Surat Untuk Cinta #2

17:50 Posted In 0 Comments »
Night at November Rain

Cinta…
Apakah kau merindukanku? Atau hanya aku saja yang merasakan kerinduan ini. Betapa besar dan berat rasa ini harus kutanggung. Aku tidak mengerti, tentang kisah yang coba kita pahat dalam hidup ini. Begitu besarnya cinta, namun begitu sempitnya ruang dan waktu. Namun aku lebih senang ketika apa yang kita alami ini dengan menyebutnya liku asmara. Meski ada jarak pada ruang juga ada jeda untuk waktu,namun tidak memberi pengaruh padaku. Justru rasa itu semakin besar.

Aku lupa menceritakannya, apakah kau masih merindukan hujan? Kau tahu, kerinduanmu telah mengirim hujan padaku. Setiap malam, ketika rasa rindu ini begitu dalam, lalu seolah rasa rindu kita bertemu dan menari dalam hujan.

Aku pernah menulis puisi, ketika cinta memberi tanda awal perpisahan kita. Apakah kau juga membacanya? Jika nanti kau merindukan aku/ Kutitipkan kenangan pada wajah hujan/ Karena aku tahu, hujan mengingatkanmu padaku// Jika nanti kau tak kuasa menahan tangis/ Kuikutkan airmatamu pada derai hujan/ Disanalah kerinduan kita bertemu// Jika nanti kau merasa jauh dariku/ Mendekatlah pada belai hujan/ Dengannya, kutarik kau menari bersamaku// Jika nanti kau lelah menungguku/ Bicaralah pada hujan/ Darinya, kutahu aku harus datang/ Dan kebahagiaan/ Menjelma rintik gerimis di wajahku//

Semoga kau suka. Secara pribadi ada begitu banyak tanda dalam wajah hujan. Dia seolah mengerti tentang perasaan ini. Dengan begitu lambat dia mengajakku menikmati setiap bulir rasa yang mengalir deras. Ada kesejukan yang ditawarkan padaku dengan mengingatmu. Namun, tak dapat kupungkiri ada semacam sesak yang menekan. Hatiku koyak, jiwaku melayang bersama bau tanah basah. Tetapi, itu menjadi sebuah candu bagiku. Karena hujanlah yang membuatku merindukanku semakin dalam.

Dengannya, aku merasa berterima kasih, membuatku menemukanmu meskipun dari sebuah elegi. Simpul-simpul peristiwa yang diatur dengan sempurna hingga mempertemukan kita pada taman takdir. Hujanlah yang membuatku meletakkanmu pada tempat terdalam, karena Hujan memberiku nama/ Ketika dia datang/ Dan kau memanggilku// Hujan memberiku kesempatan/ Ketika dia jatuh/ Dan kau membutuhkanku//

Cinta…
Sungguh terasa ganjil bukan? Bukan bunga, bukan coklat, atau bukan rayuan mesra yang membuat kita saling merindui. Tapi hujan. Dia memang berkah, dia memang media bagi rasa yang telah tumbuh dalam hati kita. Maka sampaikan rindu ini padanya, dan titipkan ikhtiar ini padaNya. Bukankah kita sudah menasehati diri kita sendiri dengan itu.
Cinta, apa kau masih akan mencintaiku, dengan ketulusan yang tak bimbang? Kita simpan rasa ini sama-sama. Bukan lagi kutanggung sendiri perasaan ini. Karena aku yakin, kau juga memberi ruang di hidupmu untukku, kelak. Aku masih seperti dulu, ketika kau pertama mengenalku. Aku masih sama seperti apa yang telah kau gambar dalam pikiranmu. Kita mungkin akan sama-sama payah, bisa jadi kita akan lelah, namun bukankah itu sebuah perjuangan? Dan yang kutahu, perjuangan itu tak pernah mementingkan hasil. Kita hanya mampu untuk merasainya, dan anggaplah ini sebuah tantangan.

