Jumat, 14 Desember 2018

Surat untuk Cinta #9 (Kangen Cinta)



Menjelang pagi...
Harus aku mulai darimana...
Baiklah, begini saja. Aku mulai dari melihat foto-foto bunga angsana kuning. Kau tahu itu mengingatkan kita dengan apa?

Aku tahu kau pasti akan menjawab cepat-cepat. Yes, itu adalah pohon yang ada di kampus kita. Sudah berapa tahun kita tak menengok kesana lagi?

Aku pikir, sekarang memang sedang musim semi. Setidaknya bagi bunga yang memberi banyak kenangan pada tempat yang mempertemukan kita. Angsana. Dulu aku tak sempat memikirkan namanya. Hanya warnanya. Kuning, dan hampir menyelimuti jalan-jalan di kampus. Kita memang beda fakultas, tetapi bertetangga.

Aku lebih beruntung karena bisa sering menikmati hutan. Tempat dimana pohon-pohon angsana menemukan rumahnya. Mungkin sama sepertiku. Telah menemukan rumah. Itu kamu, ada di kamu, Cinta.

Sebuah tempat berkumpulnya mimpi-mimpi. Melepas lelah, mendulang peluh, menikmati pagi dengan secangkir madu hangat. Mulai membiasakan makan sambal terasi. Hingga sudah mulai bosan mengunyah bandeng presto. Itulah rumah.

Ada waktu berkumpul, ada saatnya berangkat kerja. Bercengkerama dengan anak-anak. Menemani mereka belajar. Mendiskusikan sesuatu denganmu saat anak-anak sudah tidur. Kecupan selamat malam. Itulah rumah.

Ia sebuah ruang dan waktu untuk kembali, pulang...

Dulu, kau pernah bertanya. Pernahkah aku rindu? Sejujurnya, aku lebih rindu anak-anak, jawabku. Dan itu memang benar. Seolah memang anak-anak menjadi penawar baru bagi kita. Coba saja sehari dua hari tidak bersama mereka. Kalau aku bertanya, apakah kau rindu aku, itu sebuah pertanyaan retoris. Kau akan jawab, lebih rindu anak-anak. Itulah kita, Cinta.

Keberadaan mereka tak merenggutmu darimu, atau sebaliknya. Mereka menyatukan. Mereka rumah-rumah yang mungil. Mereka melengkapimu menjadi rumah paling nyaman untuk pulang.

Kau pasti bertanya, kapan aku bisa rindu lagi. Mungkin saat aku menulis surat inilah waktu yang paling pas. Aku kangen, Cinta. Sudah berapa purnama, aku lupa. Beruntungnya aku, memilikimu. Syukuri, dan terus memuji.

Ini hanya surat ringkas, bukan pungkas. Rindu, tak disangka-sangka. Ia ada, memang seharusnya ada. Entah dimana selama ini. Aku memang tak menemukanmu seperti yang pernah kulihat sepuluh tahun lalu. Tapi itulah kita, terus bergerak. Memang harus bergerak, bahkan kalaupun harus merangkak. Ingatkah dengan cerita tentang cicak dan nyamuk. Mereka juga bergerak.

Apapun itu, aku rindu. Setidaknya saat ini, sampai hari sudah semanis senja bagi malam. Aku belum bisa memejamkan mata. Sudah cukup surat ini, Cinta. Aku hanya ingin mengatakan. Aku kangen, Cinta. Itu saja.

Jakarta, 15 Desember 2018

*foto dari https://www.idntimes.com/life/education/jcnd/hal-hal-ini-akan-kamu-rasakan-ketika-menjadi-alumni-kampus-kentingan-uns-c1c2/full

Senin, 03 April 2017

Menanti Surat-Surat Tan Malaka dari Moskow

Tan Malaka sudah lama tak ada. Konon ia gugur dieksekusi di suatu tempat di Kediri, Jawa Timur. Makamnya pun baru ditemukan beberapa tahun belakangan. Baru-baru ini, upacara adat dilakukan untuk memulangkan Tan Malaka ke tanah kelahirannyam Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sebuah makam yang sudah diidentifikasi sebagai makam Tan Malaka ditemukan di Desa Selopanggung, Kediri. Ia memang telah lama gugur, namun, namanya terus menggema sebagai Bapak Republik Indonesia. Sebab, dialah sosok yang pertama kali mengenalkan Republik Indonesia, jauh sebelum Soekarno maupun Mohammad Hatta mengucapkan Republik Indonesia.

Peneliti Tan Malaka dari Belanda, Harry A. Poeze menuturkan, masih ada jejak-jejak autentik dari Tan Malaka. Jejak itu ada pada puluhan surat yang saat ini berada di Moskow, Rusia. Wajar kalau Tan Malaka menulis surat yang ditujukan ke Moskow. Saat aktif sebagai anggota PKI, Tan Malaka merupakan tokoh penting PKI di Indonesia. Dia menjadi perwakilan Indonesia dalam konferensi Partai Komunis dunia di Moskow.

Dalam posisinya, Tan Malaka punya tugas untuk selalu memberi laporan pada Komitern Partai Komunis di Moskow. Surat-surat itulah yang menjadi laporan Tan Malaka pada Komitern Partai Komunis. “Ada puluhan surat Tan Malaka dimana dia melaporkan untuk mewujudkan tugas Komitern Partai Komunis,” tutur Poeze dalam sebuah kesempatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Surat-surat itu hingga kini masih tersimpan rapi di pemerintahan Rusia. Tepatnya di Moskow, dimana kota itu menjadi pusat kegiatan Partai Komunis dunia saat itu. “Surat-surat itu asli dan ditandatangani dengan tulisan tangan,” ungkap Poeze.

Surat yang ditulis tangan oleh Tan Malaka ini menggunakan berbagai bahasa. Selain bahwa Inggris, juga menggunakan bahasa Melayu maupun Mandarin. Bahasa, bagi Tan Malaka bukan masalah. Sebelum melakoni hidup dalam kejaran polisi rahasia Hindia Belanda, Amerika, dan Jepang, dia sudah menguasai berbagai bahasa. Masa 20 tahun dalam pelarian di berbagai negara semakin mematangkannya dalam berkomunikasi dengan siapapun.

Kini, surat-surat itu siap untuk diterbitkan. Poeze berharap dapat segera menyelesaikan proyek besar untuk meneliti surat-surat Tan Malaka. Setelah merampungkan proyek mengenal karakter Tan Malaka dan membaginya dalam 14 karakter utama, Poeze berniat menuntaskan penelitiannya pada surat-surat Tan Malaka.

“Saya harap, saya masih punya waktu untuk meneliti surat-surat itu,” kata dia.

Tan Malaka tak bernasib mujur seperti mereka yang menikmati kekuasaan pasca kemerdekaan. Sosok yang pertama mengenalkan Republik Indonesia ini harus meregang nyawa di tangan negara yang selama hidupnya ia perjuangkan. Nasib Tan Malaka memang tak sejalan dengan ide dan gagasannya tentang Indonesia. Sebagian besar ide dan gagasannya berhasil ia tuangkan dalam bentuk buku. Surat yang ditujukannya ke Moskow menjadi bahan baru mengenal ide dan pemikiran tokoh yang disebut Poeze sebagai pemikir Islam.

“Dalam pemikiran Barat, Tan Malaka disebut sebagai orang Islam tulen dan harus ditafsirkan sebagai pemikir Islam,” kata Poeze saat membedah pemikiran Tan Malaka.

Menurut Poeze, Tan Malaka menegaskan pentingnya Islam di Indonesia. Dia juga menjadi sosok yang berani mengutarakan ide bahwa Islam mewakili salah satu pemikiran revolusi dan harus didukung saat konferensi Partai Komunis di Moskow.

#tulisan ini pernah dipublikasikan di Republika => http://www.republika.co.id/berita/selarung/breaking-history/17/04/03/ontx5j361-menanti-suratsurat-tan-malaka-dari-moskow

Minggu, 02 April 2017

Bola itu (masih) Bundar

‘Bola itu bundar.’
Itulah kalimat yang sering diucapkan untuk pertandingan sepakbola. Bola memang bundar, belum pernah menjadi bentuk lain. Namun, ada kiasan tersendiri dari arti kalimat itu. Segala sesuatu bisa terjadi selama bola terus bergulir di lapangan. Itulah pesan yang ingin disampaikan bola berbentuk bundar.
Pesan itu banal sekaligus dalam. Bola menyimpan rahasianya sendiri dari ribuan pertanyaan nasib dua klub yang saling menghabisi. Waktu kurang lebih 90 menit menjadi pertanyaan, siapa tim pemenang. Rahasia itu akan tersimpan, selama bola terus bergulir. Dari kaki ke kaki, kadang melambung ke masing-masing pertahanan tim lawan. Gambaran itu akan selesai setelah pengadil lapangan meniup peluit panjang. Laga berakhir, rahasia terbongkar. Siapa yang layak jadi pemenang.
Hal itulah yang dua pekan ini kita saksikan. Sepakbola membuktikan dirinya sendiri. Bola tetap bundar, terkadang menempatkan satu sisi di atas, lainnya di bawah. Di lain kesempatan, keadaan bisa berbalik. Terkadang, keajaiban bisa muncul tiba-tiba, hanya dalam waktu delapan menit. Itulah yang terjadi dalam drama tujuh gol laga klub La Liga Barcelona saat menjamu wakil Ligue 1 Prancis, Paris Saint Germain (PSG), Kamis (9/3) kemarin.
Barcelona yang tertinggal agregat empat gol dari PSG harus yakin bola masih berbentuk bundar. Apapun bisa terjadi saat mereka melakoni laga leg kedua di Spanyol. Kemudian, keajaiban benar-benar terjadi. Lionel Messi, Neymar, Suarez dan Sergi Roberto menjadi aktor penyingkap tabir rahasia di laga itu. Mereka membuat keajaiban dengan membalikkan keadaan setelah menang 6-1 dari Les Parisiens. Barcelona membuktikan bola itu masih bundar. Mereka menyingkirkan PSG yang sudah selangkah lagi lolos ke perempat final Liga Champions Eropa.
“Kemenangan ini didedikasikan untuk mereka (yang tak percaya) kami bukan Harlem Globe Trotters, ini sepakbola,” tutur Enrique dikutip dari Marca usai pertandingan untuk membungkam mereka yang meragukan Barcelona, dan bola itu bundar tentunya.
Di Tanah Air, laga yang hampir mirip juga terjadi pada Piala Presiden 2017. Tim asal Kota Malang, Arema Cronus harus mengejar defisit satu gol pada laga leg pertama saat bertandang ke markas Semen Padang. Alih-alih mencetak gol sejak awal laga di leg kedua, Singo Edan justru kebobolan dua gol di Stadion Kanjuruhan, Malang. Namun, sekali lagi, bola itu bundar. Selama wasit belum meniup peluit akhir, rahasia di lapangan tak terbuka.
Striker gaek, Cristian ‘El Loco’ Gonzalez menuntaskan penasaran publik sepakbola Tanah Air. Lima gol yang bersarang ke gawang Kabau Sirah dari pemain berjuluk Si Gila ini jadi bait-bait panjang penantian hasil akhir pertandingan. Arema memastikan diri melaju ke babak final Piala Presiden untuk menantang Pusamania Borneo.
Itulah sepakbola. Ia selalu menyimpan rahasianya sendiri. Menyingkap tabir hasil akhir setelah laga dinyatakan tuntas. Rahasia dalam sepakbola, hanya pemain dan pelatih yang harus mencari pertanyaan dan jawabannya sendiri. Hasil akhir ditentukan oleh 22 pemain yang bertanding di lapangan. Rahasia dalam sepakbola ini mengingatkan pada salah satu sajak milik Hasan Aspahani dalam buku kumpulan puisi Pena sudah Diangkat, Kertas sudah Mengering. Aspahani menyuratkan puisi berjudul ‘Rahasia Laut, Rahasia Angin’ di halaman 56 untuk menggambarkan sebuah tabir yang belum tersingkap:
Ada rahasia laut dan angin, Nak, yang
harus engkau temukan sendiri pertanyaannya
dan mesti engkau cari sendiri jawabannya


#tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika edisi 11 Maret 2017

Senin, 24 November 2014

Menuju 25 November, Cinta

Hari ini, 24 November 2014, kurang dari setengah jam menuju 25 November 2014, aku mulai menulis kembali kepingan peristiwa itu. Hanya dalam 30 menit inilah, usia kami menginjak 3 tahun. Saat itu, 25 November 2011, kami mengikat janji dalam lindungan ayat-ayat Ilahi. Sebuah peristiwa yang akan kami kenang hingga akhir hayat nanti. Saat kuberikan lantunan surat Ar Rahman sebagai bagian dari bukti kecintaan padaNya juga padamu, sosok yang kini telah menjadi Ibu dari anakku. Sebuah perjalanan menuju 25 November yang tersusun dari kepingan-kepingan nasib. Sebab, kata Chairil: Nasib adalah kesunyian masing-masing/ kupilih kau dari yang banyak//. Aku hanya ingin berhenti di bagian ini.

