Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2017

Bola itu (masih) Bundar

‘Bola itu bundar.’
Itulah kalimat yang sering diucapkan untuk pertandingan sepakbola. Bola memang bundar, belum pernah menjadi bentuk lain. Namun, ada kiasan tersendiri dari arti kalimat itu. Segala sesuatu bisa terjadi selama bola terus bergulir di lapangan. Itulah pesan yang ingin disampaikan bola berbentuk bundar.
Pesan itu banal sekaligus dalam. Bola menyimpan rahasianya sendiri dari ribuan pertanyaan nasib dua klub yang saling menghabisi. Waktu kurang lebih 90 menit menjadi pertanyaan, siapa tim pemenang. Rahasia itu akan tersimpan, selama bola terus bergulir. Dari kaki ke kaki, kadang melambung ke masing-masing pertahanan tim lawan. Gambaran itu akan selesai setelah pengadil lapangan meniup peluit panjang. Laga berakhir, rahasia terbongkar. Siapa yang layak jadi pemenang.
Hal itulah yang dua pekan ini kita saksikan. Sepakbola membuktikan dirinya sendiri. Bola tetap bundar, terkadang menempatkan satu sisi di atas, lainnya di bawah. Di lain kesempatan, keadaan bisa berbalik. Terkadang, keajaiban bisa muncul tiba-tiba, hanya dalam waktu delapan menit. Itulah yang terjadi dalam drama tujuh gol laga klub La Liga Barcelona saat menjamu wakil Ligue 1 Prancis, Paris Saint Germain (PSG), Kamis (9/3) kemarin.
Barcelona yang tertinggal agregat empat gol dari PSG harus yakin bola masih berbentuk bundar. Apapun bisa terjadi saat mereka melakoni laga leg kedua di Spanyol. Kemudian, keajaiban benar-benar terjadi. Lionel Messi, Neymar, Suarez dan Sergi Roberto menjadi aktor penyingkap tabir rahasia di laga itu. Mereka membuat keajaiban dengan membalikkan keadaan setelah menang 6-1 dari Les Parisiens. Barcelona membuktikan bola itu masih bundar. Mereka menyingkirkan PSG yang sudah selangkah lagi lolos ke perempat final Liga Champions Eropa.
“Kemenangan ini didedikasikan untuk mereka (yang tak percaya) kami bukan Harlem Globe Trotters, ini sepakbola,” tutur Enrique dikutip dari Marca usai pertandingan untuk membungkam mereka yang meragukan Barcelona, dan bola itu bundar tentunya.
Di Tanah Air, laga yang hampir mirip juga terjadi pada Piala Presiden 2017. Tim asal Kota Malang, Arema Cronus harus mengejar defisit satu gol pada laga leg pertama saat bertandang ke markas Semen Padang. Alih-alih mencetak gol sejak awal laga di leg kedua, Singo Edan justru kebobolan dua gol di Stadion Kanjuruhan, Malang. Namun, sekali lagi, bola itu bundar. Selama wasit belum meniup peluit akhir, rahasia di lapangan tak terbuka.
Striker gaek, Cristian ‘El Loco’ Gonzalez menuntaskan penasaran publik sepakbola Tanah Air. Lima gol yang bersarang ke gawang Kabau Sirah dari pemain berjuluk Si Gila ini jadi bait-bait panjang penantian hasil akhir pertandingan. Arema memastikan diri melaju ke babak final Piala Presiden untuk menantang Pusamania Borneo.
Itulah sepakbola. Ia selalu menyimpan rahasianya sendiri. Menyingkap tabir hasil akhir setelah laga dinyatakan tuntas. Rahasia dalam sepakbola, hanya pemain dan pelatih yang harus mencari pertanyaan dan jawabannya sendiri. Hasil akhir ditentukan oleh 22 pemain yang bertanding di lapangan. Rahasia dalam sepakbola ini mengingatkan pada salah satu sajak milik Hasan Aspahani dalam buku kumpulan puisi Pena sudah Diangkat, Kertas sudah Mengering. Aspahani menyuratkan puisi berjudul ‘Rahasia Laut, Rahasia Angin’ di halaman 56 untuk menggambarkan sebuah tabir yang belum tersingkap:
Ada rahasia laut dan angin, Nak, yang
harus engkau temukan sendiri pertanyaannya
dan mesti engkau cari sendiri jawabannya


#tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika edisi 11 Maret 2017

Minggu, 23 Mei 2010

Mei: Setangkai bunga Morishcha yang Indah

Pada kisah Mei selanjutnya, saya ingin bercerita tentang sebuah imajinasi yang banal. Kisah ini bisa jadi akan selalu mengingatkan saya dengan bulan yang paling sedikit hurufnya, namun banyak cerita yang lahir di dalamnya. Ini tentang sebuah bunga, yang anggap saja kita mengenalnya seperti kita mengenal anggrek maupun melati—saya lebih menyukai anggrek. Terlebih anggrek putih yang meskipun tergolong murah, namun baunya sangat wangi. Ini kisah tentang setangkai bunga yang bisa kita gambar dalam imajinasi kita. Kisah tentang ‘setangkai bunga Morishcha’.

Setangkai bunga Morishcha, adalah setangkai bunga yang pernah saya dengar baru sekali. Entah nama latin untuk bunga apa atau nama bunga dari bahasa mana, saya tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah merasa kehilangan bunga itu pada bulan Mei, tahun lalu. Nama bunga itu untuk pertama kali saya dengar dari seseorang yang pernah diberitahu oleh seseorang yang dahulu adalah penari.

