Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Surat untuk Cinta #9 (Kangen Cinta)



Menjelang pagi...
Harus aku mulai darimana...
Baiklah, begini saja. Aku mulai dari melihat foto-foto bunga angsana kuning. Kau tahu itu mengingatkan kita dengan apa?

Aku tahu kau pasti akan menjawab cepat-cepat. Yes, itu adalah pohon yang ada di kampus kita. Sudah berapa tahun kita tak menengok kesana lagi?

Aku pikir, sekarang memang sedang musim semi. Setidaknya bagi bunga yang memberi banyak kenangan pada tempat yang mempertemukan kita. Angsana. Dulu aku tak sempat memikirkan namanya. Hanya warnanya. Kuning, dan hampir menyelimuti jalan-jalan di kampus. Kita memang beda fakultas, tetapi bertetangga.

Aku lebih beruntung karena bisa sering menikmati hutan. Tempat dimana pohon-pohon angsana menemukan rumahnya. Mungkin sama sepertiku. Telah menemukan rumah. Itu kamu, ada di kamu, Cinta.

Sebuah tempat berkumpulnya mimpi-mimpi. Melepas lelah, mendulang peluh, menikmati pagi dengan secangkir madu hangat. Mulai membiasakan makan sambal terasi. Hingga sudah mulai bosan mengunyah bandeng presto. Itulah rumah.

Ada waktu berkumpul, ada saatnya berangkat kerja. Bercengkerama dengan anak-anak. Menemani mereka belajar. Mendiskusikan sesuatu denganmu saat anak-anak sudah tidur. Kecupan selamat malam. Itulah rumah.

Ia sebuah ruang dan waktu untuk kembali, pulang...

Dulu, kau pernah bertanya. Pernahkah aku rindu? Sejujurnya, aku lebih rindu anak-anak, jawabku. Dan itu memang benar. Seolah memang anak-anak menjadi penawar baru bagi kita. Coba saja sehari dua hari tidak bersama mereka. Kalau aku bertanya, apakah kau rindu aku, itu sebuah pertanyaan retoris. Kau akan jawab, lebih rindu anak-anak. Itulah kita, Cinta.

Keberadaan mereka tak merenggutmu darimu, atau sebaliknya. Mereka menyatukan. Mereka rumah-rumah yang mungil. Mereka melengkapimu menjadi rumah paling nyaman untuk pulang.

Kau pasti bertanya, kapan aku bisa rindu lagi. Mungkin saat aku menulis surat inilah waktu yang paling pas. Aku kangen, Cinta. Sudah berapa purnama, aku lupa. Beruntungnya aku, memilikimu. Syukuri, dan terus memuji.

Ini hanya surat ringkas, bukan pungkas. Rindu, tak disangka-sangka. Ia ada, memang seharusnya ada. Entah dimana selama ini. Aku memang tak menemukanmu seperti yang pernah kulihat sepuluh tahun lalu. Tapi itulah kita, terus bergerak. Memang harus bergerak, bahkan kalaupun harus merangkak. Ingatkah dengan cerita tentang cicak dan nyamuk. Mereka juga bergerak.

Apapun itu, aku rindu. Setidaknya saat ini, sampai hari sudah semanis senja bagi malam. Aku belum bisa memejamkan mata. Sudah cukup surat ini, Cinta. Aku hanya ingin mengatakan. Aku kangen, Cinta. Itu saja.

Jakarta, 15 Desember 2018

*foto dari https://www.idntimes.com/life/education/jcnd/hal-hal-ini-akan-kamu-rasakan-ketika-menjadi-alumni-kampus-kentingan-uns-c1c2/full

Senin, 03 April 2017

Menanti Surat-Surat Tan Malaka dari Moskow

Tan Malaka sudah lama tak ada. Konon ia gugur dieksekusi di suatu tempat di Kediri, Jawa Timur. Makamnya pun baru ditemukan beberapa tahun belakangan. Baru-baru ini, upacara adat dilakukan untuk memulangkan Tan Malaka ke tanah kelahirannyam Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sebuah makam yang sudah diidentifikasi sebagai makam Tan Malaka ditemukan di Desa Selopanggung, Kediri. Ia memang telah lama gugur, namun, namanya terus menggema sebagai Bapak Republik Indonesia. Sebab, dialah sosok yang pertama kali mengenalkan Republik Indonesia, jauh sebelum Soekarno maupun Mohammad Hatta mengucapkan Republik Indonesia.

Peneliti Tan Malaka dari Belanda, Harry A. Poeze menuturkan, masih ada jejak-jejak autentik dari Tan Malaka. Jejak itu ada pada puluhan surat yang saat ini berada di Moskow, Rusia. Wajar kalau Tan Malaka menulis surat yang ditujukan ke Moskow. Saat aktif sebagai anggota PKI, Tan Malaka merupakan tokoh penting PKI di Indonesia. Dia menjadi perwakilan Indonesia dalam konferensi Partai Komunis dunia di Moskow.

Dalam posisinya, Tan Malaka punya tugas untuk selalu memberi laporan pada Komitern Partai Komunis di Moskow. Surat-surat itulah yang menjadi laporan Tan Malaka pada Komitern Partai Komunis. “Ada puluhan surat Tan Malaka dimana dia melaporkan untuk mewujudkan tugas Komitern Partai Komunis,” tutur Poeze dalam sebuah kesempatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Surat-surat itu hingga kini masih tersimpan rapi di pemerintahan Rusia. Tepatnya di Moskow, dimana kota itu menjadi pusat kegiatan Partai Komunis dunia saat itu. “Surat-surat itu asli dan ditandatangani dengan tulisan tangan,” ungkap Poeze.

Surat yang ditulis tangan oleh Tan Malaka ini menggunakan berbagai bahasa. Selain bahwa Inggris, juga menggunakan bahasa Melayu maupun Mandarin. Bahasa, bagi Tan Malaka bukan masalah. Sebelum melakoni hidup dalam kejaran polisi rahasia Hindia Belanda, Amerika, dan Jepang, dia sudah menguasai berbagai bahasa. Masa 20 tahun dalam pelarian di berbagai negara semakin mematangkannya dalam berkomunikasi dengan siapapun.

Kini, surat-surat itu siap untuk diterbitkan. Poeze berharap dapat segera menyelesaikan proyek besar untuk meneliti surat-surat Tan Malaka. Setelah merampungkan proyek mengenal karakter Tan Malaka dan membaginya dalam 14 karakter utama, Poeze berniat menuntaskan penelitiannya pada surat-surat Tan Malaka.

“Saya harap, saya masih punya waktu untuk meneliti surat-surat itu,” kata dia.

Tan Malaka tak bernasib mujur seperti mereka yang menikmati kekuasaan pasca kemerdekaan. Sosok yang pertama mengenalkan Republik Indonesia ini harus meregang nyawa di tangan negara yang selama hidupnya ia perjuangkan. Nasib Tan Malaka memang tak sejalan dengan ide dan gagasannya tentang Indonesia. Sebagian besar ide dan gagasannya berhasil ia tuangkan dalam bentuk buku. Surat yang ditujukannya ke Moskow menjadi bahan baru mengenal ide dan pemikiran tokoh yang disebut Poeze sebagai pemikir Islam.

“Dalam pemikiran Barat, Tan Malaka disebut sebagai orang Islam tulen dan harus ditafsirkan sebagai pemikir Islam,” kata Poeze saat membedah pemikiran Tan Malaka.

Menurut Poeze, Tan Malaka menegaskan pentingnya Islam di Indonesia. Dia juga menjadi sosok yang berani mengutarakan ide bahwa Islam mewakili salah satu pemikiran revolusi dan harus didukung saat konferensi Partai Komunis di Moskow.

#tulisan ini pernah dipublikasikan di Republika => http://www.republika.co.id/berita/selarung/breaking-history/17/04/03/ontx5j361-menanti-suratsurat-tan-malaka-dari-moskow

Senin, 28 Februari 2011

Maaf, dan Selamat Jalan!

Pada suatu waktu, rumah saya kedatangan ‘keluarga’ baru. Dua ekor. Satu warnanya hitam dengan sedikit corak coklat, dan satu lagi warna putih dengan totol warna hitam. Sosok itu tak lain adalah dua ekor anjing. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata keluarga bukan tanpa sebab. Saya ingin memberi tekanan pada kata itu. Alasannya adalah waktu itu, saya terpaksa menerima kehadiran dua anggota keluarga baru itu.

Saya memang terpaksa menerima kedatangan dua anggota keluarga baru itu, dengan beberapa alasan. Yang pertama, jelas, saya sebagai seorang muslim menghindari berinteraksi dengan anjing, karena air liur dari anjing yang dapat menyebabkan najis. Karena sepengetahuan saya, air liur anjing mengandung bakteri yang berbahaya bagi manusia. Meskipun itu hanya alasan logis yang belum dapat saya terima sepenuhnya, karena kita juga tidak mengharamkan air liur Komodo yang nyata-nyata banyak sekali kandungan bakterinya. Akan tetapi alasan keyakinanlah yang lebih besar.

Alasan kedua adalah, saya meragukan nasib dua anjing yang datang kerumah itu. Akan seperti apa nantinya mereka kedepannya. Dan catatan saya ini, adalah arah dari nasib kedua keluarga baru tersebut. Kisahnya seperti ini:

Dari kedua anjing itu, sebut saja yang jantan namanya Kampret, dan betina saya panggil Pini. Pini telah melahirkan anak kecil-kecil yang lucu-lucu. dari 4 anaknya, 2 diminta oleh saudara, jadi hanya tinggal 2 di rumah. Yang satu warnanya seperti Kampret, dan yang satu seperti Pini. Dari dua anak anjing ini, yang mirip Pini waktu kecil menderita lumpuh. Dia tidak bisa lari-lari seperti saudaranya. Saya merasa iba padanya, maka ketika saya dirumah, saya yang biasa memberi makan dan menemaninya. Hal itu terjadi sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari lagi.

Ketika dia bisa berlari-lari, saudaranya yang mirip dengan Kampret telah pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Maka kami menyebutnya ‘hilang’. Alhasil, hanya tinggal tiga ekor. Beberapa waktu setelah anak anjing itu ‘hilang’, ternyata Kampret juga dinyatakan hilang, karena keluar tapi tak pernah kembali pulang. Pada akhirnya tinggalah dua anjing yang memiliki warna dan kesetiaan yang begitu hebat. Karena dua anjing ini ternyata yang selalu kembali ketika letih keluar.

Pini dan anaknya, saya kira tipe-tipe anjing pemburu. Saya melihat tipikal dari posturnya yang kecil kurus, tapi gesit dan kebiasaan anjing itu yang suka membawa ayam mati ketika pulang dari keluar. Terlebih Pini. Saya tidak heran karena pernah melihat anjing yang tipikalnya sama dengan anjing itu di acara televisi yang digunakan untuk berburu babi hutan.

Entah mengapa kedua anjing ini juga sangat setia, terlebih anaknya Pini, terhadap saya. Bisa jadi dia masih mengingat bahwa yang merawatnya di waktu lumpuh adalah saya. Namun, catatan ini adalah ungkapan maaf yang mungkin tak akan pernah sampai. Saya begitu bodoh dan mungkin lebih hida dari dia. Saya tak akan marah, kalau dikatakan seperti itu. Ketika mengingat kejadian di suatu pagi itupun saya merasa menyesal dan selalu ingin menangis.

Pada pagi itu, ketika saya pulang dari Jakarta, saya mendengar bahwa Pini dan anaknya akan dijual. Sebelumnya saya sempat tidak percaya, akan tetapi hal itu ternyata kabar yang benar-benar terjadi. Pagi itu, datanglah seorang yang bernama Jenal. Laki-laki itu mungkin masih jadi satu-satunya penjual sate anjing di daerah saya. Lalu tawar menawar tentang harga dimulai. Saat itulah, saya benar-benar ingin marah dan ingin memaki orang-orang yang ada dirumah. Ketika saya tanya, kenapa anjingnya mau dijual, alasannya sungguh tidak bijaksana sama sekali. “Karena anjingnya suka menerkam ayam!”

Sungguh, siapa sebenarnya yang tidak bermoral? Anjing yang berkelakuan sesuai naluri atau manusia yang menuntut anjing berkelakuan seperti manusia?! Bagi saya sungguh tidak bijak ketika menuduh seekor anjing ‘cluthak’ ketika menerkam ayam. Karena justru itulah naluri dasarnya sebagai seekor anjing pemakan daging!

Waktu itu, anaknya Pini yang akhirnya disepakati dijual. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih ketika itu, yang saya lakukan sesegera mungkin adalah pergi dari rumah. Saat itu saya piker apa yang dilakukan orang-orang di rumah saya sungguh keterlaluan. Kesetiaan dibayar dengan pengkhianatan. Itulah yang ada dalam kepala saya. Rasanya saya tidak ingin kembali lagi kerumah itu, atau pulang.

Pada saat anaknya Pini—saya sebut Pini kecil—akan ditangkap, orang-orang rumah kesulitan. Pini kecil selalu mendekat ke saya. Lalu ibu saya yang waktu itu juga ingin menangkapnya memerintahkan saya untuk menangkapnya. Saya, yang saat itu menahan air mata, menjawab dengan kata “Rasudi!” yang memang kasar. Tapi, itu adalah ungkapan emosi saya atas apa yang terjadi. Setelah itu saya yang rencananya akan ke Solo siang, saat itu juga berangkat ke Solo. Saya tidak sanggup katika harus melihat apa yang akan terjadi dnegan Pini Kecil. Karena saya membayangkan Pini Kecil akan dibunuh dengan cara yang paling biadab, seperti oaring membunuh anjing pada umumnya untuk dijadikan sate.

Untuk Pini Kecil, maaf saya juga menjadi seorang pengkhianat karena tidak bisa menolongmu. Saya benar-benar menyesal tidak bisa menolongmu. Ketika mengingatmu, saya teringat dengan sebuah cerpen karya Martin Aleida, “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”. Sebuah contoh manusia bisa lebih rakus dan biadab dari seekor anjing. Sama seperti apa yang dikatakan Martin Aleida, “Mati Baik-baik, Kawan!”

Maaf, dan selamat jalan!

