Sabtu, 17 Oktober 2009

14 Oktober 2009

Perahu telah menemukan labuhannya
Dalam badai kabut
Menyamarkan jejak yang tertinggal untukku

Sepi yang terlalu perih
Tak rela
Terbaca jawaban
Dari penantianku

Aku telah menemukanmu
Bukan dalam tanda khayal
Tapi pada kata
Terangkai di bibir jemarimu

14 Oktober 2009,
Ada hati
Tak lagi sepi
Ada senyum
Menawar duka
Ada percaya
Membagi asa
Ada persembahan
Aku untukmu

(AR, 16 Oktober 2009)

Ramadhan dan Lebaran: Ibadah, Kultur, atau Rutinitas

Lebaran memang baru saja kita tinggalkan. Tapi pengalaman yang menyertainya bisa jadi tak akan begitu mudah kita lupakan. Meskipun itu adalah pengalaman yang sangat mungkin hanya monoton mengulang Lebaran tahun-tahun yang lalu. Atau bahkan dengan mengulangnya dari tahun ke tahun menjadikannya sebuah ingatan yang mengakar dalam memori kita.
Ketika peristiwa-peristiwa monoton saat Lebaran kita jumpai setiap tahunnya. Sadar atau tidak ada yang justru kita lupakan ketika kita terbangun pada hari itu. Itu adalah dosa-dosa yang pernah kita lakukan sebelum kita merasa dilahirkan kembali menjadi suci. Ya…selama satu bulan kita dipaksa untuk ikut dalam suasana yang islami. Bagi sebagian orang mungkin menjadi sebuah formalitas dari kultur yang terjadi selama kurang lebih tiga puluh hari. Tapi masih tetap ada yang benar-benar memaknai bulan suci itu.
Satu bulan penuh kita menerima ‘pelajaran’ bahwa kita harus benar-benar memfokuskan diri untuk beribadah…beribadah…dan beribadah. Tak lain dan tak bukan karena Ramadhan adalah bulan yang banyak sekali terdapat kemuliaannya. Kita ‘dipaksa’ untuk melupakan kehidupan duniawi. Dan pada akhirnya, kita dijanjikan mendapatkan ‘kelahiran kembali’ sebagai manusia yang suci. Kita kembali ‘fitri’. Moment itulah yang membuat sebagian orang merasa sangat senang dengan kehadiran Lebaran.
Namun, tidak semua orang bahagia ketika Lebaran telah tiba. Ada yang justru sangat bersedih ketika dia ditinggalkan oleh bulan Ramadhan. Yaitu orang-orang yang sesungguhnya mengerti arti mendekatkan diri dengan Sang Khalik. Jika bisa meminta, mungkin orang seperti itu akan meminta bulan yang lain menjadi bulan Ramadhan.
Terlepas dari Ramadhan, Lebaran membawa pengertian baru tentang kelahiran kembali. Kita merasa suci layaknya bayi yang baru saja lahir. Tak ada dosa yang menempel pada kita. Pengertian semacam itu, menurut saya adalah pengertian yang sombong. Misalnya saja setiap tahun kita merasa menjadi orang yang suci lagi, berarti setiap tahun bisa jadi kesombongan kita juga semakin bertambah. Ataukah kita merasa tidak mempunyai dosa seumur hidup? Mustahil! Sedangkan kita tidak dapat memastikan apakah puasa kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Sang Khalik, meskipun kita juga telah menunaikan zakat.
Pikiran yang naïf ketika kita merasa menjadi orang yang suci tanpa dosa. Di sisi lain, makna suci bagi saya juga sungguh sangat berbahaya terlalu digembar-gemborkan. Bisa jadi, pikiran yang terbentuk akan membawa kita pada pengertian bahwa kita punya sebuah ‘tiket’ penebusan dosa ketika kita telah melewati Ramadhan. Dan akhirnya dosa yang pernah kita lakukan sebelum-sebelumnya senantiasa dengan ringannya kita ulang…ulang…dan ulang terus menerus.
Sedikit berbeda ketika kita menilik kembali kondisi zaman ketika Martin Luther membangkang dari doktrin-doktrin gereja. Saat itu, gereja dapat mengeluarkan sebuah ‘surat sakti’ yang menyatakan orang tersebut terbebas dari dosa-dosanya dengan membayar sejumlah uang. Ibaratnya, dengan surat penebusan dosa tersebut itu, pemegangnya menjadi manusia suci. Jika saja semua orang mempunyai uang untuk membeli ‘surat sakti’, maka di dunia ini tak ada orang yang berdosa menurut anggapan mereka.
Kondisi itukah yang akan terjadi pada Islam? Dengan merasa terlahir kembali menjadi suci, apakah tidak ada orang islam yang tak berdosa? Meskipun hanya sehari saja, saat Lebaran. Saya kira tidak semudah itu.
Pengertian inilah yang akan dengan mudahnya membuat kita melupakan dosa-dosa yang pernah kita lakukan sebelumnya. Dengan memaknai seperti itu, kita akan menyandang gelar manusia yang tak pernah belajar. Belajar itu bukan sekadar untuk mengetahui, tapi bagaimana menerapkan apa yang sudah kita ketahui. Saya kira bulan Ramadhan juga mempunyai tujuan mulia itu. Bukan hanya sebuah kebangkitan kultur Islam selama satu bulan lamanya. Walaupun tak bisa dipungkiri, memang kultur Islam begitu mencolok saat bulan ramadhan.

