‘Bola itu bundar.’
Itulah kalimat yang sering diucapkan untuk pertandingan sepakbola. Bola memang bundar, belum pernah menjadi bentuk lain. Namun, ada kiasan tersendiri dari arti kalimat itu. Segala sesuatu bisa terjadi selama bola terus bergulir di lapangan. Itulah pesan yang ingin disampaikan bola berbentuk bundar.
Pesan itu banal sekaligus dalam. Bola menyimpan rahasianya sendiri dari ribuan pertanyaan nasib dua klub yang saling menghabisi. Waktu kurang lebih 90 menit menjadi pertanyaan, siapa tim pemenang. Rahasia itu akan tersimpan, selama bola terus bergulir. Dari kaki ke kaki, kadang melambung ke masing-masing pertahanan tim lawan. Gambaran itu akan selesai setelah pengadil lapangan meniup peluit panjang. Laga berakhir, rahasia terbongkar. Siapa yang layak jadi pemenang.
Hal itulah yang dua pekan ini kita saksikan. Sepakbola membuktikan dirinya sendiri. Bola tetap bundar, terkadang menempatkan satu sisi di atas, lainnya di bawah. Di lain kesempatan, keadaan bisa berbalik. Terkadang, keajaiban bisa muncul tiba-tiba, hanya dalam waktu delapan menit. Itulah yang terjadi dalam drama tujuh gol laga klub La Liga Barcelona saat menjamu wakil Ligue 1 Prancis, Paris Saint Germain (PSG), Kamis (9/3) kemarin.
Barcelona yang tertinggal agregat empat gol dari PSG harus yakin bola masih berbentuk bundar. Apapun bisa terjadi saat mereka melakoni laga leg kedua di Spanyol. Kemudian, keajaiban benar-benar terjadi. Lionel Messi, Neymar, Suarez dan Sergi Roberto menjadi aktor penyingkap tabir rahasia di laga itu. Mereka membuat keajaiban dengan membalikkan keadaan setelah menang 6-1 dari Les Parisiens. Barcelona membuktikan bola itu masih bundar. Mereka menyingkirkan PSG yang sudah selangkah lagi lolos ke perempat final Liga Champions Eropa.
“Kemenangan ini didedikasikan untuk mereka (yang tak percaya) kami bukan Harlem Globe Trotters, ini sepakbola,” tutur Enrique dikutip dari Marca usai pertandingan untuk membungkam mereka yang meragukan Barcelona, dan bola itu bundar tentunya.
Di Tanah Air, laga yang hampir mirip juga terjadi pada Piala Presiden 2017. Tim asal Kota Malang, Arema Cronus harus mengejar defisit satu gol pada laga leg pertama saat bertandang ke markas Semen Padang. Alih-alih mencetak gol sejak awal laga di leg kedua, Singo Edan justru kebobolan dua gol di Stadion Kanjuruhan, Malang. Namun, sekali lagi, bola itu bundar. Selama wasit belum meniup peluit akhir, rahasia di lapangan tak terbuka.
Striker gaek, Cristian ‘El Loco’ Gonzalez menuntaskan penasaran publik sepakbola Tanah Air. Lima gol yang bersarang ke gawang Kabau Sirah dari pemain berjuluk Si Gila ini jadi bait-bait panjang penantian hasil akhir pertandingan. Arema memastikan diri melaju ke babak final Piala Presiden untuk menantang Pusamania Borneo.
