Adaptasi dari cerpen karya Jujur Prananto
Sutradara : Hanung Bramantyo
Pemain : Aming, Ramzi, Deddy Soetomo, Titi Kamal, Djojon, Nani Wijaya, Cici Tegal, Berliana Febrianti
Betapa himpitan kemiskinan menjadi suatu penyebab terjadinya hal-hal yang diluar batas akal sehat terjadi. Indonesia mencatat tidak hanya sedikit kasus yang mencengangkan kita akibat rasa takut akan kemiskinan. Alasan ekonimi sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga ketika berita buruk tersiar dalam media.
Hanung Bramantyo, hendak menyajikan titik ekstrim pada kita tentang rasa putus asa karena kemiskinan dari sisi religiusitas manusia. Terlebih pada seorang muslim, entah apa motifnya, karena memang kita terbiasa mendengar bahwa Islam identik dengan kemiskinan.
Lewat tokohnya Madrim (Aming), seorang kuli pasar yang hidupnya tidak pernah beranjak dari kekurangan dan kesengsaraan, ingin merubah nasib dengan sebuah doa yang bukan kebanyakan dilakukan. Iya, Madrim yang merasa telah putus asa, padahal kerja keras telah dia lakukan dan doa juga senantiasa dia panjatkan, tapi nasib tidak juga pernah berubah. Dan ditambah dengan minggatnya sang istri Leha (Titi Kamal), akhirnya dia mengucapkan doa “aneh” pada Tuhan. Doa yang mengancam.
Ya Allah, hari ini aku menghadapmu, ya Allah, limpahkan rizkimu, ya Allah, bebaskan aku, ya Allah, dari segala kemiskinan dan hutang, ya Allah. Ya Allah, kembalikan istriku, ya Allah, aku cinta dia aku butuh dia, ya Allah! Asal kamu tahu ya Allah, aku capek, aku lelah berdoa, ya Allah. Kalau dalam tiga hari tiga malam Kau tidak mengabulkan doaku, ya Allah, aku akan murtad, aku akan berpaling pada setan, ya Allah.
Kira-kira begitulah doa Madrim pada titik ekstrim keputusasaannya. Dilatari dengan hujan disertai petir, akhirnya Madrim beranjak pergi entah kemana. Sampai pada suatu tempat, dia tersambar petir. Tapi anehnya dia tidak mati. Justru karena tersambar petir itulah awal dari perubahan nasibnya, karena dia menjadi punya kemampuan untuk melihat masa lalu sampai sekarang hanya dengan melihat sebuah foto. Karena kemampuannya, dia menjadi orang yang tiba-tiba kaya.
Tapi ada kelemahan pada kemampuannya itu. Dia tidak dapat menggunakan kemampuannya itu untuk mencari keberadaan istrinya. Bukan hanya itu saja, dia juga dengan sengaja melihat masa lalu ibunya dan mendapati kenyataan yang membuatnya meninggalkan ibunya.
Rasa shock karena perubahan yang terjadi pada dirinya, membuat Madrim ingin menjadi seorang yang biasa lagi. Dia berdoa agar kekuatan yang dia dapatkan dihilangkan darinya. Tapi apa daya, dia sendiri tidak tahu apakah kekuatan itu asalnya dari Allah ataukah setan. Karena dia berfikir kekuatan itu berasal dari setan, ditengah mabuk dlam diskotek, dia minta pada setan dengan permintaan kira-kira sama ketika dia berdoa dulu. Dia meminta kalau kekuatan itu tidak diambilnya lagi, maka dia akan kembali pada Allah.
