Adaptasi dari cerpen karya Jujur Prananto
Sutradara : Hanung Bramantyo
Pemain : Aming, Ramzi, Deddy Soetomo, Titi Kamal, Djojon, Nani Wijaya, Cici Tegal, Berliana Febrianti
Betapa himpitan kemiskinan menjadi suatu penyebab terjadinya hal-hal yang diluar batas akal sehat terjadi. Indonesia mencatat tidak hanya sedikit kasus yang mencengangkan kita akibat rasa takut akan kemiskinan. Alasan ekonimi sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga ketika berita buruk tersiar dalam media.
Hanung Bramantyo, hendak menyajikan titik ekstrim pada kita tentang rasa putus asa karena kemiskinan dari sisi religiusitas manusia. Terlebih pada seorang muslim, entah apa motifnya, karena memang kita terbiasa mendengar bahwa Islam identik dengan kemiskinan.
Lewat tokohnya Madrim (Aming), seorang kuli pasar yang hidupnya tidak pernah beranjak dari kekurangan dan kesengsaraan, ingin merubah nasib dengan sebuah doa yang bukan kebanyakan dilakukan. Iya, Madrim yang merasa telah putus asa, padahal kerja keras telah dia lakukan dan doa juga senantiasa dia panjatkan, tapi nasib tidak juga pernah berubah. Dan ditambah dengan minggatnya sang istri Leha (Titi Kamal), akhirnya dia mengucapkan doa “aneh” pada Tuhan. Doa yang mengancam.
Ya Allah, hari ini aku menghadapmu, ya Allah, limpahkan rizkimu, ya Allah, bebaskan aku, ya Allah, dari segala kemiskinan dan hutang, ya Allah. Ya Allah, kembalikan istriku, ya Allah, aku cinta dia aku butuh dia, ya Allah! Asal kamu tahu ya Allah, aku capek, aku lelah berdoa, ya Allah. Kalau dalam tiga hari tiga malam Kau tidak mengabulkan doaku, ya Allah, aku akan murtad, aku akan berpaling pada setan, ya Allah.
Kira-kira begitulah doa Madrim pada titik ekstrim keputusasaannya. Dilatari dengan hujan disertai petir, akhirnya Madrim beranjak pergi entah kemana. Sampai pada suatu tempat, dia tersambar petir. Tapi anehnya dia tidak mati. Justru karena tersambar petir itulah awal dari perubahan nasibnya, karena dia menjadi punya kemampuan untuk melihat masa lalu sampai sekarang hanya dengan melihat sebuah foto. Karena kemampuannya, dia menjadi orang yang tiba-tiba kaya.
Tapi ada kelemahan pada kemampuannya itu. Dia tidak dapat menggunakan kemampuannya itu untuk mencari keberadaan istrinya. Bukan hanya itu saja, dia juga dengan sengaja melihat masa lalu ibunya dan mendapati kenyataan yang membuatnya meninggalkan ibunya.
Rasa shock karena perubahan yang terjadi pada dirinya, membuat Madrim ingin menjadi seorang yang biasa lagi. Dia berdoa agar kekuatan yang dia dapatkan dihilangkan darinya. Tapi apa daya, dia sendiri tidak tahu apakah kekuatan itu asalnya dari Allah ataukah setan. Karena dia berfikir kekuatan itu berasal dari setan, ditengah mabuk dlam diskotek, dia minta pada setan dengan permintaan kira-kira sama ketika dia berdoa dulu. Dia meminta kalau kekuatan itu tidak diambilnya lagi, maka dia akan kembali pada Allah.
Bukan hilang kekauatan yang didapatnya, justru malah bertambah kemampuannya menjadi dapat melihat masa depan. Dengan semua itu, kemewahan yang sebelumnya didapatnya, menjadi lebih bertambah lagi. Tapi, lagi-lagi rasa kesepian semakin menjalari hidupnya. Semakin hari justru dia menjadi terbiasa mimpi buruk akibat rasa takut menanggung kemewahan yang terlanjur melekat padanya. Tak ada ibu yang menemaninya. Istri yang sekian lama tidak dilihatnya, sekali dilihat lalu bunuh diri. Pada saat itulah dia berada pada keadaan yang benar-benar kacau. Shock yang tak tertanggungkan, hingga halusinasi. Dan akhirnya pingsan hingga tak tanggung-tanggung sebulan lamanya.
Penyelesaian yang diberikan Hanung adalah, Madrim yang takut untuk berdoa pada Allah karena doa yang mengancamnya dulu, akhirnya mendapat semacam titik cerah dari sahabatnya, Kadin untuk senantiasa tawakal dan ikhlas pada Allah dan berdoa padaNya. “Karena doa siapapun pasti Allah dengerin. Siapapun!”
