Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Surat untuk Cinta #9 (Kangen Cinta)



Menjelang pagi...
Harus aku mulai darimana...
Baiklah, begini saja. Aku mulai dari melihat foto-foto bunga angsana kuning. Kau tahu itu mengingatkan kita dengan apa?

Aku tahu kau pasti akan menjawab cepat-cepat. Yes, itu adalah pohon yang ada di kampus kita. Sudah berapa tahun kita tak menengok kesana lagi?

Aku pikir, sekarang memang sedang musim semi. Setidaknya bagi bunga yang memberi banyak kenangan pada tempat yang mempertemukan kita. Angsana. Dulu aku tak sempat memikirkan namanya. Hanya warnanya. Kuning, dan hampir menyelimuti jalan-jalan di kampus. Kita memang beda fakultas, tetapi bertetangga.

Aku lebih beruntung karena bisa sering menikmati hutan. Tempat dimana pohon-pohon angsana menemukan rumahnya. Mungkin sama sepertiku. Telah menemukan rumah. Itu kamu, ada di kamu, Cinta.

Sebuah tempat berkumpulnya mimpi-mimpi. Melepas lelah, mendulang peluh, menikmati pagi dengan secangkir madu hangat. Mulai membiasakan makan sambal terasi. Hingga sudah mulai bosan mengunyah bandeng presto. Itulah rumah.

Ada waktu berkumpul, ada saatnya berangkat kerja. Bercengkerama dengan anak-anak. Menemani mereka belajar. Mendiskusikan sesuatu denganmu saat anak-anak sudah tidur. Kecupan selamat malam. Itulah rumah.

Ia sebuah ruang dan waktu untuk kembali, pulang...

Dulu, kau pernah bertanya. Pernahkah aku rindu? Sejujurnya, aku lebih rindu anak-anak, jawabku. Dan itu memang benar. Seolah memang anak-anak menjadi penawar baru bagi kita. Coba saja sehari dua hari tidak bersama mereka. Kalau aku bertanya, apakah kau rindu aku, itu sebuah pertanyaan retoris. Kau akan jawab, lebih rindu anak-anak. Itulah kita, Cinta.

Keberadaan mereka tak merenggutmu darimu, atau sebaliknya. Mereka menyatukan. Mereka rumah-rumah yang mungil. Mereka melengkapimu menjadi rumah paling nyaman untuk pulang.

Kau pasti bertanya, kapan aku bisa rindu lagi. Mungkin saat aku menulis surat inilah waktu yang paling pas. Aku kangen, Cinta. Sudah berapa purnama, aku lupa. Beruntungnya aku, memilikimu. Syukuri, dan terus memuji.

Ini hanya surat ringkas, bukan pungkas. Rindu, tak disangka-sangka. Ia ada, memang seharusnya ada. Entah dimana selama ini. Aku memang tak menemukanmu seperti yang pernah kulihat sepuluh tahun lalu. Tapi itulah kita, terus bergerak. Memang harus bergerak, bahkan kalaupun harus merangkak. Ingatkah dengan cerita tentang cicak dan nyamuk. Mereka juga bergerak.

Apapun itu, aku rindu. Setidaknya saat ini, sampai hari sudah semanis senja bagi malam. Aku belum bisa memejamkan mata. Sudah cukup surat ini, Cinta. Aku hanya ingin mengatakan. Aku kangen, Cinta. Itu saja.

Jakarta, 15 Desember 2018

*foto dari https://www.idntimes.com/life/education/jcnd/hal-hal-ini-akan-kamu-rasakan-ketika-menjadi-alumni-kampus-kentingan-uns-c1c2/full

Kamis, 05 Juli 2012

Rumah dan Satu Peristiwa di Waktu Sahur


Pagi-pagi, Ibu membangunkanku, juga seluruh saudaraku. Hari masih gelap. Diantara pukul 02.30 hingga 03.00 Waktu Indonesia bagian Klaten. Beberapa saat kemudian, radio kecil hiburan kami yang paling mewah menyala. Seorang ulama dengan suara khasnya lalu sayup memenuhi ruangan tempat makan. Suara ulama yang sering menyebut kata “betul” dengan nada yang tak kalah khasnya. Bukan ruang makan, karena kami tak memiliki itu. Tak ada meja makan, juga tak ada piring ditata rapi agar meja disebut meja makan.

Lalu, Ibu yang sudah bangun lebih dahulu. Biasanya satu jam sebelum kami dibangunkan, masih menyiapkan nasi atau lauk untuk kami semua. Yang paling saya ingat, telur dadar di piring itu dipotong sesuai jumlah kami yang akan makan sahur. Kenapa tidak memilih di goreng telur mata sapi atau telur? Karena memang tidak ada pilihan itu. Dua butir telur sengaja digoreng dadar agar semua kebagian untuk memakannya. Irisan-irisan telur yang kadang saya rindukan setelah 15 tahun berlalu.

Saya sangat ingat, disaat kami saling berebut untuk mengambil telur pertama kali. Sebab, yang pertama memiliki kesempatan paling besar untuk memilih irisan terbesar telur dadar yang kadang dicampur dengan irisan bawang merah dan cabai. Selanjutnya, mengelilingi suara radio, kami makan sahur tanpa Ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak hanya menyiapkan makan sahur untuk kami. Meskipun kami ingin mereka ikut makan sahur dengan kami, tapi kehidupan demokrasi dan kebebasan yang tertanam secara tak sengaja di keluarga kami, membuat kami (ketujuh anak Ibu-Bapak) tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Secuil peristiwa itu adalah rutinitas yang terjadi di bulan Ramadhan, saat 9 anggota keluarga masih berkumpul 15 tahun lalu. Di sebuah tempat yang selalu kami rindukan untuk kembali. Sebuah tempat yang disebut rumah bagi sebuah keluarga besar Suranto Martowardoyo. Saat ini, rumah itu sudah lain. Peristiwa makan sahur di bulan Ramadhan sudah tak ada lagi seperti waktu aku kecil dulu. Waktu itu, kami masih berkumpul, lengkap. Sampai Lebaranpun, kami tetap berkumpul. Tapi saat ini, dan mungkin Ramadhan yang kurang sebulan lagi datang, sebagian kami ada di tempat yang jauh.

Bisa jadi rumah itu sepi. Sulung Ibu, saat ini masih berjuang dan berusaha mewujudkan impian di negeri nun jauh disana, Jerman. Kakak kedua, meskipun lebih dekat, tapi juga berusaha membangun rumah impian untuk keluarganya. Entah di Klaten atau di Ciamis. Aku sendiri, bahkan tahun lalu tidak dapat berkumpul saat Ramadhan dan Lebaran. Aku sedang berjuang membangun apa yang pernah aku impikan. Kedua adik perempuanku, saat ini lebih banyak tinggal di kota tempat mereka merancang masa depan, Yogyakarta. Praktis, hanya kakak perempuan dan adik laki-lakiku yang setia menjaga rumah. Menjaga Ibu dan Bapak. Semoga tetap menjaga suasana tenteram disana.

Kami, pergi untuk selalu kembali. Itulah yang selalu tertanam di pikiranku. Kembali pada keluarga, kembali untuk keluarga, dan kembali ke rumah. Meskipun, saat Ahmad Albar menyanyi, rumahku ‘hanya bilik bambu, tempat tinggal kita, tanpa hiasan tanpa lukisan, beratap jerami beralaskan tanah’, namun itu rumah kami.

Rumah yang senantiasa terbawa selalu dalam perjalanan kami. Sejauh apapun itu, rumah selalu ada di hati kami. Juga seisinya. Kadang tawa, tangis, diam, sunyi, keluh, peluh, marah, pertengkaran. Namun kami mengerti, kami lahir dalam keadaan yang kami syukuri saat ini. Bersama rumah itu, Ibu-Bapak, Kakak-Adik, aku mengerti, aku lahir di sana bukan tanpa alasan. Aku mengerti arti hidup sesungguhnya, arti menghargai pendapat, belajar bijaksana bukan hanya berpijak pada satu sudut pandang, dan arti kebahagiaan itu seperti apa.

Dulu, pertama kali aku ‘pergi’, dalam hati aku berjanji, tak akan pulang sebelum sukses. Akhirnya, sukses itu bukan soal kaya raya. Bukan soal aku punya jabatan tinggi, punya banyak uang. Tapi aku mengerti aku merindukan mereka semua, Ibu-Bapak, kakak-adik, dan rumahku di ‘56’. Ramadhan tahun ini, sepertinya ada kekuatiran tidak dapat pulang lagi. Meskipun pulang, semua akan terasa lain. Tanpa ketiga kakakku dengan keluarganya, tanpa ketiga adikku dengan kenakalannya. Ah, semua begitu indah untuk dibayangkan. Terlebih banyak anggota baru yang akan meramaikan rumah kami. Aku rindu keramaian itu. Gelak tawa diantara canda-canda. Suara jengkel karena digoda. Aku rindu makan sahur dengan suasana sama seperti lima belas tahun lalu.

Untuk semua orang yang kusayangi disana, baik-baik kalian. Jaga baik tempat pulang itu, dan akan kurawat jalan pulang ini. Untuk semua yang tengah berjuang di tempat yang jauh, juga baik-baik disana. Rumah selalu menunggu untuk jadi tempat pulang. Meskipun bukan di Ramadhan ini, mungkin juga di Lebaran nanti. Tapi kita diikat oleh kisah yang besar. Kisah untuk bangkit karena rumah kita adalah rumah impian. Rumah semangat. Rumah perjuangan. Kita adalah keluarga besar. Ibu-Bapakku orang besar. Dari mereka lahirlah tujuh orang besar. Waktu selalu bergerak maju, tapi sejarah menyimpan kisah itu dalam buku kenangan. Rumahku dan juga Ramadhanku. Satu peristiwa di waktu sahur. Waktu itu.

Surabaya, 5 Juli 2012
Agus Raharjo

Selasa, 14 Februari 2012

Surat Untuk Cinta #8


Selamat hari yang gembira untuk Cinta…
Tapi bukan karena hari ini sebagian orang merayakan hari kasih sayang. Aku tidak ikut merayakannya. Dan kuyakin kau juga tidak.

Bagaimana kabarmu disana, Cinta? Apakah masih sering dilanda hujan, ditempatmu? Hujan yang terkadang memberi lambang duka, sedih dan tangis.

Mungkin sebagian dari orang-orang ditempatmu itu, hujan membuat kesedihan secara nyata. Membuat negara kerepotan untuk mengungsikan penduduk, membuat warga sendiri harus menerima kenyataan bahwa mereka harus takluk pada alam. Namun disini, ditempatku sekarang, hujan sangat dinanti-nanti. Ia dipuja, disanjung. Bahkan hewan semacam ‘Kinjeng’ pun akan bernyanyi. Nyanyian itulah yang membuat petani—sebagian masyarakat disini masih petani, bersiap untuk menanam. Ya, walaupun juga terkadang hujan membuat seseorang menjadi malas beraktifitas. Namun, airnya sangat dinanti-nanti. Saat itu, padi-padi akan segera menghijau diantara pematang sawah.

Taukah kau, Cinta? Aku mendamakan kehidupan seperti itu. Ada sawah, petani, ternak, dan udara segar di pagi hari. Apakah kau juga memimpikannya?

Aku menyadari, di tempatmu, gedung-gedung berebut mencium langit. Sawah, ladang, dan tumbuhan yang hijau hanya jadi poster kampanye ‘Global Warming’. Disini, kau tidak hanya menikmati negeri impian itu sebatas melihat gambar kalender. Namun, kau akan menemukan semua pesona gambaran hidup asri disini. Di negeri yang bisa kausebut kampung atau desa. Disini, sekelilingmu adalah hamparan padi yang menghijau. Sungai yang mengalir airnya jernih. Dan keramahan penduduk akan menyapamu. Semua itu bukan kisah di dalam poster yang kaulihat dikantormu, atau di jalanan yang biasa kau lewati. Disini, semua itu nyata.

Na, terkadang—seringkali, hujan mengingatkanku akan masa lalu. Masa lalu saat kita masih mencari, siapa diri dan dimana bediri. Kala itu, kau mungkin tak pernah menerka, ada apa dengan hari ini. Saat itu juga, aku mungkin tak bisa memilah, impian dan kenangan. Semua tentang kau. Masa lalu, berlalu, lantas menyisakan ingatan tentang kenangan.

Na, suatu kali, kukunjungi titik pangkal masa lalu suatu bangsa. Namanya Mataram Islam. Ia, bagi sebagian orang hanya tinggal direntetan tulisan buku sejarah di sekolah. Namun disini, ia masih hidup. Hidup dengan semangat dan mitos-mitos yang melestarikannya. Ia pernah menjadi besar, lalu sekarang hanya tersisa puing-puing berserakan. Seperti kenangannya berserakan di buku-buku sejarah dan ingatan masyarakatnya. Namun, bagiku, ketika aku singgah disana, barang sejenak menikmati betapa besar ia masa itu, aku ingin menyesap kenangan yang tersebar menjadi tulisan yang mungkin tak ada arti lagi. Aku sungguh menikmatinya. Seolah aku ingin benar-benar dapat kembali mengulang masa itu. Atau setidaknya ada di saat kenangan itu mulai menjadi cerita.