27 februari 2011
agus raharjo

Minggu, 23 Mei 2010

Mei: Setangkai bunga Morishcha yang Indah

Pada kisah Mei selanjutnya, saya ingin bercerita tentang sebuah imajinasi yang banal. Kisah ini bisa jadi akan selalu mengingatkan saya dengan bulan yang paling sedikit hurufnya, namun banyak cerita yang lahir di dalamnya. Ini tentang sebuah bunga, yang anggap saja kita mengenalnya seperti kita mengenal anggrek maupun melati—saya lebih menyukai anggrek. Terlebih anggrek putih yang meskipun tergolong murah, namun baunya sangat wangi. Ini kisah tentang setangkai bunga yang bisa kita gambar dalam imajinasi kita. Kisah tentang ‘setangkai bunga Morishcha’.

Setangkai bunga Morishcha, adalah setangkai bunga yang pernah saya dengar baru sekali. Entah nama latin untuk bunga apa atau nama bunga dari bahasa mana, saya tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah merasa kehilangan bunga itu pada bulan Mei, tahun lalu. Nama bunga itu untuk pertama kali saya dengar dari seseorang yang pernah diberitahu oleh seseorang yang dahulu adalah penari.

Kisah perkenalan saya dengan bunga Morishcha adalah sebuah kesengajaan yang tidak disengaja. Jauh sebelum saya mengenal bunga itu, jauh dalam imajinasi saya telah melukis sesosok bunga yang membuat saya merasa terkesan. Bunga itu, saya gambarkan sebagai bunga yang menyimpan misteri dalam keangkuhannya. Aura yang terpancar dari anggun warnanya membuat seseorang yang melihatnya akan tertawan jiwanya. Dari dasar imajinasinya segera menjelma sebuah misteri yang tak terjangkau dalamnya. Dan bunga itulah yang senantiasa membuat saya merasa ikut menjadi seorang yang angkuh.

Dan untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya menemukan sosok bunga itu hanya dalam setangkai bunga Morishcha. Hanya setangkai. Karena memang bunga ini mekar tidak bersama-sama, hanya setangkai saja. Maka, itulah yang menarik. Bunga ini menjadi setangkai bunga yang anggun dan menawan. Keindahannya terletak pada satu tangkainya. Jika bunga ini menguncup pada tangkai yang banyak, maka keindahan itu akan sama saja dengan bunga-bunga yang lain. Maka, inilah bait-bait perpisahanku dengan setangkai bunga itu.

Pada bulan ini satu tahun yang lalu, saya dengan bunga Morishcha juga gambaran keindahannya mengarungi suatu masa ketika pada suatu malam kita kembali ke jaman Majapahit. Saat itu, kita dengan damai memasuki wilayah Majapahit yang tengah terjadi huru-hara. Sampai akhirnya kita bertemu dengan sosok yang penuh karismatik Pangeran Banjaransari—orang yang erat hubungannya dengan lahirnya nama Sukoharjo. Saya, bersama setangkai Morishcha, menjadi saksi betapa dengan gagahnya, pangeran yang berguru pada Sunan Kalijaga ini membantu rakyat alas Taruwongso keluar dari masa paceklik yang telah lama dialaminya. Meskipun hanya kisah yang pendek, namun saya memahami, begitu dekatnya saya, bunga Morishcha, dan Pangeran Banjaransari waktu itu.

Namun, seperti halnya saya kehilangan Pangeran Banjaransari yang hanya dapat saya kenang melalui makamnya di Tamansari, Sukoharjo, sayapun merasa kehilangan bunga Morishcha dan hanya dapat mengenangnya melalui nisan yang tertancap dalam hati saya. Kisah itu begitu singkat, namun penuh liku. Dari sana, ada keberanian, ketakutan, kegelisahan, ketenangan, rasa pasrah, cemburu, tawa, tangis, dan kebijaksanaan serta ketololan. Hanya dari setangkai itu, telah lahir kisah yang selalu dapat saya ingat. Mungkin juga tidak akan pernah saya lupakan.

Jikapun ada sesal, sesal itu tak akan merubah apa-apa. Bunga itu telah hanyut dalam tangkainya entah pada imajinasi siapa. Saya masih dapat mengingatnya dengan jelas, ketika hujan menandai betapa kita saling membutuhkan. Hujan memberiku airmatanya, dan hujan mengantarkannya padaku sebagai setangkai bunga yang menakjubkan. Angkuh, anggun, namun menyimpan misteri yang menawan.

Jika saya masih mempunyai kesempatan untuk membelai bunga itu lagi, saya ingin menyimpannya erat-erat dalam hati dan kutanam agar benih yang angkuh itu merebak dengan wangi didalam imajinasi. Akan kusiram tanah yang merekah menerimanya sebagai bunga abadi nan puitis. Setidaknya akan kujelmakan ia dengan bahasa yang santun. Tapi pada bulan Mei itu, saya harus merelakannya tercabut dari akar imajinasi saya. Dan mungkin saya masih ingin mengirimkan puisi ini untuk mengingatnya.

Dalam rawan kelopakmu
Kutemukan sabda ratu keindahan
Meskipun angkuh, titahmu pernah menawanku
Dan pada bait sepi, tertulis lirik-lirik sedih
Aku telah kehilangan,
Sebuah melankoli kokohnya setangkaimu
Dari kata menjelma rupa, mewujud frasa takdirku
Pergimu, kuharap bukan tanda baca nihilmu
Aku lelap, dalam hujan yang membelaiku
Pada bau tanah basah,
Mengingatmu merindukan tanah merekah
Tempat disemainya bulir-bulir keanggunan
Setangkai bunga menjelma cinta, Morishcha.

(RA: ‘Setangkai Bunga Morishcha yang Indah’)

Solo, 21 Mei 2010 (02.45)
Agus Raharjo

Kamis, 18 Februari 2010

Surat Untuk Cinta #5

Dengan hati dan seluruh jiwaku,
Kuturutkan menyertai kegelisahanmu,
Bukan untuk memperingati hari kasih sayang…
Hari ini!
Tapi inilah sebuah kisah sedih.


Bagaimanakah adanya Cinta hari ini? Apakah hari yang serasa pilu ini juga membuatmu tertambat pada sedih yang mendung tawarkan? Atau langit memang sengaja membawa kegelisahanmu agar tampak dimataku dari tanda hujan?! Aku memang tak pernah merasa bisa untuk mengenyahkan gelisahmu seutuhnya. Tapi ingatlah bahwa aku juga tak akan pernah berhenti untuk mencoba melakukannya. Sampai nafas terakhir.

Cinta… Ada sesuatu yang tak selamanya dipandang dari satu pandangan saja, bahkan mungkin untuk kesemuanya barangkali. Aku juga tak tahu, apa memang begitu adanya. Yang pasti ada keyakinan ketika kita menjadi makhluk kritis saja kita bisa mencari kebenaran yang hakiki. Bukankah akal digunakan untuk hal itu?

Hari kemarin, hari ini, juga hari esok adalah hari-hari yang seterusnya tetap berjalan seperti ini. Inilah hidup. Inilah kehidupan. Dan inilah putaran nasib yang selalu sigap memeluk keseluruhan kita. Kita hanya berusaha untuk bertahan darinya saat kita ada di bawah, dan kita harus ingat pada keyakinan kita, ketika kita ada di atas. Itulah bertahan hidup.

Cinta… kegelisahanmu adalah bagian dari kesedihanku. Dan sepertinya hujan senang mengirim rintik tangisnya menyertaiku. Ah, hujan, kenapa lagi kau menjelma pada nyanyian sedih seorang yang selalu ada di hidupku?!

Kau tau? Hal yang membuatku sering bersedih adalah ketika seseorang membutuhkanku, dan aku tidak bisa memenuhinya. Aku tidak ingin menjadi seorang yang seperti itu!! Aku benci! Sangat membenci keadaan seperti itu!! Rasanya seolah hidupku adalah sesuatu yang tak ada nilainya. Menjadi orang yang tak berguna itu sungguh memuakkan. Mungkin inilah alasan aku tidak pernah benar-benar menyukai diriku sendiri. Terkadang memang harus seperti itulah badan ini diperlakukan. Agar ia terbiasa dengan sakit yang dirasakan badan-badan yang lain. Agar ia tahu rasanya sedih dari kesedihan yang lain.

Tubuhku ini hanyalah alat. Hanyalah tulang yang dibalut daging dan dialiri darah. Darinya, seharusnya aku mampu untuk menjadi sesuatu yang kuat memikul kesedihan dan beban orang lain. Dengan pikirannya, harusnya aku dapar mencarikan pemecahan dari semua permasalahan. Tapi yang terjadi, justru badan ini hanyalah seonggok tulang dibungkus daging yang terlalu tak berguna. Masih ikut larut memikirkan hal-hal remeh yang tak seharusnya. Apa sih pentingnya punya status? Apa sih perlunya pangkat? Kalau dengannya ada ketakutan manusia tamak. Ada penyesalan karena bersikap egois. Bukan itu yang seharusnya didambakan.

Aku bersyukur Muhammad adalah teladanku. Dialah manusia yang tak akan digugat sebagai sosok yang paling mulia. Tak ada alasan bagi orang kaya karena kekayaannya untuk berwelas asih. Juga tak ada alasan bagi orang miskin untuk menunggu kaya baru dapat menolong sesama. Karena Muhammad adalah representasi yang tak terbantahkan. Dia adalah orang kaya, tapi tak lebih dari tiga hari kekayaan itu ada padanya. Seluruh hartanya adalah harta untuk orang lain. Dan dia juga orang miskin, yang dengan kemiskinannya dia masih mampu untuk bersedekah pada sesama. Dia adalah sosok yang gagah, garang bagi semua musuh keyakinannya. Tapi dia juga lemah lembut bagi sesamanya. Bahkan bagi seorang yang membenci dan sering memakinya.

Siapa yang sanggup memberi makan tiap hari pada seorang buta yang selalu saja memakinya. Meskipun Muhammad tahu persis bahwa orang buta itu adalah golongan dari musuh keyakinannya. Hingga seorang buta itu menyesal karena pada akhirnya tahu bahwa orang yang setiap hari menghampirinya dan member makan adalah orang yang senantiasa dia caci maki, bahkan ketika Muhammad ada di hadapannya. Siapa yang sanggup membantah kebaikan seperti itu? Dan badan ini, seharusnya bisa mencontohnya.

Cinta… Itulah adanya dirimu. Seluruh jelmaan dari segala kebaikan. Dan akan menuju kebaikan. Aku tak pernah menganggap ini sesuatu yang berlebihan. Ini hanyalah harapan. Ini adalah keyakinan, bahwa hadirnya dirimu akan menjelma kebaikan bagi seluruh badan-badan ini. Ada sikap ramah yang akan menentramkan kegarangan. Ada kelembutan yang memeluk keras hati. Namun juga ada amarah yang senantiasa mengingatkan. Ternyata memang bukan hal yang berlebihan bukan?! Aku hanya ingin menjadi seorang yang mampu seutuhnya memperlakukan raga ini pada tempatnya. Maka jangan tepiskan keberadaanku di kehidupan ini. Karena kematian pasti akan datang ketika pada waktunya. Aku hanya tak ingin menyesali hidup yang terbuang percuma. Yang hanya tahu bagaimana memikirkan diri sendiri. Adanya diriku adalah karena ada kau. Denganmu, kita ubah penderitaan menjelmamu. Sebuah kebaikan yang akan menuju kebaikan. Dan pada akhirnya, tak akan kusesali adanya aku.

Cinta… sungguh kau menjadi yang selalu kurindukan. Selalu. Segera, akan kutemukan dirimu dalam hidup ini. Akan kujemput kau pada tegapnya kesetiaanmu. Sebentar lagi, akan ada babak yang mengeliminasi semua hal yang membuatku terkungkung ini.

Cinta…
Please, give me your smile...
And look at my face, you’ll find the sun…
(Lalu kita lantunkan Surat Ar Rahman sama-sama. Semoga ada airmata di wajah, namun ada bahagia di hati!)

Solo, 14 Februari 2010
Agus Raharjo

Kamis, 14 Januari 2010

Fragmen: Khianat

“Aku ingin menjadi seorang penyendiri,” kata lelaki itu. Dan sang wanita menatapnya penuh curiga.
Semalam, lelaki itu tak kunjung pulang. Sang wanita merasa sepi dalam penantiannya. Detak jam membuat mereka terpisah.
“Aku ingin menjadi seorang penyendiri,” kata lelaki itu ketika di depan pintu. “Aku tidak akan terluka seperti ini!”
Mata sang wanita mengikuti hingga lelaki itu masuk kamar mandi.
“Apa maksudmu?” teriak wanita itu.
“Biarkan aku sendiri! Dan aku tak akan pernah merasa sakit ketika dikhianati seorang istri!” Lalu suara debur air menenggelamkan suara lelaki itu dalam perasaannya.
Wanita itu gugup. Segera dia sadari bau parfum di seprei tempat tidurnya memang bukan milik lelaki itu.
Di dalam kamar mandi, ada gemuruh suara air, juga kaca pecah sekali. Air itu, tetap seperti suara hujan, hingga sang wanita menyadari kata-kata sang lelaki bukan gertakan semata.

14 Januari 2010
Agus Raharjo

Perempuan dan Lahirnya Rezim Orde Baru

Ketika tragedi ’65 terjadi, saat itulah Orde Lama mengalami akhir masanya. Sebagai gantinya, bagi saya Orde Baru lahir dari sebuah ironi yang tak lucu. Ada banyak pertanyaan yang ‘dibungkam’ terkait peristiwa yang kita kenal sebagai Gerakan 30 September (G30S PKI) setelah rezim baru itu muncul bak sang juru selamat. Peristiwa yang disusun sangat apik dalam tatanan politik untuk sebuah kekuasaan. Bahkan ‘pembungkaman’ itu berlanjut hingga berakhirnya rezim Orde Baru itu diruntuhkan oleh Reformasi.

Ketika saya masih kecil, yang ada dalam bacaan buku sejarah saya adalah bahwa PKI adalah partai yang ‘seharusnya’ tidak ada di Indonesia. PKI adalah manifestasi dari bahaya laten sebuah kudeta. Sampai akhirnya peristiwa ’98 membuat semuanya seolah mengalami pembalikan.