Aku ingin selalu ingat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang ketika itu jam menunjuk pukul 10 pagi, hari Jum’at, aku ucapkan sebanyak 31 kali saat memintamu jadi pendampingku. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Hingga akhirnya aku menyadari kepingan nasib seperti membawaku padamu, Cinta. Kesunyianku seolah menyembunyikan akhir yang indah agar 25 November 2011 menjadi hari paling indah untuk kita. Kalau kita ingat, betapa menuju hari itu adalah nasib yang akhirnya membuat kita mengakui “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

21 November, ingatkah kau Cinta? Hari masih Senin, aku masih berkutat dengan pekerjaan, meskipun sudah dihantui batuk dan radang tenggorokan. Aku ingat jelas, sebelum meliput pertemuan dua kubu organisasi masyarakat Islam yang berseteru, aku belum sarapan, justru minum obat untuk meredakan batuk dan radang tenggorokan. Apa yang kulakukan dibayar dengan keluarnya seluruh isi perut bahkan disertai diare. Hingga akhirnya aku terlalu lemas untuk beranjak dari kamar kecil Polrestabes Yogyakarta. Beberapa polisi dibantu teman sesama jurnalis akhirnya membopongku. Lalu yang kuingat aku terbangun di sebuah ranjang rumah sakit. Di rumah sakit, aku ditemani rekan kantor, lalu muncullah Teguh dan Mas Nono yang kemudian mengambil alih tugas menjagaku. Saran dokter, aku harus menginap di rumah sakit. Namun kau tahu Cinta, aku selalu tidak menyenangi rumah sakit. Aku memaksakan diri untuk pulang ke kontrakan Condong Catur.

22 November 2011, waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, perutku semakin bergejolak. Sudah tidak ada lagi saudara di kontrakan. Aku menahan sakit pada lambungku selama beberapa jam. Lalu setelah sholat Shubuh, kuhubungi Anas, seorang teman yang juga tinggal di Jogja, memintanya untuk mengantarku ke rumah sakit kembali. Kupilih rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa akhirnya aku harus mengalah dan menginap di rumah sakit itu. Selang infus dipasang di tangan kiriku, perawat memberiku makanan bertekstur lembut. Kuhubungi kau Cinta, ingatkah kau? Aku memberimu kabar sedang dirawat di rumah sakit, padahal 25 November di depan mata.
Rabu, 23 November, akhirnya kau datang bersama saudara dari Solo. Memastikan kondisiku tetap terjaga. AKu ingat Cinta, baru sehari menginap di rumah sakit, sudah memaksakan diri untuk segera pulang. Padahal, kau ingat? Dokter bahkan belum membolehkanku pulang. Hari itu, seperti kau menjemputku untuk pulang. Sore itu, sehabis langit mencurahkan gerimisnya, kau mengantarku pulang ke Klaten. Sedangkan kau sendiri melanjutkan perjalanan pulang ke Pati.

Malam hari, rekan kantor di Jogja datang kerumah menjengukku. Waktu itu aku masih ingat atasan mengizinkanku untuk istirahat sampai kondisiku pulih benar. Aku diizinkan kembali kerja hari Senin, 28 November. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Nasib membawakan kemudahan untuk kita menuju 25 November itu.

Kamis, 24 November, aku yang masih dalam perawatan akhirnya menempuh perjalanan 6 jam untuk menuju kotamu, Pati. Tengah malam, bersama rombongan yang disiapkan Bapak Ibu, tiba di Pati. Kau tahu, Cinta, sampai detik itu aku masih gugup untuk menghafal surat Ar Rahman. Meskipun dalam kondisi belum pulih benar, pikiran selalu membawaku pada lantunan surat itu. Ibu beberapa kali menyuruhku beristirahat, mengkhawatirkan kondisiku yang belum pulih benar sudah menempuh perjalanan jauh tapi tetap tak bisa memejamkan mata. Sembari terus menghafal, aku berusaha memaksakan diri untuk memejamkan mata meskipun sejenak. Sampai pagi menjelang, tidurku tidak nyenyak. Sebab, hari sudah mulai menunjukkan nasib siapakah yang akan diingat hari itu.

Akhirnya mentari menunjukkan bahwa hari itu Jum’at, 25 November 2011. Pagi itu, gerimis masih enggan menuntaskan air untuk Ibu Pertiwi. Bau tanah basah, kicau burung, suara air mengalir sungai, juga lagu Jawa mengalun dari rumahmu. Satu jam menuju kalimat yang akan membebaskan tanggung jawab orang tuamu terhadapmu. Sebab, mulai detik itu, kau menjadi tanggung jawabku, Cinta. Perjalanan menuju kesunyian untuk kita berdua. Nasib yang akhirnya membawaku pada ikrar untuk berani menanggungmu. Saat dengan fasih aku ucapkan ‘Saya terima nikah dan kawinnya Putri Khoirina Ferikasari binti Hadi Pramono dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!’

Jakarta, 24-25 November 2014
Agus Raharjo

Selasa, 01 Oktober 2013

Surat untuk Cinta #8



Semacam ada hembusan, ia menerka
Mungkin aku yang terlalu lupa, Cinta
Seperti sebuah panggilan, ia meraba
Mungkin aku tak pernah mengerti, Cinta

Selamat bertemu kembali, Cinta. Sudah sekian lama kukira aku tak menyapamu. Apakah kau baik-baik disana? Aku seperti bertanya pada diriku sendiri soal itu. Sebab aku lupa. Mungkin saja kita telah menemukan bahagia, sampai akhirnya lupa. Bukan manusia sempurna, sejatinya. Lupa adalah nikmat juga. Tapi jangan sampai lupa pada diri kita sendiri.

Cinta, tentang lupa, ada yang hendak melawannya. Mereka, kalau kau tahu, adalah orang-orang yang sangat dekat dengan masa lalu. Masa lalu seperti sebuah panggilan yang sangat akrab. Serasa berbisik. Ada orang-orang yang senantiasa melawan lupa, untuk keadilan mungkin. Apakah kau berpikir untuk ikut melawan lupa, Cinta? Sebab akupun berpikiran demikian. Sebuah siklus hidupku seolah mengajakku melihat kembali apa yang pernah aku alami dimasa lalu. Kenangan-kenangan, isak tangis, tawa canda, juga repihan potret kebersamaan bersama orang-orang yang sejak kecil membersamai kita.

Mungkin ada yang menyebut ini sebuah kerinduan. Tapi buatku ini seperti mengulang siklus hidupku sendiri. Seperti kembali memutar rol film usang di sebuah bioskop tua. Atau barangkali layar tancap di lapangan, yang pernah kita saksikan keelokannya dimasa itu. Putaran-putaran kenangan itu membuatku ingin menangis, Cinta. Aku ingin bersama mereka, bersama orang-orang yang telah membawaku pada usia yang cukup matang ini. Entahlah, ada semacam ketakutan aku akan melupakan mereka. Benar-benar lupa.

Bagaimana denganmu, Cinta? Apakah kau pernah merasakannya? Menjadi melankoli karena memutar kembali kisah-kisah di saat kita bahkan belum berpikir untuk menjadi seperti sekarang ini. Ini adalah perlawananku terhadap lupa. Seperti juga aku takut dilupakan. Kau tahu? Aku ingin sekali menyematkan namaku pada anak kita nanti. Aku ingin namaku selalu digunakan pada seluruh keturunan kita. Bahkan disinipun aku tak ingin kalah dari lupa. Di suatu masa nanti, sebuah generasi akan mengenang nama kita sebagai orang-orang berbuat. Orang-orang hebat yang lahir dari orang tua kita yang juga hebat. Jauh dari dalam lubuk hati aku bangga dilahirkan dari orang tua yang hebat di keluarga ini, Cinta. Sangat bangga sampai air mataku tak tertahan jika mengingatnya. Aku ingin suatu waktu nanti, kita dikenang seperti aku mengenang mereka.

Pada malam yang terus berlalu ini, aku melihatmu sedang menidurkan anak kita. Anak perjuangan. Dari sini, kudengar rengekan buah hati kita seraya meminta susu. Air kehidupan yang kelak rasanya juga akan dilupakan. Tapi dia tak akan pernah lupa pada gendongan bundanya. Yang dia kenal bukan susu, tapi aroma tubuh seorang ibu. Anak perjuangan kita akan besar dengan Indonesia, Cinta. Aku ingin, dia tak akan lupa dengan nenek moyangnya. Dengan bangsa dan tanah airnya. Banggalah, Cinta. Kita dilahirkan di negeri kaya yang ramah pada masyarakatnya. Hanya saja saat ini kau akan susah menemukannya, Indonesia. Karena ini sedang bermain dengan anak kita. Mereka akan besar bersama-sama. Melawan lupa. Dan pada saat ini, yang kuingat hanya kalian, kau, buah hati kita dan Indonesia. Kita akan berjuang bersama-sama. Kita akan mendengar kembali suara burung-burung yang terbang bebas sembari berkicau sesuka hati. Kita akan melihat kembali jernih air yang mengalir di sungai samping rumah kita. Ikan-ikan yang ingin dipancing, serta padi-padi yang telah menguning.

Jakarta, 2 Oktober 2013

Kamis, 05 Juli 2012

Rumah dan Satu Peristiwa di Waktu Sahur


Pagi-pagi, Ibu membangunkanku, juga seluruh saudaraku. Hari masih gelap. Diantara pukul 02.30 hingga 03.00 Waktu Indonesia bagian Klaten. Beberapa saat kemudian, radio kecil hiburan kami yang paling mewah menyala. Seorang ulama dengan suara khasnya lalu sayup memenuhi ruangan tempat makan. Suara ulama yang sering menyebut kata “betul” dengan nada yang tak kalah khasnya. Bukan ruang makan, karena kami tak memiliki itu. Tak ada meja makan, juga tak ada piring ditata rapi agar meja disebut meja makan.

Lalu, Ibu yang sudah bangun lebih dahulu. Biasanya satu jam sebelum kami dibangunkan, masih menyiapkan nasi atau lauk untuk kami semua. Yang paling saya ingat, telur dadar di piring itu dipotong sesuai jumlah kami yang akan makan sahur. Kenapa tidak memilih di goreng telur mata sapi atau telur? Karena memang tidak ada pilihan itu. Dua butir telur sengaja digoreng dadar agar semua kebagian untuk memakannya. Irisan-irisan telur yang kadang saya rindukan setelah 15 tahun berlalu.

Saya sangat ingat, disaat kami saling berebut untuk mengambil telur pertama kali. Sebab, yang pertama memiliki kesempatan paling besar untuk memilih irisan terbesar telur dadar yang kadang dicampur dengan irisan bawang merah dan cabai. Selanjutnya, mengelilingi suara radio, kami makan sahur tanpa Ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak hanya menyiapkan makan sahur untuk kami. Meskipun kami ingin mereka ikut makan sahur dengan kami, tapi kehidupan demokrasi dan kebebasan yang tertanam secara tak sengaja di keluarga kami, membuat kami (ketujuh anak Ibu-Bapak) tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Secuil peristiwa itu adalah rutinitas yang terjadi di bulan Ramadhan, saat 9 anggota keluarga masih berkumpul 15 tahun lalu. Di sebuah tempat yang selalu kami rindukan untuk kembali. Sebuah tempat yang disebut rumah bagi sebuah keluarga besar Suranto Martowardoyo. Saat ini, rumah itu sudah lain. Peristiwa makan sahur di bulan Ramadhan sudah tak ada lagi seperti waktu aku kecil dulu. Waktu itu, kami masih berkumpul, lengkap. Sampai Lebaranpun, kami tetap berkumpul. Tapi saat ini, dan mungkin Ramadhan yang kurang sebulan lagi datang, sebagian kami ada di tempat yang jauh.

Bisa jadi rumah itu sepi. Sulung Ibu, saat ini masih berjuang dan berusaha mewujudkan impian di negeri nun jauh disana, Jerman. Kakak kedua, meskipun lebih dekat, tapi juga berusaha membangun rumah impian untuk keluarganya. Entah di Klaten atau di Ciamis. Aku sendiri, bahkan tahun lalu tidak dapat berkumpul saat Ramadhan dan Lebaran. Aku sedang berjuang membangun apa yang pernah aku impikan. Kedua adik perempuanku, saat ini lebih banyak tinggal di kota tempat mereka merancang masa depan, Yogyakarta. Praktis, hanya kakak perempuan dan adik laki-lakiku yang setia menjaga rumah. Menjaga Ibu dan Bapak. Semoga tetap menjaga suasana tenteram disana.

Kami, pergi untuk selalu kembali. Itulah yang selalu tertanam di pikiranku. Kembali pada keluarga, kembali untuk keluarga, dan kembali ke rumah. Meskipun, saat Ahmad Albar menyanyi, rumahku ‘hanya bilik bambu, tempat tinggal kita, tanpa hiasan tanpa lukisan, beratap jerami beralaskan tanah’, namun itu rumah kami.

Rumah yang senantiasa terbawa selalu dalam perjalanan kami. Sejauh apapun itu, rumah selalu ada di hati kami. Juga seisinya. Kadang tawa, tangis, diam, sunyi, keluh, peluh, marah, pertengkaran. Namun kami mengerti, kami lahir dalam keadaan yang kami syukuri saat ini. Bersama rumah itu, Ibu-Bapak, Kakak-Adik, aku mengerti, aku lahir di sana bukan tanpa alasan. Aku mengerti arti hidup sesungguhnya, arti menghargai pendapat, belajar bijaksana bukan hanya berpijak pada satu sudut pandang, dan arti kebahagiaan itu seperti apa.

Dulu, pertama kali aku ‘pergi’, dalam hati aku berjanji, tak akan pulang sebelum sukses. Akhirnya, sukses itu bukan soal kaya raya. Bukan soal aku punya jabatan tinggi, punya banyak uang. Tapi aku mengerti aku merindukan mereka semua, Ibu-Bapak, kakak-adik, dan rumahku di ‘56’. Ramadhan tahun ini, sepertinya ada kekuatiran tidak dapat pulang lagi. Meskipun pulang, semua akan terasa lain. Tanpa ketiga kakakku dengan keluarganya, tanpa ketiga adikku dengan kenakalannya. Ah, semua begitu indah untuk dibayangkan. Terlebih banyak anggota baru yang akan meramaikan rumah kami. Aku rindu keramaian itu. Gelak tawa diantara canda-canda. Suara jengkel karena digoda. Aku rindu makan sahur dengan suasana sama seperti lima belas tahun lalu.