Ada masa saat kita ingat kenangan, bukan? Mungkin saat itulah terkadang seseorang menemukan kembali rasa bahagianya. Bukan uang, harta, pangkat, jabatan ataupun segala rupa penghias dunia. Karena masa itulah yang paling setia. Ia ada dibelakang kita, selamanya.

Na, ingatkah kau pada saat sujud menjadi peletup kecintaan? Disana ada rongga yang minta diisi. Apa yang mengisinya semoga tetap sebuah ketentraman hati. Ah.. aku semakin lupa, bahwa selama ini aku memang merindukanmu. Suka menemukanmu dalam kenangan yang dibawa masa lalu. Merindukan gejolak dikala kita berjauhan seperti ini. Aku lupa itu, mungkin juga tak menyadarinya. Kenangan yang dibawa masa lalulah tempat rindu itu bersembunyi. Ia setia ketika kau ada di dekatku. Jadilah seperti itu, karena kerinduan ini jadi harta tak terduga yang suatu kali akan kutemukan lagi. Dia ada di dekat, tapi terkadang tak kupahami, atau kusadari. Begitu juga kau.

Biarlah tetap seperti itu, Cinta. Dengan begitu kita dapat saling meresapi lagi. Menikmati setiap nafas yang kauhirup terkandung namaku, dan di nafasku ada namamu.

Cinta, pernahkah kau tahu bahwa Eyang Pram pernah menyampaikan, bahwa temannya Minke yang semakin jauh dengan Annelies pernah mengungkapkan, di depan manusia itu ada jarak, ia menjadi pembatas antara kita dan ufuk yang jauh disana. Jika kita mendekat ke ufuk, ia akan berlari, yang ada di depan kita masih juga sama, jarak. Karena mereka abadi. Itulah yng terjadi diantara kita, ada jarak di depan kita, beruntung kau bukanlah ufuk, maka saat aku atau kau mendekat, jarak semakin pendek, dan tak akan ada ketika kita menyatu. Aku dan kau bukan ufuk. Tapi aku dan kau adalah cerita yang akan jadi kenangan masalalu bagi hari esok.

Kuakhiri surat ini dengan segenggam haru yang mungkin ingin segera bertemu. Agar kita memang bukanlah ufuk. Na, hati-hati di tempat penuh ketidakpastian seperti tempatmu itu. Semoga kau selalu baik-baik.

14 februari 2012
Agus Raharjo

Tragedi Jalan Mahakam

Senin, 19 September 2011. Jam 12 siang saya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dapat telf dari kantor, untuk meliput rapat kerja Komisi III DPR RI di kawasan Senayan. Sempat bingung juga jalannya, karena saya mengendarai motor. Setelah tanya-tanya ke beberapa orang, akhirrnya saya ada di depan ruang rapat kerja Komisi III. Sungguh malang, ternyata rapatnya telah selesai. Saya memberitahu kantor, dan dikabari telah terjadi kericuhan di SMA 6 Bulungan antara Wartawan yang melakukan aksi dengan anak-anak siswa SMA 6. Tanpa pikir panjang saya segera meluncur ke tempat kejadian. Tepatnya di jalan Mahakam.

Di perjalanan, saya sempat kebingungan dengan arahnya. Saya merasa tersesat, namun tidak terlalu jauh, kata atasan di kantor yang saya kabari. Kemudian saya bertanya di sana-sini mana sekolah SMA 6 Jakarta. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya saya menemukan lokasi itu.

Saya tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Di lokasi, masih banyak teman-teman wartawan dan juga aparat kepolisian. Saya mendekat, mencoba mencari tahu perihal bentrokan yang terjadi tadi pagi saat wartawan aksi damai. Setelah saya tanya ke beberapa wartawan, ternyata pangkal masalahnya terjadi pada hari Jum'at kemarin. Saya dengar dari teman-teman wartawan, juga atasan saya, bahwa hari Jum'at lalu ada wartawan TV dari Trans dikeroyok anak-anak SMA 6 saat sedang meliput tawuran. Kaset video wartawan hilang. Alasannya, saat wartawan mengambil gambar mereka yang tawuran, anak-anak SMA tidak menerima. Bisa jadi mereka malu kalau ketahuan tawuran. Mendengar hal itu, sontak saya merasa emosi. Buat saya ini suatu pelecehan profesi. Namun, saya mencoba berpikir dengan kepala dingin, dan saya melanjutkan untuk mengorek kondisi yang telah terjadi di jalan Mahakam tadi pagi.

Sebagian teman-teman wartawan sudah meninggalkan lokasi. Beberapa ada yang melaporkan kejadian tadi ke Polres Jakarta Selatan, lalu yang lain pergi entah kemana. Mungkin melanjutkan pekerjaan mereka. Saya bersama beberapa teman wartawan lain masih tinggal di lokasi. Disamping saya masih mencari bahan untuk tulisan, saya juga berbincang dengan Kapolsek Kebayoran Baru, Pak Hando. Dari obrolan saya dengan teman-teman wartawan dan Pak Hando, saya jadi tahu bahwa tawuran di SMA 6 memang sering terjadi. Bahkan, kata Pak Hando, ini sudahseperti kutukan. Katanya sejak dulu sudah sering tawuran. Sudah sejak tahun '65. Ada teman wartawan yang nyeletuk bahkan sebelum merdeka. Walaupun itu bercanda, namun saya mengerti, tawuran SMA di Jakarta memang sering terjadi.

Pukul 14.25 WIB, saya yang sedang duduk dengan Pak Hando, menjadi waspada ketika segerombolan anak SMA melintas didepan wartawan. Mungkin mereka akan pulang, atau masuk sekolahan. Teman-teman wartawan yang masih tinggal bertanya dari SMA mana mereka. Tapi mereka diam saja dan berjalan dengan angkuh dan cuek. Mereka tidak menghirauakan pertanyaan wartawan. Setelah ada sorakan dari wartawan yang mengatakan 'Hidup 70! SMA 6 ga akan menang!' Anak yang berjalan paling depan balik badan dan menantang wartawan dari kejauhan. Sontak wartawan sadar bahwa mereka anak SMA 6. Beberapa wartawan yang terpancing emosi langsung mengejar, dan terjadilah bentrokan kecil. Jumlah wartawan dan anak SMA tidak begitu jauh. Namun, dari sisi rombongan anak SMA datang tadi (dari perempatan Bulungan) juga terjadi bentrokan lain. Tak berapa lama, bentrokan membesar dengan jumlah anak SMA yang semakin banyak. Polisi telah meletuskan tiga kali tembakan peringatan, tetap tidak digubris. Sepertinya mereka yakin bahwa polisi tidak akan benar2 menembak mereka. Wartawan yang hanya sekitar 20 orang kewalahan menghadapi ratusan siswa. Wartawan perempuan ketakutan dan menyelamatkan diri. Anak SMA semakin beringas mengejar dan memukuli wartawan. Tak luput salah satu wartawan perempuan dari Trans kena tendangan saat akan memasuki mobil untuk menyelamatkan diri.

Saya tahu, ketika saya ikut berlari maka saya juga tidak akan luput dari kejaran siswa SMA yang jumlahnya ratusan itu. Lalu saya memutuskan untuk tetap berjalan, mencoba untuk setenang mungkin agar tidak dicurigai sebagai wartawan. Saya berjalan sambil memegang HP seperti tidak terjadi apa-apa. Saya menuju ke Blok M Mall untuk mengamankan diri. Saat berjalan, saya dilewati puluhan siswa yang mengejar wartawan. Saya benar-benar tidak mengerti dengan keadaan ini. Siswa SMA sangat beringas seperti melihat musuh dalam sebuah peperangan. Semua wartawan menyelamatkan diri, saya tidak tahu kemana mereka semua.

Setelah saya sampai di Mall, saya balik badan dan melihat lokasi, ternyata lokasi telah sepi. Wartawan sudah tidak terlihat lagi. Lalu muncul rombongan siswa SMA yang saya perkirakan berjumlah ratusan berjalan melewati lokasi. Mereka seperti sekelompok geng yang saya lihat di film-film Mandarin yang akan berperang. Dalam hati saya berkata, mereka masih sempat mensweeping lokasi. Seperti gerombolan anggota geng, bukan siswa SMA.

Lalu, setelah beberapa waktu, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kejadian. Saya berniat menulis lebih lengkap soal insiden di SMA 6 tersebut. Saya searcing tentang insiden di internet, ternyata sudah banyak tulisan maupun akun tweeter yang membahas masalah bentrokan itu. Banyak fakta baru yang saya temukan. Saya baru mengetahui bahwa ada yang melempar mangkuk soto ke arah guru SMA. Saya juga baru tahu bahwa siswa SMA di salah satu akun tweeter menyebut bangga telah bisa membuat bonyok wartawan. Sungguh, itu kejadian ironis dalam dunia pendidikan dan profesi wartawan. Ada lagi yang bilang, anak SMA emosi ketika ada wartawan yang menaiki dinding gerbang. Mereka mengaku tidak terima ketika sekolah mereka 'diinjak-injak'.

Ada pertanyaan besar buat mereka anak SMA, apakah mereka juga tidak bertanya seberapa emosi wartawan ketika profesinya dilecehkan? Bahkan dihalangi dan dikeroyok? Sungguh, betapa amatiran mereka.

Dan untuk wartawan, setidaknya, dapatkah ditempuh jalan yang sopan dan beretika ketika meminta pertanggungjawaban atas suatu insiden? Kita semua emosi, tapi mereka perlu pembelajaran yang baik. Kalau mediasi sudah ditempuh, lantas apakah konfrontasi menjadi pelengkap lain? Semoga kasus ini menjadi pijakan koreksi bagi kedua belah pihak. Terkhusus siswa SMA yang suka tawuran. Ingatlah, perjalanan hidup kalian masih panjang. Banyak rintangan yang lebih berat dari sekadar mengalahkan lawan dalam tawuran. Kebanggaan sejati bukan pada menang atau kalah, tapi bagaimana kekuatan kita berguna untuk masyarakat luas. Bagi bangsa dan negara ini. Kalau kalian masih mengaku generasi penerus bangsa. Pemuda yang bisa dibanggakan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan pendiri bangsa ini.

Saya dan teman-teman wartawan merasa dihina ketika profesi wartawan diinjak-injak seperti itu, begitu juga anak SMA merasa dihina jika dinding gerbang mereka diinjak-injak. Lantas kalau sudah saling memahami, jangan pernah memulai untuk menghina, bahkan merusak dan mengeroyok.
Salam Indonesia untuk Semua!!!

Jumat, 15 April 2011

Monas




Proklamasi

Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain, diselenggarakan, dengan cara dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Idonesia

Seokarno-Hatta


Naskah proklamasi tersebut dibaca Ir. Soekarno. Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dan menandai tonggak lahirnya negara kepulauan bernama Indonesia. Ir. Soekarno kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama, dan Hatta menjadi wakilnya.

Saya mendengar naskah itu langsung dibaca oleh Ir. Soekarno, meskipun hanya lewat rekaman. Pada tanggal 5 Februari 2011 di Monumen Nasional, Monas. Saya tertegun mendengarnya, meskipun tidak melihat sosok Soekarno secara langsung. Terasa ada yang bergetar dalam dada saya. Mungkin karena saya mengingat momentum sejarah dimulainya kisah tentang bangsa Indonesia. Dan saat ini, telah hampir 66 tahun usia Indonesia sejak saat itu.

Monas, menjadi salah satu bangunan penanda yang begitu monumental. Didalamnya, kita dapat melihat diorama perjalanan sejarah bangsa Indonesia—meskipun tak lengkap. Dan yang pasti, ia menjadi tonggak yang tetap kokoh menjadi identitas Indonesia, terutama Jakarta. Biarpun udara Jakarta semakin berpolusi, sinar matahari semakin menyengat, dan sampah bertebaran, Monas seolah menopang Ibukota.

Pada hari itu, saya tak sempat melihat lanskap kota Jakarta dari puncak Monas. Kabarnya, kalau ingin dapat sampai puncak Monas, kita harus datang sebelum jam 9 pagi. Saat itu saya memang datang terlalu siang. Hampir setiap hari, antrian selalu ada untuk naik puncak Monas menggunakan lift. Meskipun tak sempat melihat lanskap Ibukota, saya cukup senang ketika telah mengunjungi Monas.

Monas, menjadi miniatur tonggak berdirinya republik Indonesia, maka tak heran dekat dengan sejarah. Ketika monas dibangun, sejarah mengikutinya menjadi sebuah identitas yang terekam dalam bangunan tegak menjulang dengan puncak yang berlapis emas. Monas, seolah menjadi satu tiang pancang yang mengingatkan kita pada bersatunya berbagai suku, ras dan agama atas nama bangsa Indonesia. Beribu-ribu pulau, berjuta-juta manusia menjadi sebuah identitas satu, negara Indonesia. Dan semuanya, tersimpan rapi dalam sejarah menjelma Monas.