Yang saya tahu sebelumnya dalam buku sejarah, juga film terkait G30S PKI—yang tak tahu malu-- bahwa PKI adalah kumpulan algojo yang dengan entengnya mengakhiri hidup sesama manusia. Bahkan dalam film yang baru saja sekilas saya saksikan, sosok yang digambarkan menenteng palu dan arit tersebut menghabisi orang-orang yang selesai menjalankan sholat shubuh di masjid. Semua itu menjadi sebuah hal yang wajar dan dimaklumi ketika kita ada dalam masa kekuasaan rezim paling lama di Indonesia sampai saat ini tersebut. Namun, ketika lembaran fakta-fakta mulai dibuka kembali, semua propaganda itu menjadi sebuah tontonan yang tak lebih dari sebuah lelucon belaka.

Di satu sisi, saya menertawai diri saya pribadi dan orang-orang yang telah dibodohi sekian lamanya. Di sisi yang lain, saya ingin menertawai sekeras-kerasnya pada semua pembuat propaganda itu, karena mereka dapat membuat serial komedi yang berbentuk buku dan film. Namun tak bisa dipungkiri, propaganda saat itu seolah disusun dengan sangat lihai oleh ahlinya.

Wajah Perempuan Komunis
Perempuan Komunis adalah bagian lain dari sebuah elegi G30S PKI. Mereka adalah perempuan-perempuan ‘yang sengaja dikorbankan’. Terlebih bagi mereka anggota Gerwani dan semua ormas yang berafiliasi dengan PKI. Setelah tragedi pembunuhan para Jendral di Lubang Buaya, perempuan komunis menjadi sosok yang diburu dan paling banyak mengalami siksaan. Tak salah ketika Wieringa mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut membuat banyak pihak mempersetankan perempuan komunis. N Bukan hal yang main-main, perempuan komunis menerima hukuman yang tak pernah tahu apa kesalahannya.

Banyak tuduhan ditimpakan pada perempuan-perempuan komunis sehingga banyak pihak yang seolah menganggap mereka adalah perempuan biadab. Hal ini sangat bisa dimaklumi, sebab Indonesia adalah negara yang mayoritas adalah penganut Islam. Ketika dihadapkan pada ‘sandiwara’ bahwa perempuan komunis telah melakukan tindakan senonoh dan keji pada jenderal-jenderal yang mati di Lubang Buaya, maka penganut Islam akan menganggap bahwa mereka adalah perempuan setan. Sungguh ironis namun cerdik. Seolah semua hal itu telah lama dipikirkan oleh ‘sang sutradara’. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa begitu bodohnya yang mengaku muslim tersebut termakan hasutan?! Hingga tidak terasa ikut andil dalam menghilangkan banyak nyawa yang seharusnya tidak terjadi demikian gampang.

Lagipula, anggapan bahwa penganut paham komunis adalah seorang ateis yag patut ‘diperangi’ masih dipertanyakan. Namun, semua itu telah terjadi, dan biarlah menjadi masa kelam bagi rakyat Indonesia.

Ada banyak hal yang patut kita ketahui perihal tentang gerakan membumikan rakyat Indonesia tersebut. Juga cerita-cerita tentang tindakan semena-mena yang diterima ‘perempuan setan’. Banyak kisah yang perlu kita cermati tentang penderitaan mereka. Akan tetapi, hingga sekarangpun banyak yang masih menyimpan memori bahwa PKI adalah bahaya laten dari manifestasi kekejaman dan keberingasan atas kekuasaan.

Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar akan dilaksanakannya syuting film Lastri. Film tersebuat adalah film yang menceritakan keadaan perempuan korban dari kebengisan sesungguhnya dari lahirnya Orde Baru. Namun diluar dugaan, syuting film tersebut mendapat tentangan dari sebuah ormas Islam di Solo. Pertanyaannya adalah kenapa hal itu ditentang? Ketika hal itu ditakutkan menimbulkan kembali bahaya laten PKI, bukankah itu adalah sesuatu hal yang tidak perlu? Ataukah karena ditakutkan bahwa film tersebut akan menampilkan adegan-adegan penyiksaan seksual pada kaum perempuan? Diluar nanti terhalang dengan badan sensor, lagipula itulah realita yang sebenarnya terjadi disekitar lahirnya Orde Baru. Setidaknya hal itu saya ketahui setelah membaca “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65”nya Ita F. Nadia.

Dalam bukunya, Ita menulis pengalaman kejam yang dialami oleh perempuan-perempuan komunis untuk melahirkan rezim Orde Baru. Dalam kesaksian pertama akan kita temukan kata-kata “Akhirnya Pemerkosa itu Jenderal Pensiun”. Sungguh ironis, sang penjahat malah dapat menikmati ketenangan dalam masa pensiunnya. Siapakah sebenarnya yang tidak mempunyai hati nurani?

Lalu ada satu peristiwa yang bagi saya seorang laki-laki sungguh sangat biadab, ketika salah seorang korban menuturkan dalam buku Ita ketika dipenjara di Tanjung Gusta: “Mereka sengaja ingin mempertontonkan kepada suami saya, bagaimana saya diperkosa oleh beberapa laki-laki bergiliran. Jika suami saya menundukkan wajahnya, mereka menampar mukanya.” Sekali lagi saya bertanya, siapa sebenarnya yang biadab disini? Apakah mereka orang-orang PKI itu? Yang mengajari masyarakat kecil membaca dan menulis? Ataukah serdadu yang ‘menjadi’ juru selamat? Sungguh ironis.

Maka saya sedikit berlelucon, bahwa Orde Baru lahir dari rahim-rahim perempuan yang diangggap setan. Atau seperti kutipan dari salah seorang korban yang bernama Yanti, bahwa Orde Baru “Membangun Kekuasaan di atas Perkosaan.”

13 Januari 2010
Agus Raharjo

Rabu, 06 Januari 2010

Surat Untuk Cinta #4

Kuturutkan dengan sebuah hati…

Cinta,
Bagaimana keadaan yang menyertaimu sekarang? Semoga kau masih merindui dan bertahan dari apa yang sampai saat ini ada pada diri kita. Apakah kita masih dapat berpuasa seperti ini terus, senantiasa menjaga apa yang coba kita buat? Aku selalu merindukan hal-hal tentang dirimu. Tentang apa yang pernah kita tulis bersama, juga tentang apa yang akan coba kita wujudkan hari depannya.

Ditengah perihal yang tak menentu ini, kita akan menjalani dengan senang hati. Sampai sekarang kita masih diperbolehkan menangis untuk Ibu penjual macaroni di depan sekolah. Yang hanya sekeranjang saja dagangannya. Kita juga masih diperbolehkan menangis untuk seorang Ibu yang kau lihat sedang mencari jalan hidup ditengah terik yang menyengat. Kita masih boleh menangisi semua itu. Ah, bisa jadi kita bukan siapa-siapa bagi mereka, tapi apa harus kita kenal dulu sebelum dapat membantu mereka? Tidak, bukan yang seperti itu yang nantinya akan kita lakukan bersama. Kita tak harus mengenal siapa yang butuh dikeluarkan dari kubangan derita.

Apa yang kita saksikan hari ini, adalah sebuah pekerjaan besar yang nantinya akan kita bangun. Kita akan bukakan mereka pintu-pintu keluar dari lumpur. Bahkan aku ragu Negara ini masih berpikiran tentang semua itu. Apakah salah ketika mereka menjatuhkan diri pada hal hina hanya untuk bertahan hidup, sedangkan di lain tempat ada orang-orang yang dapat menghabiskan jutaan rupiah hanya dalam waktu satu malam saja dengan sekadar makan gengsi dan katanya untuk bersosialisasi.

Sungguh, begitu pandai manusia modern itu mencari kesenangan dan alasan. Sangat picik dengan semua hal yang begitu terlalu tolol tapi masih bisa berkata untuk bersosialisasi. Apakah semahal itu untuk mencari seorang teman? Bisa jadi bukan teman yang mereka dapatkan sebenarnya, tapi mereka menyewa robot-robot berbentuk manusia sempurna. Picik dan naïf.

Cinta,,, kita mungkin akan menjadi manusia yang dianggap aneh. Atau bahkan kau tidak menghendaki hal seperti itu? Apakah kau masih mau hidup yang hanya bukan memikirkan makan dan kesenangan semata? Dengan segala yang ada pada kita, aku ingin membuat surga hadir untuk orang-orang terpinggirkan itu. Aku ingin membuat surge bagi hidup kita secara otentik. Bukan tentang yang hanya semata kita lihat dimata. Bukan, bukan itu sesungguhnya. Tapi ada yang lebih jujur dan lebih mulia dari semua itu. Kita tak perlu memikirkan perselisihan orang-orang bertopeng yang saling berebut kekuasaan itu. Kalau diperlukan, kita manfaatkan keberadaan mereka, kita tak harus berpihak. Hanya siapa yang lebih dapat membuat surge bagi yang terpinggirkan itulah, kita akan menerima. Tapi kita bukan berpihak pada mereka, melainkan pad terbukanya pintu-pintu yang akan membawa orang-orang yang senasib dengan Ibu pedagang makaroni itu keluar dari keterpurukan. Semoga kau juga masih berpegang pada cita-cita dan keyakinan itu.

Hfff… semakin aku merasa, merinduimu sama juga merindui sebuah impian, yang ingin aku bangun dan aku wujudkan nanti.

Sampai saat ini, kita harus mempersiapkan segalanya. Kita akan belajar menyusun balok-balok kepedulian hingga nantinya utuh membentuk rumah yang indah bagi semua hati yang menempatinya. Kita tahan dulu apa yang memang belum boleh untuk kita. Bukankah kita masih ingin melanjutkan puasa ini? Dan setapak-demi-setapak, puasa ini seharusnya meningkat. Aku tak akan pernah menyesalinya. Meskipun mungkin, derajat ikhlas masih jauh dari jangkauanku—karena aku masih takut kehilanganmu. Tapi dengan puasa ini, semoga kita bisa mengikhlaskan apa yang akan menimpa kita di depan. Jalan masih panjang, dan waktu masih membuat jurang. Hanya satu saja yang akan aku pegang, bahwa aku punya janji dan impian. Dan aku akan menuju padanya, menujumu, hingga pada waktunya nanti telah ada.

Cinta, setelah ini adalah pengembaraan. Ada jarak jauh yang harus kita tempuh dan lewati. Ada jeda waktu yang panjang menghalang. Tapi ini adalah jalan kita. Jalan kita untuk saling menjaga. Hanya doa-doa yang masih saja kita lantunkan sebelum ada cahaya. Ada keluh kesah dan harapan serta kerinduan yang masih tertahan di kebesaranNya.

Ah, betapa aku menjadi terlalu cengeng mengingat semua ini. Ada hal yang senantiasa akan selalu tertanam dalam hati tentangmu. Ada senyum yang tercekat dalam kelopak mataku. Ada airmata yang membasahi relung hatiku. Semuanya adalah milikmu. Dan semua dariku akan kuberikan untukmu. Sampai saat kita akan berjuang bersama, setelah pengembaraan ini. Setelah kita merasa kuat sebagai individu-individu. Dan kita akan membuat nyata apa yang telah kita dapatkan dalam kehidupan ini. Bukan untuk kita pribadi, tapi untuk orang lain yang kurang beruntung dari kita. Mereka yang diacuhkan, mereka yang dianggap sampah oleh manusia yang mengganggap diri mereka makhluk kota.

Ah, dunia ini memang bulat. Tak seharusnya digunakan manusia menggelindingkan manusia lain menjadi tersingkir dari harapannya sendiri. Dengan kebulatan ini, seharusnya kita diajarkan mengerti saat di atas dan saat di bawah. Dengannya kita belajar untuk peduli. Darinya kita menikmati hidup.

Cinta,
Puasa ini adalah puasa tingkat akhir dari semua puasa yang memang kita jalani. Dan pada tingkat akhir inilah, semua hal bisa terjadi diantara kita. Tanpa kita dapat saling memberi senyum lagi, tanpa sapa yang menguatkan kita, semua hal dapat menjadi berat pada kita. Pada tingkat tertinggi ini, hanya pada Yang Memberi Cinta kita berpegang. DenganNya pula kita saling menggenggam benang penyatu hati. Selama kita masih selalu mendekat denganNya, maka benang itu tetap terjaga. Meskipun kita diruang berbeda. Ada tabir yang sementara menghalangi, ada ego yang coba kita luluhkan. Ingatlah, bahwa benang itu telah terikat mati pada genggamanku. Dan aku tak akan terlepas darinya. Kecuali kau memutuskan benang itu. Tapi dengan itu, bararti aku telah terlepas dari pegangan. Aku tak dapat menebak kemana aku akan terjatuh. Tapi semoga semua ini mengajariku sebuah keikhlasan. Ikhlas dalam menjagamu, ikhlas dalam mendekatiMu, dan ikhlas pada perjuanganku.

Cinta, inilah babak akhir dari semua perjalanan ini. Ada doa disetiap sujud kita, doa yang melantun lirh karena besarnya kerinduan yang mendesak kita. Doa itu, serupa harapan agar kita menjadi orang yang lebih baik lagi dengan melewati semua ini. Kita selesaikan babak ini sampai akhir. Dan akhir yang bahagialah yang coba ingin kita rangkai. Akhir dari perjalanan panjang, dari penuntasan sebuah keyakinan yang masih belum sempurna untuk kita.

Maaf ketika pertemuan terakhir kita tak pernah sanggup kututup dengan kalimat yang sebenarnya ingin aku katakan, hanya padamu. Ah, aku terlalu tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung bahwa ‘aku sayang kamu’. Bukan karena aku tak punya nyali, hanya aku tidak ingin menggores hati yang kau miliki karena memang belum seharusnya kukatakan. Nanti, setiap pagi aku akan mengatakannya padamu. Setiap pagi ketika kita terbangun, juga sebelum kita terbuai dalam mimpi.

Jangan pernah merasa ragu pada keyakinan ini. Jangan pernah lelah untuk perjuangan ini. Ada aku yang akan selalu ada untukmu.