Untuk semua orang yang kusayangi disana, baik-baik kalian. Jaga baik tempat pulang itu, dan akan kurawat jalan pulang ini. Untuk semua yang tengah berjuang di tempat yang jauh, juga baik-baik disana. Rumah selalu menunggu untuk jadi tempat pulang. Meskipun bukan di Ramadhan ini, mungkin juga di Lebaran nanti. Tapi kita diikat oleh kisah yang besar. Kisah untuk bangkit karena rumah kita adalah rumah impian. Rumah semangat. Rumah perjuangan. Kita adalah keluarga besar. Ibu-Bapakku orang besar. Dari mereka lahirlah tujuh orang besar. Waktu selalu bergerak maju, tapi sejarah menyimpan kisah itu dalam buku kenangan. Rumahku dan juga Ramadhanku. Satu peristiwa di waktu sahur. Waktu itu.

Surabaya, 5 Juli 2012
Agus Raharjo

Senin, 07 Mei 2012

“Dead Zoo”

Saat menginjakkan kaki pertama di Surabaya sekitar satu bulan yang lalu, hal yang saya ingat adalah saya melewati sebuah kebun binatang. Letaknya, yang membuat saya heran, adalah di wilayah kota yang padat. Saya, masuk ke kota Surabaya dari arah Gresik, lantas jalan yang saya lewati waktu itu adalah Jalan Diponegoro. Kebun binatang itu terletak diantara banyak jalan, jalan Diponegoro, Jalan Raya Darmo, jalan Raya Wonokromo, jalan Joyoboyo, jalan Aditya Warman, dan jalan Ciliwung. Alhasil, posisi kebun binatang itu sangat strategis. Pertama kali berhenti di lampu merah depannya dari jalan DIponegoro, saya langsung mengenali tempat itu adalah kebun binatang, karena papan nama yang terpasang di atasnya jelas bertuliskan ‘Kebun Binatang Surabaya’ dengan gambar berbagai binatang sebagai ‘background’nya.

Lalu, setelah beberapa hari tinggal di Surabaya, ternyata kebun binatang yang disingkat KBS tersebut saat ini tengah mengalami masalah. Masalahnya sangat kompleks, kata salah satu teman saya saat kami berbincang di gedung Negara Grahadi. Masalah itu meliputi konflik karyawan dengan pihak manajemen, lalu pengelolaan KBS, banyaknya satwa yang mati, dan juga pencabutan izin konservasi dari pemerintah. Lantas, berbekal sedikit informasi, saya memberanikan diri kesana dan mulai menggali informasi. Selanjutnya, apa yang saya temukan disana, sangat erat kaitannya dengan sebutan yang melekat dengan kebun binatang itu setelahnya.

Saya datang kesana bersama salah seorang teman saya. Sebelum masuk, saya melihat banyak orang berseragam sedang duduk-duduk di luar KBS. Apa yang mereka lakukan, waktu itu saya masih tidak terlalu peduli. Ternyata, apa yang saya lihat waktu itu, bahkan hingga saat ini adalah efek dari masalah di KBS yang sangat kompleks tadi. Mereka adalah korban dari konflik manajemen. Akibatnya, mereka yang seharusnya telah diangkat dengan Surat Keputusan dari manajemen lama, kembali menelan pil pahit karena SK manajemen lama tidak diakui oleh manajemen baru. Lantas nasib mereka menjadi terkatung-katung yang akhirnya membuat mereka dipecat oleh pihak manajemen baru. Jumlah mereka tak sedikit, 30 orang.

Menurut salah seorang karyawan yang diPHK sepihak itu, Dinas Tenaga Kerja bahkan sudah menghimbau pihak manajemen baru untuk mempekerjakan mereka lagi, dan membayar seluruh gaji bulan yang telah dilewati. Namun, putusan melalui pengadilan tersebut tak digubris. Pihak manajemen malah mengajukan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung. Hingga saat ini, nasib ke-30 karyawan KBS sangat menyedihkan. Mereka kehilangan sumber penghasilan, di sisi lain, mereka memiliki beban tanggungan keluarga. Saat saya mencoba mengklarifikasi masalah tersebut kepada pihak manajemen melalui Public Relationnya, dia menolak berkomentar dan menyerahkan masalah tersebut pada pihak Human Resource Development. Lantas, saat saya mencoba mengklarifikasi ke pihak HRD, tidak ada tanggapan sama sekali. Kesimpulan umum saya, memang terjadi masalah dalam lingkup kebun binatang yang menjadi andalan masyrakat jawa Timur tersebut.

Tak hanya itu, ketika masuk ke dalam KBS, hal pertama yang saya tangkap adalah sepi. Ya, ternyata hewan yang ada di KBS tidak selengkap nama besarnya. Apa yang saya lihat disana tak lebih baik daripada kebun binatang andalan masyarakat Yogyakarta Kebun binatang ‘Gembira Loka’. Selain sepi, kondisi satwanyapun terbilang menyedihkan. Ada satwa yang dalam satu kandang disesaki oleh satu jenis spesiesnya, namun tak jarang saya dapati satwa yang hanya sendirian tanpa pasangan. Bahkan, saya mendapat informasi bahwa satwa di KBS sudah banyak yang mati. Hal itu membuat saya lebih miris lagi dengan kondisi KBS. Kabar terakhir yang saya dapat, seekor jerapah dan Celeng Goteng mati. Jika Jerapah mati karena didalam perutnya terdapat 20 kilogram benda asing seperti plastic yang tak bisa dicerna, Celeng Goteng malah mati akibat racun Sianida.

Lantas, predikat ‘Dead Zoo’ KBS tidak berhenti disana. Karena masih banyak satwa yang hingga hari ini mati. Terakhir, seekor ikan terbesar air tawar Aipama juga ditemukan mati. Dari data yang saya dapatkan dari humas KBS, angka kematian satwa di KBS berkisar 50an setiap bulan. Bukankah itu aneh?! Menurut saya, sangat layak jika izin KBS sebagai wahana konservasi satwa dicabut oleh pemerintah. Karena manajemen KBS tidak mampu mengelola kekayaan fauna langka di Indonesia. Menurut humas KBS, satwa yang mati dari berbagai jenis, yang paling banyak didominasi oleh burung dan mamalia. Akibatnya, predikat ‘Dead Zoo’ memang layak jika disematkan pada kebun binatang kebanggaan Jawa Timur ini. Bahkan anak sekolah dasar di Surabayapun telah memiliki persepsi bahwa KBS merupakan ‘Dead Zoo’.

Bagaimana penyelesaiannya? Harus melibatkan keseriusan pihak terkait. Permasalahan antara manajemen dan karyawan juga menjadi pemicu bagaimana pengelolaan KBS tidak diurusi secara benar. Pasalnya, akibat kebijakan manajemen baru, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari mantan karyawan, ada seorang pawang gajah yang sudah ahli dan bersertifikasi justru dipindah menjadi security. Bukankah itu hal yang ironis? Atau justru masalah ini sangat politis?! Kita belum mampu melihat faktanya. Yang perlu kita pikirkan di sini, ada seekor Bison di KBS yang saat ini sedang sekarat. Bahkan untuk berjalan saja bukan lagi melihat dengan mata, tapi sudah menggunakan instingnya karena kedua matanya buta. Ironisnya, satwa bukan asli Indonesia itu hanya satu-satunya di KBS.

Maka kesimpulan KBS menyandang predikat ‘Dead Zoo’ harus segera dibenahi. Bagaimanapun caranya. Butuh keseriusan dan partisipasi banyak pihak untuk menyelesaikannya, agar fungsi konservasi kembali berlaku untuk kelestarian kekayaan fauna di Indonesia. Damai Indonesiaku, damailah satwa-satwaku.

Surabaya, 3 Mei 2012
Agus Raharjo

Rabu, 22 Februari 2012

Aura Keraton

Selasa malam, saya berangkat untuk meliput sebuah acara pembacaan puisi. acara itu adalah peringatan satu abad Hamengkubowono IX yang jatuh tepat 12 April nanti. Yang menarik minat saya untuk datang walau itu bukan tugas kantor adalah disebut nama GKR Pembayun dalam undangan peliputan. GKR adalah kependekan dari Gusti Kanjeng Ratu. Dan pembayun mengingatkan saya akan sebuah nama jalan ketika saya melakukan liputan khusus ke kota Mataram Islam lama di Kotagedhe, Yogyakarta. Entah nama itu merujuk pada satu hala atau bukan, yang pasti saya penasaran ada dua nama Pembayun yang sama. Satu disebutkan dalam undangan pembacaan puisi cinta GKR Pembayun dan satunya adalah jalan Nyi Pembayun.

satu nama yang mungkin hampir sama saya temukan ketika membaca novelnya Afidah Afra 'De Wints' (ejaan judulnya agak lupa). namun di salah satu tokohnya, Afifah menggunakan nama Prembayun (ada huruf 'R' di dalamnya). Saya menduga nama tersebut memang menjadi legenda tokoh perempuan hingga namanya banyak disebut-sebut.

Kesan yang saya tangkap ketika melihat ada nama Nyi Pembayun adalah seorang tua yang menjadi generasi awal pendirian kotagedhe. Yah, walapun saya tidak mencari data-data terkait nama itu. Saya hanya sekadar menuliskan kesan tiga nama yang sering disebut. Dalam kisah di novelnya, saya membaca tulisan Afifah sangat mirip atau sengaja dimirip-miripkan dengan novel Bumi Manusianya Ananta Toer. Namun, justru hal itulah yang membuat saya 'illfeel' untuk melanjutklan membaca novel itu. Masalahnya, saya seperti membaca jiplakan Ananta Toer yang jauh lebih tidak bermutu dibanding novel-novel remaja biasa. Saya kira novel itu ingin menjadi novel sejarah, namun, tidak mendapatkan auranya. Terlebih ketika menceritakan keraton dan kehidupan masa lalu.

Bisa jadi, penulis tidak mengalami atau mempunyai interaksi langsung dengan riset-riset sejarah seperti yang dilakukan Ananta Toer. Hal itulah yang membuat saya melepas novel yang katanya best seller tersebut, dan berhenti membacanya. Afifah terlalu membawa ide 'agamis' dalam tulisannya. Inilah kesan nama Prembayun, yang memang sengaja belum saya buat uraian panjang untuk mereview novel tersebut. Mungkin suatu saat nanti saya akan membacanya, namun sekadar untuk memberikan tanggapan. Mungkin.

Nama yang kedua adalah Nyi Pembayun, sebuah jalan di Kotagedhe sebelum memasuki pasar Kotagedhe. Kalau diterangkan jalan itu merupakan jalan menyilang dari jalan Mondorakan. Posisinya ada setelah jembatan yang menghubungkan jalan Tegalgendhu dengan Jalan Mondorakan. Sesuai dengan alur kisah Mataram Islam lama, bisa jadi jalan itu mengambil nama seorang tokoh yang hidup di jaman Mataram Islam. Bisa jadi.

Nama yang ketiga ini yang paling menarik untuk saya. Ternyata GKR Pembayun adalah sosok yang hingga saat ini masih ada. Ia adalah putri pertama Hamengkubuwono X, yang saat ini masih jadi orang nomor satu di Yogyakarta. Saya baru pertama melihat sosoknya di acara pembacaan puisi di Roemah Pelantjong di jalan Magelang itu. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau orang yang berbaju biasa tersebut adalah seorang putir keraton. Namun, saya sudah merasakan aura berbeda ketika ia duduk di kursi-kursi yang disediakan oleh panitia.

Saya bertanya pada seorang wartawan senior, siapa wanita yang duduk paling depan itu. Teman saya menjawan pertanyaan saya dengan menuliskan sebuah nama pada booknote'nya dengan sebuah huruf tersusun tegas, GKR Pembayun. Sontak saya tercengang, baru sekali itu saya merasakan bertemu langsung dengan seorang putri keraton. Lantas saya hanya bisa memaklumi apa yang saya rasakan, bahwa sebelum saya mengetahui ia seorang putri keraton, auranya sudah mengatakan bahwa ia bukan wanita biasa.

Kemudian saya mengamali gerak-geriknya, dan saya meyakini ada aura yang membedakan antara wanita biasa dnegan wanita dari kalangan keraton. Tingkahnya seperti telah dipelajari hingga mengakar pada kepribadiannya sendiri. Jika dibandingkan dengan gerakan seorang foto model, saya yakin cara berjalannya Putri Keraton itu lebih indah. Cara dia vertutur, cara dia memandang, dan cara dia memberikan gerakan tubuhnya, mencerminkan aura keraton Jawa yang gemulai dan harmonis. Inilah pengalaman pertama saya melihat secara langsung seorang putri raja yang masih disegani di Idonesia. Apakah saya terpukau? Hanya kesan saya yang mengetahuinya.

Selasa, 14 Februari 2012

Surat Untuk Cinta #8


Selamat hari yang gembira untuk Cinta…
Tapi bukan karena hari ini sebagian orang merayakan hari kasih sayang. Aku tidak ikut merayakannya. Dan kuyakin kau juga tidak.

Bagaimana kabarmu disana, Cinta? Apakah masih sering dilanda hujan, ditempatmu? Hujan yang terkadang memberi lambang duka, sedih dan tangis.

