Selasa, 14 Februari 2012

Surat Untuk Cinta #8


Selamat hari yang gembira untuk Cinta…
Tapi bukan karena hari ini sebagian orang merayakan hari kasih sayang. Aku tidak ikut merayakannya. Dan kuyakin kau juga tidak.

Bagaimana kabarmu disana, Cinta? Apakah masih sering dilanda hujan, ditempatmu? Hujan yang terkadang memberi lambang duka, sedih dan tangis.

Mungkin sebagian dari orang-orang ditempatmu itu, hujan membuat kesedihan secara nyata. Membuat negara kerepotan untuk mengungsikan penduduk, membuat warga sendiri harus menerima kenyataan bahwa mereka harus takluk pada alam. Namun disini, ditempatku sekarang, hujan sangat dinanti-nanti. Ia dipuja, disanjung. Bahkan hewan semacam ‘Kinjeng’ pun akan bernyanyi. Nyanyian itulah yang membuat petani—sebagian masyarakat disini masih petani, bersiap untuk menanam. Ya, walaupun juga terkadang hujan membuat seseorang menjadi malas beraktifitas. Namun, airnya sangat dinanti-nanti. Saat itu, padi-padi akan segera menghijau diantara pematang sawah.

Taukah kau, Cinta? Aku mendamakan kehidupan seperti itu. Ada sawah, petani, ternak, dan udara segar di pagi hari. Apakah kau juga memimpikannya?

Aku menyadari, di tempatmu, gedung-gedung berebut mencium langit. Sawah, ladang, dan tumbuhan yang hijau hanya jadi poster kampanye ‘Global Warming’. Disini, kau tidak hanya menikmati negeri impian itu sebatas melihat gambar kalender. Namun, kau akan menemukan semua pesona gambaran hidup asri disini. Di negeri yang bisa kausebut kampung atau desa. Disini, sekelilingmu adalah hamparan padi yang menghijau. Sungai yang mengalir airnya jernih. Dan keramahan penduduk akan menyapamu. Semua itu bukan kisah di dalam poster yang kaulihat dikantormu, atau di jalanan yang biasa kau lewati. Disini, semua itu nyata.

Na, terkadang—seringkali, hujan mengingatkanku akan masa lalu. Masa lalu saat kita masih mencari, siapa diri dan dimana bediri. Kala itu, kau mungkin tak pernah menerka, ada apa dengan hari ini. Saat itu juga, aku mungkin tak bisa memilah, impian dan kenangan. Semua tentang kau. Masa lalu, berlalu, lantas menyisakan ingatan tentang kenangan.

Na, suatu kali, kukunjungi titik pangkal masa lalu suatu bangsa. Namanya Mataram Islam. Ia, bagi sebagian orang hanya tinggal direntetan tulisan buku sejarah di sekolah. Namun disini, ia masih hidup. Hidup dengan semangat dan mitos-mitos yang melestarikannya. Ia pernah menjadi besar, lalu sekarang hanya tersisa puing-puing berserakan. Seperti kenangannya berserakan di buku-buku sejarah dan ingatan masyarakatnya. Namun, bagiku, ketika aku singgah disana, barang sejenak menikmati betapa besar ia masa itu, aku ingin menyesap kenangan yang tersebar menjadi tulisan yang mungkin tak ada arti lagi. Aku sungguh menikmatinya. Seolah aku ingin benar-benar dapat kembali mengulang masa itu. Atau setidaknya ada di saat kenangan itu mulai menjadi cerita.

Ada masa saat kita ingat kenangan, bukan? Mungkin saat itulah terkadang seseorang menemukan kembali rasa bahagianya. Bukan uang, harta, pangkat, jabatan ataupun segala rupa penghias dunia. Karena masa itulah yang paling setia. Ia ada dibelakang kita, selamanya.

