Senin, 19 September 2011. Jam 12 siang saya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dapat telf dari kantor, untuk meliput rapat kerja Komisi III DPR RI di kawasan Senayan. Sempat bingung juga jalannya, karena saya mengendarai motor. Setelah tanya-tanya ke beberapa orang, akhirrnya saya ada di depan ruang rapat kerja Komisi III. Sungguh malang, ternyata rapatnya telah selesai. Saya memberitahu kantor, dan dikabari telah terjadi kericuhan di SMA 6 Bulungan antara Wartawan yang melakukan aksi dengan anak-anak siswa SMA 6. Tanpa pikir panjang saya segera meluncur ke tempat kejadian. Tepatnya di jalan Mahakam.
Di perjalanan, saya sempat kebingungan dengan arahnya. Saya merasa tersesat, namun tidak terlalu jauh, kata atasan di kantor yang saya kabari. Kemudian saya bertanya di sana-sini mana sekolah SMA 6 Jakarta. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya saya menemukan lokasi itu.
Saya tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Di lokasi, masih banyak teman-teman wartawan dan juga aparat kepolisian. Saya mendekat, mencoba mencari tahu perihal bentrokan yang terjadi tadi pagi saat wartawan aksi damai. Setelah saya tanya ke beberapa wartawan, ternyata pangkal masalahnya terjadi pada hari Jum'at kemarin. Saya dengar dari teman-teman wartawan, juga atasan saya, bahwa hari Jum'at lalu ada wartawan TV dari Trans dikeroyok anak-anak SMA 6 saat sedang meliput tawuran. Kaset video wartawan hilang. Alasannya, saat wartawan mengambil gambar mereka yang tawuran, anak-anak SMA tidak menerima. Bisa jadi mereka malu kalau ketahuan tawuran. Mendengar hal itu, sontak saya merasa emosi. Buat saya ini suatu pelecehan profesi. Namun, saya mencoba berpikir dengan kepala dingin, dan saya melanjutkan untuk mengorek kondisi yang telah terjadi di jalan Mahakam tadi pagi.
Sebagian teman-teman wartawan sudah meninggalkan lokasi. Beberapa ada yang melaporkan kejadian tadi ke Polres Jakarta Selatan, lalu yang lain pergi entah kemana. Mungkin melanjutkan pekerjaan mereka. Saya bersama beberapa teman wartawan lain masih tinggal di lokasi. Disamping saya masih mencari bahan untuk tulisan, saya juga berbincang dengan Kapolsek Kebayoran Baru, Pak Hando. Dari obrolan saya dengan teman-teman wartawan dan Pak Hando, saya jadi tahu bahwa tawuran di SMA 6 memang sering terjadi. Bahkan, kata Pak Hando, ini sudahseperti kutukan. Katanya sejak dulu sudah sering tawuran. Sudah sejak tahun '65. Ada teman wartawan yang nyeletuk bahkan sebelum merdeka. Walaupun itu bercanda, namun saya mengerti, tawuran SMA di Jakarta memang sering terjadi.
Pukul 14.25 WIB, saya yang sedang duduk dengan Pak Hando, menjadi waspada ketika segerombolan anak SMA melintas didepan wartawan. Mungkin mereka akan pulang, atau masuk sekolahan. Teman-teman wartawan yang masih tinggal bertanya dari SMA mana mereka. Tapi mereka diam saja dan berjalan dengan angkuh dan cuek. Mereka tidak menghirauakan pertanyaan wartawan. Setelah ada sorakan dari wartawan yang mengatakan 'Hidup 70! SMA 6 ga akan menang!' Anak yang berjalan paling depan balik badan dan menantang wartawan dari kejauhan. Sontak wartawan sadar bahwa mereka anak SMA 6. Beberapa wartawan yang terpancing emosi langsung mengejar, dan terjadilah bentrokan kecil. Jumlah wartawan dan anak SMA tidak begitu jauh. Namun, dari sisi rombongan anak SMA datang tadi (dari perempatan Bulungan) juga terjadi bentrokan lain. Tak berapa lama, bentrokan membesar dengan jumlah anak SMA yang semakin banyak. Polisi telah meletuskan tiga kali tembakan peringatan, tetap tidak digubris. Sepertinya mereka yakin bahwa polisi tidak akan benar2 menembak mereka. Wartawan yang hanya sekitar 20 orang kewalahan menghadapi ratusan siswa. Wartawan perempuan ketakutan dan menyelamatkan diri. Anak SMA semakin beringas mengejar dan memukuli wartawan. Tak luput salah satu wartawan perempuan dari Trans kena tendangan saat akan memasuki mobil untuk menyelamatkan diri.
