Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

Maaf, dan Selamat Jalan!

Pada suatu waktu, rumah saya kedatangan ‘keluarga’ baru. Dua ekor. Satu warnanya hitam dengan sedikit corak coklat, dan satu lagi warna putih dengan totol warna hitam. Sosok itu tak lain adalah dua ekor anjing. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata keluarga bukan tanpa sebab. Saya ingin memberi tekanan pada kata itu. Alasannya adalah waktu itu, saya terpaksa menerima kehadiran dua anggota keluarga baru itu.

Saya memang terpaksa menerima kedatangan dua anggota keluarga baru itu, dengan beberapa alasan. Yang pertama, jelas, saya sebagai seorang muslim menghindari berinteraksi dengan anjing, karena air liur dari anjing yang dapat menyebabkan najis. Karena sepengetahuan saya, air liur anjing mengandung bakteri yang berbahaya bagi manusia. Meskipun itu hanya alasan logis yang belum dapat saya terima sepenuhnya, karena kita juga tidak mengharamkan air liur Komodo yang nyata-nyata banyak sekali kandungan bakterinya. Akan tetapi alasan keyakinanlah yang lebih besar.

Alasan kedua adalah, saya meragukan nasib dua anjing yang datang kerumah itu. Akan seperti apa nantinya mereka kedepannya. Dan catatan saya ini, adalah arah dari nasib kedua keluarga baru tersebut. Kisahnya seperti ini:

Dari kedua anjing itu, sebut saja yang jantan namanya Kampret, dan betina saya panggil Pini. Pini telah melahirkan anak kecil-kecil yang lucu-lucu. dari 4 anaknya, 2 diminta oleh saudara, jadi hanya tinggal 2 di rumah. Yang satu warnanya seperti Kampret, dan yang satu seperti Pini. Dari dua anak anjing ini, yang mirip Pini waktu kecil menderita lumpuh. Dia tidak bisa lari-lari seperti saudaranya. Saya merasa iba padanya, maka ketika saya dirumah, saya yang biasa memberi makan dan menemaninya. Hal itu terjadi sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari lagi.

Ketika dia bisa berlari-lari, saudaranya yang mirip dengan Kampret telah pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Maka kami menyebutnya ‘hilang’. Alhasil, hanya tinggal tiga ekor. Beberapa waktu setelah anak anjing itu ‘hilang’, ternyata Kampret juga dinyatakan hilang, karena keluar tapi tak pernah kembali pulang. Pada akhirnya tinggalah dua anjing yang memiliki warna dan kesetiaan yang begitu hebat. Karena dua anjing ini ternyata yang selalu kembali ketika letih keluar.

Pini dan anaknya, saya kira tipe-tipe anjing pemburu. Saya melihat tipikal dari posturnya yang kecil kurus, tapi gesit dan kebiasaan anjing itu yang suka membawa ayam mati ketika pulang dari keluar. Terlebih Pini. Saya tidak heran karena pernah melihat anjing yang tipikalnya sama dengan anjing itu di acara televisi yang digunakan untuk berburu babi hutan.

Entah mengapa kedua anjing ini juga sangat setia, terlebih anaknya Pini, terhadap saya. Bisa jadi dia masih mengingat bahwa yang merawatnya di waktu lumpuh adalah saya. Namun, catatan ini adalah ungkapan maaf yang mungkin tak akan pernah sampai. Saya begitu bodoh dan mungkin lebih hida dari dia. Saya tak akan marah, kalau dikatakan seperti itu. Ketika mengingat kejadian di suatu pagi itupun saya merasa menyesal dan selalu ingin menangis.

Pada pagi itu, ketika saya pulang dari Jakarta, saya mendengar bahwa Pini dan anaknya akan dijual. Sebelumnya saya sempat tidak percaya, akan tetapi hal itu ternyata kabar yang benar-benar terjadi. Pagi itu, datanglah seorang yang bernama Jenal. Laki-laki itu mungkin masih jadi satu-satunya penjual sate anjing di daerah saya. Lalu tawar menawar tentang harga dimulai. Saat itulah, saya benar-benar ingin marah dan ingin memaki orang-orang yang ada dirumah. Ketika saya tanya, kenapa anjingnya mau dijual, alasannya sungguh tidak bijaksana sama sekali. “Karena anjingnya suka menerkam ayam!”

Sungguh, siapa sebenarnya yang tidak bermoral? Anjing yang berkelakuan sesuai naluri atau manusia yang menuntut anjing berkelakuan seperti manusia?! Bagi saya sungguh tidak bijak ketika menuduh seekor anjing ‘cluthak’ ketika menerkam ayam. Karena justru itulah naluri dasarnya sebagai seekor anjing pemakan daging!

Waktu itu, anaknya Pini yang akhirnya disepakati dijual. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih ketika itu, yang saya lakukan sesegera mungkin adalah pergi dari rumah. Saat itu saya piker apa yang dilakukan orang-orang di rumah saya sungguh keterlaluan. Kesetiaan dibayar dengan pengkhianatan. Itulah yang ada dalam kepala saya. Rasanya saya tidak ingin kembali lagi kerumah itu, atau pulang.

