Senin, 03 April 2017

Menanti Surat-Surat Tan Malaka dari Moskow

Tan Malaka sudah lama tak ada. Konon ia gugur dieksekusi di suatu tempat di Kediri, Jawa Timur. Makamnya pun baru ditemukan beberapa tahun belakangan. Baru-baru ini, upacara adat dilakukan untuk memulangkan Tan Malaka ke tanah kelahirannyam Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sebuah makam yang sudah diidentifikasi sebagai makam Tan Malaka ditemukan di Desa Selopanggung, Kediri. Ia memang telah lama gugur, namun, namanya terus menggema sebagai Bapak Republik Indonesia. Sebab, dialah sosok yang pertama kali mengenalkan Republik Indonesia, jauh sebelum Soekarno maupun Mohammad Hatta mengucapkan Republik Indonesia.

Peneliti Tan Malaka dari Belanda, Harry A. Poeze menuturkan, masih ada jejak-jejak autentik dari Tan Malaka. Jejak itu ada pada puluhan surat yang saat ini berada di Moskow, Rusia. Wajar kalau Tan Malaka menulis surat yang ditujukan ke Moskow. Saat aktif sebagai anggota PKI, Tan Malaka merupakan tokoh penting PKI di Indonesia. Dia menjadi perwakilan Indonesia dalam konferensi Partai Komunis dunia di Moskow.

Dalam posisinya, Tan Malaka punya tugas untuk selalu memberi laporan pada Komitern Partai Komunis di Moskow. Surat-surat itulah yang menjadi laporan Tan Malaka pada Komitern Partai Komunis. “Ada puluhan surat Tan Malaka dimana dia melaporkan untuk mewujudkan tugas Komitern Partai Komunis,” tutur Poeze dalam sebuah kesempatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Surat-surat itu hingga kini masih tersimpan rapi di pemerintahan Rusia. Tepatnya di Moskow, dimana kota itu menjadi pusat kegiatan Partai Komunis dunia saat itu. “Surat-surat itu asli dan ditandatangani dengan tulisan tangan,” ungkap Poeze.

Surat yang ditulis tangan oleh Tan Malaka ini menggunakan berbagai bahasa. Selain bahwa Inggris, juga menggunakan bahasa Melayu maupun Mandarin. Bahasa, bagi Tan Malaka bukan masalah. Sebelum melakoni hidup dalam kejaran polisi rahasia Hindia Belanda, Amerika, dan Jepang, dia sudah menguasai berbagai bahasa. Masa 20 tahun dalam pelarian di berbagai negara semakin mematangkannya dalam berkomunikasi dengan siapapun.

Kini, surat-surat itu siap untuk diterbitkan. Poeze berharap dapat segera menyelesaikan proyek besar untuk meneliti surat-surat Tan Malaka. Setelah merampungkan proyek mengenal karakter Tan Malaka dan membaginya dalam 14 karakter utama, Poeze berniat menuntaskan penelitiannya pada surat-surat Tan Malaka.

“Saya harap, saya masih punya waktu untuk meneliti surat-surat itu,” kata dia.

Tan Malaka tak bernasib mujur seperti mereka yang menikmati kekuasaan pasca kemerdekaan. Sosok yang pertama mengenalkan Republik Indonesia ini harus meregang nyawa di tangan negara yang selama hidupnya ia perjuangkan. Nasib Tan Malaka memang tak sejalan dengan ide dan gagasannya tentang Indonesia. Sebagian besar ide dan gagasannya berhasil ia tuangkan dalam bentuk buku. Surat yang ditujukannya ke Moskow menjadi bahan baru mengenal ide dan pemikiran tokoh yang disebut Poeze sebagai pemikir Islam.

“Dalam pemikiran Barat, Tan Malaka disebut sebagai orang Islam tulen dan harus ditafsirkan sebagai pemikir Islam,” kata Poeze saat membedah pemikiran Tan Malaka.

Menurut Poeze, Tan Malaka menegaskan pentingnya Islam di Indonesia. Dia juga menjadi sosok yang berani mengutarakan ide bahwa Islam mewakili salah satu pemikiran revolusi dan harus didukung saat konferensi Partai Komunis di Moskow.

