Minggu, 18 Januari 2009

Kematian: Gambaran Sebuah Keniscayaan

Pada detik-detik yang terus berjalan, kematian terus saja mengintai. Seperti yang saya saksikan setiap hari. Bahkan mungkin orang lain di seluruh dunia juga tahu, karena kematian menjadi sebuah ruang kelam yang menarik untuk disaksikan. Ya, melalui sebuah kotak kecil elektronik yang bernama televisi. Sebuah kematian menyentuh bagian terdalam manusia, hingga kita dibuat ngeri memikirkannya.

Apa yang terjadi dengan ruang gelap dalam misteri kematian yang selalu terjadi di bumi Palestina sekarang? Tidakkah kematian itu niscaya pasti datang? Mengapa kematian begitu mudahnya menjadi sebuah akibat?

Baru saja saya selesai menonton sebuah film best foreign language film. The Barbarian Invasions, itulah judulnya. Film yang bagi saya menceritakan perihal sebuah kematian, dengan dramatisasi yang dibuat lucu sekaligus mengharukan.

“Aku ingin bersama teman-temanku”

Kalimat itu keluar dari Remy Girard ketika dia tidak mau dipindah ke rumah sakit yang lebih bisa merawatnya. Tapi bukan menolongnya. Karena keadaan sakit yang telah parah dideritanya. Mungkin dia tahu bahwa kematian menjadi sebuah keniscayaan yang akan dialaminya saat itu. Dan harapannya adalah bersama teman-temannyalah dia ingin menghadapi kematian itu.

Mau tak mau, Sebastian, putra Remy ingin mewujudkan keinginan ayahnya untuk menjelang kematian yang niscaya akan datang pada ayahnya. Dengan tidak ada rasa sakit, juga kesepian. Sang ayah dibuat bahagia dengan cara-cara yang mungkin bagi kita sungguh aneh. Bagi Sebastian, dengan bekal uang yang dia miliki—dia tergolong di atas rata-rata dalam materi—dia dengan mudah dapat mewujudkan keinginan ayahnya itu.

Dan langkah pertamanya adalah menghubungi semua teman-teman ayahnya, waktu muda dulu. Alhasil, berkumpullah orang-orang yang sudah tidak muda lagi dengan mengenang masa-masa ‘nakal’ waktu muda dulu.. Mungkin dalam pikiran Sebastian, meskipun sementara, apa yang dia perbuat adalah yang terbaik untuk ayahnya.

Apa yang dilakukan Sebastian sebagai bakti seorang anak ‘mengantar’ ayahnya pada sebuah kematian, adalah usaha yang terbilang ‘sembrono’. Betapa tidak. Dia memenuhi segala apa yang menjadi kesenangan ayahnya. Mulai dari mendesain kamar pasien yang baru, mendatangkan mantan mahasiswanya—meskipun dengan dibayar—, bahkan menyediakan heroin untuk dinikmati. Dan yang terakhir, menghilangkan rasa sakit dalam menjemput kematian dengan menyuntik semacam cairan—entah cairan apa.

***

Kematian, menjadi sebuah fenomena yang tak lepas dari bayang-bayang ruang gelap—kesedihan, haru, ngeri, perpisahan, kesepian, juga kepergian. Terlepas dari itu semua, kematian adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi pada setiap yang hidup. Setelah hidup, kemudian datang kematian. Entah dengan kerelaan ataupun penyesalan, dia menghantui setiap saat dalam waktu kita. Seolah dialah bayang yang dengan setia mengikuti kemana kita berada. Dan nantinya hanya sebuah nisan yang dapat mempercantik tempat kita.

Bagi penyair, kematian menjelma menjadi sebuah nuansa yang agaknya dibaca dengan segala ‘kenakalan’ pribadinya. Entah dalam kata, kalimat, maupun bait, kematian dirasai menjadi jalan bagi terciptanya baris-baris perasaan pengarang.

Lihatlah bait-bait puisi “Nisan” Chairil Anwar: Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertakhta//

Meskipun kematian adalah duka yang dalam, sang penyair menggambarkan sebuah keterterimaan atas resiko kehilangan karenanya. Sebuah rasa rela atau pasrah kehilangan karena kematian. Mungkin itulah yang Chairil gariskan dalam hidupnya ketika kematian yang niscaya telah merenggut nenekandanya. Terlepas bagaimana perasaan Chairil kepada nenekanda dimana puisi itu ditujukan.

Dalam pikiran saya, mungkin puisi itu ditulis Chairil sembari membayangkan sebuah nisan yang tertancap di atas pusara nenekandanya, atau bahkan saat Chairil menatap diam nisan itu. Merenung, dan dan bertanya kemana kematian membawa perpisahan itu datang.