Dan akhirnya, Madrim kembali hidup normal dengan membuka warung di pasar tempatnya kerja dulu, bersama ibunya. Dia juga mendapat pengganti Leha, istrinya yang meninggal, dengan berencana melamar gadis yang bekerja di sebuah warung di pasar itu yang telah bangkrut. Sebuah akhir yang bahagia, seperti kebanyakan cerita-cerita hidayah.
Tapi memang sebenarnya, titik tekan film itu bukan pada akhir yang dapat ditebak, karena pertolongan Allah. Tapi sebuah gambaran simpul-simpul kemiskinan, keputusasaan, juga kekafiran. Bukankah kita juga mengetahui bahwa kamiskinan dan kefakiran itu lebih denkat dengan kekafiran.
Dilain pihak, ada nuansa dramatis pada liku hidup yang dialami oleh sang tokoh. Perubahan hidup dari kemiskinan dan keputusasaan menjadi kehidupan yang serba bergelimangan kemewahan tidak serta merta membuatnya bahagia. Ada sesuatu yang dirindukannya. Orang-orang yang dicintai, kerja keras, dan hidup normal dengan berbagai masalah yang menyelimutinya. Dan selalu tidak merasa kesepian.
Menurut saya, perubahan yang mendadak membuatnya tidak terbiasa dengan kehidupan yang berbeda. Proses. Itulah titik tekannya. Ibarat sebuah perjalanan, bukan pada titik akhir dimana sebuah pembelajaran itu ada, tapi terletak pada perjalanan itu sendiri. Sejauh mana kita mampu bertahan dan berjuang dalam liku perjalanan yang ditawarkan pada hidup kita. Dan doa, adalah sebuah ikhtiar religius pada Sang Pemberi Perjalanan. Bukankah Allah sesuai dengan apa yang kita sangkakan kepadaNya?
Solo, 15 April 2009
Agus Raharjo
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 April 2009
Minggu, 12 April 2009
Ucapkan Selamat Tinggal Pada Harapan
Tetralogi Laskar Pelangi, novel yang melambung tinggi bersama euphoria tema pendidikan nasib anak negeri. Sebuah potret ironi bagi semangat dan kenyataan dalam memandang apa sekolah itu.
Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.
Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.
Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.
Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.
Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.
Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.
“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.
Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.
Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.
Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.
Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.
Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.
Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.
“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”
Itu saja.
Solo, 11 April 2009
Agus Raharjo
Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.
Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.
Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.
Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.
Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.
Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.
“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.
Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.
Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.
Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.
Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.
Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.
Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.
“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”
Itu saja.
Solo, 11 April 2009
Agus Raharjo
Minggu, 18 Januari 2009
Kematian: Gambaran Sebuah Keniscayaan
Pada detik-detik yang terus berjalan, kematian terus saja mengintai. Seperti yang saya saksikan setiap hari. Bahkan mungkin orang lain di seluruh dunia juga tahu, karena kematian menjadi sebuah ruang kelam yang menarik untuk disaksikan. Ya, melalui sebuah kotak kecil elektronik yang bernama televisi. Sebuah kematian menyentuh bagian terdalam manusia, hingga kita dibuat ngeri memikirkannya.
Apa yang terjadi dengan ruang gelap dalam misteri kematian yang selalu terjadi di bumi Palestina sekarang? Tidakkah kematian itu niscaya pasti datang? Mengapa kematian begitu mudahnya menjadi sebuah akibat?
Baru saja saya selesai menonton sebuah film best foreign language film. The Barbarian Invasions, itulah judulnya. Film yang bagi saya menceritakan perihal sebuah kematian, dengan dramatisasi yang dibuat lucu sekaligus mengharukan.
“Aku ingin bersama teman-temanku”
Kalimat itu keluar dari Remy Girard ketika dia tidak mau dipindah ke rumah sakit yang lebih bisa merawatnya. Tapi bukan menolongnya. Karena keadaan sakit yang telah parah dideritanya. Mungkin dia tahu bahwa kematian menjadi sebuah keniscayaan yang akan dialaminya saat itu. Dan harapannya adalah bersama teman-temannyalah dia ingin menghadapi kematian itu.
Mau tak mau, Sebastian, putra Remy ingin mewujudkan keinginan ayahnya untuk menjelang kematian yang niscaya akan datang pada ayahnya. Dengan tidak ada rasa sakit, juga kesepian. Sang ayah dibuat bahagia dengan cara-cara yang mungkin bagi kita sungguh aneh. Bagi Sebastian, dengan bekal uang yang dia miliki—dia tergolong di atas rata-rata dalam materi—dia dengan mudah dapat mewujudkan keinginan ayahnya itu.