Bagi saya, ketika melihat sejarah seolah mendengarkan kakek bercerita tentang masa lalunya—meskipun hanya dalam khayalan, karena saya tidak pernah mendengar kakek bercerita atau mendongeng. Dari sanalah masa lalu saya, asal muasal saya. Dan dari sanalah saya mengerti siapa saya. Sejarah menjadi dasar identitas yang melekat dalam diri saya. Sebagai orang Indonesia. Maka tidak salah ketika padamu negeri kami berbakti, padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami mengabdi, dan bagimu negeri jiwa raga kami....

Itulah sepenggal tentang Monas yang tak mungkin lengkap.

***


Tanggal 5 februari 2011. Berawal pada ketika pernah berjanji. Maka pada hari itu, tepatnya hari sabtu. Pagi-pagi dada saya telah berdebar-debar. Nanti, saya akan meakukan hal yang bagi saya sungguh dramatis. Darah saya akan diambil. Maka seperti yang telah direncanakan, saya berangkat menemui seseorang. Lalu berangkat menuju sebuh tempat yang sangat asing bagi saya. Palang Merah Indonesia. Letaknya di daerah Senen. Dua kali saya harus ganti busway untuk sampai ke tempat itu.

Saya tidak tahu telah melewati apa saja. Saya seperti orang yang akan disunat kembali—bahkan lebih mengerikan. Ada semacam rasa takut, tapi tidak ada kelegaan setelahnya. Yang dapat saya ingat hanya Monumen Nasional, disebabkan oleh suatu janji juga. Jadi akhirnya sampai juga saya ke PMI. Saya mengambil formulir pendaftaran dengan gugup, lalu mengisi kotak-kotak kosong dengan tulisan sesuai dengan petunjuknya.

Seorang ibu bertanya pada saya, yang lebih saya rasakan seperti sebuah hal yang wajar, apakah itu pertama kalinya saya donor darah. Saya jawab dengan perasaan yang takut, iya.

Lalu, tibalah waktunya jarum ditusukkan di lengan sebalah kiri saya. Rasanya seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya, ada rasa nyeri yang meggesek-gesek daging saya. Bagi saya bukan masalah rasa sakit, tapi lebih pada rasa geli dan nyeri yang mungkin saya takutkan karena merasa ada benda asing dalam tubuh saya.

Itulah pertama kali saya mendonorkan darah. Sebelumnya, tak pernah ada keinginan sama sekali untuk donor darah. Alasannya bukan karena rasa sakit, tapi semacam rasa geli dan terganggu dengan benda atau semacamnya yang menempel di kulit dan menghisap darah saya. Saya persembahkan donor darah itu pada seseorang yang sangat berarti bagi saya. Donor darah itu akan jadi sebuah pemberian paling istimewa untuk hari yang istimewa buatnya.

Hari itu, bukan hanya jadi hari istimewa untuknya, tetap juga untuk saya. Alasan sebuah janji juga akhirnya dia menemani saya berkunjung ke Monas. Sejak sebelum menginjakkan kaki di Ibukota saya memang telah berniat untuk mengunjungi Monas. Saya ingin menikmati sensasi mengingat sejarah tentang Indonesia. Lalu juga kenyamanan bersama orang yang menemani saya.

Kami berfoto, jalan-jalan, mendengarkan Presiden Soekarno membaca naskah proklamasi, dan makan bersama. Benar-benar hari yang istimewa untuk kami. Tapi masih belum lengkap.suatau hari nanti, kesemuanya itu akan lengkap, dan kami akan benar-benar merasa sempurna seutuhnya menikmati hari yang istimewa. Seperti hari itu. Iyakan? Na....


2011
Agus Raharjo

Rabu, 30 Maret 2011

Surat untuk Cinta #7: ‘Dari Ayah untuk Bunda’

Selamat bertemu kembali, Cinta…
Dan selamat datang untuk hidup baru bersama…

Semoga hari-harimu yang lalu tak seperti hari ini yang terasa murung. Hari ini, menjadi hari yang sedikit ganjil. Hari yang harusnya membuka kisah kita dengan kalimat-kalimat gembira, justru mendung menahannya menjadi kata-kata gelisah. Untuk satu waktu yang kita selami maknanya—setelah bersama. Pada ruang yang kita coba urai maknanya—seusai merapat. Kalau kata Dee,”karena ada jarak kita mendekat”. Itulah kita saat ini, Cinta…

Kita yang telah lama memendam duka, kita yang semakin rajin memilin kisah dengan diam-diam. Akhirnya apa yang kita harap datang, akan datang sebagai anugerah paling indah bagi kedua kita. Jangan lupa kita pernah membuka waktu secara perlahan, dan sabar. Kita sesekali menggeser jarak dalam ruang, hingga akhirnya aku panggil kau, Cinta…

Cinta…
Apakah hari ini kau masih merinduiku? Seolah bertanya apakah kita menjadi manusia biasa yang akan lelah dan menjadi bosan? Bosan pada cerita-cerita indah yang makin lama menjadi hal biasa. Bosan pada kata-kata mesra yang akhirnya menjadi kalimat berakhiran titik saja. Atau bosan pada ungkapan cinta yang bagimu hanyalah suara tak mesra? Jika mulai lelah, dekapkan dirimu pada pelukanku, sandarkan hatimu pada cerita tentang betapa beratnya jalan yang pernah kita lalui. Aku bukan malam, dan kau bukan siang yang tak akan pernah bertemu. Kau juga bukan bintang, sedang aku bukan bulan, yang mengenal waktu menemanimu.

Cinta…
Jika memikirkannya, aku tahu hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaanku padamu. Bukan hanya kecil, hatiku hanya ada satu, dan itu telah kutitipkan padamu. Maka jagalah ia selayaknya kau jaga hatimu sendiri. Aku telah berpaut denganmu, kau telah mengikat denganku. Tak lebih jika sebentar lagi kita bernama ‘ayah dan bunda’. Kedua kata itu seakan mengusik keadaan yang paling nyaman untuk minta didengarkan. Akan ada ayah bagi lahirnya idealisme yang tak akan mati. Juga bunda untuk melindungi segala yang kau kandung.

Mari, Cinta…atau mari bunda… kita lahirkan kisah-kisah yang terkenang sepanjang sejarah. Kita bangun impian dengan penerus-penerus yang mampu berpikir, bertindak dan tak lupa berdoa. Ia adalah benih, yang lahir dari getirnya laju waktu membuktikan cinta, maka tiupkan nafas hidup bagi sesamanya. Ia adalah awal dari kisah sejarah tentang kita. Maka bahagialah kita dalam masa yang tak akan kita lupa.

Bunda…
Ah, sapaan itu terasa membuatku nyeri. Begitu lembut dan sarat melankoli. Ada ruang-ruang manja yang mengisinya. Apakah kau suka dengan itu? Panggilan yang bagitu, ternyata membuktikan tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar cinta. Karena dia melahirkan buah dari cinta. Sedang cinta hanya menjelma tindakan.

Bunda, hari ini kau terlihat begitu cantik—meskipun biasanya memang kau cantik. Tapi hari ini, setelah masa yang sudah lalu, kau membuatku merasa menjadi seorang ayah yang tak lagi mencerna frasa-frasa duka. Ayah yang tak lagi mengungkit bait-bait sakit. Terkadang juga harus berbisik lirih pada perih. Ayah telah menjadi seorang yang siap untuk membaca kisah yang akan jadi sejarah. Karena ada jarak kita mendekat…

Bunda… kau adalah jelmaan Cinta dari segala cinta yang kupunya, aku adalah puisi sebagai hadiah keberadaanmu. Semoga selalu jadi puisi paling indah untukmu, juga buah cinta yang akan ikut meramaikan dunia. Aku sadar adanya sabda bahwa lahirku memang untukmu. Karena aku sayang kau, Cinta.
Terlebih, aku cinta kau, Bunda…


31 Maret 2011
Agus Raharjo

Minggu, 23 Mei 2010

Surat Untuk Cinta #6

Cinta,,
Apa yang harus kukatakan, jika engkau telah memenuhi warna hidup ini? Jika kuhirup udara pagi nan sejuk, terasa bagaikan embun di pucuk daun. Hampir jatuh dan terlepas bersama tetes resah mencium tanah. Lalu tanah telah basah akan doa dan keinginan. Menjalar, menyusup, dan membelai lembut akar-akar hidup. Dan kembali untuk menggapai bunga dan daun nafasku.

Sapalah aku cinta.
Dengan merdu langkah-langkah anggun menuju tanah terang. Sapalah aku dengan suara dari ayat-ayat hayat. Akan kudengar setiap katamu bagaikan intonasi dan nada berharmoni tinggi. Akan kucerna bait demi bait suara yang menggemakan hatimu. Hingga kurasakan setiap tarikan nafasmu adalah obat dari segala rindu. Dia adalah penawar, dia adalah racun, dia adalah cinta.

Sapalah aku ketika bulan merasa menang dari mentari. Di setiap cahaya jingga parasnya, meski disekeliling kita adalah malam tergelap. Akulah cahayamu, atau kamulah cahayaku. Dan katakanlah bahwa kita saling merindu kepada bulan. Agar dia tak lagi angkuh menjadi cahaya yang sementara pada gelap kita. Sapalah aku, Cinta.
Cinta, tidakkah kau lihat kita tengah dipermainkan. Bagaikan boneka aku pasrah, bagaikan boneka kau selalu tersenyum. Kita menjadi lautan yang tak lagi diterka dalamnya. Dengan lantunan syair biru langitnya. Apakah kau malu pada pandangannya? Apakah kau takut kata tak setia? Namaku hanyalah nama. Sebab aku dipanggil oleh mereka. Tapi bukan namaku yang datang meminta cintamu. Jikapun namaku lain, aku tetap menjadi aku. Aku tetap yang mengurai makna keberadaanmu. Aku tetap mencintaimu. Cintaku hanya untuk Cinta. Untukmu.

Cinta,
Disini aku seperti hidup dalam kepingan kisah yang tak utuh. Ada bayangmu yang mengintai sejak senja menemukanku dalam airmata kehilangan. Kau jauh. Jauh dalam tapal imaji yang menggoda. Yang dibalik bukit kukira aku menemukan cakrawala. Tapi kau selalu ada dibatas malam. Ketika sabda Sang Esa terasa mendekat di telinga. Memanggil, memanggilku untuk takluk pada rayuan pagi yang melankoli. Hari esok yang terdengar lain dari saat ada kau.

Aku menghitung detik-detik yang berganti. Menandai bahwa kau terlalu lama bersembunyi. Adakah kau merasa bahwa kita seharusnya terbuka? Karena ada hal lain dari sekadar untuk bertahan hidup. Ada sosok yang muncul tenggelam diruang ego kita. Apakah cinta mendengarku? Apakah kau mau menyapaku?

Aku tubuh dari derita semesta. Aku jiwa yang tertahan dunia. Apakah masih sama seperti impian berujud kata? Kata serupa mengganti frasa puitis. Kau adalah senja selamanya. Rawan, resah, melankoli, tapi tak mampu ku menolak cinta. Bibirmu memberi alunan setiap kata terdengar tak semestinya. Bagai sabda ratu menawan pencari hati. Melintang, dalam garis jelas penjaraku. matamu, hidungmu, rambutmu, dan semua tentangmu terlukis pada dewi keindahan. Aku takluk, aku tunduk, bersama bait-bait pembawa kabar gembira. Tentang kita yang semakin merasa dekat. Meski kau tak mendengarku. Meski ku tak melihatmu.

Cinta, aku ingin mengirim puisi terindah padamu. Puisi yang bukan aku penulisnya. Penulisnya berkata,”Berikanlah puisi terindah pada cinta terindah. Serahkanlah puisi teranggun pada cinta yang terpilih. Karena puisi ini hanya untuk dia yang berhak. Puisi ini lebih indah dari semua yang pernah ditulis. Karena puisi ini adalah kau! Maka serahkan jiwamu pada dia yang mampu membimbingmu! Dia bukan pencari dunia, tapi dia menyusun setiap keping pasir menjadi istana di surga. Dia adalah cinta yang akan abadi. Maka berikanlah puisiKu padanya!”

Cinta, itulah kau. Yang tengah menyusun pasir-pasir kebijaksaan hingga menjelma istana di negeri sana. Aku ingin menyerahkan puisi terindah itu. Karena kau adalah cinta. Karena kau memang patut dipuja.

Maka, berikanlah aku sapa. Agar aku menjelma puisi seindah lantunan ayat-ayat hayat!

Klaten, 22 Mei 2010
Agus Raharjo

Minggu, 28 Februari 2010

Bulevard

Pada suatu pagi yang mendung, saya berkesempatan menikmati Bulevard dengan agak bingung. Setelah hampir enam tahun saya ikut menjejaki Universitas hijau Sebelas Maret, ini kali kedua saya menengok gerbang utamanya pada hari minggu. Saya tak tahu mengapa bukan sejak dulu saya sering menikmati keramaian minggu pagi Boulevard.

