Kenangan-kenangan sebelum ini, juga rasa manis madu yang kau berikan, adalah rasa sesak untukku sekarang. Aku tahu kau jujur padaku. Aku juga tahu aku tak selamanya akan bertahan, hingga sampai kau benar-benar meninggalkanku. Saat itulah aku akan benar-benar hilang. Dari siang dan malammu. Dari mimpi dan nyatamu.
Aku hanya ingin mampu bertahan. Itu saja.
Kau pernah berkata, aku adalah laki-laki yang mudah menyerah. Bukankah dengan semua ini aku telah membuktikannya? Ya…ya…ya…Aku tahu wanita memang seperti itu. Tidak pernah puas dengan hanya merasakan, inginnya sebuah kesetiaan yang mutlak.
Tapi aku tidak pernah menyalahkanmu sama sekali. Justru mungkin itulah yang seolah menawanku sampai saat ini. Dan entah sampai kapan nanti.
Kau tahu? Aku memang terlalu obsesif terhadap sebuah karakter. Salah satunya adalah karakter yang ada padamu. Tapi entahlah, aku juga kadang tidak mengakui itu sebuah obsesi, hanya kriteria saja, begitu laki-laki yang baik menyebutnya.
“Sebelum memilih, kita harus punya kriteria seperti apa seseorang yang akan menjadi pendamping kita kelak,” begitu katanya.
Tapi lebih dari itu, seseorang yang baik itu juga berkata,”Pendamping adalah penopang visi yang kita miliki. Carilah yang satu visi denganmu!”
Dan kau tahu? Aku memang tidak seperti orang-orang baik itu. Aku selalu merasa menjadi laki-laki independent. Salah justru ketika kau pikir aku tergantung pada mereka atau salah satu dari mereka. Aku tidak pernah merasa menyatu dengan mereka. Orang-orang baik itu, kau pasti paham maksudku.
Tentang visi, akupun tidak seidealis mereka. Aku hanya menjalani apa yang memang harsu kujalani. Aku tidak mau terikat dengan ‘atas nama apapun’. Hanya diriku saja. Maka, kau tahu aku tidak mencarimu karena kita satu visi, kurasa kau punya visi seperti mereka, tapi karakter.
Maka jangan heran kalau aku selalu mencoba untuk bertahan. Selama aku bisa bertahan, dan selama aku belum benar-benar menghilang.
Mungkin kau berpikir aku adalah orang yang keras kepala. Untuk hal ini aku mengakuinya. Dan ini adalah bukti aku bukan laki-laki yang mudah menyerah. Meskipun kau, tentu saja bukan niatmu, membuatku sakit sampai pada tingkatan yang menyayat.
Aku tidak pernah menyalahkanmu. Sama sekali tidak pernah. Aku juga tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi di antara kita. Aku tidak menyesal telah berkata terus terang padamu. Karena kau tahu? Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang tidak mau berpikir. Bukankah kau juga paham bahwa penyesalan hanya untuk orang-orang yang tidak mau berpikir?!
Rasa-rasanya, apa yang terjadi diantara kita berdua adalah sebuah mimpi indah bagiku. Mimpi yang sedang kujalani pada malam-malam yang semakin mencekam. Ditambah kesedihan yang ditunjukkan oleh hujan dan petir. Kau tahu? Sebenarnya aku takut dengan petir. Apalagi ketika malam gelap seperti malam yang suatu hari pernah kita alami.
Mimpi ini, semoga akan selalu kuingat. Menjadi sebuah kisah yang hanya aku dan kau yang tahu. Sebelum nanti aku ceritakan kepada siapa yang patut menjaga hatiku. Namun tidak perlu aku ceritakan, ketika kaulah yang akan menjagaku.
“Maaf…” kata itulah yang sering aku dengar darimu. Seperti yang sering aku katakan, tak ada yang salah dengan yang terjadi diantara kita. Kau tetap menjalani hidupmu, dan aku akan tetap menjalani hidupku. Sembari selalu mencari pegangan untuk bertahan. Dan mencoba untuk bangun dari mimpi, agar aku dapat melihatmu menjadi kenyataan.