Pada saat anaknya Pini—saya sebut Pini kecil—akan ditangkap, orang-orang rumah kesulitan. Pini kecil selalu mendekat ke saya. Lalu ibu saya yang waktu itu juga ingin menangkapnya memerintahkan saya untuk menangkapnya. Saya, yang saat itu menahan air mata, menjawab dengan kata “Rasudi!” yang memang kasar. Tapi, itu adalah ungkapan emosi saya atas apa yang terjadi. Setelah itu saya yang rencananya akan ke Solo siang, saat itu juga berangkat ke Solo. Saya tidak sanggup katika harus melihat apa yang akan terjadi dnegan Pini Kecil. Karena saya membayangkan Pini Kecil akan dibunuh dengan cara yang paling biadab, seperti oaring membunuh anjing pada umumnya untuk dijadikan sate.

Untuk Pini Kecil, maaf saya juga menjadi seorang pengkhianat karena tidak bisa menolongmu. Saya benar-benar menyesal tidak bisa menolongmu. Ketika mengingatmu, saya teringat dengan sebuah cerpen karya Martin Aleida, “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”. Sebuah contoh manusia bisa lebih rakus dan biadab dari seekor anjing. Sama seperti apa yang dikatakan Martin Aleida, “Mati Baik-baik, Kawan!”

Maaf, dan selamat jalan!

27 februari 2011
agus raharjo

Minggu, 23 Mei 2010

Mei: Kisah 1

Hari ini, tanggal 12 Mei 2010, pada malam hari, jam menunjuk pukul 23.38, ketika mendengar lantunan nasyid, saya seperti memutar sebuah mesin waktu untuk kembali pada Mei tahun yang lalu. Atau bahkan pada hari, bulan, dan tahun yang lebuh lalu. Ini bukan cerita tentang peristiwa 12 Mei yang menjadi tonggak kepahlawanan mahasiswa menggulingkan rezim Orba. Yang tadi siang ketika saya lihat di televisi, tengah dilangsungkan upacara peringatan gugurnya mahasiswa Trisakti pada 12 Mei, 12 tahun yang lalu. Tapi ini adalah cerita yang mungkin saja tak layak untuk diceritakan pada orang banyak. Tapi kelak, saya ingin menulisnya lebih lengkap. Minimal untuk saya kenang sendiri.

Ketika saya mendengarkan lantunan lagu berlirik Islami, saya teringat dengan teman-teman saya dulu. Teman-teman yang ikut andil dalam proses mencari siapa diri ini. Teman-teman yang senantiasa kuingat dengan kerinduan yang sungguh. Teman-teman yang membantuku untuk mengenalkan nuansa Islami yang bisa jadi saya dambakan sejak dulu. Karena baru ketika saya menginjakkan kaki di kampus tercinta ini, saya benar-benar baru mulai mengenal sebuah keyakinan yang seharusnya sejak kecil saya yakini. Entah kenapa, ketika saya mendengarkan lagu nasyid, ingatan saya membawa pada memori tentang banyak hal. Perihal yang dalam hati kecil sangat saya rindukan, keberadaan dan peristiwanya. Seolah saya ingin mengulang peristiwa itu berkali-kali.
Ingatan saya pertama tertuju pada sebuah peristiwa ketika saat itu saya yang berada di masjid Nurul Huda, mengambil keputusan untuk ikut FRAKSI (saat itu dengan keterlaluan niat saya hanya pada sisi ekonomi, yaitu dengan duit 10 ribu, saya bisa hidup tiga hari dan nambah ilmu). Tapi dari kegiatan itu, saya dapat menitikkan airmata, ketika saya dan teman-teman melihat sebuah film dokumenter tentang kekerasan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina. Saya melihat adanya ketidakadilan dan kekejaman disana.

Peristiwa kedua adalah peristiwa yang nantinya akan melatih saya bertanggungjawab pada orang lain. Yaitu ketika malam-malam, saya dan sepuluh orang teman saya ada di hik di gerbang belakang kampus UNS. Saat itu, sebelas orang beserta saya ketika itu tengah mendiskusikan pembentukan sebuah forum yang dapat mempererat hubungan persaudaraan kita, dan teman-teman muslim angkatan 2004 di Fisip. Maka malam itu, lahirlah FORMMAT (Forum Mahasiswa Muslim Dua Ribu Empat), dan saya ditunjuk sebagai koordinatornya. Maka setelah itu, ketika kita diskusikan dengan perwakilan muslimah di Fisip, maka lahirnlah FORSA (Formmat+Sahabat). Sahabat adalah forum dari muslimah atau akhwat 2004.

Maka sejak saat itulah saya seperti mempunyai tanggungjawab lebih pada keberlangsungan forum ini. Walaupun hingga sekarang ini, saya merasa tidak bisa sepenuhnya memenuhi semua beban itu. Terlebih ketika saya berada di penghujung masa kuliah sekarang ini. Saya pun tidak mengetahui, apa yang ada di pikiran teman-teman saya sekarang tentang FORSA. Saya masih ingin mempertahankan teman-teman dan forum ini, sampai kelak saya tak lagi mengenal mereka dalam kematian.