Kalaupun lewat, tak terhitung lagi saya melakukannya. Bahkan saya ingat, saya pernah ikut aksi disana, juga pernah saya dan teman-teman BEM aksi ulang untuk meminta maaf pada wartawan. Teman saya itu—Presiden BEM UNS waktu itu—telah mengeluarkan statemen yang melukai profesi wartawan. Saya sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu, karena saat itu saya memang telat datang. Meskipun begitu, saya juga tetap mendampingi teman-teman untuk aksi “permohonan maaf dan pencabutan statemen.” Pada waktu itu, saya sangat menyayangkan statemen rekan saya itu. Tapi, kesalahan sekali tidak akan membuat segala kebaikan dan pengorbanan menguap begitu saja. Itulah yang dapat saya pahami.

Saya telah mengenalnya sejak masih di bangku SMP, dan saya tahu siapa dia bukan dari interaksi kita, tapi malah pada apa yang terpancar dari komunikasi tak verbal kami. Namun, saya tak menyesali untuk ikut aksi ulang bersama teman-teman. Saya merasa, saya harus selalu membersamai orang-orang yang saya tahu hidupnya untuk memikirkan orang lain tersebut. Dan keyakinan saya tak akan luntur dengan statement itu, terlebih saya juga menganggap diri sebagai calon wartawan. Saya bertekad akan selalu ada diantara mereka, dengan atau tanpa kehadiran fisik saya. Karena kita punya tujuan sama.

Di bulevard, saya selalu mengingatnya sebagai sebuah janji. Janji bertemu juga janji menanti. Ah, tempat itu menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi saya mengingat teman-teman saya. Saya ingat, ketika pada suatu waktu, saya dan teman-teman saat hendak bepergian kemana saja, Bulevard menjadi satu tujuan untuk kita saling menanti. Dari sanalah saya memahami, bahwa menunggu itu terasa lebih indah ketika saya tahu janji memang selalu terpenuhi.

Di pagi itu, bukan seperti pagi-pagi sebelumnya. Mungkin juga tak akan pernah ada minggu pagi yang akan sama. Akan ada perpisahan, meskipun bukan perpisahan otentik. Pada malam sebelumnya, saya tahu bahwa sekarang saya sangat merasa kehilangan teman-teman. Semua, telah meninggalkan Bulevard dan menatap dunia luar. Maka malam sebelumnya itu, saya memberanikan diri untuk sekadar melihat seseorang yang masih mau menemani saya. Dalam kasus ini, apa yang saya lakukan adalah sebuah hal yang memang tak seharusnya dilakukan, meskipun hanya sekadar bertemu dan melihat saja. Tapi, hal itu memang saya lakukan, bukan karena saya berniat melanggar sesuatu, tapi lebih pada saya yang merasa sendirian dan membutuhkan uluran semangat.

Dengan seseorang itu, menjadikan saya sebagai manusia seutuhnya. Darinya, saya merasa bukan hanya menjadi seonggok tubuh yang terlalu pasrah pada alur sang nasib, tapi dengannya saya ingin mengatur nasib sendiri, bahkan kalau dikabulkan, saya ingin membantu nasib-nasib orang lain. Dengannya, semalam, saya hanya melihatnya sekilas—tidak berani memandangnya. Hanya sekilas, namun saya mampu merekam keberadaannya. Saya ingat gaya bicaranya, khas suaranya, juga gelora semangatnya. Meskipun malam itu gerimis membuat kisah pertemuan sebentar kami seolah murung. Tapi sebuah nada gembira justru terucap pada senandung kebersamaan kami.

Dan Bulevard, menjadi lambang pagi atas perpisanan sementara kami. Ada janji yang masih harus dipenuhi. Dan penantian yang tertera pada lambang gerbang pertemuan dimana semua kenangan terjalin seperti mimpi-mimpi. Mimpi ini masih belum sempurna, kenangan ini masih tak lengkap, sama seperti janji itu sendiri. Seseorang itu menjadi satu dari semua yang menyimpan diri dari kenangan saya mengawali perpisahan dengan Bulevard. Ada pohon menjulang menopang segala kisah di bait-baitnya. Ada nama tertera pada pangkal gerbangnya, itu penanda. Dan Bulevard selalu menyimpan kenangannya sendiri. Bagi kisah yang pernah melewatinya, juga singgah di kedalamannya.

Pagi itu, kuingat hari sebagai hari minggu, dan di penanda waktuku tertera tanggal 31 Januari 2010.

28 Februari 2010
Agus Raharjo

Kamis, 18 Februari 2010

Surat Untuk Cinta #5

Dengan hati dan seluruh jiwaku,
Kuturutkan menyertai kegelisahanmu,
Bukan untuk memperingati hari kasih sayang…
Hari ini!
Tapi inilah sebuah kisah sedih.


Bagaimanakah adanya Cinta hari ini? Apakah hari yang serasa pilu ini juga membuatmu tertambat pada sedih yang mendung tawarkan? Atau langit memang sengaja membawa kegelisahanmu agar tampak dimataku dari tanda hujan?! Aku memang tak pernah merasa bisa untuk mengenyahkan gelisahmu seutuhnya. Tapi ingatlah bahwa aku juga tak akan pernah berhenti untuk mencoba melakukannya. Sampai nafas terakhir.

Cinta… Ada sesuatu yang tak selamanya dipandang dari satu pandangan saja, bahkan mungkin untuk kesemuanya barangkali. Aku juga tak tahu, apa memang begitu adanya. Yang pasti ada keyakinan ketika kita menjadi makhluk kritis saja kita bisa mencari kebenaran yang hakiki. Bukankah akal digunakan untuk hal itu?

Hari kemarin, hari ini, juga hari esok adalah hari-hari yang seterusnya tetap berjalan seperti ini. Inilah hidup. Inilah kehidupan. Dan inilah putaran nasib yang selalu sigap memeluk keseluruhan kita. Kita hanya berusaha untuk bertahan darinya saat kita ada di bawah, dan kita harus ingat pada keyakinan kita, ketika kita ada di atas. Itulah bertahan hidup.

Cinta… kegelisahanmu adalah bagian dari kesedihanku. Dan sepertinya hujan senang mengirim rintik tangisnya menyertaiku. Ah, hujan, kenapa lagi kau menjelma pada nyanyian sedih seorang yang selalu ada di hidupku?!

Kau tau? Hal yang membuatku sering bersedih adalah ketika seseorang membutuhkanku, dan aku tidak bisa memenuhinya. Aku tidak ingin menjadi seorang yang seperti itu!! Aku benci! Sangat membenci keadaan seperti itu!! Rasanya seolah hidupku adalah sesuatu yang tak ada nilainya. Menjadi orang yang tak berguna itu sungguh memuakkan. Mungkin inilah alasan aku tidak pernah benar-benar menyukai diriku sendiri. Terkadang memang harus seperti itulah badan ini diperlakukan. Agar ia terbiasa dengan sakit yang dirasakan badan-badan yang lain. Agar ia tahu rasanya sedih dari kesedihan yang lain.

Tubuhku ini hanyalah alat. Hanyalah tulang yang dibalut daging dan dialiri darah. Darinya, seharusnya aku mampu untuk menjadi sesuatu yang kuat memikul kesedihan dan beban orang lain. Dengan pikirannya, harusnya aku dapar mencarikan pemecahan dari semua permasalahan. Tapi yang terjadi, justru badan ini hanyalah seonggok tulang dibungkus daging yang terlalu tak berguna. Masih ikut larut memikirkan hal-hal remeh yang tak seharusnya. Apa sih pentingnya punya status? Apa sih perlunya pangkat? Kalau dengannya ada ketakutan manusia tamak. Ada penyesalan karena bersikap egois. Bukan itu yang seharusnya didambakan.

Aku bersyukur Muhammad adalah teladanku. Dialah manusia yang tak akan digugat sebagai sosok yang paling mulia. Tak ada alasan bagi orang kaya karena kekayaannya untuk berwelas asih. Juga tak ada alasan bagi orang miskin untuk menunggu kaya baru dapat menolong sesama. Karena Muhammad adalah representasi yang tak terbantahkan. Dia adalah orang kaya, tapi tak lebih dari tiga hari kekayaan itu ada padanya. Seluruh hartanya adalah harta untuk orang lain. Dan dia juga orang miskin, yang dengan kemiskinannya dia masih mampu untuk bersedekah pada sesama. Dia adalah sosok yang gagah, garang bagi semua musuh keyakinannya. Tapi dia juga lemah lembut bagi sesamanya. Bahkan bagi seorang yang membenci dan sering memakinya.

Siapa yang sanggup memberi makan tiap hari pada seorang buta yang selalu saja memakinya. Meskipun Muhammad tahu persis bahwa orang buta itu adalah golongan dari musuh keyakinannya. Hingga seorang buta itu menyesal karena pada akhirnya tahu bahwa orang yang setiap hari menghampirinya dan member makan adalah orang yang senantiasa dia caci maki, bahkan ketika Muhammad ada di hadapannya. Siapa yang sanggup membantah kebaikan seperti itu? Dan badan ini, seharusnya bisa mencontohnya.

Cinta… Itulah adanya dirimu. Seluruh jelmaan dari segala kebaikan. Dan akan menuju kebaikan. Aku tak pernah menganggap ini sesuatu yang berlebihan. Ini hanyalah harapan. Ini adalah keyakinan, bahwa hadirnya dirimu akan menjelma kebaikan bagi seluruh badan-badan ini. Ada sikap ramah yang akan menentramkan kegarangan. Ada kelembutan yang memeluk keras hati. Namun juga ada amarah yang senantiasa mengingatkan. Ternyata memang bukan hal yang berlebihan bukan?! Aku hanya ingin menjadi seorang yang mampu seutuhnya memperlakukan raga ini pada tempatnya. Maka jangan tepiskan keberadaanku di kehidupan ini. Karena kematian pasti akan datang ketika pada waktunya. Aku hanya tak ingin menyesali hidup yang terbuang percuma. Yang hanya tahu bagaimana memikirkan diri sendiri. Adanya diriku adalah karena ada kau. Denganmu, kita ubah penderitaan menjelmamu. Sebuah kebaikan yang akan menuju kebaikan. Dan pada akhirnya, tak akan kusesali adanya aku.

Cinta… sungguh kau menjadi yang selalu kurindukan. Selalu. Segera, akan kutemukan dirimu dalam hidup ini. Akan kujemput kau pada tegapnya kesetiaanmu. Sebentar lagi, akan ada babak yang mengeliminasi semua hal yang membuatku terkungkung ini.

Cinta…
Please, give me your smile...
And look at my face, you’ll find the sun…
(Lalu kita lantunkan Surat Ar Rahman sama-sama. Semoga ada airmata di wajah, namun ada bahagia di hati!)

Solo, 14 Februari 2010
Agus Raharjo

Rabu, 06 Januari 2010

Surat Untuk Cinta #4

Kuturutkan dengan sebuah hati…

Cinta,
Bagaimana keadaan yang menyertaimu sekarang? Semoga kau masih merindui dan bertahan dari apa yang sampai saat ini ada pada diri kita. Apakah kita masih dapat berpuasa seperti ini terus, senantiasa menjaga apa yang coba kita buat? Aku selalu merindukan hal-hal tentang dirimu. Tentang apa yang pernah kita tulis bersama, juga tentang apa yang akan coba kita wujudkan hari depannya.

Ditengah perihal yang tak menentu ini, kita akan menjalani dengan senang hati. Sampai sekarang kita masih diperbolehkan menangis untuk Ibu penjual macaroni di depan sekolah. Yang hanya sekeranjang saja dagangannya. Kita juga masih diperbolehkan menangis untuk seorang Ibu yang kau lihat sedang mencari jalan hidup ditengah terik yang menyengat. Kita masih boleh menangisi semua itu. Ah, bisa jadi kita bukan siapa-siapa bagi mereka, tapi apa harus kita kenal dulu sebelum dapat membantu mereka? Tidak, bukan yang seperti itu yang nantinya akan kita lakukan bersama. Kita tak harus mengenal siapa yang butuh dikeluarkan dari kubangan derita.

Apa yang kita saksikan hari ini, adalah sebuah pekerjaan besar yang nantinya akan kita bangun. Kita akan bukakan mereka pintu-pintu keluar dari lumpur. Bahkan aku ragu Negara ini masih berpikiran tentang semua itu. Apakah salah ketika mereka menjatuhkan diri pada hal hina hanya untuk bertahan hidup, sedangkan di lain tempat ada orang-orang yang dapat menghabiskan jutaan rupiah hanya dalam waktu satu malam saja dengan sekadar makan gengsi dan katanya untuk bersosialisasi.

Sungguh, begitu pandai manusia modern itu mencari kesenangan dan alasan. Sangat picik dengan semua hal yang begitu terlalu tolol tapi masih bisa berkata untuk bersosialisasi. Apakah semahal itu untuk mencari seorang teman? Bisa jadi bukan teman yang mereka dapatkan sebenarnya, tapi mereka menyewa robot-robot berbentuk manusia sempurna. Picik dan naïf.