With Love and Spirit
Dari Ra untukmu Na


Solo, 1 Januari 2010
Agus Raharjo

Minggu, 20 Desember 2009

Mahasiswa dan Demonstrasi

Beberapa waktu lalu ada sebuah catatan yang sengaja ditempel di dinding Facebook saya. Isinya terkait dengan eksistensi mahasiswa—kurang lebih—dan aksi yang dilakukannya beberapa waktu lalu hingga peristiwa anarkisme terjadi. Membaca note tersebut, dalam hati ada sedikit pembenaran, bahwa memang aksi demontrasi mahasiswa sekarang ini memang bukan jalan terbaik untuk melakukan perubahan. Mungkin saja cara itu dianggap kuno oleh sebagian orang, dan terlebih lagi pada kenyataannya demontrasi adalah ‘angin lalu’ bagi pemerintah. Entah kenapa hal itu juga masih saja mendapat sorotan dari media. Karena tidak menjadi hal yang ‘wah’ lagi sebuah demonstrasi.

Pelik memang, atau telah ada dalam kebuntuan gerakan, hingga aksi sudah tak berarti lagi. Melihat atau mungkin mengikuti demonstrasi, memaksa saya untuk mengenang ‘aksi-massa’ yang dulu pernah menjadi sebuah senjata yang begitu diperhitungkan dan ditakuti. Tan Malaka, tokoh yang bagi saya menjadi korban ‘pengkhianatan’ dari kekuasaan, telah membuat ketar-ketir pemerintah dengan ideologi dan gerakannya untuk menegakkan kemerdekaan seratus persen Indonesia.

“Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.” Begitu Tan Malaka menerangkan aksi-massa.

Bisa jadi aksi-aksi yang dilakukan oleh berbagai mahasiswa belakangan ini hanyalah sebuah ‘tindakan berani seorang pahlawan’, atau malah keputusasaan dalam kungkungan status sebagai seorang mahasiswa. Bisa jadi kita lupa, banyak hal yang dapat dilakukan seorang mahasiswa melebihi sebuah aksi demonstrasi. Dalam hal ini saya sepakat dengan isi note dan beberapa komentar yang ditempel di dinding FB saya. Saya sangat sepakat ketika mahasiswa seharusnya terlepas dari kungkungan status seorang mahasiswa yang menampakkan diri dengan demonstrasinya. Dan saya sangat yakin aksi-aksi yang dilakukan tidak mempunyai pengaruh apapun selain diliput oleh media massa.

Tapi terlepas dari itu semua, ada komentar yang menggelitik saya ketika ada yang berkomentar bahwa “mahasiswa yang seperti itu—anarkis—adalah seorang bajingan”. Betapa bodohnya yang berkomentar, atau mungkin dia bukan mahasiswa?! Entahlah, yang jelas sebagai mahasiswa yang seharusnya mempunyai pandangan lebih dalam menyikapi masalah, dia terburu-buru menjatuhkan vonis. Bukankah sebagai mahasiswa kita tidak diajarkan untuk berpandangan sesempit itu?! Perihal anarkisme, itu memang salah dari konteks perilaku sosialnya. Akan tetapi, perlu kita melihat dari sisi lainnya juga. Saya pribadi melihat anarkisme yang dilakukan oleh mahasiswa beberapa waktu yang lalu bisa dimaklumi. Saya tegaskan, bisa dimaklumi, bukan berarti saya sepakat dengan tindakan tersebut. Ketika melihat berita di media massa, terlihat bahwa mahasiswa merusak salah satu rumah makan cepat saji dengan label merk terkenal dan mungkin prestisius bagi sebagian orang.

Terlepas dari akibat tindakannya, bukankah tindakan tersebut dapat diterjemahkan dalam konteks nasionalisme? Atau memang saya yang tidak tahu bahwa merk itu milik anak bangsa? Saya pikir, mungkin memang sudah saatnya kita tanamkan nasionalisme sedalam-dalamnya, dan tegakkan itu dalam setiap perilaku kita—bukan anarkismenya. Lagipula, ketika demonstrasi yang tertib dan sopan tak ada pengaruhnya bagi pembuat keputusan, lalu dengan demonstrasi yang seperti apa yang membuat aksi itu ‘diperhatikan’ oleh pembuat keputusan?!

Masalahnya kita tidak punya pemahaman dalam perilaku boikot. Hanya menjadi sekadar kampanye saja. Padahal, kita telah lama belajar bagaimana kekuatan ‘boikot’ bagi korban-korbannya. Dan kita telah melihat betapa ampuhnya hal itu dalam langkah perjuangan kita.

Juga ada sebuah diskusi yang ada dalam note tersebut. Ketika saya menanyakan perihal apa yang telah dilakukannya untuk perubahan, saya pancing dengan sebuah pertanyaan “Lalu apa yang telah Anda lakukan? Jangan-jangan Anda hanya menonton televisi dan melihat mereka—mahasiswa—berdemo saja?” Tanpa saya duga, jawabannya meleset jauh dari perkiraan saya. Jawaban itu tertulis kira-kira begini,”Setidaknya dengan menonton televisi saya tidak membuat masalah lagi.”

Ah, saya sempat beberapa saat merasa kecewa. Saya pikir orang yeng berkomentar akan memberi jawaban yang lebih dari apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa yang demonstrasi. Ternyata, jawaban yang saya dapatkan adalah jawaban dari pikiran kerdil seorang mahasiswa. Bukankah sebagai mahasiswa, pikiran seperti itu seharusnya dikikis jauh-jauh hari? Atau memang benar komentar dari seorang pengamen yang suatu kali pernah saya dengar, bahwa mahasiswa sekarang ini bukan dicetak menjadi seorang intelektuil, tapi dididik untuk menjadi seorang buruh?

Jikapun demikian adanya, maka prediksi Tan Malaka tentang akan banyaknya kaum terpelajar memang benar adanya. Tan Malaka pernah menulis dalam “Massa-Aksi”nya melihat bahwa dulu kaum terpelajar hanya sedikit adanya, bahwa “mereka akan luntang-luntung dan merasakan kemelaratan sebagai buruh industry dengan penuh ‘kegembiraan’ dalam medan perjuangan.” Hanya saja, disini ‘kegembiraan’ itu bukan pada sebuah perjuangan, tapi dalam pikiran sempit.

Jadi, sampai disinikah seharusnya seorang mahasiswa? Jikapun saya menjadi salah satu dari mahasiswa yang berdemo, saya akan bertanya pada para komentator itu,”Buktikan bahwa kalian bisa berbuat lebih dari kami! Atau berilah solusi, dan kita sama-sama berjuang untuk rakyat dan Indonesia!”

“Kubu”

Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang
wabah sakit - barangkali di dekat sini
atau jauh di kampung orang,
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
ada orang menangis di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi -
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.
(Subagyo Sastrowardoyo)

Semoga dapat dijadikan perenungan!

20 Desember 2009
Agus Raharjo

Surat Untuk Cinta #3

Na, setiap waktu akan berlalu
setiap sedih menyisakan perih,

Na, jangan kau simpan kenangan ini, namun
jangan kau buang perasaanmu,

Na, sepertinya kau terlalu lelah
Sepertinya aku terlalu lemah, kita sama-sama payah…
(RA)

Cinta…
Aku pernah menulis itu dalam sebuah saat yang sedih. Ketika itu, saat-saat merindukanmu adalah perihal yang menyiksa bagiku. Begitu berat, dan begitu menyesakkan. Ada sesuatu yang terasa tak lengkap saat kau tak ada. Dan begitu juga saat aku kesepian secara utuh. Kau, telah menawanku dalam alunan hidupmu.

Kau masih tetap seperti dulu, ada di dalam ruang terdalam dalam hatiku. Ada hal yang tak pernah bisa kita mengerti, mungkin kau adalah hal yang paling indah bagiku, tapi kau tak merasakannya. Tapi apalah artinya pengakuanmu, aku hanya mengerti tentang perasaanku sendiri. Tak bisa menyelami perasaanmu, meskipun aku berusaha menyelami hatimu.

Kau bilang bahwa kau membutuhkanku, aku sungguh sangat senang dangan hal itu. Aku tak akan membuatmu terluka, karena aku juga ingin selalu ada untukmu.
Aku telah semakin kuat, tapi masih saja aku merasa lemah. Aku belum sanggup untuk sepenuhnya tak memikirkanmu. Dalam hidupku, kaulah ‘Rembulan di Langit Hatiku’. Ah…terlalu berlebihankah aku?

Cinta…
Mungkinkah kau juga telah lelah? Menunggu itu memang melelahkan, tapi buah dari kesabaran adalah manis, semoga. Kau tahu, saat aku lemah, kaulah kekuatanku. Kau yang sanggup membimbingku untuk segera berbenah dan bangkit dari keterpurukan. Bukan melalui tangan-tanganmu, tapi hanya semangat dan kata-katamu, juga doa dan perhatianmu. Aku benar-benar merasa menjadi seorang yang seutuhnya ketika ada dirimu. Mungkinkah kau merasakan hal serupa itu?

Ketika aku tahu bahwa perasaanmu sepertiku, kita adalah orang-orang yang ternyata masih lemah. Bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah kita. Perasaan itu seolah mengalir tanpa sepengetahuan kita, merasuk semakin dalam, dan semakin kuat dalam hati kita. Lalu kita adalah sebagian yang saling membutuhkan. Berharap akan segera ada pertemuan. Dan kita jalani kehidupan selanjutnya.

Cinta…Aku selalu ingat setiap melodi yang mengalun dari kata-katamu. Aku masih terngiang gemuruh semangatmu. Dan aku setiap hari dapat menggambar kenangan yang pernah kita lalui. Sebelum puasa yang kita lakukan ini.

Ini adalah puasa. Dari kekotoran diri di dunia. Lalu kita berharap menjadi suci untuk perasaan ini.

Ini juga meditasi. Penenangan diri dari segala angkuhnya ambisi, sombongnya ego pribadi. Dan kita beranjak menjadi seorang yang selalu sadar diri.

Puasa ini bukanlah tentang penderitaan. Ini adalah perihal bagaimana menjaga. Tentang saat yang tepat untuk menikmati waktu berbuka, bukan ketika adzan Maghrib berkumandang. Tapi waktu aku meluruhkan perasaanku pada kata indah itu. Cinta.

Mengertikah kau betapa aku mungkin terlalu memuliakanmu? Selayaknya pangeran yang akan menjemput permaisurinya. Seumpama aku Bandung Bondowoso, Prambanan telah kubuat untukmu. Tapi aku tidak akan menjadikanmu arca bagi sempurnanya candi itu. Karena aku ingin menikmati kemegahan candi itu bersamamu.

Cinta…
Jalani hidup ini dengan semua impian yang melekat dalam diri kita. Kita masih punya itu, dan kita akan wujudkan itu bersama-sama. Aku selalu ada untukmu, ingatlah itu. Biarpun sekarang ini ada ruang yang berbeda diantara kita, tapi hati kita telah sama-sama dekat. Kita terangi jalan ini dengan apa yang telah kita yakini, apa yang telah kita pahami, dan apa yang menjadi pegangan kita. Jangan terpancing dengan egonya dunia, jangan merasa iri dengan nikmatnya neraka di kanan-kiri, karena kita adalah kita. Dan kita adalah sebagian yang ingin menyatu dengan puasa ini.

Biarpun aku masih lemah, biarpun aku terlalu payah, tapi aku juga masih ingin menjadi yang terbaik untukmu. Jangan lelah, jangan pernah lelah untuk menuntaskan puasa ini. Karena kita sebenarnya tidak ingin menjadi payah, meskipun kita adalah makhluk yang sebenarnya terlalu payah.

Ingatlah setiap baris kata yang coba kita sematkan. “Ada aku yang membutuhkanmu” dan “aku yang selalu ada untukmu”. Itulah pegangan yang akan kita pegang, karena kita akan mewujudkan itu seutuhnya ketika saatnya kita telah berbuka. Dari puasa ini.

Solo, 20-21 Desember 2009
Agus Raharjo

Kamis, 10 Desember 2009

Mimpi

Tak seorang akan tahu
kur siapa yang nyanyi
pada sebuah magrib
dalam mimpiku

…. (GM, “sajak sehabis mimpi”)

Tak seorangpun akan tau. Begitulah sang penyair memberi batas dengan orang lain terhadap alam nyata dan alam bawah sadar yang dialaminya. Tak seorangpun akan tau, menjadi sebuah gertakan yang tegas selayaknya bahwa mimpi kemarin malam telah terjadi dan tidak akan seorangpun yang akan tau tentang mimpi apa. Bahkan ketika nyata sekali bahwa dalam mimpi itu bersuara keras, dan mungkin serempak seperti sebuah alunan kur.
Mimpi, itu menjadi sebuah rahasia yang paling intim dalam kehidupan seseorang. Maka siapa yang dapat mengetahui mimpi setiap orang yang dialaminya setiap hari. Masing-masing dari kita menyimpan mimpi kita sendiri. Dan banyak cara untuk mengekspresikan itu semua. Atau lebih tepatnya banyak hal untuk dapat menjadikan mimpi itu menjadi sebuah ekspresi tertentu.
Maka, hal manakah yang membuat mimpi kita menjadi sesuatu yang pantas ditafsirkan oleh orang lain? Harusnya kita sendiri yang paham akan arti mimpi itu. Karena kita dan apa yang pernah kita alamilah yang membentuk mimpi itu. Membuatnya seolah menjadi sebuah tanda yang akan dialami pada suatu waktu di hari depan. Bukan ramalan, tapi rekaan. Dari semua hal yang membentuk mimpi itu, secara tak sadar kita dapat mengasosiasikan hal itu dalam kehidupan nyata kita.
Ketika kita mengingat sebuah nama, seorang filosof, Sigmund Freud, dengan teori psikoanalisisnya, erat hubungannya dengan keadaan alam bawah sadar manusia. Dengan membantu menterjemahkan setiap mimpi yang dialami seorang pasien, dia sedikit demi sedikit membantu pasien keluar dari kungkungan rasa tertekan yang dialaminya. Atau setidaknya bisa dikatakan menurut Freud, mimpi kita adalah manifestasi dari semua hasrat, juga keinginan yang dibentuk dari alam sadar kita. Kebanyakan mimpi kita lahir dari rasa tertekan karena kita tidak dapat mewujudkan keinginan tersebut dalam alam nyata.
Keinginan-keinginan yang coba dtekan tersebut makin lama makin memenuhi alam bawah sadar kita, dan akhirnya muncul dan tergambar dari mimpi yang kita alami. Dan sejauh itu hanya menjadi sebuah mimpi, maka tak akan seorangpun yang tau, begitu menurut Goenawan Moehammad.
Satu contoh diceritakan oleh Alberto pada Sophie, misalnya, ada seorang lelaki yang telah bermimpi bahwa lelaki itu diberi dua buah balon oleh saudara sepupu perempuannya. Maka, apakah arti dari mimpi itu?
Berdasarkan psikoanalasisnya Freud, ketika seorang lelaki menerima dua buah balon dari saudara perempuannya maka, dikatakan bahwa sang lelaki sebenarnya mempunyai hasrat yang telah dipendamnya untuk memiliki saudara sepupu perempuannya itu. Hanya saja hal itu tidak akan terjadi, karena lingkungan status sosial masyarakatnya yang membuat tabu untuk hal itu. Hal itulah yang membuat hasrat itu hanya menjadi tekanan yang tersimpan dalam alam bawah sadar si lelaki. Sampai disini, arti dua buah balon yang diberikan oleh saudara sepupu perempuan bisa mempunyai arti. Itu menjadi sebuah penanda bagi seorang perempuan.
Namun, ketika kita mengacu pada teori psikoanalisisnya Freud, kita hanya berkutat pada kejadian dan hasrat yang telah lampau. Dalam hal ini saya sedikit kurang sependapat. Kita harus juga ingat bahwa ada sebuah ‘impian’. Konteksnya, ketika mimpi itu terbentuk dari pengalaman masa lampau, maka impian adalah manifestasi keinginan untuk hal-hal yang belum terjadi, namun diinginkan untuk terjadi di masa datang. Sama-sama sebuah keinginan, namun kadangkala sebuah impian tidak bisa dianggap sebuah tekanan.
Dalam mimpi, semua hal bisa sangat mungkin terjadi. Itulah pointnya. Bahkan untuk sebuah hal yang tak masuk akal sekalipun. Namun ada sedikit pertanyaan pada diri saya, apakah ketika kita bermimpi dan mengeluarkan seluruh pengalaman alam bawah sadar kita, kita masih dalam posisi yang tidak sadar? Berdasarkan apa yang saya amati dari model psikoanalisisnya Freud, kita bisa saja tidak sepenuhnya tertidur dan masuk dalam alam bawah sadar kita secara penuh. Maka dengan itu, apa yang sering saya alami menajdi sebuah hal yang sangat biasa terjadi. Walaupun begitu, ketika kita hanya setengah berada dalam alam bawah sadar kita, tetap saja kata GM, tak seorangpun kan/ tau kur siapa yang nyanyi/ pada sebuah Maghrib/ dalam mimpiku//