Saya tahu, ketika saya ikut berlari maka saya juga tidak akan luput dari kejaran siswa SMA yang jumlahnya ratusan itu. Lalu saya memutuskan untuk tetap berjalan, mencoba untuk setenang mungkin agar tidak dicurigai sebagai wartawan. Saya berjalan sambil memegang HP seperti tidak terjadi apa-apa. Saya menuju ke Blok M Mall untuk mengamankan diri. Saat berjalan, saya dilewati puluhan siswa yang mengejar wartawan. Saya benar-benar tidak mengerti dengan keadaan ini. Siswa SMA sangat beringas seperti melihat musuh dalam sebuah peperangan. Semua wartawan menyelamatkan diri, saya tidak tahu kemana mereka semua.
Setelah saya sampai di Mall, saya balik badan dan melihat lokasi, ternyata lokasi telah sepi. Wartawan sudah tidak terlihat lagi. Lalu muncul rombongan siswa SMA yang saya perkirakan berjumlah ratusan berjalan melewati lokasi. Mereka seperti sekelompok geng yang saya lihat di film-film Mandarin yang akan berperang. Dalam hati saya berkata, mereka masih sempat mensweeping lokasi. Seperti gerombolan anggota geng, bukan siswa SMA.
Lalu, setelah beberapa waktu, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kejadian. Saya berniat menulis lebih lengkap soal insiden di SMA 6 tersebut. Saya searcing tentang insiden di internet, ternyata sudah banyak tulisan maupun akun tweeter yang membahas masalah bentrokan itu. Banyak fakta baru yang saya temukan. Saya baru mengetahui bahwa ada yang melempar mangkuk soto ke arah guru SMA. Saya juga baru tahu bahwa siswa SMA di salah satu akun tweeter menyebut bangga telah bisa membuat bonyok wartawan. Sungguh, itu kejadian ironis dalam dunia pendidikan dan profesi wartawan. Ada lagi yang bilang, anak SMA emosi ketika ada wartawan yang menaiki dinding gerbang. Mereka mengaku tidak terima ketika sekolah mereka 'diinjak-injak'.
Ada pertanyaan besar buat mereka anak SMA, apakah mereka juga tidak bertanya seberapa emosi wartawan ketika profesinya dilecehkan? Bahkan dihalangi dan dikeroyok? Sungguh, betapa amatiran mereka.
Dan untuk wartawan, setidaknya, dapatkah ditempuh jalan yang sopan dan beretika ketika meminta pertanggungjawaban atas suatu insiden? Kita semua emosi, tapi mereka perlu pembelajaran yang baik. Kalau mediasi sudah ditempuh, lantas apakah konfrontasi menjadi pelengkap lain? Semoga kasus ini menjadi pijakan koreksi bagi kedua belah pihak. Terkhusus siswa SMA yang suka tawuran. Ingatlah, perjalanan hidup kalian masih panjang. Banyak rintangan yang lebih berat dari sekadar mengalahkan lawan dalam tawuran. Kebanggaan sejati bukan pada menang atau kalah, tapi bagaimana kekuatan kita berguna untuk masyarakat luas. Bagi bangsa dan negara ini. Kalau kalian masih mengaku generasi penerus bangsa. Pemuda yang bisa dibanggakan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan pendiri bangsa ini.
Saya dan teman-teman wartawan merasa dihina ketika profesi wartawan diinjak-injak seperti itu, begitu juga anak SMA merasa dihina jika dinding gerbang mereka diinjak-injak. Lantas kalau sudah saling memahami, jangan pernah memulai untuk menghina, bahkan merusak dan mengeroyok.
Salam Indonesia untuk Semua!!!
Selasa, 14 Februari 2012
Jumat, 15 April 2011
Monas

Proklamasi
Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain, diselenggarakan, dengan cara dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Idonesia
Seokarno-Hatta
Naskah proklamasi tersebut dibaca Ir. Soekarno. Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dan menandai tonggak lahirnya negara kepulauan bernama Indonesia. Ir. Soekarno kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama, dan Hatta menjadi wakilnya.
Saya mendengar naskah itu langsung dibaca oleh Ir. Soekarno, meskipun hanya lewat rekaman. Pada tanggal 5 Februari 2011 di Monumen Nasional, Monas. Saya tertegun mendengarnya, meskipun tidak melihat sosok Soekarno secara langsung. Terasa ada yang bergetar dalam dada saya. Mungkin karena saya mengingat momentum sejarah dimulainya kisah tentang bangsa Indonesia. Dan saat ini, telah hampir 66 tahun usia Indonesia sejak saat itu.
