dan waktu. Namun aku lebih senang ketika apa yang kita alami ini dengan menyebutnya liku asmara. Meski ada jarak pada ruang juga ada jeda untuk waktu,namun tidak memberi pengaruh padaku. Justru rasa itu semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa menceritakannya, apakah kau masih merindukan hujan? Kau tahu, kerinduanmu telah mengirim hujan padaku. Setiap malam, ketika rasa rindu ini begitu dalam, lalu seolah rasa rindu kita bertemu dan menari dalam hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah menulis puisi, ketika cinta memberi tanda awal perpisahan kita. Apakah kau juga membacanya? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika nanti kau merindukan aku/ Kutitipkan kenangan pada wajah hujan/ Karena aku tahu, hujan mengingatkanmu padaku// Jika nanti kau tak kuasa menahan tangis/ Kuikutkan airmatamu pada derai hujan/ Disanalah kerinduan kita bertemu// Jika nanti kau merasa jauh dariku/ Mendekatlah pada belai hujan/ Dengannya, kutarik kau menari bersamaku// Jika nanti kau lelah menungguku/ Bicaralah pada hujan/ Darinya, kutahu aku harus datang/ Dan kebahagiaan/ Menjelma rintik gerimis di wajahku//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kau suka. Secara pribadi ada begitu banyak tanda dalam wajah hujan. Dia seolah mengerti tentang perasaan ini. Dengan begitu lambat dia mengajakku menikmati setiap bulir rasa yang mengalir deras. Ada kesejukan yang ditawarkan padaku dengan mengingatmu. Namun, tak dapat kupungkiri ada semacam sesak yang menekan. Hatiku koyak, jiwaku melayang bersama bau tanah basah. Tetapi, itu menjadi sebuah candu bagiku. Karena hujanlah yang membuatku merindukanku semakin dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengannya, aku merasa berterima kasih, membuatku menemukanmu meskipun dari sebuah elegi. Simpul-simpul peristiwa yang diatur dengan sempurna hingga mempertemukan kita pada taman takdir. Hujanlah yang membuatku meletakkanmu pada tempat terdalam, karena  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hujan memberiku nama/ Ketika dia datang/ Dan kau memanggilku// Hujan memberiku kesempatan/ Ketika dia jatuh/ Dan kau membutuhkanku//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Sungguh terasa ganjil bukan? Bukan bunga, bukan coklat, atau bukan rayuan mesra yang membuat kita saling merindui. Tapi hujan. Dia memang berkah, dia memang media bagi rasa yang telah tumbuh dalam hati kita. Maka sampaikan rindu ini padanya, dan titipkan ikhtiar ini padaNya. Bukankah kita sudah menasehati diri kita sendiri dengan itu. &lt;br /&gt;Cinta, apa kau masih akan mencintaiku, dengan ketulusan yang tak bimbang? Kita simpan rasa ini sama-sama. Bukan lagi kutanggung sendiri perasaan ini. Karena aku yakin, kau juga memberi ruang di hidupmu untukku, kelak. Aku masih seperti dulu, ketika kau pertama mengenalku. Aku masih sama seperti apa yang telah kau gambar dalam pikiranmu. Kita mungkin akan sama-sama payah, bisa jadi kita akan lelah, namun bukankah itu sebuah perjuangan? Dan yang kutahu, perjuangan itu tak pernah mementingkan hasil. Kita hanya mampu untuk merasainya, dan anggaplah ini sebuah tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan kita adalah perjuangan yang mungkin sangat berat. Juga melelahkan. Tapi aku yakin, dirimu lebih kuat daripada aku. Bukan lagi membuatku payah, namun juga menyakitkanku. Tapi bukankah sekarang lebih baik dari hari kemarin? Aku telah punya pegangan yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku telah seutuhnya berpegang pada rasa yang telah hadir pada hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan ini, bukanlah untuk selamanya. Akan ada kerinduan yang begitu besar setelahnya. Di hari itu, kita tumpahkan semua pada bingkai hidup yang menemani berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan merasa ada noda. Atau dosa dari yang pernah kita lewati. Bukankah itu sebuah pengingatan. Pengingatan untuk kita yang pernah lupa. Juga alpa. Atau sekadar awal dari sebuah perbaikan terhadap diri. Ah, aku terlalu tidak sanggup untuk melihatmu menangis karenanya. Jangan menangis…jangan menangis…jangan menangis. Aku merasa lebih tersiksa dengannya. Aku ingin melihatmu bahagia, bukannya sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menangis…dosa bukan untuk ditangisi. Dia butuh perbaikan. Dia butuh kebenaran. Agar dia merasa utuh sebagai sebuah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Jika kau menangis, apa yang dapat kuberikan agar kau kembali tersenyum? Aku tahu kau tidak akan meminta permen seperti anak-anak. Jikapun kau seperti itu, aku akan rela memberikannya untukmu. Tapi kumohon, jangan menangis lagi. Kesedihanmu menjadi berlipat untukku. Kau ingat? Dulu aku pernah bicara padamu, ketika pertama aku menerangkan sebuah hakikat hidupku. “Aku lebih bisa menahan diriku tersakiti, daripada melihat ‘orang dekatku’ tersakiti dan menangis.” Maka jadikan semua ini sebuah babak baru. Jadikan ini fragmen yang akan berlanjut untuk mendaki tahap berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, ketika kau menangis, aku seolah linglung. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Senantiasa dirimu hadir dalam pikiranku. Karena aku tidak dapat menghiburmu. Jika kau ingin menangis, bukan sekarang waktunya. Aku tidak bisa memelukmu untuk menenangkanmu. Simpanlah semua itu untuk nanti. Aku akan selalu menjadi penghiburmu. Menyandarkanmu pada bait tawa ketika kau sakit, meneduhkanmu di bawah rindang malam saat kau terlalu penat, dan mencairkan harimu dengan cerita-cerita. Maka janganlah menangis sekarang. Aku tidak akan tahu apa yang dapat kulakukan untukmu. Karena kita terpenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… sekarang inipun aku bingung. Apa yang aku tuis ini sebuah kebimbangan, atau keresahan yag linglung. Tak tahu arah mana yang kutuju pada kalimat-kalimatnya. Ah, betapa aku merasa menjadi manusia paling ganjil dengan semua ini. Mungkin aku memang aneh, tak seperti yang kau kenal kebanyakan. Tapi inilah aku, dan aku bangga menjadi diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… jagalah baik-baik dirimu, dan akan kujaga dengan baik diriku. Karena sampai saat ini kita belum mampu sepenuhnya saling menjaga. Kita adalah setengah yang belum menjadi satu. Kita belum menjadi utuh bagi sebagian yang lain. Biarkan hati kita merasakannya, tapi jangan biarkan yang lain mengikuti. Karena mungkin ini sebuah dosa. Dosa yang nikmat, dosa yang melenakan, dosa kedewasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, begitu mudahnya cinta, begitu beratnya rindu, dan begitu nikmatnya dosa. Pada nada diam perpisahan kita. Pada ruang dan waktu yang tak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu yang ingin ada untukmu,&lt;br /&gt;(AR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8270370012195371797?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8270370012195371797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8270370012195371797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8270370012195371797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8270370012195371797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#8270370012195371797' title='Surat Untuk Cinta #2'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3691115029962089612</id><published>2009-10-25T23:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T00:00:44.864-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Perpisahan</title><content type='html'>Ada saja yang tak pernah selesai diucap. Cerita-cerita yang kau minta. Seperti tadi malam, saat kita terjaga di sebuah ambang duka. Mendekat pada pintu perpisahan. Ditemani langit-langit hitam mengundang gerimis. Selayak perpisahan itu sendiri. Perpisahan.&lt;br /&gt;Aku ragu. Entah itu nyata, atau hanya isyarat saja. Atau justru begitulah adanya. &lt;br /&gt;Kau berlalu,&lt;br /&gt;Kita mengingat malam yang sama. Mengisahkan cerita, mungkinkah yang kau minta? Atau hanya inginku saja.&lt;br /&gt;Ada duka yang sama, ada rasa serupa. Malam-malam yang sama. Malam-malam menyambut pagi. Seingatanku juga.&lt;br /&gt;Cerita-cerita yang kau minta. Aku harap bukan cerita perpisahan kita. Bukan kisah tentang malam terakhir. Perpisahan. Duka.&lt;br /&gt;Aku ingin bercerita. Tentang kisah selanjutnya. Tentang impian, dan keteduhan mengawali tidur kita. Membuka jendela mimpi hinggap tak ada batasnya. Untuk mengulang malam-malam yang serupa.&lt;br /&gt;Serupa dulu pernah kita rasa. Di dalam gua, diatas gunung, menerkam dingin, kemudian meluncur pagi. Dan kaulah cerita. Akulah cerita. Meski bukan cerita yang selalu sama. Kitalah ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tak sempurna diungkap. Ungkapan menerang. Di dalam gua, di puncak gunung, mengalir bersama dingin, di guratan malam, kemudian meluncur pagi.&lt;br /&gt;Ungkapan selayak janji,&lt;br /&gt;Ibarat cinta adalah cinta mati. Bukan dari seseorang yang biasa. Juga bukan pada seseorang yang biasa. Seseorang itu, sosok yang tak akan ada padanannya. Pada keduanya adalah setengah yang melengkapi. Padanya adalah ungkapan untuk meretas keyakinan. Menjawab keraguan.&lt;br /&gt;Dengan ungkapan, muncullah kepercayaan, lalu berubah keyakinan, kemudian ada tindakan. Laku hidup yang seharusnya diteruskan. Meski ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Semua tak merubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang lengkap dari perpisahan. Merasa kehilangan, sejujurnya. Ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Meski tak merubah perasaan. Atau justru membuatnya semakin utuh. Seperti pagi ketika kita ada di ambangnya. Detik-detik yang mungkin diingat dan dirindukan. &lt;br /&gt;Tawa anak kecil membuat suasana semakin melankoli perpisahan. Lugu yang ditunggu, lucu yang sederhana. Perpisahan. Perpisahan. Perpisahan.&lt;br /&gt;Sampai kapan tak ada pertemuan? Sampai kapan rasa ini tertahan? Dan sampai kapan rindu ini hanya tersimpan?&lt;br /&gt;Hanya tulisan-tulisan. Dia mampu menyelesaikan ucapan. Dia sanggup menyempurnakan ungkapan. Pada rentang ruang, pada jeda waktu. Dia menisbikan perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun hanya tulisan. Ada ucapan selamat tinggal, ada harapan secepatnya bertemu kembali. Ada doa di setiap gerak bibirnya. Ada air mata untuk mengingatnya. Itulah ucapan-ucapan cerita tentang kita.&lt;br /&gt;Meskipun sekadar ungkapan. Ada jawaban-jawaban.&lt;br /&gt;Semakin tinggi, akan terasa semakin sakit jatuhnya. Maka aku tak akan membiarkanmu terjatuh. Jikapun kau terjatuh, akupun akan jatuh. Sakitku adalah lebih dari sakitmu.&lt;br /&gt;Tapi bukankah kita menuju atas? Dan ingatlah bahwa kita adalah sayap yang belum sempurna. Tak harus merisaukan rasanya terjatuh. Karena ketika telah lengkap, maka kita dapat tenang menuju ke atas. Ke langit. Ke Surga barangkali.&lt;br /&gt;Aku ingin sayap yang sempurna. Aku ingin melengkapinya dengan impian-impian nyata. Aku ingin bercerita tentang segalanya. Aku ingin mengungkap semua rasa. Aku ingin tak ada perpisahan.&lt;br /&gt;Ada doa untuknya. Juga ada air mata merindukannya. Karena tak akan ada malam yang sama setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaten, 25-26 Oktober 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3691115029962089612?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3691115029962089612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3691115029962089612' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3691115029962089612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3691115029962089612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_10_01_archive.html#3691115029962089612' title='Perpisahan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-773995669547311893</id><published>2009-10-17T06:56:00.001-07:00</published><updated>2009-10-17T06:56:58.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Sebuah Catatan Pribadi</title><content type='html'>Dari sekian hari yang tertempuh, ada saat kita merindukan kembalinya sang waktu. Saat itulah kenangan ingin kita ulang. Namun, apa yang bisa kita perbuat untuk mengulangnya. Tak ada. Yang tersisa adalah ingatan kita sendiri tentang kenangan itu. Dan jalan paling akrab untuk kembali pada kenangan adalah mengingat kembali setiap detail peristiwa itu. Hanya itu.&lt;br /&gt;Pada suatu saat, terkadang saya juga sangat ingin mengakrabi kenangan yang telah saya tinggalkan. Ada moment-moment dari suatu peristiwa yang ingin kuulangi. Setidaknya sekali lagi. Tapi tak mungkin. Waktu tak pernah dapat kembali.&lt;br /&gt;Namun, pada suatu saat, sejenak aku tak ingin mengulang kenangan, cukup tersimpan saja dalam ingatan saya. Tentang sesuatu, atau mungkin seseorang. Dia begitu membuat saya merasa ‘sakit’. Kadangkalanya kesedihan harus ditumpahkan. Kadangkala perpisahan tak diinginkan. Dan terkadang saya begitu dalam mengingatnya.&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah untuknya. Sesuatu itu telah ada pada suatu hari. Dan setelahnya, semakin hari seperti sebuah pohon yang terus mengakar. Semakin hari semakin kuat. Dan semakin lama juga meneduhkan. Ada bunga-bunga yang mewarnainya. Juga ada batang yang kadang menopang, ada ranting yang juga patah. Namun, semua tetap berdiri.itulah yang membentuknya.&lt;br /&gt;Sesuatu itu, padanya kuikatkan sebuah kekang padaku. Aku telah rela mengikat diri untuknya. Dengan niatan, dengan ucapan, dan nanti pasti tindakan. Suatu hari nanti.&lt;br /&gt;Dia, yang membuat sesuatu itu. Padanya hanya pujian. Untuknya mengalir persembahan, dan baginya terlahir kesempurnaan.&lt;br /&gt;Terasa aneh, bahkan untuk waktu yang lama. Tak kudapati redup, terlebih padam. Yang ada selalu saja mengembang. Dulu, awalnya adalah perbedaan. Tapi siapa mengira padanya adalah persamaan semata. Siapa sangka jalan kita sama. Lalu mengapa kita tak bersama-sama?&lt;br /&gt;Aku pernah mendaki puncak tertinggi inginmu. Lalu kau tabur telingaku dengan ayat-ayat sucimu. Begitu dalam dan menggetarkan. Kemudian aku bangun pada sepertiga malam. Dengannya aku dapat mengingatmu. Atau entah aku mengingatmu lalu mengingatNya. Yang kutahu selalu saja Dia dan dirimu bersama-sama. Berkelebatan dalam renunganku. Setiap saat.&lt;br /&gt;Lalu peristiwa di pagi hari itu. Tatkala kau bertanya padaku tentang sebuah impian. Lalu kuterjemahkan dalam bahasa bijaksana. Dan kau menerimanya seperti permintaan. Tapi memang permintaan. Kau telah meneduhku dalam impianku sendiri. Kau terima, mungkin dengan senang hati. Atau aku yang terlalu memikirkan. Aku yang merencanakan? Lalu kau masuk dalam bagiannya, sebagai peranmu.&lt;br /&gt;Namun, tak ada yang lebih indah dari pagi itu.  Adalah “Semoga niatnya segera terwujud menjadi tindakan.” Lalu “kita berjuang dan berdoa sama-sama.” &lt;br /&gt;Adakah yang kuinginkan sekarang? Aku ragu. Tak ada yang kuharapkan mungkin. Hanya tentang sesuatu itu segera menemui kebenarannya. Lalu kita berjuang bersama-sama. Ada doa yang terlantun untuknya, dari seorang ibu yang menekuri ayat-ayat suci. Di rumah suci. Seorang ibu yang memanggilku dnegan sebutan yang aneh. Tapi tak mengapa. Toh itu hanya sebutan untukku. Yang terpenting adalah harapan juga doanya. Sungguh naïf jika aku tak mengamini.&lt;br /&gt;Catatan ini, adalah tanda pengingatku. Juga sebuah persembahan tak sempurna. Karena padanya belum lagi terlaksana tindakan nyata. Masih sebatas usaha…usaha…usaha…dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukoharjo, 17 Oktober 2009 (00.15)&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-773995669547311893?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/773995669547311893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=773995669547311893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/773995669547311893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/773995669547311893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_10_01_archive.html#773995669547311893' title='Sebuah Catatan Pribadi'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-973017936283564817</id><published>2009-10-17T06:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T06:55:56.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>14 Oktober 2009</title><content type='html'>Perahu telah menemukan labuhannya&lt;br /&gt;Dalam badai kabut&lt;br /&gt;Menyamarkan jejak yang tertinggal untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi yang terlalu perih&lt;br /&gt;Tak rela&lt;br /&gt;Terbaca jawaban&lt;br /&gt;Dari penantianku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah menemukanmu&lt;br /&gt;Bukan dalam tanda khayal&lt;br /&gt;Tapi pada kata&lt;br /&gt;Terangkai di bibir jemarimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Oktober 2009,&lt;br /&gt;Ada hati&lt;br /&gt;Tak lagi sepi&lt;br /&gt;Ada senyum&lt;br /&gt;Menawar duka&lt;br /&gt;Ada percaya&lt;br /&gt;Membagi asa&lt;br /&gt;Ada persembahan&lt;br /&gt;Aku untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(AR, 16 Oktober 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-973017936283564817?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/973017936283564817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=973017936283564817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/973017936283564817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/973017936283564817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_10_01_archive.html#973017936283564817' title='14 Oktober 2009'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8913566428943103231</id><published>2009-10-17T06:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T06:54:32.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Ramadhan dan Lebaran: Ibadah, Kultur, atau Rutinitas</title><content type='html'>Lebaran memang baru saja kita tinggalkan. Tapi pengalaman yang menyertainya bisa jadi tak akan begitu mudah kita lupakan. Meskipun itu adalah pengalaman yang sangat mungkin hanya monoton mengulang Lebaran tahun-tahun yang lalu. Atau bahkan dengan mengulangnya dari tahun ke tahun menjadikannya sebuah ingatan yang mengakar dalam memori kita.&lt;br /&gt;Ketika peristiwa-peristiwa monoton saat Lebaran kita jumpai setiap tahunnya. Sadar atau tidak ada yang justru kita lupakan ketika kita terbangun pada hari itu. Itu adalah dosa-dosa yang pernah kita lakukan sebelum kita merasa dilahirkan kembali menjadi suci. Ya…selama satu bulan kita dipaksa untuk ikut dalam suasana yang islami. Bagi sebagian orang mungkin menjadi sebuah formalitas dari kultur yang terjadi selama kurang lebih tiga puluh hari. Tapi masih tetap ada yang benar-benar memaknai bulan suci itu.&lt;br /&gt;Satu bulan penuh kita menerima ‘pelajaran’ bahwa kita harus benar-benar memfokuskan diri untuk beribadah…beribadah…dan beribadah. Tak lain dan tak bukan karena Ramadhan adalah bulan yang banyak sekali terdapat kemuliaannya. Kita ‘dipaksa’ untuk melupakan kehidupan duniawi. Dan pada akhirnya, kita dijanjikan mendapatkan ‘kelahiran kembali’ sebagai manusia yang suci. Kita kembali ‘fitri’. Moment itulah yang membuat sebagian orang merasa sangat senang dengan kehadiran Lebaran. &lt;br /&gt;Namun, tidak semua orang bahagia ketika Lebaran telah tiba. Ada yang justru sangat bersedih ketika dia ditinggalkan oleh bulan Ramadhan. Yaitu orang-orang yang sesungguhnya mengerti arti mendekatkan diri dengan Sang Khalik. Jika bisa meminta, mungkin orang seperti itu akan meminta bulan yang lain menjadi bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Terlepas dari Ramadhan, Lebaran membawa pengertian baru tentang kelahiran kembali. Kita merasa suci layaknya bayi yang baru saja lahir. Tak ada dosa yang menempel pada kita. Pengertian semacam itu, menurut saya adalah pengertian yang sombong. Misalnya saja setiap tahun kita merasa menjadi orang yang suci lagi, berarti setiap tahun bisa jadi kesombongan kita juga semakin bertambah. Ataukah kita merasa tidak mempunyai dosa seumur hidup? Mustahil! Sedangkan kita tidak dapat memastikan apakah puasa kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Sang Khalik, meskipun kita juga telah menunaikan zakat.&lt;br /&gt;Pikiran yang naïf ketika kita merasa menjadi orang yang suci tanpa dosa. Di sisi lain, makna suci bagi saya juga sungguh sangat berbahaya terlalu digembar-gemborkan. Bisa jadi, pikiran yang terbentuk akan membawa kita pada pengertian bahwa kita punya sebuah ‘tiket’ penebusan dosa ketika kita telah melewati Ramadhan. Dan akhirnya dosa yang pernah kita lakukan sebelum-sebelumnya senantiasa dengan ringannya kita ulang…ulang…dan ulang terus menerus.&lt;br /&gt;Sedikit berbeda ketika kita menilik kembali kondisi zaman ketika Martin Luther membangkang dari doktrin-doktrin gereja. Saat itu, gereja dapat mengeluarkan sebuah ‘surat sakti’ yang menyatakan orang tersebut terbebas dari dosa-dosanya dengan membayar sejumlah uang. Ibaratnya, dengan surat penebusan dosa tersebut itu, pemegangnya menjadi manusia suci. Jika saja semua orang mempunyai uang untuk membeli ‘surat sakti’, maka di dunia ini tak ada orang yang berdosa menurut anggapan mereka.&lt;br /&gt;Kondisi itukah yang akan terjadi pada Islam? Dengan merasa terlahir kembali menjadi suci, apakah tidak ada orang islam yang tak berdosa? Meskipun hanya sehari saja, saat Lebaran. Saya kira tidak semudah itu.&lt;br /&gt;Pengertian inilah yang akan dengan mudahnya membuat kita melupakan dosa-dosa yang pernah kita lakukan sebelumnya. Dengan memaknai seperti itu, kita akan menyandang gelar manusia yang tak pernah belajar. Belajar itu bukan sekadar untuk mengetahui, tapi bagaimana menerapkan apa yang sudah kita ketahui. Saya kira bulan Ramadhan juga mempunyai tujuan mulia itu. Bukan hanya sebuah kebangkitan kultur Islam selama satu bulan lamanya. Walaupun tak bisa dipungkiri, memang kultur Islam begitu mencolok saat bulan ramadhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 6 Oktober 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8913566428943103231?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8913566428943103231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8913566428943103231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8913566428943103231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8913566428943103231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_10_01_archive.html#8913566428943103231' title='Ramadhan dan Lebaran: Ibadah, Kultur, atau Rutinitas'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-4492502141273663936</id><published>2009-10-04T20:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T21:03:21.526-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Sebuah Tulisan Untuk Nama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hujanmimpi&lt;/span&gt;; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ibarat hujan, mimpi terlalu dalam untuk diresapi&lt;/span&gt;. Adalah sebuah nama, atau sebutan atau petanda dari sebuah perenungan. Tidak ada maksud menempelkan bahasa yang muluk-muluk. Yang ada adalah sebuah harapan. Harapan agar mimpi-mimpi lebih dapat ditafsirkan, juga dinikmati. Terutama dibaca. &lt;br /&gt;Mimpi, mungkin bagi Sigmund Freud adalah salah satu bentuk pengungkapan dari hal-hal yang tersimpan di dalam alam bawah sadar kita. Dan menyepakati pendapatnya tersebut, hujanmimpi lahir untuk membahasakan mimpi-mimpi penulis. Tentang apa saja. Karena bagi penulis, menulis itu tentang sesuatu yang diketahui. Ketika sesuatu tidak pernah terlintas dalam pikiran, mustahil ada tulisan tentang hal serupa.&lt;br /&gt;Apa-apa yang tertulis dalam hujanmimpi adalah media menerjemahkan pengetahuan penulis yang masih sedikit ini, juga dengan bahasa yang masih dalam taraf belajar. Karena seperti yang dikatakan Joni Ariadinata, menulis itu butuh proses, semakin kita sering menulis, tulisan kita akan semakin bagus. Semangat itulah yang selama ini penulis coba pegang. Meskipun masih dalam taraf belajar, setidaknya penulis berani menerjemahkan impian pribadi menjadi seorang penulis sesungguhnya.&lt;br /&gt;Mengapa hujan? Bukan sesuatu yang lain untuk menggambarkan betapa tak terhingganya mimpi-mimpi itu? Bukan pasir yang mustahil kita hitung, atau rambut yang juga mempunyai keadaan yang sama? Cukup sederhana saja, karena pribadi yang menyukai hujan. Itu saja. Kenapa suka hujan? Juga cukup sederhana, karena ada pengalaman yang membuat hujan mempunyai tempat tersendiri dalam pikiran penulis. Juga perasaan yang menyertai ketika hujan turun yang dialami oleh penulis mengingatkan pada sesuatu yang menjadi impian.&lt;br /&gt;Namun, ada yang mengganjal ketika pertama kali hujanmimpi lahir. Penulis resah dengan pikiran penulis sendiri bahwa hujanmimpi akan dikatakan mengekor dengan yang lain. Tak lain dan tak bukan adalah rumahmimpi. Awalnya penulis tidak terlalu memikirkan hal itu, namun lama kelamaan justru pikiran-pikiran seperti itu seperti mengetuk-ketuk minta tempat pada penulis. Tapi tidak sama sekali. Hujanmimpi murni sebuah nama yang tidak serta merta hanya ikut-ikutan ataupun numpang tenar. Hujanmimpi benar-benar lahir dari penerjemahan tentang gambaran perenungan penulis. Dapat dikatakan, hujanmimpi adalah penggambaran penulis. Tentang sebuah mimpi, harapan, juga perenungan-perenungan.&lt;br /&gt;Meskipun memang, penulis merasa kenal dengan rumahmimpi dan banyak belajar darinya. Namun, lahirnya hujanmimpi terlepas dari rumahmimpi. Tulisan ini lahir karena saat ini penulis semakin gelisah dengan pikiran-pikiran yang mengganggu bahwa hujanmimpi lahir untuk mengekor rumahmimpi. Walaupun juga hujanmimpi tak akan sanggup meskipun hanya mengekor saja. Tulisan ini adalah sebagai bentuk ungkapan sekaligus pertanyaan apakah yang harus penulis lakukan pada hujanmimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaten, 3 Oktober 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-4492502141273663936?