Mungkin sebagian dari orang-orang ditempatmu itu, hujan membuat kesedihan secara nyata. Membuat negara kerepotan untuk mengungsikan penduduk, membuat warga sendiri harus menerima kenyataan bahwa mereka harus takluk pada alam. Namun disini, ditempatku sekarang, hujan sangat dinanti-nanti. Ia dipuja, disanjung. Bahkan hewan semacam ‘Kinjeng’ pun akan bernyanyi. Nyanyian itulah yang membuat petani—sebagian masyarakat disini masih petani, bersiap untuk menanam. Ya, walaupun juga terkadang hujan membuat seseorang menjadi malas beraktifitas. Namun, airnya sangat dinanti-nanti. Saat itu, padi-padi akan segera menghijau diantara pematang sawah.

Taukah kau, Cinta? Aku mendamakan kehidupan seperti itu. Ada sawah, petani, ternak, dan udara segar di pagi hari. Apakah kau juga memimpikannya?

Aku menyadari, di tempatmu, gedung-gedung berebut mencium langit. Sawah, ladang, dan tumbuhan yang hijau hanya jadi poster kampanye ‘Global Warming’. Disini, kau tidak hanya menikmati negeri impian itu sebatas melihat gambar kalender. Namun, kau akan menemukan semua pesona gambaran hidup asri disini. Di negeri yang bisa kausebut kampung atau desa. Disini, sekelilingmu adalah hamparan padi yang menghijau. Sungai yang mengalir airnya jernih. Dan keramahan penduduk akan menyapamu. Semua itu bukan kisah di dalam poster yang kaulihat dikantormu, atau di jalanan yang biasa kau lewati. Disini, semua itu nyata.

Na, terkadang—seringkali, hujan mengingatkanku akan masa lalu. Masa lalu saat kita masih mencari, siapa diri dan dimana bediri. Kala itu, kau mungkin tak pernah menerka, ada apa dengan hari ini. Saat itu juga, aku mungkin tak bisa memilah, impian dan kenangan. Semua tentang kau. Masa lalu, berlalu, lantas menyisakan ingatan tentang kenangan.

Na, suatu kali, kukunjungi titik pangkal masa lalu suatu bangsa. Namanya Mataram Islam. Ia, bagi sebagian orang hanya tinggal direntetan tulisan buku sejarah di sekolah. Namun disini, ia masih hidup. Hidup dengan semangat dan mitos-mitos yang melestarikannya. Ia pernah menjadi besar, lalu sekarang hanya tersisa puing-puing berserakan. Seperti kenangannya berserakan di buku-buku sejarah dan ingatan masyarakatnya. Namun, bagiku, ketika aku singgah disana, barang sejenak menikmati betapa besar ia masa itu, aku ingin menyesap kenangan yang tersebar menjadi tulisan yang mungkin tak ada arti lagi. Aku sungguh menikmatinya. Seolah aku ingin benar-benar dapat kembali mengulang masa itu. Atau setidaknya ada di saat kenangan itu mulai menjadi cerita.

Ada masa saat kita ingat kenangan, bukan? Mungkin saat itulah terkadang seseorang menemukan kembali rasa bahagianya. Bukan uang, harta, pangkat, jabatan ataupun segala rupa penghias dunia. Karena masa itulah yang paling setia. Ia ada dibelakang kita, selamanya.

Na, ingatkah kau pada saat sujud menjadi peletup kecintaan? Disana ada rongga yang minta diisi. Apa yang mengisinya semoga tetap sebuah ketentraman hati. Ah.. aku semakin lupa, bahwa selama ini aku memang merindukanmu. Suka menemukanmu dalam kenangan yang dibawa masa lalu. Merindukan gejolak dikala kita berjauhan seperti ini. Aku lupa itu, mungkin juga tak menyadarinya. Kenangan yang dibawa masa lalulah tempat rindu itu bersembunyi. Ia setia ketika kau ada di dekatku. Jadilah seperti itu, karena kerinduan ini jadi harta tak terduga yang suatu kali akan kutemukan lagi. Dia ada di dekat, tapi terkadang tak kupahami, atau kusadari. Begitu juga kau.

Biarlah tetap seperti itu, Cinta. Dengan begitu kita dapat saling meresapi lagi. Menikmati setiap nafas yang kauhirup terkandung namaku, dan di nafasku ada namamu.

Cinta, pernahkah kau tahu bahwa Eyang Pram pernah menyampaikan, bahwa temannya Minke yang semakin jauh dengan Annelies pernah mengungkapkan, di depan manusia itu ada jarak, ia menjadi pembatas antara kita dan ufuk yang jauh disana. Jika kita mendekat ke ufuk, ia akan berlari, yang ada di depan kita masih juga sama, jarak. Karena mereka abadi. Itulah yng terjadi diantara kita, ada jarak di depan kita, beruntung kau bukanlah ufuk, maka saat aku atau kau mendekat, jarak semakin pendek, dan tak akan ada ketika kita menyatu. Aku dan kau bukan ufuk. Tapi aku dan kau adalah cerita yang akan jadi kenangan masalalu bagi hari esok.

Kuakhiri surat ini dengan segenggam haru yang mungkin ingin segera bertemu. Agar kita memang bukanlah ufuk. Na, hati-hati di tempat penuh ketidakpastian seperti tempatmu itu. Semoga kau selalu baik-baik.

14 februari 2012
Agus Raharjo

Tragedi Jalan Mahakam

Senin, 19 September 2011. Jam 12 siang saya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dapat telf dari kantor, untuk meliput rapat kerja Komisi III DPR RI di kawasan Senayan. Sempat bingung juga jalannya, karena saya mengendarai motor. Setelah tanya-tanya ke beberapa orang, akhirrnya saya ada di depan ruang rapat kerja Komisi III. Sungguh malang, ternyata rapatnya telah selesai. Saya memberitahu kantor, dan dikabari telah terjadi kericuhan di SMA 6 Bulungan antara Wartawan yang melakukan aksi dengan anak-anak siswa SMA 6. Tanpa pikir panjang saya segera meluncur ke tempat kejadian. Tepatnya di jalan Mahakam.

Di perjalanan, saya sempat kebingungan dengan arahnya. Saya merasa tersesat, namun tidak terlalu jauh, kata atasan di kantor yang saya kabari. Kemudian saya bertanya di sana-sini mana sekolah SMA 6 Jakarta. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya saya menemukan lokasi itu.

Saya tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Di lokasi, masih banyak teman-teman wartawan dan juga aparat kepolisian. Saya mendekat, mencoba mencari tahu perihal bentrokan yang terjadi tadi pagi saat wartawan aksi damai. Setelah saya tanya ke beberapa wartawan, ternyata pangkal masalahnya terjadi pada hari Jum'at kemarin. Saya dengar dari teman-teman wartawan, juga atasan saya, bahwa hari Jum'at lalu ada wartawan TV dari Trans dikeroyok anak-anak SMA 6 saat sedang meliput tawuran. Kaset video wartawan hilang. Alasannya, saat wartawan mengambil gambar mereka yang tawuran, anak-anak SMA tidak menerima. Bisa jadi mereka malu kalau ketahuan tawuran. Mendengar hal itu, sontak saya merasa emosi. Buat saya ini suatu pelecehan profesi. Namun, saya mencoba berpikir dengan kepala dingin, dan saya melanjutkan untuk mengorek kondisi yang telah terjadi di jalan Mahakam tadi pagi.

Sebagian teman-teman wartawan sudah meninggalkan lokasi. Beberapa ada yang melaporkan kejadian tadi ke Polres Jakarta Selatan, lalu yang lain pergi entah kemana. Mungkin melanjutkan pekerjaan mereka. Saya bersama beberapa teman wartawan lain masih tinggal di lokasi. Disamping saya masih mencari bahan untuk tulisan, saya juga berbincang dengan Kapolsek Kebayoran Baru, Pak Hando. Dari obrolan saya dengan teman-teman wartawan dan Pak Hando, saya jadi tahu bahwa tawuran di SMA 6 memang sering terjadi. Bahkan, kata Pak Hando, ini sudahseperti kutukan. Katanya sejak dulu sudah sering tawuran. Sudah sejak tahun '65. Ada teman wartawan yang nyeletuk bahkan sebelum merdeka. Walaupun itu bercanda, namun saya mengerti, tawuran SMA di Jakarta memang sering terjadi.

Pukul 14.25 WIB, saya yang sedang duduk dengan Pak Hando, menjadi waspada ketika segerombolan anak SMA melintas didepan wartawan. Mungkin mereka akan pulang, atau masuk sekolahan. Teman-teman wartawan yang masih tinggal bertanya dari SMA mana mereka. Tapi mereka diam saja dan berjalan dengan angkuh dan cuek. Mereka tidak menghirauakan pertanyaan wartawan. Setelah ada sorakan dari wartawan yang mengatakan 'Hidup 70! SMA 6 ga akan menang!' Anak yang berjalan paling depan balik badan dan menantang wartawan dari kejauhan. Sontak wartawan sadar bahwa mereka anak SMA 6. Beberapa wartawan yang terpancing emosi langsung mengejar, dan terjadilah bentrokan kecil. Jumlah wartawan dan anak SMA tidak begitu jauh. Namun, dari sisi rombongan anak SMA datang tadi (dari perempatan Bulungan) juga terjadi bentrokan lain. Tak berapa lama, bentrokan membesar dengan jumlah anak SMA yang semakin banyak. Polisi telah meletuskan tiga kali tembakan peringatan, tetap tidak digubris. Sepertinya mereka yakin bahwa polisi tidak akan benar2 menembak mereka. Wartawan yang hanya sekitar 20 orang kewalahan menghadapi ratusan siswa. Wartawan perempuan ketakutan dan menyelamatkan diri. Anak SMA semakin beringas mengejar dan memukuli wartawan. Tak luput salah satu wartawan perempuan dari Trans kena tendangan saat akan memasuki mobil untuk menyelamatkan diri.

Saya tahu, ketika saya ikut berlari maka saya juga tidak akan luput dari kejaran siswa SMA yang jumlahnya ratusan itu. Lalu saya memutuskan untuk tetap berjalan, mencoba untuk setenang mungkin agar tidak dicurigai sebagai wartawan. Saya berjalan sambil memegang HP seperti tidak terjadi apa-apa. Saya menuju ke Blok M Mall untuk mengamankan diri. Saat berjalan, saya dilewati puluhan siswa yang mengejar wartawan. Saya benar-benar tidak mengerti dengan keadaan ini. Siswa SMA sangat beringas seperti melihat musuh dalam sebuah peperangan. Semua wartawan menyelamatkan diri, saya tidak tahu kemana mereka semua.

Setelah saya sampai di Mall, saya balik badan dan melihat lokasi, ternyata lokasi telah sepi. Wartawan sudah tidak terlihat lagi. Lalu muncul rombongan siswa SMA yang saya perkirakan berjumlah ratusan berjalan melewati lokasi. Mereka seperti sekelompok geng yang saya lihat di film-film Mandarin yang akan berperang. Dalam hati saya berkata, mereka masih sempat mensweeping lokasi. Seperti gerombolan anggota geng, bukan siswa SMA.

Lalu, setelah beberapa waktu, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kejadian. Saya berniat menulis lebih lengkap soal insiden di SMA 6 tersebut. Saya searcing tentang insiden di internet, ternyata sudah banyak tulisan maupun akun tweeter yang membahas masalah bentrokan itu. Banyak fakta baru yang saya temukan. Saya baru mengetahui bahwa ada yang melempar mangkuk soto ke arah guru SMA. Saya juga baru tahu bahwa siswa SMA di salah satu akun tweeter menyebut bangga telah bisa membuat bonyok wartawan. Sungguh, itu kejadian ironis dalam dunia pendidikan dan profesi wartawan. Ada lagi yang bilang, anak SMA emosi ketika ada wartawan yang menaiki dinding gerbang. Mereka mengaku tidak terima ketika sekolah mereka 'diinjak-injak'.

Ada pertanyaan besar buat mereka anak SMA, apakah mereka juga tidak bertanya seberapa emosi wartawan ketika profesinya dilecehkan? Bahkan dihalangi dan dikeroyok? Sungguh, betapa amatiran mereka.

Dan untuk wartawan, setidaknya, dapatkah ditempuh jalan yang sopan dan beretika ketika meminta pertanggungjawaban atas suatu insiden? Kita semua emosi, tapi mereka perlu pembelajaran yang baik. Kalau mediasi sudah ditempuh, lantas apakah konfrontasi menjadi pelengkap lain? Semoga kasus ini menjadi pijakan koreksi bagi kedua belah pihak. Terkhusus siswa SMA yang suka tawuran. Ingatlah, perjalanan hidup kalian masih panjang. Banyak rintangan yang lebih berat dari sekadar mengalahkan lawan dalam tawuran. Kebanggaan sejati bukan pada menang atau kalah, tapi bagaimana kekuatan kita berguna untuk masyarakat luas. Bagi bangsa dan negara ini. Kalau kalian masih mengaku generasi penerus bangsa. Pemuda yang bisa dibanggakan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan pendiri bangsa ini.

Saya dan teman-teman wartawan merasa dihina ketika profesi wartawan diinjak-injak seperti itu, begitu juga anak SMA merasa dihina jika dinding gerbang mereka diinjak-injak. Lantas kalau sudah saling memahami, jangan pernah memulai untuk menghina, bahkan merusak dan mengeroyok.
Salam Indonesia untuk Semua!!!

Jumat, 15 April 2011

Monas




Proklamasi

Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain, diselenggarakan, dengan cara dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Idonesia

Seokarno-Hatta


Naskah proklamasi tersebut dibaca Ir. Soekarno. Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dan menandai tonggak lahirnya negara kepulauan bernama Indonesia. Ir. Soekarno kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama, dan Hatta menjadi wakilnya.