#tulisan ini pernah dipublikasikan di Republika => http://www.republika.co.id/berita/selarung/breaking-history/17/04/03/ontx5j361-menanti-suratsurat-tan-malaka-dari-moskow

Minggu, 02 April 2017

Bola itu (masih) Bundar

‘Bola itu bundar.’
Itulah kalimat yang sering diucapkan untuk pertandingan sepakbola. Bola memang bundar, belum pernah menjadi bentuk lain. Namun, ada kiasan tersendiri dari arti kalimat itu. Segala sesuatu bisa terjadi selama bola terus bergulir di lapangan. Itulah pesan yang ingin disampaikan bola berbentuk bundar.
Pesan itu banal sekaligus dalam. Bola menyimpan rahasianya sendiri dari ribuan pertanyaan nasib dua klub yang saling menghabisi. Waktu kurang lebih 90 menit menjadi pertanyaan, siapa tim pemenang. Rahasia itu akan tersimpan, selama bola terus bergulir. Dari kaki ke kaki, kadang melambung ke masing-masing pertahanan tim lawan. Gambaran itu akan selesai setelah pengadil lapangan meniup peluit panjang. Laga berakhir, rahasia terbongkar. Siapa yang layak jadi pemenang.
Hal itulah yang dua pekan ini kita saksikan. Sepakbola membuktikan dirinya sendiri. Bola tetap bundar, terkadang menempatkan satu sisi di atas, lainnya di bawah. Di lain kesempatan, keadaan bisa berbalik. Terkadang, keajaiban bisa muncul tiba-tiba, hanya dalam waktu delapan menit. Itulah yang terjadi dalam drama tujuh gol laga klub La Liga Barcelona saat menjamu wakil Ligue 1 Prancis, Paris Saint Germain (PSG), Kamis (9/3) kemarin.
Barcelona yang tertinggal agregat empat gol dari PSG harus yakin bola masih berbentuk bundar. Apapun bisa terjadi saat mereka melakoni laga leg kedua di Spanyol. Kemudian, keajaiban benar-benar terjadi. Lionel Messi, Neymar, Suarez dan Sergi Roberto menjadi aktor penyingkap tabir rahasia di laga itu. Mereka membuat keajaiban dengan membalikkan keadaan setelah menang 6-1 dari Les Parisiens. Barcelona membuktikan bola itu masih bundar. Mereka menyingkirkan PSG yang sudah selangkah lagi lolos ke perempat final Liga Champions Eropa.
“Kemenangan ini didedikasikan untuk mereka (yang tak percaya) kami bukan Harlem Globe Trotters, ini sepakbola,” tutur Enrique dikutip dari Marca usai pertandingan untuk membungkam mereka yang meragukan Barcelona, dan bola itu bundar tentunya.
Di Tanah Air, laga yang hampir mirip juga terjadi pada Piala Presiden 2017. Tim asal Kota Malang, Arema Cronus harus mengejar defisit satu gol pada laga leg pertama saat bertandang ke markas Semen Padang. Alih-alih mencetak gol sejak awal laga di leg kedua, Singo Edan justru kebobolan dua gol di Stadion Kanjuruhan, Malang. Namun, sekali lagi, bola itu bundar. Selama wasit belum meniup peluit akhir, rahasia di lapangan tak terbuka.
Striker gaek, Cristian ‘El Loco’ Gonzalez menuntaskan penasaran publik sepakbola Tanah Air. Lima gol yang bersarang ke gawang Kabau Sirah dari pemain berjuluk Si Gila ini jadi bait-bait panjang penantian hasil akhir pertandingan. Arema memastikan diri melaju ke babak final Piala Presiden untuk menantang Pusamania Borneo.
Itulah sepakbola. Ia selalu menyimpan rahasianya sendiri. Menyingkap tabir hasil akhir setelah laga dinyatakan tuntas. Rahasia dalam sepakbola, hanya pemain dan pelatih yang harus mencari pertanyaan dan jawabannya sendiri. Hasil akhir ditentukan oleh 22 pemain yang bertanding di lapangan. Rahasia dalam sepakbola ini mengingatkan pada salah satu sajak milik Hasan Aspahani dalam buku kumpulan puisi Pena sudah Diangkat, Kertas sudah Mengering. Aspahani menyuratkan puisi berjudul ‘Rahasia Laut, Rahasia Angin’ di halaman 56 untuk menggambarkan sebuah tabir yang belum tersingkap:
Ada rahasia laut dan angin, Nak, yang
harus engkau temukan sendiri pertanyaannya
dan mesti engkau cari sendiri jawabannya


#tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika edisi 11 Maret 2017

Senin, 24 November 2014

Menuju 25 November, Cinta

Hari ini, 24 November 2014, kurang dari setengah jam menuju 25 November 2014, aku mulai menulis kembali kepingan peristiwa itu. Hanya dalam 30 menit inilah, usia kami menginjak 3 tahun. Saat itu, 25 November 2011, kami mengikat janji dalam lindungan ayat-ayat Ilahi. Sebuah peristiwa yang akan kami kenang hingga akhir hayat nanti. Saat kuberikan lantunan surat Ar Rahman sebagai bagian dari bukti kecintaan padaNya juga padamu, sosok yang kini telah menjadi Ibu dari anakku. Sebuah perjalanan menuju 25 November yang tersusun dari kepingan-kepingan nasib. Sebab, kata Chairil: Nasib adalah kesunyian masing-masing/ kupilih kau dari yang banyak//. Aku hanya ingin berhenti di bagian ini.