Monas, menjadi salah satu bangunan penanda yang begitu monumental. Didalamnya, kita dapat melihat diorama perjalanan sejarah bangsa Indonesia—meskipun tak lengkap. Dan yang pasti, ia menjadi tonggak yang tetap kokoh menjadi identitas Indonesia, terutama Jakarta. Biarpun udara Jakarta semakin berpolusi, sinar matahari semakin menyengat, dan sampah bertebaran, Monas seolah menopang Ibukota.
Pada hari itu, saya tak sempat melihat lanskap kota Jakarta dari puncak Monas. Kabarnya, kalau ingin dapat sampai puncak Monas, kita harus datang sebelum jam 9 pagi. Saat itu saya memang datang terlalu siang. Hampir setiap hari, antrian selalu ada untuk naik puncak Monas menggunakan lift. Meskipun tak sempat melihat lanskap Ibukota, saya cukup senang ketika telah mengunjungi Monas.
Monas, menjadi miniatur tonggak berdirinya republik Indonesia, maka tak heran dekat dengan sejarah. Ketika monas dibangun, sejarah mengikutinya menjadi sebuah identitas yang terekam dalam bangunan tegak menjulang dengan puncak yang berlapis emas. Monas, seolah menjadi satu tiang pancang yang mengingatkan kita pada bersatunya berbagai suku, ras dan agama atas nama bangsa Indonesia. Beribu-ribu pulau, berjuta-juta manusia menjadi sebuah identitas satu, negara Indonesia. Dan semuanya, tersimpan rapi dalam sejarah menjelma Monas.
Bagi saya, ketika melihat sejarah seolah mendengarkan kakek bercerita tentang masa lalunya—meskipun hanya dalam khayalan, karena saya tidak pernah mendengar kakek bercerita atau mendongeng. Dari sanalah masa lalu saya, asal muasal saya. Dan dari sanalah saya mengerti siapa saya. Sejarah menjadi dasar identitas yang melekat dalam diri saya. Sebagai orang Indonesia. Maka tidak salah ketika padamu negeri kami berbakti, padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami mengabdi, dan bagimu negeri jiwa raga kami....
Itulah sepenggal tentang Monas yang tak mungkin lengkap.
***

Tanggal 5 februari 2011. Berawal pada ketika pernah berjanji. Maka pada hari itu, tepatnya hari sabtu. Pagi-pagi dada saya telah berdebar-debar. Nanti, saya akan meakukan hal yang bagi saya sungguh dramatis. Darah saya akan diambil. Maka seperti yang telah direncanakan, saya berangkat menemui seseorang. Lalu berangkat menuju sebuh tempat yang sangat asing bagi saya. Palang Merah Indonesia. Letaknya di daerah Senen. Dua kali saya harus ganti busway untuk sampai ke tempat itu.
Saya tidak tahu telah melewati apa saja. Saya seperti orang yang akan disunat kembali—bahkan lebih mengerikan. Ada semacam rasa takut, tapi tidak ada kelegaan setelahnya. Yang dapat saya ingat hanya Monumen Nasional, disebabkan oleh suatu janji juga. Jadi akhirnya sampai juga saya ke PMI. Saya mengambil formulir pendaftaran dengan gugup, lalu mengisi kotak-kotak kosong dengan tulisan sesuai dengan petunjuknya.
Seorang ibu bertanya pada saya, yang lebih saya rasakan seperti sebuah hal yang wajar, apakah itu pertama kalinya saya donor darah. Saya jawab dengan perasaan yang takut, iya.
Lalu, tibalah waktunya jarum ditusukkan di lengan sebalah kiri saya. Rasanya seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya, ada rasa nyeri yang meggesek-gesek daging saya. Bagi saya bukan masalah rasa sakit, tapi lebih pada rasa geli dan nyeri yang mungkin saya takutkan karena merasa ada benda asing dalam tubuh saya.
Itulah pertama kali saya mendonorkan darah. Sebelumnya, tak pernah ada keinginan sama sekali untuk donor darah. Alasannya bukan karena rasa sakit, tapi semacam rasa geli dan terganggu dengan benda atau semacamnya yang menempel di kulit dan menghisap darah saya. Saya persembahkan donor darah itu pada seseorang yang sangat berarti bagi saya. Donor darah itu akan jadi sebuah pemberian paling istimewa untuk hari yang istimewa buatnya.
Hari itu, bukan hanya jadi hari istimewa untuknya, tetap juga untuk saya. Alasan sebuah janji juga akhirnya dia menemani saya berkunjung ke Monas. Sejak sebelum menginjakkan kaki di Ibukota saya memang telah berniat untuk mengunjungi Monas. Saya ingin menikmati sensasi mengingat sejarah tentang Indonesia. Lalu juga kenyamanan bersama orang yang menemani saya.