Bukan hilang kekauatan yang didapatnya, justru malah bertambah kemampuannya menjadi dapat melihat masa depan. Dengan semua itu, kemewahan yang sebelumnya didapatnya, menjadi lebih bertambah lagi. Tapi, lagi-lagi rasa kesepian semakin menjalari hidupnya. Semakin hari justru dia menjadi terbiasa mimpi buruk akibat rasa takut menanggung kemewahan yang terlanjur melekat padanya. Tak ada ibu yang menemaninya. Istri yang sekian lama tidak dilihatnya, sekali dilihat lalu bunuh diri. Pada saat itulah dia berada pada keadaan yang benar-benar kacau. Shock yang tak tertanggungkan, hingga halusinasi. Dan akhirnya pingsan hingga tak tanggung-tanggung sebulan lamanya.
Penyelesaian yang diberikan Hanung adalah, Madrim yang takut untuk berdoa pada Allah karena doa yang mengancamnya dulu, akhirnya mendapat semacam titik cerah dari sahabatnya, Kadin untuk senantiasa tawakal dan ikhlas pada Allah dan berdoa padaNya. “Karena doa siapapun pasti Allah dengerin. Siapapun!”
Dan akhirnya, Madrim kembali hidup normal dengan membuka warung di pasar tempatnya kerja dulu, bersama ibunya. Dia juga mendapat pengganti Leha, istrinya yang meninggal, dengan berencana melamar gadis yang bekerja di sebuah warung di pasar itu yang telah bangkrut. Sebuah akhir yang bahagia, seperti kebanyakan cerita-cerita hidayah.
Tapi memang sebenarnya, titik tekan film itu bukan pada akhir yang dapat ditebak, karena pertolongan Allah. Tapi sebuah gambaran simpul-simpul kemiskinan, keputusasaan, juga kekafiran. Bukankah kita juga mengetahui bahwa kamiskinan dan kefakiran itu lebih denkat dengan kekafiran.
Dilain pihak, ada nuansa dramatis pada liku hidup yang dialami oleh sang tokoh. Perubahan hidup dari kemiskinan dan keputusasaan menjadi kehidupan yang serba bergelimangan kemewahan tidak serta merta membuatnya bahagia. Ada sesuatu yang dirindukannya. Orang-orang yang dicintai, kerja keras, dan hidup normal dengan berbagai masalah yang menyelimutinya. Dan selalu tidak merasa kesepian.
Menurut saya, perubahan yang mendadak membuatnya tidak terbiasa dengan kehidupan yang berbeda. Proses. Itulah titik tekannya. Ibarat sebuah perjalanan, bukan pada titik akhir dimana sebuah pembelajaran itu ada, tapi terletak pada perjalanan itu sendiri. Sejauh mana kita mampu bertahan dan berjuang dalam liku perjalanan yang ditawarkan pada hidup kita. Dan doa, adalah sebuah ikhtiar religius pada Sang Pemberi Perjalanan. Bukankah Allah sesuai dengan apa yang kita sangkakan kepadaNya?
Solo, 15 April 2009
Agus Raharjo
Jumat, 17 April 2009
Minggu, 12 April 2009
Ucapkan Selamat Tinggal Pada Harapan
Tetralogi Laskar Pelangi, novel yang melambung tinggi bersama euphoria tema pendidikan nasib anak negeri. Sebuah potret ironi bagi semangat dan kenyataan dalam memandang apa sekolah itu.
Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.
Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.
Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.
Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.
Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.
Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.
“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.
Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.
Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.
Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.
Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.
Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.
Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.
“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”
Itu saja.
Solo, 11 April 2009
Agus Raharjo
Baru beberapa hari lalu saya menyelami dunia harapan dan semangat yang digariskan jelas oleh tulisan Andrea Hirata, yang juga Ikal dalam keempat novel itu. Yang paling terkesan dalam diri saya adalah sebuah semangat dalam harapan yang tipis, serta sebuah perjuangan melawan logika-logika yang dipandang mustahil oleh manusia.
Ikal, yang “dibutakan” oleh perempuan bermata sipit terus melawan hambatan-hambatan realitas dalam mencari keberadaan cinta pertamanya. Setelah berpisah belasan tahun, sejak gadis itu pergi, Ikal masih saja memegang harapan bertemu dengannya suatu saat nanti. Dan memang, perjuangan untuk seorang wanita, bahkan dapat melintasi dunia dalam mimpi-mimpi orang lain menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita.