10 Desember 2009
Agus Raharjo

Sabtu, 17 Oktober 2009

Sebuah Catatan Pribadi

Dari sekian hari yang tertempuh, ada saat kita merindukan kembalinya sang waktu. Saat itulah kenangan ingin kita ulang. Namun, apa yang bisa kita perbuat untuk mengulangnya. Tak ada. Yang tersisa adalah ingatan kita sendiri tentang kenangan itu. Dan jalan paling akrab untuk kembali pada kenangan adalah mengingat kembali setiap detail peristiwa itu. Hanya itu.
Pada suatu saat, terkadang saya juga sangat ingin mengakrabi kenangan yang telah saya tinggalkan. Ada moment-moment dari suatu peristiwa yang ingin kuulangi. Setidaknya sekali lagi. Tapi tak mungkin. Waktu tak pernah dapat kembali.
Namun, pada suatu saat, sejenak aku tak ingin mengulang kenangan, cukup tersimpan saja dalam ingatan saya. Tentang sesuatu, atau mungkin seseorang. Dia begitu membuat saya merasa ‘sakit’. Kadangkalanya kesedihan harus ditumpahkan. Kadangkala perpisahan tak diinginkan. Dan terkadang saya begitu dalam mengingatnya.
Tulisan ini adalah untuknya. Sesuatu itu telah ada pada suatu hari. Dan setelahnya, semakin hari seperti sebuah pohon yang terus mengakar. Semakin hari semakin kuat. Dan semakin lama juga meneduhkan. Ada bunga-bunga yang mewarnainya. Juga ada batang yang kadang menopang, ada ranting yang juga patah. Namun, semua tetap berdiri.itulah yang membentuknya.
Sesuatu itu, padanya kuikatkan sebuah kekang padaku. Aku telah rela mengikat diri untuknya. Dengan niatan, dengan ucapan, dan nanti pasti tindakan. Suatu hari nanti.
Dia, yang membuat sesuatu itu. Padanya hanya pujian. Untuknya mengalir persembahan, dan baginya terlahir kesempurnaan.
Terasa aneh, bahkan untuk waktu yang lama. Tak kudapati redup, terlebih padam. Yang ada selalu saja mengembang. Dulu, awalnya adalah perbedaan. Tapi siapa mengira padanya adalah persamaan semata. Siapa sangka jalan kita sama. Lalu mengapa kita tak bersama-sama?
Aku pernah mendaki puncak tertinggi inginmu. Lalu kau tabur telingaku dengan ayat-ayat sucimu. Begitu dalam dan menggetarkan. Kemudian aku bangun pada sepertiga malam. Dengannya aku dapat mengingatmu. Atau entah aku mengingatmu lalu mengingatNya. Yang kutahu selalu saja Dia dan dirimu bersama-sama. Berkelebatan dalam renunganku. Setiap saat.
Lalu peristiwa di pagi hari itu. Tatkala kau bertanya padaku tentang sebuah impian. Lalu kuterjemahkan dalam bahasa bijaksana. Dan kau menerimanya seperti permintaan. Tapi memang permintaan. Kau telah meneduhku dalam impianku sendiri. Kau terima, mungkin dengan senang hati. Atau aku yang terlalu memikirkan. Aku yang merencanakan? Lalu kau masuk dalam bagiannya, sebagai peranmu.
Namun, tak ada yang lebih indah dari pagi itu. Adalah “Semoga niatnya segera terwujud menjadi tindakan.” Lalu “kita berjuang dan berdoa sama-sama.”
Adakah yang kuinginkan sekarang? Aku ragu. Tak ada yang kuharapkan mungkin. Hanya tentang sesuatu itu segera menemui kebenarannya. Lalu kita berjuang bersama-sama. Ada doa yang terlantun untuknya, dari seorang ibu yang menekuri ayat-ayat suci. Di rumah suci. Seorang ibu yang memanggilku dnegan sebutan yang aneh. Tapi tak mengapa. Toh itu hanya sebutan untukku. Yang terpenting adalah harapan juga doanya. Sungguh naïf jika aku tak mengamini.
Catatan ini, adalah tanda pengingatku. Juga sebuah persembahan tak sempurna. Karena padanya belum lagi terlaksana tindakan nyata. Masih sebatas usaha…usaha…usaha…dan doa.

Sukoharjo, 17 Oktober 2009 (00.15)
Agus Raharjo

Selasa, 25 Agustus 2009

Rumah baru

Bulan Ramadhan ini, akhirnya apa yang pernah terlintas dalam pikiran saya benar-benar terjadi. Saya menjadi terasing dari kehidupan yang biasa saya lakukan. Saya begitu dekat dekat dengan kesunyian, juga dekat dengan semua waktu untuk menata impian. Pada bulan ini, akhirnya saya dapat dekat dengan Sang Khalik. Dulu, ketika saya memikirkan untuk menempati rumah Allah, saya akan mengisi hari-hari luang saya dengan banyak mengetik. Dan darinyalah harapan saya, saya dapat menulis dengan baik.
Disini, tak terdengar lagi celotehan teman-teman, tak ada hiruk pikuk acara televisi, tak ada suara-suara bising tak berguna. Yang ada hanyalah ketenangan, kerinduan, juga harapan-harapan yang kian dekat. Ketenangan, karena memang inilah kehidupan yang terasing. Kerinduan, mungkin adalah bonus dari rasa terasing itu, rasa rindu pada semuanya, seolah saya tak dapat lagi bersama orang-orang dan segala yang saya rindukan. Harapan, adalah wujud dari semua ikhtiar yang masih saya lakukan untuk sesuatu, atau mungkin untuk seseorang. Saya ingin menjadi lebih baik lagi, saya ingin jadi yang terbaik untuk seseorang, saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi lebih baik.
Kalau saya pikir, sangat aneh ketika saya berada disini. Mungkin bukan saya saja yang merasa heran ketika saya mengambil keputusan penting itu. Namun, apa yang saya lakukan adalah bukan tanpa pertimbangan. Apa yang saya putuskan telah saya pikirkan, dan akan saya jalani hingga waktunya nanti. Salah satu alasannya adalah saya ingin senantiasa dekat dnegan Allah, karena Dia yang telah menganugerahi saya sebuah rasa yang membuat saya merasa sangat sakit namun juga sangat menyenangkan. Saya ingin membuat rasa itu tetap pada jalur yang semestinya, semoga Allah memberi kesabaran yang tangguh padaku hingga waktunya tiba.
Dan untuk saudaraku sesama penghuni rumah baru ini, terima kasih telah memberiku sedikit penawar keterasingan.

Rumah baru, 25 Agustus 2009
Agus Raharjo

Parade Cinta Pondok Pesantren: Dzikir-Dzikir Cinta, 3 Cinta 3 Doa

Kehidupan di sebuah pondok pesantren tidak berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya—namun lebih terawasi. Nuansa yang ditawarkan adalah seringnya kita mendengar lantunan ayat-ayat Al Qur’an, juga terjaganya sholat secara berjamaah. Namun, sama seperti kehidupan pada umumnya, dalam lingkungan pondokpun cinta tak dapat ditentang keberadaannya. Pada siapapun. Memang bisa jadi yang utama diajarkan adalah cinta pada Allah Yang Esa, namun itu tidak serta merta menghilangkan rasa cinta pada sesama. Ada ikatan persaudaraan yang kuat, ada kepatuhan pada kyai, juga ada rasa rindu yang besar pada orang tua. Bahkan juga ada rasa cinta pada lawan jenis.

Membaca novel “Dzikir-dzikir Cinta”nya Anam Khoirul Anam, kita dibuat melihat dunia pesantren seperti kehidupan pada umumnya seorang remaja. Meskipun memang pada kenyataannya sedikit, bahkan mungkin banyak berbeda dengan keadaan yang sebenarnya. Rusli, seorang pemuda yang “nyantri” di pondoknya Kiyai Mahfud, berniat menimba ilmu sebanyak-banyaknya disana. Namun, seperti kehidupan remaja pada umumnya, dia juga dilanda perasaan cinta pada santriwati bernama Sukma dari Pondok Gus Mu’ali. Meskipun Rusli ingin meniadakan perasaan cinta pada hamba-Nya, karena trauma akan keberadaan cinta itu sendiri.

“Meski aku tak membenci akan adanya cinta, namun cinta telah melukai mataku hingga cinta itu sendiri yang membuatku membencinya”.

Namun, tampaknya penulis menghendaki kisah lain pada cinta keduanya. Rusli dapat menerima keberadaan cinta itu dan akhirnya disatukan, padahal Rusli telah menikahi Fatimah, putri Kiyai Mahfud, sebelumnya karena rasa hormat yang terlampau besar.
Demikian juga dengan Sukma, dia seorang yang pernah merasakan gelapnya tawaran dunia, ketika menyimpan cintanya untuk Rusli, dia dengan kesungguhan hati berusaha memperbaiki diri, dan terus bersabar. Sebuah perjuangan yang begitu mengharukan. Dia menutup dari perasaan cinta pada laki-laki lain, dan hanya untuk Allah semata setelah tahu bahwa Rusli menikahi Fatimah. Namun, ketulusan dan kesabarannya membuahkan hasil, sampai akhirnya penulis membuat tokoh Fatimah meninggal dunia dan akhirnya Sukma dapat bersanding dengan Rusli.

Itulah sekelumit cerita tentang cinta pada kehidupan pondok pesantren. Bahkan di pesantrenpun keberadaan cinta pada sesame hamba tidak dapat dibatasi. Dan justru, menurut saya, dengan sedikit godaan yang ditawarkan kehidupannya, maka cinta yang tertulis pada santri-santriwatinya lebih terasa dalam memaknainya. Sebuah surat cinta dapat membuat pembacanya tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Begitu juga dengan cerita cinta yang dikisahkan dalam film 3 Cinta 3 Doa. Tokohnya, 3 orang pemuda, mempunyai liku cerita yang lain-lain pula. Ada yang begitu dalamnya rasa cinta pada Allah hingga punya cita-cita “Syahid” ketika keluar dari pondok nanti. Ada yang selalu merindukan sosok ibu yang telah menitipkan dia di pondok, dan berusaha mencari keberadaan ibunya. Juga ada yang tidak dapat menerima keberadaan cinta karena sang ibu yang menikah. Namun, semuanya hampir sama, cerita cinta di pondok seperti kehidupan kebanyakan. Ada rasa yang kadang menyakitkan namun menyenangkan, ada rasa ridu yang menggelora, ada usaha untuk mendapatkannya, juga ada doa yang terpanjat padaNya. Karena sejatinya semua cinta bersumber pada yang menciptakannya. Dialah Yang Esa.

****

Melihat kehidupan pondok yang penuh dengan cerita cinta, saya sangat miris ketika pondok terkotori oleh anggapan buruk tentang teroris. Meskipun saya bukan orang pondok, namun saya sangat geram pada pendapat yang menyudutkan sebuah pondok.
Ada sebuah benang merah yang dapat saya lihat dari semua kejadian terkait dengan pondok. Dulu, ketika Belanda masih berkuaa di bumi pertiwi, peran pondok pesantren tidak dapat diremehkan begitu saja. Dari orang-orang pondok jugalah yang ikut andil dalam merebut kemerdekaan, namun sekarang pondok pesantren khususnya dan Islam umumnya seperti disudutkan. Ada pertanyaan besar dalam diri saya. Mengapa??

Kalau boleh berimajinasi, dalam pikiran saya Indonesia tidak akan dapat dikuasai sebelum umat islam luntur keislamannya. Siapa yang ingin menguasai? Entahlah, kita seperti melihat seekor gajah yang masuk ke mata kita. Yang terlihat cuma sebagian kulitnya. Kita tak pernah tahu bahwa itu adalah seekor gajah.