Itulah sepakbola. Ia selalu menyimpan rahasianya sendiri. Menyingkap tabir hasil akhir setelah laga dinyatakan tuntas. Rahasia dalam sepakbola, hanya pemain dan pelatih yang harus mencari pertanyaan dan jawabannya sendiri. Hasil akhir ditentukan oleh 22 pemain yang bertanding di lapangan. Rahasia dalam sepakbola ini mengingatkan pada salah satu sajak milik Hasan Aspahani dalam buku kumpulan puisi Pena sudah Diangkat, Kertas sudah Mengering. Aspahani menyuratkan puisi berjudul ‘Rahasia Laut, Rahasia Angin’ di halaman 56 untuk menggambarkan sebuah tabir yang belum tersingkap:
Ada rahasia laut dan angin, Nak, yang
harus engkau temukan sendiri pertanyaannya
dan mesti engkau cari sendiri jawabannya
#tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika edisi 11 Maret 2017
Minggu, 02 April 2017
Senin, 24 November 2014
Menuju 25 November, Cinta
Hari ini, 24 November 2014, kurang dari setengah jam menuju 25 November 2014, aku mulai menulis kembali kepingan peristiwa itu. Hanya dalam 30 menit inilah, usia kami menginjak 3 tahun. Saat itu, 25 November 2011, kami mengikat janji dalam lindungan ayat-ayat Ilahi. Sebuah peristiwa yang akan kami kenang hingga akhir hayat nanti. Saat kuberikan lantunan surat Ar Rahman sebagai bagian dari bukti kecintaan padaNya juga padamu, sosok yang kini telah menjadi Ibu dari anakku. Sebuah perjalanan menuju 25 November yang tersusun dari kepingan-kepingan nasib. Sebab, kata Chairil: Nasib adalah kesunyian masing-masing/ kupilih kau dari yang banyak//. Aku hanya ingin berhenti di bagian ini.
Aku ingin selalu ingat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang ketika itu jam menunjuk pukul 10 pagi, hari Jum’at, aku ucapkan sebanyak 31 kali saat memintamu jadi pendampingku. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Hingga akhirnya aku menyadari kepingan nasib seperti membawaku padamu, Cinta. Kesunyianku seolah menyembunyikan akhir yang indah agar 25 November 2011 menjadi hari paling indah untuk kita. Kalau kita ingat, betapa menuju hari itu adalah nasib yang akhirnya membuat kita mengakui “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
21 November, ingatkah kau Cinta? Hari masih Senin, aku masih berkutat dengan pekerjaan, meskipun sudah dihantui batuk dan radang tenggorokan. Aku ingat jelas, sebelum meliput pertemuan dua kubu organisasi masyarakat Islam yang berseteru, aku belum sarapan, justru minum obat untuk meredakan batuk dan radang tenggorokan. Apa yang kulakukan dibayar dengan keluarnya seluruh isi perut bahkan disertai diare. Hingga akhirnya aku terlalu lemas untuk beranjak dari kamar kecil Polrestabes Yogyakarta. Beberapa polisi dibantu teman sesama jurnalis akhirnya membopongku. Lalu yang kuingat aku terbangun di sebuah ranjang rumah sakit. Di rumah sakit, aku ditemani rekan kantor, lalu muncullah Teguh dan Mas Nono yang kemudian mengambil alih tugas menjagaku. Saran dokter, aku harus menginap di rumah sakit. Namun kau tahu Cinta, aku selalu tidak menyenangi rumah sakit. Aku memaksakan diri untuk pulang ke kontrakan Condong Catur.
22 November 2011, waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, perutku semakin bergejolak. Sudah tidak ada lagi saudara di kontrakan. Aku menahan sakit pada lambungku selama beberapa jam. Lalu setelah sholat Shubuh, kuhubungi Anas, seorang teman yang juga tinggal di Jogja, memintanya untuk mengantarku ke rumah sakit kembali. Kupilih rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa akhirnya aku harus mengalah dan menginap di rumah sakit itu. Selang infus dipasang di tangan kiriku, perawat memberiku makanan bertekstur lembut. Kuhubungi kau Cinta, ingatkah kau? Aku memberimu kabar sedang dirawat di rumah sakit, padahal 25 November di depan mata.