Kami berfoto, jalan-jalan, mendengarkan Presiden Soekarno membaca naskah proklamasi, dan makan bersama. Benar-benar hari yang istimewa untuk kami. Tapi masih belum lengkap.suatau hari nanti, kesemuanya itu akan lengkap, dan kami akan benar-benar merasa sempurna seutuhnya menikmati hari yang istimewa. Seperti hari itu. Iyakan? Na....
2011
Agus Raharjo
Rabu, 30 Maret 2011
Surat untuk Cinta #7: ‘Dari Ayah untuk Bunda’
Selamat bertemu kembali, Cinta…
Dan selamat datang untuk hidup baru bersama…
Semoga hari-harimu yang lalu tak seperti hari ini yang terasa murung. Hari ini, menjadi hari yang sedikit ganjil. Hari yang harusnya membuka kisah kita dengan kalimat-kalimat gembira, justru mendung menahannya menjadi kata-kata gelisah. Untuk satu waktu yang kita selami maknanya—setelah bersama. Pada ruang yang kita coba urai maknanya—seusai merapat. Kalau kata Dee,”karena ada jarak kita mendekat”. Itulah kita saat ini, Cinta…
Kita yang telah lama memendam duka, kita yang semakin rajin memilin kisah dengan diam-diam. Akhirnya apa yang kita harap datang, akan datang sebagai anugerah paling indah bagi kedua kita. Jangan lupa kita pernah membuka waktu secara perlahan, dan sabar. Kita sesekali menggeser jarak dalam ruang, hingga akhirnya aku panggil kau, Cinta…
Cinta…
Apakah hari ini kau masih merinduiku? Seolah bertanya apakah kita menjadi manusia biasa yang akan lelah dan menjadi bosan? Bosan pada cerita-cerita indah yang makin lama menjadi hal biasa. Bosan pada kata-kata mesra yang akhirnya menjadi kalimat berakhiran titik saja. Atau bosan pada ungkapan cinta yang bagimu hanyalah suara tak mesra? Jika mulai lelah, dekapkan dirimu pada pelukanku, sandarkan hatimu pada cerita tentang betapa beratnya jalan yang pernah kita lalui. Aku bukan malam, dan kau bukan siang yang tak akan pernah bertemu. Kau juga bukan bintang, sedang aku bukan bulan, yang mengenal waktu menemanimu.
Cinta…
Jika memikirkannya, aku tahu hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaanku padamu. Bukan hanya kecil, hatiku hanya ada satu, dan itu telah kutitipkan padamu. Maka jagalah ia selayaknya kau jaga hatimu sendiri. Aku telah berpaut denganmu, kau telah mengikat denganku. Tak lebih jika sebentar lagi kita bernama ‘ayah dan bunda’. Kedua kata itu seakan mengusik keadaan yang paling nyaman untuk minta didengarkan. Akan ada ayah bagi lahirnya idealisme yang tak akan mati. Juga bunda untuk melindungi segala yang kau kandung.
Mari, Cinta…atau mari bunda… kita lahirkan kisah-kisah yang terkenang sepanjang sejarah. Kita bangun impian dengan penerus-penerus yang mampu berpikir, bertindak dan tak lupa berdoa. Ia adalah benih, yang lahir dari getirnya laju waktu membuktikan cinta, maka tiupkan nafas hidup bagi sesamanya. Ia adalah awal dari kisah sejarah tentang kita. Maka bahagialah kita dalam masa yang tak akan kita lupa.
Bunda…
Ah, sapaan itu terasa membuatku nyeri. Begitu lembut dan sarat melankoli. Ada ruang-ruang manja yang mengisinya. Apakah kau suka dengan itu? Panggilan yang bagitu, ternyata membuktikan tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar cinta. Karena dia melahirkan buah dari cinta. Sedang cinta hanya menjelma tindakan.
Bunda, hari ini kau terlihat begitu cantik—meskipun biasanya memang kau cantik. Tapi hari ini, setelah masa yang sudah lalu, kau membuatku merasa menjadi seorang ayah yang tak lagi mencerna frasa-frasa duka. Ayah yang tak lagi mengungkit bait-bait sakit. Terkadang juga harus berbisik lirih pada perih. Ayah telah menjadi seorang yang siap untuk membaca kisah yang akan jadi sejarah. Karena ada jarak kita mendekat…
Bunda… kau adalah jelmaan Cinta dari segala cinta yang kupunya, aku adalah puisi sebagai hadiah keberadaanmu. Semoga selalu jadi puisi paling indah untukmu, juga buah cinta yang akan ikut meramaikan dunia. Aku sadar adanya sabda bahwa lahirku memang untukmu. Karena aku sayang kau, Cinta.