Itulah harapan. Sekecil apapun itu, perjuanganlah yang dapat mewujudkannya.
Masih ingat kata-kata Arai—sepupu Ikal—yang juga memegang teguh harapan itu? “Jangan pernah mendahului takdir”. Bagi saya, kata-kata itu membawa sebuah kepastian bahwa harapan itu senantiasa selalu ada. Kapankah kita bisa tahu takdir itu ketika kita belum pernah mengalaminya? Seperti sebuah keyakinan, jodoh dan rizki kita sudah tertulis dalam buku takdir Yang Esa. Tapi pernahkah kita tahu siapa dan berapa rizki untuk kita? Bukankah sungguh naïf ketika kita dengan tegas mengatakan dialah yang akan menjadi jodohku, atau sebanyak itulah rizki yang akan aku terima.
Dengan kata-kata Arai, aku rasa perjuangan Ikal juga berlandaskan akan keyakinan seperti itu. Bahwa kita tidak dapat menafikan kekuatan semangat dan keyakinan. Namun, juga harus mempertimbangkan realitas ilmiah. Maksud saya, bukan menentang realitas ilmiah, hanya saja, realitas ilmiah kadang muncul ditengah-tengah kekuatan keyakinan itu. Dan kuncinya adalah peluang. Selama peluang itu masih ada, harapan juga akan selalu ada.
Dalam sebuah film yang berjudul “My Blueberry Nights”, saya juga menemukan simpul-simpul harapan pada sebuah kata “Kunci”.
“Jangan pernah membuang kunci, karena kau tidak akan dapat membuka pintu lagi”. Karena “Jikapun kunci itu masih ada pada kita, kita juga belum tentu menemukan orang yang kita cari di dalamnya”.
Paradoks memang. Antara hilang harapan dan keyakinan akan harapan itu. Ketika kita telah membuang kunci—bagi saya itu ibarat keputusan—maka kita telah menutup peluang itu, juga harapan. Dan tanpa kita membuang kunci—membuat keputusan—ternyata belum tentu juga perwujudan itu ada dibalik harapan. Harapan adalah harapan, peluang tetaplah peluang, yang senantiasa bersembunyi dibalik misteri sebuah takdir.
Tergantung bagaimana kita memilih langkah kita menghadapi harapan itu. Apakah kita akan jadi seorang yang pesimis dengan keputusan kita, ataukah sama seperti Arai? Yang dengan kata-katanya dia mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk mencintai seorang Zakiah Nurmala—memang kisahnya berakhir dengan kemenangan harapan.
Dan bagi seorang Ikal, harapan itu juga selalu ada, hingga apa yang dia lakukan—bagi yang telah membaca Maryamah Karpov pasti tahu—adalah perjuangan untuk memenangkan peluang itu. Hingga akhirnya, melalui rintangan yang tidak logis—bagi orang lain—dia mampu membuktikan bahwa keyakinan dan perjuangan yang ditopang dengan logika ilmiah adalah cara terbaik memenangkan harapan itu.
Namun, sungguh sangat disayangkan, ketika pada akhirnya, dialah yang justru membuang kunci itu. Hingga akhirnya, pintu untuk harapan itu tertutup rapat. Dia telah memutuskan untuk tidak menikahi A Ling, ketika dengan jawaban ekspresif, ayahnya menolak keputusan Ikal untuk “mencuri” A Ling dari pamannya.
Bukan pada penolakan ayahnya, tapi pada keputusannya sendiri harapan dan peluang itu lenyap dari gambatan seorang yang teguh pada keyakinannya. Memang sebuah akhir yang tidak menyenangkan bagi saya, ketika setelah dengan perjuangan yang melawan logika kebanyakan, justru dia kalah pada dirinya sendiri. Namun itulah takdir. Kita baru dapat mengetahui bahwa Ikal memang tidak ditakdirkan dengan A Ling setelah kita tahu mereka memang tidak ditakdirkan bersama.