Lalu, banyak peristiwa silih berganti datang, baik suka maupun duka. Tentang lika-liku saya ada di Lembaga Kegiatan Islam, tentang saya yang masuk dalam barisan perjuangan politik BEM FISIP, atau tentang cerita-cerita saat saya harus ikut syuro’. Ah, cerita itu sungguh sangat indah untuk dikenang. Saya selalu dapat mengenang itu, karena saat itu meskipun saya harus berjalan tidak dekat untuk mencapai tempat syuro, tapi saya selalu menyukainya. Dalam hati saya selalu berpikir, suatu saat, apa yang saya lakukan itu akan membawa kebaikan pada diri saya. Dan apa yang ingin saya perjuangkan bukan menjadi sebuah hal yang sia-sia. Saya yakin itu. Dan tanpa terasa saya ada di BEM FISIP selama tiga tahun berturut-turut. Dari tahun pertama saya jadi staf Sosial Mayarakat, staf POSDM (karena menterinya Mbak Tika menikah 3 bulan sebelum kepengurusan habis, maka ditahun itu juga saya menggantikannya sebgai Menteri POSDM), lalu benar-benar menjadi menteri POSDM di FISIP. Tahun pertama ikut BEM saya tenang-tenang saja dan terbuka bahwa saya ikut BEM. Tapi untuk tahun kedua dan seterusnya nanti saya tidak memberitahukan hal itu pada keluarga. Saya hanya ingin menjalani apa yang menjadi keinginan saya, meskipun hal itu membuat saya tidak tenang dan merasa was-was.

Lalu tahun keempat, karena suatu hal (Menteri sebenarnya mengalami musibah), maka saya diminta bergabung dalam barisan BEM UNS sebagai Menteri PSDM (menggantikan menteri yang kena musibah), yang niatnya sementara akhirnya sampai pada penghujung kepengurusan. Saya tidak pernah menyesali kalau saya hanya menjadi pengganti saja. Mungkin dengan begitulah Allah membuat jalan yang memang harus saya lalui. Karena dari sanalah, saya mengenal orang-orang hebat dengan idealisme yang hebat pula (walaupun sekarang saya tidak tahu pasti apakah idealisme itu masih ada pada mereka. Semoga masih!).

Dan lagu nasyid itulah yang membuat saya menjadi teringat dengan mereka semua. Ada satu lagu yang hingga saat ini membuatku bertahan pada satu ingatan yang kuat dan membuat saya selalu ingin menangis ketika mendengarnya. Lagu itu, pertama kali saya dengar adalah di tahun kedua kuliah (yang saat itu saya belum berminat untuk mendengar lagu nasyid), tapi dua tahun setelah itu baru saya tahu judul dan belajar menyanyikannya. Lagu itu judulnya “Ainaul Mardiyah”. Ah, kalau saya mendengarnya, rasanya saya ingin menitikkan airmata. Mengingatkan saya pada yang hingga kini masih tak pernah pergi dari ingatan. Perihal itulah yang membuat saya hingga sekarang merasa punya penopang ketika jatuh, dan memberi embun ketika ada gersang. Saya ingin dapat mengingat hal ini selamanya. Bahkan mungkin dalam kematian.

Terima kasih telah membuatku seperti ini. Terima kasih untuk semua kejujuran, kelembutan, kekerasan jiwa, keteguhan prinsip, senyuman, amarah, kedewasaan, kekanak-kanakan, dan semua yang sangat pantas untuk dikenang. Suatu saat nanti, saya ingin kita semua berkumpul dalam setiap kenangan yang pernah kita buat bersama. FORSA, LKI FISIP, POSDM BEM FISIP, PSDM BEM UNS, dan semuanya. Saya benar-benar merindukan kalian.

Sekadar melantukan tulisan ini tadi malam, di pagi hari, seusai sholat shubuh dan menekuri ayat-ayat suci, rasanya saya ingin mengirimkan puisi untuk kalian. Meskipun tidak seindah lantunan kata Sapardi, atau semistis Chairil, setidaknya saya menuliskan kata-kata ini dengan goresan sedih yang kelam.

Ingatanku padamu,
Bukan pada akhir perjalanan kita
Yang kini semakin kita resapi sabdaNYA,
Tapi pada perjalanan itu sendiri, yang ada percakapan kita
Mungkin kita berada di ruang berbeda
Lagu dan baju jirah yang berlainan
Tapi kita ada dirumah yang sama
Tempat meneduh dan menyulam mimpi
Menikmati dari lelap yang angkuh,
Selepas peperangan dalam medan nafsu dan keyakinan.
Ingatan itu,
Membuat kita saling kenang
Pernah pada ketika sering berjabat tangan,
Dan senyum seusai salam
Kemudian ayat-ayat yang kita lantunkan
Adalah embun di padang gersang
Ah…betapa indah ingatan itu,
Betapa patut untuk dikenang.


Solo, 12-13 Mei 2010
Agus Raharjo

Selasa, 25 Agustus 2009

Kata-kata Yang Berkesan Untukku

- Ah kamu tuh… : greatest women
- Kamu tuh ya…. : greatest women
- Hulik-hulik : greatest women
- Maaf… : little sister
- Mas jangan marah,….takut… : little sister
- Saya pikir… : Iswan
- Jadi begini… : Erry Soffan
- Jujur ya… : Surya Eka
- Trus piye akh? : Umar
- Ehmm…lha kowe… : Awin
- Sik-sik…tunggu… : Candra
- Esensinya apa? : Haris Firdaus
- Bagi saya… : Haris Firdaus
- Rangerti!!! : Ali
- Mantanku….(mantan mentri) : My little generation
- Biasa…orang sibuk!!! : My little generation
- Rame donk Gus, kamu kalau diem nyeremin…: Bangun
- Tau ah gelap.. : bidan jutek
- Gi ngap ne? : bidan jutek
- Ho’o to? : Mas Jhon
- Lha cita-citamu apa? : Mas Anto
- Wis lulus rung? : Mas Anto
- Arep bali saiki…??! : Simbok’e
- Kok koyo ngono yo Gus…? : mbak Endang
- Mas Agus baik deh… : Adik2ku cewek
- Yo ojo ngono… : Bagus
- Piye cah? : Bagus
- Kita?! Pak Agus sudah berubah ya…? : Edi
- Sbg akhwt sy sakit hati… : Ayu PA
- Ora bisa! : Mentri keuangan
- Srondengan.. : Akhi Guspur
- Piye bro… : Akhi Guspur
- Jadi begini, Mas… : little brother Gundul

Masih banyak lagi, tapi pada sesi selanjutnya. Insya Allah.

