Ketika membaca “Dari Penjara ke Penjara”nya Tan Malaka, saya mendapat sebuah kesimpulan bahwa kisah terkadang patut untuk ditulis. Secara jujur, dan terang. Dan selama ini, kisah—sebagian orang menyebutnya “curahan hati”—bagi saya adalah sesuatu yang bersembunyi dibalik bayangan hidup yang paling pribadi. Dan selama ini kisah yang jujur hanya saya tulis untuk saya simpan sendiri pada sebuah buku warna biru yang saya beli sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Solo. Harapan saya semua dapat tertulis pada lembar-lembar kertas yang hanya saya yang membacanya. Walaupun terkadang, beberapa memang saya tulis untuk dapat dibaca orang lain. Meskipun dengan menyembunyikan maksud sesungguhnya. Saya masih berpendapat bahwa kisah hidup, bagi saya adalah sesuatu yang tabu untuk dikatakan dnegan jelas.
“Dari Penjara ke Penjara”, adalah sebuah kisah hidup yang ditulis dengan jujur oleh Tan Malaka. Meskipun tidak bisa lepas dari perspektif penulisnya sendiri tentang banyak hal. Dan dari dua jilid buku tersebut( jilid tiga belum saya baca), saya menemukan sebuah kisah yang secara jujur dapat menggetarkan. Kisah tentang sebuah perjuangan. Semuanya tentang pengalaman seorang tokoh Komunis sejati( dalam pandangan politiknya), berhadapan dengan ideologi imperialis. Dan selalu melawan bahkan dengan pribadinya. Ketika dulu saya takut mengenal kata komunis, tentu saja dengan pandangan miring yang menyertainya. Saya jadi merasa, saya telah masuk dalam jebakan kaum imperialis yang merupakan musush utama komunis. Dan saya selalu mendapati bahwa komunis adalah ateis (tak bertuhan), sedangkan yang saya dapati adalah Tan Malaka adalah seorang muslim dari orang tua yang taat beragama.
Mungkinkah dulu saya mengalami penyesatan yang luar biasa, hingga saya memaklumi semua pandangan miring tentang komunis itu? Membaca, buku-buku Tan Malaka, saya malah mendapati seorang sosok Nasionalis sejati. Semua hidupnya adalah untuk Republik Indonesia. dan pada seluruh umurnya adalah perjuangan. Mungkin Tan Malaka telah lupa bagaimana belajar untuk menikmati hasil dari perjuangannya, hingga dia hilang dari muka bumi ini.
Atau bisa jadi, perjuangan itulah yang memang lebih dia nikmati. Bukan hasilnya. Dan sebagai penghibur dari segala perjuangannya, dia lebih dapat menikmati sifat lugu rakyat jelata yang dapat mendorongnya untuk terus berjuang. Seperti yang dia katakan, ketika tinggal pada sebuah perkampungan di Kali Bata tentang para tetangganya.
Sifat rakyat jelata kita, selalu menghibur diri saya dan saya anggap satu sifat yang baik yang memberi penghargaan buat hari depan. Tahu berterima kasih dan menghargai anggota bangsa atau kaum yang berusaha membelabangsa atau kaum itu, adalah sifat pertama dan terutamauntuk menjadi bangsa yang merdeka dan terhormat! Dari kalimat yang dia tulis, Tan Malaka sepertinya memang dapat terhibur dengan sifat rakyat jelata, yaitu rakyat kecil dengan segala keluguannya dan kebaikannya. Tentu saja masih dalam kaitannya adalah untuk berjuang, dan masa depan bangsa yang lebih baik lagi. Kalimat itu juga dapat ditafsirkan sebagai sebuah analisa seorang Tan Malaka untuk menjadikan sebuah bangsa yang terhormat.
Bukan kekayaan, bukan wanita, dan juga bukan kekuasann! Bukankah tiga hal itu yang senantiasa membuat lemah seorang laki-laki? Tapi justru ketiganya tidak kita temui dalam diri Tan Malaka. Kekayaan adalah bagaimana dia dapat sekadarnya bertahan hidup dalam berjuang. Wanita? Bahkan sampai maut menjemputnya, Tan Malaka tidak pernah menyebut seorang wanita yang mendampinginya. Sekali saja dia mengatakan bahwa ketika dia menjadi pelarian di Tiongkok, dia pernah dekat dekat dnegan wanita, tapi segera dapat dia alihkan karena sungguh berbahaya untuk keberadaan diri dan perjuangannya. Dan kekuasaan? Tan Malaka adalah sosok yang sebagian hidupnya adalah “menikmati” masa pembuangan. Selama kurang lebih 20 tahun dia diusir dari tanah air. Dan setelah kembali, ettap saja dia merasa mengasingkan diri hingga Indonesia merdeka. Dan setelah merdeka? Dia tetap menjadi seorang yang berjuang atas kebijakan pemerintah yang masih dia anggap membantu kaum penjajah, dan menyengsarakan rakyat.