25 Agustus 2009
Agus Raharjo

Selasa, 28 Juli 2009

LAWU #1 : Ambisi; Eksistensi; Rekreasi

Ada yang tersurat dalam sebuah pendakian. Perjalanan menyusur bukit dan lembah yang berkelok, seolah tak membuat gentar—justru semakin menantang. Dalam dada pendaki, ada degup luar biasa yang menggejolak ketika mulai melangkahkan kaki untuk pertama kali. Sebuah gairah yang mendebarkan.

Setidaknya, itulah secuil dari perasaan yang menimpa seorang pendaki. Ada saja alasan untuk kembali menikmati keelokan dan tantangan tonggak-tonggak bumi tersebut. Menyerap energi dingin yang ditawarkan kabut-kabut gunung, seraya menyepuh bibir dengan hangatnya kopi. Semua itu terjadi dalam kewarasan logika manusia. Bisa jadi karena ingin menyatu dengan alam, semua kabut yang membawa dingin dihantam dengan seluruh keberanian.

Kabut, bagi sebuah tempat seperti pegunungan adalah hal yang biasa. Disitulah berkumpul jutaan bulir air yang saling memeluk menyusuri lembah-lembah. Dari sanalah lembab menyajikan oksigen yang tipis. Dibalik keanggunannya, ada sebuah misteri yang selalu menyertai keberadaan kabut. Apa yang ada dibalik ribuan bulir-bulir uap air itu? Secara makna, Goenawan Moehammad pernah mempertanyakan arti dari ribuan uap yang menyisir gunung tersebut.

Dalam puisinya yang berjudul “Kabut” GM bertanya tentang arti keberadaan kabut: Siapakah yang tegak di kabut ini./ Atau Tuhan, atau kelam. Dua buah pilihan yang paradoks dalam arti namun tidak bisa dibandingkan. Tuhan, adalah manifestasi dari sebuah ideologi dan keyakinan. Keberadaannya bisa jadi ada namun tidak ada. Karena tidak dapat diwujudkan dalam sebuah material atau digambar dalam alam pikiran. Bisa diterima karena cukup diyakini saja. Tanpa perlu untuk menggugat keberadaan diriNya.

Sedangkan kelam? Adalah sebuah bentuk yang menggambarkan keadaan gelap, sepi, sunyi, dan mencekam. Antara Tuhan dan kelam menjadi sebuah paradoks, karena Tuhan adalah lambang dari pencerahan, sedangkan kelam adalah sebaliknya. Namun, paradoks dari keduanya tidak dapat dibandingkan secara ideologi. Bagi kaum yang meyakini agama tentu saja akan menggugat adanya pembandingan kedua kata tersebut untuk menggambarkan sesuatu. Namun, itulah ekspresi seorang penyair. Dia mampu berimajinasi di luar batas kewajaran manusia yang lain.

Keberadaan kabut dalam sebuah pendakian adalah peringatan untuk pendaki segera mawas diri akan keberadaan dirinya. Yang terjadi ialah, seorang pendaki akan kehilangan dirinya ketika kabut telah menyelimuti gunung dan lembah. Sepi dan terasing, perasaan seperti itu kemudian akan menggelayut.

Gunung beserta kabutnya senantiasa menyimpan cerita-cerita mistis diluar logika manusia. Ada pesan yang akan di ikrarkan oleh para pendaki ketika memulai sebuah pendakian. Dan selama pendakian setidaknya pendaki akan mawas diri pada semua pantangan dari gunung yang tengah ditelusuri. Memang terkesan ganjil dan di luar nalar, tapi itulah misteri sebuah gunung.

Secara logika, keberadaan kabut yang menutupi kawasan gunung saja membuat seorang pendaki kehilangan keberadaan dirinya—tersesat, apalagi ditambah dengan cerita mistis yang menyertainya. Namun, hampir tak akan sepi sebuah gunung dari pendakian. Entahlah, mungkin justru itulah keindahan yang ditawarkan penopang bumi.

Pengalaman juga tantangan membuat pendaki semakin liar menerobos imajinasi hanya untuk melihat terbitnya matahari. Ketika seseorang merasa sangat perlu untuk “muncak” gunung, apa yang sebenarnya dicari? Toh hanya melihat bumi dari sudut pandang berbeda. Namun, memang bukan manusia namanya ketika merasa menginginkan sesuatu agar terpenuhi. Bisa jadi alasannya cukup sederhana, ambisi. Ya…dengan itu, tanpa paham apa yang akan dicari untuk naik gunung, seseorang rela menahan lelah hanya untuk memenuhi gejolak keinginannya. Alasan yang sangat sederhana tapi memalukan. Hanya ambisi. Dengan alasan itu, sebenarnya pendaki tidak melakukan pendakian sebuah gunung, tetapi mendaki batas tertinggi egonya.

Ada cerita berbeda ketika seorang pendaki melihat gagahnya gunung sebagai sebuah tantangan. Perihal yang melatarbelakangi untuk melakukan pendakian. Sebuah eksistensi manusia terhadap alam. Dengan sampainya seorang pendaki “muncak” seolah merasa dirinya telah mengalahkan sebuah gunung dengan jebakan alam yang mengelilinginya. Merasa dirinya tak tersesat dan selamat hingga kepuncak adalah satu nilai tambah untuk menunjukkan eksistensinya pada pendaki lain bahwa dia telah sampai ke puncak paling tinggi.

Suatu ketika dalam sebuah televisi swasta, mengabarkan bahwa tim kru televisi telah berhasil sampai kepuncak sebuah gunung yang “prestisius” bagi seorang pendaki. Bagi saya, hal itu hanyalah tontonan biasa, mengingat bahwa sebenarnya kita memang diciptakan melebihi semua makhluk. Gunung, bagaimanapun begitu adanya. Dengan semua rintangan dan jebakan jurang yang menyempurnakannya. Yang saya tahu, dalam keyakinan saya, bahwa tanpa kita berhasil “muncak”pun, eksistensi kita lebih diakui daripada gunung. Saya ingat dengan sebuah kalimat “Bahkan gunungpun tidak sanggup memikul AMANAH ini” dari seorang yang saya kira orang baik. Jadi tidak perlu menunjukkan eksistensi kita pada orang lain bahwa kita telah berhasil “muncak” kalau masih mengakui eksistensi kita sebagai makhluk paling beruntung.

Yang lebih saya terima terkait pendakian hanyalah sebuah rekreasi. Sebuah jalan untuk menyegarkan pikiran dan jiwa karena kita berhadapan pada suasana yang berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Suasana yang mungkin sekali sangat menarik karena saya jarang melihat sebuah alam dengan jurang-jurangnya, dengan udara dinginnya, juga dengan kesunyian yang ditawarkannya. Alasan yang mungkin dipandang remeh karena bobot katanya tapi justru sebuah keluguan. Orang yang jarang melihat gunung pasti suka dengannya, begitu juga orang gunung akan suka berekreasi ke kota. Itulah alasan yang tidak dibuat-buat dan lahir dari kewajaran sifat manusia.

Agus Raharjo
28 Juli 2009

Minggu, 24 Mei 2009

Doa dan Ikrar

Bulan ini, nampaknya adalah bulan yang sungguh baik. Bernuansa positif. Kalaupun ada peramal yang mengatakan, bulan ini adalah bulan bahagia. Mungkin saja benar adanya (bukan bermaksud percaya pada peramal). Bulan dimana banyak penyatuan moment yang menyatukan hati. Bulan berkah bagi para insan yang sedang merindukan “sang pelengkap”.

Bagaimana tidak? Dalam satu bulan ini, ada empat orang dekat saya yang akan berikrar setia pada ikatan suci perkawinan (Hmm…jadi pengen, Ya?!). Dan semuanya saya yakin telah melalui lika-likunya masing-masing untuk dapat berikrar di depan saksi seperti yang akan mereka lakukan itu. Sebuah ikrar yang akan membuat dua insan memegang kewajiban dan haknya masing-masing pada pasangannya.

Ada undangan yang benar-benar saya cermati isi dan gambar-gambarnya. Memang biasanya saya sering tidak memcermati undangan, hanya melihat waktu dan tempatnya saja. Tapi kali ini lain. Ada gambar kupu-kupu dan siput pada desainnya. Pertanyaan pertama yang timbul adalah, apa maksud kupu-kupu disandingkan dengan siput? Yang saya tahu, kupu-kupu adalah penjelmaan dari sebuah proses pembelajaran. Dari ulat yang bisa kita anggap menjijikkan sampai pada kupu-kupu yang menarik perhatian kita. Bisa jadi kupu-kupu adalah sebuah kelahiran baru. Yang jelas, siapa yang merasa menjadi kupu-kupu adalah seorang yang merasa dirinya terlahir kembali dengan segala kebaikan yang melekat padanya. Bagi saya, seseorang yang merasa seperti itu saya anggap adalah orang yang sangat menghargai sebuah proses.

Sedangkan siput? Kita tahu bahwa siput adalah seekor hewan yang malu-malu. suka bersembunyi dalam rumahnya. Dan sangat lambat sekali untuk bergerak. Bisa jadi, lambang dari keberadaan siput adalah gambaran sebuah kesabaran dan “menikmati” perjalanan. Sampai saking lambatnya, mungkin dia adalah seorang yang benar-benar detail jika diminta menerangkan apa yang telah dilewatinya.

Siput dan kupu-kupu? Adalah perpaduan yang tidak sepadan dalam arti ruang dan waktu. Itupun saya dapati pada halaman “Tentang Kami” yang menerangkan tentang pribadi calon pengantin. “Hampir semua yang ada pada kami adalah beda.” Namun, sungguh sangat bijak ketika mereka dapat disatukan oleh “Cinta (Misi dan Jiwa)”. Bisa jadi keduanya sangat menyadari benar perbedaan tersebut, namun, pada akhirnya mereka akan menginjak ke pelaminan.

Ada yang menarik lagi bagi saya pada undangan yang saya terima itu. Adalah doa calon pengantin. Saya akan jujur, bahwa saya membaca sampai pada akhir setiap kata-katanya. Entah itu benar-benar doa mereka atau dibuat oleh desaigner undangan. Namun doa yang mereka panjatkan dapat membuat saya terharu.
:
Doa Kami

Habib:
Berkenanlah Engkau Yaa Rabb,..
Menjadikan hadirnya seorang wanita berada di samping
Hamba_Mu yang lemah ini
Menjadikan hadirnya seorang wanita memberikan kesejukan
Dalam rona-rona biru hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan lembut dan kelembutannya
Menjadikan karang dalam hati ini,…luluhhh
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan sabar dan kesabarannya
Menjdikan hati ini mampu mencapai Mardhatillah bersamanya…
Menjdaikan hadirnya seorang wanita dalam hari-hari
Menapaki jalan hidup di dunia menuju Akhirat yang abadi
Menjadikan hadirnya seorang wanita pengarah arah tujuan
Manakala terdapat khilaf dalam menapaki jalan hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita,.. sebagai kekuatan setelah kekuatan_Mu dengan doanya
Menjadikan hadirnya seorang wanita dnegan ketaatannya
Memasukkan kami bersama dirinya dalam Syurga dengan Ridho_Mu

Eni:
Dalam jalani hidup dan kehidupan
Tuhanku…
Aku berdoa untuk seiorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Tuhanku…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuik mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkandiriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Tuhanku…
Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekadar cintaku..


Pada akhir doa, masih ditambah lagi kalimat: Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: “Betapa Maha Besar Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

Bagi saya sungguh menjadi doa yang menggetarkan. Bukan karena umur saya yang mendekatinya, tapi karena ada ketulusan yang saya rasakan. Ketulusan yang tidak muluk-muluk. Ketulusan yang muncul dari hati.

Bisa jadi saya iri pada keduanya. Dan membaca kedua doa tersebut, saya berpikir, kapan saya dapat membacanya? Juga kapan saya akan didoakan seperti itu. Hmm…mungkin saat ini saya hanya bisa berdoa, Ya Allah…berikanlah kekuatan pada kami sedikit kekuatanmu untuk kesabaran kami menunggu saat-saat itu terjadi. Jagalah kami seperti kami juga berniat untuk menjaga diri masing-masing sampai pada waktunya nanti. Amin…

Doa dan Ikrar? Menjadi benar-benar sakral ketika berada pada momentum yang tepat. Sebelum Ikrar itu benar-benar diucapkan. Doa adalah tempat yang paling tepat untuk meletakkan janji. Dan sebuah Nadzar adalah perwujudan dari seberapa besar kesungguhan akan hal itu. Sekali lagi, semoga Allah memberikan jalan yang terang…

Solo, 20 Mei 2009
Agus Raharjo

Perjalanan

Rabu, tanggal 13 Mei 2009, hari dimana saya merasakan titik kegelisahan pada puncaknya. Saat itu, saya, seperti kebiasaan lama, berencana “menikmati” setiap permasalahan dalam sebuah perjalanan. Dan akhirnya, siang hari saya merencanakan untuk bersepeda. Bukan jalan-jalan, seperti yang biasanya. Karena perjalanan yang saya tempuh hari itu adalah sebuah perjalanan yang agak jauh. Disamping proses merenung dan berpikir, saya juga mempunyai amanat dari seorang teman mengambil surat rahasia dan penting (saya tahu setelah saya menerima surat itu).

Sampai pada sore harinya, saya benar-benar melaksanakan perjalanan itu. Dan saya memang merencanakan akhir dari perjalanan itu adalah masjid dimana saya belajar bagaimana berhadapan dengan anak-anak.

Lalu, dimulailah perjalanan pada sore itu. Saya dengan semangat seprti biasanya, hendak menjernihkan pikiran dengan merenungi semua permasalahan dalam sebuah perjalanan. Memang bukan perjalanan yang menyenangkan, namun setidaknya ada yang bisa saya resapi dari perjalanan singkat itu. Tentang semuanya. Apa yang saya lalui, apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, apa yang saya menimpa saya, dan apa yang tengah menunggu saya di sana. Semuanya mirip sebuah miniatur kehidupan.

Dari sebuah awal, saya sampai pada persinggahan pertama. Yaitu etmpat mengambil surat amanat dari teman saya yang telah jauh. Surat rahasia dan penting. Disana saya bertemu dengan orang-orang yang bagi saya punya pengalamannya masing-masing dari kesan yang ditinggalkannya pada saya. Pada pengalaman itu, akan saya ingat bagaimana karakter dari masing-masing individu yang melekat pada mereka. Tentang sebuah kesombongan, keangkuhan, sok pahlawan, sok penting. Walaupun tidak semuanya memberi kesan negatif, karena ada juga kesan-kesan positif yang diberikan pada saya dari orang-orang tertentu juga. Entahlah, mungkin semua itu adalah suka duka bernafas di dunia. Saya maklumi saja.