Selasa, 07 Juli 2009

Mengenang teman-teman

Sewaktu saya benar-benar pulang kerumah. Ketika itu saya kembali dapat menyesapi semua kenangan yang tertinggal pada semua tempat yang pernah saya pijaki. Tempat-tempat itu seolah mengingatkan saya pada semua peristiwa yang membuatku hingga seperti sekarang ini. Seakan saya telah lama pergi darinya. Dan perihal ini dapat saya rasakan ketika saya menyambangi sebuah pasar kecil di belakang sekolahku waktu saya memakai seragam merah putih.

Pada paginya hari, saya diberi kesempatan menikmati semua gambaran peristiwa kecilku yang pernah saya alami bersama teman-temanku. Di tempat itu—pasar Kwoso—saya kembali mengingat siapa dan bagaimana teman-temanku dahulu, karena saya ingat, kami sering maen dibelakang sekolah yang dapat langsung menuju pasar tradisional tersebut.

Yang paling pertama saya ingat sewaktu saya menginjakkan kaki di antara deretan lapak-lapak kecil itu adalah, dulu, dibelakang sekolah itu, sering dijadikan ‘arena’ duel teman-temanku. dan saya ingat siapa orang yang paling sering duel di tempat itu. Yang kedua adalah, dulu sekali sebelum saya mengenakan seragam merah putih, saya masih ingat sering maen sendiri di pasar ini karena simbah putri juga jualan makanan tradisional di tempat ini. Selanjutnya, wajah teman-temankulah yang teringat pada memori pikiranku. Saya ingin menulis tentang mereka, setidak-tidaknya dari pandanganku, dan tidak semua dapat saya tulis disini. Inilah orang-orang yang sewaktu kecil menemani hidupku:

Untung Gunarjo
Dialah teman sekaligus sahabat dan saudara bagiku. Sebenarnya dia adalah kakak kelas, namun dia pernah tidak naik kelas sekali. Orangnya memang tidak suka dengan akademis, yang dia suka adalah semua petualangan. Hobinya adalah mancing dan berburu. Orangnya dulu lebih besar dariku, maka saya biasa merasa dilindungi ketika bersamanya. Ketika kita sekolah dasar dulu, dia sudah terlihat sebagaimana sosok laki-laki yang tidak pusing dengan cewek, dan segala tetek bengek kesenangan budaya modern lainnya. Baginya, mancing dan berburu adalah kenikmatan sendiri.

Dengannya juga saya membentuk sebuah tim maen kelereng—dia, saya dan satu orang lagi—yang sering menang ketika maen kelereng bahkan melawan orang-orang dewasa. Setiap melihatnya saya selalu ingat kejadian pada bulan ramadhan yang pernah kita lalui. Karena kita sering bersama, bahkan dalam sholat Tarawihpun pasti selalu bersebelahan. Suatu kali ketika kita sholat Tarawih, ketika Imam selesai membaca Al Fatihah, maka kita berseru mengucap Amiii..nn! kontan dia terpingkal-pingkal hingga kapok bersebelahan denganku lagi. Katanya ketika saya mengucap Amin itu, suara saya unik. Saya juga heran, apanya yang unik??!

Sekarang ini, dia tidak pernah melanjutkan sekolah SMAnya. Kelas dua dia keluar dari SMA. Entahlah, masuk SMP dia banyak menjadi lebih nakal dan bandel, hanya saja saya selalu tahu bahwa meskipun dia nakal, dia nakal secara individu yang tidak merugikan orang lain kecuali orang tuanya yang selalu dibuat repot. Dia bukan tipikal anak nakal yang ekstrovert, tapi laki-laki yang berkarakter individu penyendiri yang introvert dan tidak neko-neko. Hingga sekarang saya masih merasa begitu merindukan petualangan-petualangan dengannya dan sholat bareng yang kita lsayakan sewaktu kecil dulu di rumahnya. Juga keberaniannya. Saya masih ingat dulu waktu SMA kelas 2 (badan saya lebih besar darinya), ketika saya punya masalah dengan anak-anak kampung sebelah di lapangan sepakbola, saat itu saya sendirian yang paling besar yang lain masih SMP, Untung ngajak saya mencari siapa saja anak-anak itu dikampung mereka. Kejadiannya malam-malam, kita berdua menjelajah kampung sebelah mencari orang-orang yang sore tadi membuat gara-gara di lapangan (Untung tidak ikut maen bola), dan kita hanya berdua saja. Saya agak tsayat kalo memang benar-benar bertemu anak-anak kampung sebelah trus jadi apa kami nanti. Tapi dia nyantai saja berjalan dan sambil sesekali bilang bilang jangan tsayat. Dalam pikiran saya, busyet ni anak! Cuma berdua berani ekspansi ke kampung sebelah yang juga banyak anak-anak nakalnya. Beruntung sekali kita tidak bertemu anak kampung sebelah seorangpun, jadi tidak ada pengeroyokan atau perkelahian yang kami alami..Tapi saya salut pada keberaniannya.