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/4492502141273663936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=4492502141273663936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4492502141273663936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4492502141273663936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_10_01_archive.html#4492502141273663936' title='Sebuah Tulisan Untuk Nama'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-9151013846674414106</id><published>2009-08-25T00:59:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T01:03:14.429-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dia Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesal,&lt;br /&gt;Pada akhir dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,&lt;br /&gt;Ada rindu&lt;br /&gt;Yang tergolek setelahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(AR, juni 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meraba Hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama aku menemukanmu&lt;br /&gt;dalam bingkai yang lugu namun serentak mengundang&lt;br /&gt;rasa malu terbias angkuhnya harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kerinduan mendebarkan&lt;br /&gt;lentik jari meraba hati: menyakitkan sekaligus menyenangkan&lt;br /&gt;siapa sangka kau menawarkan tanda dan aku membacanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku rindu kau: tergambar masa lalu, sekarang, dan hari esok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali akan kau tanya sebuah alasan&lt;br /&gt;yang perlahan mengupas takut dari semua kehilangan&lt;br /&gt;mungkin juga tak dapat kuterangkan dengan bahasa&lt;br /&gt;sebuah kejujuran yang kutepiskan dalam tanda khayal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku rindu kau: tertulis kenangan, kisah, dan impian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap jengkal aku merasa kau mengikutiku&lt;br /&gt;Gemulai manja lambaian tanganmu memanggil&lt;br /&gt;dengan bibir yang bergetar kau berbisik:&lt;br /&gt;Aku ada dihatimu, maka kau selalu merindukanku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(AR, Juni 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa kali kususur jalan ini&lt;br /&gt;tapi tak kutemui dirimu seperti waktu pertama&lt;br /&gt;gerimis mengundangku untuk melihatmu basah airmata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lugu dan kau pilu&lt;br /&gt;Terbenam pada tikungan rahasia sebuah tanda yang mengisyarat luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti kalau aku menemukanmu lagi&lt;br /&gt;akan kukurung dalam hati pertemuan itu&lt;br /&gt;sama ketika pertama aku melihatmu basah airmata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuat jejak padanya agar aku dapat kembali&lt;br /&gt;menyesapi kenangan yang terbawa dari masa lalu&lt;br /&gt;agar perjalanan ini tak hanya sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(AR, Juni 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-9151013846674414106?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/9151013846674414106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=9151013846674414106' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/9151013846674414106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/9151013846674414106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_08_01_archive.html#9151013846674414106' title='Dia Puisi'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8040672902793316219</id><published>2009-08-25T00:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T00:54:33.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Rumah baru</title><content type='html'>Bulan Ramadhan ini, akhirnya apa yang pernah terlintas dalam pikiran saya benar-benar terjadi. Saya menjadi terasing dari kehidupan yang biasa saya lakukan. Saya begitu dekat dekat dengan kesunyian, juga dekat dengan semua waktu untuk menata impian. Pada bulan ini, akhirnya saya dapat dekat dengan Sang Khalik. Dulu, ketika saya memikirkan untuk menempati rumah Allah, saya akan mengisi hari-hari luang saya dengan banyak mengetik. Dan darinyalah harapan saya, saya dapat menulis dengan baik.&lt;br /&gt;Disini, tak terdengar lagi celotehan teman-teman, tak ada hiruk pikuk acara televisi, tak ada suara-suara bising tak berguna. Yang ada hanyalah ketenangan, kerinduan, juga harapan-harapan yang kian dekat. Ketenangan, karena memang inilah kehidupan yang terasing. Kerinduan, mungkin adalah bonus dari rasa terasing itu, rasa rindu pada semuanya, seolah saya tak dapat lagi bersama orang-orang dan segala yang saya rindukan. Harapan, adalah wujud dari semua ikhtiar yang masih saya lakukan untuk sesuatu, atau mungkin untuk seseorang. Saya ingin menjadi lebih baik lagi, saya ingin jadi yang terbaik untuk seseorang, saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Kalau saya pikir, sangat aneh ketika saya berada disini. Mungkin bukan saya saja yang merasa heran ketika saya mengambil keputusan penting itu. Namun, apa yang saya lakukan adalah bukan tanpa pertimbangan. Apa yang saya putuskan telah saya pikirkan, dan akan saya jalani hingga waktunya nanti. Salah satu alasannya adalah saya ingin senantiasa dekat dnegan Allah, karena Dia yang telah menganugerahi saya sebuah rasa yang membuat saya merasa sangat sakit namun juga sangat menyenangkan. Saya ingin membuat rasa itu tetap pada jalur yang semestinya, semoga Allah memberi kesabaran yang tangguh padaku hingga waktunya tiba.&lt;br /&gt;Dan untuk saudaraku sesama penghuni rumah baru ini, terima kasih telah memberiku sedikit penawar keterasingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah baru, 25 Agustus 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8040672902793316219?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8040672902793316219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8040672902793316219' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8040672902793316219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8040672902793316219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_08_01_archive.html#8040672902793316219' title='Rumah baru'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-1349953578786071068</id><published>2009-08-25T00:49:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T00:52:17.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Kata-kata Yang Berkesan Untukku</title><content type='html'>- Ah kamu tuh…    : greatest women&lt;br /&gt;- Kamu tuh ya….    : greatest women&lt;br /&gt;- Hulik-hulik    : greatest women&lt;br /&gt;- Maaf…     : little sister&lt;br /&gt;- Mas jangan marah,….takut…  : little sister&lt;br /&gt;- Saya pikir…    : Iswan&lt;br /&gt;- Jadi begini…    : Erry Soffan&lt;br /&gt;- Jujur ya…    : Surya Eka&lt;br /&gt;- Trus piye akh?    : Umar&lt;br /&gt;- Ehmm…lha kowe…    : Awin&lt;br /&gt;- Sik-sik…tunggu…    : Candra&lt;br /&gt;- Esensinya apa?    : Haris Firdaus&lt;br /&gt;- Bagi saya…    : Haris Firdaus&lt;br /&gt;- Rangerti!!!    : Ali&lt;br /&gt;- Mantanku….(mantan mentri)  : My little generation&lt;br /&gt;- Biasa…orang sibuk!!!   : My little generation&lt;br /&gt;- Rame donk Gus, kamu kalau diem nyeremin…: Bangun&lt;br /&gt;- Tau ah gelap..    : bidan jutek&lt;br /&gt;- Gi ngap ne?    : bidan jutek&lt;br /&gt;- Ho’o to?    : Mas Jhon&lt;br /&gt;- Lha cita-citamu apa?   : Mas Anto&lt;br /&gt;- Wis lulus rung?    : Mas Anto&lt;br /&gt;- Arep bali saiki…??!   : Simbok’e&lt;br /&gt;- Kok koyo ngono yo Gus…?   : mbak Endang&lt;br /&gt;- Mas Agus baik deh…   : Adik2ku cewek&lt;br /&gt;- Yo ojo ngono…    : Bagus&lt;br /&gt;- Piye cah?    : Bagus&lt;br /&gt;- Kita?! Pak Agus sudah berubah ya…? : Edi&lt;br /&gt;- Sbg akhwt sy sakit hati…  : Ayu PA&lt;br /&gt;- Ora bisa!    : Mentri keuangan&lt;br /&gt;- Srondengan..    : Akhi Guspur&lt;br /&gt;- Piye bro…    : Akhi Guspur&lt;br /&gt;- Jadi begini, Mas…   : little brother Gundul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi, tapi pada sesi selanjutnya. Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-1349953578786071068?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/1349953578786071068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=1349953578786071068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1349953578786071068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1349953578786071068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_08_01_archive.html#1349953578786071068' title='Kata-kata Yang Berkesan Untukku'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-7083007136692788110</id><published>2009-08-25T00:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T00:47:26.166-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Parade Cinta Pondok Pesantren:  Dzikir-Dzikir Cinta, 3 Cinta 3 Doa</title><content type='html'>Kehidupan di sebuah pondok pesantren tidak berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya—namun lebih terawasi. Nuansa yang ditawarkan adalah seringnya kita mendengar lantunan ayat-ayat Al Qur’an, juga terjaganya sholat secara berjamaah. Namun, sama seperti kehidupan pada umumnya, dalam lingkungan pondokpun cinta tak dapat ditentang keberadaannya. Pada siapapun. Memang bisa jadi yang utama diajarkan adalah cinta pada Allah Yang Esa, namun itu tidak serta merta menghilangkan rasa cinta pada sesama. Ada ikatan persaudaraan yang kuat, ada kepatuhan pada kyai, juga ada rasa rindu yang besar pada orang tua. Bahkan juga ada rasa cinta pada lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel “Dzikir-dzikir Cinta”nya Anam Khoirul Anam, kita dibuat melihat dunia pesantren seperti kehidupan pada umumnya seorang remaja. Meskipun memang pada kenyataannya sedikit, bahkan mungkin banyak berbeda dengan keadaan yang sebenarnya. Rusli, seorang pemuda yang “nyantri” di pondoknya Kiyai Mahfud, berniat menimba ilmu sebanyak-banyaknya disana. Namun, seperti kehidupan remaja pada umumnya, dia juga dilanda perasaan cinta pada santriwati bernama Sukma dari Pondok Gus Mu’ali. Meskipun Rusli ingin meniadakan perasaan cinta pada hamba-Nya, karena trauma akan keberadaan cinta itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Meski aku tak membenci akan adanya cinta, namun cinta telah melukai mataku hingga cinta itu sendiri yang membuatku membencinya”.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tampaknya penulis menghendaki kisah lain pada cinta keduanya. Rusli dapat menerima keberadaan cinta itu dan akhirnya disatukan, padahal Rusli telah menikahi Fatimah, putri Kiyai Mahfud, sebelumnya karena rasa hormat yang terlampau besar.&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Sukma, dia seorang yang pernah merasakan gelapnya tawaran dunia, ketika menyimpan cintanya untuk Rusli, dia dengan kesungguhan hati berusaha memperbaiki diri, dan terus bersabar. Sebuah perjuangan yang begitu mengharukan. Dia menutup dari perasaan cinta pada laki-laki lain, dan hanya untuk Allah semata setelah tahu bahwa Rusli menikahi Fatimah. Namun, ketulusan dan kesabarannya membuahkan hasil, sampai akhirnya penulis membuat tokoh Fatimah meninggal dunia dan akhirnya Sukma dapat bersanding dengan Rusli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit cerita tentang cinta pada kehidupan pondok pesantren. Bahkan di pesantrenpun keberadaan cinta pada sesame hamba tidak dapat dibatasi. Dan justru, menurut saya, dengan sedikit godaan yang ditawarkan kehidupannya, maka cinta yang tertulis pada santri-santriwatinya lebih terasa dalam memaknainya. Sebuah surat cinta dapat membuat pembacanya tidak dapat tidur dengan nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan cerita cinta yang dikisahkan dalam film 3 Cinta 3 Doa. Tokohnya, 3 orang pemuda, mempunyai liku cerita yang lain-lain pula. Ada yang begitu dalamnya rasa cinta pada Allah hingga punya cita-cita “Syahid” ketika keluar dari pondok nanti. Ada yang selalu merindukan sosok ibu yang telah menitipkan dia di pondok, dan berusaha mencari keberadaan ibunya. Juga ada yang tidak dapat menerima keberadaan cinta karena sang ibu yang menikah. Namun, semuanya hampir sama, cerita cinta di pondok seperti kehidupan kebanyakan. Ada rasa yang kadang menyakitkan namun menyenangkan, ada rasa ridu yang menggelora, ada usaha untuk mendapatkannya, juga ada doa yang terpanjat padaNya. Karena sejatinya semua cinta bersumber pada yang menciptakannya. Dialah Yang Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kehidupan pondok yang penuh dengan cerita cinta, saya sangat miris ketika pondok terkotori oleh anggapan buruk tentang teroris. Meskipun saya bukan orang pondok, namun saya sangat geram pada pendapat yang menyudutkan sebuah pondok.&lt;br /&gt;Ada sebuah benang merah yang dapat saya lihat dari semua kejadian terkait dengan pondok. Dulu, ketika Belanda masih berkuaa di bumi pertiwi, peran pondok pesantren tidak dapat diremehkan begitu saja. Dari orang-orang pondok jugalah yang ikut andil dalam merebut kemerdekaan, namun sekarang pondok pesantren khususnya dan Islam umumnya seperti disudutkan. Ada pertanyaan besar dalam diri saya. Mengapa??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh berimajinasi, dalam pikiran saya Indonesia tidak akan dapat dikuasai sebelum umat islam luntur keislamannya. Siapa yang ingin menguasai? Entahlah, kita seperti melihat seekor gajah yang masuk ke mata kita. Yang terlihat cuma sebagian kulitnya. Kita tak pernah tahu bahwa itu adalah seekor gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Agustus 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-7083007136692788110?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/7083007136692788110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=7083007136692788110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7083007136692788110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7083007136692788110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_08_01_archive.html#7083007136692788110' title='Parade Cinta Pondok Pesantren:  Dzikir-Dzikir Cinta, 3 Cinta 3 Doa'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-2974645424694085210</id><published>2009-07-28T06:10:00.000-07:00</published><updated>2009-07-28T06:14:47.096-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>LAWU #2: Sebuah Cerita</title><content type='html'>Tanggal 17 Juli yang lalu, saya berkesempatan untuk melihat suasana yang berbeda. Lawu. Nama yang tak asing namun begitu jauh dari jangkauan sebelumnya. Dan saat itu, sebenarnya juga tak ada niat untuk melakukan pendakian kesana—perjalanan tepatnya. Karena sebelumnya ada sebuah ajakan untuk “ngecamp” oleh seorang teman. Tapi aneh, kebanyakan “ngecamp” adalah bukan ngecamp. Saya bilang seperti itu karena ketika “ngecamp” kita membawa bekal makanan dari rumah, dan dimasak disana. Kalau saya bilang kenapa tidak sekalian saja pindah rumah?! Dengan “ngecamp” seperti itu, bukankah hanya sebuah acara pndah makan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu, “camp” adalah sebuah tempat yang serba terbatas. Mungkin pemikiran ini meresap dalam diri saya ketika membaca cerita sejarah tentang “camp” pengungsian dari orang-orang yang diusir. Saya ingat betul pernah melihat sebuah film yang bagi saya sungguh dramatik. Saya lupa judulnya, tapi saya ingat betul ceritanya. Tentang sebuah keluarga yang hidup di “camp pengungsian” yahudi. Seorang  ayah yang ingin menciptakan sebuah suasana rekreasi pada anak laki-lakinya ketika berada dalam sebuah “camp pengungsian”. Ada anggapan bahwa sang anak belum seharusnya menyadari apa yang tengah menimpa mereka sekeluarga. Dalam “camp pengungsian” itu, sang anak dijelaskan bahwa mereka sedang mengikuti sebuah perlombaan untuk mengumpulkan nilai tertinggi agar dapat memiliki sebuah tank. Tugas sang anak cukup sederhana, yaitu jangan sampai tentara Jerman mengetahui keberadaan sang anak. Cukup cerdas juga mengharukan. Bahkan sampai saat sang ayah “dieksekusi”pun sang anah masih percaya bahwa mereka sekeluarga tengah mengikuti perlombaan. Itulah gambaran ngecamp bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke Lawu, saya sadar tidak akan mendapatkan “kenikmatan” seperti itu. Namun, saya akui ada niat yang berbeda yang bukan berdasar pada keegoisan diri saya pribadi. Justru saya rasa, niat ke Lawu memang bukan lahir dari keinginan pribadi sebelumnya. Namun saya masih sempat meniatkan itu setidaknya untuk menikmati suasana yang berbeda di tengah kejenuhan aktifitas saya. Meskipun saya akui tidak dapat menghilangkan semua beban pikiran yang menggelayut, bahkan ketika pendakian berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan niat untuk orang lain itulah saya tetap kuat dan mampu bertahan hingga sampai turun dari Lawu. Padahal, beberapa hari sebelumnya saya sendiri sangsi apakah mampu untuk naik—karena beberapa hari sebelumnya saya “terbaring” dirumah. Namun saya telah mengucapkannya—saya anggap itu sebuah janji—dan saya harus menepatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keberanian melawan dingin, saya beserta 5 orang lainnya akhirnya berhasil juga menikmati indahnya bumi dari sudut pandang lain. Sejenak ada suasana yang menyenangkan, namun juga ada sesuatu yang saya rindukan ketika saya berada diatas gumpalan awan putih. Saya tak mengerti apa itu, namun saya menikmatinya. Saya hanya teringat dengan orang-orang dan tempat-tempat yang saya tinggalkan. Dan suatu saat nanti saya akan meninggalkan mereka dan menuju pada orang dan tempat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selalu ada yang datang, dan juga pergi. Jika ada pilihan, saya memilih selalu ada yang datang tanpa ada yang pergi. Saya benci kerinduan setelahnya.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saya akui, pada tempat dan waktu itu ada rasa senang, namun juga ada kesedihan terselip diantaranya. Di tempat yang terasing, seperti puncak Lawu dan lembah-lembahnya, saya merasa benar-benar kecil tak berarti dibandingkan Yang Meninggikan gunung ini. Ada kedekatan jiwa dan getar yang mengharu ketika saya merasa dipisahkan dengan hal-hal yang saya tinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terus terngiang dalam kepala saya, mungkinkah akan seperti ini terus adanya? Siapa yang akan menenangkan segala gejolak ini? Saya membayangkan ketika saya meninggalkan segalanya kelak, saya lebih menikmati ketika sudah tidak ada beban yang tertinggal, dan terpenuhinya semua janji. Aneh. Justru ketika saya ada pada puncak tertinggi, saya sangat merindukan tempat di bawah. Ataukah justru karena memang saya orang yang selalu merasa terasing dari semua?! Semoga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat untuk bermunajat ketika badan saya menantang dingin pada malam terakhir di Lawu. Hari sebelumnya saya memang dikalahkan hawa dingin, hingga tidak dapat tidur. Dan pada munajat itu saya teringat dengan kehidupan zaman Rasul Muhammad di gurun pasir. Padanya siang akan membakar, dan malam akan membekukan. Saya merasa kalah dnegan kehidupan mereka orang-orang terpilih. Saya merasa sangat kecil dan kotor kalau mengeluh kalah dari dingin yang serasa menusuk tulang-tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tibalah ketika kami pulang. Selalu saja ada lagu yang seolah menjadi lagu wajib ketika hendak kembali. Dulu, ketika saya kunjungan ke Kudus, lagu itu juga saya nyanyikan sepanjang perjalanan. Kalau tidak salah judulnya “Tunggu Aku Kembali” dari Naff: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akan kutuangkan rindu/ selepas ku kembali/ kepada kekasih hati// akan kuungkapkan rasa/ petikan bunga-bunga/ yang lama tersimpan/ disaat ku jauh// Tunggu aku kembali/ dimana, ku tau kau selalu setia/ Pasti ku kan kembali/ disana, dimana cintamu menanti//&lt;/span&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati ketika menyanyikannya, saya akan tetap menyanyikannya ketika suatu saat nanti ada seseorang yang tengah menanti saya di rumah. Tapi itu masih nanti. Bukan sekarang, tapi biarlah itu saya nyanyikan untuk sesuatu yang saya rindukan tapi tak mengerti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biarkan aku bersenandung lirih/ mengusap gundah/ membasuh perasaan// Lalu taburkan kemesraan/ selayaknya pertama datang/ dan tabir terbuka// Biarkan aku merangkai kata/ menyusun kisah/ menerang hati// Kemudian telusuri baitnya/ selayaknya akan lama perjalanan/ di waktu datang janji/ untuk kemudian hari//&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu ingat janji yang saya ucapkan. Dan saya ingin menepatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;br /&gt;28 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-2974645424694085210?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/2974645424694085210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=2974645424694085210' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/2974645424694085210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/2974645424694085210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_07_01_archive.html#2974645424694085210' title='LAWU #2: Sebuah Cerita'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-5996042383560158494</id><published>2009-07-28T06:00:00.000-07:00</published><updated>2009-07-28T06:09:09.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>LAWU #1 : Ambisi; Eksistensi; Rekreasi</title><content type='html'>Ada yang tersurat dalam sebuah pendakian. Perjalanan menyusur bukit dan lembah yang berkelok, seolah tak membuat gentar—justru semakin menantang. Dalam dada pendaki, ada degup luar biasa yang menggejolak ketika mulai melangkahkan kaki untuk pertama kali. Sebuah gairah yang mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, itulah secuil dari perasaan yang menimpa seorang pendaki. Ada saja alasan untuk kembali menikmati keelokan dan tantangan tonggak-tonggak bumi tersebut. Menyerap energi dingin yang ditawarkan kabut-kabut gunung, seraya menyepuh bibir dengan hangatnya kopi. Semua itu terjadi dalam kewarasan logika manusia. Bisa jadi karena ingin menyatu dengan alam, semua kabut yang membawa dingin dihantam dengan seluruh keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut, bagi sebuah tempat seperti pegunungan adalah hal yang biasa. Disitulah berkumpul jutaan bulir air yang saling memeluk menyusuri lembah-lembah. Dari sanalah lembab menyajikan oksigen yang tipis. Dibalik keanggunannya, ada sebuah misteri yang selalu menyertai keberadaan kabut. Apa yang ada dibalik ribuan bulir-bulir uap air itu? Secara makna, Goenawan Moehammad pernah mempertanyakan arti dari ribuan uap yang menyisir gunung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisinya yang berjudul “Kabut” GM bertanya tentang arti keberadaan kabut: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapakah yang tegak di kabut ini./ Atau Tuhan, atau kelam&lt;/span&gt;. Dua buah pilihan yang paradoks dalam arti namun tidak bisa dibandingkan. Tuhan, adalah manifestasi dari sebuah ideologi dan keyakinan. Keberadaannya bisa jadi ada namun tidak ada. Karena tidak dapat diwujudkan dalam sebuah material atau digambar dalam alam pikiran. Bisa diterima karena cukup diyakini saja. Tanpa perlu untuk menggugat keberadaan diriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kelam? Adalah sebuah bentuk yang menggambarkan keadaan gelap, sepi, sunyi, dan mencekam. Antara Tuhan dan kelam menjadi sebuah paradoks, karena Tuhan adalah lambang dari pencerahan, sedangkan kelam adalah sebaliknya. Namun, paradoks dari keduanya tidak dapat dibandingkan secara ideologi. Bagi kaum yang meyakini agama tentu saja akan menggugat adanya pembandingan kedua kata tersebut untuk menggambarkan sesuatu. Namun, itulah ekspresi seorang penyair. Dia mampu berimajinasi di luar batas kewajaran manusia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan kabut dalam sebuah pendakian adalah peringatan untuk pendaki segera mawas diri akan keberadaan dirinya. Yang terjadi ialah, seorang pendaki akan kehilangan dirinya ketika kabut telah menyelimuti gunung dan lembah. Sepi dan terasing, perasaan seperti itu kemudian akan menggelayut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung beserta kabutnya senantiasa menyimpan cerita-cerita mistis diluar logika manusia. Ada pesan yang akan di ikrarkan oleh para pendaki ketika memulai sebuah pendakian. Dan selama pendakian setidaknya pendaki akan mawas diri pada semua pantangan dari gunung yang tengah ditelusuri. Memang terkesan ganjil dan di luar nalar, tapi itulah misteri sebuah gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara logika, keberadaan kabut yang menutupi kawasan gunung saja membuat seorang pendaki kehilangan keberadaan dirinya—tersesat, apalagi ditambah dengan cerita mistis yang menyertainya. Namun, hampir tak akan sepi sebuah gunung dari pendakian. Entahlah, mungkin justru itulah keindahan yang ditawarkan penopang bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman juga tantangan membuat pendaki semakin liar menerobos imajinasi hanya untuk melihat terbitnya matahari. Ketika seseorang merasa sangat perlu untuk “muncak” gunung, apa yang sebenarnya dicari? Toh hanya melihat bumi dari sudut pandang berbeda. Namun, memang bukan manusia namanya ketika merasa menginginkan sesuatu agar terpenuhi. Bisa jadi alasannya cukup sederhana, ambisi. Ya…dengan itu, tanpa paham apa yang akan dicari untuk naik gunung, seseorang rela menahan lelah hanya untuk memenuhi gejolak keinginannya. Alasan yang sangat sederhana tapi memalukan. Hanya ambisi. Dengan alasan itu, sebenarnya pendaki tidak melakukan pendakian sebuah gunung, tetapi mendaki batas tertinggi egonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita berbeda ketika seorang pendaki melihat gagahnya gunung sebagai sebuah tantangan. Perihal yang melatarbelakangi untuk melakukan pendakian. Sebuah eksistensi manusia terhadap alam. Dengan sampainya seorang pendaki “muncak” seolah merasa dirinya telah mengalahkan sebuah gunung dengan jebakan alam yang mengelilinginya. Merasa dirinya tak tersesat dan selamat hingga kepuncak adalah satu nilai tambah untuk menunjukkan eksistensinya pada pendaki lain bahwa dia telah sampai ke puncak paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika dalam sebuah televisi swasta, mengabarkan bahwa tim kru televisi telah berhasil sampai kepuncak sebuah gunung yang “prestisius” bagi seorang pendaki. Bagi saya, hal itu hanyalah tontonan biasa, mengingat bahwa sebenarnya kita memang diciptakan melebihi semua makhluk. Gunung, bagaimanapun begitu adanya. Dengan semua rintangan dan jebakan jurang yang menyempurnakannya. Yang saya tahu, dalam keyakinan saya, bahwa tanpa kita berhasil “muncak”pun, eksistensi kita lebih diakui daripada gunung. Saya ingat dengan sebuah kalimat “Bahkan gunungpun tidak sanggup memikul AMANAH ini” dari seorang yang saya kira orang baik. Jadi tidak perlu menunjukkan eksistensi kita pada orang lain bahwa kita telah berhasil “muncak” kalau masih mengakui eksistensi kita sebagai makhluk paling beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih saya terima terkait pendakian hanyalah sebuah rekreasi. Sebuah jalan untuk menyegarkan pikiran dan jiwa karena kita berhadapan pada suasana yang berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Suasana yang mungkin sekali sangat menarik karena saya jarang melihat sebuah alam dengan jurang-jurangnya, dengan udara dinginnya, juga dengan kesunyian yang ditawarkannya. Alasan yang mungkin dipandang remeh karena bobot katanya tapi justru sebuah keluguan. Orang yang jarang melihat gunung pasti suka dengannya, begitu juga orang gunung akan suka berekreasi ke kota. Itulah alasan yang tidak dibuat-buat dan lahir dari kewajaran sifat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;br /&gt;28 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-5996042383560158494?