Ketika tragedi ’65 terjadi, saat itulah Orde Lama mengalami akhir masanya. Sebagai gantinya, bagi saya Orde Baru lahir dari sebuah ironi yang tak lucu. Ada banyak pertanyaan yang ‘dibungkam’ terkait peristiwa yang kita kenal sebagai Gerakan 30 September (G30S PKI) setelah rezim baru itu muncul bak sang juru selamat. Peristiwa yang disusun sangat apik dalam tatanan politik untuk sebuah kekuasaan. Bahkan ‘pembungkaman’ itu berlanjut hingga berakhirnya rezim Orde Baru itu diruntuhkan oleh Reformasi.
Ketika saya masih kecil, yang ada dalam bacaan buku sejarah saya adalah bahwa PKI adalah partai yang ‘seharusnya’ tidak ada di Indonesia. PKI adalah manifestasi dari bahaya laten sebuah kudeta. Sampai akhirnya peristiwa ’98 membuat semuanya seolah mengalami pembalikan.
Yang saya tahu sebelumnya dalam buku sejarah, juga film terkait G30S PKI—yang tak tahu malu-- bahwa PKI adalah kumpulan algojo yang dengan entengnya mengakhiri hidup sesama manusia. Bahkan dalam film yang baru saja sekilas saya saksikan, sosok yang digambarkan menenteng palu dan arit tersebut menghabisi orang-orang yang selesai menjalankan sholat shubuh di masjid. Semua itu menjadi sebuah hal yang wajar dan dimaklumi ketika kita ada dalam masa kekuasaan rezim paling lama di Indonesia sampai saat ini tersebut. Namun, ketika lembaran fakta-fakta mulai dibuka kembali, semua propaganda itu menjadi sebuah tontonan yang tak lebih dari sebuah lelucon belaka.
Di satu sisi, saya menertawai diri saya pribadi dan orang-orang yang telah dibodohi sekian lamanya. Di sisi yang lain, saya ingin menertawai sekeras-kerasnya pada semua pembuat propaganda itu, karena mereka dapat membuat serial komedi yang berbentuk buku dan film. Namun tak bisa dipungkiri, propaganda saat itu seolah disusun dengan sangat lihai oleh ahlinya.
Wajah Perempuan Komunis
Perempuan Komunis adalah bagian lain dari sebuah elegi G30S PKI. Mereka adalah perempuan-perempuan ‘yang sengaja dikorbankan’. Terlebih bagi mereka anggota Gerwani dan semua ormas yang berafiliasi dengan PKI. Setelah tragedi pembunuhan para Jendral di Lubang Buaya, perempuan komunis menjadi sosok yang diburu dan paling banyak mengalami siksaan. Tak salah ketika Wieringa mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut membuat banyak pihak mempersetankan perempuan komunis. N Bukan hal yang main-main, perempuan komunis menerima hukuman yang tak pernah tahu apa kesalahannya.
Banyak tuduhan ditimpakan pada perempuan-perempuan komunis sehingga banyak pihak yang seolah menganggap mereka adalah perempuan biadab. Hal ini sangat bisa dimaklumi, sebab Indonesia adalah negara yang mayoritas adalah penganut Islam. Ketika dihadapkan pada ‘sandiwara’ bahwa perempuan komunis telah melakukan tindakan senonoh dan keji pada jenderal-jenderal yang mati di Lubang Buaya, maka penganut Islam akan menganggap bahwa mereka adalah perempuan setan. Sungguh ironis namun cerdik. Seolah semua hal itu telah lama dipikirkan oleh ‘sang sutradara’. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa begitu bodohnya yang mengaku muslim tersebut termakan hasutan?! Hingga tidak terasa ikut andil dalam menghilangkan banyak nyawa yang seharusnya tidak terjadi demikian gampang.
Lagipula, anggapan bahwa penganut paham komunis adalah seorang ateis yag patut ‘diperangi’ masih dipertanyakan. Namun, semua itu telah terjadi, dan biarlah menjadi masa kelam bagi rakyat Indonesia.
Ada banyak hal yang patut kita ketahui perihal tentang gerakan membumikan rakyat Indonesia tersebut. Juga cerita-cerita tentang tindakan semena-mena yang diterima ‘perempuan setan’. Banyak kisah yang perlu kita cermati tentang penderitaan mereka. Akan tetapi, hingga sekarangpun banyak yang masih menyimpan memori bahwa PKI adalah bahaya laten dari manifestasi kekejaman dan keberingasan atas kekuasaan.
Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar akan dilaksanakannya syuting film Lastri. Film tersebuat adalah film yang menceritakan keadaan perempuan korban dari kebengisan sesungguhnya dari lahirnya Orde Baru. Namun diluar dugaan, syuting film tersebut mendapat tentangan dari sebuah ormas Islam di Solo. Pertanyaannya adalah kenapa hal itu ditentang? Ketika hal itu ditakutkan menimbulkan kembali bahaya laten PKI, bukankah itu adalah sesuatu hal yang tidak perlu? Ataukah karena ditakutkan bahwa film tersebut akan menampilkan adegan-adegan penyiksaan seksual pada kaum perempuan? Diluar nanti terhalang dengan badan sensor, lagipula itulah realita yang sebenarnya terjadi disekitar lahirnya Orde Baru. Setidaknya hal itu saya ketahui setelah membaca “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65”nya Ita F. Nadia.
Dalam bukunya, Ita menulis pengalaman kejam yang dialami oleh perempuan-perempuan komunis untuk melahirkan rezim Orde Baru. Dalam kesaksian pertama akan kita temukan kata-kata “Akhirnya Pemerkosa itu Jenderal Pensiun”. Sungguh ironis, sang penjahat malah dapat menikmati ketenangan dalam masa pensiunnya. Siapakah sebenarnya yang tidak mempunyai hati nurani?
Lalu ada satu peristiwa yang bagi saya seorang laki-laki sungguh sangat biadab, ketika salah seorang korban menuturkan dalam buku Ita ketika dipenjara di Tanjung Gusta: “Mereka sengaja ingin mempertontonkan kepada suami saya, bagaimana saya diperkosa oleh beberapa laki-laki bergiliran. Jika suami saya menundukkan wajahnya, mereka menampar mukanya.” Sekali lagi saya bertanya, siapa sebenarnya yang biadab disini? Apakah mereka orang-orang PKI itu? Yang mengajari masyarakat kecil membaca dan menulis? Ataukah serdadu yang ‘menjadi’ juru selamat? Sungguh ironis.
Maka saya sedikit berlelucon, bahwa Orde Baru lahir dari rahim-rahim perempuan yang diangggap setan. Atau seperti kutipan dari salah seorang korban yang bernama Yanti, bahwa Orde Baru “Membangun Kekuasaan di atas Perkosaan.”
13 Januari 2010
Agus Raharjo
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Januari 2010
Minggu, 12 April 2009
Ucapkan Selamat Tinggal Pada Harapan
Tetralogi Laskar Pelangi, novel yang melambung tinggi bersama euphoria tema pendidikan nasib anak negeri. Sebuah potret ironi bagi semangat dan kenyataan dalam memandang apa sekolah itu.
Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.
Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.
Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.
Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.
Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.
Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.
“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.
Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.
Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.
Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.
Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.
Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.
Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.
“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”
Itu saja.
Solo, 11 April 2009
Agus Raharjo
Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.
Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.
Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.
Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.
Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.
Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.
“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.
Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.
Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.
Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.
Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.
Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.
Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.
“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”
Itu saja.
Solo, 11 April 2009
Agus Raharjo
Langganan:
Komentar (Atom)