Kisah perkenalan saya dengan bunga Morishcha adalah sebuah kesengajaan yang tidak disengaja. Jauh sebelum saya mengenal bunga itu, jauh dalam imajinasi saya telah melukis sesosok bunga yang membuat saya merasa terkesan. Bunga itu, saya gambarkan sebagai bunga yang menyimpan misteri dalam keangkuhannya. Aura yang terpancar dari anggun warnanya membuat seseorang yang melihatnya akan tertawan jiwanya. Dari dasar imajinasinya segera menjelma sebuah misteri yang tak terjangkau dalamnya. Dan bunga itulah yang senantiasa membuat saya merasa ikut menjadi seorang yang angkuh.

Dan untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya menemukan sosok bunga itu hanya dalam setangkai bunga Morishcha. Hanya setangkai. Karena memang bunga ini mekar tidak bersama-sama, hanya setangkai saja. Maka, itulah yang menarik. Bunga ini menjadi setangkai bunga yang anggun dan menawan. Keindahannya terletak pada satu tangkainya. Jika bunga ini menguncup pada tangkai yang banyak, maka keindahan itu akan sama saja dengan bunga-bunga yang lain. Maka, inilah bait-bait perpisahanku dengan setangkai bunga itu.

Pada bulan ini satu tahun yang lalu, saya dengan bunga Morishcha juga gambaran keindahannya mengarungi suatu masa ketika pada suatu malam kita kembali ke jaman Majapahit. Saat itu, kita dengan damai memasuki wilayah Majapahit yang tengah terjadi huru-hara. Sampai akhirnya kita bertemu dengan sosok yang penuh karismatik Pangeran Banjaransari—orang yang erat hubungannya dengan lahirnya nama Sukoharjo. Saya, bersama setangkai Morishcha, menjadi saksi betapa dengan gagahnya, pangeran yang berguru pada Sunan Kalijaga ini membantu rakyat alas Taruwongso keluar dari masa paceklik yang telah lama dialaminya. Meskipun hanya kisah yang pendek, namun saya memahami, begitu dekatnya saya, bunga Morishcha, dan Pangeran Banjaransari waktu itu.

Namun, seperti halnya saya kehilangan Pangeran Banjaransari yang hanya dapat saya kenang melalui makamnya di Tamansari, Sukoharjo, sayapun merasa kehilangan bunga Morishcha dan hanya dapat mengenangnya melalui nisan yang tertancap dalam hati saya. Kisah itu begitu singkat, namun penuh liku. Dari sana, ada keberanian, ketakutan, kegelisahan, ketenangan, rasa pasrah, cemburu, tawa, tangis, dan kebijaksanaan serta ketololan. Hanya dari setangkai itu, telah lahir kisah yang selalu dapat saya ingat. Mungkin juga tidak akan pernah saya lupakan.

Jikapun ada sesal, sesal itu tak akan merubah apa-apa. Bunga itu telah hanyut dalam tangkainya entah pada imajinasi siapa. Saya masih dapat mengingatnya dengan jelas, ketika hujan menandai betapa kita saling membutuhkan. Hujan memberiku airmatanya, dan hujan mengantarkannya padaku sebagai setangkai bunga yang menakjubkan. Angkuh, anggun, namun menyimpan misteri yang menawan.

Jika saya masih mempunyai kesempatan untuk membelai bunga itu lagi, saya ingin menyimpannya erat-erat dalam hati dan kutanam agar benih yang angkuh itu merebak dengan wangi didalam imajinasi. Akan kusiram tanah yang merekah menerimanya sebagai bunga abadi nan puitis. Setidaknya akan kujelmakan ia dengan bahasa yang santun. Tapi pada bulan Mei itu, saya harus merelakannya tercabut dari akar imajinasi saya. Dan mungkin saya masih ingin mengirimkan puisi ini untuk mengingatnya.

Dalam rawan kelopakmu
Kutemukan sabda ratu keindahan
Meskipun angkuh, titahmu pernah menawanku
Dan pada bait sepi, tertulis lirik-lirik sedih
Aku telah kehilangan,
Sebuah melankoli kokohnya setangkaimu
Dari kata menjelma rupa, mewujud frasa takdirku
Pergimu, kuharap bukan tanda baca nihilmu
Aku lelap, dalam hujan yang membelaiku
Pada bau tanah basah,
Mengingatmu merindukan tanah merekah
Tempat disemainya bulir-bulir keanggunan
Setangkai bunga menjelma cinta, Morishcha.

(RA: ‘Setangkai Bunga Morishcha yang Indah’)

Solo, 21 Mei 2010 (02.45)
Agus Raharjo

Minggu, 25 Oktober 2009

Perpisahan

Ada saja yang tak pernah selesai diucap. Cerita-cerita yang kau minta. Seperti tadi malam, saat kita terjaga di sebuah ambang duka. Mendekat pada pintu perpisahan. Ditemani langit-langit hitam mengundang gerimis. Selayak perpisahan itu sendiri. Perpisahan.
Aku ragu. Entah itu nyata, atau hanya isyarat saja. Atau justru begitulah adanya.
Kau berlalu,
Kita mengingat malam yang sama. Mengisahkan cerita, mungkinkah yang kau minta? Atau hanya inginku saja.
Ada duka yang sama, ada rasa serupa. Malam-malam yang sama. Malam-malam menyambut pagi. Seingatanku juga.
Cerita-cerita yang kau minta. Aku harap bukan cerita perpisahan kita. Bukan kisah tentang malam terakhir. Perpisahan. Duka.
Aku ingin bercerita. Tentang kisah selanjutnya. Tentang impian, dan keteduhan mengawali tidur kita. Membuka jendela mimpi hinggap tak ada batasnya. Untuk mengulang malam-malam yang serupa.
Serupa dulu pernah kita rasa. Di dalam gua, diatas gunung, menerkam dingin, kemudian meluncur pagi. Dan kaulah cerita. Akulah cerita. Meski bukan cerita yang selalu sama. Kitalah ceritanya.