Saya mendengar naskah itu langsung dibaca oleh Ir. Soekarno, meskipun hanya lewat rekaman. Pada tanggal 5 Februari 2011 di Monumen Nasional, Monas. Saya tertegun mendengarnya, meskipun tidak melihat sosok Soekarno secara langsung. Terasa ada yang bergetar dalam dada saya. Mungkin karena saya mengingat momentum sejarah dimulainya kisah tentang bangsa Indonesia. Dan saat ini, telah hampir 66 tahun usia Indonesia sejak saat itu.

Monas, menjadi salah satu bangunan penanda yang begitu monumental. Didalamnya, kita dapat melihat diorama perjalanan sejarah bangsa Indonesia—meskipun tak lengkap. Dan yang pasti, ia menjadi tonggak yang tetap kokoh menjadi identitas Indonesia, terutama Jakarta. Biarpun udara Jakarta semakin berpolusi, sinar matahari semakin menyengat, dan sampah bertebaran, Monas seolah menopang Ibukota.

Pada hari itu, saya tak sempat melihat lanskap kota Jakarta dari puncak Monas. Kabarnya, kalau ingin dapat sampai puncak Monas, kita harus datang sebelum jam 9 pagi. Saat itu saya memang datang terlalu siang. Hampir setiap hari, antrian selalu ada untuk naik puncak Monas menggunakan lift. Meskipun tak sempat melihat lanskap Ibukota, saya cukup senang ketika telah mengunjungi Monas.

Monas, menjadi miniatur tonggak berdirinya republik Indonesia, maka tak heran dekat dengan sejarah. Ketika monas dibangun, sejarah mengikutinya menjadi sebuah identitas yang terekam dalam bangunan tegak menjulang dengan puncak yang berlapis emas. Monas, seolah menjadi satu tiang pancang yang mengingatkan kita pada bersatunya berbagai suku, ras dan agama atas nama bangsa Indonesia. Beribu-ribu pulau, berjuta-juta manusia menjadi sebuah identitas satu, negara Indonesia. Dan semuanya, tersimpan rapi dalam sejarah menjelma Monas.

Bagi saya, ketika melihat sejarah seolah mendengarkan kakek bercerita tentang masa lalunya—meskipun hanya dalam khayalan, karena saya tidak pernah mendengar kakek bercerita atau mendongeng. Dari sanalah masa lalu saya, asal muasal saya. Dan dari sanalah saya mengerti siapa saya. Sejarah menjadi dasar identitas yang melekat dalam diri saya. Sebagai orang Indonesia. Maka tidak salah ketika padamu negeri kami berbakti, padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami mengabdi, dan bagimu negeri jiwa raga kami....

Itulah sepenggal tentang Monas yang tak mungkin lengkap.

***


Tanggal 5 februari 2011. Berawal pada ketika pernah berjanji. Maka pada hari itu, tepatnya hari sabtu. Pagi-pagi dada saya telah berdebar-debar. Nanti, saya akan meakukan hal yang bagi saya sungguh dramatis. Darah saya akan diambil. Maka seperti yang telah direncanakan, saya berangkat menemui seseorang. Lalu berangkat menuju sebuh tempat yang sangat asing bagi saya. Palang Merah Indonesia. Letaknya di daerah Senen. Dua kali saya harus ganti busway untuk sampai ke tempat itu.

Saya tidak tahu telah melewati apa saja. Saya seperti orang yang akan disunat kembali—bahkan lebih mengerikan. Ada semacam rasa takut, tapi tidak ada kelegaan setelahnya. Yang dapat saya ingat hanya Monumen Nasional, disebabkan oleh suatu janji juga. Jadi akhirnya sampai juga saya ke PMI. Saya mengambil formulir pendaftaran dengan gugup, lalu mengisi kotak-kotak kosong dengan tulisan sesuai dengan petunjuknya.

Seorang ibu bertanya pada saya, yang lebih saya rasakan seperti sebuah hal yang wajar, apakah itu pertama kalinya saya donor darah. Saya jawab dengan perasaan yang takut, iya.

Lalu, tibalah waktunya jarum ditusukkan di lengan sebalah kiri saya. Rasanya seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya, ada rasa nyeri yang meggesek-gesek daging saya. Bagi saya bukan masalah rasa sakit, tapi lebih pada rasa geli dan nyeri yang mungkin saya takutkan karena merasa ada benda asing dalam tubuh saya.

Itulah pertama kali saya mendonorkan darah. Sebelumnya, tak pernah ada keinginan sama sekali untuk donor darah. Alasannya bukan karena rasa sakit, tapi semacam rasa geli dan terganggu dengan benda atau semacamnya yang menempel di kulit dan menghisap darah saya. Saya persembahkan donor darah itu pada seseorang yang sangat berarti bagi saya. Donor darah itu akan jadi sebuah pemberian paling istimewa untuk hari yang istimewa buatnya.

Hari itu, bukan hanya jadi hari istimewa untuknya, tetap juga untuk saya. Alasan sebuah janji juga akhirnya dia menemani saya berkunjung ke Monas. Sejak sebelum menginjakkan kaki di Ibukota saya memang telah berniat untuk mengunjungi Monas. Saya ingin menikmati sensasi mengingat sejarah tentang Indonesia. Lalu juga kenyamanan bersama orang yang menemani saya.

Kami berfoto, jalan-jalan, mendengarkan Presiden Soekarno membaca naskah proklamasi, dan makan bersama. Benar-benar hari yang istimewa untuk kami. Tapi masih belum lengkap.suatau hari nanti, kesemuanya itu akan lengkap, dan kami akan benar-benar merasa sempurna seutuhnya menikmati hari yang istimewa. Seperti hari itu. Iyakan? Na....


2011
Agus Raharjo

Rabu, 30 Maret 2011

Surat untuk Cinta #7: ‘Dari Ayah untuk Bunda’

Selamat bertemu kembali, Cinta…
Dan selamat datang untuk hidup baru bersama…

Semoga hari-harimu yang lalu tak seperti hari ini yang terasa murung. Hari ini, menjadi hari yang sedikit ganjil. Hari yang harusnya membuka kisah kita dengan kalimat-kalimat gembira, justru mendung menahannya menjadi kata-kata gelisah. Untuk satu waktu yang kita selami maknanya—setelah bersama. Pada ruang yang kita coba urai maknanya—seusai merapat. Kalau kata Dee,”karena ada jarak kita mendekat”. Itulah kita saat ini, Cinta…

Kita yang telah lama memendam duka, kita yang semakin rajin memilin kisah dengan diam-diam. Akhirnya apa yang kita harap datang, akan datang sebagai anugerah paling indah bagi kedua kita. Jangan lupa kita pernah membuka waktu secara perlahan, dan sabar. Kita sesekali menggeser jarak dalam ruang, hingga akhirnya aku panggil kau, Cinta…

Cinta…
Apakah hari ini kau masih merinduiku? Seolah bertanya apakah kita menjadi manusia biasa yang akan lelah dan menjadi bosan? Bosan pada cerita-cerita indah yang makin lama menjadi hal biasa. Bosan pada kata-kata mesra yang akhirnya menjadi kalimat berakhiran titik saja. Atau bosan pada ungkapan cinta yang bagimu hanyalah suara tak mesra? Jika mulai lelah, dekapkan dirimu pada pelukanku, sandarkan hatimu pada cerita tentang betapa beratnya jalan yang pernah kita lalui. Aku bukan malam, dan kau bukan siang yang tak akan pernah bertemu. Kau juga bukan bintang, sedang aku bukan bulan, yang mengenal waktu menemanimu.

Cinta…
Jika memikirkannya, aku tahu hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaanku padamu. Bukan hanya kecil, hatiku hanya ada satu, dan itu telah kutitipkan padamu. Maka jagalah ia selayaknya kau jaga hatimu sendiri. Aku telah berpaut denganmu, kau telah mengikat denganku. Tak lebih jika sebentar lagi kita bernama ‘ayah dan bunda’. Kedua kata itu seakan mengusik keadaan yang paling nyaman untuk minta didengarkan. Akan ada ayah bagi lahirnya idealisme yang tak akan mati. Juga bunda untuk melindungi segala yang kau kandung.

Mari, Cinta…atau mari bunda… kita lahirkan kisah-kisah yang terkenang sepanjang sejarah. Kita bangun impian dengan penerus-penerus yang mampu berpikir, bertindak dan tak lupa berdoa. Ia adalah benih, yang lahir dari getirnya laju waktu membuktikan cinta, maka tiupkan nafas hidup bagi sesamanya. Ia adalah awal dari kisah sejarah tentang kita. Maka bahagialah kita dalam masa yang tak akan kita lupa.

Bunda…
Ah, sapaan itu terasa membuatku nyeri. Begitu lembut dan sarat melankoli. Ada ruang-ruang manja yang mengisinya. Apakah kau suka dengan itu? Panggilan yang bagitu, ternyata membuktikan tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar cinta. Karena dia melahirkan buah dari cinta. Sedang cinta hanya menjelma tindakan.

Bunda, hari ini kau terlihat begitu cantik—meskipun biasanya memang kau cantik. Tapi hari ini, setelah masa yang sudah lalu, kau membuatku merasa menjadi seorang ayah yang tak lagi mencerna frasa-frasa duka. Ayah yang tak lagi mengungkit bait-bait sakit. Terkadang juga harus berbisik lirih pada perih. Ayah telah menjadi seorang yang siap untuk membaca kisah yang akan jadi sejarah. Karena ada jarak kita mendekat…

Bunda… kau adalah jelmaan Cinta dari segala cinta yang kupunya, aku adalah puisi sebagai hadiah keberadaanmu. Semoga selalu jadi puisi paling indah untukmu, juga buah cinta yang akan ikut meramaikan dunia. Aku sadar adanya sabda bahwa lahirku memang untukmu. Karena aku sayang kau, Cinta.
Terlebih, aku cinta kau, Bunda…


31 Maret 2011
Agus Raharjo

Senin, 28 Februari 2011

Maaf, dan Selamat Jalan!

Pada suatu waktu, rumah saya kedatangan ‘keluarga’ baru. Dua ekor. Satu warnanya hitam dengan sedikit corak coklat, dan satu lagi warna putih dengan totol warna hitam. Sosok itu tak lain adalah dua ekor anjing. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata keluarga bukan tanpa sebab. Saya ingin memberi tekanan pada kata itu. Alasannya adalah waktu itu, saya terpaksa menerima kehadiran dua anggota keluarga baru itu.

Saya memang terpaksa menerima kedatangan dua anggota keluarga baru itu, dengan beberapa alasan. Yang pertama, jelas, saya sebagai seorang muslim menghindari berinteraksi dengan anjing, karena air liur dari anjing yang dapat menyebabkan najis. Karena sepengetahuan saya, air liur anjing mengandung bakteri yang berbahaya bagi manusia. Meskipun itu hanya alasan logis yang belum dapat saya terima sepenuhnya, karena kita juga tidak mengharamkan air liur Komodo yang nyata-nyata banyak sekali kandungan bakterinya. Akan tetapi alasan keyakinanlah yang lebih besar.

Alasan kedua adalah, saya meragukan nasib dua anjing yang datang kerumah itu. Akan seperti apa nantinya mereka kedepannya. Dan catatan saya ini, adalah arah dari nasib kedua keluarga baru tersebut. Kisahnya seperti ini:

Dari kedua anjing itu, sebut saja yang jantan namanya Kampret, dan betina saya panggil Pini. Pini telah melahirkan anak kecil-kecil yang lucu-lucu. dari 4 anaknya, 2 diminta oleh saudara, jadi hanya tinggal 2 di rumah. Yang satu warnanya seperti Kampret, dan yang satu seperti Pini. Dari dua anak anjing ini, yang mirip Pini waktu kecil menderita lumpuh. Dia tidak bisa lari-lari seperti saudaranya. Saya merasa iba padanya, maka ketika saya dirumah, saya yang biasa memberi makan dan menemaninya. Hal itu terjadi sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari lagi.

Ketika dia bisa berlari-lari, saudaranya yang mirip dengan Kampret telah pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Maka kami menyebutnya ‘hilang’. Alhasil, hanya tinggal tiga ekor. Beberapa waktu setelah anak anjing itu ‘hilang’, ternyata Kampret juga dinyatakan hilang, karena keluar tapi tak pernah kembali pulang. Pada akhirnya tinggalah dua anjing yang memiliki warna dan kesetiaan yang begitu hebat. Karena dua anjing ini ternyata yang selalu kembali ketika letih keluar.

Pini dan anaknya, saya kira tipe-tipe anjing pemburu. Saya melihat tipikal dari posturnya yang kecil kurus, tapi gesit dan kebiasaan anjing itu yang suka membawa ayam mati ketika pulang dari keluar. Terlebih Pini. Saya tidak heran karena pernah melihat anjing yang tipikalnya sama dengan anjing itu di acara televisi yang digunakan untuk berburu babi hutan.

Entah mengapa kedua anjing ini juga sangat setia, terlebih anaknya Pini, terhadap saya. Bisa jadi dia masih mengingat bahwa yang merawatnya di waktu lumpuh adalah saya. Namun, catatan ini adalah ungkapan maaf yang mungkin tak akan pernah sampai. Saya begitu bodoh dan mungkin lebih hida dari dia. Saya tak akan marah, kalau dikatakan seperti itu. Ketika mengingat kejadian di suatu pagi itupun saya merasa menyesal dan selalu ingin menangis.