Kematian memang menjadi sesuatu yang pasti. Hanya waktu saja yang membuktikan hal itu terjadi. Pada detik-detik dimana kita tidak bisa bersembunyi dimanapun, juga berlindung pada apapun.

Bagi seorang Kahlil Gibran, kematian tak ubahnya sebuah kepergian biasa. Seperti dalam penggalan kata-katanya “Di Hadapan Kematian”:…Keberangkatanku sekarang ini tidak akan berbeda dari kepergianku besok atau lusa. Karena, hari-hari kita akan musnah seperti dedaunan di waktu musim gugur. Saat kematianku telah begitu dekat,…”

Pada akhirnya, sebuah keniscayaan adalah sebuah kepastian. Tentang kematian dengan segala gambaran yang menyertainya. Hanya yang sungguh rela menyambut datangnyalah yang akan menepiskan kematian keluar dari bayang-bayang ruang gelap disisi manusia. Dan sampailah kita memberi senyum pada kematian itu.


Solo, Januari 2009
Agus Raharjo

Jumat, 16 Januari 2009

Agama: Spiritual Kebenaran

“Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan sampai jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan”

Kalimat tersebut mengalir dalam “Bilangan Fu”nya Ayu Utami ketika Parang Jati bertemu dengan Yuda sesaat setelah ia mendaftarkan ‘agama’ barunya pada Departemen Kebudayaan. Memang bukan pada Departemen Agama. Dan falsafah yang dianut agama baru itu adalah “laku kritik”.

Bagi Parang Jati, semua agama menawarkan kebenarannya masing-masing. Hingga sikap kritis terhadap kebenaran dalam agama sering dianggap sebagai sikap yang tidak beriman.

Agama, suatu waktu dapat mewujud menjadi sebuah harapan yang melambung tinggi atas sesuatu. Dan, dalam “Bilangan Fu”, Ayu Utami telah menggelitik kita akan eksistensi agama itu sendiri. Tentang sebuah kebenaran yang hanya berhak diketahui nantinya. Karena kebenaran itu misterius.

Agama mungkin telah ada sejak zaman purba, ketika orang-orang purba telah berharap pada sesuatu untuk mencapai atau menginginkan sesuatu. Atau hanya sekadar sebagai bentuk manifestasi dari rasa syukur karena mendapat sesuatu. Sebagai upayanya, sebuah ritual rela dilakukan. Jadi, agama maupun keyakinan tidak bisa lepas dari sebuah harapan. Tentang kebenarannya, kita tunggu saja nanti, mungkin begitu Parang Jati akan berkata.

Mungkin kita masih ingat, dalam sebuah doa, Joko Pinurbo secara terang mengatakan pengharapan manusia akan sesuatu itu dalam “Sehabis Sembahyang”: Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku// Terima kasih atas segala pemberianmu/ mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru/ yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya/ agar aku bisa lebih cepat mencapaimu//

Sebuah keyakinan maupun agama tidak akan dapat berdiri tegak jika dilihat dengan kaca mata rasional. Karena pada dasarnya sifat agama maupun keyakinan erat bersentuhan maupun mewujud dalam jiwa spiritual manusia.

“Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini”. Adalah sebuah penarikan garis batas antara sebuah keyakinan akan kebenaran dengan laku yang diharapkan terjadi di saat ini. Mungkin bagi Parang Jati, agama adalah sebuah bentuk pengabdian akan datangnya kebenaran nantinya. Dan itu sebuah keniscayaan. Namun, “laku kritik” menempatkan posisi manusia dalam bingkai aktivitas untuk hari ini. Saat manusia masih menginjakkan kaki di bumi. Tentang Surga ataupun Neraka, kebenaran itu datangnya nanti. Dan biarlah tetap seperti itu.

Pada hakikatnya, agama merupakan sarana yang dicari manusia agar tercipta ketentraman. Timbul karena kebutuhan spiritual yang tengah keresahan. Dihimpit rasa tertekan maupun kepenatan atas hiruk pikuk kehidupan di dunia. Sebagai sebuah pengharapan. Sekali lagi, agama maupun keyakinan selalu bertujuan untuk mengharapkan sesuatu.

Ketika manusia hidup dalam dunia yang serba menjunjung sikap rasional. Agama dan keyakinan terlihat telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan akan pemenuhan spiritual yang berada pada wilayah yang ‘tersudutkan’. Mungkin hanya sesaat bagi kita menengok kehidupan spiritual kita. Hingga agama hanya menjadi pelengkap dalam administrasi Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja.