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/5996042383560158494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=5996042383560158494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/5996042383560158494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/5996042383560158494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_07_01_archive.html#5996042383560158494' title='LAWU #1 : Ambisi; Eksistensi; Rekreasi'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-2716748430157593123</id><published>2009-07-07T10:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T11:04:40.512-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><title type='text'>Mengenang teman-teman</title><content type='html'>Sewaktu saya benar-benar pulang kerumah. Ketika itu saya kembali dapat menyesapi semua kenangan yang tertinggal pada semua tempat yang pernah saya pijaki. Tempat-tempat itu seolah mengingatkan saya pada semua peristiwa yang membuatku hingga seperti sekarang ini. Seakan saya telah lama pergi darinya. Dan perihal ini dapat saya rasakan ketika saya menyambangi sebuah pasar kecil di belakang sekolahku waktu saya memakai seragam merah putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paginya hari, saya diberi kesempatan menikmati semua gambaran peristiwa kecilku yang pernah saya alami bersama teman-temanku. Di tempat itu—pasar Kwoso—saya kembali mengingat siapa dan bagaimana teman-temanku dahulu, karena saya ingat, kami sering maen dibelakang sekolah yang dapat langsung menuju pasar tradisional tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling pertama saya ingat sewaktu saya menginjakkan kaki di antara deretan lapak-lapak kecil itu adalah, dulu, dibelakang sekolah itu, sering dijadikan ‘arena’ duel teman-temanku. dan saya ingat siapa orang yang paling sering duel di tempat itu. Yang kedua adalah, dulu sekali sebelum saya mengenakan seragam merah putih, saya masih ingat sering maen sendiri di pasar ini karena simbah putri juga jualan makanan tradisional di tempat ini. Selanjutnya, wajah teman-temankulah yang teringat pada memori pikiranku. Saya ingin menulis tentang mereka, setidak-tidaknya dari pandanganku, dan tidak semua dapat saya tulis disini. Inilah orang-orang yang sewaktu kecil menemani hidupku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untung Gunarjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dialah teman sekaligus sahabat dan saudara bagiku. Sebenarnya dia adalah kakak kelas, namun dia pernah tidak naik kelas sekali. Orangnya memang tidak suka dengan akademis, yang dia suka adalah semua petualangan. Hobinya adalah mancing dan berburu. Orangnya dulu lebih besar dariku, maka saya biasa merasa dilindungi ketika bersamanya. Ketika kita sekolah dasar dulu, dia sudah terlihat sebagaimana sosok laki-laki yang tidak pusing dengan cewek, dan segala tetek bengek kesenangan budaya modern lainnya. Baginya, mancing dan berburu adalah kenikmatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengannya juga saya membentuk sebuah tim maen kelereng—dia, saya dan satu orang lagi—yang sering menang ketika maen kelereng bahkan melawan orang-orang dewasa. Setiap melihatnya saya selalu ingat kejadian pada bulan ramadhan yang pernah kita lalui. Karena kita sering bersama, bahkan dalam sholat Tarawihpun pasti selalu bersebelahan. Suatu kali ketika kita sholat Tarawih, ketika Imam selesai membaca Al Fatihah, maka kita berseru mengucap Amiii..nn! kontan dia terpingkal-pingkal hingga kapok bersebelahan denganku lagi. Katanya ketika saya mengucap Amin itu, suara saya unik. Saya juga heran, apanya yang unik??!&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Sekarang ini, dia tidak pernah melanjutkan sekolah SMAnya. Kelas dua dia keluar dari SMA. Entahlah, masuk SMP dia banyak menjadi lebih nakal dan bandel, hanya saja saya selalu tahu bahwa meskipun dia nakal, dia nakal secara individu yang tidak merugikan orang lain kecuali orang tuanya yang selalu dibuat repot. Dia bukan tipikal anak nakal yang ekstrovert, tapi laki-laki yang berkarakter individu penyendiri yang introvert dan tidak neko-neko. Hingga sekarang saya masih merasa begitu merindukan petualangan-petualangan dengannya dan sholat bareng yang kita lsayakan sewaktu kecil dulu di rumahnya. Juga keberaniannya. Saya masih ingat dulu waktu SMA kelas 2 (badan saya lebih besar darinya), ketika saya punya masalah dengan anak-anak kampung sebelah di lapangan sepakbola, saat itu saya sendirian yang paling besar yang lain masih SMP, Untung ngajak saya mencari siapa saja anak-anak itu dikampung mereka. Kejadiannya malam-malam, kita berdua menjelajah kampung sebelah mencari orang-orang yang sore tadi membuat gara-gara di lapangan (Untung tidak ikut maen bola), dan kita hanya berdua saja. Saya agak tsayat kalo memang benar-benar bertemu anak-anak kampung sebelah trus jadi apa kami nanti. Tapi dia nyantai saja berjalan dan sambil sesekali bilang bilang jangan tsayat. Dalam pikiran saya, busyet ni anak! Cuma berdua berani ekspansi ke kampung sebelah yang juga banyak anak-anak nakalnya. Beruntung sekali kita tidak bertemu anak kampung sebelah seorangpun, jadi tidak ada pengeroyokan atau perkelahian yang kami alami..Tapi saya salut pada keberaniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arif Wulantoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam olahraga, inilah seorang teman yang berbakat dari kecil. Sewaktu saya sangat senang sekali dapat menendang bola di lapangan (karena dalam 1 pertandingan paling banter dulu saya hanya dua kali menendang bola) dia sudah dapat berlari membawa bola dan membuat gol. Dia juga jago badminton, serta tenis meja. Dari sisi olahraga, saya kalah jauh darinya (dulu lho! Sekarang berani diadu deh.Hehehe…tapi terakhir kita maen bola kita jadi partner, juga bersama Untung, dia juga bagus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif adalah tipikal laki-laki penakluk cewek (hehehe…piss Rep), karena di sekolah dasar aja dia dah berani masuk dunia permainan cewek (halah… apaan tuh?!), maksud saya dia dah berani lirik-lirik cewek, padahal kita masih sibuk dengan maen kelereng, mancing, dan maen kesawah atau panjat pohon. Dia juga termasuk laki-laki yang dapat dibilang paling gaul (saya juga bingung ukuran gaul itu apa? Pokoknya itulah!). Dengan Arif saya masih satu SMP, dikota (dia yang ngajak saya masuk SMP 2 Klaten). Dan memang kita akrab setelah itu. di SMPpun dia juga tidak berubah, masih saja berbau masalah cewek. Saya pernah diajak lewat depan rumahnya cewek yang dia suka waktu pulang. Jauhnya minta ampuun…(sebenarnya bukan lewat tapi memutar jalan pulang). Mungkin karena dia punya wajah yang selalu imut ya?! Saya sayai Arif punya paras babyface, biarpun terakhir saya pernah liat dia punya kumis tipis. Giginya aja sejak kecil belum pernah ganti kok. Tapi orangnya berpikiran dewasa dan sportif. Mungkin dialah tipe cowok flamboyan di sekolah dasar yang saya kenal pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sri Mulyono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mul—begitu saya memanggilnya—adalah seorang tetangga sebelah rumah. Walaupun rumah kita berdekatan, kita baru bener-bener akrab sejak SMA. Dia adalah tipe laki-laki flamboyan kedua—saya tahu waktu SMA. Sewaktu sekolah dasar, dialah orang kedua yang tidak bisa maen bola, setelah saya. Saya masih ingat, ketika salah satu dari kami bisa menendang bola, maka kami akan saling pamer dan gembiranya kayak kejatuhan coklat dari langit. Walaupun dia belum menjadi laki-laki penakluk cewek, tapi sejak sekolah dasar bakatnya sudah terlihat. Dengan wajah yang berkarakter, tidak genteng juga tidak jelek, tapi menarik, cowok ini adalah tipikal cowok yang suka dirumah saja. Game adalah jenis permainan yang dia sukai. Saya kenal dengan permainan seperti itu juga dari dia. Dari jamannya Nitendo, Super Nitendo, sampai Sega, dan sekarang Playstation. Tapi memang kita berdua berbeda, saya tidak begitu suka dengan maen game (kalaupun bisa dibilang suka, pasti juga sepak bola, lainnya tidak), saya lebih suka game yang langsung dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang masih teringat jelas dengan cowok ini adalah, dia sering ngajak saya ke Mall Matahari Klaten hanya untuk maen ding-dong. Dan hingga sekarangpun dia masih suka maen game (kayaknya sih?!). Juga dia masih saja tidak bisa maen bola (sekarang saya bisa). Mungkin karena dia suka dengan dunia maya dan internet. Hal itu juga bisa jadi yang membuat dia menjadi seorang yang pendiam, tapi diam yang menghanyutkan cewek-cewek. Hehe… piss Mul…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dwi Anggono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah teman sebangkuku dahulu ketika kita kelas VI SD. Saya masih ingat benar, kita adalah anak-anak yang suka menyanyi. Anak ini dapat saya sebut kekar walaupun orangnya lucu juga. Dahulu, saya pernah berlomba dengannya untuk menciptakan sebuah lagu. Dan kalau tidak salah ingat, hanya beberapa hari kita harus dapat menyanyikan lagu kita masing-masing. Aneh memang, kita masih duduk di kelas VI SD sudah mencoba mengarang lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang telah disepakati, akhirnya kita benar-benar menyanyikan lagu “kita”. Saya kagum ketika dia dapat membuat sebuah lagu yang saya kira memang ciptaannya dia. Tapi akhirnya saya tahu bahwa itu adalah lagunya Katon Bagaskara: setetes embun di daun/ lambang bergulir/ ketika jatuh ketanah/ terserap musnah… Ketika saya tahu bahwa lagu itu bukan ciptaannya saya merasa menang, karena walaupun jelek, saya telah menciptakan lagu saya sendiri. Namun, saya juga tidak menyanyikan lagu jelek saya sendiri, tapi menyanyikan sebuah lagu yang saya hafal sebagai soundtrack film Virtual Fighter yang saya suka. Hingga saya menulis inipun, syaa masih ingat bagaimana lagu yang saya nyanyikan sewaktu SD dahulu. Sorry Dwi, laguku dulu juga lagunya orang lain. Hehehe…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Dwi saya juga masih ingat pernah membentuk kelompok belajar dengan nama ‘Time’di rumahnya. Seingat saya ada saya, Dwi, Marwanto, Nur Gobog, Heri Kizi (kalo ada yang lain sudah lupa). Agak lucu ketika membicarakan nama ‘time’ untuk menyebut nama itu. Ceritanya namanya sebenarnya bukan itu, namun karena kita ga tahu bahasa inggris, yang niatnya ‘team’ malah menjadi ‘Time’. Dan nama ‘Time’ terlanjur ditulis di tas saya. Setelah tahu bahwa yang dimaksud adalah ‘team’, maka saya mengusulkan untuk tetap memakai nama itu dengan filosofi bahwa waktu menunjuk pada kepentingan kita untuk menggunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar. Baguskan alasannya?! Akhirnya nama kelompok itu tetap dengan nama ‘Time’ karena semua sepakat dengan saya. Sebenarnya lucu juga sih, kalau belum terlanjur saya tulis di tas, mungkin saya akan sepakat dengan nama ‘Team’. Hehehe….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Marwanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan saya dekat dengan Marwanto saya tidak begitu ingat. Yang saya ingat, dulu saya pernah main kerumahnya dan diperlihatkan sebuah topeng kayu buatan ayahnya khusus untuknya. Dalam hati saya merasa iri, karena dia begitu disayang oleh ayahnya. Katanya lagi, ketika ayahnya pulang dari kerja di Jakarta, dia pasti dibelikan tas, sepatu yang bagus-bagus. Hal itu membuat saya semakin iri saja dibuatnya. Dalam benak saya, keluarganya yang sederhana adalah sebuah potert keluarga yang saling memberi perhatian dengan tak segan mengucapkan rasa sayangnya. Ibunya saya tahu tidak segan untuk mengingatkan waktu makan telah tiba, hingga mungkin kalau dia sedang tidak dirimah pasti dicari (hanya untuk makan dulu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat dulu, ketika main kerumahnya, saya disuruh memetik mangga sepuasnya. Di depan rumahnya memang ada pohon mangga jenis mangga nanas (katanya). Saya sangat senang sekali melihat kehidupan keluarganya, walaupun saya belum pernah melihat ayahnya yang kerja di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwanto adalah anak yang juga jago sepak bola di kelas dulu. Dia orangnya ulet dan pekerja keras. Walaupun secara teknik dan individu dia masih dibawah Arif, tapi dia bukan orang yang mudah menyerah. Dia juga layak menjadi kapten ketika ada di lapangan sepak bola, karena kedewasaannya main bola dan mengatur teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Heri Kizi/ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gembeng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang paling dapat saya ingat dari anak ini adalah dia sering menangis. Makanya dia mendapat julukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gembeng&lt;/span&gt;. Dia juga salah satu anak yang saya anggap dekat dengan saya. tapi anak ini lucu dan lugu. Seringkali dia menjadi bahan olok-olokan temen-temen. Dan orang yang paling sering dikerjai teman-teman adalah dia. Bisa jadi karena dia memang sering nangis kalau dikerjai makanya temen-temen suka ngerjai dia. Sewaktu temen-temen mengerjai dia, biasanya saya merasa kasihan dengannya, namun ketika dia sudah normal lagi, muncul deh sifat nyebelinnya. Hehehe… walaupun bebitu, saya juga suka bergaul dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat saya ingat sampai sekarang dnegannya disamping kelompok belajar ‘time’ adalah saya tahu bahwa ibunya adalah seorang pembatik. Ketika itu kelompok ‘time’ dapat jatah belajar di rumahnya dia, maka itu kali pertama saya melihat orang membatik secara langsung. Entahlah, hingga sekarang saya masih suka dengan kain batik. dan suatu saat nanti saya ingin membuat perusahaan batik sendiri. (amin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin terlalu banyak ketika saya menceritakan semua teman-teman yang pernah memberi catatan pada kehidupan saya waktu sekolah dasar. Hanya beberapa itu yang dapat saya ceritakan disini. Ketika saya benar-benar merasakan pulang kerumah. Disaat saya mengantar Ibu ke pasar yang letaknya di belakang SD saya. Meskipun sejenak di pasar, saya masih ingat benar bagaimana SD dan teman-teman saya. Semuanya melintas seperti sebuah rekaman yang lama tersimpan dalam kenangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua teman-teman saya, terimakasih karena membentuk saya seperti sekarang ini. Tanpa kalian mungkin saya tidak akan seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-2716748430157593123?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/2716748430157593123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=2716748430157593123' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/2716748430157593123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/2716748430157593123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_07_01_archive.html#2716748430157593123' title='Mengenang teman-teman'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8750569079116275244</id><published>2009-06-29T23:39:00.000-07:00</published><updated>2010-01-14T16:09:18.562-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Surat Untuk Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Juni,&lt;br /&gt;malam-malam kurindukan kau karenaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Cinta, itulah kata yang akan aku sematkan untukmu. Yang akan kuucapkan setiap kali aku memanggil namamu. Itulah kata serupa curahan yang aku timpakan padamu. Cukup satu kata saja, bagiku telah mewakili semua kelegaan dan beban dalam pikiran dan jiwaku. Itulah kata yang hanya akan aku ucapkan pada satu orang. Bukan orang lain. Bukan ibu dan ayah yang telah mengajariku bahasanya. Bukan teman dan sahabat yang bicara dengan ketulusannya. Bukan saudara yang membisikkan kebijaksanaannya. Juga bukan pada perempuan-perempuan yang aku nihilkan keberadaannya, setelah ada dirimu. Tapi hanya padamu saja aku gerakkan gairah bibirku untuk satu kata itu. Itulah kata sebagai wujud rasa sayangku. Rasa yang akan semakin menderaku sewaktu kata itu telah melekat untukmu. Dan hanya akan kupanggil untuk memanggilmu. Tentu saja disamping namamu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Tahukah kau… Betapa berat menjaga nama itu? Dan betapa banyak cobaan yang menantang untuk aku lalui? Namun, sampai saat itu terjadi—sebuah moment indah—akan kujaga itu. Hanya untukmu seorang. Bukan yang lain. Karena aku juga tahu, Adam hanya untuk Hawa. Bukan yang lain. Akan aku jaga sampai benar-benar datang waktunya aku memanggilmu. Jika mungkin dulu aku pernah mengucapkannya, maafkanlah aku, dan anggaplah itu sebuah khilaf dari beratnya cobaan menjagamu. Dan kesalahan itu bukan untuk selamanya. Darinya aku dapat belajar untuk memaknai kedalaman yang ditawarkan kata itu. Setelah itu, hanya kebanggaan jika aku dapat menjadikannya mahkota yang akan menyanjungmu. Mencoba menerbangkanmu dan memberi ruang tanpa batas dalam mengarunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah ikhtiarkan mengunci mulutku untuk tidak mengatakan itu pada yang lain. Aku tidak akan iri mendengar suara-suara menggelikan darinya yang dibisikkan orang lain dari kedangkalan nafsunya. Aku juga tak akan mendendam pada khilaf yang telah menyeretku pada kepedihan. Juga pada rasa sakit tatkala aku hanyut dalam melihatnya. Aku tak akan merasa iri pada semua itu. Aku tahu kesejatian adalah dari perjuangan. Dan aku selalu berjuang untuk mencapainya. Dengan segala penderitaan datangnya kelak, juga kerinduan yang ditawarkan iblis agar aku tersesat pada nikmat nafsu yang membakar kita berdua. Aku masih ingin melalui semua itu dengan gigih. Dengan tegak nantinya aku ingin meraih kemenangan dari semua tawaran yang menjatuhkanku pada rendahnya sebuah nilai dari kesejatian kehidupan. Karena telah banyak aku melihat bagaimana seseorang yang tak mampu menahan hanya terperosok semakin jauh dalam sisi kelam nafsunya. Aku memang sering melihat mereka tertawa dengan merendahkan kata itu. Tapi juga kulihat mereka tertawa dalam panasnya api yang disiramkan iblis pada tubuh-tubuh mereka. Sesungguhnya aku hanya merasa kasihan pada mereka, namun mereka tak menyadarinya dan justru menjadi sosok-sosok yang bebal dan buta. Ya Cinta… aku pernah melihat mereka semua tertawa dalam bara yang telah menunggu dalam rumah iblis dengan api nerakanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menginginkan kita menjadi seperti mereka. Masih bisa tertawa senang sekarang, padahal nantinya apa yang mereka tertawakan adalah perbuatan yang akan mereka tangisi karena membawa mereka pada siksa panasnya api abadi. Bukan itu yang aku harapkan, aku juga yakin itulah yang ingin kamu jaga. Aku begitu paham. Sama sepertimu, aku ingin kamu juga menjelma wanita yang melebihi pesona bidadari. Yang “seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” Aku juga lebih bahagia ketika kau dapat melebihi seorang bidadari. Aku sungguh akan bangga dengan hal itu. Itulah kenikmatan yang hanya dapat dirasakan dalam taman-taman abadi. Aku tidak rela ketika kulitmu nanti terkelupas oleh panasnya api neraka karena apa yang menggoda kita sekarang ini. Meskipun kita juga tidak memungkirinya, bahwa godaan itu sungguh nikmat. Namun kita juga paham, bahwa nikmat itu bukan untuk selamanya. Selama masih kusimpan kata itu. Itu tanda bahwa apa yang kita lakukan adalah nikmat yang sementara belaka. Hingga saat-saat aku telah berikrar, dan kuucapkan kata itu layaknya sebuah lantunan ayat-ayat yang setapak demi setapak memberi jalan menuju taman abadi. Hingga waktu itu belum terjadi, jagalah dirimu dari semua godaan yang membuat kita menjadi rendah dimata Yang Maha Menyayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta… tahukah kau aku sering menitikkan airmata? Ah, bodohnya aku, pasti kau tidak akan tahu. Iya Cinta… dalam kesunyian malam-malamku, kerinduan padamu sungguh begitu besar. Benar-benar menjadi terpaan yang sangat berat untukku. Namun kau tahu? Itu yang selalu memberiku jalan lapang hingga aku senantiasa bermunajat pada Dia Yang Maha Pemurah. Atas kemurahanNya aku masih diberi kesempatan merasakan kerinduan dan cinta. Dan atas kasih sayangNya aku masih diberi jalan untuk dapat bermunajat padaNya. Meskipun kerinduan padamu begitu besar, namun aku sadar karena Allah aku merindukanmu. Karena Allah jua aku merasakan cinta padamu. Aku merasa, Allah telah membuat jalan untuk kita lalui seperti sekarang ini. Entah apa yang akan terjadi nanti, biarlah itu jadi rahasiaNya saja. Kita akan coba menebak dengan ikhtiar kita. Dengan rencana-rencana, dan jerih payah yang kita lakukan, juga doa yang tak alpa kita panjatkan. Darinya, ada tempat terbaik yang menanti kita pada ridho dan barakahNya yang menanti. Biarlah kita titipkan harapan-harapan pada doa yang selalu kita lantunkan ketika kita bergumul dengan ketaatan padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti… ketika harapan-harapan itu telah mewujud, aku ingin sekali bercerita padamu. Cerita tentang keseharianku, apa yang aku rasakan ketika merindukanmu, tentang ikhtiar yang aku lakukan selama ini, ah…aku akan cerita apa saja padamu. Dan kau adalah sosok yang dengan bijak mendengarkan cerita-ceritaku. Lalu, aku yang akan mendengarkan cerita-cerita tentangmu. Apa saja ingin aku dengar, asal kau yang menceritakannya. Kita akan selalu bercerita ketika kita tengah menikmati ridho dariNya. Dan tak lupa kita akan membuat cerita tentang kehidupan yang senantiasa berjuang untuk apa yang telah kita yakini. Apa yang saat ini masih kita perjuangkan sendiri-sendiri. Kelak, ketika kau mengalami kepenatan atas perjuangan ini, aku yang akan menjadi embun bagi gersangnya kemarau dalam semangatmu. Kau akan menjadi oase bagi Sahara atas jenuh dan lelah yang kualami. Ah…alangkah indah saat-saat seperti itu. Ketika kita berdua dapat saling menguatkan dan saling menopang. Karena yang setengah telah menjadi seutuhnya. Dan kita menjadi pejuang yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…&lt;br /&gt;Apa yang aku tulis sekarang ini adalah sebuah harapan. Walau masih banyak harapan yang ingin aku tulis, namun aku tak pandai merangkai kata-kata. Aku masih sulit menyusun kata menjadi kalimat sehingga membangun menjadi sebuah paragraph yang indah selayaknya istana Sulaiman. Aku takut ketika kau baca paragraph yang tak indah itu, kau menjadi jenuh. Biarlah harapan-harapan sementara aku titipkan pada Allah saja. Dia akan menyimpannya dalam peluk kasih sayang ketika kulantunkan ayat-ayat doa padaNya. Tapi yakinlah, masih banyak harapan yang tak tertulis dalam bait-bait yang sedikit ini. Dan pahamilah, ada doa dalam ruh ketika aku menulis surat ini padamu. Doa yang terlantun dari laki-laki yang merindukan keberadaanmu. Doa yang terngiang dalam jiwa yang menanti kehadiranmu. Dan doa yang menggelegar dalam semangat untuk menjemputmu. Disanalah aku titipkan segala rasa dan ungkapan. Suatu waktu nanti akan aku endapkan menjadi sebuah kata untuk memanggilmu… Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kasih sayang dan kerinduan yang dalam,&lt;br /&gt;Tertanda, AR.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Kutitipkan surat ini padaMu. Sampaikan pada sosok yang aku rindukan itu. Dan katakan padanya dengan semua ketulusanku, aku akan mencintainya karenaMu. Aku akan menjaganya untukMu. Aku akan membimbingnya menujuMu. Dan aku akan selalu menemaninya bersamaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Katakan juga padanya, akan aku simpan sebuah kata itu hanya untuknya. Cinta. Akan kusematkan kata itu ketika dia telah menjadi pendampingku. Menjadi istriku. Dan katakanlah sebuah pesan untuknya dariku. Bilang padanya untuk bersabar dan selalu menjaga diri. Ikutkanlah ridho dan kasih sayangMu pada kami, Ya Allah. Karena sekarang ini aku belum dapat memanggilnya Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 11 Juni 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8750569079116275244?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8750569079116275244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8750569079116275244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8750569079116275244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8750569079116275244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_06_01_archive.html#8750569079116275244' title='Surat Untuk Cinta'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6846203083967603060</id><published>2009-05-28T19:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T11:35:16.676-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Asal Mula Sukoharjo: Menikmati cerita historis, menikmati sebuah kenangan.