Ada yang tak sempurna diungkap. Ungkapan menerang. Di dalam gua, di puncak gunung, mengalir bersama dingin, di guratan malam, kemudian meluncur pagi.
Ungkapan selayak janji,
Ibarat cinta adalah cinta mati. Bukan dari seseorang yang biasa. Juga bukan pada seseorang yang biasa. Seseorang itu, sosok yang tak akan ada padanannya. Pada keduanya adalah setengah yang melengkapi. Padanya adalah ungkapan untuk meretas keyakinan. Menjawab keraguan.
Dengan ungkapan, muncullah kepercayaan, lalu berubah keyakinan, kemudian ada tindakan. Laku hidup yang seharusnya diteruskan. Meski ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Semua tak merubah.

Ada yang lengkap dari perpisahan. Merasa kehilangan, sejujurnya. Ada rentang pada ruang, ada jeda untuk waktu. Meski tak merubah perasaan. Atau justru membuatnya semakin utuh. Seperti pagi ketika kita ada di ambangnya. Detik-detik yang mungkin diingat dan dirindukan.
Tawa anak kecil membuat suasana semakin melankoli perpisahan. Lugu yang ditunggu, lucu yang sederhana. Perpisahan. Perpisahan. Perpisahan.
Sampai kapan tak ada pertemuan? Sampai kapan rasa ini tertahan? Dan sampai kapan rindu ini hanya tersimpan?
Hanya tulisan-tulisan. Dia mampu menyelesaikan ucapan. Dia sanggup menyempurnakan ungkapan. Pada rentang ruang, pada jeda waktu. Dia menisbikan perpisahan.

Kalaupun hanya tulisan. Ada ucapan selamat tinggal, ada harapan secepatnya bertemu kembali. Ada doa di setiap gerak bibirnya. Ada air mata untuk mengingatnya. Itulah ucapan-ucapan cerita tentang kita.
Meskipun sekadar ungkapan. Ada jawaban-jawaban.
Semakin tinggi, akan terasa semakin sakit jatuhnya. Maka aku tak akan membiarkanmu terjatuh. Jikapun kau terjatuh, akupun akan jatuh. Sakitku adalah lebih dari sakitmu.
Tapi bukankah kita menuju atas? Dan ingatlah bahwa kita adalah sayap yang belum sempurna. Tak harus merisaukan rasanya terjatuh. Karena ketika telah lengkap, maka kita dapat tenang menuju ke atas. Ke langit. Ke Surga barangkali.
Aku ingin sayap yang sempurna. Aku ingin melengkapinya dengan impian-impian nyata. Aku ingin bercerita tentang segalanya. Aku ingin mengungkap semua rasa. Aku ingin tak ada perpisahan.
Ada doa untuknya. Juga ada air mata merindukannya. Karena tak akan ada malam yang sama setiap harinya.

Klaten, 25-26 Oktober 2009
Agus Raharjo

Sabtu, 17 Oktober 2009

14 Oktober 2009

Perahu telah menemukan labuhannya
Dalam badai kabut
Menyamarkan jejak yang tertinggal untukku

Sepi yang terlalu perih
Tak rela
Terbaca jawaban
Dari penantianku

Aku telah menemukanmu
Bukan dalam tanda khayal
Tapi pada kata
Terangkai di bibir jemarimu

14 Oktober 2009,
Ada hati
Tak lagi sepi
Ada senyum
Menawar duka
Ada percaya
Membagi asa
Ada persembahan
Aku untukmu

(AR, 16 Oktober 2009)

Selasa, 25 Agustus 2009

Dia Puisi

Mengenang

Ada sesal,
Pada akhir dosa

Namun,
Ada rindu
Yang tergolek setelahnya

(AR, juni 2009)

Meraba Hati

Ketika pertama aku menemukanmu
dalam bingkai yang lugu namun serentak mengundang
rasa malu terbias angkuhnya harapan

Ada kerinduan mendebarkan
lentik jari meraba hati: menyakitkan sekaligus menyenangkan
siapa sangka kau menawarkan tanda dan aku membacanya

Aku rindu kau: tergambar masa lalu, sekarang, dan hari esok

Barangkali akan kau tanya sebuah alasan
yang perlahan mengupas takut dari semua kehilangan
mungkin juga tak dapat kuterangkan dengan bahasa
sebuah kejujuran yang kutepiskan dalam tanda khayal

Aku rindu kau: tertulis kenangan, kisah, dan impian

Setiap jengkal aku merasa kau mengikutiku
Gemulai manja lambaian tanganmu memanggil
dengan bibir yang bergetar kau berbisik:
Aku ada dihatimu, maka kau selalu merindukanku

(AR, Juni 2009)

Perjalanan

Berapa kali kususur jalan ini
tapi tak kutemui dirimu seperti waktu pertama
gerimis mengundangku untuk melihatmu basah airmata