Arif Wulantoro
Dalam olahraga, inilah seorang teman yang berbakat dari kecil. Sewaktu saya sangat senang sekali dapat menendang bola di lapangan (karena dalam 1 pertandingan paling banter dulu saya hanya dua kali menendang bola) dia sudah dapat berlari membawa bola dan membuat gol. Dia juga jago badminton, serta tenis meja. Dari sisi olahraga, saya kalah jauh darinya (dulu lho! Sekarang berani diadu deh.Hehehe…tapi terakhir kita maen bola kita jadi partner, juga bersama Untung, dia juga bagus).

Arif adalah tipikal laki-laki penakluk cewek (hehehe…piss Rep), karena di sekolah dasar aja dia dah berani masuk dunia permainan cewek (halah… apaan tuh?!), maksud saya dia dah berani lirik-lirik cewek, padahal kita masih sibuk dengan maen kelereng, mancing, dan maen kesawah atau panjat pohon. Dia juga termasuk laki-laki yang dapat dibilang paling gaul (saya juga bingung ukuran gaul itu apa? Pokoknya itulah!). Dengan Arif saya masih satu SMP, dikota (dia yang ngajak saya masuk SMP 2 Klaten). Dan memang kita akrab setelah itu. di SMPpun dia juga tidak berubah, masih saja berbau masalah cewek. Saya pernah diajak lewat depan rumahnya cewek yang dia suka waktu pulang. Jauhnya minta ampuun…(sebenarnya bukan lewat tapi memutar jalan pulang). Mungkin karena dia punya wajah yang selalu imut ya?! Saya sayai Arif punya paras babyface, biarpun terakhir saya pernah liat dia punya kumis tipis. Giginya aja sejak kecil belum pernah ganti kok. Tapi orangnya berpikiran dewasa dan sportif. Mungkin dialah tipe cowok flamboyan di sekolah dasar yang saya kenal pertama kali.

Sri Mulyono
Mul—begitu saya memanggilnya—adalah seorang tetangga sebelah rumah. Walaupun rumah kita berdekatan, kita baru bener-bener akrab sejak SMA. Dia adalah tipe laki-laki flamboyan kedua—saya tahu waktu SMA. Sewaktu sekolah dasar, dialah orang kedua yang tidak bisa maen bola, setelah saya. Saya masih ingat, ketika salah satu dari kami bisa menendang bola, maka kami akan saling pamer dan gembiranya kayak kejatuhan coklat dari langit. Walaupun dia belum menjadi laki-laki penakluk cewek, tapi sejak sekolah dasar bakatnya sudah terlihat. Dengan wajah yang berkarakter, tidak genteng juga tidak jelek, tapi menarik, cowok ini adalah tipikal cowok yang suka dirumah saja. Game adalah jenis permainan yang dia sukai. Saya kenal dengan permainan seperti itu juga dari dia. Dari jamannya Nitendo, Super Nitendo, sampai Sega, dan sekarang Playstation. Tapi memang kita berdua berbeda, saya tidak begitu suka dengan maen game (kalaupun bisa dibilang suka, pasti juga sepak bola, lainnya tidak), saya lebih suka game yang langsung dengan alam.

Yang masih teringat jelas dengan cowok ini adalah, dia sering ngajak saya ke Mall Matahari Klaten hanya untuk maen ding-dong. Dan hingga sekarangpun dia masih suka maen game (kayaknya sih?!). Juga dia masih saja tidak bisa maen bola (sekarang saya bisa). Mungkin karena dia suka dengan dunia maya dan internet. Hal itu juga bisa jadi yang membuat dia menjadi seorang yang pendiam, tapi diam yang menghanyutkan cewek-cewek. Hehe… piss Mul…

Dwi Anggono
Inilah teman sebangkuku dahulu ketika kita kelas VI SD. Saya masih ingat benar, kita adalah anak-anak yang suka menyanyi. Anak ini dapat saya sebut kekar walaupun orangnya lucu juga. Dahulu, saya pernah berlomba dengannya untuk menciptakan sebuah lagu. Dan kalau tidak salah ingat, hanya beberapa hari kita harus dapat menyanyikan lagu kita masing-masing. Aneh memang, kita masih duduk di kelas VI SD sudah mencoba mengarang lagu.