Kenyataan yang menjelma ketika pagi telah menjelang. Dan saat itu terjadi, aku ingin kau pergi dari mimpiku, karena aku ingin kau ada dalam kenyataanku. Bukan kisah kita yang hanya menjadi sebuah bunga tidur yang indah, tapi kehidupan yang sesungguhnya kita bersama jalani. Sebelum pagi, aku ingin kau pergi dari mimpiku. Agar dapat kutata hari ketika kita telah bersama di beranda menikmati udara pagi sembari bercengkerama dengan seduhan kopi yang kau buat untukku.
“Mas, apa yang akan kau tulis untukku?” mungkin itulah kata-kata yang akan kau ucapkan ketika aku telah berada pada kesibukanku. Ya, di pagi yang sejuk, pertanyaan itu ingin kudengar. Seraya kau menemaniku minum kopi dan menulis.
Ah, harus kujawab apa untuk pertanyaan itu? Aku juga masih belum jelas ingin menjawab apa untuk menulis tentang dirimu. Yang aku tahu, menulis itu adalah tentang sesuatu yang diketahuinya. Dan kau, ketika kau tanyakan hal itu, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan diriku. Ketika aku menulis tentang diriku, dirimu juga akan terseret masuk dalam bait-bait kata yang kubuat. Meski hanya beberapa baris kalimat saja, namun itulah puisi metafor tentang hidup kita.
Ah, betapa indah mimpi ini. Saying, hanya sebatas itulah sekarang ini. Tapi aku masih berharap, sebelum pagi, kuingin kau pergi. Dari mimpi-mimpi. Agar kau menjelma dalam kenyataan di pagi hari.
Solo, 29 Maret 2009
Agus Raharjo
Senin, 30 Maret 2009
Sabtu, 31 Januari 2009
Misalkan Bukan hanya "Hujan Bulan Juni"
Hari-hari kemarin, dan sampai hari inipun, langit masih membelai mesra pada awan. Alhasil, awan tak henti-hentinya menitikkah hujan, yang bagiku sungguh indah. Seolah, hujan tidak ingin berbagi senja dengan kita. Senja yang jingga selalu dia sembunyikan dalam warna kelabu mendung.
Ketika hari-hari selalu saja hujan seperti itu. Saya teringat mengapa saya selalu suka hujan. Alasan yang membuat saya justru merasa senang ketika rintik-rintik air meluncur dari mendung yang seakan murung. Dan semua alasan itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. sejak dahulu, ketika saya masih melihat dunia yang sempit. Saya tersadar, hujan dapat menemai saya dalam meresapi hidup.
Ketika hujan turun, dahulu, saya selalu dibuat tertawa senang karenanya. Betapa tidak? Saya yang masih kecil merasa dapat menikmati belaian langit pada kulit saya. Meskipun nantinya saya dapat marah dari ayah. Saya selalu riang menyambut hujan yang mempesona. Merasa selalu ingin berbagi keriangan dengannya. Memang pada akhirnya saya dimarahi habis-habisan oleh Ayah, dan harus mencuci pakaian yang saya kenakan untuk menjemput hujan.
Namun, seiring usia yang selalu bertambah, saya merasa hujanh menemani dalam hal yang berbeda. Saya ingat, ketika masa-masa saya mengalami goncangan, entah mengapa—mungkin suatu kebetulan—hujan maupun mendungnya selalu dekat dengan saya. saat itu saya merasa yang dapat merasakan kesedihan yang saya alami hanyalah hujan. Saya ingat terus, dan bahkan pernah menjadi pertanda, bahwa setiap saya sedih atau sebaliknya, setiap hujan akan membelai mesra, keadaan saya tergoncang. Yang ada adalah murung. Saya seolah dapat berbicara dengan hujan, dengan kesedihan. Diapun menyambut dengan belaiannya.
Pengalaman hujan yang menjadi sebuah alasan, mengapa sampai sekarang saya ingin bersentuhan dengan hujan, hingga sekarang masih menggelayuti dalam diri saya. Namun, tidak semesra dahulu, saya terlalu malu untuk mengakui bahwa saya sungguh sangat suka hujan.
Dan sekarang, ketika pengalaman tentang hujan membuat saya merasa miris—kesenangan saya, menjadi kesedihan orang lain—saya tak dapat lagi merasai pengalaman batin itu. Saya terlalu naïf untuk mengakui bahwa hujan selalu memberi sebuah perenungan. Oleh sebab bahwa hujan menimbulkan tangis bagi orang lain. Seperti sebuah tempat yang sakarang saya singgahi, Solo. Hujan telah meluluhlantakan kepasrahan hingga berserakan dibalai pengungsian.Seperti setahun lalu, saya ikut dalam sebuah aksi relawan untuk korban banjir, di Kampung Sewu.