Aku lugu dan kau pilu
Terbenam pada tikungan rahasia sebuah tanda yang mengisyarat luka

Nanti kalau aku menemukanmu lagi
akan kukurung dalam hati pertemuan itu
sama ketika pertama aku melihatmu basah airmata

Kubuat jejak padanya agar aku dapat kembali
menyesapi kenangan yang terbawa dari masa lalu
agar perjalanan ini tak hanya sia

(AR, Juni 2009)

Selasa, 28 Juli 2009

LAWU #2: Sebuah Cerita

Tanggal 17 Juli yang lalu, saya berkesempatan untuk melihat suasana yang berbeda. Lawu. Nama yang tak asing namun begitu jauh dari jangkauan sebelumnya. Dan saat itu, sebenarnya juga tak ada niat untuk melakukan pendakian kesana—perjalanan tepatnya. Karena sebelumnya ada sebuah ajakan untuk “ngecamp” oleh seorang teman. Tapi aneh, kebanyakan “ngecamp” adalah bukan ngecamp. Saya bilang seperti itu karena ketika “ngecamp” kita membawa bekal makanan dari rumah, dan dimasak disana. Kalau saya bilang kenapa tidak sekalian saja pindah rumah?! Dengan “ngecamp” seperti itu, bukankah hanya sebuah acara pndah makan?

Yang saya tahu, “camp” adalah sebuah tempat yang serba terbatas. Mungkin pemikiran ini meresap dalam diri saya ketika membaca cerita sejarah tentang “camp” pengungsian dari orang-orang yang diusir. Saya ingat betul pernah melihat sebuah film yang bagi saya sungguh dramatik. Saya lupa judulnya, tapi saya ingat betul ceritanya. Tentang sebuah keluarga yang hidup di “camp pengungsian” yahudi. Seorang ayah yang ingin menciptakan sebuah suasana rekreasi pada anak laki-lakinya ketika berada dalam sebuah “camp pengungsian”. Ada anggapan bahwa sang anak belum seharusnya menyadari apa yang tengah menimpa mereka sekeluarga. Dalam “camp pengungsian” itu, sang anak dijelaskan bahwa mereka sedang mengikuti sebuah perlombaan untuk mengumpulkan nilai tertinggi agar dapat memiliki sebuah tank. Tugas sang anak cukup sederhana, yaitu jangan sampai tentara Jerman mengetahui keberadaan sang anak. Cukup cerdas juga mengharukan. Bahkan sampai saat sang ayah “dieksekusi”pun sang anah masih percaya bahwa mereka sekeluarga tengah mengikuti perlombaan. Itulah gambaran ngecamp bagi saya.

Untuk ke Lawu, saya sadar tidak akan mendapatkan “kenikmatan” seperti itu. Namun, saya akui ada niat yang berbeda yang bukan berdasar pada keegoisan diri saya pribadi. Justru saya rasa, niat ke Lawu memang bukan lahir dari keinginan pribadi sebelumnya. Namun saya masih sempat meniatkan itu setidaknya untuk menikmati suasana yang berbeda di tengah kejenuhan aktifitas saya. Meskipun saya akui tidak dapat menghilangkan semua beban pikiran yang menggelayut, bahkan ketika pendakian berakhir.

Tapi dengan niat untuk orang lain itulah saya tetap kuat dan mampu bertahan hingga sampai turun dari Lawu. Padahal, beberapa hari sebelumnya saya sendiri sangsi apakah mampu untuk naik—karena beberapa hari sebelumnya saya “terbaring” dirumah. Namun saya telah mengucapkannya—saya anggap itu sebuah janji—dan saya harus menepatinya.

Dengan keberanian melawan dingin, saya beserta 5 orang lainnya akhirnya berhasil juga menikmati indahnya bumi dari sudut pandang lain. Sejenak ada suasana yang menyenangkan, namun juga ada sesuatu yang saya rindukan ketika saya berada diatas gumpalan awan putih. Saya tak mengerti apa itu, namun saya menikmatinya. Saya hanya teringat dengan orang-orang dan tempat-tempat yang saya tinggalkan. Dan suatu saat nanti saya akan meninggalkan mereka dan menuju pada orang dan tempat baru.

Selalu ada yang datang, dan juga pergi. Jika ada pilihan, saya memilih selalu ada yang datang tanpa ada yang pergi. Saya benci kerinduan setelahnya.

Meskipun saya akui, pada tempat dan waktu itu ada rasa senang, namun juga ada kesedihan terselip diantaranya. Di tempat yang terasing, seperti puncak Lawu dan lembah-lembahnya, saya merasa benar-benar kecil tak berarti dibandingkan Yang Meninggikan gunung ini. Ada kedekatan jiwa dan getar yang mengharu ketika saya merasa dipisahkan dengan hal-hal yang saya tinggalkan.

Yang terus terngiang dalam kepala saya, mungkinkah akan seperti ini terus adanya? Siapa yang akan menenangkan segala gejolak ini? Saya membayangkan ketika saya meninggalkan segalanya kelak, saya lebih menikmati ketika sudah tidak ada beban yang tertinggal, dan terpenuhinya semua janji. Aneh. Justru ketika saya ada pada puncak tertinggi, saya sangat merindukan tempat di bawah. Ataukah justru karena memang saya orang yang selalu merasa terasing dari semua?! Semoga tidak.