</title><content type='html'>Pada suatu waktu, di Majapahit terjadi huru-hara. Banyak prajurit yang tidak lagi setia terhadap kerajaan, melarikan diri dari Majapahit. Mereka tak lagi dapat menepis bahwa Majapahit telah diambang keruntuhan. Dilain sisi, kerajaan Demak maju lebih pesat. Sehingga keberadaannya semakin hari menggusur bumi Majapahit. Demak adalah kerajaan Islam yang maju pesat dengan dukungan para walinya. Dalam keberadaannya, kerajaan Demak bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam di bumi Jawa. Salah satu sebab keruntuhan Majapahit adalah juga disebabkan oleh keberadaan kerajaan Demak. Bala tentara Majapahit telah kalah dari prajurit Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Majapahit telah diambang keruntuhan, tersebutlah seorang pangeran yang masih bertahan dalam kebimbangannya. Pangeran Banjaransari. Dia merupakan gambaran sosok yang bimbang antara mempertahankan Majapahit ataukan ikut pergi dari Majapahit. Lalu, pilihan telah diambil, dan dia memutuskan untuk pergi berkelana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengelanaannya, suatu ketika, dia dicegat oleh segerombolan begal yang akan merampoknya. Namun, karena kemampuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kanuragan&lt;/span&gt; yang dia miliki, Pangeran Banjaransari tak sedikitpun gentar dengan begal yang hendak merampoknya itu. Bahkan malah menantang begal-begal tersebut. Namun, sebelum adu kanuragan terjadi antara Pangeran Banjaransari dan begal-begal terjadi, maka, muncullah sosok manusia yang melerai perkelahian itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bijaknya, sosok laki-laki yang melerai tersebut menasehati para begal agar tidak melawan laki-laki yang dicegatnya, yang adalah Pangeran Banjaransari. Para begal tetap akan kalah ketika melawan Pangeran Banjaransari. Tetapi, apa yang dinasehatkan pada para begal seolah menguap begitu saja. Bahkan laki-laki yang meleraipun akan dibininasakan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebelum hal itu terjadi, sosok laki-laki dengan pakaian wali tersebut mengaku di sebagai Sunan Kalijaga. Maka, terkejutlah para begal dan Pangeran Banjaransari dengan kemunculan Sunan Kalijaga. Selanjutnya, Pangeran Banjaransari dan begal yang hendak merampoknya berlutut di hadapan Sunan Kalijaga agar diterima menjadi muridnya. Dengan ketakutan sekaligus kagum, para begal mengatakan bahwa mareka sebenarnya ingin bertobat sejak lama. Maka diterimalah para begal dan Pangeran Banjaransari menjadi murid Sunan Kalijaga. Dan berangkatlah mereka menuju padepokan sang Sunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama belajar pada Sunan Kalijaga, maka Pangeran Banjaransari mendapat tugas mem&lt;span style="font-style:italic;"&gt;babat alas&lt;/span&gt; Taruwongso dan membantu penduduk sekitarnya untuk keluar dari paceklik yang tengah melanda mereka. Maka dengan segala ilmu yang dimilikinya, didatangilah alas Taruwongso yang terkenal sebagai istana para jin. Usaha &lt;span style="font-style:italic;"&gt;babat alas&lt;/span&gt; bukan tidak mengalami gangguan. Akan tetapi setelah terjadi pertempuran denan para jin penghuni alas Taruwongso, keluarlah Pangeran Banjaransari sebagai pemenangnya. Para jin yang berhasil dikalahkannya dipindah ke gunung Lawu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan masyarakat sekitar alas Taruwongso yang sedang dilanda paceklik dan mengidam-idamkan keadaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Raharjo&lt;/span&gt;, maka Pangeran Banjaransari menamakan daerah tersebut dengan nama Sukoharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sampai saat inipun nama Sukoharjo masih tetap ada. Bisa jadi kita termasuk orang yang belum mendengar cerita itu?! Sebuah cerita historis tentang asal mula nama kota Sukoharjo. Cerita yang bisa jadi adalah sebuah karangan saja, atau memang benar adanya, pada masa keruntuhan Majapahit. Dan masih dekat dengan kehidupan para Wali di tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kebenaran tidaknya cerita tersebut, memang terdapat sebuah makam yang disebut-sebut sebagai makam Pangeran Banjaransari di Taruwongso, daerah yang menjadi bagian daerah Tawangsari, Sukoharjo. Dan tentang makam itupun, apakah memang makam Pangeran Banjaransari ataukah bukan, saya sendiri juga tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah melihat papan nama yang menulis tempat itu ketika saya pulang dari Wonosari, Gunung Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan penunjuk tempat itu sengaja menarik perhatian saya karena malam hari sebelum hari itu, saya ikut menyaksikan sebuah latihan ketoprak dari suatu Padepokan di daerah Pajang. Sehari setelah saya melihat mereka latihan, saya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan mereka. Pertunjukan tentang asal mula nama Sukoharjo. Ya… dari pagelaran ketoprak itulah awal saya mengetahui cerita dibalik nama kota Sukoharjo yang dekat dengan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati cerita-cerita historis bagi saya juga menikmati kembali sesuatu yang telah lama hilang. Ketika saya dapat menikmati cerita yang bernuansa sejarah, saya rasa imajinasi saya akan melarutkan kita kembali pada masa cerita itu terjadi. Ada sebuah sensasi tersendiri ketika dapat melihat masa lalu. Rasa-rasanya saya ingin dapat menjelajah waktu dan kembali pada masa-masa dulu ketika cerita itu dapat diingat sebagai sebuah sejarah pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, kehilangan itu tetap saja menjadi sebuah kehilangan. Tak dapat lagi menjadi sebuah kenyataan pada masa kini. Dan pagelaran adalah sarana mengenang sejarah layaknya kita memandangi sebuah potret masa kecil kita. Ada sesuatu yang kita rindukan ketika kembali menyimak gambaran-gambaran sejarah yang melintas di hadapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ketika saya menikmati uraian peritiwa tentang asal mula kota Sukoharjo, adalah sebuah peristiwa yang juga telah menjadi sebuah sejarah saja bagi saya. Mungkin kalau boleh saya bilang, sebuah peristiwa yang akan selalu melekat dalam memori kenangan saya. Peristiwa semacam itu tidak akan dapat saya temui lagi kedepannya. Karena setelah malam itu, saya telah kehilangan salah satu orang terdekat saya. Dan pagelaran ketoprak tentang asal nama kota Sukoharjo, adalah satu kenangan yang dapat dia tinggalkan untuk saya ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya dapat mengingat moment menikmati asal mula kota Sukoharjo menjadi bagian dari sejarah yang telah saya lalui. Mengingatnya bagi saya berarti juga menikmati apa yang telah hilang dari diri saya, meskipun saya tidak menginginkannya. Masa lalu telah membingkai moment itu pada tempat terdekat dengan kerinduan saya. Waktu begitu cepat berlalu meninggalkan sejarah yang diukir oleh setiap pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, saya masih dapat melihat dengan jelas kenangan yang baru beberapa hari lalu saya lalui. Namun, waktu jualah yang menjadi pemisah masa. Peristiwa itu menjadi sebuah masa lalu yang tersimpan sebagai penanda saya pernah kehilangan seseorang. Saya hanya dapat menikmati kenangan itu dalam pikiran saya. Gambaran yang sifatnya historis selalu saja menggugah kedalaman batin manusia. Dan sejarah bagi saya adalah bergumul dengan rasa kehilangan. Kenangan selalu saja menyita perhatian kita pada kedalaman peristiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Mei 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6846203083967603060?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6846203083967603060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6846203083967603060' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6846203083967603060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6846203083967603060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#6846203083967603060' title='Asal Mula Sukoharjo: Menikmati cerita historis, menikmati sebuah kenangan.'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3197211085872020959</id><published>2009-05-24T21:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T22:01:55.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Doa dan Ikrar</title><content type='html'>Bulan ini, nampaknya adalah bulan yang sungguh baik. Bernuansa positif. Kalaupun ada peramal yang mengatakan, bulan ini adalah bulan bahagia. Mungkin saja benar adanya (bukan bermaksud percaya pada peramal). Bulan dimana banyak penyatuan moment yang menyatukan hati. Bulan berkah bagi para insan yang sedang merindukan “sang pelengkap”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Dalam satu bulan ini, ada empat orang dekat saya yang akan berikrar setia pada ikatan suci perkawinan (Hmm…jadi pengen, Ya?!). Dan semuanya saya yakin telah melalui lika-likunya masing-masing untuk dapat berikrar di depan saksi seperti yang akan mereka lakukan itu. Sebuah ikrar yang akan membuat dua insan memegang kewajiban dan haknya masing-masing pada pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada undangan yang benar-benar saya cermati isi dan gambar-gambarnya. Memang biasanya saya sering tidak memcermati undangan, hanya melihat waktu dan tempatnya saja. Tapi kali ini lain. Ada gambar kupu-kupu dan siput pada desainnya. Pertanyaan pertama yang timbul adalah, apa maksud kupu-kupu disandingkan dengan siput? Yang saya tahu, kupu-kupu adalah penjelmaan dari sebuah proses pembelajaran. Dari ulat yang bisa kita anggap menjijikkan sampai pada kupu-kupu yang menarik perhatian kita. Bisa jadi kupu-kupu adalah sebuah kelahiran baru. Yang jelas, siapa yang merasa menjadi kupu-kupu adalah seorang yang merasa dirinya terlahir kembali dengan segala kebaikan yang melekat padanya. Bagi saya, seseorang yang merasa seperti itu saya anggap adalah orang yang sangat menghargai sebuah proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan siput? Kita tahu bahwa siput adalah seekor hewan yang malu-malu. suka bersembunyi dalam rumahnya. Dan sangat lambat sekali untuk bergerak. Bisa jadi, lambang dari keberadaan siput adalah gambaran sebuah kesabaran dan “menikmati” perjalanan. Sampai saking lambatnya, mungkin dia adalah seorang yang benar-benar detail jika diminta menerangkan apa yang telah dilewatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siput dan kupu-kupu? Adalah perpaduan yang tidak sepadan dalam arti ruang dan waktu. Itupun saya dapati pada halaman “Tentang Kami” yang menerangkan tentang pribadi calon pengantin. “Hampir semua yang ada pada kami adalah beda.” Namun, sungguh sangat bijak ketika mereka dapat disatukan oleh “Cinta (Misi dan Jiwa)”. Bisa jadi keduanya sangat menyadari benar perbedaan tersebut, namun, pada akhirnya mereka akan menginjak ke pelaminan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik lagi bagi saya pada undangan yang saya terima itu. Adalah doa calon pengantin. Saya akan jujur, bahwa saya membaca sampai pada akhir setiap kata-katanya. Entah itu benar-benar doa mereka atau dibuat oleh desaigner undangan. Namun doa yang mereka panjatkan dapat membuat saya terharu.&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa Kami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berkenanlah Engkau Yaa Rabb,..&lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita berada di samping &lt;br /&gt;Hamba_Mu yang lemah ini &lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita memberikan kesejukan&lt;br /&gt;Dalam rona-rona biru hidup&lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan lembut dan kelembutannya&lt;br /&gt;Menjadikan karang dalam hati ini,…luluhhh&lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan sabar dan kesabarannya&lt;br /&gt;Menjdikan hati ini mampu mencapai Mardhatillah bersamanya…&lt;br /&gt;Menjdaikan hadirnya seorang wanita dalam hari-hari&lt;br /&gt;Menapaki jalan hidup di dunia menuju Akhirat yang abadi&lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita pengarah arah tujuan&lt;br /&gt;Manakala terdapat khilaf dalam menapaki jalan hidup&lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita,.. sebagai kekuatan setelah kekuatan_Mu dengan doanya&lt;br /&gt;Menjadikan hadirnya seorang wanita dnegan ketaatannya&lt;br /&gt;Memasukkan kami bersama dirinya dalam Syurga dengan Ridho_Mu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Eni:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam jalani hidup dan kehidupan&lt;br /&gt;Tuhanku…&lt;br /&gt;Aku berdoa untuk seiorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku&lt;br /&gt;Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu&lt;br /&gt;Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau&lt;br /&gt;Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu&lt;br /&gt;Tuhanku…&lt;br /&gt;Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu&lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya&lt;br /&gt;Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya&lt;br /&gt;Seseorang yang membutuhkan senyumku untuik mengatasi kesedihannya&lt;br /&gt;Seseorang yang membutuhkandiriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna&lt;br /&gt;Tuhanku…&lt;br /&gt;Aku juga meminta,&lt;br /&gt;Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga&lt;br /&gt;Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekadar cintaku..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir doa, masih ditambah lagi kalimat: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Betapa Maha Besar Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sungguh menjadi doa yang menggetarkan. Bukan karena umur saya yang mendekatinya, tapi karena ada ketulusan yang saya rasakan. Ketulusan yang tidak muluk-muluk. Ketulusan yang muncul dari hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi saya iri pada keduanya. Dan membaca kedua doa tersebut, saya berpikir, kapan saya dapat membacanya? Juga kapan saya akan didoakan seperti itu. Hmm…mungkin saat ini saya hanya bisa berdoa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah…berikanlah kekuatan pada kami sedikit kekuatanmu untuk kesabaran kami menunggu saat-saat itu terjadi. Jagalah kami seperti kami juga berniat untuk menjaga diri masing-masing sampai pada waktunya nanti. Amin…&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa dan Ikrar? Menjadi benar-benar sakral ketika berada pada momentum yang tepat. Sebelum Ikrar itu benar-benar diucapkan. Doa adalah tempat yang paling tepat untuk meletakkan janji. Dan sebuah Nadzar adalah perwujudan dari seberapa besar kesungguhan akan hal itu. Sekali lagi, semoga Allah memberikan jalan yang terang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 20 Mei 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3197211085872020959?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3197211085872020959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3197211085872020959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3197211085872020959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3197211085872020959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#3197211085872020959' title='Doa dan Ikrar'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6448837535885133781</id><published>2009-05-24T21:40:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T21:49:16.533-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Gerimis di Wajahku</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika nanti kau merindukan aku&lt;br /&gt;Kutitipkan kenangan pada wajah hujan&lt;br /&gt;Karena aku tahu, hujan mengingatkanmu padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nanti kau tak kuasa menahan tangis&lt;br /&gt;Kuikutkan airmatamu pada derai hujan&lt;br /&gt;Disanalah kerinduan kita bertemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nanti kau merasa jauh dariku,&lt;br /&gt;Mendekatlah pada belai hujan&lt;br /&gt;Dengannya, kutarik kau menari bersamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nanti kau lelah menungguku&lt;br /&gt;Bicaralah pada hujan&lt;br /&gt;Darinya, kutahu aku harus datang&lt;br /&gt;Dan kebahagiaan,&lt;br /&gt;Menjelma rintik gerimis di wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"sebuah persembahan"&lt;br /&gt;(AR, 19 Mei 2009)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6448837535885133781?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6448837535885133781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6448837535885133781' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6448837535885133781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6448837535885133781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#6448837535885133781' title='Gerimis di Wajahku'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3320301178462796601</id><published>2009-05-24T21:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T21:37:51.339-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Perjalanan</title><content type='html'>Rabu, tanggal 13 Mei 2009, hari dimana saya merasakan titik kegelisahan pada puncaknya. Saat itu, saya, seperti kebiasaan lama, berencana “menikmati” setiap permasalahan dalam sebuah perjalanan. Dan akhirnya, siang hari saya merencanakan untuk bersepeda. Bukan jalan-jalan, seperti yang biasanya. Karena perjalanan yang saya tempuh hari itu adalah sebuah perjalanan yang agak jauh. Disamping proses merenung dan berpikir, saya juga mempunyai amanat dari seorang teman mengambil surat rahasia dan penting (saya tahu setelah saya menerima surat itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada sore harinya, saya benar-benar melaksanakan perjalanan itu. Dan saya memang merencanakan akhir dari perjalanan itu adalah masjid dimana saya belajar bagaimana berhadapan dengan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dimulailah perjalanan pada sore itu. Saya dengan semangat seprti biasanya, hendak menjernihkan pikiran dengan merenungi semua permasalahan dalam sebuah perjalanan. Memang bukan perjalanan yang menyenangkan, namun setidaknya ada yang bisa saya resapi dari perjalanan singkat itu. Tentang semuanya. Apa yang saya lalui, apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, apa yang saya menimpa saya, dan apa yang tengah menunggu saya di sana. Semuanya mirip sebuah miniatur kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah awal, saya sampai pada persinggahan pertama. Yaitu etmpat mengambil surat amanat dari teman saya yang telah jauh. Surat rahasia dan penting. Disana saya bertemu dengan orang-orang yang bagi saya punya pengalamannya masing-masing dari kesan yang ditinggalkannya pada saya. Pada pengalaman itu, akan saya ingat bagaimana karakter dari masing-masing individu yang melekat pada mereka. Tentang sebuah kesombongan, keangkuhan, sok pahlawan, sok penting. Walaupun tidak semuanya memberi kesan negatif, karena ada juga kesan-kesan positif yang diberikan pada saya dari orang-orang tertentu juga. Entahlah, mungkin semua itu adalah suka duka bernafas di dunia. Saya maklumi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya keluar dati persinggahan pertama, saya langsung berpikiran pada persinggahan berikutnya. Sebuah tempat yang dulu pernah saya kunjungi, dan orang yang saya anggap dekat dengan saya. saya bilang seperti itu, karena saya pernah melihatnya dari titik nol menjadi seperti dia yang sekarang ini saya kenal. Mungkin tidak sia-sia saya merasa ikut mendidiknya menjadi seperti sekarang ini. Meskipun dari dulu, sosoknya dapat membuat saya tersenyum karena kepolosannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih menikmati perjalanan, saya sengaja melewati sebuah makam yang dapat dikatakan besar di daerah itu. Pracimaloyo. Padanya, saya hanya melihat banyak sekali nisan-nisan yang tertancap dalam tanah, dengan nama-nama orang yang terbaring dibawahnya. Ketika itu, saya merasa dekat sekali dengan kematian. Ada rasa putus asa yang membuat saya pasrah pada kehidupan. Ada perasaan ditinggalkan yang begitu besar, juga ada kehilangan yang begitu berat untuk saya tanggung. Saat seperti itulah sepertinya mengingat kematian adalah sesuatu yang pas. Karena kematian juga menjadi sebuah cara tentang rasa kehilangan itu. Kehilangan mutlak yang tak akan pernah kita dapatkan lagi. Dan memang saat itu, saya benar-benar dicekam rasa kehilangan yang paling berat dalam hidup saya. Saya sungguh dibuat takut tak terkira padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada tengah perjalanan saya di makam-makam tersebut, saya melewati sebuah jalan kecil yang dulu pernah saya lewati. Juga tentang rasa kehilangan. Diujung jalan kecil itu, saya tahu ada seorang wanita yang akan seklalu dirindukan oleh laki-laki yang senantiasa berpikir realistis itu. Di dalam tanah itu, terbaring wanita yang telah berjuang sekian tahun pada penyakit kanker yang akhirnya membawanya terpisah pada keluarganya. Meskipun saya tak melihat laki-laki yang saya kenal itu menitikkan airmata, namun saya percaya ada rasa kehilangan mutlak yang menyelimutinya. Tapi saya benar-benar kagum, pada apa yang diperlihatkannya. Dia begitu tabah menghadapi kehilangan itu. Tidak seperti adik perempuannya, yang menangis pilu ketika liang dalam tanah memeluk sang ibu. Ada suasana sedih dari pada jalan kecil itu, yang dulu masih basah oleh hujan, juga pada liangnya masih digenang air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pengalaman itu, juga pengalaman-pengalaman lain pada nisan-nisan yang tertancap pada tanah diatas liang kubur itu, membuat saya berpikir tentang menghadapi sebuah rasa kehilangan. Barangkali saya masih beruntung, karena rasa kehilangan yang menakuti saya adalah bukan karena kematian. Dan kehilangan seperti itu tidak selamanya. Mungkin saja akan ada yang mengisi kekosongan padanya. Meskipun demikian saya sangat takut mengalami rasa kehilangan itu. Saya mencoba untuk ikhlas dan berpikir realistis, meskipun berat. Lalu dengan kesedihan dalam dada, akhirnya say keluar dari kompleks makam Pracimaloyo. Sebelum benar-benar meninggalkannya, sebentar saya melihat nama tempat itu. Saya berpikir, tempat inilah akhir dari perjalannan saya di dunia. Dan bisa jadi saya akan segera terbaring dalam liang tanah seperti mereka yang lebih dulu telah terbaring. Entah kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah benar-benar meninggalkannya, ada perasaan baru yang melingkupi dada saya. ada kenangan-kenangan kecil ketika saya akan bertemu dengan seseorang yang dekat dengan saya ketika kita sama-sama belajar dalam sebuah proses. Bisa saya sebut sebuah jenjang belajar menjadi dewasa. Hingga pada akhirnya, dari pembelajaran itu akan kami gunakan untuk dapat bertahan dalam masyarakat. Dan sore itu, dia sedang mengajar TPA anak-anak di kampungnya. Saya berencana membatunya. Saya akui, sekarang saya suka bersama anak kecil. Mungkin dengan mereka saya belajar menjadi seorang yang dewasa. Seperti orang itu, dia yang dimata saya tetap lucu dengan kepolosannya, saya lihat menjadi dewasa dihadapan anak kecil. Sungguh hanya naluri yang dapat merubah semua itu dengan tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah sebuah singkat “menikmati” perjalanan bagi saya. pada akhirnya, saya memang telah belajar menjadi ikhlas bangaiman menghadapi rasa kehilangan itu. Meskipun sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note: Keesokan harinya rasa kehilangan itu telah berganti menjadi sebuah semangat. Terima kasih telah percaya padaku! Empat baris tulisan saya pada “Halaman Persembahan” benar adanya. &lt;br /&gt;Untuk Yaya’, terimakasih telah mengajariku bagaimana menghadapi kehilangan itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Solo, 19 Mei 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3320301178462796601?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3320301178462796601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3320301178462796601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3320301178462796601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3320301178462796601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#3320301178462796601' title='Perjalanan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3492455449607484087</id><published>2009-05-07T23:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-07T23:30:16.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Kisah</title><content type='html'>Ketika membaca “Dari Penjara ke Penjara”nya Tan Malaka, saya mendapat sebuah kesimpulan bahwa kisah terkadang patut untuk ditulis. Secara jujur, dan terang. Dan selama ini, kisah—sebagian orang menyebutnya “curahan hati”—bagi saya adalah sesuatu yang bersembunyi dibalik bayangan hidup yang paling pribadi. Dan selama ini kisah yang jujur hanya saya tulis untuk saya simpan sendiri pada sebuah buku warna biru yang saya beli sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Solo. Harapan saya semua dapat tertulis pada lembar-lembar kertas yang hanya saya yang membacanya. Walaupun terkadang, beberapa memang saya tulis untuk dapat dibaca orang lain. Meskipun dengan menyembunyikan maksud sesungguhnya. Saya masih berpendapat bahwa kisah hidup, bagi saya adalah sesuatu yang tabu untuk dikatakan dnegan jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Penjara ke Penjara”, adalah sebuah kisah hidup yang ditulis dengan jujur oleh Tan Malaka. Meskipun tidak bisa lepas dari perspektif penulisnya sendiri tentang banyak hal. Dan dari dua jilid buku tersebut( jilid tiga belum saya baca), saya menemukan sebuah kisah yang secara jujur dapat menggetarkan. Kisah tentang sebuah perjuangan. Semuanya tentang pengalaman seorang tokoh Komunis sejati( dalam pandangan politiknya), berhadapan dengan ideologi imperialis. Dan selalu melawan bahkan dengan pribadinya. Ketika dulu saya takut mengenal kata komunis, tentu saja dengan pandangan miring yang menyertainya. Saya jadi merasa, saya telah masuk dalam jebakan kaum imperialis yang merupakan musush utama komunis. Dan saya selalu mendapati bahwa komunis adalah ateis (tak bertuhan), sedangkan yang saya dapati adalah Tan Malaka adalah seorang muslim dari orang tua yang taat beragama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah dulu saya mengalami penyesatan yang luar biasa, hingga saya memaklumi semua pandangan miring tentang komunis itu? Membaca, buku-buku Tan Malaka, saya malah mendapati seorang sosok Nasionalis sejati. Semua hidupnya adalah untuk Republik Indonesia. dan pada seluruh umurnya adalah perjuangan. Mungkin Tan Malaka telah lupa bagaimana belajar untuk menikmati hasil dari perjuangannya, hingga dia hilang dari muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa jadi, perjuangan itulah yang memang lebih dia nikmati. Bukan hasilnya. Dan sebagai penghibur dari segala perjuangannya, dia lebih dapat menikmati sifat lugu rakyat jelata yang dapat mendorongnya untuk terus berjuang. Seperti yang dia katakan, ketika tinggal pada sebuah perkampungan di Kali Bata tentang para tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sifat rakyat jelata kita, selalu menghibur diri saya dan saya anggap satu sifat yang baik yang memberi penghargaan buat hari depan. Tahu berterima kasih dan menghargai anggota bangsa atau kaum yang berusaha membelabangsa atau kaum itu, adalah sifat pertama dan terutamauntuk menjadi bangsa yang merdeka dan terhormat!   &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalimat yang dia tulis, Tan Malaka sepertinya memang dapat terhibur dengan sifat rakyat jelata, yaitu rakyat kecil dengan segala keluguannya dan kebaikannya. Tentu saja masih dalam kaitannya adalah untuk berjuang, dan masa depan bangsa yang lebih baik lagi. Kalimat itu juga dapat ditafsirkan sebagai sebuah analisa seorang Tan Malaka untuk menjadikan sebuah bangsa yang terhormat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kekayaan, bukan wanita, dan juga bukan kekuasann! Bukankah tiga hal itu yang senantiasa membuat lemah seorang laki-laki? Tapi justru ketiganya tidak kita temui dalam diri Tan Malaka. Kekayaan adalah bagaimana dia dapat sekadarnya bertahan hidup dalam berjuang. Wanita? Bahkan sampai maut menjemputnya, Tan Malaka tidak pernah menyebut seorang wanita yang mendampinginya. Sekali saja dia mengatakan bahwa ketika dia menjadi pelarian di Tiongkok, dia pernah dekat dekat dnegan wanita, tapi segera dapat dia alihkan karena sungguh berbahaya untuk keberadaan diri dan perjuangannya. Dan kekuasaan? Tan Malaka adalah sosok yang sebagian hidupnya adalah “menikmati” masa pembuangan. Selama kurang lebih 20 tahun dia diusir dari tanah air. Dan setelah kembali, ettap saja dia merasa mengasingkan diri hingga Indonesia merdeka. Dan setelah merdeka? Dia tetap menjadi seorang yang berjuang atas kebijakan pemerintah yang masih dia anggap membantu kaum penjajah, dan menyengsarakan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang seharusnya diketahui oleh kita, anak-anak negeri yang masih punya rasa nasionalisme. Bukan mengincar kekuasaan dan harta. Dan kisah seperti itu adalah sesuatu yang memang perlu untuk diceritakan dengan jelas dan terang. Justru tidak dibutuhkan kalimat-kalimat yang rumit untuk menceritakannya. Seperti juga saya pernah baca sebuah buku tentang pengalaman seorang gadis kecil Yahudi di tengah-tengah krisis Negara Jerman. Anne Frank, gadis itu dengan keluguannya menulis kisah hidupnya pada Diary. Lewat buku itu kita dapat ikut “menikmati” bagaimana hidup dalam persembunyian ditengah-tengah kemelut pembuangan dan pembantaian Jerman atas Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidup, dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain. Saya sendiri, adalah tipikal orang yang sulit untuk dinasehati, terlebih ketika nasehat itu keluar dari acara-acara training. Justru malah saya ingin tertawa sinis ketika mendengarnya. Karena bukan kata-katanya yang berbusa-busa itu yang dapat membangkitkan kesadaran saya. Akan tetapi justru dengan kisah hidup sesorang. Sampai berbusa-busa sekalipun, seorang trainer atau motivator bagi saya adalah bahan tertawaan. Terlebih ketika itu disampaikan di depan banyak orang. Mungkin, seorang psikolog lebih akan saya hargai. Karena dia berinteraksi secara pribadi dengan pasiennya. Jikalau saya harus menunjukkan siapa motivator terbaik saya di dunia, saya akan menunjuk salah seorang saudara saya. dengan satu kalimat positif saja, dapat menggerakkan semangat saya pada level tertinggi. Bukan karena kedalaman kata-katanya, tapi karena aku tahu kisah hidupnya. Dan sampoai sekarangpun saya masih kalah jauh padanya. Bukan karena dia saudara, tapi karena pengalaman dan kisah hidupnya yang saya tahu benar seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang dialamai oleh orang lain adalah pelajaran dan perenungan bagi saya. Dari dulu saya suka mencermati orang lain. Mungkin saja itu yang membuat saya dapat langsung mengetahjui bagaimana karekter yang melekat pada diri seseorang. Tapi memang aneh, saya tidak dapat menjelaskan karakter-karakter itu. Saya hanya bisa merasakannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan urusan yang paling sensitif bagi laki-laki dan perempuan. Cinta. Selama ini saya tidak pernah mengalami apa itu pacaran, tapi saya heran, mengapa kebanyakan teman saya suka datang dan berkonsultasi pada saya? Aneh bukan? Saya saja heran. Dari sejak SMP, saya selalu jadi “rujukan” untuk konsultasi terkait satu kata yang rumit maknanya itu. Bisa jadi saya adalah seorang penghubung dari pengalaman orang yang lebih dulu pernah merasakannya untuk disalurkan pada orang yang sedang belajar paham. Atau mungkin karena saya adalah pendengar yang baik. Tapi memang semua kisah yang saya dengar akan saya renungkan dan pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya pernah mengobrol dengan teman saya yang mau nikah saat makan malam bersama. Dia menasehati saya tentang cinta (dia bisa bicara karena sebentar lagi nikah), kra-kira begini: “ Jangan pernah kau tanyakan kepadanya mengapa dia mencintaimu!” Hanya itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam perenungan saya, kalimat itu memang sungguh-sungguh bermakna. Setelah saya pelajari dan renungkan, saya mendapati sebuah kesimpulan bahwa pertanyaan itu adalah sebuah ungkapan yang akan menimbulkan keraguan pada orang yang ditanya. Dan memang sangat berbahaya sekali ketika itu dikatakan pada orang yang telah saling merasakan itu. Bisa jadi dia akan ragu pada dirinya sendiri, atau justru dia akan mengira kita tidak percaya dnegannya. Semua itu adalah hal yang dapat melemahkan hubungan. Jadi, saran saya pada orang-orang yang telah menemukan “sayap kedua”nya, jangan pernah menanyakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, sepertinya kadang kita perlu untuk mempelajari kisah-kisah orang lain. Agar kita sendiri lebih kuat daripada orang lain tersebut, dan yang paling penting kita lebih bisa siap menghadapi sesuatu. Apapun itu! Bukan hanya pada sekadar curahan hati, tapi sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka, saya kira dia belum menemukan titik akhir dari perjalanannya hingga malaikat maut menjemputnya. Saya merasa, saya ingin menjadi seperti dia, tidak takluk pada harta, kekuasaan dan wanita. Entahlah, mungkin saya terlalu takut untuk merasa kehilangan pada ketiganya sebagai manusia. Serasa dibelenggu. Terlebih ketika perihal tersebut telah dekat dengan saya. Saya sendiri juga tidak mengerti, sampai kapan saya bisa seperti seorang Tan Malaka. Saya ingin kembali menjadi seperti dulu, tidak tergantung pada apapun. Setelah semua yang aku saya alami, saya ingin itu terjadi. Bisa jadi dengan sikap dingin itulah yang akan membekukan hati saya pada ketiganya. Dan saya hanya ingin berjuang, agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Dengan atau tanpa apa dan siapapun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 8 Mei 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3492455449607484087?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3492455449607484087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3492455449607484087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3492455449607484087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3492455449607484087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#3492455449607484087' title='Kisah'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-4067846365829220212</id><published>2009-05-04T10:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-04T10:23:07.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Monolog: Sayap, Luka, dan Ajakan ke Atas.</title><content type='html'>Aku adalah burung, yang kehilangan satu sayap. Ah… aku bahkan tidak pernah merasa pasti, apakah sayap itu memang melekat. Yang kurasakan selama ini, aku serasa terbang. Aku telah terbang pada banyak tempat, banyak sekali. Dan semuanya seolah mendewasakan aku. Pada impian, dan cita-cita. Aku pernah singgah pada puncaknya yang tertinggi. Saat itu, aku bahkan tidak takut jatuh. Aku merasa sayapku lengkap. Meskipun hanya sekadar bayangannya saja. Tapi aku merasa kedua sayapku dapat mengepak, seutuhnya. Saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasa kesepian. Satu sayap itu telah terbang sendirian. Dan satu lagi masih melekat. Selama aku masih bernafas, yang melekat ini akan selalu ada. Itulah diriku. Dan yang terbang, menghilang itu? Entahlah…mungkin itu hanya bayangan dari sebuah pantulan cahaya yang paling suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betapa dahsyat bayangan itu. Hingga mampu membuatku mampu mengitari tempat-tempat yang paling tinggi sekalipun. Sedangkan, aku adalah burung yang terbuang dari kawanan, sendirian. Bagaimaan aku dapat terbang lagi ketika sayapku tak lengkap? Aku hanya sendirian dan punya satu sayap saja. Kalau aku bergabung dengan kawanan, aku akan terasing. Aku bukanlah jenis seperti mereka. Mereka yang selalu dipuja karena dapat mengicaukan lagu suci pada rumah-rumah yang banyak disinggahi malaikat. Dan aku adalah burung yang tahu diri. Buluku yang tak indah, suaraku yang melengking, adalah aib bagi kawanan burung indah itu. Aku terlalu sadar untuk tidak membuat mereka tidak dipuja. Biarlah mereka tetap pada kawanannya. Yang saling mengepakkan sayap, saling menopang dengan yang lain, berkicau bersama dan saling bersahutan. Biarlah aku sendirian, sama seperti dulu, ketika aku keluar dari cangkang telurku. Dan kudapati sayapku hanya satu. Kerena ketika itu, aku adalah burung yang tidak terbang. Hanya berjalan, berjalan, dan berjalan. Mungkin sesaat, kadang aku juga perlu untuk berlari. Tapi tidak pernah terbang, tidak pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya aku tahu, bahwa ketika sayap itu tiba-tiba ada, menawarkan dirinya untuk membawaku terbang, aku sekuat tenaga menolaknya. Karena aku tahu, ketika aku terbang, rasa sakit terjatuh lebih menyakitkan daripada ketika dulu aku berjalan dan berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayap itu terlalu nyaman. Dan sayapku terlanjur kesepian. Katanya dia butuh teman agar merasa sempurna. Dan sayap itu terlalu sempurna. Padahal aku juga telah menasehatinya, bahwa tidak perlu sayap yang bagus untuknya. Yang penting sayap yang selalu setia dan nyaman saja. Bukan sayap dari pantulan cahaya suci. Tapi aku juga tak mampu menahannya. Dia terlalu terbuai pada sayap itu. Katanya sayap itu datang diiringi sebuah lagu. Lagu yang selama ini aku dnegar, tapi tak tahu lagu apakah itu. Yang kulihat pada lagu itu, adalah gambaran seorang bidadari. Ah… apakah bidadari juga punya sayap. Karena yang aku tahu, mereka ada di atas. Sebenar-benarnya aku ingin melihat mereka, mengagumi keindahannya. Tapi bagaimana aku dapat terbang ke atas kalau sayapku hanya satu? Tidak lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, sayap yang telah hilang, telah menemukan sayap keduanya pada kawanan burung yang bersama-sama hijrah itu. Dan barangkali juga, hijrah mereka adalah ke atas. Bukankah bayangan akan terpantul menjauh dari cahaya? Sedangkan cahaya ada di atas, dan aku ada di bawah. Jadi memang benar, sayap itu sebenarnya juga ada di atas. Dan menuju ke atas, menjauh dariku. Hanya bayangannya saja yang menyertaiku. Karena sesungguhnya, sayap itu juga ada di antara kawanan yang terbang ke atas. Aku masih ada di bawah. Andai saja memang ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku akan turut serta, karena tidak ada yang aku risaukan di bawah. Aku tidak perlu takut untuk meninggalkan siapapun. Karena aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;independent&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei… bukankah  aku burung yang merdeka? Mengapa sekarang aku merasa kehilangan seberat ini? Apakah aku sebenarnya tidak merdeka sama sekali?! Bayangan sayap itukah penjaraku? Tapi sebesar apakah penjara itu hingga aku dapat terbang dan singgah pada tempat-tempat yang jauh dan tinggi? Ataukah hanya yang ada dalam dada ini yang terpenjara? Mungkin memang hanya itu. Organ kecil yang mengatur emosi dan hasrat. Namanya hati. Tapi bukankah aku adalah burung? Mengapa juga dapat merasa punya hati? Bukankah hati hanya dapat dirasakan oleh manusia saja? Manusia yang kebanyakan tolol untuk hati dan pikirannya. Sungguh ketololan luar biasa ketika anugerah itu masih membuat mereka seperti hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh, aku merasa bebas dalam penjara itu. Dan ketika sayap itu terbang bersama sayap yang lain, penjara itu serasa menyisakan luka. Bahkan aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya. Kalau aku saja tidak tahu, bagaimana yang lain dapat menyembuhkannya? Sedangkan hanya aku yang merasakan luka itu. Lagipula aku tidak punya teman. Siapa yang akan membantu membalut luka itu? Ah…. Luka itu?! Karenanya, sesaat aku menjelma seorang penyair. Aku mampu meresapi luka itu dengan kalimat yang sederhana tapi dalam untukku.. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Luka:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seperti hujan meninggalkan basah&lt;br /&gt; Seperti api menyisakan bara&lt;br /&gt; Dan seperti itulah luka&lt;br /&gt; Sesaat setelah kau meninggalkanku&lt;br /&gt; (AR, April 2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja Haris Firdaus, penyair muda itu benar, bahwa ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku ingin mengikutinya. Karena luka terlalu perih dan menyakitkan. Mungkin dengan mengikuti ajakan, aku terbebas dari luka yang menyakitkan atau bahkan dari burung yang berharap pada sayap kedua untuk terbang ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bila aku punya pilihan, aku akan memilih tetap tidur dalam cangkang telurku. Biarlah terlelap sampai mati sebelum lahir. Dengannya aku tidak akan melihat sayap itu, atau merasakan perih terluka karenanya. Tapi pilihan itu telah ada, sebelum aku merasa dilahirkan. Sekarang aku terlanjur lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku adalah burung yang hanya punya satu sayap. Sedang mencari sayap kedua untuk dapat terbang ke atas. Dalam kesepian, bukan dengan kawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*Judul Cerpen Haris Firdaus.&lt;br /&gt;  Ris, adakah ajakan itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaten, 2 Mei 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-4067846365829220212?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/4067846365829220212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=4067846365829220212' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4067846365829220212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4067846365829220212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#4067846365829220212' title='Monolog: Sayap, Luka, dan Ajakan ke Atas.'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-1371758638810139414</id><published>2009-05-04T09:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-04T10:05:00.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>NOCTURNO: Malam Hari dan Kesepian</title><content type='html'>Nocturno, kata yang begitu dekat menjadi metafora dalam menggambarkan sebuah titik rendah dalam religiusitas seorang manusia. Dan tentu saja bagi seorang penyair sekalipun. Kata itu menjadi sangat pas ketika sebuah ketidakberdayaan maupun kesepian berada pada derajat paling puncak pada tingkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesederhanaan kata-katanya namun dapat dirasakan pada bagian terdalam dalam hati manusia, Sapardi Djoko Damono menggambarkan Nokturno sebagai sebuah lagu yang bernada sendu. Penyair kelahiran Solo ini melukiskan sebuah kepasrahan dalam puisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepasrahan untuk menyerahkan pada sesuatu yang lebih terang dari pada dirinya sendiri. Seolah dalam keadaan yang patah asa dia berkata pada sesuatu, atau bahkan seseorang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kubiarkan cahaya bintang memilikimu&lt;/span&gt;. Karena dia yakin, ‘yang lain’ itulah yang dapat memberinya kejelasan dalam terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakberdayaan itu semakin terlihat jelas ketika ‘yang lain’, terlihat terlihat bersifat aktif dalam perebutan akan sesuatu itu. Bukan lagi hanya diam menunggu sang penyair menyerah, tapi telah memaksa pada diri sang penyair. Dangan sesuatu yang sebelumnya tidak diduga oleh penyair sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya isyarat atau tanda yang dapat tersisa dari yang lain itu. Dan sesuatu dari sang penyair telah hilang dari dirinya. Tanpa dia dapat mencegahnya. Bahkan mungkin tanpa dia dapat mengira sebelumnya. Sebuah laku yang putus asa. Putus asa itulah yang membuat kita membuat laku yang tanpa prediksi. Hanya tindakan yang serampangan, pasrah dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat terjadi di belakangnya. Mungkin itulah gambaran sebuah kepasrahan dan ketidakberdayaan. Kalah dari ‘yang lain’, seperti kalimat selanjutnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kubiarkan angin yang pucat/ Dan tak habis-habisnya/ gelisah/ Tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nyata sekali bahwa ketidakberdayaan itu mewujud dalam kalimat terakhir, yang secara bijaksana mengisyaratkan asa pada titik paling rendah. Yaitu ketidaktahuan dengan mengajukan pertanyaan yang semestinya dia sendiri yang dapat menjawabnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Entah kapan kau bisa kutangkap… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu diucapkan bukan pada ‘yang hilang’. Justru pada dirinya sendiri. Sikap pesimis telah membuatnya bingung bahkan untuk menjawab pertanyaan yang hanya dia sendiri yang dapat menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, ketika membaca puisi itu, dan dengan mengingat kata-kata Nokturno, membayangkan bahwa yang hilang dari diri sang penyair adalah seseorang. Bisa jadi, yang mempengaruhi saya berpikiran demikian adalah sebuah sinetron remaja yang dulu, sewaktu saya masih SMP pernah mengenalkan saya tentang kata Nokturno untuk pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada moment yang saya ingat, Nokturno adalah sebuah metafor untuk sebuah kesendirian. Meskipun ketika saya melihat kata itu dalam sebuah kamus, saya mendapati arti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sebuah lagu malam hari&lt;/span&gt;. Malam hari, bagi saya menjelma menjadi sebuah kesunyian, dan ketakutan akan mengingat sesuatu. Di sanalah kita akan bertemu dengan mimpi-mimpi. Dan disana pulalah kesunyian selalu lekat pada diri kita. Seperti juga gambaran Nocturno-nya Chairil Anwar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku menyeru--tapi tidak satu suara/ Membalas, hanya mati di beku udara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa membutuhkan yang sangat besar ketika kita terbangun pada moment-moment malam hari. Dalam kesendirian itu, kita menjadi seorang tak berdaya tanpa ‘yang lain’. Segala semangat juga keinginan, tak beranjak dari tempatnya. Hanya menjadi keinginan dan semangat yang tersimpan dalam diri kita saja. Yang semakin bergejolak dan membuat rasa nyeri dalam jiwa kita. Seolah kita tengah merindukan sesuatu tapi tak pernah sampai juga sesuatu itu pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil Anwar, penyair yang disebut-sebut pelopor lewat puisi-puisinya, pada bait selanjutnya juga mengurai kedalaman rasa seperti itu dengan kata-katanya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam diriku terbujur keinginan/ Juga tidak bernyawa// Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/ Patah kapak, sia-sia berdaya/ Dalam cekikan hatiku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam benak saya, bercermin dari pandangan religius, ketika ada anggapan bahwa kita akan lebih dekat dengan Yang Esa, ketika kita bermunajat pada sepertiga malam, adalah sesuatu yang sangat benar. Ketika pada malam hati, kesunyian yang teramat sangat menggelayuti, juga kegundahan luar biasa menerpa, pada momentum itulah kita serasa dapat menerima sesuatu lebih lapang. Karena saat-saat itu kita berada dalam sebuah kerinduan yang memuncak. Karena bias jadi apa yang kita rindukan adalah sesuatu yang sifatnya abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan heran, ketika ada seseorang yang dalam waktu-waktu seperti itu dapat meneteskan airmata ketika bermunajat. Bahkan, tanpa bermunajat sekalipun kegundahan dan kerinduan itu dapat memberatkan air yang selalu tersimpan dalam mata kita. Dan tanpa kita sadari, mengalir membasahi kedua pipi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berbicara tentang kesepian, mungkin Nocturno adalah yang paling tepat sebagai metafornya. Nocturno yang berbicara tentang malam, juga tentang kesunyian itu sendiri. Bukan hanya Sapardi dan Chairil yang dapat merasakan romantisme malam hari, tapi dalam sisi religius seseorang, kita bahkan perlu untuk menyelami kesunyian itu, agar kita lebih dekat dengan Yang Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 April 2009 &lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-1371758638810139414?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/1371758638810139414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=1371758638810139414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1371758638810139414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/1371758638810139414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_05_01_archive.html#1371758638810139414' title='NOCTURNO: Malam Hari dan Kesepian'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8316594103374836104</id><published>2009-04-30T00:52:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T01:04:20.293-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Asal Mula Ketakutan</title><content type='html'>Pernahkah kita merasakan takut akan sesuatu? Entah pada apapun itu. Mengapakah kita bisa merasakan perasaan seperti itu?&lt;br /&gt;Belum selesai saya membaca  Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata, saya menemukan sebuah simpul penyebab rasa takut itu. Mungkin kita telah mengalaminya sejak awal, tapi mungkin kita tidak menyadarinya.  Dan ini erat hubungannya dengan persepsi.&lt;br /&gt;Satu pertanyaan kecil sederhana untuk memulainya. Adakah yang bilang cabe itu manis? Pasti tidak ada ya?! Namun, siapa yang menciptakan cabe itu rasanya pedas? Atau apa sih pedas itu? Bisa jadi itu adalah nama turunan yang kita kenal dari orang tua kita. Dulu, salah satu dari kita pasti ada yang menganggap es itu terasa panas kalau kita pegang. Sesungguhnya kita belum mengenal apa itu dingin ketika menamai rasa yang ditawarkan es untuk kita. Tapi orang tua atau siapapun pasti akan memberikan “pembenaran” bahwa es itu dingin.&lt;br /&gt;Hal itu akan sama kasusnya dengan terciptanya sebuah ketakutan. Masih erat hubungannya dengan persepsi yang kita terima dalam memaknai suatu obyek yang ditangkap oleh indera kita. Mengutip dari Psikologi Komunikasi-nya Jalaluddin Rakhmat, Desiderato berpendapat, persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Lebih lanjut, persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi.&lt;br /&gt;Pengalaman. Itulah yang hingga kini membentuk sebuah persepsi pada diri kita tentang sebuah obyek tertentu. Tentu saja bukan pengalaman kita sendiri. Bisa jadi semua itu adalah pengalaman orang-orang terdahulu. Dan seiring dengan interaksi kita dengan orang-orang terdahulu( yang mendahului kita lahir) itulah yang perlahan ikut membentuk persepsi kita akan sebuah obyek yang ditangkap indera kita.&lt;br /&gt;Ketika kita mendapati seseorang dengan ketakutan yang luar biasa pada sesuatu, patut kita lihat pengalaman yang ada di belakangnya. Jangan salahkan si penakut. Taruhlah misalnya, ada orang yang sangat takut akan hal-hal yang berbau mistik, atau hantu. Bisa jadi, ketika kecil, ketakutan itu disebabkan karena ditanamkannya persepsi bahwa hantu itu menakutkan. Ingat, seorang anak kecil yang polos tidak akan langsung dapat mempersepsikan segala sesuatu. Dia tidak akan mengerti apa itu takut, apa itu panas, apa itu pedas. &lt;br /&gt;Persepsi dari orang lainlah yang dapat mempengaruhi pembentukan persepsi itu. Pernah suatu kali saya dapat cerita dari seorang teman saya. Tentang keponakannya yang masih kecil melihat sesosok pocong (diluar konteks benar atau tidak). Tidak ada yang memberitahu keponakan teman saya itu bahwa apa yang dilihatnya adalah pocong (katanya dia sangat sensitive dnegan hal-hal gaib). Yang dia tahu, makhluk serupa pocong itu dia persepsikan sebagai sosok boneka Teletubies. Teman saya dan keluarganya sering melihat keponakannya itu teriak-teriak senang ketika malam, seperti melihat Teletubies. Kalau tidak ada sinetron Jadi Pocong yang diperankan Mandra (Pelawak yang Nyaleg), teman saya dan keluarganya tak akan pernah tahu bahwa yang dilihat keponakannya pada malam-malam itu adalah pocong. Ya, waktu dia melihat sosok pocong pada sinetron itu, seperti biasanya dia berteriak-teriak Teletubies dengan senangnya. Kontan sekeluarga yang melihat itu kaget dan baru sadar kenapa dia sering teriak-teriak Teletubies dan menunjuk pada suatu tempat ketika malam.&lt;br /&gt;Itulah. Anak kecil belum dapat memahami apa itu rasa takut. Mungkin ketika yang melihat itu kita, bisa jadi kita akan merinding dibuatnya. Kenapa? Karena persepsi bahwa pocong itu menakutkan bagi sebagian orang telah melekat pada diri kita. Suatu saat bisa saja persepsi itu berubah atau hilang sama sekali, tapi bisa jadi akan semakin menjadi sebuah ketakutan yang luar biasa. Tinggal bagaimana pengalaman kita sendiri yang memupuknya.&lt;br /&gt;Dan ketika tayangan-tayangan mistik yang belakangan sudah tak laku lagi dalam dunia layar kaca kita tempo hari, bisa jadi membentuk sebuah generasi yang menyepakati bahwa mistik dan hal gaib adalah sebuah hal yang mengerikan dan menakutkan. Jangan lupa bahwa media sangat besar pengaruhnya dalam membentuk sebuah generasi pada diri masyarakatnya.&lt;br /&gt;Ketika kita telah mengetahui betapa persepsi dapat dipengaruhi oleh keadaan kita sekarang, maka bagaimana kita akan turut andil dalam membentuk sebuah penanaman persepsi pada generasi kita kelak? Minimal untuk anak-anak kita, apa yang akan kita tularkan pada anak-anak kita kelak. Itu tergantung pada diri kita. Nah, sekarang hendaklah dipikirkan persepsi apakah yang akan kita tanamkan pada anak kita, apakah jadi seorang penakut? Patriot? Ambisius? Semua tergantung kita sebagai ‘yang terdahulu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 28 April 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8316594103374836104?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8316594103374836104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8316594103374836104' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8316594103374836104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8316594103374836104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_04_01_archive.html#8316594103374836104' title='Asal Mula Ketakutan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-3659653458467554802</id><published>2009-04-17T23:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T00:03:33.674-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Doa Yang Mengancam</title><content type='html'>Adaptasi dari cerpen karya Jujur Prananto&lt;br /&gt;Sutradara : Hanung Bramantyo&lt;br /&gt;Pemain  : Aming, Ramzi, Deddy Soetomo, Titi Kamal, Djojon, Nani Wijaya, Cici      Tegal, Berliana Febrianti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa himpitan kemiskinan menjadi suatu penyebab terjadinya hal-hal yang diluar batas akal sehat terjadi. Indonesia mencatat tidak hanya sedikit kasus yang mencengangkan kita akibat rasa takut akan kemiskinan. Alasan ekonimi sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga ketika berita buruk tersiar dalam media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanung Bramantyo, hendak menyajikan titik ekstrim pada kita tentang rasa putus asa karena kemiskinan dari sisi religiusitas manusia. Terlebih pada seorang muslim, entah apa motifnya, karena memang kita terbiasa mendengar bahwa Islam identik dengan kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tokohnya Madrim (Aming), seorang kuli pasar yang hidupnya tidak pernah beranjak dari kekurangan dan kesengsaraan, ingin merubah nasib dengan sebuah doa yang bukan kebanyakan dilakukan. Iya, Madrim yang merasa telah putus asa, padahal kerja keras telah dia lakukan dan doa juga senantiasa dia panjatkan, tapi nasib tidak juga pernah berubah. Dan ditambah dengan minggatnya sang istri Leha (Titi Kamal), akhirnya dia mengucapkan doa “aneh” pada Tuhan. Doa yang mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, hari ini aku menghadapmu, ya Allah, limpahkan rizkimu, ya Allah, bebaskan aku, ya Allah, dari segala kemiskinan dan hutang, ya Allah. Ya Allah, kembalikan istriku, ya Allah, aku cinta dia aku butuh dia, ya Allah! Asal kamu tahu ya Allah, aku capek, aku lelah berdoa, ya Allah. Kalau dalam tiga hari tiga malam Kau tidak mengabulkan doaku, ya Allah, aku akan murtad, aku akan berpaling pada setan, ya Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira begitulah doa Madrim pada titik ekstrim keputusasaannya. Dilatari dengan hujan disertai petir, akhirnya Madrim beranjak pergi entah kemana. Sampai pada suatu tempat, dia tersambar petir. Tapi anehnya dia tidak mati. Justru karena tersambar petir itulah awal dari perubahan nasibnya, karena dia menjadi punya kemampuan untuk melihat masa lalu sampai sekarang hanya dengan melihat sebuah foto. Karena kemampuannya, dia menjadi orang yang tiba-tiba kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada kelemahan pada kemampuannya itu. Dia tidak dapat menggunakan kemampuannya itu untuk mencari keberadaan istrinya. Bukan hanya itu saja, dia juga dengan sengaja melihat masa lalu ibunya dan mendapati kenyataan yang membuatnya meninggalkan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shock&lt;/span&gt; karena perubahan yang terjadi pada dirinya, membuat Madrim ingin menjadi seorang yang biasa lagi. Dia berdoa agar kekuatan yang dia dapatkan dihilangkan darinya. Tapi apa daya, dia sendiri tidak tahu apakah kekuatan itu asalnya dari Allah ataukah setan. Karena dia berfikir kekuatan itu berasal dari setan, ditengah mabuk dlam diskotek, dia minta pada setan dengan permintaan kira-kira sama ketika dia berdoa dulu. Dia meminta kalau kekuatan itu tidak diambilnya lagi, maka dia akan kembali pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hilang kekauatan yang didapatnya, justru malah bertambah kemampuannya menjadi dapat melihat masa depan. Dengan semua itu, kemewahan yang sebelumnya didapatnya, menjadi lebih bertambah lagi. Tapi, lagi-lagi rasa kesepian semakin menjalari hidupnya. Semakin hari justru dia menjadi terbiasa mimpi buruk akibat rasa takut menanggung kemewahan yang terlanjur melekat padanya. Tak ada ibu yang menemaninya. Istri yang sekian lama tidak dilihatnya, sekali dilihat lalu bunuh diri. Pada saat itulah dia berada pada keadaan yang benar-benar kacau. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shock&lt;/span&gt; yang tak tertanggungkan, hingga halusinasi. Dan akhirnya pingsan hingga tak tanggung-tanggung sebulan lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian yang diberikan Hanung adalah, Madrim yang takut untuk berdoa pada Allah karena doa yang mengancamnya dulu, akhirnya mendapat semacam titik cerah dari sahabatnya, Kadin untuk senantiasa tawakal dan ikhlas pada Allah dan berdoa padaNya. “Karena doa siapapun pasti Allah dengerin. Siapapun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, Madrim kembali hidup normal dengan membuka warung di pasar tempatnya kerja dulu, bersama ibunya. Dia juga mendapat pengganti Leha, istrinya yang meninggal, dengan berencana melamar gadis yang bekerja di sebuah warung di pasar itu yang telah bangkrut. Sebuah akhir yang bahagia, seperti kebanyakan cerita-cerita hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang sebenarnya, titik tekan film itu bukan pada akhir yang dapat ditebak, karena pertolongan Allah. Tapi sebuah gambaran simpul-simpul kemiskinan, keputusasaan, juga kekafiran. Bukankah kita juga mengetahui bahwa kamiskinan dan kefakiran itu lebih denkat dengan kekafiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak, ada nuansa dramatis pada liku hidup yang dialami oleh sang tokoh. Perubahan hidup dari kemiskinan dan keputusasaan menjadi kehidupan yang serba bergelimangan kemewahan tidak serta merta membuatnya bahagia. Ada sesuatu yang dirindukannya. Orang-orang yang dicintai, kerja keras, dan hidup normal dengan berbagai masalah yang menyelimutinya. Dan selalu tidak merasa kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, perubahan yang mendadak membuatnya tidak terbiasa dengan kehidupan yang berbeda. Proses. Itulah titik tekannya. Ibarat sebuah perjalanan, bukan pada titik akhir dimana sebuah pembelajaran itu ada, tapi terletak pada perjalanan itu sendiri. Sejauh mana kita mampu bertahan dan berjuang dalam liku perjalanan yang ditawarkan pada hidup kita. Dan doa, adalah sebuah ikhtiar religius pada Sang Pemberi Perjalanan. Bukankah Allah sesuai dengan apa yang kita sangkakan kepadaNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 15 April 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-3659653458467554802?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/3659653458467554802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=3659653458467554802' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3659653458467554802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/3659653458467554802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_04_01_archive.html#3659653458467554802' title='Doa Yang Mengancam'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-867031697111370558</id><published>2009-04-12T21:21:00.000-07:00</published><updated>2009-04-12T21:31:19.518-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Ucapkan Selamat Tinggal Pada Harapan</title><content type='html'>Tetralogi Laskar Pelangi, novel yang melambung tinggi bersama euphoria tema pendidikan nasib anak negeri. Sebuah potret ironi bagi semangat dan kenyataan dalam memandang apa sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.&lt;br /&gt;Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 11 April 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-867031697111370558?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/867031697111370558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=867031697111370558' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/867031697111370558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/867031697111370558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_04_01_archive.html#867031697111370558' title='Ucapkan Selamat Tinggal Pada Harapan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-11118184407714960</id><published>2009-03-30T07:34:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T07:56:14.964-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>“Sebelum Pagi, Kuingin Kau Pergi”</title><content type='html'>Kenangan-kenangan sebelum ini, juga rasa manis madu yang kau berikan, adalah rasa sesak untukku sekarang. Aku tahu kau jujur padaku. Aku juga tahu aku tak selamanya akan bertahan, hingga sampai kau benar-benar meninggalkanku. Saat itulah aku akan benar-benar hilang. Dari siang dan malammu. Dari mimpi dan nyatamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin mampu bertahan. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pernah berkata, aku adalah laki-laki yang mudah menyerah. Bukankah dengan semua ini aku telah membuktikannya? Ya…ya…ya…Aku tahu wanita memang seperti itu. Tidak pernah puas dengan hanya merasakan, inginnya sebuah kesetiaan yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tidak pernah menyalahkanmu sama sekali. Justru mungkin itulah yang seolah menawanku sampai saat ini. Dan entah sampai kapan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu? Aku memang terlalu obsesif terhadap sebuah karakter. Salah satunya adalah karakter yang ada padamu. Tapi entahlah, aku juga kadang tidak mengakui itu sebuah obsesi, hanya kriteria saja, begitu laki-laki yang baik menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum memilih, kita harus punya kriteria seperti apa seseorang yang akan menjadi pendamping kita kelak,” begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lebih dari itu, seseorang yang baik itu juga berkata,”Pendamping adalah penopang visi yang kita miliki. Carilah yang satu visi denganmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau tahu? Aku memang tidak seperti orang-orang baik itu. Aku selalu merasa menjadi laki-laki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;independent&lt;/span&gt;. Salah justru ketika kau pikir aku tergantung pada mereka atau salah satu dari mereka. Aku tidak pernah merasa menyatu dengan mereka. Orang-orang baik itu, kau pasti paham maksudku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang visi, akupun tidak seidealis mereka. Aku hanya menjalani apa yang memang harsu kujalani. Aku tidak mau terikat dengan ‘atas nama apapun’. Hanya diriku saja. Maka, kau tahu aku tidak mencarimu karena kita satu visi, kurasa kau punya visi seperti mereka, tapi karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangan heran kalau aku selalu mencoba untuk bertahan. Selama aku bisa bertahan, dan selama aku belum benar-benar menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kau berpikir aku adalah orang yang keras kepala. Untuk hal ini aku mengakuinya. Dan ini adalah bukti aku bukan laki-laki yang mudah menyerah. Meskipun kau, tentu saja bukan niatmu, membuatku sakit sampai pada tingkatan yang menyayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah menyalahkanmu. Sama sekali tidak pernah. Aku juga tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi di antara kita. Aku tidak menyesal telah berkata terus terang padamu. Karena kau tahu? Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang tidak mau berpikir. Bukankah kau juga paham bahwa penyesalan hanya untuk orang-orang yang tidak mau berpikir?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasanya, apa yang terjadi diantara kita berdua adalah sebuah mimpi indah bagiku. Mimpi yang sedang kujalani pada malam-malam yang semakin mencekam. Ditambah kesedihan yang ditunjukkan oleh hujan dan petir. Kau tahu? Sebenarnya aku takut dengan petir. Apalagi ketika malam gelap seperti malam yang suatu hari pernah kita alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi ini, semoga akan selalu kuingat. Menjadi sebuah kisah yang hanya aku dan kau yang tahu. Sebelum nanti aku ceritakan kepada siapa yang patut menjaga hatiku. Namun tidak perlu aku ceritakan, ketika kaulah yang akan menjagaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf…” kata itulah yang sering aku dengar darimu. Seperti yang sering aku katakan, tak ada yang salah dengan yang terjadi diantara kita. Kau tetap menjalani hidupmu, dan aku akan tetap menjalani hidupku. Sembari selalu mencari pegangan untuk bertahan. Dan mencoba untuk bangun dari mimpi, agar aku dapat melihatmu menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang menjelma ketika pagi telah menjelang. Dan saat itu terjadi, aku ingin kau pergi dari mimpiku, karena aku ingin kau ada dalam kenyataanku. Bukan kisah kita yang hanya menjadi sebuah bunga tidur yang indah, tapi kehidupan yang sesungguhnya kita bersama jalani. Sebelum pagi, aku ingin kau pergi dari mimpiku. Agar dapat kutata hari ketika kita telah bersama di beranda menikmati udara pagi sembari bercengkerama dengan seduhan kopi yang kau buat untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, apa yang akan kau tulis untukku?” mungkin itulah kata-kata yang akan kau ucapkan ketika aku telah berada pada kesibukanku. Ya, di pagi yang sejuk, pertanyaan itu ingin kudengar. Seraya kau menemaniku minum kopi dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, harus kujawab apa untuk pertanyaan itu? Aku juga masih belum jelas ingin menjawab apa untuk menulis tentang dirimu. Yang aku tahu, menulis itu adalah tentang sesuatu yang diketahuinya. Dan kau, ketika kau tanyakan hal itu, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan diriku. Ketika aku menulis tentang diriku, dirimu juga akan terseret masuk dalam bait-bait kata yang kubuat. Meski hanya beberapa baris kalimat saja, namun itulah puisi metafor tentang hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa indah mimpi ini. Saying, hanya sebatas itulah sekarang ini. Tapi aku masih berharap, sebelum pagi, kuingin kau pergi. Dari mimpi-mimpi. Agar kau menjelma dalam kenyataan di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 29 Maret 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-11118184407714960?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/11118184407714960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=11118184407714960' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/11118184407714960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/11118184407714960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_03_01_archive.html#11118184407714960' title='“Sebelum Pagi, Kuingin Kau Pergi”'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-7705327292679954078</id><published>2009-01-31T07:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T07:16:59.518-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Misalkan Bukan hanya "Hujan Bulan Juni"</title><content type='html'>Hari-hari kemarin, dan sampai hari inipun, langit masih membelai mesra pada awan. Alhasil, awan tak henti-hentinya menitikkah hujan, yang bagiku sungguh indah. Seolah, hujan tidak ingin berbagi senja dengan kita. Senja yang jingga selalu dia sembunyikan dalam warna kelabu mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hari-hari selalu saja hujan seperti itu. Saya teringat mengapa saya selalu suka hujan. Alasan yang membuat saya justru merasa senang ketika rintik-rintik air meluncur dari mendung yang seakan murung. Dan semua alasan itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. sejak dahulu, ketika saya masih melihat dunia yang sempit. Saya tersadar, hujan dapat menemai saya dalam meresapi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hujan turun, dahulu, saya selalu dibuat tertawa senang karenanya. Betapa tidak? Saya yang masih kecil merasa dapat menikmati belaian langit pada kulit saya. Meskipun nantinya saya dapat marah dari ayah. Saya selalu riang menyambut hujan yang mempesona. Merasa selalu ingin berbagi keriangan dengannya. Memang pada akhirnya saya dimarahi habis-habisan oleh Ayah, dan harus mencuci pakaian yang saya kenakan untuk menjemput hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seiring usia yang selalu bertambah, saya merasa hujanh menemani dalam hal yang berbeda. Saya ingat, ketika masa-masa saya mengalami goncangan, entah mengapa—mungkin suatu kebetulan—hujan maupun mendungnya selalu dekat dengan saya. saat itu saya merasa yang dapat merasakan kesedihan yang saya alami hanyalah hujan. Saya ingat terus, dan bahkan pernah menjadi pertanda, bahwa setiap saya sedih atau sebaliknya, setiap hujan akan membelai mesra, keadaan saya tergoncang. Yang ada adalah murung. Saya seolah dapat berbicara dengan hujan, dengan kesedihan. Diapun menyambut dengan belaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman hujan yang menjadi sebuah alasan, mengapa sampai sekarang saya ingin bersentuhan dengan hujan, hingga sekarang masih menggelayuti dalam diri saya. Namun, tidak semesra dahulu, saya terlalu malu untuk mengakui bahwa saya sungguh sangat suka hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, ketika pengalaman tentang hujan membuat saya merasa miris—kesenangan saya, menjadi kesedihan orang lain—saya tak dapat lagi merasai pengalaman batin itu. Saya terlalu naïf untuk mengakui bahwa hujan selalu memberi sebuah perenungan. Oleh sebab bahwa hujan menimbulkan tangis bagi orang lain. Seperti sebuah tempat yang sakarang saya singgahi, Solo. Hujan telah meluluhlantakan kepasrahan hingga berserakan dibalai pengungsian.Seperti setahun lalu, saya ikut dalam sebuah aksi relawan untuk korban banjir, di Kampung Sewu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hujan belakangan ini kembali tidak mau berbagi senja dengan kita, saya merasa hujan telah membuat saya takut. Terlintas sebuah pertanyaan pada diri saya, apakah yang membuat hujan menjadi begitu sedih hingga terlampau ingin mencari tempat berbagi kesdihan itu? Apakah kita talah membuat kesalahan yang tidak termaafkan hingga hujan juga ingin menunjukkan bahwa dia juga dapat bersikap egois. Saya merasa malu sebagai manusia jika memang telah membuat hujan menjadi sedih. Mungkin memang kita telah berbuat banyak salah hingga menyakiti kekasih hujan, bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meresapi hujan, ada harapan agar hujan kembali seperti dahulu. Ketika saya merasa bahwa dialah teman yang selalu ada bersama saya menikmati sebuah pengalaman. Dan, hujan menjadi lebih menentramkan. Andai Sapardi Djoko Damono menulis hujan bukan hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hujan Bulan Juni&lt;/span&gt;. Ingin rasanya saya merayu hujan dengan puisinya. Akan kulantunkan kata-kata itu hingga dia kembali dapat menemani saya menikmati laku hidup di dunia. Akan kubisikkan padanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tak ada yang lebih tabah&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dirahasiakannya rintik rindunya&lt;br /&gt;kepada pohon berbunga itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang lebih bijak&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dihapusnya jejak-jejak kakinya&lt;br /&gt;yang ragu-ragu di jalan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang lebih arif&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dibiarkannya yang tak terucapkan&lt;br /&gt;diserap akar pohon bunga itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sapardi Djoko Damono, 1989)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dengan begitu hujan akan kembali berbagi senja dengan kita. Hingga tak ada lagi kesedihan, juga penyesalan atas apa yang telah kita perbuat padanya. Misalkan bukan hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hujan Bulan Juni&lt;/span&gt;. Saya masih akan merasakan pengalaman bersama-sama hujan yang telah membuat saya bagaiaman belajar melalui sebuah perenungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 31 januari 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-7705327292679954078?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/7705327292679954078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=7705327292679954078' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7705327292679954078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/7705327292679954078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_01_01_archive.html#7705327292679954078' title='Misalkan Bukan hanya &quot;Hujan Bulan Juni&quot;'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8021960011287427066</id><published>2009-01-28T20:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T20:56:27.006-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Hakekatnya Adalah Menjaga</title><content type='html'>Pernah suatu sore, ketika langit masih murung dengan mentari, di suatu tempat terjadi obrolan oleh dua orang muda. Obrolan yang tidak jauh mengenai dunia seusianya. Kira-kira begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Si A: “Kok tidak lagi kesana?”&lt;br /&gt;Si B: “Lha emang kenapa?”&lt;br /&gt;Si A: “Ya ga biasanya aja.”&lt;br /&gt;Seraya tersenyum Si B menjawab: “Untuk menjaga.”&lt;br /&gt;Si A: “Menjaga siapa? Kamu?”&lt;br /&gt;Si B hanya tersenyum lagi:”Hmmm…” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan itu tidak hilang bahkan sampai si B telah kembali pada aktifitasnya. Mungkin dalam hati dia malah tersentak. Apa yang telah dia jawab untuk sebuah pertanyaan yang mungkin tidak bisa ditangkap oleh orang lain kecuali keduanya. Tanpa tanda apapun, mungkin kita akan dibuat bertanya, apa yang mereka berdua obrolkan. Ah, biar saja itu menjadi rahasia mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegamangannya atas pertanyaan, kita tidak tahu bahwa sebenarnya pertanyaan itu telah diprediksi oleh si B ketika nanti bertemu si A. Namun, dalam kisah selanjutnya, jawaban yang dia berikan dengan memberi sebuah senyuman atas pertanyaan itu membuatnya berpikir. Atau lebih tepatnya, dia juga bertanya selama ini “siapa yang dia jaga”? Atau “mengapa menjaga”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya sebuah drama, dalam hatinya terdengar gemuruh yang menderu, berteriak, dan membuat ketenangan lenyap. Pertanyaan dan jawaban dari obrolan yang dapat dia perkitakan tadi serasa melayang-layang di atas kepalanya, berputar-putar, dan sesekali keluar masuk kedalam otaknya. Alhasil, obrolan dan pertanyaan tersebut tidak mungkin tidak dia pikrkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah hasil perenungan yang sebenarnya telah ada jauh di dalam dirinya. Akan tetapi alangkah membingungkannya ketika perenungan itu tidak didasari kejelasan permasalahan yang dialami si B atas obrolan yang terjadi. Dan inilah singkatnya: entah mengapa si B, adalah juga manusia biasa. Tentang apa yang menjadi bahan obrolan itu, adalah tentang sebuah ‘kejadian’ yang juga dialami oleh sebagian besar makhluk yang bernyawa. Silakan menebak apa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita kaitkan dengan pertanyaan dengan kejadian yang dialami si B maupun manusia pada umumnya.. Mungkin saja si B salah arti tentang sebuah sebab yang dirasakannya, tentang siapa. Tapi ini terlepas dari siapa yang dimaksud. Yang ada dalam perenungan si B, tokoh misterius ini, dia merasa berbeda dengan orang kebanyakan mengenai ‘kejadian’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dia rasakan, ketika ‘kejadia’ telah menimpanya, maka yang ada dalam pikirannya adalah menjaga. Dan dari obrolan singkat itu, dia kembali disadarkan makna menjaga itu. ‘Kejadian’ yang oleh orang kebanyakan dapat dijadikan senjata ampuh memperdayai orang lain, bahkan tak segan-segan merusaknya, oleh si tokoh ditangkap secara berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, ketika seseorang telah mengalami ‘kejadian’, maka jadi sebuah kewajibannyalah dia menjaga. Bukan menyakiti, bahkan digunakan sebagai dalih untuk memperoleh sesuatu. Yang seperti itu dapat dianggapnya tidak memahami. Baginya, apa yang disebabkan oleh ‘kejadian’ hakekatnya adalah menjaga. Bukan merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat diibaratkan seperti ini. Ketika kita masih kecil, dan ayah kita memberikan sebuah mainan yang sangat kita sayangi. Apa yang akan kita lakukan pada mainan itu? Hanya orang yang tidak menyayangilah yang akan sembarangan mempermainkannya. Dia tidak akan merasa sedih ketika mainan itu rusak. Dia juga tidak akan merasa kehilangan ketika mainan itu hilang. Itulah yang tidak memahami hakekat ‘kejadian’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda ketika dia sangat menyayangi mainan itu, entah karena pemberian ayah atau memang dia suka mainan jenis itu, yang dilakukan salah sayang. Kalau dalam bahasa Jawanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;eman&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eman&lt;/span&gt; dari kerusakan jenis apapun. Itulah hakekat menjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kisah itu saya dengar, saya jadi ingin sekali meresapi penggalan kata-katanya Albert Camus. Kira-kira begini: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hasrat memiliki tidaklah tertahankan/sampai pada titik ia mampu bertahan bahkan dengan mencintai dirinya sendiri// Oleh karena itu/mencintai adalah menetralkan orang yang kita cintai// &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hakekatnya adalah menjaga. Meskipun kehilangan tidak dapat dipungkiri sebuah luka yang akan mengoyak. Hingga perih mengalir bersama dengan air laut yang begitu terasa mengharu. Akan tetapi, dari kisah obrolan tersebut saya jadi mengerti sebuah makna. Seolah John Dreyden berkata pada saya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pada masa-masa keshalehan/ luka akibat cinta jauh lebih manis ketimbang kesenangan apapun lainnya”//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah jawaban yang oleh si tokoh dapat digali dari dasar dirinya sendiri. Jawaban atas perenungan pertanyaan yang seringkali muncul dan berputar-putar diatas kepala, kemudian menyusup masuk dalam otak. Hakekatnya adalah menjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 26 Januari 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8021960011287427066?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8021960011287427066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8021960011287427066' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8021960011287427066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8021960011287427066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_01_01_archive.html#8021960011287427066' title='Hakekatnya Adalah Menjaga'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-4876262131205578265</id><published>2009-01-28T20:36:00.001-08:00</published><updated>2009-01-28T20:45:39.687-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>Kehilangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rasa kehilangan hanya akan ada &lt;br /&gt;Jika kau pernah merasa memilikinya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lirik lagu yang begitu dalam. Tentang sebuah rasa yang ada jika yang lain juga ada. Tentang sebuah kehilangan, juga tentang rasa memiliki. Dan kalau kita merenungkan lagi apa arti sebuah kehilangan, kita tak dapat lepas dari perasaan memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 19 Januari 2009. Hari senin yang begitu murung. Mendung mencoba bersikap romantis dengan mengantarkan butiran-butiran hujan pada senjaku. Hari ini, sebuah prosesi perpisahan akan digelar. Dan puncaknya adalah rasa kehilangan. Karena rasa memiliki telah jauh mendekam dalam lubuk hati paling dasar. Kepada seorang wanita. Dia sahabat, kakak, adik, panutan, dia Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Selalu saja kehilangan itu mengundang kesedihan. Tentang rasa memiliki. Hari senin itu saya dapat merasakan senja saat itu berubah begitu mesra. Didapatinya seseorang akan merasakan perihnya kehilangan. Hingga tak pelak langit mengirimkan kado kecil tentang kesedihan yang juga dirasakannya. Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan melambat. Seakan menambah drama perpisahan menjadi semakin hidup. Karena hari itu, bukan perpisahan yang biasanya. Hari itu adalah sebuah perpisahan untuk selamanya. Tak akan ada lagi canda diantara kita. Tak ada lagi kemesraan. Bukankah begitu? Ibu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hanya sebentar saja rasa kehilangan membelai. Selebihnya, rasa memiliki. Bahwa aku pernah merasakannya, bahkan untuk sampai hari depan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah yang dapat saya terjemahkan dari kesedihan oleh rasa kehilangan. Meskipun bukan secara langsung, tapi saya mencoba menterjemahkan suasana yang memuram duka atas rasa kehilangan. Kepada seseorang yang bukan saja dekat, tapi sudah ada jauh mengendap di dasar hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bukan saya yang secara langsung merasakan kemesraan perpisahan itu, namun perpisahan itu membuat kesedihan yang begitu erat dengan saya. Pengalaman itu seperti tak asing bagi saya. sebuah kesedihan karena telah merasa memiliki. Itulah kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, ketika rasa kehilangan menyergap pada saat itu—hujan membuatnya semakin lengkap—saya teringat sebuah lagu. Lagu yang bagi saya mewakili sebuah kepasrahan. Tentang kehilangan, dari rasa memiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi saya rasa kehilangan memang hanya dapat menyapa, ketika kita sungguh pernah merasa memiliki. Tanpa hal itu, kehilangan hanya menjadi sebuah kesedihan yang tak melankoli. Begitu hambar, tanpa suasana romantis yang tersusun dalam bingkai airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja itu saya larut. Pada airmata dari seorang yang ditinggalkan. Dari sebuah prosesi perpisahan agung. Pada sebuah perpisahan untuk selamanya. Wajah riang lucu yang kekanak-kanakan itu. Menjelma menjadi sebuah potret yang tak mampu memendam kepedihan. Meskipun tawa, canda, dan ketegaran, di usap pada sisi raut paling luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tahu. Tentang rasa kehilangan. Tentang bagaimana ‘menikmati’ perpisahan itu. Karena aku juga tahu—seperti Letto—tentang rasa memiliki sebelum kehilangan. Bahkan ketika rasa memiliki itu hanya dirasakan, tanpa benar-benar memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah film yang saya nikmati beberapa waktu yang lalu. Film dengan judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;August Rush&lt;/span&gt;. Menceritakan tentang seorang anak yang mencari kedua orang tuanya melalui musik. Karena kedua orang tuanya musisi, maka sangat anak punya bakat luar biasa dalam bidang musik. Dengan mendengar musik itulah dia keluar dari panti asuhan dan mencari keberdaan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak—August Rush—didorong rasa memiliki kedua orang tua, punya tekad menemukan Ayah-Ibu melalui getaran-getaran musik yang dia dengar melebihi orang lain. Karena mempunyai rasa memiliki—bahkan belum pernah melihat—orang tua ituilah sampai akhirnya diketahui dia seorang yang jenius dalam musik. Dan dapat ditebak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ending&lt;/span&gt; dari film tersebut berakhir bahagia dengan pertemuan sebuah keluarga pada sebuah konser musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu? Seperti itulah rasa memiliki. Bahkan ketika belum pernah bertemu sekalipun. Dan, kehilangan adalah bagian lain dari rasa memiliki. Memang bertolak belakang. Tapi, ketika kita tidak pernah merasa memiliki sesuatu, apakah kita pernah merasa kehilangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, dua rasa yang saling melengkapi. Tapi, ketika melihatmu pada hari senin itu. Dengan sama sekali tidak ingin mengusir rasa memiliki itu. Saya berharap, rasa kehilangan akan segera menjauh darimu. Agar keceriaan polos di wajahmu selalu terlihat. Seperti waktu-waktu saya melihatmu. Dan saya yakin tawa itu masih ingin dimiliki orang lain. Akhirnya, saya ingin mengucapkan,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Meskipun kami tidak dapat menggantikan yang telah pergi, tapi kau masih memiliki kami,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Charla dan Siti (Kalian adalah harapan bagi sebuah keluarga)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 21 Januari 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-4876262131205578265?