Perjuangan kita adalah perjuangan yang mungkin sangat berat. Juga melelahkan. Tapi aku yakin, dirimu lebih kuat daripada aku. Bukan lagi membuatku payah, namun juga menyakitkanku. Tapi bukankah sekarang lebih baik dari hari kemarin? Aku telah punya pegangan yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku telah seutuhnya berpegang pada rasa yang telah hadir pada hati kita.

Perpisahan ini, bukanlah untuk selamanya. Akan ada kerinduan yang begitu besar setelahnya. Di hari itu, kita tumpahkan semua pada bingkai hidup yang menemani berikutnya.

Jangan merasa ada noda. Atau dosa dari yang pernah kita lewati. Bukankah itu sebuah pengingatan. Pengingatan untuk kita yang pernah lupa. Juga alpa. Atau sekadar awal dari sebuah perbaikan terhadap diri. Ah, aku terlalu tidak sanggup untuk melihatmu menangis karenanya. Jangan menangis…jangan menangis…jangan menangis. Aku merasa lebih tersiksa dengannya. Aku ingin melihatmu bahagia, bukannya sebaliknya.

Jangan menangis…dosa bukan untuk ditangisi. Dia butuh perbaikan. Dia butuh kebenaran. Agar dia merasa utuh sebagai sebuah dosa.

Cinta…
Jika kau menangis, apa yang dapat kuberikan agar kau kembali tersenyum? Aku tahu kau tidak akan meminta permen seperti anak-anak. Jikapun kau seperti itu, aku akan rela memberikannya untukmu. Tapi kumohon, jangan menangis lagi. Kesedihanmu menjadi berlipat untukku. Kau ingat? Dulu aku pernah bicara padamu, ketika pertama aku menerangkan sebuah hakikat hidupku. “Aku lebih bisa menahan diriku tersakiti, daripada melihat ‘orang dekatku’ tersakiti dan menangis.” Maka jadikan semua ini sebuah babak baru. Jadikan ini fragmen yang akan berlanjut untuk mendaki tahap berikutnya.

Kau tahu, ketika kau menangis, aku seolah linglung. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Senantiasa dirimu hadir dalam pikiranku. Karena aku tidak dapat menghiburmu. Jika kau ingin menangis, bukan sekarang waktunya. Aku tidak bisa memelukmu untuk menenangkanmu. Simpanlah semua itu untuk nanti. Aku akan selalu menjadi penghiburmu. Menyandarkanmu pada bait tawa ketika kau sakit, meneduhkanmu di bawah rindang malam saat kau terlalu penat, dan mencairkan harimu dengan cerita-cerita. Maka janganlah menangis sekarang. Aku tidak akan tahu apa yang dapat kulakukan untukmu. Karena kita terpenjara.

Cinta… sekarang inipun aku bingung. Apa yang aku tuis ini sebuah kebimbangan, atau keresahan yag linglung. Tak tahu arah mana yang kutuju pada kalimat-kalimatnya. Ah, betapa aku merasa menjadi manusia paling ganjil dengan semua ini. Mungkin aku memang aneh, tak seperti yang kau kenal kebanyakan. Tapi inilah aku, dan aku bangga menjadi diriku.

Cinta… jagalah baik-baik dirimu, dan akan kujaga dengan baik diriku. Karena sampai saat ini kita belum mampu sepenuhnya saling menjaga. Kita adalah setengah yang belum menjadi satu. Kita belum menjadi utuh bagi sebagian yang lain. Biarkan hati kita merasakannya, tapi jangan biarkan yang lain mengikuti. Karena mungkin ini sebuah dosa. Dosa yang nikmat, dosa yang melenakan, dosa kedewasaan.

Ah, begitu mudahnya cinta, begitu beratnya rindu, dan begitu nikmatnya dosa. Pada nada diam perpisahan kita. Pada ruang dan waktu yang tak sama.