Saya sempat untuk bermunajat ketika badan saya menantang dingin pada malam terakhir di Lawu. Hari sebelumnya saya memang dikalahkan hawa dingin, hingga tidak dapat tidur. Dan pada munajat itu saya teringat dengan kehidupan zaman Rasul Muhammad di gurun pasir. Padanya siang akan membakar, dan malam akan membekukan. Saya merasa kalah dnegan kehidupan mereka orang-orang terpilih. Saya merasa sangat kecil dan kotor kalau mengeluh kalah dari dingin yang serasa menusuk tulang-tulang.

Dan tibalah ketika kami pulang. Selalu saja ada lagu yang seolah menjadi lagu wajib ketika hendak kembali. Dulu, ketika saya kunjungan ke Kudus, lagu itu juga saya nyanyikan sepanjang perjalanan. Kalau tidak salah judulnya “Tunggu Aku Kembali” dari Naff: Akan kutuangkan rindu/ selepas ku kembali/ kepada kekasih hati// akan kuungkapkan rasa/ petikan bunga-bunga/ yang lama tersimpan/ disaat ku jauh// Tunggu aku kembali/ dimana, ku tau kau selalu setia/ Pasti ku kan kembali/ disana, dimana cintamu menanti//

Dalam hati ketika menyanyikannya, saya akan tetap menyanyikannya ketika suatu saat nanti ada seseorang yang tengah menanti saya di rumah. Tapi itu masih nanti. Bukan sekarang, tapi biarlah itu saya nyanyikan untuk sesuatu yang saya rindukan tapi tak mengerti apa.

Biarkan aku bersenandung lirih/ mengusap gundah/ membasuh perasaan// Lalu taburkan kemesraan/ selayaknya pertama datang/ dan tabir terbuka// Biarkan aku merangkai kata/ menyusun kisah/ menerang hati// Kemudian telusuri baitnya/ selayaknya akan lama perjalanan/ di waktu datang janji/ untuk kemudian hari//

Saya selalu ingat janji yang saya ucapkan. Dan saya ingin menepatinya.

Agus Raharjo
28 Juli 2009

Minggu, 24 Mei 2009

Gerimis di Wajahku

Jika nanti kau merindukan aku
Kutitipkan kenangan pada wajah hujan
Karena aku tahu, hujan mengingatkanmu padaku

Jika nanti kau tak kuasa menahan tangis
Kuikutkan airmatamu pada derai hujan
Disanalah kerinduan kita bertemu

Jika nanti kau merasa jauh dariku,
Mendekatlah pada belai hujan
Dengannya, kutarik kau menari bersamaku

Jika nanti kau lelah menungguku
Bicaralah pada hujan
Darinya, kutahu aku harus datang
Dan kebahagiaan,
Menjelma rintik gerimis di wajahku.


"sebuah persembahan"
(AR, 19 Mei 2009)

Senin, 04 Mei 2009

Monolog: Sayap, Luka, dan Ajakan ke Atas.

Aku adalah burung, yang kehilangan satu sayap. Ah… aku bahkan tidak pernah merasa pasti, apakah sayap itu memang melekat. Yang kurasakan selama ini, aku serasa terbang. Aku telah terbang pada banyak tempat, banyak sekali. Dan semuanya seolah mendewasakan aku. Pada impian, dan cita-cita. Aku pernah singgah pada puncaknya yang tertinggi. Saat itu, aku bahkan tidak takut jatuh. Aku merasa sayapku lengkap. Meskipun hanya sekadar bayangannya saja. Tapi aku merasa kedua sayapku dapat mengepak, seutuhnya. Saling melengkapi.

Tiba-tiba aku merasa kesepian. Satu sayap itu telah terbang sendirian. Dan satu lagi masih melekat. Selama aku masih bernafas, yang melekat ini akan selalu ada. Itulah diriku. Dan yang terbang, menghilang itu? Entahlah…mungkin itu hanya bayangan dari sebuah pantulan cahaya yang paling suci.

Dan betapa dahsyat bayangan itu. Hingga mampu membuatku mampu mengitari tempat-tempat yang paling tinggi sekalipun. Sedangkan, aku adalah burung yang terbuang dari kawanan, sendirian. Bagaimaan aku dapat terbang lagi ketika sayapku tak lengkap? Aku hanya sendirian dan punya satu sayap saja. Kalau aku bergabung dengan kawanan, aku akan terasing. Aku bukanlah jenis seperti mereka. Mereka yang selalu dipuja karena dapat mengicaukan lagu suci pada rumah-rumah yang banyak disinggahi malaikat. Dan aku adalah burung yang tahu diri. Buluku yang tak indah, suaraku yang melengking, adalah aib bagi kawanan burung indah itu. Aku terlalu sadar untuk tidak membuat mereka tidak dipuja. Biarlah mereka tetap pada kawanannya. Yang saling mengepakkan sayap, saling menopang dengan yang lain, berkicau bersama dan saling bersahutan. Biarlah aku sendirian, sama seperti dulu, ketika aku keluar dari cangkang telurku. Dan kudapati sayapku hanya satu. Kerena ketika itu, aku adalah burung yang tidak terbang. Hanya berjalan, berjalan, dan berjalan. Mungkin sesaat, kadang aku juga perlu untuk berlari. Tapi tidak pernah terbang, tidak pernah.

Seharusnya aku tahu, bahwa ketika sayap itu tiba-tiba ada, menawarkan dirinya untuk membawaku terbang, aku sekuat tenaga menolaknya. Karena aku tahu, ketika aku terbang, rasa sakit terjatuh lebih menyakitkan daripada ketika dulu aku berjalan dan berlari.