Pada hari yang telah disepakati, akhirnya kita benar-benar menyanyikan lagu “kita”. Saya kagum ketika dia dapat membuat sebuah lagu yang saya kira memang ciptaannya dia. Tapi akhirnya saya tahu bahwa itu adalah lagunya Katon Bagaskara: setetes embun di daun/ lambang bergulir/ ketika jatuh ketanah/ terserap musnah… Ketika saya tahu bahwa lagu itu bukan ciptaannya saya merasa menang, karena walaupun jelek, saya telah menciptakan lagu saya sendiri. Namun, saya juga tidak menyanyikan lagu jelek saya sendiri, tapi menyanyikan sebuah lagu yang saya hafal sebagai soundtrack film Virtual Fighter yang saya suka. Hingga saya menulis inipun, syaa masih ingat bagaimana lagu yang saya nyanyikan sewaktu SD dahulu. Sorry Dwi, laguku dulu juga lagunya orang lain. Hehehe…

Dengan Dwi saya juga masih ingat pernah membentuk kelompok belajar dengan nama ‘Time’di rumahnya. Seingat saya ada saya, Dwi, Marwanto, Nur Gobog, Heri Kizi (kalo ada yang lain sudah lupa). Agak lucu ketika membicarakan nama ‘time’ untuk menyebut nama itu. Ceritanya namanya sebenarnya bukan itu, namun karena kita ga tahu bahasa inggris, yang niatnya ‘team’ malah menjadi ‘Time’. Dan nama ‘Time’ terlanjur ditulis di tas saya. Setelah tahu bahwa yang dimaksud adalah ‘team’, maka saya mengusulkan untuk tetap memakai nama itu dengan filosofi bahwa waktu menunjuk pada kepentingan kita untuk menggunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar. Baguskan alasannya?! Akhirnya nama kelompok itu tetap dengan nama ‘Time’ karena semua sepakat dengan saya. Sebenarnya lucu juga sih, kalau belum terlanjur saya tulis di tas, mungkin saya akan sepakat dengan nama ‘Team’. Hehehe….

Marwanto
Entah sejak kapan saya dekat dengan Marwanto saya tidak begitu ingat. Yang saya ingat, dulu saya pernah main kerumahnya dan diperlihatkan sebuah topeng kayu buatan ayahnya khusus untuknya. Dalam hati saya merasa iri, karena dia begitu disayang oleh ayahnya. Katanya lagi, ketika ayahnya pulang dari kerja di Jakarta, dia pasti dibelikan tas, sepatu yang bagus-bagus. Hal itu membuat saya semakin iri saja dibuatnya. Dalam benak saya, keluarganya yang sederhana adalah sebuah potert keluarga yang saling memberi perhatian dengan tak segan mengucapkan rasa sayangnya. Ibunya saya tahu tidak segan untuk mengingatkan waktu makan telah tiba, hingga mungkin kalau dia sedang tidak dirimah pasti dicari (hanya untuk makan dulu).

Saya ingat dulu, ketika main kerumahnya, saya disuruh memetik mangga sepuasnya. Di depan rumahnya memang ada pohon mangga jenis mangga nanas (katanya). Saya sangat senang sekali melihat kehidupan keluarganya, walaupun saya belum pernah melihat ayahnya yang kerja di Jakarta.

Marwanto adalah anak yang juga jago sepak bola di kelas dulu. Dia orangnya ulet dan pekerja keras. Walaupun secara teknik dan individu dia masih dibawah Arif, tapi dia bukan orang yang mudah menyerah. Dia juga layak menjadi kapten ketika ada di lapangan sepak bola, karena kedewasaannya main bola dan mengatur teman-temannya.

Heri Kizi/ Gembeng
Yang paling dapat saya ingat dari anak ini adalah dia sering menangis. Makanya dia mendapat julukan gembeng. Dia juga salah satu anak yang saya anggap dekat dengan saya. tapi anak ini lucu dan lugu. Seringkali dia menjadi bahan olok-olokan temen-temen. Dan orang yang paling sering dikerjai teman-teman adalah dia. Bisa jadi karena dia memang sering nangis kalau dikerjai makanya temen-temen suka ngerjai dia. Sewaktu temen-temen mengerjai dia, biasanya saya merasa kasihan dengannya, namun ketika dia sudah normal lagi, muncul deh sifat nyebelinnya. Hehehe… walaupun bebitu, saya juga suka bergaul dengan dia.

Yang dapat saya ingat sampai sekarang dnegannya disamping kelompok belajar ‘time’ adalah saya tahu bahwa ibunya adalah seorang pembatik. Ketika itu kelompok ‘time’ dapat jatah belajar di rumahnya dia, maka itu kali pertama saya melihat orang membatik secara langsung. Entahlah, hingga sekarang saya masih suka dengan kain batik. dan suatu saat nanti saya ingin membuat perusahaan batik sendiri. (amin)

Mungkin terlalu banyak ketika saya menceritakan semua teman-teman yang pernah memberi catatan pada kehidupan saya waktu sekolah dasar. Hanya beberapa itu yang dapat saya ceritakan disini. Ketika saya benar-benar merasakan pulang kerumah. Disaat saya mengantar Ibu ke pasar yang letaknya di belakang SD saya. Meskipun sejenak di pasar, saya masih ingat benar bagaimana SD dan teman-teman saya. Semuanya melintas seperti sebuah rekaman yang lama tersimpan dalam kenangan saya.

Untuk semua teman-teman saya, terimakasih karena membentuk saya seperti sekarang ini. Tanpa kalian mungkin saya tidak akan seperti sekarang.

Juli 2009
Agus Raharjo

Minggu, 24 Mei 2009

Doa dan Ikrar

Bulan ini, nampaknya adalah bulan yang sungguh baik. Bernuansa positif. Kalaupun ada peramal yang mengatakan, bulan ini adalah bulan bahagia. Mungkin saja benar adanya (bukan bermaksud percaya pada peramal). Bulan dimana banyak penyatuan moment yang menyatukan hati. Bulan berkah bagi para insan yang sedang merindukan “sang pelengkap”.