Lihatlah sekarang, apakah keyakinan ataupun agama memang tempatnya ada diluar garis batas dunia dan akhirat? Itupun kalau memang masih percaya kebenaran akhirat. Tapi sekali lagi, biarlah kebenaran itu datang dengan sendirinya. Kita yang percaya hanya mampu memikulnya. Dalam keyakinan kita, bahwa kebenaran itu sebuah keniscayaan.

Ketika agama menjadi sebuah kebenaran yang hanya mampu diangankan. Dan kebenaran yang datang dari akhirat adalah kebenaran yang datang nantinya. Akankah manusia kehilangan kepercayaan sehingga kebenaran itu menjadi sesuatu yang absurd? Seperti kita tahu, hingga akhirnya Nietzsche menganggap ‘Tuhan telah mati’.

Dan sekarang. Nilai-nilai agama yang agaknya sulit untuk dimanifestasikan dalam keyakinan maupun laku, mulai direpresentasikan dengan nilai-nilai spiritual kekinian. Tanpa menghilangkan dogma-dogma nilai keyakinan, wujud spiritual dibahasakan dengan bahasa-bahasa bumi. Titik tekannya hampir sama dengan “laku kritik”nya Parang Jati. Biarlah kebenaran itu datangnya nanti. Mungkin di akhirat, atau Surga. Yang paling penting adalah kebaikan yang dilakukan hari ini. Yang ditimbulkan dari kesadaran dalam diri.

Kita sering mendengar kata-kata emotional, spiritual dan sebagainya mewujud dalam sebuah pelatihan maupun seminar-seminar. Mungkin, itulah bahasa tentang nilai-nilai spiritual dalam agama yang lebih mudah dipahami oleh manusia sekarang. Bukan dengan keyakinan akan kebenaran yang datangnya kelak di akhirat, melainkan nilai spiritual yang keluar dari dalam diri pribadi masing-masing.

Saya tidak pernah bisa mengerti, betapa mahalnya membangkitkan motivasi dan kesadaran spiritual sekarang. Apakah kita telah jauh terjebak dalam kungkungan dunia yang serba mengedepankan rasio manusia? Padahal, agama dan keyakinan saya rasa tidak dapat ditelan mentah-mentah menggunakan rasio manusia.

Hingga dapat kita lihat, setiap kali seminar maupun pelatihan spiritual, pasti banyak peminatnya. Meskipun harga tiketnya setinggi langit. Mungkin agama bagi manusia sekarang adalah segala hal yang nilai-nilai yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sekarang, yang sifatnya universal. Dan “Kebenaran harus kau pikul agar jangan sampai jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.”


Solo, Januari 2008
Agus Raharjo

Minggu, 23 November 2008

Cinta; “Kepada Seorang,”