Tapi sayap itu terlalu nyaman. Dan sayapku terlanjur kesepian. Katanya dia butuh teman agar merasa sempurna. Dan sayap itu terlalu sempurna. Padahal aku juga telah menasehatinya, bahwa tidak perlu sayap yang bagus untuknya. Yang penting sayap yang selalu setia dan nyaman saja. Bukan sayap dari pantulan cahaya suci. Tapi aku juga tak mampu menahannya. Dia terlalu terbuai pada sayap itu. Katanya sayap itu datang diiringi sebuah lagu. Lagu yang selama ini aku dnegar, tapi tak tahu lagu apakah itu. Yang kulihat pada lagu itu, adalah gambaran seorang bidadari. Ah… apakah bidadari juga punya sayap. Karena yang aku tahu, mereka ada di atas. Sebenar-benarnya aku ingin melihat mereka, mengagumi keindahannya. Tapi bagaimana aku dapat terbang ke atas kalau sayapku hanya satu? Tidak lengkap.

Barangkali, sayap yang telah hilang, telah menemukan sayap keduanya pada kawanan burung yang bersama-sama hijrah itu. Dan barangkali juga, hijrah mereka adalah ke atas. Bukankah bayangan akan terpantul menjauh dari cahaya? Sedangkan cahaya ada di atas, dan aku ada di bawah. Jadi memang benar, sayap itu sebenarnya juga ada di atas. Dan menuju ke atas, menjauh dariku. Hanya bayangannya saja yang menyertaiku. Karena sesungguhnya, sayap itu juga ada di antara kawanan yang terbang ke atas. Aku masih ada di bawah. Andai saja memang ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku akan turut serta, karena tidak ada yang aku risaukan di bawah. Aku tidak perlu takut untuk meninggalkan siapapun. Karena aku independent.

Hei… bukankah aku burung yang merdeka? Mengapa sekarang aku merasa kehilangan seberat ini? Apakah aku sebenarnya tidak merdeka sama sekali?! Bayangan sayap itukah penjaraku? Tapi sebesar apakah penjara itu hingga aku dapat terbang dan singgah pada tempat-tempat yang jauh dan tinggi? Ataukah hanya yang ada dalam dada ini yang terpenjara? Mungkin memang hanya itu. Organ kecil yang mengatur emosi dan hasrat. Namanya hati. Tapi bukankah aku adalah burung? Mengapa juga dapat merasa punya hati? Bukankah hati hanya dapat dirasakan oleh manusia saja? Manusia yang kebanyakan tolol untuk hati dan pikirannya. Sungguh ketololan luar biasa ketika anugerah itu masih membuat mereka seperti hewan.

Tapi sungguh, aku merasa bebas dalam penjara itu. Dan ketika sayap itu terbang bersama sayap yang lain, penjara itu serasa menyisakan luka. Bahkan aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya. Kalau aku saja tidak tahu, bagaimana yang lain dapat menyembuhkannya? Sedangkan hanya aku yang merasakan luka itu. Lagipula aku tidak punya teman. Siapa yang akan membantu membalut luka itu? Ah…. Luka itu?! Karenanya, sesaat aku menjelma seorang penyair. Aku mampu meresapi luka itu dengan kalimat yang sederhana tapi dalam untukku.. Luka:

Seperti hujan meninggalkan basah
Seperti api menyisakan bara
Dan seperti itulah luka
Sesaat setelah kau meninggalkanku
(AR, April 2009)

Kalau saja Haris Firdaus, penyair muda itu benar, bahwa ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku ingin mengikutinya. Karena luka terlalu perih dan menyakitkan. Mungkin dengan mengikuti ajakan, aku terbebas dari luka yang menyakitkan atau bahkan dari burung yang berharap pada sayap kedua untuk terbang ke atas.

Atau bila aku punya pilihan, aku akan memilih tetap tidur dalam cangkang telurku. Biarlah terlelap sampai mati sebelum lahir. Dengannya aku tidak akan melihat sayap itu, atau merasakan perih terluka karenanya. Tapi pilihan itu telah ada, sebelum aku merasa dilahirkan. Sekarang aku terlanjur lahir.

Dan aku adalah burung yang hanya punya satu sayap. Sedang mencari sayap kedua untuk dapat terbang ke atas. Dalam kesepian, bukan dengan kawanan.


*Judul Cerpen Haris Firdaus.
Ris, adakah ajakan itu?



Klaten, 2 Mei 2009
Agus Raharjo.

NOCTURNO: Malam Hari dan Kesepian

Nocturno, kata yang begitu dekat menjadi metafora dalam menggambarkan sebuah titik rendah dalam religiusitas seorang manusia. Dan tentu saja bagi seorang penyair sekalipun. Kata itu menjadi sangat pas ketika sebuah ketidakberdayaan maupun kesepian berada pada derajat paling puncak pada tingkatannya.

Dalam kesederhanaan kata-katanya namun dapat dirasakan pada bagian terdalam dalam hati manusia, Sapardi Djoko Damono menggambarkan Nokturno sebagai sebuah lagu yang bernada sendu. Penyair kelahiran Solo ini melukiskan sebuah kepasrahan dalam puisinya.

Kepasrahan untuk menyerahkan pada sesuatu yang lebih terang dari pada dirinya sendiri. Seolah dalam keadaan yang patah asa dia berkata pada sesuatu, atau bahkan seseorang, kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Karena dia yakin, ‘yang lain’ itulah yang dapat memberinya kejelasan dalam terang.