Bagaimana tidak? Dalam satu bulan ini, ada empat orang dekat saya yang akan berikrar setia pada ikatan suci perkawinan (Hmm…jadi pengen, Ya?!). Dan semuanya saya yakin telah melalui lika-likunya masing-masing untuk dapat berikrar di depan saksi seperti yang akan mereka lakukan itu. Sebuah ikrar yang akan membuat dua insan memegang kewajiban dan haknya masing-masing pada pasangannya.

Ada undangan yang benar-benar saya cermati isi dan gambar-gambarnya. Memang biasanya saya sering tidak memcermati undangan, hanya melihat waktu dan tempatnya saja. Tapi kali ini lain. Ada gambar kupu-kupu dan siput pada desainnya. Pertanyaan pertama yang timbul adalah, apa maksud kupu-kupu disandingkan dengan siput? Yang saya tahu, kupu-kupu adalah penjelmaan dari sebuah proses pembelajaran. Dari ulat yang bisa kita anggap menjijikkan sampai pada kupu-kupu yang menarik perhatian kita. Bisa jadi kupu-kupu adalah sebuah kelahiran baru. Yang jelas, siapa yang merasa menjadi kupu-kupu adalah seorang yang merasa dirinya terlahir kembali dengan segala kebaikan yang melekat padanya. Bagi saya, seseorang yang merasa seperti itu saya anggap adalah orang yang sangat menghargai sebuah proses.

Sedangkan siput? Kita tahu bahwa siput adalah seekor hewan yang malu-malu. suka bersembunyi dalam rumahnya. Dan sangat lambat sekali untuk bergerak. Bisa jadi, lambang dari keberadaan siput adalah gambaran sebuah kesabaran dan “menikmati” perjalanan. Sampai saking lambatnya, mungkin dia adalah seorang yang benar-benar detail jika diminta menerangkan apa yang telah dilewatinya.

Siput dan kupu-kupu? Adalah perpaduan yang tidak sepadan dalam arti ruang dan waktu. Itupun saya dapati pada halaman “Tentang Kami” yang menerangkan tentang pribadi calon pengantin. “Hampir semua yang ada pada kami adalah beda.” Namun, sungguh sangat bijak ketika mereka dapat disatukan oleh “Cinta (Misi dan Jiwa)”. Bisa jadi keduanya sangat menyadari benar perbedaan tersebut, namun, pada akhirnya mereka akan menginjak ke pelaminan.

Ada yang menarik lagi bagi saya pada undangan yang saya terima itu. Adalah doa calon pengantin. Saya akan jujur, bahwa saya membaca sampai pada akhir setiap kata-katanya. Entah itu benar-benar doa mereka atau dibuat oleh desaigner undangan. Namun doa yang mereka panjatkan dapat membuat saya terharu.
:
Doa Kami

Habib:
Berkenanlah Engkau Yaa Rabb,..
Menjadikan hadirnya seorang wanita berada di samping
Hamba_Mu yang lemah ini
Menjadikan hadirnya seorang wanita memberikan kesejukan
Dalam rona-rona biru hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan lembut dan kelembutannya
Menjadikan karang dalam hati ini,…luluhhh
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan sabar dan kesabarannya
Menjdikan hati ini mampu mencapai Mardhatillah bersamanya…
Menjdaikan hadirnya seorang wanita dalam hari-hari
Menapaki jalan hidup di dunia menuju Akhirat yang abadi
Menjadikan hadirnya seorang wanita pengarah arah tujuan
Manakala terdapat khilaf dalam menapaki jalan hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita,.. sebagai kekuatan setelah kekuatan_Mu dengan doanya
Menjadikan hadirnya seorang wanita dnegan ketaatannya
Memasukkan kami bersama dirinya dalam Syurga dengan Ridho_Mu

Eni:
Dalam jalani hidup dan kehidupan
Tuhanku…
Aku berdoa untuk seiorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Tuhanku…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuik mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkandiriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Tuhanku…
Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekadar cintaku..


Pada akhir doa, masih ditambah lagi kalimat: Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: “Betapa Maha Besar Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

Bagi saya sungguh menjadi doa yang menggetarkan. Bukan karena umur saya yang mendekatinya, tapi karena ada ketulusan yang saya rasakan. Ketulusan yang tidak muluk-muluk. Ketulusan yang muncul dari hati.

Bisa jadi saya iri pada keduanya. Dan membaca kedua doa tersebut, saya berpikir, kapan saya dapat membacanya? Juga kapan saya akan didoakan seperti itu. Hmm…mungkin saat ini saya hanya bisa berdoa, Ya Allah…berikanlah kekuatan pada kami sedikit kekuatanmu untuk kesabaran kami menunggu saat-saat itu terjadi. Jagalah kami seperti kami juga berniat untuk menjaga diri masing-masing sampai pada waktunya nanti. Amin…

Doa dan Ikrar? Menjadi benar-benar sakral ketika berada pada momentum yang tepat. Sebelum Ikrar itu benar-benar diucapkan. Doa adalah tempat yang paling tepat untuk meletakkan janji. Dan sebuah Nadzar adalah perwujudan dari seberapa besar kesungguhan akan hal itu. Sekali lagi, semoga Allah memberikan jalan yang terang…

Solo, 20 Mei 2009
Agus Raharjo

Rabu, 28 Januari 2009

Kehilangan

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya…


Sebuah lirik lagu yang begitu dalam. Tentang sebuah rasa yang ada jika yang lain juga ada. Tentang sebuah kehilangan, juga tentang rasa memiliki. Dan kalau kita merenungkan lagi apa arti sebuah kehilangan, kita tak dapat lepas dari perasaan memiliki.