Entahlah, Ikal yang tidak saya mengerti, atau saya yang terlalu bodoh untuk memahami tentang harapan itu. Namun, saya hanya akan mengatakan sebuah sindiran pada Ikal, setelah sepanjang hidupnya dia berjuang dengan semua harapan, tapi akhirnya dia menyerah pada keputusannya sendiri.
“Ucapkan selamat tinggal pada harapan!”
Itu saja.
Solo, 11 April 2009
Agus Raharjo
Senin, 30 Maret 2009
“Sebelum Pagi, Kuingin Kau Pergi”
Kenangan-kenangan sebelum ini, juga rasa manis madu yang kau berikan, adalah rasa sesak untukku sekarang. Aku tahu kau jujur padaku. Aku juga tahu aku tak selamanya akan bertahan, hingga sampai kau benar-benar meninggalkanku. Saat itulah aku akan benar-benar hilang. Dari siang dan malammu. Dari mimpi dan nyatamu.
Aku hanya ingin mampu bertahan. Itu saja.
Kau pernah berkata, aku adalah laki-laki yang mudah menyerah. Bukankah dengan semua ini aku telah membuktikannya? Ya…ya…ya…Aku tahu wanita memang seperti itu. Tidak pernah puas dengan hanya merasakan, inginnya sebuah kesetiaan yang mutlak.
Tapi aku tidak pernah menyalahkanmu sama sekali. Justru mungkin itulah yang seolah menawanku sampai saat ini. Dan entah sampai kapan nanti.
Kau tahu? Aku memang terlalu obsesif terhadap sebuah karakter. Salah satunya adalah karakter yang ada padamu. Tapi entahlah, aku juga kadang tidak mengakui itu sebuah obsesi, hanya kriteria saja, begitu laki-laki yang baik menyebutnya.
“Sebelum memilih, kita harus punya kriteria seperti apa seseorang yang akan menjadi pendamping kita kelak,” begitu katanya.
Tapi lebih dari itu, seseorang yang baik itu juga berkata,”Pendamping adalah penopang visi yang kita miliki. Carilah yang satu visi denganmu!”
Dan kau tahu? Aku memang tidak seperti orang-orang baik itu. Aku selalu merasa menjadi laki-laki independent. Salah justru ketika kau pikir aku tergantung pada mereka atau salah satu dari mereka. Aku tidak pernah merasa menyatu dengan mereka. Orang-orang baik itu, kau pasti paham maksudku.
Tentang visi, akupun tidak seidealis mereka. Aku hanya menjalani apa yang memang harsu kujalani. Aku tidak mau terikat dengan ‘atas nama apapun’. Hanya diriku saja. Maka, kau tahu aku tidak mencarimu karena kita satu visi, kurasa kau punya visi seperti mereka, tapi karakter.
Maka jangan heran kalau aku selalu mencoba untuk bertahan. Selama aku bisa bertahan, dan selama aku belum benar-benar menghilang.
Mungkin kau berpikir aku adalah orang yang keras kepala. Untuk hal ini aku mengakuinya. Dan ini adalah bukti aku bukan laki-laki yang mudah menyerah. Meskipun kau, tentu saja bukan niatmu, membuatku sakit sampai pada tingkatan yang menyayat.
Aku tidak pernah menyalahkanmu. Sama sekali tidak pernah. Aku juga tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi di antara kita. Aku tidak menyesal telah berkata terus terang padamu. Karena kau tahu? Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang tidak mau berpikir. Bukankah kau juga paham bahwa penyesalan hanya untuk orang-orang yang tidak mau berpikir?!
Rasa-rasanya, apa yang terjadi diantara kita berdua adalah sebuah mimpi indah bagiku. Mimpi yang sedang kujalani pada malam-malam yang semakin mencekam. Ditambah kesedihan yang ditunjukkan oleh hujan dan petir. Kau tahu? Sebenarnya aku takut dengan petir. Apalagi ketika malam gelap seperti malam yang suatu hari pernah kita alami.
