
Selamat hari yang gembira untuk Cinta…
Tapi bukan karena hari ini sebagian orang merayakan hari kasih sayang. Aku tidak ikut merayakannya. Dan kuyakin kau juga tidak.
Bagaimana kabarmu disana, Cinta? Apakah masih sering dilanda hujan, ditempatmu? Hujan yang terkadang memberi lambang duka, sedih dan tangis.
Mungkin sebagian dari orang-orang ditempatmu itu, hujan membuat kesedihan secara nyata. Membuat negara kerepotan untuk mengungsikan penduduk, membuat warga sendiri harus menerima kenyataan bahwa mereka harus takluk pada alam. Namun disini, ditempatku sekarang, hujan sangat dinanti-nanti. Ia dipuja, disanjung. Bahkan hewan semacam ‘Kinjeng’ pun akan bernyanyi. Nyanyian itulah yang membuat petani—sebagian masyarakat disini masih petani, bersiap untuk menanam. Ya, walaupun juga terkadang hujan membuat seseorang menjadi malas beraktifitas. Namun, airnya sangat dinanti-nanti. Saat itu, padi-padi akan segera menghijau diantara pematang sawah.
Taukah kau, Cinta? Aku mendamakan kehidupan seperti itu. Ada sawah, petani, ternak, dan udara segar di pagi hari. Apakah kau juga memimpikannya?
Aku menyadari, di tempatmu, gedung-gedung berebut mencium langit. Sawah, ladang, dan tumbuhan yang hijau hanya jadi poster kampanye ‘Global Warming’. Disini, kau tidak hanya menikmati negeri impian itu sebatas melihat gambar kalender. Namun, kau akan menemukan semua pesona gambaran hidup asri disini. Di negeri yang bisa kausebut kampung atau desa. Disini, sekelilingmu adalah hamparan padi yang menghijau. Sungai yang mengalir airnya jernih. Dan keramahan penduduk akan menyapamu. Semua itu bukan kisah di dalam poster yang kaulihat dikantormu, atau di jalanan yang biasa kau lewati. Disini, semua itu nyata.
Na, terkadang—seringkali, hujan mengingatkanku akan masa lalu. Masa lalu saat kita masih mencari, siapa diri dan dimana bediri. Kala itu, kau mungkin tak pernah menerka, ada apa dengan hari ini. Saat itu juga, aku mungkin tak bisa memilah, impian dan kenangan. Semua tentang kau. Masa lalu, berlalu, lantas menyisakan ingatan tentang kenangan.
Na, suatu kali, kukunjungi titik pangkal masa lalu suatu bangsa. Namanya Mataram Islam. Ia, bagi sebagian orang hanya tinggal direntetan tulisan buku sejarah di sekolah. Namun disini, ia masih hidup. Hidup dengan semangat dan mitos-mitos yang melestarikannya. Ia pernah menjadi besar, lalu sekarang hanya tersisa puing-puing berserakan. Seperti kenangannya berserakan di buku-buku sejarah dan ingatan masyarakatnya. Namun, bagiku, ketika aku singgah disana, barang sejenak menikmati betapa besar ia masa itu, aku ingin menyesap kenangan yang tersebar menjadi tulisan yang mungkin tak ada arti lagi. Aku sungguh menikmatinya. Seolah aku ingin benar-benar dapat kembali mengulang masa itu. Atau setidaknya ada di saat kenangan itu mulai menjadi cerita.
Ada masa saat kita ingat kenangan, bukan? Mungkin saat itulah terkadang seseorang menemukan kembali rasa bahagianya. Bukan uang, harta, pangkat, jabatan ataupun segala rupa penghias dunia. Karena masa itulah yang paling setia. Ia ada dibelakang kita, selamanya.
Na, ingatkah kau pada saat sujud menjadi peletup kecintaan? Disana ada rongga yang minta diisi. Apa yang mengisinya semoga tetap sebuah ketentraman hati. Ah.. aku semakin lupa, bahwa selama ini aku memang merindukanmu. Suka menemukanmu dalam kenangan yang dibawa masa lalu. Merindukan gejolak dikala kita berjauhan seperti ini. Aku lupa itu, mungkin juga tak menyadarinya. Kenangan yang dibawa masa lalulah tempat rindu itu bersembunyi. Ia setia ketika kau ada di dekatku. Jadilah seperti itu, karena kerinduan ini jadi harta tak terduga yang suatu kali akan kutemukan lagi. Dia ada di dekat, tapi terkadang tak kupahami, atau kusadari. Begitu juga kau.
Biarlah tetap seperti itu, Cinta. Dengan begitu kita dapat saling meresapi lagi. Menikmati setiap nafas yang kauhirup terkandung namaku, dan di nafasku ada namamu.
Cinta, pernahkah kau tahu bahwa Eyang Pram pernah menyampaikan, bahwa temannya Minke yang semakin jauh dengan Annelies pernah mengungkapkan, di depan manusia itu ada jarak, ia menjadi pembatas antara kita dan ufuk yang jauh disana. Jika kita mendekat ke ufuk, ia akan berlari, yang ada di depan kita masih juga sama, jarak. Karena mereka abadi. Itulah yng terjadi diantara kita, ada jarak di depan kita, beruntung kau bukanlah ufuk, maka saat aku atau kau mendekat, jarak semakin pendek, dan tak akan ada ketika kita menyatu. Aku dan kau bukan ufuk. Tapi aku dan kau adalah cerita yang akan jadi kenangan masalalu bagi hari esok.
Kuakhiri surat ini dengan segenggam haru yang mungkin ingin segera bertemu. Agar kita memang bukanlah ufuk. Na, hati-hati di tempat penuh ketidakpastian seperti tempatmu itu. Semoga kau selalu baik-baik.
14 februari 2012
Agus Raharjo