Aku ingin selalu ingat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang ketika itu jam menunjuk pukul 10 pagi, hari Jum’at, aku ucapkan sebanyak 31 kali saat memintamu jadi pendampingku. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Hingga akhirnya aku menyadari kepingan nasib seperti membawaku padamu, Cinta. Kesunyianku seolah menyembunyikan akhir yang indah agar 25 November 2011 menjadi hari paling indah untuk kita. Kalau kita ingat, betapa menuju hari itu adalah nasib yang akhirnya membuat kita mengakui “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

21 November, ingatkah kau Cinta? Hari masih Senin, aku masih berkutat dengan pekerjaan, meskipun sudah dihantui batuk dan radang tenggorokan. Aku ingat jelas, sebelum meliput pertemuan dua kubu organisasi masyarakat Islam yang berseteru, aku belum sarapan, justru minum obat untuk meredakan batuk dan radang tenggorokan. Apa yang kulakukan dibayar dengan keluarnya seluruh isi perut bahkan disertai diare. Hingga akhirnya aku terlalu lemas untuk beranjak dari kamar kecil Polrestabes Yogyakarta. Beberapa polisi dibantu teman sesama jurnalis akhirnya membopongku. Lalu yang kuingat aku terbangun di sebuah ranjang rumah sakit. Di rumah sakit, aku ditemani rekan kantor, lalu muncullah Teguh dan Mas Nono yang kemudian mengambil alih tugas menjagaku. Saran dokter, aku harus menginap di rumah sakit. Namun kau tahu Cinta, aku selalu tidak menyenangi rumah sakit. Aku memaksakan diri untuk pulang ke kontrakan Condong Catur.

22 November 2011, waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, perutku semakin bergejolak. Sudah tidak ada lagi saudara di kontrakan. Aku menahan sakit pada lambungku selama beberapa jam. Lalu setelah sholat Shubuh, kuhubungi Anas, seorang teman yang juga tinggal di Jogja, memintanya untuk mengantarku ke rumah sakit kembali. Kupilih rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa akhirnya aku harus mengalah dan menginap di rumah sakit itu. Selang infus dipasang di tangan kiriku, perawat memberiku makanan bertekstur lembut. Kuhubungi kau Cinta, ingatkah kau? Aku memberimu kabar sedang dirawat di rumah sakit, padahal 25 November di depan mata.
Rabu, 23 November, akhirnya kau datang bersama saudara dari Solo. Memastikan kondisiku tetap terjaga. AKu ingat Cinta, baru sehari menginap di rumah sakit, sudah memaksakan diri untuk segera pulang. Padahal, kau ingat? Dokter bahkan belum membolehkanku pulang. Hari itu, seperti kau menjemputku untuk pulang. Sore itu, sehabis langit mencurahkan gerimisnya, kau mengantarku pulang ke Klaten. Sedangkan kau sendiri melanjutkan perjalanan pulang ke Pati.

Malam hari, rekan kantor di Jogja datang kerumah menjengukku. Waktu itu aku masih ingat atasan mengizinkanku untuk istirahat sampai kondisiku pulih benar. Aku diizinkan kembali kerja hari Senin, 28 November. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Nasib membawakan kemudahan untuk kita menuju 25 November itu.

Kamis, 24 November, aku yang masih dalam perawatan akhirnya menempuh perjalanan 6 jam untuk menuju kotamu, Pati. Tengah malam, bersama rombongan yang disiapkan Bapak Ibu, tiba di Pati. Kau tahu, Cinta, sampai detik itu aku masih gugup untuk menghafal surat Ar Rahman. Meskipun dalam kondisi belum pulih benar, pikiran selalu membawaku pada lantunan surat itu. Ibu beberapa kali menyuruhku beristirahat, mengkhawatirkan kondisiku yang belum pulih benar sudah menempuh perjalanan jauh tapi tetap tak bisa memejamkan mata. Sembari terus menghafal, aku berusaha memaksakan diri untuk memejamkan mata meskipun sejenak. Sampai pagi menjelang, tidurku tidak nyenyak. Sebab, hari sudah mulai menunjukkan nasib siapakah yang akan diingat hari itu.

Akhirnya mentari menunjukkan bahwa hari itu Jum’at, 25 November 2011. Pagi itu, gerimis masih enggan menuntaskan air untuk Ibu Pertiwi. Bau tanah basah, kicau burung, suara air mengalir sungai, juga lagu Jawa mengalun dari rumahmu. Satu jam menuju kalimat yang akan membebaskan tanggung jawab orang tuamu terhadapmu. Sebab, mulai detik itu, kau menjadi tanggung jawabku, Cinta. Perjalanan menuju kesunyian untuk kita berdua. Nasib yang akhirnya membawaku pada ikrar untuk berani menanggungmu. Saat dengan fasih aku ucapkan ‘Saya terima nikah dan kawinnya Putri Khoirina Ferikasari binti Hadi Pramono dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!’

Jakarta, 24-25 November 2014
Agus Raharjo