Pada pagi itu, ketika saya pulang dari Jakarta, saya mendengar bahwa Pini dan anaknya akan dijual. Sebelumnya saya sempat tidak percaya, akan tetapi hal itu ternyata kabar yang benar-benar terjadi. Pagi itu, datanglah seorang yang bernama Jenal. Laki-laki itu mungkin masih jadi satu-satunya penjual sate anjing di daerah saya. Lalu tawar menawar tentang harga dimulai. Saat itulah, saya benar-benar ingin marah dan ingin memaki orang-orang yang ada dirumah. Ketika saya tanya, kenapa anjingnya mau dijual, alasannya sungguh tidak bijaksana sama sekali. “Karena anjingnya suka menerkam ayam!”

Sungguh, siapa sebenarnya yang tidak bermoral? Anjing yang berkelakuan sesuai naluri atau manusia yang menuntut anjing berkelakuan seperti manusia?! Bagi saya sungguh tidak bijak ketika menuduh seekor anjing ‘cluthak’ ketika menerkam ayam. Karena justru itulah naluri dasarnya sebagai seekor anjing pemakan daging!

Waktu itu, anaknya Pini yang akhirnya disepakati dijual. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih ketika itu, yang saya lakukan sesegera mungkin adalah pergi dari rumah. Saat itu saya piker apa yang dilakukan orang-orang di rumah saya sungguh keterlaluan. Kesetiaan dibayar dengan pengkhianatan. Itulah yang ada dalam kepala saya. Rasanya saya tidak ingin kembali lagi kerumah itu, atau pulang.

Pada saat anaknya Pini—saya sebut Pini kecil—akan ditangkap, orang-orang rumah kesulitan. Pini kecil selalu mendekat ke saya. Lalu ibu saya yang waktu itu juga ingin menangkapnya memerintahkan saya untuk menangkapnya. Saya, yang saat itu menahan air mata, menjawab dengan kata “Rasudi!” yang memang kasar. Tapi, itu adalah ungkapan emosi saya atas apa yang terjadi. Setelah itu saya yang rencananya akan ke Solo siang, saat itu juga berangkat ke Solo. Saya tidak sanggup katika harus melihat apa yang akan terjadi dnegan Pini Kecil. Karena saya membayangkan Pini Kecil akan dibunuh dengan cara yang paling biadab, seperti oaring membunuh anjing pada umumnya untuk dijadikan sate.

Untuk Pini Kecil, maaf saya juga menjadi seorang pengkhianat karena tidak bisa menolongmu. Saya benar-benar menyesal tidak bisa menolongmu. Ketika mengingatmu, saya teringat dengan sebuah cerpen karya Martin Aleida, “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”. Sebuah contoh manusia bisa lebih rakus dan biadab dari seekor anjing. Sama seperti apa yang dikatakan Martin Aleida, “Mati Baik-baik, Kawan!”

Maaf, dan selamat jalan!

27 februari 2011
agus raharjo

Minggu, 23 Mei 2010

Surat Untuk Cinta #6

Cinta,,
Apa yang harus kukatakan, jika engkau telah memenuhi warna hidup ini? Jika kuhirup udara pagi nan sejuk, terasa bagaikan embun di pucuk daun. Hampir jatuh dan terlepas bersama tetes resah mencium tanah. Lalu tanah telah basah akan doa dan keinginan. Menjalar, menyusup, dan membelai lembut akar-akar hidup. Dan kembali untuk menggapai bunga dan daun nafasku.

Sapalah aku cinta.
Dengan merdu langkah-langkah anggun menuju tanah terang. Sapalah aku dengan suara dari ayat-ayat hayat. Akan kudengar setiap katamu bagaikan intonasi dan nada berharmoni tinggi. Akan kucerna bait demi bait suara yang menggemakan hatimu. Hingga kurasakan setiap tarikan nafasmu adalah obat dari segala rindu. Dia adalah penawar, dia adalah racun, dia adalah cinta.

Sapalah aku ketika bulan merasa menang dari mentari. Di setiap cahaya jingga parasnya, meski disekeliling kita adalah malam tergelap. Akulah cahayamu, atau kamulah cahayaku. Dan katakanlah bahwa kita saling merindu kepada bulan. Agar dia tak lagi angkuh menjadi cahaya yang sementara pada gelap kita. Sapalah aku, Cinta.
Cinta, tidakkah kau lihat kita tengah dipermainkan. Bagaikan boneka aku pasrah, bagaikan boneka kau selalu tersenyum. Kita menjadi lautan yang tak lagi diterka dalamnya. Dengan lantunan syair biru langitnya. Apakah kau malu pada pandangannya? Apakah kau takut kata tak setia? Namaku hanyalah nama. Sebab aku dipanggil oleh mereka. Tapi bukan namaku yang datang meminta cintamu. Jikapun namaku lain, aku tetap menjadi aku. Aku tetap yang mengurai makna keberadaanmu. Aku tetap mencintaimu. Cintaku hanya untuk Cinta. Untukmu.

Cinta,
Disini aku seperti hidup dalam kepingan kisah yang tak utuh. Ada bayangmu yang mengintai sejak senja menemukanku dalam airmata kehilangan. Kau jauh. Jauh dalam tapal imaji yang menggoda. Yang dibalik bukit kukira aku menemukan cakrawala. Tapi kau selalu ada dibatas malam. Ketika sabda Sang Esa terasa mendekat di telinga. Memanggil, memanggilku untuk takluk pada rayuan pagi yang melankoli. Hari esok yang terdengar lain dari saat ada kau.

Aku menghitung detik-detik yang berganti. Menandai bahwa kau terlalu lama bersembunyi. Adakah kau merasa bahwa kita seharusnya terbuka? Karena ada hal lain dari sekadar untuk bertahan hidup. Ada sosok yang muncul tenggelam diruang ego kita. Apakah cinta mendengarku? Apakah kau mau menyapaku?

Aku tubuh dari derita semesta. Aku jiwa yang tertahan dunia. Apakah masih sama seperti impian berujud kata? Kata serupa mengganti frasa puitis. Kau adalah senja selamanya. Rawan, resah, melankoli, tapi tak mampu ku menolak cinta. Bibirmu memberi alunan setiap kata terdengar tak semestinya. Bagai sabda ratu menawan pencari hati. Melintang, dalam garis jelas penjaraku. matamu, hidungmu, rambutmu, dan semua tentangmu terlukis pada dewi keindahan. Aku takluk, aku tunduk, bersama bait-bait pembawa kabar gembira. Tentang kita yang semakin merasa dekat. Meski kau tak mendengarku. Meski ku tak melihatmu.

Cinta, aku ingin mengirim puisi terindah padamu. Puisi yang bukan aku penulisnya. Penulisnya berkata,”Berikanlah puisi terindah pada cinta terindah. Serahkanlah puisi teranggun pada cinta yang terpilih. Karena puisi ini hanya untuk dia yang berhak. Puisi ini lebih indah dari semua yang pernah ditulis. Karena puisi ini adalah kau! Maka serahkan jiwamu pada dia yang mampu membimbingmu! Dia bukan pencari dunia, tapi dia menyusun setiap keping pasir menjadi istana di surga. Dia adalah cinta yang akan abadi. Maka berikanlah puisiKu padanya!”

Cinta, itulah kau. Yang tengah menyusun pasir-pasir kebijaksaan hingga menjelma istana di negeri sana. Aku ingin menyerahkan puisi terindah itu. Karena kau adalah cinta. Karena kau memang patut dipuja.

Maka, berikanlah aku sapa. Agar aku menjelma puisi seindah lantunan ayat-ayat hayat!

Klaten, 22 Mei 2010
Agus Raharjo

Mei: Setangkai bunga Morishcha yang Indah

Pada kisah Mei selanjutnya, saya ingin bercerita tentang sebuah imajinasi yang banal. Kisah ini bisa jadi akan selalu mengingatkan saya dengan bulan yang paling sedikit hurufnya, namun banyak cerita yang lahir di dalamnya. Ini tentang sebuah bunga, yang anggap saja kita mengenalnya seperti kita mengenal anggrek maupun melati—saya lebih menyukai anggrek. Terlebih anggrek putih yang meskipun tergolong murah, namun baunya sangat wangi. Ini kisah tentang setangkai bunga yang bisa kita gambar dalam imajinasi kita. Kisah tentang ‘setangkai bunga Morishcha’.

Setangkai bunga Morishcha, adalah setangkai bunga yang pernah saya dengar baru sekali. Entah nama latin untuk bunga apa atau nama bunga dari bahasa mana, saya tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah merasa kehilangan bunga itu pada bulan Mei, tahun lalu. Nama bunga itu untuk pertama kali saya dengar dari seseorang yang pernah diberitahu oleh seseorang yang dahulu adalah penari.

Kisah perkenalan saya dengan bunga Morishcha adalah sebuah kesengajaan yang tidak disengaja. Jauh sebelum saya mengenal bunga itu, jauh dalam imajinasi saya telah melukis sesosok bunga yang membuat saya merasa terkesan. Bunga itu, saya gambarkan sebagai bunga yang menyimpan misteri dalam keangkuhannya. Aura yang terpancar dari anggun warnanya membuat seseorang yang melihatnya akan tertawan jiwanya. Dari dasar imajinasinya segera menjelma sebuah misteri yang tak terjangkau dalamnya. Dan bunga itulah yang senantiasa membuat saya merasa ikut menjadi seorang yang angkuh.

Dan untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya menemukan sosok bunga itu hanya dalam setangkai bunga Morishcha. Hanya setangkai. Karena memang bunga ini mekar tidak bersama-sama, hanya setangkai saja. Maka, itulah yang menarik. Bunga ini menjadi setangkai bunga yang anggun dan menawan. Keindahannya terletak pada satu tangkainya. Jika bunga ini menguncup pada tangkai yang banyak, maka keindahan itu akan sama saja dengan bunga-bunga yang lain. Maka, inilah bait-bait perpisahanku dengan setangkai bunga itu.

Pada bulan ini satu tahun yang lalu, saya dengan bunga Morishcha juga gambaran keindahannya mengarungi suatu masa ketika pada suatu malam kita kembali ke jaman Majapahit. Saat itu, kita dengan damai memasuki wilayah Majapahit yang tengah terjadi huru-hara. Sampai akhirnya kita bertemu dengan sosok yang penuh karismatik Pangeran Banjaransari—orang yang erat hubungannya dengan lahirnya nama Sukoharjo. Saya, bersama setangkai Morishcha, menjadi saksi betapa dengan gagahnya, pangeran yang berguru pada Sunan Kalijaga ini membantu rakyat alas Taruwongso keluar dari masa paceklik yang telah lama dialaminya. Meskipun hanya kisah yang pendek, namun saya memahami, begitu dekatnya saya, bunga Morishcha, dan Pangeran Banjaransari waktu itu.

Namun, seperti halnya saya kehilangan Pangeran Banjaransari yang hanya dapat saya kenang melalui makamnya di Tamansari, Sukoharjo, sayapun merasa kehilangan bunga Morishcha dan hanya dapat mengenangnya melalui nisan yang tertancap dalam hati saya. Kisah itu begitu singkat, namun penuh liku. Dari sana, ada keberanian, ketakutan, kegelisahan, ketenangan, rasa pasrah, cemburu, tawa, tangis, dan kebijaksanaan serta ketololan. Hanya dari setangkai itu, telah lahir kisah yang selalu dapat saya ingat. Mungkin juga tidak akan pernah saya lupakan.

Jikapun ada sesal, sesal itu tak akan merubah apa-apa. Bunga itu telah hanyut dalam tangkainya entah pada imajinasi siapa. Saya masih dapat mengingatnya dengan jelas, ketika hujan menandai betapa kita saling membutuhkan. Hujan memberiku airmatanya, dan hujan mengantarkannya padaku sebagai setangkai bunga yang menakjubkan. Angkuh, anggun, namun menyimpan misteri yang menawan.

Jika saya masih mempunyai kesempatan untuk membelai bunga itu lagi, saya ingin menyimpannya erat-erat dalam hati dan kutanam agar benih yang angkuh itu merebak dengan wangi didalam imajinasi. Akan kusiram tanah yang merekah menerimanya sebagai bunga abadi nan puitis. Setidaknya akan kujelmakan ia dengan bahasa yang santun. Tapi pada bulan Mei itu, saya harus merelakannya tercabut dari akar imajinasi saya. Dan mungkin saya masih ingin mengirimkan puisi ini untuk mengingatnya.

Dalam rawan kelopakmu
Kutemukan sabda ratu keindahan
Meskipun angkuh, titahmu pernah menawanku
Dan pada bait sepi, tertulis lirik-lirik sedih
Aku telah kehilangan,
Sebuah melankoli kokohnya setangkaimu
Dari kata menjelma rupa, mewujud frasa takdirku
Pergimu, kuharap bukan tanda baca nihilmu
Aku lelap, dalam hujan yang membelaiku
Pada bau tanah basah,
Mengingatmu merindukan tanah merekah
Tempat disemainya bulir-bulir keanggunan
Setangkai bunga menjelma cinta, Morishcha.

(RA: ‘Setangkai Bunga Morishcha yang Indah’)

Solo, 21 Mei 2010 (02.45)
Agus Raharjo

Mei: Kisah 1

Hari ini, tanggal 12 Mei 2010, pada malam hari, jam menunjuk pukul 23.38, ketika mendengar lantunan nasyid, saya seperti memutar sebuah mesin waktu untuk kembali pada Mei tahun yang lalu. Atau bahkan pada hari, bulan, dan tahun yang lebuh lalu. Ini bukan cerita tentang peristiwa 12 Mei yang menjadi tonggak kepahlawanan mahasiswa menggulingkan rezim Orba. Yang tadi siang ketika saya lihat di televisi, tengah dilangsungkan upacara peringatan gugurnya mahasiswa Trisakti pada 12 Mei, 12 tahun yang lalu. Tapi ini adalah cerita yang mungkin saja tak layak untuk diceritakan pada orang banyak. Tapi kelak, saya ingin menulisnya lebih lengkap. Minimal untuk saya kenang sendiri.