Rabu, 23 November, akhirnya kau datang bersama saudara dari Solo. Memastikan kondisiku tetap terjaga. AKu ingat Cinta, baru sehari menginap di rumah sakit, sudah memaksakan diri untuk segera pulang. Padahal, kau ingat? Dokter bahkan belum membolehkanku pulang. Hari itu, seperti kau menjemputku untuk pulang. Sore itu, sehabis langit mencurahkan gerimisnya, kau mengantarku pulang ke Klaten. Sedangkan kau sendiri melanjutkan perjalanan pulang ke Pati.
Malam hari, rekan kantor di Jogja datang kerumah menjengukku. Waktu itu aku masih ingat atasan mengizinkanku untuk istirahat sampai kondisiku pulih benar. Aku diizinkan kembali kerja hari Senin, 28 November. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Nasib membawakan kemudahan untuk kita menuju 25 November itu.
Kamis, 24 November, aku yang masih dalam perawatan akhirnya menempuh perjalanan 6 jam untuk menuju kotamu, Pati. Tengah malam, bersama rombongan yang disiapkan Bapak Ibu, tiba di Pati. Kau tahu, Cinta, sampai detik itu aku masih gugup untuk menghafal surat Ar Rahman. Meskipun dalam kondisi belum pulih benar, pikiran selalu membawaku pada lantunan surat itu. Ibu beberapa kali menyuruhku beristirahat, mengkhawatirkan kondisiku yang belum pulih benar sudah menempuh perjalanan jauh tapi tetap tak bisa memejamkan mata. Sembari terus menghafal, aku berusaha memaksakan diri untuk memejamkan mata meskipun sejenak. Sampai pagi menjelang, tidurku tidak nyenyak. Sebab, hari sudah mulai menunjukkan nasib siapakah yang akan diingat hari itu.
Akhirnya mentari menunjukkan bahwa hari itu Jum’at, 25 November 2011. Pagi itu, gerimis masih enggan menuntaskan air untuk Ibu Pertiwi. Bau tanah basah, kicau burung, suara air mengalir sungai, juga lagu Jawa mengalun dari rumahmu. Satu jam menuju kalimat yang akan membebaskan tanggung jawab orang tuamu terhadapmu. Sebab, mulai detik itu, kau menjadi tanggung jawabku, Cinta. Perjalanan menuju kesunyian untuk kita berdua. Nasib yang akhirnya membawaku pada ikrar untuk berani menanggungmu. Saat dengan fasih aku ucapkan ‘Saya terima nikah dan kawinnya Putri Khoirina Ferikasari binti Hadi Pramono dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!’
Jakarta, 24-25 November 2014
Agus Raharjo
Aku ingin selalu ingat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang ketika itu jam menunjuk pukul 10 pagi, hari Jum’at, aku ucapkan sebanyak 31 kali saat memintamu jadi pendampingku. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Hingga akhirnya aku menyadari kepingan nasib seperti membawaku padamu, Cinta. Kesunyianku seolah menyembunyikan akhir yang indah agar 25 November 2011 menjadi hari paling indah untuk kita. Kalau kita ingat, betapa menuju hari itu adalah nasib yang akhirnya membuat kita mengakui “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
21 November, ingatkah kau Cinta? Hari masih Senin, aku masih berkutat dengan pekerjaan, meskipun sudah dihantui batuk dan radang tenggorokan. Aku ingat jelas, sebelum meliput pertemuan dua kubu organisasi masyarakat Islam yang berseteru, aku belum sarapan, justru minum obat untuk meredakan batuk dan radang tenggorokan. Apa yang kulakukan dibayar dengan keluarnya seluruh isi perut bahkan disertai diare. Hingga akhirnya aku terlalu lemas untuk beranjak dari kamar kecil Polrestabes Yogyakarta. Beberapa polisi dibantu teman sesama jurnalis akhirnya membopongku. Lalu yang kuingat aku terbangun di sebuah ranjang rumah sakit. Di rumah sakit, aku ditemani rekan kantor, lalu muncullah Teguh dan Mas Nono yang kemudian mengambil alih tugas menjagaku. Saran dokter, aku harus menginap di rumah sakit. Namun kau tahu Cinta, aku selalu tidak menyenangi rumah sakit. Aku memaksakan diri untuk pulang ke kontrakan Condong Catur.