Dan langkah pertamanya adalah menghubungi semua teman-teman ayahnya, waktu muda dulu. Alhasil, berkumpullah orang-orang yang sudah tidak muda lagi dengan mengenang masa-masa ‘nakal’ waktu muda dulu.. Mungkin dalam pikiran Sebastian, meskipun sementara, apa yang dia perbuat adalah yang terbaik untuk ayahnya.
Apa yang dilakukan Sebastian sebagai bakti seorang anak ‘mengantar’ ayahnya pada sebuah kematian, adalah usaha yang terbilang ‘sembrono’. Betapa tidak. Dia memenuhi segala apa yang menjadi kesenangan ayahnya. Mulai dari mendesain kamar pasien yang baru, mendatangkan mantan mahasiswanya—meskipun dengan dibayar—, bahkan menyediakan heroin untuk dinikmati. Dan yang terakhir, menghilangkan rasa sakit dalam menjemput kematian dengan menyuntik semacam cairan—entah cairan apa.
***
Kematian, menjadi sebuah fenomena yang tak lepas dari bayang-bayang ruang gelap—kesedihan, haru, ngeri, perpisahan, kesepian, juga kepergian. Terlepas dari itu semua, kematian adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi pada setiap yang hidup. Setelah hidup, kemudian datang kematian. Entah dengan kerelaan ataupun penyesalan, dia menghantui setiap saat dalam waktu kita. Seolah dialah bayang yang dengan setia mengikuti kemana kita berada. Dan nantinya hanya sebuah nisan yang dapat mempercantik tempat kita.
Bagi penyair, kematian menjelma menjadi sebuah nuansa yang agaknya dibaca dengan segala ‘kenakalan’ pribadinya. Entah dalam kata, kalimat, maupun bait, kematian dirasai menjadi jalan bagi terciptanya baris-baris perasaan pengarang.
Lihatlah bait-bait puisi “Nisan” Chairil Anwar: Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertakhta//
Meskipun kematian adalah duka yang dalam, sang penyair menggambarkan sebuah keterterimaan atas resiko kehilangan karenanya. Sebuah rasa rela atau pasrah kehilangan karena kematian. Mungkin itulah yang Chairil gariskan dalam hidupnya ketika kematian yang niscaya telah merenggut nenekandanya. Terlepas bagaimana perasaan Chairil kepada nenekanda dimana puisi itu ditujukan.
Dalam pikiran saya, mungkin puisi itu ditulis Chairil sembari membayangkan sebuah nisan yang tertancap di atas pusara nenekandanya, atau bahkan saat Chairil menatap diam nisan itu. Merenung, dan dan bertanya kemana kematian membawa perpisahan itu datang.
Kematian memang menjadi sesuatu yang pasti. Hanya waktu saja yang membuktikan hal itu terjadi. Pada detik-detik dimana kita tidak bisa bersembunyi dimanapun, juga berlindung pada apapun.
Bagi seorang Kahlil Gibran, kematian tak ubahnya sebuah kepergian biasa. Seperti dalam penggalan kata-katanya “Di Hadapan Kematian”:…Keberangkatanku sekarang ini tidak akan berbeda dari kepergianku besok atau lusa. Karena, hari-hari kita akan musnah seperti dedaunan di waktu musim gugur. Saat kematianku telah begitu dekat,…”
Pada akhirnya, sebuah keniscayaan adalah sebuah kepastian. Tentang kematian dengan segala gambaran yang menyertainya. Hanya yang sungguh rela menyambut datangnyalah yang akan menepiskan kematian keluar dari bayang-bayang ruang gelap disisi manusia. Dan sampailah kita memberi senyum pada kematian itu.
Solo, Januari 2009
Agus Raharjo
Apa yang terjadi dengan ruang gelap dalam misteri kematian yang selalu terjadi di bumi Palestina sekarang? Tidakkah kematian itu niscaya pasti datang? Mengapa kematian begitu mudahnya menjadi sebuah akibat?
Baru saja saya selesai menonton sebuah film best foreign language film. The Barbarian Invasions, itulah judulnya. Film yang bagi saya menceritakan perihal sebuah kematian, dengan dramatisasi yang dibuat lucu sekaligus mengharukan.