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/4876262131205578265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=4876262131205578265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4876262131205578265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4876262131205578265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_01_01_archive.html#4876262131205578265' title='Kehilangan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6779868710705415301</id><published>2009-01-18T23:29:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T23:32:43.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Kematian: Gambaran Sebuah Keniscayaan</title><content type='html'>Pada detik-detik yang terus berjalan, kematian terus saja mengintai. Seperti yang saya saksikan setiap hari. Bahkan mungkin orang lain di seluruh dunia juga tahu, karena kematian menjadi sebuah ruang kelam yang menarik untuk disaksikan. Ya, melalui sebuah kotak kecil elektronik yang bernama televisi. Sebuah kematian menyentuh bagian terdalam manusia, hingga kita dibuat ngeri memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi dengan ruang gelap dalam misteri kematian yang selalu terjadi di bumi Palestina sekarang? Tidakkah kematian itu niscaya pasti datang? Mengapa kematian begitu mudahnya menjadi sebuah akibat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja saya selesai menonton sebuah film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;best foreign language film. The Barbarian Invasions&lt;/span&gt;, itulah judulnya. Film yang bagi saya menceritakan perihal sebuah kematian, dengan dramatisasi yang dibuat lucu sekaligus mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin bersama teman-temanku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu keluar dari Remy Girard ketika dia tidak mau dipindah ke rumah sakit yang lebih bisa merawatnya. Tapi bukan menolongnya. Karena keadaan sakit yang telah parah dideritanya. Mungkin dia tahu bahwa kematian menjadi sebuah keniscayaan yang akan dialaminya saat itu. Dan harapannya adalah bersama teman-temannyalah dia ingin menghadapi kematian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau, Sebastian, putra Remy ingin mewujudkan keinginan ayahnya untuk menjelang kematian yang niscaya akan datang pada ayahnya. Dengan tidak ada rasa sakit, juga kesepian. Sang ayah dibuat bahagia dengan cara-cara yang mungkin bagi kita sungguh aneh. Bagi Sebastian, dengan bekal uang yang dia miliki—dia tergolong di atas rata-rata dalam materi—dia dengan mudah dapat mewujudkan keinginan ayahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan langkah pertamanya adalah menghubungi semua teman-teman ayahnya, waktu muda dulu. Alhasil, berkumpullah orang-orang yang sudah tidak muda lagi dengan mengenang masa-masa ‘nakal’ waktu muda dulu.. Mungkin dalam pikiran Sebastian, meskipun sementara, apa yang dia perbuat adalah yang terbaik untuk ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Sebastian sebagai bakti seorang anak ‘mengantar’ ayahnya pada sebuah kematian, adalah usaha yang terbilang ‘sembrono’. Betapa tidak. Dia memenuhi segala apa yang menjadi kesenangan ayahnya. Mulai dari mendesain kamar pasien yang baru, mendatangkan mantan mahasiswanya—meskipun dengan dibayar—, bahkan menyediakan heroin untuk dinikmati. Dan yang terakhir, menghilangkan rasa sakit dalam menjemput kematian dengan menyuntik semacam cairan—entah cairan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian, menjadi sebuah fenomena yang tak lepas dari bayang-bayang ruang gelap—kesedihan, haru, ngeri, perpisahan, kesepian, juga kepergian. Terlepas dari itu semua, kematian adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi pada setiap yang hidup. Setelah hidup, kemudian datang kematian. Entah dengan kerelaan ataupun penyesalan, dia menghantui setiap saat dalam waktu kita. Seolah dialah bayang yang dengan setia mengikuti kemana kita berada. Dan nantinya hanya sebuah nisan yang dapat mempercantik tempat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penyair, kematian menjelma menjadi sebuah nuansa yang agaknya dibaca dengan segala ‘kenakalan’ pribadinya. Entah dalam kata, kalimat, maupun bait, kematian dirasai menjadi jalan bagi terciptanya baris-baris perasaan pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bait-bait puisi “Nisan” Chairil Anwar: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertakhta//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kematian adalah duka yang dalam, sang penyair menggambarkan sebuah keterterimaan atas resiko kehilangan karenanya. Sebuah rasa rela atau pasrah kehilangan karena kematian. Mungkin itulah yang Chairil gariskan dalam hidupnya ketika kematian yang niscaya telah merenggut nenekandanya. Terlepas bagaimana perasaan Chairil kepada nenekanda dimana puisi itu ditujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikiran saya, mungkin puisi itu ditulis Chairil sembari membayangkan sebuah nisan yang tertancap di atas pusara nenekandanya, atau bahkan saat Chairil menatap diam nisan itu. Merenung, dan dan bertanya kemana kematian membawa perpisahan itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian memang menjadi sesuatu yang pasti. Hanya waktu saja yang membuktikan hal itu terjadi. Pada detik-detik dimana kita tidak bisa bersembunyi dimanapun, juga berlindung pada apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang Kahlil Gibran, kematian tak ubahnya sebuah kepergian biasa. Seperti dalam penggalan kata-katanya “Di Hadapan Kematian”:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…Keberangkatanku sekarang ini tidak akan berbeda dari kepergianku besok atau lusa. Karena, hari-hari kita akan musnah seperti dedaunan di waktu musim gugur. Saat kematianku telah begitu dekat,…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, sebuah keniscayaan adalah sebuah kepastian. Tentang kematian dengan segala gambaran yang menyertainya. Hanya yang sungguh rela menyambut datangnyalah yang akan menepiskan kematian keluar dari bayang-bayang ruang gelap disisi manusia. Dan sampailah kita memberi senyum pada kematian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, Januari 2009&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6779868710705415301?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6779868710705415301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6779868710705415301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6779868710705415301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6779868710705415301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_01_01_archive.html#6779868710705415301' title='Kematian: Gambaran Sebuah Keniscayaan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-988483897799132466</id><published>2009-01-16T07:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T07:22:55.570-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Agama: Spiritual Kebenaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan sampai jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab jika  kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalimat tersebut mengalir dalam “Bilangan Fu”nya Ayu Utami ketika Parang Jati bertemu dengan Yuda sesaat setelah ia mendaftarkan ‘agama’ barunya pada Departemen Kebudayaan. Memang bukan pada Departemen Agama. Dan falsafah yang dianut agama baru itu adalah “laku kritik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Parang Jati, semua agama menawarkan kebenarannya masing-masing. Hingga sikap kritis terhadap kebenaran dalam agama sering dianggap sebagai sikap yang tidak beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama, suatu waktu dapat mewujud menjadi sebuah harapan yang melambung tinggi atas sesuatu. Dan, dalam “Bilangan Fu”, Ayu Utami telah menggelitik kita akan eksistensi agama itu sendiri. Tentang sebuah kebenaran yang hanya berhak diketahui nantinya. Karena kebenaran itu misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama mungkin telah ada sejak zaman purba, ketika orang-orang purba telah berharap pada sesuatu untuk mencapai atau menginginkan sesuatu. Atau hanya sekadar sebagai bentuk manifestasi dari rasa syukur karena mendapat sesuatu. Sebagai upayanya, sebuah ritual rela dilakukan. Jadi, agama maupun keyakinan tidak bisa lepas dari sebuah harapan. Tentang kebenarannya, kita tunggu saja nanti, mungkin begitu Parang Jati akan berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita masih ingat, dalam sebuah doa, Joko Pinurbo secara terang mengatakan pengharapan manusia akan sesuatu itu dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sehabis Sembahyang”: Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku// Terima kasih atas segala pemberianmu/ mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru/ yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya/ agar aku bisa lebih cepat mencapaimu//  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keyakinan maupun agama tidak akan dapat berdiri tegak jika dilihat dengan kaca mata rasional. Karena pada dasarnya sifat agama maupun keyakinan erat bersentuhan maupun mewujud dalam jiwa spiritual manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini”&lt;/span&gt;. Adalah sebuah penarikan garis batas antara sebuah keyakinan akan kebenaran dengan laku yang diharapkan terjadi di saat ini. Mungkin bagi Parang Jati, agama adalah sebuah bentuk pengabdian akan datangnya kebenaran nantinya. Dan itu sebuah keniscayaan. Namun, “laku kritik” menempatkan posisi manusia dalam bingkai aktivitas untuk hari ini. Saat manusia masih menginjakkan kaki di bumi. Tentang Surga ataupun Neraka, kebenaran itu datangnya nanti. Dan biarlah tetap seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, agama merupakan sarana yang dicari manusia agar tercipta ketentraman. Timbul karena kebutuhan spiritual yang tengah keresahan. Dihimpit rasa tertekan maupun kepenatan atas hiruk pikuk kehidupan di dunia. Sebagai sebuah pengharapan. Sekali lagi, agama maupun keyakinan selalu bertujuan untuk mengharapkan sesuatu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia hidup dalam dunia yang serba menjunjung sikap rasional. Agama dan keyakinan terlihat telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan akan pemenuhan spiritual yang berada pada wilayah yang ‘tersudutkan’. Mungkin hanya sesaat bagi kita menengok kehidupan spiritual kita. Hingga agama hanya menjadi pelengkap dalam administrasi Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah sekarang, apakah keyakinan ataupun agama memang tempatnya ada diluar garis batas dunia dan akhirat? Itupun kalau memang masih percaya kebenaran akhirat. Tapi sekali lagi, biarlah kebenaran itu datang dengan sendirinya. Kita yang percaya hanya mampu memikulnya. Dalam keyakinan kita, bahwa kebenaran itu sebuah keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama menjadi sebuah kebenaran yang hanya mampu diangankan. Dan kebenaran yang datang dari akhirat adalah kebenaran yang datang nantinya. Akankah manusia kehilangan kepercayaan sehingga kebenaran itu menjadi sesuatu yang absurd? Seperti kita tahu, hingga akhirnya Nietzsche menganggap ‘Tuhan telah mati’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang. Nilai-nilai agama yang agaknya sulit untuk dimanifestasikan dalam keyakinan maupun laku, mulai direpresentasikan dengan nilai-nilai spiritual kekinian. Tanpa menghilangkan dogma-dogma nilai keyakinan, wujud spiritual dibahasakan dengan bahasa-bahasa bumi. Titik tekannya hampir sama dengan “laku kritik”nya Parang Jati. Biarlah kebenaran itu datangnya nanti. Mungkin di akhirat, atau Surga. Yang paling penting adalah kebaikan yang dilakukan hari ini. Yang ditimbulkan dari kesadaran dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar kata-kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;emotional&lt;/span&gt;, spiritual dan sebagainya mewujud dalam sebuah pelatihan maupun seminar-seminar. Mungkin, itulah bahasa tentang nilai-nilai spiritual dalam agama yang lebih mudah dipahami oleh manusia sekarang. Bukan dengan keyakinan akan kebenaran yang datangnya kelak di akhirat, melainkan nilai spiritual yang keluar dari dalam diri pribadi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah bisa mengerti, betapa mahalnya membangkitkan motivasi dan kesadaran spiritual sekarang. Apakah kita telah jauh terjebak dalam kungkungan dunia yang serba mengedepankan rasio manusia? Padahal, agama dan keyakinan saya rasa tidak dapat ditelan mentah-mentah menggunakan rasio manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga dapat kita lihat, setiap kali seminar maupun pelatihan spiritual, pasti banyak peminatnya. Meskipun harga tiketnya setinggi langit. Mungkin agama bagi manusia sekarang adalah segala hal yang nilai-nilai yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sekarang, yang sifatnya universal. Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kebenaran harus kau pikul agar jangan sampai jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, Januari 2008&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-988483897799132466?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/988483897799132466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=988483897799132466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/988483897799132466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/988483897799132466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2009_01_01_archive.html#988483897799132466' title='Agama: Spiritual Kebenaran'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-977893512040973339</id><published>2008-11-23T22:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T22:36:57.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Cinta; “Kepada Seorang,”</title><content type='html'>Sebuah luapan bahagia mungkin dapat kita artikan itu cinta. Segenggam kerinduanpun kita katakan bahwa kita sedang jatuh cinta. Atau bahkan duka yang dalam yang kita rasakan juga kita namakan cinta. Lalu, apa sebenarnya cinta itu? Apakah sesuatu yang mandiri, berdiri sendiri. Seperti yang ditulis Kahlil Gibran: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cinta tidak memberi apa-apa kecuali dirinya dan tidak membawa apa-apa kecuali dari dirinya/ Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki/ karena cinta sudah cukup bagi cinta//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Sebanyak apapun perbendaharaan kata yang kita miliki, sepertinya tidak akan pernah cukup untuk melukiskan atau mengungkapkan apa yang kita rasakan sebagai sebuah wujud dari cinta. Karena siapa tahu yang namanya cinta itu? Apakah kita akan berusaha menafsirkan dengan bahasa kita sendiri, lalu mencoba meresapinya. Mungkin makna yang akan dirasakan masing-masing orang akan berbeda. Atau kita perlu bertanya pada orang yang sedang merasakan itu?&lt;br /&gt; Putu Wijaya, “sang teroris mental” mengartikan bahwa cinta adalah memberi dan menerima. Baginya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cinta adalah sebuah kombinasi yang tidak bisa diceraikan antara keinginan untuk memberi dan menerima&lt;/span&gt;. Tidak bisa dipisahkan. Karena kalau dipisahkan akan mempunyai arti yang lain. Apakah itu sudah cukup bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mendefinisikan cinta? Atau apakah bagi kita cinta selayaknya sebuah ketulusan seperti yang ditunjukkan Joko Pinurbo (Jokpin) dalam sajak “kepada puisi”nya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kau adalah mata, aku air matamu&lt;/span&gt;? Meskipun ketulusan itu bukan ditujukan pada seseorang, melainkan pada puisi.&lt;br /&gt; Lalu bagaimana orang yang berada dalam situasi dan kondisi berbeda dalam mengartikan cinta? Bahkan mungkin dengan berbagai ungkapan yang berbeda pula. Layaknya keinginan kesederhadaan Sapardi Djoko Damono dalam “Aku Ingin” : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Sampai sejauh ini, tema-tema cinta telah beranak-pinak menjelma menjadi karya-karya yang mengagung-agungkannya. Entah itu cinta yang telah diwujudkan dalam sebuah lirik lagu yang dibumbui dengan irama melodi yang menyentuh kedalaman hati. Atau banyak puisi yang dengan berbagai kelincahannya mencoba memaknainya. Cinta itu universal. Luas dan mungkin tak akan ada batasnya.&lt;br /&gt; Tak seorangpun akan mampu untuk menolak kehadirannya, atau mungkin ingin menghadirkannya—dengan ketulusan yang nyata. Bahkan mungkin saya sendiri, sebagai manusia biasa yang mempunyai hati. Saya tak sanggup ketika harus menolak rasa yang semakin dalam menyergap dalam dada saya.&lt;br /&gt; Pernah saya mencoba untuk mengabaikan kehadirannya. Mencari sesuatu yang membuat saya memikirkan seseorang yang telah membuat saya “duka”. Tetapi, yang terjadi adalah sebuah kegelisahan yang teramat sangat. Semakin saya mencoba untuk menyingkirkannya, semakin kuat resapannya merasuk ke jantung hati saya.&lt;br /&gt; Bagi saya, rasa itu sungguh sangat menyakitkan. Sebuah duka. Bagaimana tidak? Saya berada pada posisi yang membingungkan. Saya tidak sanggup untuk membagi rasa itu kepada orang yang membuat saya “duka”. Bukan karena tidak berani, tapi pada kenyataannya bahwa rasa itu belum waktunya untuk dibagi. Sedangkan ketika saya hanya menyimpannya, maka yang tersiksa adalah saya. Saya hanya berharap, ketika memang rasa itu terlampau tajam merobek hati saya—semakin lama memang terasa—ada seseorang yang dapat menenangkannya. Dan dia yang “pantas” untuk tempat membagi itu. Lagi-lagi, semoga dia yang telah membuat saya “duka”.&lt;br /&gt; Saya bukan seorang penyair yang dapat merangkai kata untuk mewakili sebuah arti cinta, juga bukan musisi yang dapat mengalirkan nada dalam penjelmaan terhadap cinta. Sulit memang, tapi itulah sebuah ambiguitas arti dari cinta. Tak ada yang dapat mematenkan apakah artinya. Kalaupun ada, pastilah banyak orang yang akan “membantah” arti yang dipunyai. &lt;br /&gt; Meskipun demikian apa yang telah menjadi arti baku dari cinta itu, tak ada yang akan mengusik menurut masing-masing individu. Bagi saya sangat naïf ketika memaksakan orang lain untuk sama berpikiran seperti kita. Karena saya yakin latar belakang yang mewakili dari arti itu sangatlah beragam.&lt;br /&gt; Saya sampai pada kesimpulan, saya tidak akan mencoba melawan kehadirannya, hanya memang saya perlu berpikir berkali-kali untuk dapat membagi cinta itu kepada yang membuat “duka”. Bukan tanpa alasan, hanya saya terlalu takut ketika cinta yang saya bagi tidak pernah membuatnya tersenyum. Lalu entah mengapa deretan kata-kata tiba-tiba muncul dari kedalaman hati. Mungkin salah satu cara mengalihkan rasa itu adalah saya harus menulisnya. Kata-kata ini adalah untuk seseorang yang membuat saya “duka”. “Kepada Seorang,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku tidak ingin terpaksa tidak mencintaimu&lt;br /&gt;Ketika mendengar lagu itu mengalun&lt;br /&gt;Lirih di dalam hatiku&lt;br /&gt;Kubiarkan saja rasa ini terus menusukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tidak ingin hanyut dalam mencintaimu&lt;br /&gt;Yang membuatku memikirkanmu&lt;br /&gt;Setiap saat dalam waktuku&lt;br /&gt;Karena aku takut&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Solo, 15 Oktober 2008&lt;br /&gt; Akhirnya, itulah yang dapat saya resapi tentang apa itu sebuah cinta dengan latar belakang hidup saya. Saya yakin apa yang saya tulis belum sepenuhnya dapat mewakili arti kata-kata itu. Dan lebih bijaknya adalah saya serahkan kepada semua orang untuk mengartikan cintanya menurut apa yang menjadi kedalaman batinnya. Meskipun tema cinta adalah tema “usang” tetapi akan terus menjadi tema yang universal dan bagi orang yang merasakannya akan tetap menjadi yang mewakili hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaten, 22 Nopember 2008&lt;br /&gt;Agus Raharjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-977893512040973339?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/977893512040973339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=977893512040973339' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/977893512040973339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/977893512040973339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_11_01_archive.html#977893512040973339' title='Cinta; “Kepada Seorang,”'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-4211001304393008677</id><published>2008-10-31T11:06:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T23:39:05.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Dini hari, di Wahyu Sari Tawangmangu</title><content type='html'>Setiap waktu yang tertinggal, akan menyisakan masa lalu. Dalam pekat malam, tanpa bintang dan bulan. Angin malam berdesir dari arah utara, menerpaku dingin. Tapi juga panas. Haluan apa yang digunakan untuk berpijak? Kesalahan-kesalahan kecil yang membuat jiwa mencibir. Dari kelakuan, tawa, juga bara yang terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hariku indah, tapi memang kadang menyakitkan. Biarpun aku tidak mau menyerah. Tapi itu sebuah kenyataan. Di hari ini, juga hari depan layaknya bumi yang harus berputar. Agar siang dan malam menjadi kisah yang nyata. Di sudut dingin ini. Aku termenung merindukan cerita dari negeri lain. Seperti waktu masih kecil aku selalu membayangkannya. Diantara deret kursi di beranda. Atau di bawah kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu aku tertegun. Kemudian timbul uraian makna yang yang menjadi sebuah pertanyaan. Dimana diri dan mau kemana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepertiga malam, seperti ini. Tangis menjadi doa saat kening menyatu dengan tanah. Ribuan kata meresap menjadi sebuah pengharapan. Cahaya terang menemukannku dalam sujudku. Membimbingku, kemudian mendorongku jatuh dalam buaian taman Firdaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku tergerak penat yang terdalam. Kudengar angin menderu dan melantunkan teriakan kegelisahan, seperti ada pertempuran sengit diluar sana. Di luar gerbang rumah tempat aku berteduh. Daun-daun saling beradu. Tak ada yang mengenal menyerah, semua saling tempur dan sikut. Apakah yang menjadi sebuah keyakinan hati? Sedangkan untuk memaknai arti saja laksana mengeringkan samudra dari airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari semakin pagi. Sekarang, rasa sendiri mulai menyelimutiku, ketidakpercayaan,  bahkan pada siapapun yang ada di sampingku. Aku lelah. Benar-benar lelah. Harus percaya pada air di daun alas. Atau mungkin aku terlalu tidak mengerti, bahwa semua berjalan atas kepentingan dan keinginannya pribadi? Dengan bingkai kelembutan, senyum tenang, dan janji untuk bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menimpaku? Hingga saat ini aku ingin menjatuhkan diri.  Karena semua kepalsuan ini. Aku tak mampu menerimanya. Bukan karena aku sederhana. Tapi aku percaya, mungkin aku dulu anggap kau juga. Pada keyakinan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap waktu, rasa itu jadi satu kemunafikan. Merajamku dengan kepolosan dan pengkhianatan. Siapa yang berarti?? Aku kira kau tidak. Satu coreng warna pekat melukai kepercayaan ini. Bukan aku menuntut. Tapi itu ada dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa inilah perenunganku. Dimana aku, dan siapa? Aku jujur pada kesepian. Diapun akan selalu menerimaku dengan kejujurannya, bahwa kesepian itu duka. Tapi aku menerimanya dengan ketulusan. Dia tidak akan menjadi kepalsuan. Sepertimu. Karena sampai sekarang aku masih merasa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryo aswati; 24 Oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-4211001304393008677?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/4211001304393008677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=4211001304393008677' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4211001304393008677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4211001304393008677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_10_01_archive.html#4211001304393008677' title='Dini hari, di Wahyu Sari Tawangmangu'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-5733345841823296640</id><published>2008-10-31T10:45:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T11:22:50.