Ketidakberdayaan itu semakin terlihat jelas ketika ‘yang lain’, terlihat terlihat bersifat aktif dalam perebutan akan sesuatu itu. Bukan lagi hanya diam menunggu sang penyair menyerah, tapi telah memaksa pada diri sang penyair. Dangan sesuatu yang sebelumnya tidak diduga oleh penyair sendiri.

Hanya isyarat atau tanda yang dapat tersisa dari yang lain itu. Dan sesuatu dari sang penyair telah hilang dari dirinya. Tanpa dia dapat mencegahnya. Bahkan mungkin tanpa dia dapat mengira sebelumnya. Sebuah laku yang putus asa. Putus asa itulah yang membuat kita membuat laku yang tanpa prediksi. Hanya tindakan yang serampangan, pasrah dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat terjadi di belakangnya. Mungkin itulah gambaran sebuah kepasrahan dan ketidakberdayaan. Kalah dari ‘yang lain’, seperti kalimat selanjutnya: Kubiarkan angin yang pucat/ Dan tak habis-habisnya/ gelisah/ Tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu/

Dan nyata sekali bahwa ketidakberdayaan itu mewujud dalam kalimat terakhir, yang secara bijaksana mengisyaratkan asa pada titik paling rendah. Yaitu ketidaktahuan dengan mengajukan pertanyaan yang semestinya dia sendiri yang dapat menjawabnya: Entah kapan kau bisa kutangkap…

Pertanyaan itu diucapkan bukan pada ‘yang hilang’. Justru pada dirinya sendiri. Sikap pesimis telah membuatnya bingung bahkan untuk menjawab pertanyaan yang hanya dia sendiri yang dapat menjawabnya.

Saya, ketika membaca puisi itu, dan dengan mengingat kata-kata Nokturno, membayangkan bahwa yang hilang dari diri sang penyair adalah seseorang. Bisa jadi, yang mempengaruhi saya berpikiran demikian adalah sebuah sinetron remaja yang dulu, sewaktu saya masih SMP pernah mengenalkan saya tentang kata Nokturno untuk pertama kali.

Pada moment yang saya ingat, Nokturno adalah sebuah metafor untuk sebuah kesendirian. Meskipun ketika saya melihat kata itu dalam sebuah kamus, saya mendapati arti sebuah lagu malam hari. Malam hari, bagi saya menjelma menjadi sebuah kesunyian, dan ketakutan akan mengingat sesuatu. Di sanalah kita akan bertemu dengan mimpi-mimpi. Dan disana pulalah kesunyian selalu lekat pada diri kita. Seperti juga gambaran Nocturno-nya Chairil Anwar: Aku menyeru--tapi tidak satu suara/ Membalas, hanya mati di beku udara.

Ada rasa membutuhkan yang sangat besar ketika kita terbangun pada moment-moment malam hari. Dalam kesendirian itu, kita menjadi seorang tak berdaya tanpa ‘yang lain’. Segala semangat juga keinginan, tak beranjak dari tempatnya. Hanya menjadi keinginan dan semangat yang tersimpan dalam diri kita saja. Yang semakin bergejolak dan membuat rasa nyeri dalam jiwa kita. Seolah kita tengah merindukan sesuatu tapi tak pernah sampai juga sesuatu itu pada kita.

Chairil Anwar, penyair yang disebut-sebut pelopor lewat puisi-puisinya, pada bait selanjutnya juga mengurai kedalaman rasa seperti itu dengan kata-katanya: Dalam diriku terbujur keinginan/ Juga tidak bernyawa// Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/ Patah kapak, sia-sia berdaya/ Dalam cekikan hatiku

Di dalam benak saya, bercermin dari pandangan religius, ketika ada anggapan bahwa kita akan lebih dekat dengan Yang Esa, ketika kita bermunajat pada sepertiga malam, adalah sesuatu yang sangat benar. Ketika pada malam hati, kesunyian yang teramat sangat menggelayuti, juga kegundahan luar biasa menerpa, pada momentum itulah kita serasa dapat menerima sesuatu lebih lapang. Karena saat-saat itu kita berada dalam sebuah kerinduan yang memuncak. Karena bias jadi apa yang kita rindukan adalah sesuatu yang sifatnya abstrak.

Saya tidak akan heran, ketika ada seseorang yang dalam waktu-waktu seperti itu dapat meneteskan airmata ketika bermunajat. Bahkan, tanpa bermunajat sekalipun kegundahan dan kerinduan itu dapat memberatkan air yang selalu tersimpan dalam mata kita. Dan tanpa kita sadari, mengalir membasahi kedua pipi kita.

Ketika kita berbicara tentang kesepian, mungkin Nocturno adalah yang paling tepat sebagai metafornya. Nocturno yang berbicara tentang malam, juga tentang kesunyian itu sendiri. Bukan hanya Sapardi dan Chairil yang dapat merasakan romantisme malam hari, tapi dalam sisi religius seseorang, kita bahkan perlu untuk menyelami kesunyian itu, agar kita lebih dekat dengan Yang Esa.


29 April 2009
Agus Raharjo

Sabtu, 31 Januari 2009

Misalkan Bukan hanya "Hujan Bulan Juni"

Hari-hari kemarin, dan sampai hari inipun, langit masih membelai mesra pada awan. Alhasil, awan tak henti-hentinya menitikkah hujan, yang bagiku sungguh indah. Seolah, hujan tidak ingin berbagi senja dengan kita. Senja yang jingga selalu dia sembunyikan dalam warna kelabu mendung.