Kisah yang seharusnya diketahui oleh kita, anak-anak negeri yang masih punya rasa nasionalisme. Bukan mengincar kekuasaan dan harta. Dan kisah seperti itu adalah sesuatu yang memang perlu untuk diceritakan dengan jelas dan terang. Justru tidak dibutuhkan kalimat-kalimat yang rumit untuk menceritakannya. Seperti juga saya pernah baca sebuah buku tentang pengalaman seorang gadis kecil Yahudi di tengah-tengah krisis Negara Jerman. Anne Frank, gadis itu dengan keluguannya menulis kisah hidupnya pada Diary. Lewat buku itu kita dapat ikut “menikmati” bagaimana hidup dalam persembunyian ditengah-tengah kemelut pembuangan dan pembantaian Jerman atas Yahudi.
***
Kisah hidup, dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain. Saya sendiri, adalah tipikal orang yang sulit untuk dinasehati, terlebih ketika nasehat itu keluar dari acara-acara training. Justru malah saya ingin tertawa sinis ketika mendengarnya. Karena bukan kata-katanya yang berbusa-busa itu yang dapat membangkitkan kesadaran saya. Akan tetapi justru dengan kisah hidup sesorang. Sampai berbusa-busa sekalipun, seorang trainer atau motivator bagi saya adalah bahan tertawaan. Terlebih ketika itu disampaikan di depan banyak orang. Mungkin, seorang psikolog lebih akan saya hargai. Karena dia berinteraksi secara pribadi dengan pasiennya. Jikalau saya harus menunjukkan siapa motivator terbaik saya di dunia, saya akan menunjuk salah seorang saudara saya. dengan satu kalimat positif saja, dapat menggerakkan semangat saya pada level tertinggi. Bukan karena kedalaman kata-katanya, tapi karena aku tahu kisah hidupnya. Dan sampoai sekarangpun saya masih kalah jauh padanya. Bukan karena dia saudara, tapi karena pengalaman dan kisah hidupnya yang saya tahu benar seperti apa.
Semua yang dialamai oleh orang lain adalah pelajaran dan perenungan bagi saya. Dari dulu saya suka mencermati orang lain. Mungkin saja itu yang membuat saya dapat langsung mengetahjui bagaimana karekter yang melekat pada diri seseorang. Tapi memang aneh, saya tidak dapat menjelaskan karakter-karakter itu. Saya hanya bisa merasakannya saja.
Begitu juga dengan urusan yang paling sensitif bagi laki-laki dan perempuan. Cinta. Selama ini saya tidak pernah mengalami apa itu pacaran, tapi saya heran, mengapa kebanyakan teman saya suka datang dan berkonsultasi pada saya? Aneh bukan? Saya saja heran. Dari sejak SMP, saya selalu jadi “rujukan” untuk konsultasi terkait satu kata yang rumit maknanya itu. Bisa jadi saya adalah seorang penghubung dari pengalaman orang yang lebih dulu pernah merasakannya untuk disalurkan pada orang yang sedang belajar paham. Atau mungkin karena saya adalah pendengar yang baik. Tapi memang semua kisah yang saya dengar akan saya renungkan dan pelajari.
Suatu kali saya pernah mengobrol dengan teman saya yang mau nikah saat makan malam bersama. Dia menasehati saya tentang cinta (dia bisa bicara karena sebentar lagi nikah), kra-kira begini: “ Jangan pernah kau tanyakan kepadanya mengapa dia mencintaimu!” Hanya itu!
Tapi dalam perenungan saya, kalimat itu memang sungguh-sungguh bermakna. Setelah saya pelajari dan renungkan, saya mendapati sebuah kesimpulan bahwa pertanyaan itu adalah sebuah ungkapan yang akan menimbulkan keraguan pada orang yang ditanya. Dan memang sangat berbahaya sekali ketika itu dikatakan pada orang yang telah saling merasakan itu. Bisa jadi dia akan ragu pada dirinya sendiri, atau justru dia akan mengira kita tidak percaya dnegannya. Semua itu adalah hal yang dapat melemahkan hubungan. Jadi, saran saya pada orang-orang yang telah menemukan “sayap kedua”nya, jangan pernah menanyakan hal itu.
Begitulah, sepertinya kadang kita perlu untuk mempelajari kisah-kisah orang lain. Agar kita sendiri lebih kuat daripada orang lain tersebut, dan yang paling penting kita lebih bisa siap menghadapi sesuatu. Apapun itu! Bukan hanya pada sekadar curahan hati, tapi sebuah perjalanan.
Tan Malaka, saya kira dia belum menemukan titik akhir dari perjalanannya hingga malaikat maut menjemputnya. Saya merasa, saya ingin menjadi seperti dia, tidak takluk pada harta, kekuasaan dan wanita. Entahlah, mungkin saya terlalu takut untuk merasa kehilangan pada ketiganya sebagai manusia. Serasa dibelenggu. Terlebih ketika perihal tersebut telah dekat dengan saya. Saya sendiri juga tidak mengerti, sampai kapan saya bisa seperti seorang Tan Malaka. Saya ingin kembali menjadi seperti dulu, tidak tergantung pada apapun. Setelah semua yang aku saya alami, saya ingin itu terjadi. Bisa jadi dengan sikap dingin itulah yang akan membekukan hati saya pada ketiganya. Dan saya hanya ingin berjuang, agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Dengan atau tanpa apa dan siapapun!
Solo, 8 Mei 2009
Agus Raharjo