Na, ingatkah kau pada saat sujud menjadi peletup kecintaan? Disana ada rongga yang minta diisi. Apa yang mengisinya semoga tetap sebuah ketentraman hati. Ah.. aku semakin lupa, bahwa selama ini aku memang merindukanmu. Suka menemukanmu dalam kenangan yang dibawa masa lalu. Merindukan gejolak dikala kita berjauhan seperti ini. Aku lupa itu, mungkin juga tak menyadarinya. Kenangan yang dibawa masa lalulah tempat rindu itu bersembunyi. Ia setia ketika kau ada di dekatku. Jadilah seperti itu, karena kerinduan ini jadi harta tak terduga yang suatu kali akan kutemukan lagi. Dia ada di dekat, tapi terkadang tak kupahami, atau kusadari. Begitu juga kau.

Biarlah tetap seperti itu, Cinta. Dengan begitu kita dapat saling meresapi lagi. Menikmati setiap nafas yang kauhirup terkandung namaku, dan di nafasku ada namamu.

Cinta, pernahkah kau tahu bahwa Eyang Pram pernah menyampaikan, bahwa temannya Minke yang semakin jauh dengan Annelies pernah mengungkapkan, di depan manusia itu ada jarak, ia menjadi pembatas antara kita dan ufuk yang jauh disana. Jika kita mendekat ke ufuk, ia akan berlari, yang ada di depan kita masih juga sama, jarak. Karena mereka abadi. Itulah yng terjadi diantara kita, ada jarak di depan kita, beruntung kau bukanlah ufuk, maka saat aku atau kau mendekat, jarak semakin pendek, dan tak akan ada ketika kita menyatu. Aku dan kau bukan ufuk. Tapi aku dan kau adalah cerita yang akan jadi kenangan masalalu bagi hari esok.

Kuakhiri surat ini dengan segenggam haru yang mungkin ingin segera bertemu. Agar kita memang bukanlah ufuk. Na, hati-hati di tempat penuh ketidakpastian seperti tempatmu itu. Semoga kau selalu baik-baik.

14 februari 2012
Agus Raharjo

Tragedi Jalan Mahakam

Senin, 19 September 2011. Jam 12 siang saya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dapat telf dari kantor, untuk meliput rapat kerja Komisi III DPR RI di kawasan Senayan. Sempat bingung juga jalannya, karena saya mengendarai motor. Setelah tanya-tanya ke beberapa orang, akhirrnya saya ada di depan ruang rapat kerja Komisi III. Sungguh malang, ternyata rapatnya telah selesai. Saya memberitahu kantor, dan dikabari telah terjadi kericuhan di SMA 6 Bulungan antara Wartawan yang melakukan aksi dengan anak-anak siswa SMA 6. Tanpa pikir panjang saya segera meluncur ke tempat kejadian. Tepatnya di jalan Mahakam.

Di perjalanan, saya sempat kebingungan dengan arahnya. Saya merasa tersesat, namun tidak terlalu jauh, kata atasan di kantor yang saya kabari. Kemudian saya bertanya di sana-sini mana sekolah SMA 6 Jakarta. Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya saya menemukan lokasi itu.

Saya tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Di lokasi, masih banyak teman-teman wartawan dan juga aparat kepolisian. Saya mendekat, mencoba mencari tahu perihal bentrokan yang terjadi tadi pagi saat wartawan aksi damai. Setelah saya tanya ke beberapa wartawan, ternyata pangkal masalahnya terjadi pada hari Jum'at kemarin. Saya dengar dari teman-teman wartawan, juga atasan saya, bahwa hari Jum'at lalu ada wartawan TV dari Trans dikeroyok anak-anak SMA 6 saat sedang meliput tawuran. Kaset video wartawan hilang. Alasannya, saat wartawan mengambil gambar mereka yang tawuran, anak-anak SMA tidak menerima. Bisa jadi mereka malu kalau ketahuan tawuran. Mendengar hal itu, sontak saya merasa emosi. Buat saya ini suatu pelecehan profesi. Namun, saya mencoba berpikir dengan kepala dingin, dan saya melanjutkan untuk mengorek kondisi yang telah terjadi di jalan Mahakam tadi pagi.