Mimpi ini, semoga akan selalu kuingat. Menjadi sebuah kisah yang hanya aku dan kau yang tahu. Sebelum nanti aku ceritakan kepada siapa yang patut menjaga hatiku. Namun tidak perlu aku ceritakan, ketika kaulah yang akan menjagaku.
“Maaf…” kata itulah yang sering aku dengar darimu. Seperti yang sering aku katakan, tak ada yang salah dengan yang terjadi diantara kita. Kau tetap menjalani hidupmu, dan aku akan tetap menjalani hidupku. Sembari selalu mencari pegangan untuk bertahan. Dan mencoba untuk bangun dari mimpi, agar aku dapat melihatmu menjadi kenyataan.
Kenyataan yang menjelma ketika pagi telah menjelang. Dan saat itu terjadi, aku ingin kau pergi dari mimpiku, karena aku ingin kau ada dalam kenyataanku. Bukan kisah kita yang hanya menjadi sebuah bunga tidur yang indah, tapi kehidupan yang sesungguhnya kita bersama jalani. Sebelum pagi, aku ingin kau pergi dari mimpiku. Agar dapat kutata hari ketika kita telah bersama di beranda menikmati udara pagi sembari bercengkerama dengan seduhan kopi yang kau buat untukku.
“Mas, apa yang akan kau tulis untukku?” mungkin itulah kata-kata yang akan kau ucapkan ketika aku telah berada pada kesibukanku. Ya, di pagi yang sejuk, pertanyaan itu ingin kudengar. Seraya kau menemaniku minum kopi dan menulis.
Ah, harus kujawab apa untuk pertanyaan itu? Aku juga masih belum jelas ingin menjawab apa untuk menulis tentang dirimu. Yang aku tahu, menulis itu adalah tentang sesuatu yang diketahuinya. Dan kau, ketika kau tanyakan hal itu, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan diriku. Ketika aku menulis tentang diriku, dirimu juga akan terseret masuk dalam bait-bait kata yang kubuat. Meski hanya beberapa baris kalimat saja, namun itulah puisi metafor tentang hidup kita.
Ah, betapa indah mimpi ini. Saying, hanya sebatas itulah sekarang ini. Tapi aku masih berharap, sebelum pagi, kuingin kau pergi. Dari mimpi-mimpi. Agar kau menjelma dalam kenyataan di pagi hari.
Solo, 29 Maret 2009
Agus Raharjo
Aku hanya ingin mampu bertahan. Itu saja.
Kau pernah berkata, aku adalah laki-laki yang mudah menyerah. Bukankah dengan semua ini aku telah membuktikannya? Ya…ya…ya…Aku tahu wanita memang seperti itu. Tidak pernah puas dengan hanya merasakan, inginnya sebuah kesetiaan yang mutlak.
Tapi aku tidak pernah menyalahkanmu sama sekali. Justru mungkin itulah yang seolah menawanku sampai saat ini. Dan entah sampai kapan nanti.
Kau tahu? Aku memang terlalu obsesif terhadap sebuah karakter. Salah satunya adalah karakter yang ada padamu. Tapi entahlah, aku juga kadang tidak mengakui itu sebuah obsesi, hanya kriteria saja, begitu laki-laki yang baik menyebutnya.
“Sebelum memilih, kita harus punya kriteria seperti apa seseorang yang akan menjadi pendamping kita kelak,” begitu katanya.
Tapi lebih dari itu, seseorang yang baik itu juga berkata,”Pendamping adalah penopang visi yang kita miliki. Carilah yang satu visi denganmu!”
Dan kau tahu? Aku memang tidak seperti orang-orang baik itu. Aku selalu merasa menjadi laki-laki independent. Salah justru ketika kau pikir aku tergantung pada mereka atau salah satu dari mereka. Aku tidak pernah merasa menyatu dengan mereka. Orang-orang baik itu, kau pasti paham maksudku.