Tanggal 19 Januari 2009. Hari senin yang begitu murung. Mendung mencoba bersikap romantis dengan mengantarkan butiran-butiran hujan pada senjaku. Hari ini, sebuah prosesi perpisahan akan digelar. Dan puncaknya adalah rasa kehilangan. Karena rasa memiliki telah jauh mendekam dalam lubuk hati paling dasar. Kepada seorang wanita. Dia sahabat, kakak, adik, panutan, dia Ibu.

Begitulah. Selalu saja kehilangan itu mengundang kesedihan. Tentang rasa memiliki. Hari senin itu saya dapat merasakan senja saat itu berubah begitu mesra. Didapatinya seseorang akan merasakan perihnya kehilangan. Hingga tak pelak langit mengirimkan kado kecil tentang kesedihan yang juga dirasakannya. Hujan

Waktu berjalan melambat. Seakan menambah drama perpisahan menjadi semakin hidup. Karena hari itu, bukan perpisahan yang biasanya. Hari itu adalah sebuah perpisahan untuk selamanya. Tak akan ada lagi canda diantara kita. Tak ada lagi kemesraan. Bukankah begitu? Ibu?

Tapi, hanya sebentar saja rasa kehilangan membelai. Selebihnya, rasa memiliki. Bahwa aku pernah merasakannya, bahkan untuk sampai hari depan nanti.

***

Itulah yang dapat saya terjemahkan dari kesedihan oleh rasa kehilangan. Meskipun bukan secara langsung, tapi saya mencoba menterjemahkan suasana yang memuram duka atas rasa kehilangan. Kepada seseorang yang bukan saja dekat, tapi sudah ada jauh mengendap di dasar hati.

Meskipun bukan saya yang secara langsung merasakan kemesraan perpisahan itu, namun perpisahan itu membuat kesedihan yang begitu erat dengan saya. Pengalaman itu seperti tak asing bagi saya. sebuah kesedihan karena telah merasa memiliki. Itulah kehilangan.

Tak ayal, ketika rasa kehilangan menyergap pada saat itu—hujan membuatnya semakin lengkap—saya teringat sebuah lagu. Lagu yang bagi saya mewakili sebuah kepasrahan. Tentang kehilangan, dari rasa memiliki.

Dan bagi saya rasa kehilangan memang hanya dapat menyapa, ketika kita sungguh pernah merasa memiliki. Tanpa hal itu, kehilangan hanya menjadi sebuah kesedihan yang tak melankoli. Begitu hambar, tanpa suasana romantis yang tersusun dalam bingkai airmata.

Senja itu saya larut. Pada airmata dari seorang yang ditinggalkan. Dari sebuah prosesi perpisahan agung. Pada sebuah perpisahan untuk selamanya. Wajah riang lucu yang kekanak-kanakan itu. Menjelma menjadi sebuah potret yang tak mampu memendam kepedihan. Meskipun tawa, canda, dan ketegaran, di usap pada sisi raut paling luar.

Tapi saya tahu. Tentang rasa kehilangan. Tentang bagaimana ‘menikmati’ perpisahan itu. Karena aku juga tahu—seperti Letto—tentang rasa memiliki sebelum kehilangan. Bahkan ketika rasa memiliki itu hanya dirasakan, tanpa benar-benar memiliki.

Seperti sebuah film yang saya nikmati beberapa waktu yang lalu. Film dengan judul August Rush. Menceritakan tentang seorang anak yang mencari kedua orang tuanya melalui musik. Karena kedua orang tuanya musisi, maka sangat anak punya bakat luar biasa dalam bidang musik. Dengan mendengar musik itulah dia keluar dari panti asuhan dan mencari keberdaan kedua orang tuanya.

Sang anak—August Rush—didorong rasa memiliki kedua orang tua, punya tekad menemukan Ayah-Ibu melalui getaran-getaran musik yang dia dengar melebihi orang lain. Karena mempunyai rasa memiliki—bahkan belum pernah melihat—orang tua ituilah sampai akhirnya diketahui dia seorang yang jenius dalam musik. Dan dapat ditebak, ending dari film tersebut berakhir bahagia dengan pertemuan sebuah keluarga pada sebuah konser musik.

Kau tahu? Seperti itulah rasa memiliki. Bahkan ketika belum pernah bertemu sekalipun. Dan, kehilangan adalah bagian lain dari rasa memiliki. Memang bertolak belakang. Tapi, ketika kita tidak pernah merasa memiliki sesuatu, apakah kita pernah merasa kehilangan?

Sungguh, dua rasa yang saling melengkapi. Tapi, ketika melihatmu pada hari senin itu. Dengan sama sekali tidak ingin mengusir rasa memiliki itu. Saya berharap, rasa kehilangan akan segera menjauh darimu. Agar keceriaan polos di wajahmu selalu terlihat. Seperti waktu-waktu saya melihatmu. Dan saya yakin tawa itu masih ingin dimiliki orang lain. Akhirnya, saya ingin mengucapkan,”Meskipun kami tidak dapat menggantikan yang telah pergi, tapi kau masih memiliki kami,”

:Charla dan Siti (Kalian adalah harapan bagi sebuah keluarga)


Solo, 21 Januari 2009
Agus Raharjo