Ketika hujan belakangan ini kembali tidak mau berbagi senja dengan kita, saya merasa hujan telah membuat saya takut. Terlintas sebuah pertanyaan pada diri saya, apakah yang membuat hujan menjadi begitu sedih hingga terlampau ingin mencari tempat berbagi kesdihan itu? Apakah kita talah membuat kesalahan yang tidak termaafkan hingga hujan juga ingin menunjukkan bahwa dia juga dapat bersikap egois. Saya merasa malu sebagai manusia jika memang telah membuat hujan menjadi sedih. Mungkin memang kita telah berbuat banyak salah hingga menyakiti kekasih hujan, bumi.
Meresapi hujan, ada harapan agar hujan kembali seperti dahulu. Ketika saya merasa bahwa dialah teman yang selalu ada bersama saya menikmati sebuah pengalaman. Dan, hujan menjadi lebih menentramkan. Andai Sapardi Djoko Damono menulis hujan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Ingin rasanya saya merayu hujan dengan puisinya. Akan kulantunkan kata-kata itu hingga dia kembali dapat menemani saya menikmati laku hidup di dunia. Akan kubisikkan padanya:
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Damono, 1989)
Mungkin dengan begitu hujan akan kembali berbagi senja dengan kita. Hingga tak ada lagi kesedihan, juga penyesalan atas apa yang telah kita perbuat padanya. Misalkan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Saya masih akan merasakan pengalaman bersama-sama hujan yang telah membuat saya bagaiaman belajar melalui sebuah perenungan.
Solo, 31 januari 2009
Agus Raharjo
Ketika hari-hari selalu saja hujan seperti itu. Saya teringat mengapa saya selalu suka hujan. Alasan yang membuat saya justru merasa senang ketika rintik-rintik air meluncur dari mendung yang seakan murung. Dan semua alasan itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. sejak dahulu, ketika saya masih melihat dunia yang sempit. Saya tersadar, hujan dapat menemai saya dalam meresapi hidup.
Ketika hujan turun, dahulu, saya selalu dibuat tertawa senang karenanya. Betapa tidak? Saya yang masih kecil merasa dapat menikmati belaian langit pada kulit saya. Meskipun nantinya saya dapat marah dari ayah. Saya selalu riang menyambut hujan yang mempesona. Merasa selalu ingin berbagi keriangan dengannya. Memang pada akhirnya saya dimarahi habis-habisan oleh Ayah, dan harus mencuci pakaian yang saya kenakan untuk menjemput hujan.
Namun, seiring usia yang selalu bertambah, saya merasa hujanh menemani dalam hal yang berbeda. Saya ingat, ketika masa-masa saya mengalami goncangan, entah mengapa—mungkin suatu kebetulan—hujan maupun mendungnya selalu dekat dengan saya. saat itu saya merasa yang dapat merasakan kesedihan yang saya alami hanyalah hujan. Saya ingat terus, dan bahkan pernah menjadi pertanda, bahwa setiap saya sedih atau sebaliknya, setiap hujan akan membelai mesra, keadaan saya tergoncang. Yang ada adalah murung. Saya seolah dapat berbicara dengan hujan, dengan kesedihan. Diapun menyambut dengan belaiannya.
Pengalaman hujan yang menjadi sebuah alasan, mengapa sampai sekarang saya ingin bersentuhan dengan hujan, hingga sekarang masih menggelayuti dalam diri saya. Namun, tidak semesra dahulu, saya terlalu malu untuk mengakui bahwa saya sungguh sangat suka hujan.
Dan sekarang, ketika pengalaman tentang hujan membuat saya merasa miris—kesenangan saya, menjadi kesedihan orang lain—saya tak dapat lagi merasai pengalaman batin itu. Saya terlalu naïf untuk mengakui bahwa hujan selalu memberi sebuah perenungan. Oleh sebab bahwa hujan menimbulkan tangis bagi orang lain. Seperti sebuah tempat yang sakarang saya singgahi, Solo. Hujan telah meluluhlantakan kepasrahan hingga berserakan dibalai pengungsian.Seperti setahun lalu, saya ikut dalam sebuah aksi relawan untuk korban banjir, di Kampung Sewu.