“Aku ingin bersama teman-temanku”
Kalimat itu keluar dari Remy Girard ketika dia tidak mau dipindah ke rumah sakit yang lebih bisa merawatnya. Tapi bukan menolongnya. Karena keadaan sakit yang telah parah dideritanya. Mungkin dia tahu bahwa kematian menjadi sebuah keniscayaan yang akan dialaminya saat itu. Dan harapannya adalah bersama teman-temannyalah dia ingin menghadapi kematian itu.
Mau tak mau, Sebastian, putra Remy ingin mewujudkan keinginan ayahnya untuk menjelang kematian yang niscaya akan datang pada ayahnya. Dengan tidak ada rasa sakit, juga kesepian. Sang ayah dibuat bahagia dengan cara-cara yang mungkin bagi kita sungguh aneh. Bagi Sebastian, dengan bekal uang yang dia miliki—dia tergolong di atas rata-rata dalam materi—dia dengan mudah dapat mewujudkan keinginan ayahnya itu.
Dan langkah pertamanya adalah menghubungi semua teman-teman ayahnya, waktu muda dulu. Alhasil, berkumpullah orang-orang yang sudah tidak muda lagi dengan mengenang masa-masa ‘nakal’ waktu muda dulu.. Mungkin dalam pikiran Sebastian, meskipun sementara, apa yang dia perbuat adalah yang terbaik untuk ayahnya.
Apa yang dilakukan Sebastian sebagai bakti seorang anak ‘mengantar’ ayahnya pada sebuah kematian, adalah usaha yang terbilang ‘sembrono’. Betapa tidak. Dia memenuhi segala apa yang menjadi kesenangan ayahnya. Mulai dari mendesain kamar pasien yang baru, mendatangkan mantan mahasiswanya—meskipun dengan dibayar—, bahkan menyediakan heroin untuk dinikmati. Dan yang terakhir, menghilangkan rasa sakit dalam menjemput kematian dengan menyuntik semacam cairan—entah cairan apa.
***
Kematian, menjadi sebuah fenomena yang tak lepas dari bayang-bayang ruang gelap—kesedihan, haru, ngeri, perpisahan, kesepian, juga kepergian. Terlepas dari itu semua, kematian adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi pada setiap yang hidup. Setelah hidup, kemudian datang kematian. Entah dengan kerelaan ataupun penyesalan, dia menghantui setiap saat dalam waktu kita. Seolah dialah bayang yang dengan setia mengikuti kemana kita berada. Dan nantinya hanya sebuah nisan yang dapat mempercantik tempat kita.
Bagi penyair, kematian menjelma menjadi sebuah nuansa yang agaknya dibaca dengan segala ‘kenakalan’ pribadinya. Entah dalam kata, kalimat, maupun bait, kematian dirasai menjadi jalan bagi terciptanya baris-baris perasaan pengarang.
Lihatlah bait-bait puisi “Nisan” Chairil Anwar: Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertakhta//
Meskipun kematian adalah duka yang dalam, sang penyair menggambarkan sebuah keterterimaan atas resiko kehilangan karenanya. Sebuah rasa rela atau pasrah kehilangan karena kematian. Mungkin itulah yang Chairil gariskan dalam hidupnya ketika kematian yang niscaya telah merenggut nenekandanya. Terlepas bagaimana perasaan Chairil kepada nenekanda dimana puisi itu ditujukan.
Dalam pikiran saya, mungkin puisi itu ditulis Chairil sembari membayangkan sebuah nisan yang tertancap di atas pusara nenekandanya, atau bahkan saat Chairil menatap diam nisan itu. Merenung, dan dan bertanya kemana kematian membawa perpisahan itu datang.
Kematian memang menjadi sesuatu yang pasti. Hanya waktu saja yang membuktikan hal itu terjadi. Pada detik-detik dimana kita tidak bisa bersembunyi dimanapun, juga berlindung pada apapun.
Bagi seorang Kahlil Gibran, kematian tak ubahnya sebuah kepergian biasa. Seperti dalam penggalan kata-katanya “Di Hadapan Kematian”:…Keberangkatanku sekarang ini tidak akan berbeda dari kepergianku besok atau lusa. Karena, hari-hari kita akan musnah seperti dedaunan di waktu musim gugur. Saat kematianku telah begitu dekat,…”
Pada akhirnya, sebuah keniscayaan adalah sebuah kepastian. Tentang kematian dengan segala gambaran yang menyertainya. Hanya yang sungguh rela menyambut datangnyalah yang akan menepiskan kematian keluar dari bayang-bayang ruang gelap disisi manusia. Dan sampailah kita memberi senyum pada kematian itu.
Solo, Januari 2009
Agus Raharjo
Langganan:
Komentar (Atom)