Terlebih, aku cinta kau, Bunda…
31 Maret 2011
Agus Raharjo
Dan selamat datang untuk hidup baru bersama…
Semoga hari-harimu yang lalu tak seperti hari ini yang terasa murung. Hari ini, menjadi hari yang sedikit ganjil. Hari yang harusnya membuka kisah kita dengan kalimat-kalimat gembira, justru mendung menahannya menjadi kata-kata gelisah. Untuk satu waktu yang kita selami maknanya—setelah bersama. Pada ruang yang kita coba urai maknanya—seusai merapat. Kalau kata Dee,”karena ada jarak kita mendekat”. Itulah kita saat ini, Cinta…
Kita yang telah lama memendam duka, kita yang semakin rajin memilin kisah dengan diam-diam. Akhirnya apa yang kita harap datang, akan datang sebagai anugerah paling indah bagi kedua kita. Jangan lupa kita pernah membuka waktu secara perlahan, dan sabar. Kita sesekali menggeser jarak dalam ruang, hingga akhirnya aku panggil kau, Cinta…
Cinta…
Apakah hari ini kau masih merinduiku? Seolah bertanya apakah kita menjadi manusia biasa yang akan lelah dan menjadi bosan? Bosan pada cerita-cerita indah yang makin lama menjadi hal biasa. Bosan pada kata-kata mesra yang akhirnya menjadi kalimat berakhiran titik saja. Atau bosan pada ungkapan cinta yang bagimu hanyalah suara tak mesra? Jika mulai lelah, dekapkan dirimu pada pelukanku, sandarkan hatimu pada cerita tentang betapa beratnya jalan yang pernah kita lalui. Aku bukan malam, dan kau bukan siang yang tak akan pernah bertemu. Kau juga bukan bintang, sedang aku bukan bulan, yang mengenal waktu menemanimu.
Cinta…
Jika memikirkannya, aku tahu hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaanku padamu. Bukan hanya kecil, hatiku hanya ada satu, dan itu telah kutitipkan padamu. Maka jagalah ia selayaknya kau jaga hatimu sendiri. Aku telah berpaut denganmu, kau telah mengikat denganku. Tak lebih jika sebentar lagi kita bernama ‘ayah dan bunda’. Kedua kata itu seakan mengusik keadaan yang paling nyaman untuk minta didengarkan. Akan ada ayah bagi lahirnya idealisme yang tak akan mati. Juga bunda untuk melindungi segala yang kau kandung.
Mari, Cinta…atau mari bunda… kita lahirkan kisah-kisah yang terkenang sepanjang sejarah. Kita bangun impian dengan penerus-penerus yang mampu berpikir, bertindak dan tak lupa berdoa. Ia adalah benih, yang lahir dari getirnya laju waktu membuktikan cinta, maka tiupkan nafas hidup bagi sesamanya. Ia adalah awal dari kisah sejarah tentang kita. Maka bahagialah kita dalam masa yang tak akan kita lupa.
Bunda…
Ah, sapaan itu terasa membuatku nyeri. Begitu lembut dan sarat melankoli. Ada ruang-ruang manja yang mengisinya. Apakah kau suka dengan itu? Panggilan yang bagitu, ternyata membuktikan tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar cinta. Karena dia melahirkan buah dari cinta. Sedang cinta hanya menjelma tindakan.
Bunda, hari ini kau terlihat begitu cantik—meskipun biasanya memang kau cantik. Tapi hari ini, setelah masa yang sudah lalu, kau membuatku merasa menjadi seorang ayah yang tak lagi mencerna frasa-frasa duka. Ayah yang tak lagi mengungkit bait-bait sakit. Terkadang juga harus berbisik lirih pada perih. Ayah telah menjadi seorang yang siap untuk membaca kisah yang akan jadi sejarah. Karena ada jarak kita mendekat…
Bunda… kau adalah jelmaan Cinta dari segala cinta yang kupunya, aku adalah puisi sebagai hadiah keberadaanmu. Semoga selalu jadi puisi paling indah untukmu, juga buah cinta yang akan ikut meramaikan dunia. Aku sadar adanya sabda bahwa lahirku memang untukmu. Karena aku sayang kau, Cinta.
Terlebih, aku cinta kau, Bunda…
31 Maret 2011
Agus Raharjo
Label: foto
pribadi
Langganan:
Komentar (Atom)