Ketika hari-hari selalu saja hujan seperti itu. Saya teringat mengapa saya selalu suka hujan. Alasan yang membuat saya justru merasa senang ketika rintik-rintik air meluncur dari mendung yang seakan murung. Dan semua alasan itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. sejak dahulu, ketika saya masih melihat dunia yang sempit. Saya tersadar, hujan dapat menemai saya dalam meresapi hidup.

Ketika hujan turun, dahulu, saya selalu dibuat tertawa senang karenanya. Betapa tidak? Saya yang masih kecil merasa dapat menikmati belaian langit pada kulit saya. Meskipun nantinya saya dapat marah dari ayah. Saya selalu riang menyambut hujan yang mempesona. Merasa selalu ingin berbagi keriangan dengannya. Memang pada akhirnya saya dimarahi habis-habisan oleh Ayah, dan harus mencuci pakaian yang saya kenakan untuk menjemput hujan.

Namun, seiring usia yang selalu bertambah, saya merasa hujanh menemani dalam hal yang berbeda. Saya ingat, ketika masa-masa saya mengalami goncangan, entah mengapa—mungkin suatu kebetulan—hujan maupun mendungnya selalu dekat dengan saya. saat itu saya merasa yang dapat merasakan kesedihan yang saya alami hanyalah hujan. Saya ingat terus, dan bahkan pernah menjadi pertanda, bahwa setiap saya sedih atau sebaliknya, setiap hujan akan membelai mesra, keadaan saya tergoncang. Yang ada adalah murung. Saya seolah dapat berbicara dengan hujan, dengan kesedihan. Diapun menyambut dengan belaiannya.

Pengalaman hujan yang menjadi sebuah alasan, mengapa sampai sekarang saya ingin bersentuhan dengan hujan, hingga sekarang masih menggelayuti dalam diri saya. Namun, tidak semesra dahulu, saya terlalu malu untuk mengakui bahwa saya sungguh sangat suka hujan.

Dan sekarang, ketika pengalaman tentang hujan membuat saya merasa miris—kesenangan saya, menjadi kesedihan orang lain—saya tak dapat lagi merasai pengalaman batin itu. Saya terlalu naïf untuk mengakui bahwa hujan selalu memberi sebuah perenungan. Oleh sebab bahwa hujan menimbulkan tangis bagi orang lain. Seperti sebuah tempat yang sakarang saya singgahi, Solo. Hujan telah meluluhlantakan kepasrahan hingga berserakan dibalai pengungsian.Seperti setahun lalu, saya ikut dalam sebuah aksi relawan untuk korban banjir, di Kampung Sewu.

Ketika hujan belakangan ini kembali tidak mau berbagi senja dengan kita, saya merasa hujan telah membuat saya takut. Terlintas sebuah pertanyaan pada diri saya, apakah yang membuat hujan menjadi begitu sedih hingga terlampau ingin mencari tempat berbagi kesdihan itu? Apakah kita talah membuat kesalahan yang tidak termaafkan hingga hujan juga ingin menunjukkan bahwa dia juga dapat bersikap egois. Saya merasa malu sebagai manusia jika memang telah membuat hujan menjadi sedih. Mungkin memang kita telah berbuat banyak salah hingga menyakiti kekasih hujan, bumi.

Meresapi hujan, ada harapan agar hujan kembali seperti dahulu. Ketika saya merasa bahwa dialah teman yang selalu ada bersama saya menikmati sebuah pengalaman. Dan, hujan menjadi lebih menentramkan. Andai Sapardi Djoko Damono menulis hujan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Ingin rasanya saya merayu hujan dengan puisinya. Akan kulantunkan kata-kata itu hingga dia kembali dapat menemani saya menikmati laku hidup di dunia. Akan kubisikkan padanya:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)


Mungkin dengan begitu hujan akan kembali berbagi senja dengan kita. Hingga tak ada lagi kesedihan, juga penyesalan atas apa yang telah kita perbuat padanya. Misalkan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Saya masih akan merasakan pengalaman bersama-sama hujan yang telah membuat saya bagaiaman belajar melalui sebuah perenungan.

Solo, 31 januari 2009
Agus Raharjo

Rabu, 08 Oktober 2008

hari ini hari hujan

Hari ini hari hujan.
masih saja kau memeluk angin
walaupun juga yang tersentuh adalah dingin
dan tak pernah dapat kau genggam dengan erat

Hari ini hari hujan,
sedih yang terasa jadi semakin pilu
airmata tak lagi terasa
karena gerimis meniadakan
air yang menetes di pipimu

mungkin kau kira kita tak pernah dapat jawaban,
mengapa hari ini hari hujan

aku selalu memperingatkan,
jangan kau sesali kesedihanmu
aku tahu hari ini akan terjadi
ketika koyak merangkai tangis
pendar nyala mata-mata penuh pasrah
yang berdiri disamping
sebuah nisan dari pejuang yang mati

aku tahu hari ini hari hujan
ketika kesedihan terkumpul,
dan mengalir air dari rahasia langit


Solo, 22 Juli 2008
Aryo Aswati

Minggu, 14 September 2008

hujan kepadaku

hujan memberiku nama
ketika dia datang, dan kau memanggilku
hujan memberiku kesempatan
saat dia jatuh,
dan kau membutuhkan.

Solo, September 2008
Aryo Aswati