Tentang visi, akupun tidak seidealis mereka. Aku hanya menjalani apa yang memang harsu kujalani. Aku tidak mau terikat dengan ‘atas nama apapun’. Hanya diriku saja. Maka, kau tahu aku tidak mencarimu karena kita satu visi, kurasa kau punya visi seperti mereka, tapi karakter.
Maka jangan heran kalau aku selalu mencoba untuk bertahan. Selama aku bisa bertahan, dan selama aku belum benar-benar menghilang.
Mungkin kau berpikir aku adalah orang yang keras kepala. Untuk hal ini aku mengakuinya. Dan ini adalah bukti aku bukan laki-laki yang mudah menyerah. Meskipun kau, tentu saja bukan niatmu, membuatku sakit sampai pada tingkatan yang menyayat.
Aku tidak pernah menyalahkanmu. Sama sekali tidak pernah. Aku juga tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi di antara kita. Aku tidak menyesal telah berkata terus terang padamu. Karena kau tahu? Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang tidak mau berpikir. Bukankah kau juga paham bahwa penyesalan hanya untuk orang-orang yang tidak mau berpikir?!
Rasa-rasanya, apa yang terjadi diantara kita berdua adalah sebuah mimpi indah bagiku. Mimpi yang sedang kujalani pada malam-malam yang semakin mencekam. Ditambah kesedihan yang ditunjukkan oleh hujan dan petir. Kau tahu? Sebenarnya aku takut dengan petir. Apalagi ketika malam gelap seperti malam yang suatu hari pernah kita alami.
Mimpi ini, semoga akan selalu kuingat. Menjadi sebuah kisah yang hanya aku dan kau yang tahu. Sebelum nanti aku ceritakan kepada siapa yang patut menjaga hatiku. Namun tidak perlu aku ceritakan, ketika kaulah yang akan menjagaku.
“Maaf…” kata itulah yang sering aku dengar darimu. Seperti yang sering aku katakan, tak ada yang salah dengan yang terjadi diantara kita. Kau tetap menjalani hidupmu, dan aku akan tetap menjalani hidupku. Sembari selalu mencari pegangan untuk bertahan. Dan mencoba untuk bangun dari mimpi, agar aku dapat melihatmu menjadi kenyataan.
Kenyataan yang menjelma ketika pagi telah menjelang. Dan saat itu terjadi, aku ingin kau pergi dari mimpiku, karena aku ingin kau ada dalam kenyataanku. Bukan kisah kita yang hanya menjadi sebuah bunga tidur yang indah, tapi kehidupan yang sesungguhnya kita bersama jalani. Sebelum pagi, aku ingin kau pergi dari mimpiku. Agar dapat kutata hari ketika kita telah bersama di beranda menikmati udara pagi sembari bercengkerama dengan seduhan kopi yang kau buat untukku.
“Mas, apa yang akan kau tulis untukku?” mungkin itulah kata-kata yang akan kau ucapkan ketika aku telah berada pada kesibukanku. Ya, di pagi yang sejuk, pertanyaan itu ingin kudengar. Seraya kau menemaniku minum kopi dan menulis.
Ah, harus kujawab apa untuk pertanyaan itu? Aku juga masih belum jelas ingin menjawab apa untuk menulis tentang dirimu. Yang aku tahu, menulis itu adalah tentang sesuatu yang diketahuinya. Dan kau, ketika kau tanyakan hal itu, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan diriku. Ketika aku menulis tentang diriku, dirimu juga akan terseret masuk dalam bait-bait kata yang kubuat. Meski hanya beberapa baris kalimat saja, namun itulah puisi metafor tentang hidup kita.
Ah, betapa indah mimpi ini. Saying, hanya sebatas itulah sekarang ini. Tapi aku masih berharap, sebelum pagi, kuingin kau pergi. Dari mimpi-mimpi. Agar kau menjelma dalam kenyataan di pagi hari.
Solo, 29 Maret 2009
Agus Raharjo
Langganan:
Komentar (Atom)