Ketika hujan belakangan ini kembali tidak mau berbagi senja dengan kita, saya merasa hujan telah membuat saya takut. Terlintas sebuah pertanyaan pada diri saya, apakah yang membuat hujan menjadi begitu sedih hingga terlampau ingin mencari tempat berbagi kesdihan itu? Apakah kita talah membuat kesalahan yang tidak termaafkan hingga hujan juga ingin menunjukkan bahwa dia juga dapat bersikap egois. Saya merasa malu sebagai manusia jika memang telah membuat hujan menjadi sedih. Mungkin memang kita telah berbuat banyak salah hingga menyakiti kekasih hujan, bumi.
Meresapi hujan, ada harapan agar hujan kembali seperti dahulu. Ketika saya merasa bahwa dialah teman yang selalu ada bersama saya menikmati sebuah pengalaman. Dan, hujan menjadi lebih menentramkan. Andai Sapardi Djoko Damono menulis hujan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Ingin rasanya saya merayu hujan dengan puisinya. Akan kulantunkan kata-kata itu hingga dia kembali dapat menemani saya menikmati laku hidup di dunia. Akan kubisikkan padanya:
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Damono, 1989)
Mungkin dengan begitu hujan akan kembali berbagi senja dengan kita. Hingga tak ada lagi kesedihan, juga penyesalan atas apa yang telah kita perbuat padanya. Misalkan bukan hanya Hujan Bulan Juni. Saya masih akan merasakan pengalaman bersama-sama hujan yang telah membuat saya bagaiaman belajar melalui sebuah perenungan.
Solo, 31 januari 2009
Agus Raharjo
Rabu, 28 Januari 2009
Hakekatnya Adalah Menjaga
Pernah suatu sore, ketika langit masih murung dengan mentari, di suatu tempat terjadi obrolan oleh dua orang muda. Obrolan yang tidak jauh mengenai dunia seusianya. Kira-kira begini:
Si A: “Kok tidak lagi kesana?”
Si B: “Lha emang kenapa?”
Si A: “Ya ga biasanya aja.”
Seraya tersenyum Si B menjawab: “Untuk menjaga.”
Si A: “Menjaga siapa? Kamu?”
Si B hanya tersenyum lagi:”Hmmm…”
Obrolan itu tidak hilang bahkan sampai si B telah kembali pada aktifitasnya. Mungkin dalam hati dia malah tersentak. Apa yang telah dia jawab untuk sebuah pertanyaan yang mungkin tidak bisa ditangkap oleh orang lain kecuali keduanya. Tanpa tanda apapun, mungkin kita akan dibuat bertanya, apa yang mereka berdua obrolkan. Ah, biar saja itu menjadi rahasia mereka berdua.
Dalam kegamangannya atas pertanyaan, kita tidak tahu bahwa sebenarnya pertanyaan itu telah diprediksi oleh si B ketika nanti bertemu si A. Namun, dalam kisah selanjutnya, jawaban yang dia berikan dengan memberi sebuah senyuman atas pertanyaan itu membuatnya berpikir. Atau lebih tepatnya, dia juga bertanya selama ini “siapa yang dia jaga”? Atau “mengapa menjaga”?
Layaknya sebuah drama, dalam hatinya terdengar gemuruh yang menderu, berteriak, dan membuat ketenangan lenyap. Pertanyaan dan jawaban dari obrolan yang dapat dia perkitakan tadi serasa melayang-layang di atas kepalanya, berputar-putar, dan sesekali keluar masuk kedalam otaknya. Alhasil, obrolan dan pertanyaan tersebut tidak mungkin tidak dia pikrkan.
Dan inilah hasil perenungan yang sebenarnya telah ada jauh di dalam dirinya. Akan tetapi alangkah membingungkannya ketika perenungan itu tidak didasari kejelasan permasalahan yang dialami si B atas obrolan yang terjadi. Dan inilah singkatnya: entah mengapa si B, adalah juga manusia biasa. Tentang apa yang menjadi bahan obrolan itu, adalah tentang sebuah ‘kejadian’ yang juga dialami oleh sebagian besar makhluk yang bernyawa. Silakan menebak apa itu.
Sekarang kita kaitkan dengan pertanyaan dengan kejadian yang dialami si B maupun manusia pada umumnya.. Mungkin saja si B salah arti tentang sebuah sebab yang dirasakannya, tentang siapa. Tapi ini terlepas dari siapa yang dimaksud. Yang ada dalam perenungan si B, tokoh misterius ini, dia merasa berbeda dengan orang kebanyakan mengenai ‘kejadian’.