22 November 2011, waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, perutku semakin bergejolak. Sudah tidak ada lagi saudara di kontrakan. Aku menahan sakit pada lambungku selama beberapa jam. Lalu setelah sholat Shubuh, kuhubungi Anas, seorang teman yang juga tinggal di Jogja, memintanya untuk mengantarku ke rumah sakit kembali. Kupilih rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa akhirnya aku harus mengalah dan menginap di rumah sakit itu. Selang infus dipasang di tangan kiriku, perawat memberiku makanan bertekstur lembut. Kuhubungi kau Cinta, ingatkah kau? Aku memberimu kabar sedang dirawat di rumah sakit, padahal 25 November di depan mata.
Rabu, 23 November, akhirnya kau datang bersama saudara dari Solo. Memastikan kondisiku tetap terjaga. AKu ingat Cinta, baru sehari menginap di rumah sakit, sudah memaksakan diri untuk segera pulang. Padahal, kau ingat? Dokter bahkan belum membolehkanku pulang. Hari itu, seperti kau menjemputku untuk pulang. Sore itu, sehabis langit mencurahkan gerimisnya, kau mengantarku pulang ke Klaten. Sedangkan kau sendiri melanjutkan perjalanan pulang ke Pati.
Malam hari, rekan kantor di Jogja datang kerumah menjengukku. Waktu itu aku masih ingat atasan mengizinkanku untuk istirahat sampai kondisiku pulih benar. Aku diizinkan kembali kerja hari Senin, 28 November. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Nasib membawakan kemudahan untuk kita menuju 25 November itu.
Kamis, 24 November, aku yang masih dalam perawatan akhirnya menempuh perjalanan 6 jam untuk menuju kotamu, Pati. Tengah malam, bersama rombongan yang disiapkan Bapak Ibu, tiba di Pati. Kau tahu, Cinta, sampai detik itu aku masih gugup untuk menghafal surat Ar Rahman. Meskipun dalam kondisi belum pulih benar, pikiran selalu membawaku pada lantunan surat itu. Ibu beberapa kali menyuruhku beristirahat, mengkhawatirkan kondisiku yang belum pulih benar sudah menempuh perjalanan jauh tapi tetap tak bisa memejamkan mata. Sembari terus menghafal, aku berusaha memaksakan diri untuk memejamkan mata meskipun sejenak. Sampai pagi menjelang, tidurku tidak nyenyak. Sebab, hari sudah mulai menunjukkan nasib siapakah yang akan diingat hari itu.
Akhirnya mentari menunjukkan bahwa hari itu Jum’at, 25 November 2011. Pagi itu, gerimis masih enggan menuntaskan air untuk Ibu Pertiwi. Bau tanah basah, kicau burung, suara air mengalir sungai, juga lagu Jawa mengalun dari rumahmu. Satu jam menuju kalimat yang akan membebaskan tanggung jawab orang tuamu terhadapmu. Sebab, mulai detik itu, kau menjadi tanggung jawabku, Cinta. Perjalanan menuju kesunyian untuk kita berdua. Nasib yang akhirnya membawaku pada ikrar untuk berani menanggungmu. Saat dengan fasih aku ucapkan ‘Saya terima nikah dan kawinnya Putri Khoirina Ferikasari binti Hadi Pramono dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!’
Jakarta, 24-25 November 2014
Agus Raharjo
Selasa, 01 Oktober 2013
Surat untuk Cinta #8

Semacam ada hembusan, ia menerka
Mungkin aku yang terlalu lupa, Cinta
Seperti sebuah panggilan, ia meraba
Mungkin aku tak pernah mengerti, Cinta
Selamat bertemu kembali, Cinta. Sudah sekian lama kukira aku tak menyapamu. Apakah kau baik-baik disana? Aku seperti bertanya pada diriku sendiri soal itu. Sebab aku lupa. Mungkin saja kita telah menemukan bahagia, sampai akhirnya lupa. Bukan manusia sempurna, sejatinya. Lupa adalah nikmat juga. Tapi jangan sampai lupa pada diri kita sendiri.