Ketika saya keluar dati persinggahan pertama, saya langsung berpikiran pada persinggahan berikutnya. Sebuah tempat yang dulu pernah saya kunjungi, dan orang yang saya anggap dekat dengan saya. saya bilang seperti itu, karena saya pernah melihatnya dari titik nol menjadi seperti dia yang sekarang ini saya kenal. Mungkin tidak sia-sia saya merasa ikut mendidiknya menjadi seperti sekarang ini. Meskipun dari dulu, sosoknya dapat membuat saya tersenyum karena kepolosannya.

Untuk lebih menikmati perjalanan, saya sengaja melewati sebuah makam yang dapat dikatakan besar di daerah itu. Pracimaloyo. Padanya, saya hanya melihat banyak sekali nisan-nisan yang tertancap dalam tanah, dengan nama-nama orang yang terbaring dibawahnya. Ketika itu, saya merasa dekat sekali dengan kematian. Ada rasa putus asa yang membuat saya pasrah pada kehidupan. Ada perasaan ditinggalkan yang begitu besar, juga ada kehilangan yang begitu berat untuk saya tanggung. Saat seperti itulah sepertinya mengingat kematian adalah sesuatu yang pas. Karena kematian juga menjadi sebuah cara tentang rasa kehilangan itu. Kehilangan mutlak yang tak akan pernah kita dapatkan lagi. Dan memang saat itu, saya benar-benar dicekam rasa kehilangan yang paling berat dalam hidup saya. Saya sungguh dibuat takut tak terkira padanya.

Dan pada tengah perjalanan saya di makam-makam tersebut, saya melewati sebuah jalan kecil yang dulu pernah saya lewati. Juga tentang rasa kehilangan. Diujung jalan kecil itu, saya tahu ada seorang wanita yang akan seklalu dirindukan oleh laki-laki yang senantiasa berpikir realistis itu. Di dalam tanah itu, terbaring wanita yang telah berjuang sekian tahun pada penyakit kanker yang akhirnya membawanya terpisah pada keluarganya. Meskipun saya tak melihat laki-laki yang saya kenal itu menitikkan airmata, namun saya percaya ada rasa kehilangan mutlak yang menyelimutinya. Tapi saya benar-benar kagum, pada apa yang diperlihatkannya. Dia begitu tabah menghadapi kehilangan itu. Tidak seperti adik perempuannya, yang menangis pilu ketika liang dalam tanah memeluk sang ibu. Ada suasana sedih dari pada jalan kecil itu, yang dulu masih basah oleh hujan, juga pada liangnya masih digenang air hujan.

Mengingat pengalaman itu, juga pengalaman-pengalaman lain pada nisan-nisan yang tertancap pada tanah diatas liang kubur itu, membuat saya berpikir tentang menghadapi sebuah rasa kehilangan. Barangkali saya masih beruntung, karena rasa kehilangan yang menakuti saya adalah bukan karena kematian. Dan kehilangan seperti itu tidak selamanya. Mungkin saja akan ada yang mengisi kekosongan padanya. Meskipun demikian saya sangat takut mengalami rasa kehilangan itu. Saya mencoba untuk ikhlas dan berpikir realistis, meskipun berat. Lalu dengan kesedihan dalam dada, akhirnya say keluar dari kompleks makam Pracimaloyo. Sebelum benar-benar meninggalkannya, sebentar saya melihat nama tempat itu. Saya berpikir, tempat inilah akhir dari perjalannan saya di dunia. Dan bisa jadi saya akan segera terbaring dalam liang tanah seperti mereka yang lebih dulu telah terbaring. Entah kapan.

Setelah benar-benar meninggalkannya, ada perasaan baru yang melingkupi dada saya. ada kenangan-kenangan kecil ketika saya akan bertemu dengan seseorang yang dekat dengan saya ketika kita sama-sama belajar dalam sebuah proses. Bisa saya sebut sebuah jenjang belajar menjadi dewasa. Hingga pada akhirnya, dari pembelajaran itu akan kami gunakan untuk dapat bertahan dalam masyarakat. Dan sore itu, dia sedang mengajar TPA anak-anak di kampungnya. Saya berencana membatunya. Saya akui, sekarang saya suka bersama anak kecil. Mungkin dengan mereka saya belajar menjadi seorang yang dewasa. Seperti orang itu, dia yang dimata saya tetap lucu dengan kepolosannya, saya lihat menjadi dewasa dihadapan anak kecil. Sungguh hanya naluri yang dapat merubah semua itu dengan tiba-tiba.

Mungkin inilah sebuah singkat “menikmati” perjalanan bagi saya. pada akhirnya, saya memang telah belajar menjadi ikhlas bangaiman menghadapi rasa kehilangan itu. Meskipun sangat berat.

Note: Keesokan harinya rasa kehilangan itu telah berganti menjadi sebuah semangat. Terima kasih telah percaya padaku! Empat baris tulisan saya pada “Halaman Persembahan” benar adanya.
Untuk Yaya’, terimakasih telah mengajariku bagaimana menghadapi kehilangan itu.

Solo, 19 Mei 2009
Agus Raharjo

Kamis, 07 Mei 2009

Kisah

Ketika membaca “Dari Penjara ke Penjara”nya Tan Malaka, saya mendapat sebuah kesimpulan bahwa kisah terkadang patut untuk ditulis. Secara jujur, dan terang. Dan selama ini, kisah—sebagian orang menyebutnya “curahan hati”—bagi saya adalah sesuatu yang bersembunyi dibalik bayangan hidup yang paling pribadi. Dan selama ini kisah yang jujur hanya saya tulis untuk saya simpan sendiri pada sebuah buku warna biru yang saya beli sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Solo. Harapan saya semua dapat tertulis pada lembar-lembar kertas yang hanya saya yang membacanya. Walaupun terkadang, beberapa memang saya tulis untuk dapat dibaca orang lain. Meskipun dengan menyembunyikan maksud sesungguhnya. Saya masih berpendapat bahwa kisah hidup, bagi saya adalah sesuatu yang tabu untuk dikatakan dnegan jelas.

“Dari Penjara ke Penjara”, adalah sebuah kisah hidup yang ditulis dengan jujur oleh Tan Malaka. Meskipun tidak bisa lepas dari perspektif penulisnya sendiri tentang banyak hal. Dan dari dua jilid buku tersebut( jilid tiga belum saya baca), saya menemukan sebuah kisah yang secara jujur dapat menggetarkan. Kisah tentang sebuah perjuangan. Semuanya tentang pengalaman seorang tokoh Komunis sejati( dalam pandangan politiknya), berhadapan dengan ideologi imperialis. Dan selalu melawan bahkan dengan pribadinya. Ketika dulu saya takut mengenal kata komunis, tentu saja dengan pandangan miring yang menyertainya. Saya jadi merasa, saya telah masuk dalam jebakan kaum imperialis yang merupakan musush utama komunis. Dan saya selalu mendapati bahwa komunis adalah ateis (tak bertuhan), sedangkan yang saya dapati adalah Tan Malaka adalah seorang muslim dari orang tua yang taat beragama.

Mungkinkah dulu saya mengalami penyesatan yang luar biasa, hingga saya memaklumi semua pandangan miring tentang komunis itu? Membaca, buku-buku Tan Malaka, saya malah mendapati seorang sosok Nasionalis sejati. Semua hidupnya adalah untuk Republik Indonesia. dan pada seluruh umurnya adalah perjuangan. Mungkin Tan Malaka telah lupa bagaimana belajar untuk menikmati hasil dari perjuangannya, hingga dia hilang dari muka bumi ini.

Atau bisa jadi, perjuangan itulah yang memang lebih dia nikmati. Bukan hasilnya. Dan sebagai penghibur dari segala perjuangannya, dia lebih dapat menikmati sifat lugu rakyat jelata yang dapat mendorongnya untuk terus berjuang. Seperti yang dia katakan, ketika tinggal pada sebuah perkampungan di Kali Bata tentang para tetangganya.

Sifat rakyat jelata kita, selalu menghibur diri saya dan saya anggap satu sifat yang baik yang memberi penghargaan buat hari depan. Tahu berterima kasih dan menghargai anggota bangsa atau kaum yang berusaha membelabangsa atau kaum itu, adalah sifat pertama dan terutamauntuk menjadi bangsa yang merdeka dan terhormat!

Dari kalimat yang dia tulis, Tan Malaka sepertinya memang dapat terhibur dengan sifat rakyat jelata, yaitu rakyat kecil dengan segala keluguannya dan kebaikannya. Tentu saja masih dalam kaitannya adalah untuk berjuang, dan masa depan bangsa yang lebih baik lagi. Kalimat itu juga dapat ditafsirkan sebagai sebuah analisa seorang Tan Malaka untuk menjadikan sebuah bangsa yang terhormat.

Bukan kekayaan, bukan wanita, dan juga bukan kekuasann! Bukankah tiga hal itu yang senantiasa membuat lemah seorang laki-laki? Tapi justru ketiganya tidak kita temui dalam diri Tan Malaka. Kekayaan adalah bagaimana dia dapat sekadarnya bertahan hidup dalam berjuang. Wanita? Bahkan sampai maut menjemputnya, Tan Malaka tidak pernah menyebut seorang wanita yang mendampinginya. Sekali saja dia mengatakan bahwa ketika dia menjadi pelarian di Tiongkok, dia pernah dekat dekat dnegan wanita, tapi segera dapat dia alihkan karena sungguh berbahaya untuk keberadaan diri dan perjuangannya. Dan kekuasaan? Tan Malaka adalah sosok yang sebagian hidupnya adalah “menikmati” masa pembuangan. Selama kurang lebih 20 tahun dia diusir dari tanah air. Dan setelah kembali, ettap saja dia merasa mengasingkan diri hingga Indonesia merdeka. Dan setelah merdeka? Dia tetap menjadi seorang yang berjuang atas kebijakan pemerintah yang masih dia anggap membantu kaum penjajah, dan menyengsarakan rakyat.

Kisah yang seharusnya diketahui oleh kita, anak-anak negeri yang masih punya rasa nasionalisme. Bukan mengincar kekuasaan dan harta. Dan kisah seperti itu adalah sesuatu yang memang perlu untuk diceritakan dengan jelas dan terang. Justru tidak dibutuhkan kalimat-kalimat yang rumit untuk menceritakannya. Seperti juga saya pernah baca sebuah buku tentang pengalaman seorang gadis kecil Yahudi di tengah-tengah krisis Negara Jerman. Anne Frank, gadis itu dengan keluguannya menulis kisah hidupnya pada Diary. Lewat buku itu kita dapat ikut “menikmati” bagaimana hidup dalam persembunyian ditengah-tengah kemelut pembuangan dan pembantaian Jerman atas Yahudi.

***

Kisah hidup, dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain. Saya sendiri, adalah tipikal orang yang sulit untuk dinasehati, terlebih ketika nasehat itu keluar dari acara-acara training. Justru malah saya ingin tertawa sinis ketika mendengarnya. Karena bukan kata-katanya yang berbusa-busa itu yang dapat membangkitkan kesadaran saya. Akan tetapi justru dengan kisah hidup sesorang. Sampai berbusa-busa sekalipun, seorang trainer atau motivator bagi saya adalah bahan tertawaan. Terlebih ketika itu disampaikan di depan banyak orang. Mungkin, seorang psikolog lebih akan saya hargai. Karena dia berinteraksi secara pribadi dengan pasiennya. Jikalau saya harus menunjukkan siapa motivator terbaik saya di dunia, saya akan menunjuk salah seorang saudara saya. dengan satu kalimat positif saja, dapat menggerakkan semangat saya pada level tertinggi. Bukan karena kedalaman kata-katanya, tapi karena aku tahu kisah hidupnya. Dan sampoai sekarangpun saya masih kalah jauh padanya. Bukan karena dia saudara, tapi karena pengalaman dan kisah hidupnya yang saya tahu benar seperti apa.

Semua yang dialamai oleh orang lain adalah pelajaran dan perenungan bagi saya. Dari dulu saya suka mencermati orang lain. Mungkin saja itu yang membuat saya dapat langsung mengetahjui bagaimana karekter yang melekat pada diri seseorang. Tapi memang aneh, saya tidak dapat menjelaskan karakter-karakter itu. Saya hanya bisa merasakannya saja.

Begitu juga dengan urusan yang paling sensitif bagi laki-laki dan perempuan. Cinta. Selama ini saya tidak pernah mengalami apa itu pacaran, tapi saya heran, mengapa kebanyakan teman saya suka datang dan berkonsultasi pada saya? Aneh bukan? Saya saja heran. Dari sejak SMP, saya selalu jadi “rujukan” untuk konsultasi terkait satu kata yang rumit maknanya itu. Bisa jadi saya adalah seorang penghubung dari pengalaman orang yang lebih dulu pernah merasakannya untuk disalurkan pada orang yang sedang belajar paham. Atau mungkin karena saya adalah pendengar yang baik. Tapi memang semua kisah yang saya dengar akan saya renungkan dan pelajari.

Suatu kali saya pernah mengobrol dengan teman saya yang mau nikah saat makan malam bersama. Dia menasehati saya tentang cinta (dia bisa bicara karena sebentar lagi nikah), kra-kira begini: “ Jangan pernah kau tanyakan kepadanya mengapa dia mencintaimu!” Hanya itu!

Tapi dalam perenungan saya, kalimat itu memang sungguh-sungguh bermakna. Setelah saya pelajari dan renungkan, saya mendapati sebuah kesimpulan bahwa pertanyaan itu adalah sebuah ungkapan yang akan menimbulkan keraguan pada orang yang ditanya. Dan memang sangat berbahaya sekali ketika itu dikatakan pada orang yang telah saling merasakan itu. Bisa jadi dia akan ragu pada dirinya sendiri, atau justru dia akan mengira kita tidak percaya dnegannya. Semua itu adalah hal yang dapat melemahkan hubungan. Jadi, saran saya pada orang-orang yang telah menemukan “sayap kedua”nya, jangan pernah menanyakan hal itu.