Selalu yang ingin ada untukmu,
(AR)

Perpisahan

23:55 Posted In , , 4 Comments »
Ada saja yang tak pernah selesai diucap. Cerita-cerita yang kau minta. Seperti tadi malam, saat kita terjaga di sebuah ambang duka. Mendekat pada pintu perpisahan. Ditemani langit-langit hitam mengundang gerimis. Selayak perpisahan itu sendiri. Perpisahan.
Aku ragu. Entah itu nyata, atau hanya isyarat saja. Atau justru begitulah adanya.
Kau berlalu,
Kita mengingat malam yang sama. Mengisahkan cerita, mungkinkah yang kau minta? Atau hanya inginku saja.
Ada duka yang sama, ada rasa serupa. Malam-malam yang sama. Malam-malam menyambut pagi. Seingatanku juga.
Cerita-cerita yang kau minta. Aku harap bukan cerita perpisahan kita. Bukan kisah tentang malam terakhir. Perpisahan. Duka.
Aku ingin bercerita. Tentang kisah selanjutnya. Tentang impian, dan keteduhan mengawali tidur kita. Membuka jendela mimpi hinggap tak ada batasnya. Untuk mengulang malam-malam yang serupa.
Serupa dulu pernah kita rasa. Di dalam gua, diatas gunung, menerkam dingin, kemudian meluncur pagi. Dan kaulah cerita. Akulah cerita. Meski bukan cerita yang selalu sama. Kitalah ceritanya.

Ada yang tak sempurna diungkap. Ungkapan menerang. Di dalam gua, di puncak gunung, mengalir bersama dingin, di guratan malam, kemudian meluncur pagi.
Ungkapan selayak janji,
Ibarat cinta adalah cinta mati. Bukan dari seseorang yang biasa. Juga bukan pada seseorang yang biasa. Seseorang itu, sosok yang tak akan ada padanannya. Pada keduanya adalah setengah yang melengkapi. Padanya adalah ungkapan untuk meretas keyakinan. Menjawab keraguan.
Dengan ungkapan, muncullah kepercayaan, lalu berubah keyakinan, kemudian ada tindakan. Laku hidup yang seharusnya diteruskan. Meski ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Semua tak merubah.

Ada yang lengkap dari perpisahan. Merasa kehilangan, sejujurnya. Ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Meski tak merubah perasaan. Atau justru membuatnya semakin utuh. Seperti pagi ketika kita ada di ambangnya. Detik-detik yang mungkin diingat dan dirindukan.
Tawa anak kecil membuat suasana semakin melankoli perpisahan. Lugu yang ditunggu, lucu yang sederhana. Perpisahan. Perpisahan. Perpisahan.
Sampai kapan tak ada pertemuan? Sampai kapan rasa ini tertahan? Dan sampai kapan rindu ini hanya tersimpan?
Hanya tulisan-tulisan. Dia mampu menyelesaikan ucapan. Dia sanggup menyempurnakan ungkapan. Pada rentang ruang, pada jeda waktu. Dia menisbikan perpisahan.

Kalaupun hanya tulisan. Ada ucapan selamat tinggal, ada harapan secepatnya bertemu kembali. Ada doa di setiap gerak bibirnya. Ada air mata untuk mengingatnya. Itulah ucapan-ucapan cerita tentang kita.
Meskipun sekadar ungkapan. Ada jawaban-jawaban.
Semakin tinggi, akan terasa semakin sakit jatuhnya. Maka aku tak akan membiarkanmu terjatuh. Jikapun kau terjatuh, akupun akan jatuh. Sakitku adalah lebih dari sakitmu.
Tapi bukankah kita menuju atas? Dan ingatlah bahwa kita adalah sayap yang belum sempurna. Tak harus merisaukan rasanya terjatuh. Karena ketika telah lengkap, maka kita dapat tenang menuju ke atas. Ke langit. Ke Surga barangkali.
Aku ingin sayap yang sempurna. Aku ingin melengkapinya dengan impian-impian nyata. Aku ingin bercerita tentang segalanya. Aku ingin mengungkap semua rasa. Aku ingin tak ada perpisahan.
Ada doa untuknya. Juga ada air mata merindukannya. Karena tak akan ada malam yang sama setiap harinya.