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>Rumah; Metafora untuk Sebuah Kerinduan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Jika aku pulang nanti&lt;br /&gt; Aku ingin canda tawa dalam rumah&lt;br /&gt; Agar selalu ramai hati yang masih sepi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, mempunyai arti (1) Bangunan untuk tempat tinggal; (2) Bangunan pada umumnya (seperti gedung). Pada kenyataannya, seperti itulah yang selama ini kita pahami dan rasakan. Rumah, bagi sebagian orang adalah tempat kembali setelah pulang dari dunia luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sepenggal luapan kata diatas. Bagi saya, rumah menjelma metafora sebuah tempat yang menjadi buah kerinduan sang pengembara. Sampai kapanpun, sampai manapun, atau sampai berapa lamapun, pasti seorang pengembara akan pulang. Dan rumah adalah tempat awal dan akhir perjalanan itu. Sayalah seorang pengembara itu. Sampai kapanpun saya akan tetap merindukan keberadaan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah doa. Rumah diharapkan menjadi tempat melepas penat. Bahkan dapat merubah keadaan yang sebelumnya segala energi negatif terkumpul. Dengan itu rumah menjadi satu-satunya tempat yang diharapkan membawa bahagia. Tak ada yang lebih menyenangkan ketika kita, jika dalam perantauan panjang hendak kembali ke kampung halaman. Menuju rumah. Kerinduan yang sangat besar menyelimuti hingga mungkin ketika kita dalam perjalanan pulang, kita tersenyum-senyum sendiri. Bahkan untuk orang yang sehari-hari dapat pulang sekalipun. Rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk melapas penat dan tempat paling sepi untuk ”lari” dari rutinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman saya, Haris Firdaus, suatu kali mengungkapkan ingin melepaskan diri dari perihal memikirkan rumah, tetapi tetap tidak bisa, karena suatu waktu muncul dalam pikirannya keadaan rumah yang kemudian terjadilah perenungan kepada rumah itu. Maka dia dapat meresapkan renungannya menjadi sebuah puisi yang dalam, bukankah itu salah satu wujud bahwa bagaimanapun rumah adalah sesuatu yang selalu kita rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi Haris, ”rumah” adalah tempat menerima pengalaman yang membuatnya merasakan keharuan yang dalam, hingga akhirnya ”rumah” adalah sesuatu yang memang tidak mesti nyata. ”Rumah” bisa digantikan menjadi wujud yang lain yang dapat mewakili sebuah persinggahan tentang pengalaman. Bisa jadi yang dirasakan Haris adalah keharuan yang dalam. Akan tetapi bisa jadi berbeda pada orang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Haris. Saya tak hendak lari dari segala pengalaman yang terjadi di dalam rumah. Meskipun rumah bagi saya adalah rumah wujud dan tak wujud. Semua adalah sama. Tetapi memang rumah yang tak wujudlah yang lebih mendominasi tentang segala pengalaman yang pasti telah dan akan terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan rumah yang selama ini membuat saya merindukannya terlebih bukan pada sebuah bangunan yang membuat saya kagum. Tetapi lebih dari itu, rumah adalah sebuah metafora kerinduan saya pada sebuah sebab. Pengalaman dan orang-orang yang ada di dalamnya. Hingga sampai saat ini, saya masih akan merindukan rumah yang selama ini menjadi tempat persinggahan saya. Dan dapat saya kira, kelak saya akan menemukan sebuah rumah baru. Persinggahan baru, juga sebuah alasan baru untuk sebuah kerinduan terhadapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga baris kata yang saya tulis diatas merupakan sebuah cerminan bahwa saya sedang melakukan percarian kepada rumah yang sejati. Sebuah rumah yang wujud dan tak wujud, yang akan menjadi tempat persinggahan, bahkan mungkin sampai hayat. Tempat saya mencurahkan segala kegelisahan yang setiap hari saya alami, kepenatan yang saya rasakan, juga tempat saya berbagi. Itulah rumah yang merupakan resapan dari semua kerinduan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak akan menghalangi apa yang dapat saya ridukan dari rumah itu. Entah itu keharuan atau canda tawa. Bagi saya asal saya dapat mencurahkan kerinduan saya ketika senja datang, itu sudah membuat rumah menjadi tempat yang benar-benar saya rindukan. Sekali lagi, saya tidak merujuk pada rumah yang wujud. Saya lebih menekankan rumah sebagai sebuah metafora kerinduan pada sesuatu. Kerinduan tentang sesuatu, juga kerinduan pada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang rumah adalah metafora yang bagi saya mewakili kerinduan itu. Dan harapannya, ketika saya menemukan rumah itu, saya dapat mencurahkan segala kerinduan itu kepadanya. Agar hati yang masih sepi ini menjadi ramai dengan tawa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, Oktober 2008 &lt;br /&gt;Aryo Aswati&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-5733345841823296640?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/5733345841823296640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=5733345841823296640' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/5733345841823296640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/5733345841823296640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_10_01_archive.html#5733345841823296640' title='Rumah; Metafora untuk Sebuah Kerinduan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-4110825407443723743</id><published>2008-10-20T12:01:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T11:16:13.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>Kaderisasi?</title><content type='html'>Seringkali kita mendengar kata kata ‘kaderisasi’, terlebih bagi orang yang memang sangat suka bergelut dengan sebuah organisasi. Sebuah anggapan untuk sebuah arti ‘mencetak kader-kader baru melalui proses transfer visi’. Menurut Lie Charlie, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pembentukan kata kaderisasi adalah liar dan tidak berdalil. Karena tidak ada pola pengimbuhan pasti yang dapat dirumuskan.”&lt;/span&gt; Memang, kalau kita membuka kamus bahasa Inggris, kita tidak akan dapat menemukan kata Caderization, yang kita sangka sebagai asal kata tersebut.&lt;br /&gt; Akan tetapi, tinggalkan sejenak pembahasan tentang bahasa kaderisasi. Yang ingin saya ungkapkan lebih dahulu adalah makna dibalik kata kaderisasi yang sering terdengar ketika sudah berada dalam lingkup sebuah lembaga, organisasi, maupun gerakan. Apa sih kaderisasi itu? Mungkin, setahu saya, seperti yang saya ungkapkan di atas. Bahwa kaderisasi adalah upaya mencetak penerus yanmg mempunyai visis yang sama dengan kita. Siapa yang bakal menjadi penerus sebuah estafet “perjuangan”.&lt;br /&gt; Entah, barangkali kita sering mendengar tentang iron stock, dan siapa yang dengan bangga akan mengaku sebagai bagian dari iron stock itu. Ya, sekumpulan anak muda yang secara heroik bercita-cita merubah keadaan –sebagian menyebut dengan kemapanan-- yang dianggap kurang baik. Sebagian mahasiswa yang mengaku aktivis. Asumsinya, ketika sebuah kemapanan terbentuk, maka keadaan akan sulit untuk berkembang lagi. Karena orang-orang yang ada di dalam merasa sudah “keenakan”.&lt;br /&gt; Dalam keadaan seperti itu, sistem pengkaderan akan sedikit lebih sulit, untuk mencetak calon penerus yang minimal sama dengan penerus sebelumnya. Proses transfer visi (wah..berat nih!) yang akan dilakukan hanyalah sebuah formalitas meneruskan tradisi. Bahkan sangat mungkin sekali kalau yang terjadi malah penurunan standar kualitas kadernya. Yah, tapi tetap harapannya adalah melebihi dari generasi sebelumnya. &lt;br /&gt; Ibarat sejarah yang pasti akan selalu berulang, maka keadaan sekarang inipun juga pasti pernah dialamai oleh masa-masa dulu –bukan kualitas kadernya. Ketika sebuah gerakan dan juga organisasi yang tidak lepas dari entitas social, bahwa banyak masalah secara sosial pasti akan dihadapi. Tidak heran ketika ketegangan-ketegangan terjadi dalam sebuah pergerakan, baik antara perbedaan visi antar organisasi, dan bahkan tak jarang “ketegangan yang bersandiwara” di dalam satu organisasi itu sendiri.&lt;br /&gt; Aneh memang. Ketika dalam sebuah organisasi idealnya hanya memiliki satu visi, tetapi terjadi ketegangan yang membuat panggung saandiwara yang luar biasa canggih. Atau dalam pikiran saya, memang satu visi. Akan tetapi dengan jalan yang berbeda-beda? Bener atau tidak ya? Ketika itu memang benar, timbul pertanyaan lagi. Bagaimana konsensus yang terjadi dalam organisasi itu? Apakah memang tidak ada consensus yang mengikat? Kalau itu tidak ada, berarti memang organisasinya bermasalah. Namun bila ada, maka mengapa “ketegangan yang bersandiwara” itu dapat terjadi? Bukankah aneh? Sepemahanan saya, itu adalah masalah. Atau saya yang memang tidak memahami apa itu organisasi ya?&lt;br /&gt; Kita kembali ke permasalahan kaderisasi—pengkaderan. Timbul pertanyaan dalam pikiran saya, ketika dalam sebuah gerakan atau organisasi, terdapat “ketegangan yang bersandiwara”, maka bagaimana prosesi pengkaderan terjadi? Bingung? Saya pikir tidak perlu. Ketika kita masih sebagai orang yang melakukan gerakan atau yang ada dalam organisasi itu, maka jelas konsensuslah yang akan dipakai. Entah bagaimana bentuk konsensus itu. Akan tetapi ketika kita bukan termasuk orang yang bertanggung jawab atas prosesi pengkaderan, maka tidak perlu repot-repot memikirkannya.&lt;br /&gt; Yang ingin saya tekankan disini adalah, bagaimana jika memang kenyataannya “ketegangan yang bersandiwara” itu benar-benar membuat panggungnya dalam sebuah organisasi?&lt;br /&gt; Sungguh sangat disayangkan. Ketika panggung itu benar-benar digelar. Bagaimana dengan bakal calon penerusnya? Apalagi itu terkait dengan sebuah visi yang selama ini dijunjung tinggi. Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab atas semua itu? Saya kira, kedua actor dalam “ketegangan yang berandiwara“ merasa mempunyai tanggung jawab itu.  &lt;br /&gt; Aneh memang jika sampai saya menyebut kondisi itu sebagai “ketegangan yang bersandiwara”. Mungkin karena orang-orang yang merasa bertanggung jawab ingin sama-sama menyelamatkan generasi penerusnya. Namun, ketegangan tidak dapat dielakkan. Disamping itu juga, kondisi dibuat seolah-olah seperti biasa. (Hahaha…selamat! Kamu masuk nominasi peraih piala Oscar!)&lt;br /&gt; Lalu, apa yang menjadi hasil dari prosesi pengkaderan itu, jika ada aktor-aktor yang sama merasa bertanggung jawab atasnya? Ada beberapa kemungkinan. Yang pertama, adanya kebingungan bakal calon. Itu terjadi ketika memang mereka melihat ada perbedaan dari orang-orang “atas’. Siapa yang bakal jadi panutan? Mungkin inilah yang ada dalam pikirannya. Jika memang itu terjadi, maka siapa yang dekat dengan bakal calonlah yang akan menjadi panutan (entah yang di atas atau di bawah tanah).&lt;br /&gt; Kebingungan ini juga dapat timbul karena ‘tarik menarik’ calon oleh orang-orang atas. Tapi untuk yang satu ini, saya pikir tidak akan signifikan memberi pengaruh.&lt;br /&gt; Yang kedua adalah sikap apatis dari bakal calon. Apalagi ketika mengetahui ada panggung yang digelar dalam organisasinya. Inipun juga tergantung sisi kecerdasan dan kemauan dari bakal calon. Bukan yang cerdas yang dapat menentukan, tapi dia yang mau ambil bagianlah yang mempunyai hak menentukan. &lt;br /&gt; Lalu bagaimana hasil dari proses pengkaderan itu? Kalau di dalam sebuah organisasi terdapat “ketegangan yang bersandiwara”—apalagi terkait pemikiran—maka saya melihatnya ada pihak yang merasa mengkhianati dan dikhianati (aduh..apalagi ini?). Iya, seperti yang diatas, pasti ada consensus yang tidak disepakati atau lebih buiruknya dilanggar. Iya apa iya?? &lt;br /&gt; Nah, ketika bakal calon dididik oleh orang yang bisa dikatakan melanggar, aduh…takutnya nanti sifat-sifat dari pelanggar akan turun. Lalu apa yang akan terjadi ketika semua punya sifat seperti itu? Kalau menurut saya sekalian saja dibubarkan. Mau dicetak seperti apa mereka. Anarkis? Atau lebih parahnya, karena diajarkan untuk loyal pada pikiran dan egoisme pribadi, sewaktu-waktu dapat melanggar konsensus. (Wah…bahaya tuh!)&lt;br /&gt; Sebenarnya semua punya niat baik (kecuali yang tidak) untuk prosesi pengkaderan itu. Tapi mungkin perbedaan persepsi yang tidak disampaikan, atau memang tidak diterima konsensus, membuat gerakan bawah tanah itu muncul. Wah…, yang lebih gawat lagi kalau itu adalah sebuah kekecewaan yang tidak tersampaikan. Gerakan itu akan berusaha menjalar kesana kemari. (wuiiihh…serem…)&lt;br /&gt; Jadi, setidaknya senior harus berani ikhlas. Entah itu berbagi ilmu dengan berpikir jauh kedepan. Jangan berpikir sempit dan pendek bahwa semua kader harus sama seperti saya. Juga transfer yang proporsional terkait tugas dan pekerjaan untuk bekal kedepan. Ok, meskipun hanya sedikit dan dangkal semoga bermanfaat. Dan pesan untuk orang-orang yang kekecewaannya terlalu memuncak--terus menghasilkan gerakan bawah tanah. Mengutip ucapan Pramoedya Ananta Toer,"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalau tajk acuh terhadap azas, bniar sekecil-kecilnyapun....". &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;aryo aswati&lt;br /&gt;Solo, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-4110825407443723743?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/4110825407443723743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=4110825407443723743' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4110825407443723743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4110825407443723743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_10_01_archive.html#4110825407443723743' title='Kaderisasi?'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6209991866379210341</id><published>2008-10-08T11:39:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T11:20:28.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>hari ini hari hujan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari ini hari hujan.&lt;br /&gt;masih saja kau memeluk angin&lt;br /&gt;walaupun juga yang tersentuh adalah dingin&lt;br /&gt;dan tak pernah dapat kau genggam dengan erat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hari hujan,&lt;br /&gt;sedih yang terasa jadi semakin pilu&lt;br /&gt;airmata tak lagi terasa&lt;br /&gt;karena gerimis meniadakan&lt;br /&gt;air yang menetes di pipimu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin kau kira kita tak pernah dapat jawaban,&lt;br /&gt;mengapa hari ini hari hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku selalu memperingatkan,&lt;br /&gt;jangan kau sesali kesedihanmu&lt;br /&gt;aku tahu hari ini akan terjadi&lt;br /&gt;ketika koyak merangkai tangis&lt;br /&gt;pendar nyala mata-mata penuh pasrah&lt;br /&gt;yang berdiri disamping&lt;br /&gt;sebuah nisan dari pejuang yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tahu hari ini hari hujan&lt;br /&gt;ketika kesedihan terkumpul,&lt;br /&gt;dan mengalir air dari rahasia langit&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 22 Juli 2008&lt;br /&gt;Aryo Aswati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6209991866379210341?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6209991866379210341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6209991866379210341' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6209991866379210341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6209991866379210341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_10_01_archive.html#6209991866379210341' title='hari ini hari hujan'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-4211557285352393319</id><published>2008-09-14T07:01:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T11:21:49.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>hujan kepadaku</title><content type='html'>hujan memberiku nama&lt;br /&gt;ketika dia datang, dan kau memanggilku&lt;br /&gt;hujan memberiku kesempatan&lt;br /&gt;saat dia jatuh,&lt;br /&gt;dan kau membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, September 2008&lt;br /&gt;Aryo Aswati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-4211557285352393319?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/4211557285352393319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=4211557285352393319' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4211557285352393319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/4211557285352393319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_09_01_archive.html#4211557285352393319' title='hujan kepadaku'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-908041779983131922</id><published>2008-08-12T09:13:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T11:24:15.657-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pribadi'/><title type='text'>17 Agustus</title><content type='html'>Rasa-rasanya, saya selalu merindukan tanggal itu. Semakin hari, semakin berganti tahun, selalu saja akan bertemu dengan 17 Agustus. Hari yang bagi sebagian orang adalah hari yang benar-benar menjadi sebuah sejarah yang akan dikenang dalam pikiran. Dimasukkan dalam hati, dan menjadi sebuah kenangan yang memikat. Juga untuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketika sekitar pukul 11.00—kata Ibu saya—adalah hari dimana saya menghirup udara dunia untuk pertama kali di tahun ’85 waktu itu. Saya yang tidak pernah dapat menolak bahwa saya akan dilahirkan oleh Ibu saya. Seorang wanita yang lahir dan besar di Klaten. Tapi itulah rahasia Ilahi. Yang saya yakini adalah bahwa saya lahir dan besar di Klaten dari Ibu saya adalah bukan tanpa alasan. Sesuatu sebab yang membuat saya terlahir di tanggal itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, tanggal ketika gegap gempita kebebasan telah berkumandang di seantero Nusantara. 17 Agustus 1945, hari yang menjadi sebuah kebanggaan bagi anak negeri atas kemerdekaan dari penjajahan. Meskipun hanya sebagai penghibur sementara. Karena senyata-nyatanya negeri kita tidak sepenuhnya terbebas dari sebuah “perlakuan penjajah”. Hanya dengan wujud dan cara yang lain. Lebih “mudah” serta lebih “menyenangkan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya dapat beranggapan bahwa itu lebih “mudah” dan “menyenangkan”. Saya bukan bermaksud apa-apa, hanya saja saya melihat bahwa kita seperti tidak tahu bahwa kita sedang mengalami “perlakuan penjajah”. Atau bahkan kita terlalu naïf sehingga tidak mau tahu apa yang terjadi pada diri kita. Itulah yang membuat kita masih membiarkan “perlakuan” itu terjadi pada diri kita. Jadi, bisa saya katakan, bahwa wujud perlakuan ini yang menjadikan kita lebih “mudah” mengalami “perlakuan penjajah” dengan cara ini kita “dianggap” telah masuk dalam perangkap penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya katakan “menyenangkan” oleh karena dengan wujud-wujud yang sulit ditolak oleh manusia—berupa kesenangan duniawi—membuat kita menikmati dari semua agenda besar penguasaan. Entah itu dengan nikmatnya konsumsi atas segalanya, atau bahkan budaya yang serba instant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi miris ketika melihat tahun demi tahun berganti, dan selalu melewati tanggal 17 Agustus. Bukan karena saya hari itu berkurang usia atas keberadaan saya di bumi. Lebih pada semakin lama saya melihat bahwa makna tanggal 17 Agustus semakin lama meluntur pada jiwa penerus bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya telah terjadi? Jika dulu waktu kecil saya selalu dengan semangat mengikuti upacara. Mencoba membayangkan betapa susahnya seseorang berjuang ketika mengheningkan cipta berlangsung. Apakah yang dirasakan anak-anak sekarang sama seperti yang saya rasakan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira tidak. Anak-anak sekarang telah bangga ketika dirumahnya ada Playstation. Juga lebih bisa menghayati ketika sibuk dengan membaca sort message service (SMS). Mungkin juga karena mereka tidak pernah tahu atau diberi tahu betapa beratnya untuk membuat mereka menghirup udara kebebasan di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi saya pribadi, 17 Agustus adalah hari yang sangat bersejarah dan selalu saja saya senang mengalaminya. Tanggal yang selalu saja membuat saya bangga karena tanggal lahir saya sama seperti “lahirnya kembali” Indonesia. Tempat saya hidup, dan mencoba memahami untuk apa saya hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 2008&lt;br /&gt;Aryo Aswati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-908041779983131922?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/908041779983131922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=908041779983131922' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/908041779983131922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/908041779983131922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_08_01_archive.html#908041779983131922' title='17 Agustus'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-8279397066163728687</id><published>2008-08-12T08:46:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T11:25:16.355-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coretan'/><title type='text'>"Pengobanan?"</title><content type='html'>Selalu ada sebuah alasan untuk menjadikan orang lain “patuh” atas kehendak pihak tertentu. Dalih keshalehan sosial, atau sebuah amanah bisa membuat seseorang merelakan yang lain. Bisa jadi, potensi seseorang tak pernah dapat tergali, atau bahkan sekadar terlihat. Salah siapa ketika sebuah “pengorbanan” dijadikan senjata agar mau bersama-sama “memperbaiki” masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya mendengar sebuah pertanyaan, “untuk apa semua ini?” sebuah kerelaan yang terpaksa mengingat pejuang yang lain ada “urusan” yang laen. Memangnya kita juga tidak punya urusan sendiri? Siapa sih yang suka dipaksa ketika pemaksaan itu benar-benar jauh dari nurani, jauh dari hati kita yang terdalam. Entah sampai kapan orang-orang yang “diberi amanah” mampu bertahan? Bisa-bisa ketika jatuh, yang terjadi adalah sebuah kekecewaan yang memberontak. Bukan lagi sikap acuh, tapi menentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang memang sangat memuakkan membayangkan “yang lain” melegang maju karena pengorbanan yang benar diterima dengan senang hati, maksudnya sesuai dengan keinginan dan potensinya. Tidak seperti orang-orang yang menelan mentah-mentah makanan yang paling dibencinya karna pahit yang dirasakan. Mungkinkah pikiran pahit ini menyehatkan? Tidak. Justru sebaliknya, pahit ini dirasakan seolah-olah racun yang perlahan mengekan semua gerak untuk sebuah kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya egois? Iya. Tapi sebelum bertanya pada saya, tanyakan itu ke “yang lain”! Kemana saat keshalehan sosial memanggil? Dan amanah meminta uluran tangan. Pasti jawabnya, “kita di amanah yang lain.” Benar bukan? Saya ingatkan sekali lagi! Apakah menurut “kalian” kita tidak punya amanah??? Hingga korban-korban atas nama keshalehan sosial menjamur. Jadi, siapa yang egois sekarang???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tanyakan nurani masing-masing!!! Kalau punya. Apakah yang bersedia mengulurkan tangannya atas nama keshalehan social ketika bertolak belakang akan menerima dan bersedia mengulurkan tangannya? Saya pikir, jika itu terjadi pastilah “bersembunyi” di amanah yang lain jalan terbaik. Beda kasusnya ketika amanah itu menjadi obsesi atau minimal jalan yang mempermudah jenjang kedepan kelak. Huh… jawab dengan jujur! Itupun kalau masih punya kejujuran. Atau kejuijuran itu juga dicari celahnya? “Tidak apa-apa, kebohongan ini untuk kebaikan.” Bagi saya, kebohongan tetaplah sebuah kebohongan. Dengan dalih apapun itu tetap saja kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa lagi dalih untuk membenarkan sesuatu sering kita dengar tapi sangat tabu untuk dibicarakan. Bahkan lebih tabu daripada obrolan2 tentang lawan jenis. Hmmm…. Itu kayaknmya yang paling sensitive. Intinya, semua bungkam untuk masalah sebuah “pengorbanan”. Entah takut, atau memang tolol, tapi semua seperti tidak terjadi apa-apa. Hingga sebuah korban benar-benar berjatuhan. Entah keluarga, karir, atau kehidupan pribadi sebagai mahasiswa. Hingga kadang saya dengar yang bisa dilakukan hanya menyendiri dan meneteskan airmata. Karena airmata itu sendiri haram dikeluarkan demi lancarnya generasi-generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 2008&lt;br /&gt;Aryo Aswati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-8279397066163728687?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/8279397066163728687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=8279397066163728687' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8279397066163728687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/8279397066163728687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_08_01_archive.html#8279397066163728687' title='&quot;Pengobanan?&quot;'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-191666711870841752.post-6816631936256260167</id><published>2008-07-24T12:43:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T16:39:54.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehidupan'/><title type='text'>“Tentang Aku”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QVDCcjZ5HB0/SP0Wp7nS_DI/AAAAAAAAAAo/hcklX1f6nZQ/s1600-h/Agsr.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QVDCcjZ5HB0/SP0Wp7nS_DI/AAAAAAAAAAo/hcklX1f6nZQ/s200/Agsr.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259384849471568946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Czaenal%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tentang apa yang akan terjadi, bila waktu yang telah tertempuh akan semakin menjauh. Saat jarak yang menjadi tembok pemisah bersabda,” Apa yang telah kulakukan dengan diriku dan tentang sendiriku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Jauh, dan jauh sekali arah menjadi kegelapan yang terus menghantui. Asal tidak jauh saja tentang apa yang ada dan menjadi diriku yang bersimpuh patuh di hadapan-NYA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sesuatu yang datang tak patut aku pertahankan. Dan yang menghilang tak perlu untuk kucari. Mungkin inilah yang benar tentang diriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tak pernah datang saat yang menjanjikan untuk segera takut atau berani. Hanya saja bila aku berpalingkebelakang dan melihat diriku yang telah lampau. Akan mengerti arti kegelapan itu dan hendak beranjak dari lumpuir yang telah banyak mengotori diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Cahaya yang semakin menyilau itu akan segera tak terlihat. Hanya redupnya yang tersisa menemani aku. Tapi tak perlu takut untukku berjalan sendiri di keheningan. Cahaya lain yang seutuhnya terang telah datang diantara jalan yang akan segera kutempuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Syukur hanyalah rasa yang hendak disampaikan. Tapi tak ada yang mau berucap apa yang telah dirasakannya selagi seseorang menjadi khilaf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/191666711870841752-6816631936256260167?l=hujanmimpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/feeds/6816631936256260167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=191666711870841752&amp;postID=6816631936256260167' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6816631936256260167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/191666711870841752/posts/default/6816631936256260167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hujanmimpi.blogspot.com/2008_07_01_archive.html#6816631936256260167' title='“Tentang Aku”'/><author><name>agus raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18000001117328046759</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_QVDCcjZ5HB0/SIG3QY-LRhI/AAAAAAAAAAM/VypYmcORyGk/S220/agsr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QVDCcjZ5HB0/SP0Wp7nS_DI/AAAAAAAAAAo/hcklX1f6nZQ/s72-c/Agsr.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