Ketika saya mendengarkan lantunan lagu berlirik Islami, saya teringat dengan teman-teman saya dulu. Teman-teman yang ikut andil dalam proses mencari siapa diri ini. Teman-teman yang senantiasa kuingat dengan kerinduan yang sungguh. Teman-teman yang membantuku untuk mengenalkan nuansa Islami yang bisa jadi saya dambakan sejak dulu. Karena baru ketika saya menginjakkan kaki di kampus tercinta ini, saya benar-benar baru mulai mengenal sebuah keyakinan yang seharusnya sejak kecil saya yakini. Entah kenapa, ketika saya mendengarkan lagu nasyid, ingatan saya membawa pada memori tentang banyak hal. Perihal yang dalam hati kecil sangat saya rindukan, keberadaan dan peristiwanya. Seolah saya ingin mengulang peristiwa itu berkali-kali.
Ingatan saya pertama tertuju pada sebuah peristiwa ketika saat itu saya yang berada di masjid Nurul Huda, mengambil keputusan untuk ikut FRAKSI (saat itu dengan keterlaluan niat saya hanya pada sisi ekonomi, yaitu dengan duit 10 ribu, saya bisa hidup tiga hari dan nambah ilmu). Tapi dari kegiatan itu, saya dapat menitikkan airmata, ketika saya dan teman-teman melihat sebuah film dokumenter tentang kekerasan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina. Saya melihat adanya ketidakadilan dan kekejaman disana.

Peristiwa kedua adalah peristiwa yang nantinya akan melatih saya bertanggungjawab pada orang lain. Yaitu ketika malam-malam, saya dan sepuluh orang teman saya ada di hik di gerbang belakang kampus UNS. Saat itu, sebelas orang beserta saya ketika itu tengah mendiskusikan pembentukan sebuah forum yang dapat mempererat hubungan persaudaraan kita, dan teman-teman muslim angkatan 2004 di Fisip. Maka malam itu, lahirlah FORMMAT (Forum Mahasiswa Muslim Dua Ribu Empat), dan saya ditunjuk sebagai koordinatornya. Maka setelah itu, ketika kita diskusikan dengan perwakilan muslimah di Fisip, maka lahirnlah FORSA (Formmat+Sahabat). Sahabat adalah forum dari muslimah atau akhwat 2004.

Maka sejak saat itulah saya seperti mempunyai tanggungjawab lebih pada keberlangsungan forum ini. Walaupun hingga sekarang ini, saya merasa tidak bisa sepenuhnya memenuhi semua beban itu. Terlebih ketika saya berada di penghujung masa kuliah sekarang ini. Saya pun tidak mengetahui, apa yang ada di pikiran teman-teman saya sekarang tentang FORSA. Saya masih ingin mempertahankan teman-teman dan forum ini, sampai kelak saya tak lagi mengenal mereka dalam kematian.

Lalu, banyak peristiwa silih berganti datang, baik suka maupun duka. Tentang lika-liku saya ada di Lembaga Kegiatan Islam, tentang saya yang masuk dalam barisan perjuangan politik BEM FISIP, atau tentang cerita-cerita saat saya harus ikut syuro’. Ah, cerita itu sungguh sangat indah untuk dikenang. Saya selalu dapat mengenang itu, karena saat itu meskipun saya harus berjalan tidak dekat untuk mencapai tempat syuro, tapi saya selalu menyukainya. Dalam hati saya selalu berpikir, suatu saat, apa yang saya lakukan itu akan membawa kebaikan pada diri saya. Dan apa yang ingin saya perjuangkan bukan menjadi sebuah hal yang sia-sia. Saya yakin itu. Dan tanpa terasa saya ada di BEM FISIP selama tiga tahun berturut-turut. Dari tahun pertama saya jadi staf Sosial Mayarakat, staf POSDM (karena menterinya Mbak Tika menikah 3 bulan sebelum kepengurusan habis, maka ditahun itu juga saya menggantikannya sebgai Menteri POSDM), lalu benar-benar menjadi menteri POSDM di FISIP. Tahun pertama ikut BEM saya tenang-tenang saja dan terbuka bahwa saya ikut BEM. Tapi untuk tahun kedua dan seterusnya nanti saya tidak memberitahukan hal itu pada keluarga. Saya hanya ingin menjalani apa yang menjadi keinginan saya, meskipun hal itu membuat saya tidak tenang dan merasa was-was.

Lalu tahun keempat, karena suatu hal (Menteri sebenarnya mengalami musibah), maka saya diminta bergabung dalam barisan BEM UNS sebagai Menteri PSDM (menggantikan menteri yang kena musibah), yang niatnya sementara akhirnya sampai pada penghujung kepengurusan. Saya tidak pernah menyesali kalau saya hanya menjadi pengganti saja. Mungkin dengan begitulah Allah membuat jalan yang memang harus saya lalui. Karena dari sanalah, saya mengenal orang-orang hebat dengan idealisme yang hebat pula (walaupun sekarang saya tidak tahu pasti apakah idealisme itu masih ada pada mereka. Semoga masih!).

Dan lagu nasyid itulah yang membuat saya menjadi teringat dengan mereka semua. Ada satu lagu yang hingga saat ini membuatku bertahan pada satu ingatan yang kuat dan membuat saya selalu ingin menangis ketika mendengarnya. Lagu itu, pertama kali saya dengar adalah di tahun kedua kuliah (yang saat itu saya belum berminat untuk mendengar lagu nasyid), tapi dua tahun setelah itu baru saya tahu judul dan belajar menyanyikannya. Lagu itu judulnya “Ainaul Mardiyah”. Ah, kalau saya mendengarnya, rasanya saya ingin menitikkan airmata. Mengingatkan saya pada yang hingga kini masih tak pernah pergi dari ingatan. Perihal itulah yang membuat saya hingga sekarang merasa punya penopang ketika jatuh, dan memberi embun ketika ada gersang. Saya ingin dapat mengingat hal ini selamanya. Bahkan mungkin dalam kematian.

Terima kasih telah membuatku seperti ini. Terima kasih untuk semua kejujuran, kelembutan, kekerasan jiwa, keteguhan prinsip, senyuman, amarah, kedewasaan, kekanak-kanakan, dan semua yang sangat pantas untuk dikenang. Suatu saat nanti, saya ingin kita semua berkumpul dalam setiap kenangan yang pernah kita buat bersama. FORSA, LKI FISIP, POSDM BEM FISIP, PSDM BEM UNS, dan semuanya. Saya benar-benar merindukan kalian.

Sekadar melantukan tulisan ini tadi malam, di pagi hari, seusai sholat shubuh dan menekuri ayat-ayat suci, rasanya saya ingin mengirimkan puisi untuk kalian. Meskipun tidak seindah lantunan kata Sapardi, atau semistis Chairil, setidaknya saya menuliskan kata-kata ini dengan goresan sedih yang kelam.

Ingatanku padamu,
Bukan pada akhir perjalanan kita
Yang kini semakin kita resapi sabdaNYA,
Tapi pada perjalanan itu sendiri, yang ada percakapan kita
Mungkin kita berada di ruang berbeda
Lagu dan baju jirah yang berlainan
Tapi kita ada dirumah yang sama
Tempat meneduh dan menyulam mimpi
Menikmati dari lelap yang angkuh,
Selepas peperangan dalam medan nafsu dan keyakinan.
Ingatan itu,
Membuat kita saling kenang
Pernah pada ketika sering berjabat tangan,
Dan senyum seusai salam
Kemudian ayat-ayat yang kita lantunkan
Adalah embun di padang gersang
Ah…betapa indah ingatan itu,
Betapa patut untuk dikenang.


Solo, 12-13 Mei 2010
Agus Raharjo

Minggu, 28 Februari 2010

Bulevard

Pada suatu pagi yang mendung, saya berkesempatan menikmati Bulevard dengan agak bingung. Setelah hampir enam tahun saya ikut menjejaki Universitas hijau Sebelas Maret, ini kali kedua saya menengok gerbang utamanya pada hari minggu. Saya tak tahu mengapa bukan sejak dulu saya sering menikmati keramaian minggu pagi Boulevard.

Kalaupun lewat, tak terhitung lagi saya melakukannya. Bahkan saya ingat, saya pernah ikut aksi disana, juga pernah saya dan teman-teman BEM aksi ulang untuk meminta maaf pada wartawan. Teman saya itu—Presiden BEM UNS waktu itu—telah mengeluarkan statemen yang melukai profesi wartawan. Saya sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu, karena saat itu saya memang telat datang. Meskipun begitu, saya juga tetap mendampingi teman-teman untuk aksi “permohonan maaf dan pencabutan statemen.” Pada waktu itu, saya sangat menyayangkan statemen rekan saya itu. Tapi, kesalahan sekali tidak akan membuat segala kebaikan dan pengorbanan menguap begitu saja. Itulah yang dapat saya pahami.

Saya telah mengenalnya sejak masih di bangku SMP, dan saya tahu siapa dia bukan dari interaksi kita, tapi malah pada apa yang terpancar dari komunikasi tak verbal kami. Namun, saya tak menyesali untuk ikut aksi ulang bersama teman-teman. Saya merasa, saya harus selalu membersamai orang-orang yang saya tahu hidupnya untuk memikirkan orang lain tersebut. Dan keyakinan saya tak akan luntur dengan statement itu, terlebih saya juga menganggap diri sebagai calon wartawan. Saya bertekad akan selalu ada diantara mereka, dengan atau tanpa kehadiran fisik saya. Karena kita punya tujuan sama.

Di bulevard, saya selalu mengingatnya sebagai sebuah janji. Janji bertemu juga janji menanti. Ah, tempat itu menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi saya mengingat teman-teman saya. Saya ingat, ketika pada suatu waktu, saya dan teman-teman saat hendak bepergian kemana saja, Bulevard menjadi satu tujuan untuk kita saling menanti. Dari sanalah saya memahami, bahwa menunggu itu terasa lebih indah ketika saya tahu janji memang selalu terpenuhi.

Di pagi itu, bukan seperti pagi-pagi sebelumnya. Mungkin juga tak akan pernah ada minggu pagi yang akan sama. Akan ada perpisahan, meskipun bukan perpisahan otentik. Pada malam sebelumnya, saya tahu bahwa sekarang saya sangat merasa kehilangan teman-teman. Semua, telah meninggalkan Bulevard dan menatap dunia luar. Maka malam sebelumnya itu, saya memberanikan diri untuk sekadar melihat seseorang yang masih mau menemani saya. Dalam kasus ini, apa yang saya lakukan adalah sebuah hal yang memang tak seharusnya dilakukan, meskipun hanya sekadar bertemu dan melihat saja. Tapi, hal itu memang saya lakukan, bukan karena saya berniat melanggar sesuatu, tapi lebih pada saya yang merasa sendirian dan membutuhkan uluran semangat.

Dengan seseorang itu, menjadikan saya sebagai manusia seutuhnya. Darinya, saya merasa bukan hanya menjadi seonggok tubuh yang terlalu pasrah pada alur sang nasib, tapi dengannya saya ingin mengatur nasib sendiri, bahkan kalau dikabulkan, saya ingin membantu nasib-nasib orang lain. Dengannya, semalam, saya hanya melihatnya sekilas—tidak berani memandangnya. Hanya sekilas, namun saya mampu merekam keberadaannya. Saya ingat gaya bicaranya, khas suaranya, juga gelora semangatnya. Meskipun malam itu gerimis membuat kisah pertemuan sebentar kami seolah murung. Tapi sebuah nada gembira justru terucap pada senandung kebersamaan kami.

Dan Bulevard, menjadi lambang pagi atas perpisanan sementara kami. Ada janji yang masih harus dipenuhi. Dan penantian yang tertera pada lambang gerbang pertemuan dimana semua kenangan terjalin seperti mimpi-mimpi. Mimpi ini masih belum sempurna, kenangan ini masih tak lengkap, sama seperti janji itu sendiri. Seseorang itu menjadi satu dari semua yang menyimpan diri dari kenangan saya mengawali perpisahan dengan Bulevard. Ada pohon menjulang menopang segala kisah di bait-baitnya. Ada nama tertera pada pangkal gerbangnya, itu penanda. Dan Bulevard selalu menyimpan kenangannya sendiri. Bagi kisah yang pernah melewatinya, juga singgah di kedalamannya.

Pagi itu, kuingat hari sebagai hari minggu, dan di penanda waktuku tertera tanggal 31 Januari 2010.

28 Februari 2010
Agus Raharjo

Kamis, 18 Februari 2010

Surat Untuk Cinta #5

Dengan hati dan seluruh jiwaku,
Kuturutkan menyertai kegelisahanmu,
Bukan untuk memperingati hari kasih sayang…
Hari ini!
Tapi inilah sebuah kisah sedih.


Bagaimanakah adanya Cinta hari ini? Apakah hari yang serasa pilu ini juga membuatmu tertambat pada sedih yang mendung tawarkan? Atau langit memang sengaja membawa kegelisahanmu agar tampak dimataku dari tanda hujan?! Aku memang tak pernah merasa bisa untuk mengenyahkan gelisahmu seutuhnya. Tapi ingatlah bahwa aku juga tak akan pernah berhenti untuk mencoba melakukannya. Sampai nafas terakhir.