Klaten, 25-26 Oktober 2009
Agus Raharjo

Sebuah Catatan Pribadi

06:56 Posted In , 0 Comments »
Dari sekian hari yang tertempuh, ada saat kita merindukan kembalinya sang waktu. Saat itulah kenangan ingin kita ulang. Namun, apa yang bisa kita perbuat untuk mengulangnya. Tak ada. Yang tersisa adalah ingatan kita sendiri tentang kenangan itu. Dan jalan paling akrab untuk kembali pada kenangan adalah mengingat kembali setiap detail peristiwa itu. Hanya itu.
Pada suatu saat, terkadang saya juga sangat ingin mengakrabi kenangan yang telah saya tinggalkan. Ada moment-moment dari suatu peristiwa yang ingin kuulangi. Setidaknya sekali lagi. Tapi tak mungkin. Waktu tak pernah dapat kembali.
Namun, pada suatu saat, sejenak aku tak ingin mengulang kenangan, cukup tersimpan saja dalam ingatan saya. Tentang sesuatu, atau mungkin seseorang. Dia begitu membuat saya merasa ‘sakit’. Kadangkalanya kesedihan harus ditumpahkan. Kadangkala perpisahan tak diinginkan. Dan terkadang saya begitu dalam mengingatnya.
Tulisan ini adalah untuknya. Sesuatu itu telah ada pada suatu hari. Dan setelahnya, semakin hari seperti sebuah pohon yang terus mengakar. Semakin hari semakin kuat. Dan semakin lama juga meneduhkan. Ada bunga-bunga yang mewarnainya. Juga ada batang yang kadang menopang, ada ranting yang juga patah. Namun, semua tetap berdiri.itulah yang membentuknya.
Sesuatu itu, padanya kuikatkan sebuah kekang padaku. Aku telah rela mengikat diri untuknya. Dengan niatan, dengan ucapan, dan nanti pasti tindakan. Suatu hari nanti.
Dia, yang membuat sesuatu itu. Padanya hanya pujian. Untuknya mengalir persembahan, dan baginya terlahir kesempurnaan.
Terasa aneh, bahkan untuk waktu yang lama. Tak kudapati redup, terlebih padam. Yang ada selalu saja mengembang. Dulu, awalnya adalah perbedaan. Tapi siapa mengira padanya adalah persamaan semata. Siapa sangka jalan kita sama. Lalu mengapa kita tak bersama-sama?
Aku pernah mendaki puncak tertinggi inginmu. Lalu kau tabur telingaku dengan ayat-ayat sucimu. Begitu dalam dan menggetarkan. Kemudian aku bangun pada sepertiga malam. Dengannya aku dapat mengingatmu. Atau entah aku mengingatmu lalu mengingatNya. Yang kutahu selalu saja Dia dan dirimu bersama-sama. Berkelebatan dalam renunganku. Setiap saat.
Lalu peristiwa di pagi hari itu. Tatkala kau bertanya padaku tentang sebuah impian. Lalu kuterjemahkan dalam bahasa bijaksana. Dan kau menerimanya seperti permintaan. Tapi memang permintaan. Kau telah meneduhku dalam impianku sendiri. Kau terima, mungkin dengan senang hati. Atau aku yang terlalu memikirkan. Aku yang merencanakan? Lalu kau masuk dalam bagiannya, sebagai peranmu.
Namun, tak ada yang lebih indah dari pagi itu. Adalah “Semoga niatnya segera terwujud menjadi tindakan.” Lalu “kita berjuang dan berdoa sama-sama.”
Adakah yang kuinginkan sekarang? Aku ragu. Tak ada yang kuharapkan mungkin. Hanya tentang sesuatu itu segera menemui kebenarannya. Lalu kita berjuang bersama-sama. Ada doa yang terlantun untuknya, dari seorang ibu yang menekuri ayat-ayat suci. Di rumah suci. Seorang ibu yang memanggilku dnegan sebutan yang aneh. Tapi tak mengapa. Toh itu hanya sebutan untukku. Yang terpenting adalah harapan juga doanya. Sungguh naïf jika aku tak mengamini.
Catatan ini, adalah tanda pengingatku. Juga sebuah persembahan tak sempurna. Karena padanya belum lagi terlaksana tindakan nyata. Masih sebatas usaha…usaha…usaha…dan doa.

Sukoharjo, 17 Oktober 2009 (00.15)
Agus Raharjo