Begitulah, sepertinya kadang kita perlu untuk mempelajari kisah-kisah orang lain. Agar kita sendiri lebih kuat daripada orang lain tersebut, dan yang paling penting kita lebih bisa siap menghadapi sesuatu. Apapun itu! Bukan hanya pada sekadar curahan hati, tapi sebuah perjalanan.

Tan Malaka, saya kira dia belum menemukan titik akhir dari perjalanannya hingga malaikat maut menjemputnya. Saya merasa, saya ingin menjadi seperti dia, tidak takluk pada harta, kekuasaan dan wanita. Entahlah, mungkin saya terlalu takut untuk merasa kehilangan pada ketiganya sebagai manusia. Serasa dibelenggu. Terlebih ketika perihal tersebut telah dekat dengan saya. Saya sendiri juga tidak mengerti, sampai kapan saya bisa seperti seorang Tan Malaka. Saya ingin kembali menjadi seperti dulu, tidak tergantung pada apapun. Setelah semua yang aku saya alami, saya ingin itu terjadi. Bisa jadi dengan sikap dingin itulah yang akan membekukan hati saya pada ketiganya. Dan saya hanya ingin berjuang, agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Dengan atau tanpa apa dan siapapun!

Solo, 8 Mei 2009
Agus Raharjo

Senin, 04 Mei 2009

Monolog: Sayap, Luka, dan Ajakan ke Atas.

Aku adalah burung, yang kehilangan satu sayap. Ah… aku bahkan tidak pernah merasa pasti, apakah sayap itu memang melekat. Yang kurasakan selama ini, aku serasa terbang. Aku telah terbang pada banyak tempat, banyak sekali. Dan semuanya seolah mendewasakan aku. Pada impian, dan cita-cita. Aku pernah singgah pada puncaknya yang tertinggi. Saat itu, aku bahkan tidak takut jatuh. Aku merasa sayapku lengkap. Meskipun hanya sekadar bayangannya saja. Tapi aku merasa kedua sayapku dapat mengepak, seutuhnya. Saling melengkapi.

Tiba-tiba aku merasa kesepian. Satu sayap itu telah terbang sendirian. Dan satu lagi masih melekat. Selama aku masih bernafas, yang melekat ini akan selalu ada. Itulah diriku. Dan yang terbang, menghilang itu? Entahlah…mungkin itu hanya bayangan dari sebuah pantulan cahaya yang paling suci.

Dan betapa dahsyat bayangan itu. Hingga mampu membuatku mampu mengitari tempat-tempat yang paling tinggi sekalipun. Sedangkan, aku adalah burung yang terbuang dari kawanan, sendirian. Bagaimaan aku dapat terbang lagi ketika sayapku tak lengkap? Aku hanya sendirian dan punya satu sayap saja. Kalau aku bergabung dengan kawanan, aku akan terasing. Aku bukanlah jenis seperti mereka. Mereka yang selalu dipuja karena dapat mengicaukan lagu suci pada rumah-rumah yang banyak disinggahi malaikat. Dan aku adalah burung yang tahu diri. Buluku yang tak indah, suaraku yang melengking, adalah aib bagi kawanan burung indah itu. Aku terlalu sadar untuk tidak membuat mereka tidak dipuja. Biarlah mereka tetap pada kawanannya. Yang saling mengepakkan sayap, saling menopang dengan yang lain, berkicau bersama dan saling bersahutan. Biarlah aku sendirian, sama seperti dulu, ketika aku keluar dari cangkang telurku. Dan kudapati sayapku hanya satu. Kerena ketika itu, aku adalah burung yang tidak terbang. Hanya berjalan, berjalan, dan berjalan. Mungkin sesaat, kadang aku juga perlu untuk berlari. Tapi tidak pernah terbang, tidak pernah.

Seharusnya aku tahu, bahwa ketika sayap itu tiba-tiba ada, menawarkan dirinya untuk membawaku terbang, aku sekuat tenaga menolaknya. Karena aku tahu, ketika aku terbang, rasa sakit terjatuh lebih menyakitkan daripada ketika dulu aku berjalan dan berlari.

Tapi sayap itu terlalu nyaman. Dan sayapku terlanjur kesepian. Katanya dia butuh teman agar merasa sempurna. Dan sayap itu terlalu sempurna. Padahal aku juga telah menasehatinya, bahwa tidak perlu sayap yang bagus untuknya. Yang penting sayap yang selalu setia dan nyaman saja. Bukan sayap dari pantulan cahaya suci. Tapi aku juga tak mampu menahannya. Dia terlalu terbuai pada sayap itu. Katanya sayap itu datang diiringi sebuah lagu. Lagu yang selama ini aku dnegar, tapi tak tahu lagu apakah itu. Yang kulihat pada lagu itu, adalah gambaran seorang bidadari. Ah… apakah bidadari juga punya sayap. Karena yang aku tahu, mereka ada di atas. Sebenar-benarnya aku ingin melihat mereka, mengagumi keindahannya. Tapi bagaimana aku dapat terbang ke atas kalau sayapku hanya satu? Tidak lengkap.

Barangkali, sayap yang telah hilang, telah menemukan sayap keduanya pada kawanan burung yang bersama-sama hijrah itu. Dan barangkali juga, hijrah mereka adalah ke atas. Bukankah bayangan akan terpantul menjauh dari cahaya? Sedangkan cahaya ada di atas, dan aku ada di bawah. Jadi memang benar, sayap itu sebenarnya juga ada di atas. Dan menuju ke atas, menjauh dariku. Hanya bayangannya saja yang menyertaiku. Karena sesungguhnya, sayap itu juga ada di antara kawanan yang terbang ke atas. Aku masih ada di bawah. Andai saja memang ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku akan turut serta, karena tidak ada yang aku risaukan di bawah. Aku tidak perlu takut untuk meninggalkan siapapun. Karena aku independent.

Hei… bukankah aku burung yang merdeka? Mengapa sekarang aku merasa kehilangan seberat ini? Apakah aku sebenarnya tidak merdeka sama sekali?! Bayangan sayap itukah penjaraku? Tapi sebesar apakah penjara itu hingga aku dapat terbang dan singgah pada tempat-tempat yang jauh dan tinggi? Ataukah hanya yang ada dalam dada ini yang terpenjara? Mungkin memang hanya itu. Organ kecil yang mengatur emosi dan hasrat. Namanya hati. Tapi bukankah aku adalah burung? Mengapa juga dapat merasa punya hati? Bukankah hati hanya dapat dirasakan oleh manusia saja? Manusia yang kebanyakan tolol untuk hati dan pikirannya. Sungguh ketololan luar biasa ketika anugerah itu masih membuat mereka seperti hewan.

Tapi sungguh, aku merasa bebas dalam penjara itu. Dan ketika sayap itu terbang bersama sayap yang lain, penjara itu serasa menyisakan luka. Bahkan aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya. Kalau aku saja tidak tahu, bagaimana yang lain dapat menyembuhkannya? Sedangkan hanya aku yang merasakan luka itu. Lagipula aku tidak punya teman. Siapa yang akan membantu membalut luka itu? Ah…. Luka itu?! Karenanya, sesaat aku menjelma seorang penyair. Aku mampu meresapi luka itu dengan kalimat yang sederhana tapi dalam untukku.. Luka:

Seperti hujan meninggalkan basah
Seperti api menyisakan bara
Dan seperti itulah luka
Sesaat setelah kau meninggalkanku
(AR, April 2009)

Kalau saja Haris Firdaus, penyair muda itu benar, bahwa ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku ingin mengikutinya. Karena luka terlalu perih dan menyakitkan. Mungkin dengan mengikuti ajakan, aku terbebas dari luka yang menyakitkan atau bahkan dari burung yang berharap pada sayap kedua untuk terbang ke atas.

Atau bila aku punya pilihan, aku akan memilih tetap tidur dalam cangkang telurku. Biarlah terlelap sampai mati sebelum lahir. Dengannya aku tidak akan melihat sayap itu, atau merasakan perih terluka karenanya. Tapi pilihan itu telah ada, sebelum aku merasa dilahirkan. Sekarang aku terlanjur lahir.

Dan aku adalah burung yang hanya punya satu sayap. Sedang mencari sayap kedua untuk dapat terbang ke atas. Dalam kesepian, bukan dengan kawanan.


*Judul Cerpen Haris Firdaus.
Ris, adakah ajakan itu?



Klaten, 2 Mei 2009
Agus Raharjo.

NOCTURNO: Malam Hari dan Kesepian

Nocturno, kata yang begitu dekat menjadi metafora dalam menggambarkan sebuah titik rendah dalam religiusitas seorang manusia. Dan tentu saja bagi seorang penyair sekalipun. Kata itu menjadi sangat pas ketika sebuah ketidakberdayaan maupun kesepian berada pada derajat paling puncak pada tingkatannya.

Dalam kesederhanaan kata-katanya namun dapat dirasakan pada bagian terdalam dalam hati manusia, Sapardi Djoko Damono menggambarkan Nokturno sebagai sebuah lagu yang bernada sendu. Penyair kelahiran Solo ini melukiskan sebuah kepasrahan dalam puisinya.

Kepasrahan untuk menyerahkan pada sesuatu yang lebih terang dari pada dirinya sendiri. Seolah dalam keadaan yang patah asa dia berkata pada sesuatu, atau bahkan seseorang, kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Karena dia yakin, ‘yang lain’ itulah yang dapat memberinya kejelasan dalam terang.

Ketidakberdayaan itu semakin terlihat jelas ketika ‘yang lain’, terlihat terlihat bersifat aktif dalam perebutan akan sesuatu itu. Bukan lagi hanya diam menunggu sang penyair menyerah, tapi telah memaksa pada diri sang penyair. Dangan sesuatu yang sebelumnya tidak diduga oleh penyair sendiri.

Hanya isyarat atau tanda yang dapat tersisa dari yang lain itu. Dan sesuatu dari sang penyair telah hilang dari dirinya. Tanpa dia dapat mencegahnya. Bahkan mungkin tanpa dia dapat mengira sebelumnya. Sebuah laku yang putus asa. Putus asa itulah yang membuat kita membuat laku yang tanpa prediksi. Hanya tindakan yang serampangan, pasrah dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat terjadi di belakangnya. Mungkin itulah gambaran sebuah kepasrahan dan ketidakberdayaan. Kalah dari ‘yang lain’, seperti kalimat selanjutnya: Kubiarkan angin yang pucat/ Dan tak habis-habisnya/ gelisah/ Tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu/

Dan nyata sekali bahwa ketidakberdayaan itu mewujud dalam kalimat terakhir, yang secara bijaksana mengisyaratkan asa pada titik paling rendah. Yaitu ketidaktahuan dengan mengajukan pertanyaan yang semestinya dia sendiri yang dapat menjawabnya: Entah kapan kau bisa kutangkap…

Pertanyaan itu diucapkan bukan pada ‘yang hilang’. Justru pada dirinya sendiri. Sikap pesimis telah membuatnya bingung bahkan untuk menjawab pertanyaan yang hanya dia sendiri yang dapat menjawabnya.

Saya, ketika membaca puisi itu, dan dengan mengingat kata-kata Nokturno, membayangkan bahwa yang hilang dari diri sang penyair adalah seseorang. Bisa jadi, yang mempengaruhi saya berpikiran demikian adalah sebuah sinetron remaja yang dulu, sewaktu saya masih SMP pernah mengenalkan saya tentang kata Nokturno untuk pertama kali.

Pada moment yang saya ingat, Nokturno adalah sebuah metafor untuk sebuah kesendirian. Meskipun ketika saya melihat kata itu dalam sebuah kamus, saya mendapati arti sebuah lagu malam hari. Malam hari, bagi saya menjelma menjadi sebuah kesunyian, dan ketakutan akan mengingat sesuatu. Di sanalah kita akan bertemu dengan mimpi-mimpi. Dan disana pulalah kesunyian selalu lekat pada diri kita. Seperti juga gambaran Nocturno-nya Chairil Anwar: Aku menyeru--tapi tidak satu suara/ Membalas, hanya mati di beku udara.

Ada rasa membutuhkan yang sangat besar ketika kita terbangun pada moment-moment malam hari. Dalam kesendirian itu, kita menjadi seorang tak berdaya tanpa ‘yang lain’. Segala semangat juga keinginan, tak beranjak dari tempatnya. Hanya menjadi keinginan dan semangat yang tersimpan dalam diri kita saja. Yang semakin bergejolak dan membuat rasa nyeri dalam jiwa kita. Seolah kita tengah merindukan sesuatu tapi tak pernah sampai juga sesuatu itu pada kita.

Chairil Anwar, penyair yang disebut-sebut pelopor lewat puisi-puisinya, pada bait selanjutnya juga mengurai kedalaman rasa seperti itu dengan kata-katanya: Dalam diriku terbujur keinginan/ Juga tidak bernyawa// Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/ Patah kapak, sia-sia berdaya/ Dalam cekikan hatiku

Di dalam benak saya, bercermin dari pandangan religius, ketika ada anggapan bahwa kita akan lebih dekat dengan Yang Esa, ketika kita bermunajat pada sepertiga malam, adalah sesuatu yang sangat benar. Ketika pada malam hati, kesunyian yang teramat sangat menggelayuti, juga kegundahan luar biasa menerpa, pada momentum itulah kita serasa dapat menerima sesuatu lebih lapang. Karena saat-saat itu kita berada dalam sebuah kerinduan yang memuncak. Karena bias jadi apa yang kita rindukan adalah sesuatu yang sifatnya abstrak.

Saya tidak akan heran, ketika ada seseorang yang dalam waktu-waktu seperti itu dapat meneteskan airmata ketika bermunajat. Bahkan, tanpa bermunajat sekalipun kegundahan dan kerinduan itu dapat memberatkan air yang selalu tersimpan dalam mata kita. Dan tanpa kita sadari, mengalir membasahi kedua pipi kita.

Ketika kita berbicara tentang kesepian, mungkin Nocturno adalah yang paling tepat sebagai metafornya. Nocturno yang berbicara tentang malam, juga tentang kesunyian itu sendiri. Bukan hanya Sapardi dan Chairil yang dapat merasakan romantisme malam hari, tapi dalam sisi religius seseorang, kita bahkan perlu untuk menyelami kesunyian itu, agar kita lebih dekat dengan Yang Esa.


29 April 2009
Agus Raharjo