Cinta… Ada sesuatu yang tak selamanya dipandang dari satu pandangan saja, bahkan mungkin untuk kesemuanya barangkali. Aku juga tak tahu, apa memang begitu adanya. Yang pasti ada keyakinan ketika kita menjadi makhluk kritis saja kita bisa mencari kebenaran yang hakiki. Bukankah akal digunakan untuk hal itu?

Hari kemarin, hari ini, juga hari esok adalah hari-hari yang seterusnya tetap berjalan seperti ini. Inilah hidup. Inilah kehidupan. Dan inilah putaran nasib yang selalu sigap memeluk keseluruhan kita. Kita hanya berusaha untuk bertahan darinya saat kita ada di bawah, dan kita harus ingat pada keyakinan kita, ketika kita ada di atas. Itulah bertahan hidup.

Cinta… kegelisahanmu adalah bagian dari kesedihanku. Dan sepertinya hujan senang mengirim rintik tangisnya menyertaiku. Ah, hujan, kenapa lagi kau menjelma pada nyanyian sedih seorang yang selalu ada di hidupku?!

Kau tau? Hal yang membuatku sering bersedih adalah ketika seseorang membutuhkanku, dan aku tidak bisa memenuhinya. Aku tidak ingin menjadi seorang yang seperti itu!! Aku benci! Sangat membenci keadaan seperti itu!! Rasanya seolah hidupku adalah sesuatu yang tak ada nilainya. Menjadi orang yang tak berguna itu sungguh memuakkan. Mungkin inilah alasan aku tidak pernah benar-benar menyukai diriku sendiri. Terkadang memang harus seperti itulah badan ini diperlakukan. Agar ia terbiasa dengan sakit yang dirasakan badan-badan yang lain. Agar ia tahu rasanya sedih dari kesedihan yang lain.

Tubuhku ini hanyalah alat. Hanyalah tulang yang dibalut daging dan dialiri darah. Darinya, seharusnya aku mampu untuk menjadi sesuatu yang kuat memikul kesedihan dan beban orang lain. Dengan pikirannya, harusnya aku dapar mencarikan pemecahan dari semua permasalahan. Tapi yang terjadi, justru badan ini hanyalah seonggok tulang dibungkus daging yang terlalu tak berguna. Masih ikut larut memikirkan hal-hal remeh yang tak seharusnya. Apa sih pentingnya punya status? Apa sih perlunya pangkat? Kalau dengannya ada ketakutan manusia tamak. Ada penyesalan karena bersikap egois. Bukan itu yang seharusnya didambakan.

Aku bersyukur Muhammad adalah teladanku. Dialah manusia yang tak akan digugat sebagai sosok yang paling mulia. Tak ada alasan bagi orang kaya karena kekayaannya untuk berwelas asih. Juga tak ada alasan bagi orang miskin untuk menunggu kaya baru dapat menolong sesama. Karena Muhammad adalah representasi yang tak terbantahkan. Dia adalah orang kaya, tapi tak lebih dari tiga hari kekayaan itu ada padanya. Seluruh hartanya adalah harta untuk orang lain. Dan dia juga orang miskin, yang dengan kemiskinannya dia masih mampu untuk bersedekah pada sesama. Dia adalah sosok yang gagah, garang bagi semua musuh keyakinannya. Tapi dia juga lemah lembut bagi sesamanya. Bahkan bagi seorang yang membenci dan sering memakinya.

Siapa yang sanggup memberi makan tiap hari pada seorang buta yang selalu saja memakinya. Meskipun Muhammad tahu persis bahwa orang buta itu adalah golongan dari musuh keyakinannya. Hingga seorang buta itu menyesal karena pada akhirnya tahu bahwa orang yang setiap hari menghampirinya dan member makan adalah orang yang senantiasa dia caci maki, bahkan ketika Muhammad ada di hadapannya. Siapa yang sanggup membantah kebaikan seperti itu? Dan badan ini, seharusnya bisa mencontohnya.

Cinta… Itulah adanya dirimu. Seluruh jelmaan dari segala kebaikan. Dan akan menuju kebaikan. Aku tak pernah menganggap ini sesuatu yang berlebihan. Ini hanyalah harapan. Ini adalah keyakinan, bahwa hadirnya dirimu akan menjelma kebaikan bagi seluruh badan-badan ini. Ada sikap ramah yang akan menentramkan kegarangan. Ada kelembutan yang memeluk keras hati. Namun juga ada amarah yang senantiasa mengingatkan. Ternyata memang bukan hal yang berlebihan bukan?! Aku hanya ingin menjadi seorang yang mampu seutuhnya memperlakukan raga ini pada tempatnya. Maka jangan tepiskan keberadaanku di kehidupan ini. Karena kematian pasti akan datang ketika pada waktunya. Aku hanya tak ingin menyesali hidup yang terbuang percuma. Yang hanya tahu bagaimana memikirkan diri sendiri. Adanya diriku adalah karena ada kau. Denganmu, kita ubah penderitaan menjelmamu. Sebuah kebaikan yang akan menuju kebaikan. Dan pada akhirnya, tak akan kusesali adanya aku.

Cinta… sungguh kau menjadi yang selalu kurindukan. Selalu. Segera, akan kutemukan dirimu dalam hidup ini. Akan kujemput kau pada tegapnya kesetiaanmu. Sebentar lagi, akan ada babak yang mengeliminasi semua hal yang membuatku terkungkung ini.

Cinta…
Please, give me your smile...
And look at my face, you’ll find the sun…
(Lalu kita lantunkan Surat Ar Rahman sama-sama. Semoga ada airmata di wajah, namun ada bahagia di hati!)

Solo, 14 Februari 2010
Agus Raharjo

Kamis, 14 Januari 2010

Fragmen: Khianat

“Aku ingin menjadi seorang penyendiri,” kata lelaki itu. Dan sang wanita menatapnya penuh curiga.
Semalam, lelaki itu tak kunjung pulang. Sang wanita merasa sepi dalam penantiannya. Detak jam membuat mereka terpisah.
“Aku ingin menjadi seorang penyendiri,” kata lelaki itu ketika di depan pintu. “Aku tidak akan terluka seperti ini!”
Mata sang wanita mengikuti hingga lelaki itu masuk kamar mandi.
“Apa maksudmu?” teriak wanita itu.
“Biarkan aku sendiri! Dan aku tak akan pernah merasa sakit ketika dikhianati seorang istri!” Lalu suara debur air menenggelamkan suara lelaki itu dalam perasaannya.
Wanita itu gugup. Segera dia sadari bau parfum di seprei tempat tidurnya memang bukan milik lelaki itu.
Di dalam kamar mandi, ada gemuruh suara air, juga kaca pecah sekali. Air itu, tetap seperti suara hujan, hingga sang wanita menyadari kata-kata sang lelaki bukan gertakan semata.

14 Januari 2010
Agus Raharjo

Perempuan dan Lahirnya Rezim Orde Baru

Ketika tragedi ’65 terjadi, saat itulah Orde Lama mengalami akhir masanya. Sebagai gantinya, bagi saya Orde Baru lahir dari sebuah ironi yang tak lucu. Ada banyak pertanyaan yang ‘dibungkam’ terkait peristiwa yang kita kenal sebagai Gerakan 30 September (G30S PKI) setelah rezim baru itu muncul bak sang juru selamat. Peristiwa yang disusun sangat apik dalam tatanan politik untuk sebuah kekuasaan. Bahkan ‘pembungkaman’ itu berlanjut hingga berakhirnya rezim Orde Baru itu diruntuhkan oleh Reformasi.

Ketika saya masih kecil, yang ada dalam bacaan buku sejarah saya adalah bahwa PKI adalah partai yang ‘seharusnya’ tidak ada di Indonesia. PKI adalah manifestasi dari bahaya laten sebuah kudeta. Sampai akhirnya peristiwa ’98 membuat semuanya seolah mengalami pembalikan.

Yang saya tahu sebelumnya dalam buku sejarah, juga film terkait G30S PKI—yang tak tahu malu-- bahwa PKI adalah kumpulan algojo yang dengan entengnya mengakhiri hidup sesama manusia. Bahkan dalam film yang baru saja sekilas saya saksikan, sosok yang digambarkan menenteng palu dan arit tersebut menghabisi orang-orang yang selesai menjalankan sholat shubuh di masjid. Semua itu menjadi sebuah hal yang wajar dan dimaklumi ketika kita ada dalam masa kekuasaan rezim paling lama di Indonesia sampai saat ini tersebut. Namun, ketika lembaran fakta-fakta mulai dibuka kembali, semua propaganda itu menjadi sebuah tontonan yang tak lebih dari sebuah lelucon belaka.

Di satu sisi, saya menertawai diri saya pribadi dan orang-orang yang telah dibodohi sekian lamanya. Di sisi yang lain, saya ingin menertawai sekeras-kerasnya pada semua pembuat propaganda itu, karena mereka dapat membuat serial komedi yang berbentuk buku dan film. Namun tak bisa dipungkiri, propaganda saat itu seolah disusun dengan sangat lihai oleh ahlinya.

Wajah Perempuan Komunis
Perempuan Komunis adalah bagian lain dari sebuah elegi G30S PKI. Mereka adalah perempuan-perempuan ‘yang sengaja dikorbankan’. Terlebih bagi mereka anggota Gerwani dan semua ormas yang berafiliasi dengan PKI. Setelah tragedi pembunuhan para Jendral di Lubang Buaya, perempuan komunis menjadi sosok yang diburu dan paling banyak mengalami siksaan. Tak salah ketika Wieringa mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut membuat banyak pihak mempersetankan perempuan komunis. N Bukan hal yang main-main, perempuan komunis menerima hukuman yang tak pernah tahu apa kesalahannya.

Banyak tuduhan ditimpakan pada perempuan-perempuan komunis sehingga banyak pihak yang seolah menganggap mereka adalah perempuan biadab. Hal ini sangat bisa dimaklumi, sebab Indonesia adalah negara yang mayoritas adalah penganut Islam. Ketika dihadapkan pada ‘sandiwara’ bahwa perempuan komunis telah melakukan tindakan senonoh dan keji pada jenderal-jenderal yang mati di Lubang Buaya, maka penganut Islam akan menganggap bahwa mereka adalah perempuan setan. Sungguh ironis namun cerdik. Seolah semua hal itu telah lama dipikirkan oleh ‘sang sutradara’. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa begitu bodohnya yang mengaku muslim tersebut termakan hasutan?! Hingga tidak terasa ikut andil dalam menghilangkan banyak nyawa yang seharusnya tidak terjadi demikian gampang.

Lagipula, anggapan bahwa penganut paham komunis adalah seorang ateis yag patut ‘diperangi’ masih dipertanyakan. Namun, semua itu telah terjadi, dan biarlah menjadi masa kelam bagi rakyat Indonesia.

Ada banyak hal yang patut kita ketahui perihal tentang gerakan membumikan rakyat Indonesia tersebut. Juga cerita-cerita tentang tindakan semena-mena yang diterima ‘perempuan setan’. Banyak kisah yang perlu kita cermati tentang penderitaan mereka. Akan tetapi, hingga sekarangpun banyak yang masih menyimpan memori bahwa PKI adalah bahaya laten dari manifestasi kekejaman dan keberingasan atas kekuasaan.

Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar akan dilaksanakannya syuting film Lastri. Film tersebuat adalah film yang menceritakan keadaan perempuan korban dari kebengisan sesungguhnya dari lahirnya Orde Baru. Namun diluar dugaan, syuting film tersebut mendapat tentangan dari sebuah ormas Islam di Solo. Pertanyaannya adalah kenapa hal itu ditentang? Ketika hal itu ditakutkan menimbulkan kembali bahaya laten PKI, bukankah itu adalah sesuatu hal yang tidak perlu? Ataukah karena ditakutkan bahwa film tersebut akan menampilkan adegan-adegan penyiksaan seksual pada kaum perempuan? Diluar nanti terhalang dengan badan sensor, lagipula itulah realita yang sebenarnya terjadi disekitar lahirnya Orde Baru. Setidaknya hal itu saya ketahui setelah membaca “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65”nya Ita F. Nadia.

Dalam bukunya, Ita menulis pengalaman kejam yang dialami oleh perempuan-perempuan komunis untuk melahirkan rezim Orde Baru. Dalam kesaksian pertama akan kita temukan kata-kata “Akhirnya Pemerkosa itu Jenderal Pensiun”. Sungguh ironis, sang penjahat malah dapat menikmati ketenangan dalam masa pensiunnya. Siapakah sebenarnya yang tidak mempunyai hati nurani?

Lalu ada satu peristiwa yang bagi saya seorang laki-laki sungguh sangat biadab, ketika salah seorang korban menuturkan dalam buku Ita ketika dipenjara di Tanjung Gusta: “Mereka sengaja ingin mempertontonkan kepada suami saya, bagaimana saya diperkosa oleh beberapa laki-laki bergiliran. Jika suami saya menundukkan wajahnya, mereka menampar mukanya.” Sekali lagi saya bertanya, siapa sebenarnya yang biadab disini? Apakah mereka orang-orang PKI itu? Yang mengajari masyarakat kecil membaca dan menulis? Ataukah serdadu yang ‘menjadi’ juru selamat? Sungguh ironis.

Maka saya sedikit berlelucon, bahwa Orde Baru lahir dari rahim-rahim perempuan yang diangggap setan. Atau seperti kutipan dari salah seorang korban yang bernama Yanti, bahwa Orde Baru “Membangun Kekuasaan di atas Perkosaan.”

13 Januari 2010
Agus Raharjo