Cinta,,, kita mungkin akan menjadi manusia yang dianggap aneh. Atau bahkan kau tidak menghendaki hal seperti itu? Apakah kau masih mau hidup yang hanya bukan memikirkan makan dan kesenangan semata? Dengan segala yang ada pada kita, aku ingin membuat surga hadir untuk orang-orang terpinggirkan itu. Aku ingin membuat surge bagi hidup kita secara otentik. Bukan tentang yang hanya semata kita lihat dimata. Bukan, bukan itu sesungguhnya. Tapi ada yang lebih jujur dan lebih mulia dari semua itu. Kita tak perlu memikirkan perselisihan orang-orang bertopeng yang saling berebut kekuasaan itu. Kalau diperlukan, kita manfaatkan keberadaan mereka, kita tak harus berpihak. Hanya siapa yang lebih dapat membuat surge bagi yang terpinggirkan itulah, kita akan menerima. Tapi kita bukan berpihak pada mereka, melainkan pad terbukanya pintu-pintu yang akan membawa orang-orang yang senasib dengan Ibu pedagang makaroni itu keluar dari keterpurukan. Semoga kau juga masih berpegang pada cita-cita dan keyakinan itu.

Hfff… semakin aku merasa, merinduimu sama juga merindui sebuah impian, yang ingin aku bangun dan aku wujudkan nanti.

Sampai saat ini, kita harus mempersiapkan segalanya. Kita akan belajar menyusun balok-balok kepedulian hingga nantinya utuh membentuk rumah yang indah bagi semua hati yang menempatinya. Kita tahan dulu apa yang memang belum boleh untuk kita. Bukankah kita masih ingin melanjutkan puasa ini? Dan setapak-demi-setapak, puasa ini seharusnya meningkat. Aku tak akan pernah menyesalinya. Meskipun mungkin, derajat ikhlas masih jauh dari jangkauanku—karena aku masih takut kehilanganmu. Tapi dengan puasa ini, semoga kita bisa mengikhlaskan apa yang akan menimpa kita di depan. Jalan masih panjang, dan waktu masih membuat jurang. Hanya satu saja yang akan aku pegang, bahwa aku punya janji dan impian. Dan aku akan menuju padanya, menujumu, hingga pada waktunya nanti telah ada.

Cinta, setelah ini adalah pengembaraan. Ada jarak jauh yang harus kita tempuh dan lewati. Ada jeda waktu yang panjang menghalang. Tapi ini adalah jalan kita. Jalan kita untuk saling menjaga. Hanya doa-doa yang masih saja kita lantunkan sebelum ada cahaya. Ada keluh kesah dan harapan serta kerinduan yang masih tertahan di kebesaranNya.

Ah, betapa aku menjadi terlalu cengeng mengingat semua ini. Ada hal yang senantiasa akan selalu tertanam dalam hati tentangmu. Ada senyum yang tercekat dalam kelopak mataku. Ada airmata yang membasahi relung hatiku. Semuanya adalah milikmu. Dan semua dariku akan kuberikan untukmu. Sampai saat kita akan berjuang bersama, setelah pengembaraan ini. Setelah kita merasa kuat sebagai individu-individu. Dan kita akan membuat nyata apa yang telah kita dapatkan dalam kehidupan ini. Bukan untuk kita pribadi, tapi untuk orang lain yang kurang beruntung dari kita. Mereka yang diacuhkan, mereka yang dianggap sampah oleh manusia yang mengganggap diri mereka makhluk kota.

Ah, dunia ini memang bulat. Tak seharusnya digunakan manusia menggelindingkan manusia lain menjadi tersingkir dari harapannya sendiri. Dengan kebulatan ini, seharusnya kita diajarkan mengerti saat di atas dan saat di bawah. Dengannya kita belajar untuk peduli. Darinya kita menikmati hidup.

Cinta,
Puasa ini adalah puasa tingkat akhir dari semua puasa yang memang kita jalani. Dan pada tingkat akhir inilah, semua hal bisa terjadi diantara kita. Tanpa kita dapat saling memberi senyum lagi, tanpa sapa yang menguatkan kita, semua hal dapat menjadi berat pada kita. Pada tingkat tertinggi ini, hanya pada Yang Memberi Cinta kita berpegang. DenganNya pula kita saling menggenggam benang penyatu hati. Selama kita masih selalu mendekat denganNya, maka benang itu tetap terjaga. Meskipun kita diruang berbeda. Ada tabir yang sementara menghalangi, ada ego yang coba kita luluhkan. Ingatlah, bahwa benang itu telah terikat mati pada genggamanku. Dan aku tak akan terlepas darinya. Kecuali kau memutuskan benang itu. Tapi dengan itu, bararti aku telah terlepas dari pegangan. Aku tak dapat menebak kemana aku akan terjatuh. Tapi semoga semua ini mengajariku sebuah keikhlasan. Ikhlas dalam menjagamu, ikhlas dalam mendekatiMu, dan ikhlas pada perjuanganku.

Cinta, inilah babak akhir dari semua perjalanan ini. Ada doa disetiap sujud kita, doa yang melantun lirh karena besarnya kerinduan yang mendesak kita. Doa itu, serupa harapan agar kita menjadi orang yang lebih baik lagi dengan melewati semua ini. Kita selesaikan babak ini sampai akhir. Dan akhir yang bahagialah yang coba ingin kita rangkai. Akhir dari perjalanan panjang, dari penuntasan sebuah keyakinan yang masih belum sempurna untuk kita.

Maaf ketika pertemuan terakhir kita tak pernah sanggup kututup dengan kalimat yang sebenarnya ingin aku katakan, hanya padamu. Ah, aku terlalu tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung bahwa ‘aku sayang kamu’. Bukan karena aku tak punya nyali, hanya aku tidak ingin menggores hati yang kau miliki karena memang belum seharusnya kukatakan. Nanti, setiap pagi aku akan mengatakannya padamu. Setiap pagi ketika kita terbangun, juga sebelum kita terbuai dalam mimpi.

Jangan pernah merasa ragu pada keyakinan ini. Jangan pernah lelah untuk perjuangan ini. Ada aku yang akan selalu ada untukmu.


With Love and Spirit
Dari Ra untukmu Na


Solo, 1 Januari 2010
Agus Raharjo

Minggu, 20 Desember 2009

Surat Untuk Cinta #3

Na, setiap waktu akan berlalu
setiap sedih menyisakan perih,

Na, jangan kau simpan kenangan ini, namun
jangan kau buang perasaanmu,

Na, sepertinya kau terlalu lelah
Sepertinya aku terlalu lemah, kita sama-sama payah…
(RA)

Cinta…
Aku pernah menulis itu dalam sebuah saat yang sedih. Ketika itu, saat-saat merindukanmu adalah perihal yang menyiksa bagiku. Begitu berat, dan begitu menyesakkan. Ada sesuatu yang terasa tak lengkap saat kau tak ada. Dan begitu juga saat aku kesepian secara utuh. Kau, telah menawanku dalam alunan hidupmu.

Kau masih tetap seperti dulu, ada di dalam ruang terdalam dalam hatiku. Ada hal yang tak pernah bisa kita mengerti, mungkin kau adalah hal yang paling indah bagiku, tapi kau tak merasakannya. Tapi apalah artinya pengakuanmu, aku hanya mengerti tentang perasaanku sendiri. Tak bisa menyelami perasaanmu, meskipun aku berusaha menyelami hatimu.

Kau bilang bahwa kau membutuhkanku, aku sungguh sangat senang dangan hal itu. Aku tak akan membuatmu terluka, karena aku juga ingin selalu ada untukmu.
Aku telah semakin kuat, tapi masih saja aku merasa lemah. Aku belum sanggup untuk sepenuhnya tak memikirkanmu. Dalam hidupku, kaulah ‘Rembulan di Langit Hatiku’. Ah…terlalu berlebihankah aku?

Cinta…
Mungkinkah kau juga telah lelah? Menunggu itu memang melelahkan, tapi buah dari kesabaran adalah manis, semoga. Kau tahu, saat aku lemah, kaulah kekuatanku. Kau yang sanggup membimbingku untuk segera berbenah dan bangkit dari keterpurukan. Bukan melalui tangan-tanganmu, tapi hanya semangat dan kata-katamu, juga doa dan perhatianmu. Aku benar-benar merasa menjadi seorang yang seutuhnya ketika ada dirimu. Mungkinkah kau merasakan hal serupa itu?

Ketika aku tahu bahwa perasaanmu sepertiku, kita adalah orang-orang yang ternyata masih lemah. Bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah kita. Perasaan itu seolah mengalir tanpa sepengetahuan kita, merasuk semakin dalam, dan semakin kuat dalam hati kita. Lalu kita adalah sebagian yang saling membutuhkan. Berharap akan segera ada pertemuan. Dan kita jalani kehidupan selanjutnya.

Cinta…Aku selalu ingat setiap melodi yang mengalun dari kata-katamu. Aku masih terngiang gemuruh semangatmu. Dan aku setiap hari dapat menggambar kenangan yang pernah kita lalui. Sebelum puasa yang kita lakukan ini.

Ini adalah puasa. Dari kekotoran diri di dunia. Lalu kita berharap menjadi suci untuk perasaan ini.

Ini juga meditasi. Penenangan diri dari segala angkuhnya ambisi, sombongnya ego pribadi. Dan kita beranjak menjadi seorang yang selalu sadar diri.

Puasa ini bukanlah tentang penderitaan. Ini adalah perihal bagaimana menjaga. Tentang saat yang tepat untuk menikmati waktu berbuka, bukan ketika adzan Maghrib berkumandang. Tapi waktu aku meluruhkan perasaanku pada kata indah itu. Cinta.

Mengertikah kau betapa aku mungkin terlalu memuliakanmu? Selayaknya pangeran yang akan menjemput permaisurinya. Seumpama aku Bandung Bondowoso, Prambanan telah kubuat untukmu. Tapi aku tidak akan menjadikanmu arca bagi sempurnanya candi itu. Karena aku ingin menikmati kemegahan candi itu bersamamu.

Cinta…
Jalani hidup ini dengan semua impian yang melekat dalam diri kita. Kita masih punya itu, dan kita akan wujudkan itu bersama-sama. Aku selalu ada untukmu, ingatlah itu. Biarpun sekarang ini ada ruang yang berbeda diantara kita, tapi hati kita telah sama-sama dekat. Kita terangi jalan ini dengan apa yang telah kita yakini, apa yang telah kita pahami, dan apa yang menjadi pegangan kita. Jangan terpancing dengan egonya dunia, jangan merasa iri dengan nikmatnya neraka di kanan-kiri, karena kita adalah kita. Dan kita adalah sebagian yang ingin menyatu dengan puasa ini.

Biarpun aku masih lemah, biarpun aku terlalu payah, tapi aku juga masih ingin menjadi yang terbaik untukmu. Jangan lelah, jangan pernah lelah untuk menuntaskan puasa ini. Karena kita sebenarnya tidak ingin menjadi payah, meskipun kita adalah makhluk yang sebenarnya terlalu payah.

Ingatlah setiap baris kata yang coba kita sematkan. “Ada aku yang membutuhkanmu” dan “aku yang selalu ada untukmu”. Itulah pegangan yang akan kita pegang, karena kita akan mewujudkan itu seutuhnya ketika saatnya kita telah berbuka. Dari puasa ini.

Solo, 20-21 Desember 2009
Agus Raharjo

Rabu, 25 November 2009

Surat Untuk Cinta #2

Night at November Rain

Cinta…
Apakah kau merindukanku? Atau hanya aku saja yang merasakan kerinduan ini. Betapa besar dan berat rasa ini harus kutanggung. Aku tidak mengerti, tentang kisah yang coba kita pahat dalam hidup ini. Begitu besarnya cinta, namun begitu sempitnya ruang dan waktu. Namun aku lebih senang ketika apa yang kita alami ini dengan menyebutnya liku asmara. Meski ada jarak pada ruang juga ada jeda untuk waktu,namun tidak memberi pengaruh padaku. Justru rasa itu semakin besar.

Aku lupa menceritakannya, apakah kau masih merindukan hujan? Kau tahu, kerinduanmu telah mengirim hujan padaku. Setiap malam, ketika rasa rindu ini begitu dalam, lalu seolah rasa rindu kita bertemu dan menari dalam hujan.

Aku pernah menulis puisi, ketika cinta memberi tanda awal perpisahan kita. Apakah kau juga membacanya? Jika nanti kau merindukan aku/ Kutitipkan kenangan pada wajah hujan/ Karena aku tahu, hujan mengingatkanmu padaku// Jika nanti kau tak kuasa menahan tangis/ Kuikutkan airmatamu pada derai hujan/ Disanalah kerinduan kita bertemu// Jika nanti kau merasa jauh dariku/ Mendekatlah pada belai hujan/ Dengannya, kutarik kau menari bersamaku// Jika nanti kau lelah menungguku/ Bicaralah pada hujan/ Darinya, kutahu aku harus datang/ Dan kebahagiaan/ Menjelma rintik gerimis di wajahku//

Semoga kau suka. Secara pribadi ada begitu banyak tanda dalam wajah hujan. Dia seolah mengerti tentang perasaan ini. Dengan begitu lambat dia mengajakku menikmati setiap bulir rasa yang mengalir deras. Ada kesejukan yang ditawarkan padaku dengan mengingatmu. Namun, tak dapat kupungkiri ada semacam sesak yang menekan. Hatiku koyak, jiwaku melayang bersama bau tanah basah. Tetapi, itu menjadi sebuah candu bagiku. Karena hujanlah yang membuatku merindukanku semakin dalam.