Sebagian teman-teman wartawan sudah meninggalkan lokasi. Beberapa ada yang melaporkan kejadian tadi ke Polres Jakarta Selatan, lalu yang lain pergi entah kemana. Mungkin melanjutkan pekerjaan mereka. Saya bersama beberapa teman wartawan lain masih tinggal di lokasi. Disamping saya masih mencari bahan untuk tulisan, saya juga berbincang dengan Kapolsek Kebayoran Baru, Pak Hando. Dari obrolan saya dengan teman-teman wartawan dan Pak Hando, saya jadi tahu bahwa tawuran di SMA 6 memang sering terjadi. Bahkan, kata Pak Hando, ini sudahseperti kutukan. Katanya sejak dulu sudah sering tawuran. Sudah sejak tahun '65. Ada teman wartawan yang nyeletuk bahkan sebelum merdeka. Walaupun itu bercanda, namun saya mengerti, tawuran SMA di Jakarta memang sering terjadi.

Pukul 14.25 WIB, saya yang sedang duduk dengan Pak Hando, menjadi waspada ketika segerombolan anak SMA melintas didepan wartawan. Mungkin mereka akan pulang, atau masuk sekolahan. Teman-teman wartawan yang masih tinggal bertanya dari SMA mana mereka. Tapi mereka diam saja dan berjalan dengan angkuh dan cuek. Mereka tidak menghirauakan pertanyaan wartawan. Setelah ada sorakan dari wartawan yang mengatakan 'Hidup 70! SMA 6 ga akan menang!' Anak yang berjalan paling depan balik badan dan menantang wartawan dari kejauhan. Sontak wartawan sadar bahwa mereka anak SMA 6. Beberapa wartawan yang terpancing emosi langsung mengejar, dan terjadilah bentrokan kecil. Jumlah wartawan dan anak SMA tidak begitu jauh. Namun, dari sisi rombongan anak SMA datang tadi (dari perempatan Bulungan) juga terjadi bentrokan lain. Tak berapa lama, bentrokan membesar dengan jumlah anak SMA yang semakin banyak. Polisi telah meletuskan tiga kali tembakan peringatan, tetap tidak digubris. Sepertinya mereka yakin bahwa polisi tidak akan benar2 menembak mereka. Wartawan yang hanya sekitar 20 orang kewalahan menghadapi ratusan siswa. Wartawan perempuan ketakutan dan menyelamatkan diri. Anak SMA semakin beringas mengejar dan memukuli wartawan. Tak luput salah satu wartawan perempuan dari Trans kena tendangan saat akan memasuki mobil untuk menyelamatkan diri.

Saya tahu, ketika saya ikut berlari maka saya juga tidak akan luput dari kejaran siswa SMA yang jumlahnya ratusan itu. Lalu saya memutuskan untuk tetap berjalan, mencoba untuk setenang mungkin agar tidak dicurigai sebagai wartawan. Saya berjalan sambil memegang HP seperti tidak terjadi apa-apa. Saya menuju ke Blok M Mall untuk mengamankan diri. Saat berjalan, saya dilewati puluhan siswa yang mengejar wartawan. Saya benar-benar tidak mengerti dengan keadaan ini. Siswa SMA sangat beringas seperti melihat musuh dalam sebuah peperangan. Semua wartawan menyelamatkan diri, saya tidak tahu kemana mereka semua.

Setelah saya sampai di Mall, saya balik badan dan melihat lokasi, ternyata lokasi telah sepi. Wartawan sudah tidak terlihat lagi. Lalu muncul rombongan siswa SMA yang saya perkirakan berjumlah ratusan berjalan melewati lokasi. Mereka seperti sekelompok geng yang saya lihat di film-film Mandarin yang akan berperang. Dalam hati saya berkata, mereka masih sempat mensweeping lokasi. Seperti gerombolan anggota geng, bukan siswa SMA.