Sebuah luapan bahagia mungkin dapat kita artikan itu cinta. Segenggam kerinduanpun kita katakan bahwa kita sedang jatuh cinta. Atau bahkan duka yang dalam yang kita rasakan juga kita namakan cinta. Lalu, apa sebenarnya cinta itu? Apakah sesuatu yang mandiri, berdiri sendiri. Seperti yang ditulis Kahlil Gibran: cinta tidak memberi apa-apa kecuali dirinya dan tidak membawa apa-apa kecuali dari dirinya/ Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki/ karena cinta sudah cukup bagi cinta//
Sebanyak apapun perbendaharaan kata yang kita miliki, sepertinya tidak akan pernah cukup untuk melukiskan atau mengungkapkan apa yang kita rasakan sebagai sebuah wujud dari cinta. Karena siapa tahu yang namanya cinta itu? Apakah kita akan berusaha menafsirkan dengan bahasa kita sendiri, lalu mencoba meresapinya. Mungkin makna yang akan dirasakan masing-masing orang akan berbeda. Atau kita perlu bertanya pada orang yang sedang merasakan itu?
Putu Wijaya, “sang teroris mental” mengartikan bahwa cinta adalah memberi dan menerima. Baginya, cinta adalah sebuah kombinasi yang tidak bisa diceraikan antara keinginan untuk memberi dan menerima. Tidak bisa dipisahkan. Karena kalau dipisahkan akan mempunyai arti yang lain. Apakah itu sudah cukup bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mendefinisikan cinta? Atau apakah bagi kita cinta selayaknya sebuah ketulusan seperti yang ditunjukkan Joko Pinurbo (Jokpin) dalam sajak “kepada puisi”nya: Kau adalah mata, aku air matamu? Meskipun ketulusan itu bukan ditujukan pada seseorang, melainkan pada puisi.
Lalu bagaimana orang yang berada dalam situasi dan kondisi berbeda dalam mengartikan cinta? Bahkan mungkin dengan berbagai ungkapan yang berbeda pula. Layaknya keinginan kesederhadaan Sapardi Djoko Damono dalam “Aku Ingin” : Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sampai sejauh ini, tema-tema cinta telah beranak-pinak menjelma menjadi karya-karya yang mengagung-agungkannya. Entah itu cinta yang telah diwujudkan dalam sebuah lirik lagu yang dibumbui dengan irama melodi yang menyentuh kedalaman hati. Atau banyak puisi yang dengan berbagai kelincahannya mencoba memaknainya. Cinta itu universal. Luas dan mungkin tak akan ada batasnya.
Tak seorangpun akan mampu untuk menolak kehadirannya, atau mungkin ingin menghadirkannya—dengan ketulusan yang nyata. Bahkan mungkin saya sendiri, sebagai manusia biasa yang mempunyai hati. Saya tak sanggup ketika harus menolak rasa yang semakin dalam menyergap dalam dada saya.
Pernah saya mencoba untuk mengabaikan kehadirannya. Mencari sesuatu yang membuat saya memikirkan seseorang yang telah membuat saya “duka”. Tetapi, yang terjadi adalah sebuah kegelisahan yang teramat sangat. Semakin saya mencoba untuk menyingkirkannya, semakin kuat resapannya merasuk ke jantung hati saya.
Bagi saya, rasa itu sungguh sangat menyakitkan. Sebuah duka. Bagaimana tidak? Saya berada pada posisi yang membingungkan. Saya tidak sanggup untuk membagi rasa itu kepada orang yang membuat saya “duka”. Bukan karena tidak berani, tapi pada kenyataannya bahwa rasa itu belum waktunya untuk dibagi. Sedangkan ketika saya hanya menyimpannya, maka yang tersiksa adalah saya. Saya hanya berharap, ketika memang rasa itu terlampau tajam merobek hati saya—semakin lama memang terasa—ada seseorang yang dapat menenangkannya. Dan dia yang “pantas” untuk tempat membagi itu. Lagi-lagi, semoga dia yang telah membuat saya “duka”.
Saya bukan seorang penyair yang dapat merangkai kata untuk mewakili sebuah arti cinta, juga bukan musisi yang dapat mengalirkan nada dalam penjelmaan terhadap cinta. Sulit memang, tapi itulah sebuah ambiguitas arti dari cinta. Tak ada yang dapat mematenkan apakah artinya. Kalaupun ada, pastilah banyak orang yang akan “membantah” arti yang dipunyai.
Meskipun demikian apa yang telah menjadi arti baku dari cinta itu, tak ada yang akan mengusik menurut masing-masing individu. Bagi saya sangat naïf ketika memaksakan orang lain untuk sama berpikiran seperti kita. Karena saya yakin latar belakang yang mewakili dari arti itu sangatlah beragam.
Saya sampai pada kesimpulan, saya tidak akan mencoba melawan kehadirannya, hanya memang saya perlu berpikir berkali-kali untuk dapat membagi cinta itu kepada yang membuat “duka”. Bukan tanpa alasan, hanya saya terlalu takut ketika cinta yang saya bagi tidak pernah membuatnya tersenyum. Lalu entah mengapa deretan kata-kata tiba-tiba muncul dari kedalaman hati. Mungkin salah satu cara mengalihkan rasa itu adalah saya harus menulisnya. Kata-kata ini adalah untuk seseorang yang membuat saya “duka”. “Kepada Seorang,”

Aku tidak ingin terpaksa tidak mencintaimu
Ketika mendengar lagu itu mengalun
Lirih di dalam hatiku
Kubiarkan saja rasa ini terus menusukku

Aku juga tidak ingin hanyut dalam mencintaimu
Yang membuatku memikirkanmu
Setiap saat dalam waktuku
Karena aku takut

Solo, 15 Oktober 2008
Akhirnya, itulah yang dapat saya resapi tentang apa itu sebuah cinta dengan latar belakang hidup saya. Saya yakin apa yang saya tulis belum sepenuhnya dapat mewakili arti kata-kata itu. Dan lebih bijaknya adalah saya serahkan kepada semua orang untuk mengartikan cintanya menurut apa yang menjadi kedalaman batinnya. Meskipun tema cinta adalah tema “usang” tetapi akan terus menjadi tema yang universal dan bagi orang yang merasakannya akan tetap menjadi yang mewakili hati.

Klaten, 22 Nopember 2008
Agus Raharjo