Dengannya, aku merasa berterima kasih, membuatku menemukanmu meskipun dari sebuah elegi. Simpul-simpul peristiwa yang diatur dengan sempurna hingga mempertemukan kita pada taman takdir. Hujanlah yang membuatku meletakkanmu pada tempat terdalam, karena Hujan memberiku nama/ Ketika dia datang/ Dan kau memanggilku// Hujan memberiku kesempatan/ Ketika dia jatuh/ Dan kau membutuhkanku//

Cinta…
Sungguh terasa ganjil bukan? Bukan bunga, bukan coklat, atau bukan rayuan mesra yang membuat kita saling merindui. Tapi hujan. Dia memang berkah, dia memang media bagi rasa yang telah tumbuh dalam hati kita. Maka sampaikan rindu ini padanya, dan titipkan ikhtiar ini padaNya. Bukankah kita sudah menasehati diri kita sendiri dengan itu.
Cinta, apa kau masih akan mencintaiku, dengan ketulusan yang tak bimbang? Kita simpan rasa ini sama-sama. Bukan lagi kutanggung sendiri perasaan ini. Karena aku yakin, kau juga memberi ruang di hidupmu untukku, kelak. Aku masih seperti dulu, ketika kau pertama mengenalku. Aku masih sama seperti apa yang telah kau gambar dalam pikiranmu. Kita mungkin akan sama-sama payah, bisa jadi kita akan lelah, namun bukankah itu sebuah perjuangan? Dan yang kutahu, perjuangan itu tak pernah mementingkan hasil. Kita hanya mampu untuk merasainya, dan anggaplah ini sebuah tantangan.

Perjuangan kita adalah perjuangan yang mungkin sangat berat. Juga melelahkan. Tapi aku yakin, dirimu lebih kuat daripada aku. Bukan lagi membuatku payah, namun juga menyakitkanku. Tapi bukankah sekarang lebih baik dari hari kemarin? Aku telah punya pegangan yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku telah seutuhnya berpegang pada rasa yang telah hadir pada hati kita.

Perpisahan ini, bukanlah untuk selamanya. Akan ada kerinduan yang begitu besar setelahnya. Di hari itu, kita tumpahkan semua pada bingkai hidup yang menemani berikutnya.

Jangan merasa ada noda. Atau dosa dari yang pernah kita lewati. Bukankah itu sebuah pengingatan. Pengingatan untuk kita yang pernah lupa. Juga alpa. Atau sekadar awal dari sebuah perbaikan terhadap diri. Ah, aku terlalu tidak sanggup untuk melihatmu menangis karenanya. Jangan menangis…jangan menangis…jangan menangis. Aku merasa lebih tersiksa dengannya. Aku ingin melihatmu bahagia, bukannya sebaliknya.

Jangan menangis…dosa bukan untuk ditangisi. Dia butuh perbaikan. Dia butuh kebenaran. Agar dia merasa utuh sebagai sebuah dosa.

Cinta…
Jika kau menangis, apa yang dapat kuberikan agar kau kembali tersenyum? Aku tahu kau tidak akan meminta permen seperti anak-anak. Jikapun kau seperti itu, aku akan rela memberikannya untukmu. Tapi kumohon, jangan menangis lagi. Kesedihanmu menjadi berlipat untukku. Kau ingat? Dulu aku pernah bicara padamu, ketika pertama aku menerangkan sebuah hakikat hidupku. “Aku lebih bisa menahan diriku tersakiti, daripada melihat ‘orang dekatku’ tersakiti dan menangis.” Maka jadikan semua ini sebuah babak baru. Jadikan ini fragmen yang akan berlanjut untuk mendaki tahap berikutnya.

Kau tahu, ketika kau menangis, aku seolah linglung. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Senantiasa dirimu hadir dalam pikiranku. Karena aku tidak dapat menghiburmu. Jika kau ingin menangis, bukan sekarang waktunya. Aku tidak bisa memelukmu untuk menenangkanmu. Simpanlah semua itu untuk nanti. Aku akan selalu menjadi penghiburmu. Menyandarkanmu pada bait tawa ketika kau sakit, meneduhkanmu di bawah rindang malam saat kau terlalu penat, dan mencairkan harimu dengan cerita-cerita. Maka janganlah menangis sekarang. Aku tidak akan tahu apa yang dapat kulakukan untukmu. Karena kita terpenjara.

Cinta… sekarang inipun aku bingung. Apa yang aku tuis ini sebuah kebimbangan, atau keresahan yag linglung. Tak tahu arah mana yang kutuju pada kalimat-kalimatnya. Ah, betapa aku merasa menjadi manusia paling ganjil dengan semua ini. Mungkin aku memang aneh, tak seperti yang kau kenal kebanyakan. Tapi inilah aku, dan aku bangga menjadi diriku.

Cinta… jagalah baik-baik dirimu, dan akan kujaga dengan baik diriku. Karena sampai saat ini kita belum mampu sepenuhnya saling menjaga. Kita adalah setengah yang belum menjadi satu. Kita belum menjadi utuh bagi sebagian yang lain. Biarkan hati kita merasakannya, tapi jangan biarkan yang lain mengikuti. Karena mungkin ini sebuah dosa. Dosa yang nikmat, dosa yang melenakan, dosa kedewasaan.

Ah, begitu mudahnya cinta, begitu beratnya rindu, dan begitu nikmatnya dosa. Pada nada diam perpisahan kita. Pada ruang dan waktu yang tak sama.

Selalu yang ingin ada untukmu,
(AR)

Minggu, 25 Oktober 2009

Perpisahan

Ada saja yang tak pernah selesai diucap. Cerita-cerita yang kau minta. Seperti tadi malam, saat kita terjaga di sebuah ambang duka. Mendekat pada pintu perpisahan. Ditemani langit-langit hitam mengundang gerimis. Selayak perpisahan itu sendiri. Perpisahan.
Aku ragu. Entah itu nyata, atau hanya isyarat saja. Atau justru begitulah adanya.
Kau berlalu,
Kita mengingat malam yang sama. Mengisahkan cerita, mungkinkah yang kau minta? Atau hanya inginku saja.
Ada duka yang sama, ada rasa serupa. Malam-malam yang sama. Malam-malam menyambut pagi. Seingatanku juga.
Cerita-cerita yang kau minta. Aku harap bukan cerita perpisahan kita. Bukan kisah tentang malam terakhir. Perpisahan. Duka.
Aku ingin bercerita. Tentang kisah selanjutnya. Tentang impian, dan keteduhan mengawali tidur kita. Membuka jendela mimpi hinggap tak ada batasnya. Untuk mengulang malam-malam yang serupa.
Serupa dulu pernah kita rasa. Di dalam gua, diatas gunung, menerkam dingin, kemudian meluncur pagi. Dan kaulah cerita. Akulah cerita. Meski bukan cerita yang selalu sama. Kitalah ceritanya.

Ada yang tak sempurna diungkap. Ungkapan menerang. Di dalam gua, di puncak gunung, mengalir bersama dingin, di guratan malam, kemudian meluncur pagi.
Ungkapan selayak janji,
Ibarat cinta adalah cinta mati. Bukan dari seseorang yang biasa. Juga bukan pada seseorang yang biasa. Seseorang itu, sosok yang tak akan ada padanannya. Pada keduanya adalah setengah yang melengkapi. Padanya adalah ungkapan untuk meretas keyakinan. Menjawab keraguan.
Dengan ungkapan, muncullah kepercayaan, lalu berubah keyakinan, kemudian ada tindakan. Laku hidup yang seharusnya diteruskan. Meski ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Semua tak merubah.

Ada yang lengkap dari perpisahan. Merasa kehilangan, sejujurnya. Ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Meski tak merubah perasaan. Atau justru membuatnya semakin utuh. Seperti pagi ketika kita ada di ambangnya. Detik-detik yang mungkin diingat dan dirindukan.
Tawa anak kecil membuat suasana semakin melankoli perpisahan. Lugu yang ditunggu, lucu yang sederhana. Perpisahan. Perpisahan. Perpisahan.
Sampai kapan tak ada pertemuan? Sampai kapan rasa ini tertahan? Dan sampai kapan rindu ini hanya tersimpan?
Hanya tulisan-tulisan. Dia mampu menyelesaikan ucapan. Dia sanggup menyempurnakan ungkapan. Pada rentang ruang, pada jeda waktu. Dia menisbikan perpisahan.

Kalaupun hanya tulisan. Ada ucapan selamat tinggal, ada harapan secepatnya bertemu kembali. Ada doa di setiap gerak bibirnya. Ada air mata untuk mengingatnya. Itulah ucapan-ucapan cerita tentang kita.
Meskipun sekadar ungkapan. Ada jawaban-jawaban.
Semakin tinggi, akan terasa semakin sakit jatuhnya. Maka aku tak akan membiarkanmu terjatuh. Jikapun kau terjatuh, akupun akan jatuh. Sakitku adalah lebih dari sakitmu.
Tapi bukankah kita menuju atas? Dan ingatlah bahwa kita adalah sayap yang belum sempurna. Tak harus merisaukan rasanya terjatuh. Karena ketika telah lengkap, maka kita dapat tenang menuju ke atas. Ke langit. Ke Surga barangkali.
Aku ingin sayap yang sempurna. Aku ingin melengkapinya dengan impian-impian nyata. Aku ingin bercerita tentang segalanya. Aku ingin mengungkap semua rasa. Aku ingin tak ada perpisahan.
Ada doa untuknya. Juga ada air mata merindukannya. Karena tak akan ada malam yang sama setiap harinya.

Klaten, 25-26 Oktober 2009
Agus Raharjo

Sabtu, 17 Oktober 2009

Sebuah Catatan Pribadi

Dari sekian hari yang tertempuh, ada saat kita merindukan kembalinya sang waktu. Saat itulah kenangan ingin kita ulang. Namun, apa yang bisa kita perbuat untuk mengulangnya. Tak ada. Yang tersisa adalah ingatan kita sendiri tentang kenangan itu. Dan jalan paling akrab untuk kembali pada kenangan adalah mengingat kembali setiap detail peristiwa itu. Hanya itu.
Pada suatu saat, terkadang saya juga sangat ingin mengakrabi kenangan yang telah saya tinggalkan. Ada moment-moment dari suatu peristiwa yang ingin kuulangi. Setidaknya sekali lagi. Tapi tak mungkin. Waktu tak pernah dapat kembali.
Namun, pada suatu saat, sejenak aku tak ingin mengulang kenangan, cukup tersimpan saja dalam ingatan saya. Tentang sesuatu, atau mungkin seseorang. Dia begitu membuat saya merasa ‘sakit’. Kadangkalanya kesedihan harus ditumpahkan. Kadangkala perpisahan tak diinginkan. Dan terkadang saya begitu dalam mengingatnya.
Tulisan ini adalah untuknya. Sesuatu itu telah ada pada suatu hari. Dan setelahnya, semakin hari seperti sebuah pohon yang terus mengakar. Semakin hari semakin kuat. Dan semakin lama juga meneduhkan. Ada bunga-bunga yang mewarnainya. Juga ada batang yang kadang menopang, ada ranting yang juga patah. Namun, semua tetap berdiri.itulah yang membentuknya.
Sesuatu itu, padanya kuikatkan sebuah kekang padaku. Aku telah rela mengikat diri untuknya. Dengan niatan, dengan ucapan, dan nanti pasti tindakan. Suatu hari nanti.
Dia, yang membuat sesuatu itu. Padanya hanya pujian. Untuknya mengalir persembahan, dan baginya terlahir kesempurnaan.
Terasa aneh, bahkan untuk waktu yang lama. Tak kudapati redup, terlebih padam. Yang ada selalu saja mengembang. Dulu, awalnya adalah perbedaan. Tapi siapa mengira padanya adalah persamaan semata. Siapa sangka jalan kita sama. Lalu mengapa kita tak bersama-sama?
Aku pernah mendaki puncak tertinggi inginmu. Lalu kau tabur telingaku dengan ayat-ayat sucimu. Begitu dalam dan menggetarkan. Kemudian aku bangun pada sepertiga malam. Dengannya aku dapat mengingatmu. Atau entah aku mengingatmu lalu mengingatNya. Yang kutahu selalu saja Dia dan dirimu bersama-sama. Berkelebatan dalam renunganku. Setiap saat.
Lalu peristiwa di pagi hari itu. Tatkala kau bertanya padaku tentang sebuah impian. Lalu kuterjemahkan dalam bahasa bijaksana. Dan kau menerimanya seperti permintaan. Tapi memang permintaan. Kau telah meneduhku dalam impianku sendiri. Kau terima, mungkin dengan senang hati. Atau aku yang terlalu memikirkan. Aku yang merencanakan? Lalu kau masuk dalam bagiannya, sebagai peranmu.
Namun, tak ada yang lebih indah dari pagi itu. Adalah “Semoga niatnya segera terwujud menjadi tindakan.” Lalu “kita berjuang dan berdoa sama-sama.”
Adakah yang kuinginkan sekarang? Aku ragu. Tak ada yang kuharapkan mungkin. Hanya tentang sesuatu itu segera menemui kebenarannya. Lalu kita berjuang bersama-sama. Ada doa yang terlantun untuknya, dari seorang ibu yang menekuri ayat-ayat suci. Di rumah suci. Seorang ibu yang memanggilku dnegan sebutan yang aneh. Tapi tak mengapa. Toh itu hanya sebutan untukku. Yang terpenting adalah harapan juga doanya. Sungguh naïf jika aku tak mengamini.
Catatan ini, adalah tanda pengingatku. Juga sebuah persembahan tak sempurna. Karena padanya belum lagi terlaksana tindakan nyata. Masih sebatas usaha…usaha…usaha…dan doa.