Lalu, setelah beberapa waktu, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kejadian. Saya berniat menulis lebih lengkap soal insiden di SMA 6 tersebut. Saya searcing tentang insiden di internet, ternyata sudah banyak tulisan maupun akun tweeter yang membahas masalah bentrokan itu. Banyak fakta baru yang saya temukan. Saya baru mengetahui bahwa ada yang melempar mangkuk soto ke arah guru SMA. Saya juga baru tahu bahwa siswa SMA di salah satu akun tweeter menyebut bangga telah bisa membuat bonyok wartawan. Sungguh, itu kejadian ironis dalam dunia pendidikan dan profesi wartawan. Ada lagi yang bilang, anak SMA emosi ketika ada wartawan yang menaiki dinding gerbang. Mereka mengaku tidak terima ketika sekolah mereka 'diinjak-injak'.

Ada pertanyaan besar buat mereka anak SMA, apakah mereka juga tidak bertanya seberapa emosi wartawan ketika profesinya dilecehkan? Bahkan dihalangi dan dikeroyok? Sungguh, betapa amatiran mereka.

Dan untuk wartawan, setidaknya, dapatkah ditempuh jalan yang sopan dan beretika ketika meminta pertanggungjawaban atas suatu insiden? Kita semua emosi, tapi mereka perlu pembelajaran yang baik. Kalau mediasi sudah ditempuh, lantas apakah konfrontasi menjadi pelengkap lain? Semoga kasus ini menjadi pijakan koreksi bagi kedua belah pihak. Terkhusus siswa SMA yang suka tawuran. Ingatlah, perjalanan hidup kalian masih panjang. Banyak rintangan yang lebih berat dari sekadar mengalahkan lawan dalam tawuran. Kebanggaan sejati bukan pada menang atau kalah, tapi bagaimana kekuatan kita berguna untuk masyarakat luas. Bagi bangsa dan negara ini. Kalau kalian masih mengaku generasi penerus bangsa. Pemuda yang bisa dibanggakan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan pendiri bangsa ini.

Saya dan teman-teman wartawan merasa dihina ketika profesi wartawan diinjak-injak seperti itu, begitu juga anak SMA merasa dihina jika dinding gerbang mereka diinjak-injak. Lantas kalau sudah saling memahami, jangan pernah memulai untuk menghina, bahkan merusak dan mengeroyok.
Salam Indonesia untuk Semua!!!

Jumat, 15 April 2011

Monas




Proklamasi

Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain, diselenggarakan, dengan cara dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Idonesia

Seokarno-Hatta


Naskah proklamasi tersebut dibaca Ir. Soekarno. Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, dan menandai tonggak lahirnya negara kepulauan bernama Indonesia. Ir. Soekarno kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama, dan Hatta menjadi wakilnya.

Saya mendengar naskah itu langsung dibaca oleh Ir. Soekarno, meskipun hanya lewat rekaman. Pada tanggal 5 Februari 2011 di Monumen Nasional, Monas. Saya tertegun mendengarnya, meskipun tidak melihat sosok Soekarno secara langsung. Terasa ada yang bergetar dalam dada saya. Mungkin karena saya mengingat momentum sejarah dimulainya kisah tentang bangsa Indonesia. Dan saat ini, telah hampir 66 tahun usia Indonesia sejak saat itu.

Monas, menjadi salah satu bangunan penanda yang begitu monumental. Didalamnya, kita dapat melihat diorama perjalanan sejarah bangsa Indonesia—meskipun tak lengkap. Dan yang pasti, ia menjadi tonggak yang tetap kokoh menjadi identitas Indonesia, terutama Jakarta. Biarpun udara Jakarta semakin berpolusi, sinar matahari semakin menyengat, dan sampah bertebaran, Monas seolah menopang Ibukota.

Pada hari itu, saya tak sempat melihat lanskap kota Jakarta dari puncak Monas. Kabarnya, kalau ingin dapat sampai puncak Monas, kita harus datang sebelum jam 9 pagi. Saat itu saya memang datang terlalu siang. Hampir setiap hari, antrian selalu ada untuk naik puncak Monas menggunakan lift. Meskipun tak sempat melihat lanskap Ibukota, saya cukup senang ketika telah mengunjungi Monas.