Cinta, tentang lupa, ada yang hendak melawannya. Mereka, kalau kau tahu, adalah orang-orang yang sangat dekat dengan masa lalu. Masa lalu seperti sebuah panggilan yang sangat akrab. Serasa berbisik. Ada orang-orang yang senantiasa melawan lupa, untuk keadilan mungkin. Apakah kau berpikir untuk ikut melawan lupa, Cinta? Sebab akupun berpikiran demikian. Sebuah siklus hidupku seolah mengajakku melihat kembali apa yang pernah aku alami dimasa lalu. Kenangan-kenangan, isak tangis, tawa canda, juga repihan potret kebersamaan bersama orang-orang yang sejak kecil membersamai kita.
Mungkin ada yang menyebut ini sebuah kerinduan. Tapi buatku ini seperti mengulang siklus hidupku sendiri. Seperti kembali memutar rol film usang di sebuah bioskop tua. Atau barangkali layar tancap di lapangan, yang pernah kita saksikan keelokannya dimasa itu. Putaran-putaran kenangan itu membuatku ingin menangis, Cinta. Aku ingin bersama mereka, bersama orang-orang yang telah membawaku pada usia yang cukup matang ini. Entahlah, ada semacam ketakutan aku akan melupakan mereka. Benar-benar lupa.
Bagaimana denganmu, Cinta? Apakah kau pernah merasakannya? Menjadi melankoli karena memutar kembali kisah-kisah di saat kita bahkan belum berpikir untuk menjadi seperti sekarang ini. Ini adalah perlawananku terhadap lupa. Seperti juga aku takut dilupakan. Kau tahu? Aku ingin sekali menyematkan namaku pada anak kita nanti. Aku ingin namaku selalu digunakan pada seluruh keturunan kita. Bahkan disinipun aku tak ingin kalah dari lupa. Di suatu masa nanti, sebuah generasi akan mengenang nama kita sebagai orang-orang berbuat. Orang-orang hebat yang lahir dari orang tua kita yang juga hebat. Jauh dari dalam lubuk hati aku bangga dilahirkan dari orang tua yang hebat di keluarga ini, Cinta. Sangat bangga sampai air mataku tak tertahan jika mengingatnya. Aku ingin suatu waktu nanti, kita dikenang seperti aku mengenang mereka.
Pada malam yang terus berlalu ini, aku melihatmu sedang menidurkan anak kita. Anak perjuangan. Dari sini, kudengar rengekan buah hati kita seraya meminta susu. Air kehidupan yang kelak rasanya juga akan dilupakan. Tapi dia tak akan pernah lupa pada gendongan bundanya. Yang dia kenal bukan susu, tapi aroma tubuh seorang ibu. Anak perjuangan kita akan besar dengan Indonesia, Cinta. Aku ingin, dia tak akan lupa dengan nenek moyangnya. Dengan bangsa dan tanah airnya. Banggalah, Cinta. Kita dilahirkan di negeri kaya yang ramah pada masyarakatnya. Hanya saja saat ini kau akan susah menemukannya, Indonesia. Karena ini sedang bermain dengan anak kita. Mereka akan besar bersama-sama. Melawan lupa. Dan pada saat ini, yang kuingat hanya kalian, kau, buah hati kita dan Indonesia. Kita akan berjuang bersama-sama. Kita akan mendengar kembali suara burung-burung yang terbang bebas sembari berkicau sesuka hati. Kita akan melihat kembali jernih air yang mengalir di sungai samping rumah kita. Ikan-ikan yang ingin dipancing, serta padi-padi yang telah menguning.
Jakarta, 2 Oktober 2013
Label: foto
coretan
Langganan:
Komentar (Atom)