Sukoharjo, 17 Oktober 2009 (00.15)
Agus Raharjo

14 Oktober 2009

Perahu telah menemukan labuhannya
Dalam badai kabut
Menyamarkan jejak yang tertinggal untukku

Sepi yang terlalu perih
Tak rela
Terbaca jawaban
Dari penantianku

Aku telah menemukanmu
Bukan dalam tanda khayal
Tapi pada kata
Terangkai di bibir jemarimu

14 Oktober 2009,
Ada hati
Tak lagi sepi
Ada senyum
Menawar duka
Ada percaya
Membagi asa
Ada persembahan
Aku untukmu

(AR, 16 Oktober 2009)

Minggu, 04 Oktober 2009

Sebuah Tulisan Untuk Nama

Hujanmimpi; ibarat hujan, mimpi terlalu dalam untuk diresapi. Adalah sebuah nama, atau sebutan atau petanda dari sebuah perenungan. Tidak ada maksud menempelkan bahasa yang muluk-muluk. Yang ada adalah sebuah harapan. Harapan agar mimpi-mimpi lebih dapat ditafsirkan, juga dinikmati. Terutama dibaca.
Mimpi, mungkin bagi Sigmund Freud adalah salah satu bentuk pengungkapan dari hal-hal yang tersimpan di dalam alam bawah sadar kita. Dan menyepakati pendapatnya tersebut, hujanmimpi lahir untuk membahasakan mimpi-mimpi penulis. Tentang apa saja. Karena bagi penulis, menulis itu tentang sesuatu yang diketahui. Ketika sesuatu tidak pernah terlintas dalam pikiran, mustahil ada tulisan tentang hal serupa.
Apa-apa yang tertulis dalam hujanmimpi adalah media menerjemahkan pengetahuan penulis yang masih sedikit ini, juga dengan bahasa yang masih dalam taraf belajar. Karena seperti yang dikatakan Joni Ariadinata, menulis itu butuh proses, semakin kita sering menulis, tulisan kita akan semakin bagus. Semangat itulah yang selama ini penulis coba pegang. Meskipun masih dalam taraf belajar, setidaknya penulis berani menerjemahkan impian pribadi menjadi seorang penulis sesungguhnya.
Mengapa hujan? Bukan sesuatu yang lain untuk menggambarkan betapa tak terhingganya mimpi-mimpi itu? Bukan pasir yang mustahil kita hitung, atau rambut yang juga mempunyai keadaan yang sama? Cukup sederhana saja, karena pribadi yang menyukai hujan. Itu saja. Kenapa suka hujan? Juga cukup sederhana, karena ada pengalaman yang membuat hujan mempunyai tempat tersendiri dalam pikiran penulis. Juga perasaan yang menyertai ketika hujan turun yang dialami oleh penulis mengingatkan pada sesuatu yang menjadi impian.
Namun, ada yang mengganjal ketika pertama kali hujanmimpi lahir. Penulis resah dengan pikiran penulis sendiri bahwa hujanmimpi akan dikatakan mengekor dengan yang lain. Tak lain dan tak bukan adalah rumahmimpi. Awalnya penulis tidak terlalu memikirkan hal itu, namun lama kelamaan justru pikiran-pikiran seperti itu seperti mengetuk-ketuk minta tempat pada penulis. Tapi tidak sama sekali. Hujanmimpi murni sebuah nama yang tidak serta merta hanya ikut-ikutan ataupun numpang tenar. Hujanmimpi benar-benar lahir dari penerjemahan tentang gambaran perenungan penulis. Dapat dikatakan, hujanmimpi adalah penggambaran penulis. Tentang sebuah mimpi, harapan, juga perenungan-perenungan.
Meskipun memang, penulis merasa kenal dengan rumahmimpi dan banyak belajar darinya. Namun, lahirnya hujanmimpi terlepas dari rumahmimpi. Tulisan ini lahir karena saat ini penulis semakin gelisah dengan pikiran-pikiran yang mengganggu bahwa hujanmimpi lahir untuk mengekor rumahmimpi. Walaupun juga hujanmimpi tak akan sanggup meskipun hanya mengekor saja. Tulisan ini adalah sebagai bentuk ungkapan sekaligus pertanyaan apakah yang harus penulis lakukan pada hujanmimpi?

Klaten, 3 Oktober 2009
Agus Raharjo

Senin, 29 Juni 2009

Surat Untuk Cinta

Juni,
malam-malam kurindukan kau karenaNya.

Cinta…
Cinta, itulah kata yang akan aku sematkan untukmu. Yang akan kuucapkan setiap kali aku memanggil namamu. Itulah kata serupa curahan yang aku timpakan padamu. Cukup satu kata saja, bagiku telah mewakili semua kelegaan dan beban dalam pikiran dan jiwaku. Itulah kata yang hanya akan aku ucapkan pada satu orang. Bukan orang lain. Bukan ibu dan ayah yang telah mengajariku bahasanya. Bukan teman dan sahabat yang bicara dengan ketulusannya. Bukan saudara yang membisikkan kebijaksanaannya. Juga bukan pada perempuan-perempuan yang aku nihilkan keberadaannya, setelah ada dirimu. Tapi hanya padamu saja aku gerakkan gairah bibirku untuk satu kata itu. Itulah kata sebagai wujud rasa sayangku. Rasa yang akan semakin menderaku sewaktu kata itu telah melekat untukmu. Dan hanya akan kupanggil untuk memanggilmu. Tentu saja disamping namamu sendiri.

Cinta…
Tahukah kau… Betapa berat menjaga nama itu? Dan betapa banyak cobaan yang menantang untuk aku lalui? Namun, sampai saat itu terjadi—sebuah moment indah—akan kujaga itu. Hanya untukmu seorang. Bukan yang lain. Karena aku juga tahu, Adam hanya untuk Hawa. Bukan yang lain. Akan aku jaga sampai benar-benar datang waktunya aku memanggilmu. Jika mungkin dulu aku pernah mengucapkannya, maafkanlah aku, dan anggaplah itu sebuah khilaf dari beratnya cobaan menjagamu. Dan kesalahan itu bukan untuk selamanya. Darinya aku dapat belajar untuk memaknai kedalaman yang ditawarkan kata itu. Setelah itu, hanya kebanggaan jika aku dapat menjadikannya mahkota yang akan menyanjungmu. Mencoba menerbangkanmu dan memberi ruang tanpa batas dalam mengarunginya.

Aku telah ikhtiarkan mengunci mulutku untuk tidak mengatakan itu pada yang lain. Aku tidak akan iri mendengar suara-suara menggelikan darinya yang dibisikkan orang lain dari kedangkalan nafsunya. Aku juga tak akan mendendam pada khilaf yang telah menyeretku pada kepedihan. Juga pada rasa sakit tatkala aku hanyut dalam melihatnya. Aku tak akan merasa iri pada semua itu. Aku tahu kesejatian adalah dari perjuangan. Dan aku selalu berjuang untuk mencapainya. Dengan segala penderitaan datangnya kelak, juga kerinduan yang ditawarkan iblis agar aku tersesat pada nikmat nafsu yang membakar kita berdua. Aku masih ingin melalui semua itu dengan gigih. Dengan tegak nantinya aku ingin meraih kemenangan dari semua tawaran yang menjatuhkanku pada rendahnya sebuah nilai dari kesejatian kehidupan. Karena telah banyak aku melihat bagaimana seseorang yang tak mampu menahan hanya terperosok semakin jauh dalam sisi kelam nafsunya. Aku memang sering melihat mereka tertawa dengan merendahkan kata itu. Tapi juga kulihat mereka tertawa dalam panasnya api yang disiramkan iblis pada tubuh-tubuh mereka. Sesungguhnya aku hanya merasa kasihan pada mereka, namun mereka tak menyadarinya dan justru menjadi sosok-sosok yang bebal dan buta. Ya Cinta… aku pernah melihat mereka semua tertawa dalam bara yang telah menunggu dalam rumah iblis dengan api nerakanya.

Aku tak menginginkan kita menjadi seperti mereka. Masih bisa tertawa senang sekarang, padahal nantinya apa yang mereka tertawakan adalah perbuatan yang akan mereka tangisi karena membawa mereka pada siksa panasnya api abadi. Bukan itu yang aku harapkan, aku juga yakin itulah yang ingin kamu jaga. Aku begitu paham. Sama sepertimu, aku ingin kamu juga menjelma wanita yang melebihi pesona bidadari. Yang “seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” Aku juga lebih bahagia ketika kau dapat melebihi seorang bidadari. Aku sungguh akan bangga dengan hal itu. Itulah kenikmatan yang hanya dapat dirasakan dalam taman-taman abadi. Aku tidak rela ketika kulitmu nanti terkelupas oleh panasnya api neraka karena apa yang menggoda kita sekarang ini. Meskipun kita juga tidak memungkirinya, bahwa godaan itu sungguh nikmat. Namun kita juga paham, bahwa nikmat itu bukan untuk selamanya. Selama masih kusimpan kata itu. Itu tanda bahwa apa yang kita lakukan adalah nikmat yang sementara belaka. Hingga saat-saat aku telah berikrar, dan kuucapkan kata itu layaknya sebuah lantunan ayat-ayat yang setapak demi setapak memberi jalan menuju taman abadi. Hingga waktu itu belum terjadi, jagalah dirimu dari semua godaan yang membuat kita menjadi rendah dimata Yang Maha Menyayangi.

Cinta… tahukah kau aku sering menitikkan airmata? Ah, bodohnya aku, pasti kau tidak akan tahu. Iya Cinta… dalam kesunyian malam-malamku, kerinduan padamu sungguh begitu besar. Benar-benar menjadi terpaan yang sangat berat untukku. Namun kau tahu? Itu yang selalu memberiku jalan lapang hingga aku senantiasa bermunajat pada Dia Yang Maha Pemurah. Atas kemurahanNya aku masih diberi kesempatan merasakan kerinduan dan cinta. Dan atas kasih sayangNya aku masih diberi jalan untuk dapat bermunajat padaNya. Meskipun kerinduan padamu begitu besar, namun aku sadar karena Allah aku merindukanmu. Karena Allah jua aku merasakan cinta padamu. Aku merasa, Allah telah membuat jalan untuk kita lalui seperti sekarang ini. Entah apa yang akan terjadi nanti, biarlah itu jadi rahasiaNya saja. Kita akan coba menebak dengan ikhtiar kita. Dengan rencana-rencana, dan jerih payah yang kita lakukan, juga doa yang tak alpa kita panjatkan. Darinya, ada tempat terbaik yang menanti kita pada ridho dan barakahNya yang menanti. Biarlah kita titipkan harapan-harapan pada doa yang selalu kita lantunkan ketika kita bergumul dengan ketaatan padaNya.

Nanti… ketika harapan-harapan itu telah mewujud, aku ingin sekali bercerita padamu. Cerita tentang keseharianku, apa yang aku rasakan ketika merindukanmu, tentang ikhtiar yang aku lakukan selama ini, ah…aku akan cerita apa saja padamu. Dan kau adalah sosok yang dengan bijak mendengarkan cerita-ceritaku. Lalu, aku yang akan mendengarkan cerita-cerita tentangmu. Apa saja ingin aku dengar, asal kau yang menceritakannya. Kita akan selalu bercerita ketika kita tengah menikmati ridho dariNya. Dan tak lupa kita akan membuat cerita tentang kehidupan yang senantiasa berjuang untuk apa yang telah kita yakini. Apa yang saat ini masih kita perjuangkan sendiri-sendiri. Kelak, ketika kau mengalami kepenatan atas perjuangan ini, aku yang akan menjadi embun bagi gersangnya kemarau dalam semangatmu. Kau akan menjadi oase bagi Sahara atas jenuh dan lelah yang kualami. Ah…alangkah indah saat-saat seperti itu. Ketika kita berdua dapat saling menguatkan dan saling menopang. Karena yang setengah telah menjadi seutuhnya. Dan kita menjadi pejuang yang sempurna.