Monas, menjadi miniatur tonggak berdirinya republik Indonesia, maka tak heran dekat dengan sejarah. Ketika monas dibangun, sejarah mengikutinya menjadi sebuah identitas yang terekam dalam bangunan tegak menjulang dengan puncak yang berlapis emas. Monas, seolah menjadi satu tiang pancang yang mengingatkan kita pada bersatunya berbagai suku, ras dan agama atas nama bangsa Indonesia. Beribu-ribu pulau, berjuta-juta manusia menjadi sebuah identitas satu, negara Indonesia. Dan semuanya, tersimpan rapi dalam sejarah menjelma Monas.

Bagi saya, ketika melihat sejarah seolah mendengarkan kakek bercerita tentang masa lalunya—meskipun hanya dalam khayalan, karena saya tidak pernah mendengar kakek bercerita atau mendongeng. Dari sanalah masa lalu saya, asal muasal saya. Dan dari sanalah saya mengerti siapa saya. Sejarah menjadi dasar identitas yang melekat dalam diri saya. Sebagai orang Indonesia. Maka tidak salah ketika padamu negeri kami berbakti, padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami mengabdi, dan bagimu negeri jiwa raga kami....

Itulah sepenggal tentang Monas yang tak mungkin lengkap.

***


Tanggal 5 februari 2011. Berawal pada ketika pernah berjanji. Maka pada hari itu, tepatnya hari sabtu. Pagi-pagi dada saya telah berdebar-debar. Nanti, saya akan meakukan hal yang bagi saya sungguh dramatis. Darah saya akan diambil. Maka seperti yang telah direncanakan, saya berangkat menemui seseorang. Lalu berangkat menuju sebuh tempat yang sangat asing bagi saya. Palang Merah Indonesia. Letaknya di daerah Senen. Dua kali saya harus ganti busway untuk sampai ke tempat itu.

Saya tidak tahu telah melewati apa saja. Saya seperti orang yang akan disunat kembali—bahkan lebih mengerikan. Ada semacam rasa takut, tapi tidak ada kelegaan setelahnya. Yang dapat saya ingat hanya Monumen Nasional, disebabkan oleh suatu janji juga. Jadi akhirnya sampai juga saya ke PMI. Saya mengambil formulir pendaftaran dengan gugup, lalu mengisi kotak-kotak kosong dengan tulisan sesuai dengan petunjuknya.

Seorang ibu bertanya pada saya, yang lebih saya rasakan seperti sebuah hal yang wajar, apakah itu pertama kalinya saya donor darah. Saya jawab dengan perasaan yang takut, iya.

Lalu, tibalah waktunya jarum ditusukkan di lengan sebalah kiri saya. Rasanya seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya, ada rasa nyeri yang meggesek-gesek daging saya. Bagi saya bukan masalah rasa sakit, tapi lebih pada rasa geli dan nyeri yang mungkin saya takutkan karena merasa ada benda asing dalam tubuh saya.

Itulah pertama kali saya mendonorkan darah. Sebelumnya, tak pernah ada keinginan sama sekali untuk donor darah. Alasannya bukan karena rasa sakit, tapi semacam rasa geli dan terganggu dengan benda atau semacamnya yang menempel di kulit dan menghisap darah saya. Saya persembahkan donor darah itu pada seseorang yang sangat berarti bagi saya. Donor darah itu akan jadi sebuah pemberian paling istimewa untuk hari yang istimewa buatnya.

Hari itu, bukan hanya jadi hari istimewa untuknya, tetap juga untuk saya. Alasan sebuah janji juga akhirnya dia menemani saya berkunjung ke Monas. Sejak sebelum menginjakkan kaki di Ibukota saya memang telah berniat untuk mengunjungi Monas. Saya ingin menikmati sensasi mengingat sejarah tentang Indonesia. Lalu juga kenyamanan bersama orang yang menemani saya.

Kami berfoto, jalan-jalan, mendengarkan Presiden Soekarno membaca naskah proklamasi, dan makan bersama. Benar-benar hari yang istimewa untuk kami. Tapi masih belum lengkap.suatau hari nanti, kesemuanya itu akan lengkap, dan kami akan benar-benar merasa sempurna seutuhnya menikmati hari yang istimewa. Seperti hari itu. Iyakan? Na....


2011
Agus Raharjo