Solo, 6 Oktober 2009
Agus Raharjo

Minggu, 04 Oktober 2009

Sebuah Tulisan Untuk Nama

Hujanmimpi; ibarat hujan, mimpi terlalu dalam untuk diresapi. Adalah sebuah nama, atau sebutan atau petanda dari sebuah perenungan. Tidak ada maksud menempelkan bahasa yang muluk-muluk. Yang ada adalah sebuah harapan. Harapan agar mimpi-mimpi lebih dapat ditafsirkan, juga dinikmati. Terutama dibaca.
Mimpi, mungkin bagi Sigmund Freud adalah salah satu bentuk pengungkapan dari hal-hal yang tersimpan di dalam alam bawah sadar kita. Dan menyepakati pendapatnya tersebut, hujanmimpi lahir untuk membahasakan mimpi-mimpi penulis. Tentang apa saja. Karena bagi penulis, menulis itu tentang sesuatu yang diketahui. Ketika sesuatu tidak pernah terlintas dalam pikiran, mustahil ada tulisan tentang hal serupa.
Apa-apa yang tertulis dalam hujanmimpi adalah media menerjemahkan pengetahuan penulis yang masih sedikit ini, juga dengan bahasa yang masih dalam taraf belajar. Karena seperti yang dikatakan Joni Ariadinata, menulis itu butuh proses, semakin kita sering menulis, tulisan kita akan semakin bagus. Semangat itulah yang selama ini penulis coba pegang. Meskipun masih dalam taraf belajar, setidaknya penulis berani menerjemahkan impian pribadi menjadi seorang penulis sesungguhnya.
Mengapa hujan? Bukan sesuatu yang lain untuk menggambarkan betapa tak terhingganya mimpi-mimpi itu? Bukan pasir yang mustahil kita hitung, atau rambut yang juga mempunyai keadaan yang sama? Cukup sederhana saja, karena pribadi yang menyukai hujan. Itu saja. Kenapa suka hujan? Juga cukup sederhana, karena ada pengalaman yang membuat hujan mempunyai tempat tersendiri dalam pikiran penulis. Juga perasaan yang menyertai ketika hujan turun yang dialami oleh penulis mengingatkan pada sesuatu yang menjadi impian.
Namun, ada yang mengganjal ketika pertama kali hujanmimpi lahir. Penulis resah dengan pikiran penulis sendiri bahwa hujanmimpi akan dikatakan mengekor dengan yang lain. Tak lain dan tak bukan adalah rumahmimpi. Awalnya penulis tidak terlalu memikirkan hal itu, namun lama kelamaan justru pikiran-pikiran seperti itu seperti mengetuk-ketuk minta tempat pada penulis. Tapi tidak sama sekali. Hujanmimpi murni sebuah nama yang tidak serta merta hanya ikut-ikutan ataupun numpang tenar. Hujanmimpi benar-benar lahir dari penerjemahan tentang gambaran perenungan penulis. Dapat dikatakan, hujanmimpi adalah penggambaran penulis. Tentang sebuah mimpi, harapan, juga perenungan-perenungan.
Meskipun memang, penulis merasa kenal dengan rumahmimpi dan banyak belajar darinya. Namun, lahirnya hujanmimpi terlepas dari rumahmimpi. Tulisan ini lahir karena saat ini penulis semakin gelisah dengan pikiran-pikiran yang mengganggu bahwa hujanmimpi lahir untuk mengekor rumahmimpi. Walaupun juga hujanmimpi tak akan sanggup meskipun hanya mengekor saja. Tulisan ini adalah sebagai bentuk ungkapan sekaligus pertanyaan apakah yang harus penulis lakukan pada hujanmimpi?

Klaten, 3 Oktober 2009
Agus Raharjo