Cinta…
Apa yang aku tulis sekarang ini adalah sebuah harapan. Walau masih banyak harapan yang ingin aku tulis, namun aku tak pandai merangkai kata-kata. Aku masih sulit menyusun kata menjadi kalimat sehingga membangun menjadi sebuah paragraph yang indah selayaknya istana Sulaiman. Aku takut ketika kau baca paragraph yang tak indah itu, kau menjadi jenuh. Biarlah harapan-harapan sementara aku titipkan pada Allah saja. Dia akan menyimpannya dalam peluk kasih sayang ketika kulantunkan ayat-ayat doa padaNya. Tapi yakinlah, masih banyak harapan yang tak tertulis dalam bait-bait yang sedikit ini. Dan pahamilah, ada doa dalam ruh ketika aku menulis surat ini padamu. Doa yang terlantun dari laki-laki yang merindukan keberadaanmu. Doa yang terngiang dalam jiwa yang menanti kehadiranmu. Dan doa yang menggelegar dalam semangat untuk menjemputmu. Disanalah aku titipkan segala rasa dan ungkapan. Suatu waktu nanti akan aku endapkan menjadi sebuah kata untuk memanggilmu… Cinta.

Dengan kasih sayang dan kerinduan yang dalam,
Tertanda, AR.



Ya Allah…
Kutitipkan surat ini padaMu. Sampaikan pada sosok yang aku rindukan itu. Dan katakan padanya dengan semua ketulusanku, aku akan mencintainya karenaMu. Aku akan menjaganya untukMu. Aku akan membimbingnya menujuMu. Dan aku akan selalu menemaninya bersamaMu.

Ya Allah…
Katakan juga padanya, akan aku simpan sebuah kata itu hanya untuknya. Cinta. Akan kusematkan kata itu ketika dia telah menjadi pendampingku. Menjadi istriku. Dan katakanlah sebuah pesan untuknya dariku. Bilang padanya untuk bersabar dan selalu menjaga diri. Ikutkanlah ridho dan kasih sayangMu pada kami, Ya Allah. Karena sekarang ini aku belum dapat memanggilnya Cinta.


Solo, 11 Juni 2009
Agus Raharjo

Minggu, 24 Mei 2009

Gerimis di Wajahku

Jika nanti kau merindukan aku
Kutitipkan kenangan pada wajah hujan
Karena aku tahu, hujan mengingatkanmu padaku

Jika nanti kau tak kuasa menahan tangis
Kuikutkan airmatamu pada derai hujan
Disanalah kerinduan kita bertemu

Jika nanti kau merasa jauh dariku,
Mendekatlah pada belai hujan
Dengannya, kutarik kau menari bersamaku

Jika nanti kau lelah menungguku
Bicaralah pada hujan
Darinya, kutahu aku harus datang
Dan kebahagiaan,
Menjelma rintik gerimis di wajahku.


"sebuah persembahan"
(AR, 19 Mei 2009)

Sabtu, 31 Januari 2009

Misalkan Bukan hanya "Hujan Bulan Juni"

Hari-hari kemarin, dan sampai hari inipun, langit masih membelai mesra pada awan. Alhasil, awan tak henti-hentinya menitikkah hujan, yang bagiku sungguh indah. Seolah, hujan tidak ingin berbagi senja dengan kita. Senja yang jingga selalu dia sembunyikan dalam warna kelabu mendung.

Ketika hari-hari selalu saja hujan seperti itu. Saya teringat mengapa saya selalu suka hujan. Alasan yang membuat saya justru merasa senang ketika rintik-rintik air meluncur dari mendung yang seakan murung. Dan semua alasan itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. sejak dahulu, ketika saya masih melihat dunia yang sempit. Saya tersadar, hujan dapat menemai saya dalam meresapi hidup.

Ketika hujan turun, dahulu, saya selalu dibuat tertawa senang karenanya. Betapa tidak? Saya yang masih kecil merasa dapat menikmati belaian langit pada kulit saya. Meskipun nantinya saya dapat marah dari ayah. Saya selalu riang menyambut hujan yang mempesona. Merasa selalu ingin berbagi keriangan dengannya. Memang pada akhirnya saya dimarahi habis-habisan oleh Ayah, dan harus mencuci pakaian yang saya kenakan untuk menjemput hujan.

Namun, seiring usia yang selalu bertambah, saya merasa hujanh menemani dalam hal yang berbeda. Saya ingat, ketika masa-masa saya mengalami goncangan, entah mengapa—mungkin suatu kebetulan—hujan maupun mendungnya selalu dekat dengan saya. saat itu saya merasa yang dapat merasakan kesedihan yang saya alami hanyalah hujan. Saya ingat terus, dan bahkan pernah menjadi pertanda, bahwa setiap saya sedih atau sebaliknya, setiap hujan akan membelai mesra, keadaan saya tergoncang. Yang ada adalah murung. Saya seolah dapat berbicara dengan hujan, dengan kesedihan. Diapun menyambut dengan belaiannya.

Pengalaman hujan yang menjadi sebuah alasan, mengapa sampai sekarang saya ingin bersentuhan dengan hujan, hingga sekarang masih menggelayuti dalam diri saya. Namun, tidak semesra dahulu, saya terlalu malu untuk mengakui bahwa saya sungguh sangat suka hujan.

Dan sekarang, ketika pengalaman tentang hujan membuat saya merasa miris—kesenangan saya, menjadi kesedihan orang lain—saya tak dapat lagi merasai pengalaman batin itu. Saya terlalu naïf untuk mengakui bahwa hujan selalu memberi sebuah perenungan. Oleh sebab bahwa hujan menimbulkan tangis bagi orang lain. Seperti sebuah tempat yang sakarang saya singgahi, Solo. Hujan telah meluluhlantakan kepasrahan hingga berserakan dibalai pengungsian.Seperti setahun lalu, saya ikut dalam sebuah aksi relawan untuk korban banjir, di Kampung Sewu.

Ketika hujan belakangan ini kembali tidak mau berbagi senja dengan kita, saya merasa hujan telah membuat saya takut. Terlintas sebuah pertanyaan pada diri saya, apakah yang membuat hujan menjadi begitu sedih hingga terlampau ingin mencari tempat berbagi kesdihan itu? Apakah kita talah membuat kesalahan yang tidak termaafkan hingga hujan juga ingin menunjukkan bahwa dia juga dapat bersikap egois. Saya merasa malu sebagai manusia jika memang telah membuat hujan menjadi sedih. Mungkin memang kita telah berbuat banyak salah hingga menyakiti kekasih hujan, bumi.

Meresapi hujan, ada harapan agar hujan kembali seperti dahulu. Ketika saya merasa bahwa dialah teman yang selalu ada bersama saya menikmati sebuah pengalaman. Dan, hujan menjadi lebih menentramkan. Andai Sapardi Djoko Damono menulis hujan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Ingin rasanya saya merayu hujan dengan puisinya. Akan kulantunkan kata-kata itu hingga dia kembali dapat menemani saya menikmati laku hidup di dunia. Akan kubisikkan padanya:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)


Mungkin dengan begitu hujan akan kembali berbagi senja dengan kita. Hingga tak ada lagi kesedihan, juga penyesalan atas apa yang telah kita perbuat padanya. Misalkan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Saya masih akan merasakan pengalaman bersama-sama hujan yang telah membuat saya bagaiaman belajar melalui sebuah perenungan.

Solo, 31 januari 2009
Agus Raharjo

Rabu, 28 Januari 2009

Hakekatnya Adalah Menjaga

Pernah suatu sore, ketika langit masih murung dengan mentari, di suatu tempat terjadi obrolan oleh dua orang muda. Obrolan yang tidak jauh mengenai dunia seusianya. Kira-kira begini:

Si A: “Kok tidak lagi kesana?”
Si B: “Lha emang kenapa?”
Si A: “Ya ga biasanya aja.”
Seraya tersenyum Si B menjawab: “Untuk menjaga.”
Si A: “Menjaga siapa? Kamu?”
Si B hanya tersenyum lagi:”Hmmm…”


Obrolan itu tidak hilang bahkan sampai si B telah kembali pada aktifitasnya. Mungkin dalam hati dia malah tersentak. Apa yang telah dia jawab untuk sebuah pertanyaan yang mungkin tidak bisa ditangkap oleh orang lain kecuali keduanya. Tanpa tanda apapun, mungkin kita akan dibuat bertanya, apa yang mereka berdua obrolkan. Ah, biar saja itu menjadi rahasia mereka berdua.

Dalam kegamangannya atas pertanyaan, kita tidak tahu bahwa sebenarnya pertanyaan itu telah diprediksi oleh si B ketika nanti bertemu si A. Namun, dalam kisah selanjutnya, jawaban yang dia berikan dengan memberi sebuah senyuman atas pertanyaan itu membuatnya berpikir. Atau lebih tepatnya, dia juga bertanya selama ini “siapa yang dia jaga”? Atau “mengapa menjaga”?

Layaknya sebuah drama, dalam hatinya terdengar gemuruh yang menderu, berteriak, dan membuat ketenangan lenyap. Pertanyaan dan jawaban dari obrolan yang dapat dia perkitakan tadi serasa melayang-layang di atas kepalanya, berputar-putar, dan sesekali keluar masuk kedalam otaknya. Alhasil, obrolan dan pertanyaan tersebut tidak mungkin tidak dia pikrkan.

Dan inilah hasil perenungan yang sebenarnya telah ada jauh di dalam dirinya. Akan tetapi alangkah membingungkannya ketika perenungan itu tidak didasari kejelasan permasalahan yang dialami si B atas obrolan yang terjadi. Dan inilah singkatnya: entah mengapa si B, adalah juga manusia biasa. Tentang apa yang menjadi bahan obrolan itu, adalah tentang sebuah ‘kejadian’ yang juga dialami oleh sebagian besar makhluk yang bernyawa. Silakan menebak apa itu.

Sekarang kita kaitkan dengan pertanyaan dengan kejadian yang dialami si B maupun manusia pada umumnya.. Mungkin saja si B salah arti tentang sebuah sebab yang dirasakannya, tentang siapa. Tapi ini terlepas dari siapa yang dimaksud. Yang ada dalam perenungan si B, tokoh misterius ini, dia merasa berbeda dengan orang kebanyakan mengenai ‘kejadian’.

Yang dia rasakan, ketika ‘kejadia’ telah menimpanya, maka yang ada dalam pikirannya adalah menjaga. Dan dari obrolan singkat itu, dia kembali disadarkan makna menjaga itu. ‘Kejadian’ yang oleh orang kebanyakan dapat dijadikan senjata ampuh memperdayai orang lain, bahkan tak segan-segan merusaknya, oleh si tokoh ditangkap secara berbeda.

Baginya, ketika seseorang telah mengalami ‘kejadian’, maka jadi sebuah kewajibannyalah dia menjaga. Bukan menyakiti, bahkan digunakan sebagai dalih untuk memperoleh sesuatu. Yang seperti itu dapat dianggapnya tidak memahami. Baginya, apa yang disebabkan oleh ‘kejadian’ hakekatnya adalah menjaga. Bukan merusak.

Dapat diibaratkan seperti ini. Ketika kita masih kecil, dan ayah kita memberikan sebuah mainan yang sangat kita sayangi. Apa yang akan kita lakukan pada mainan itu? Hanya orang yang tidak menyayangilah yang akan sembarangan mempermainkannya. Dia tidak akan merasa sedih ketika mainan itu rusak. Dia juga tidak akan merasa kehilangan ketika mainan itu hilang. Itulah yang tidak memahami hakekat ‘kejadian’.

Berbeda ketika dia sangat menyayangi mainan itu, entah karena pemberian ayah atau memang dia suka mainan jenis itu, yang dilakukan salah sayang. Kalau dalam bahasa Jawanya eman. Eman dari kerusakan jenis apapun. Itulah hakekat menjaga.

Ketika kisah itu saya dengar, saya jadi ingin sekali meresapi penggalan kata-katanya Albert Camus. Kira-kira begini: Hasrat memiliki tidaklah tertahankan/sampai pada titik ia mampu bertahan bahkan dengan mencintai dirinya sendiri// Oleh karena itu/mencintai adalah menetralkan orang yang kita cintai//

Jadi, hakekatnya adalah menjaga. Meskipun kehilangan tidak dapat dipungkiri sebuah luka yang akan mengoyak. Hingga perih mengalir bersama dengan air laut yang begitu terasa mengharu. Akan tetapi, dari kisah obrolan tersebut saya jadi mengerti sebuah makna. Seolah John Dreyden berkata pada saya: “Pada masa-masa keshalehan/ luka akibat cinta jauh lebih manis ketimbang kesenangan apapun lainnya”//

Dan itulah jawaban yang oleh si tokoh dapat digali dari dasar dirinya sendiri. Jawaban atas perenungan pertanyaan yang seringkali muncul dan berputar-putar diatas kepala, kemudian menyusup masuk dalam otak. Hakekatnya adalah menjaga.



Solo, 26 Januari 2009
Agus Raharjo