Yang dia rasakan, ketika ‘kejadia’ telah menimpanya, maka yang ada dalam pikirannya adalah menjaga. Dan dari obrolan singkat itu, dia kembali disadarkan makna menjaga itu. ‘Kejadian’ yang oleh orang kebanyakan dapat dijadikan senjata ampuh memperdayai orang lain, bahkan tak segan-segan merusaknya, oleh si tokoh ditangkap secara berbeda.
Baginya, ketika seseorang telah mengalami ‘kejadian’, maka jadi sebuah kewajibannyalah dia menjaga. Bukan menyakiti, bahkan digunakan sebagai dalih untuk memperoleh sesuatu. Yang seperti itu dapat dianggapnya tidak memahami. Baginya, apa yang disebabkan oleh ‘kejadian’ hakekatnya adalah menjaga. Bukan merusak.
Dapat diibaratkan seperti ini. Ketika kita masih kecil, dan ayah kita memberikan sebuah mainan yang sangat kita sayangi. Apa yang akan kita lakukan pada mainan itu? Hanya orang yang tidak menyayangilah yang akan sembarangan mempermainkannya. Dia tidak akan merasa sedih ketika mainan itu rusak. Dia juga tidak akan merasa kehilangan ketika mainan itu hilang. Itulah yang tidak memahami hakekat ‘kejadian’.
Berbeda ketika dia sangat menyayangi mainan itu, entah karena pemberian ayah atau memang dia suka mainan jenis itu, yang dilakukan salah sayang. Kalau dalam bahasa Jawanya eman. Eman dari kerusakan jenis apapun. Itulah hakekat menjaga.
Ketika kisah itu saya dengar, saya jadi ingin sekali meresapi penggalan kata-katanya Albert Camus. Kira-kira begini: Hasrat memiliki tidaklah tertahankan/sampai pada titik ia mampu bertahan bahkan dengan mencintai dirinya sendiri// Oleh karena itu/mencintai adalah menetralkan orang yang kita cintai//
Jadi, hakekatnya adalah menjaga. Meskipun kehilangan tidak dapat dipungkiri sebuah luka yang akan mengoyak. Hingga perih mengalir bersama dengan air laut yang begitu terasa mengharu. Akan tetapi, dari kisah obrolan tersebut saya jadi mengerti sebuah makna. Seolah John Dreyden berkata pada saya: “Pada masa-masa keshalehan/ luka akibat cinta jauh lebih manis ketimbang kesenangan apapun lainnya”//
Dan itulah jawaban yang oleh si tokoh dapat digali dari dasar dirinya sendiri. Jawaban atas perenungan pertanyaan yang seringkali muncul dan berputar-putar diatas kepala, kemudian menyusup masuk dalam otak. Hakekatnya adalah menjaga.
Solo, 26 Januari 2009
Agus Raharjo
Si A: “Kok tidak lagi kesana?”
Si B: “Lha emang kenapa?”
Si A: “Ya ga biasanya aja.”
Seraya tersenyum Si B menjawab: “Untuk menjaga.”
Si A: “Menjaga siapa? Kamu?”
Si B hanya tersenyum lagi:”Hmmm…”
Obrolan itu tidak hilang bahkan sampai si B telah kembali pada aktifitasnya. Mungkin dalam hati dia malah tersentak. Apa yang telah dia jawab untuk sebuah pertanyaan yang mungkin tidak bisa ditangkap oleh orang lain kecuali keduanya. Tanpa tanda apapun, mungkin kita akan dibuat bertanya, apa yang mereka berdua obrolkan. Ah, biar saja itu menjadi rahasia mereka berdua.
Dalam kegamangannya atas pertanyaan, kita tidak tahu bahwa sebenarnya pertanyaan itu telah diprediksi oleh si B ketika nanti bertemu si A. Namun, dalam kisah selanjutnya, jawaban yang dia berikan dengan memberi sebuah senyuman atas pertanyaan itu membuatnya berpikir. Atau lebih tepatnya, dia juga bertanya selama ini “siapa yang dia jaga”? Atau “mengapa menjaga”?
Layaknya sebuah drama, dalam hatinya terdengar gemuruh yang menderu, berteriak, dan membuat ketenangan lenyap. Pertanyaan dan jawaban dari obrolan yang dapat dia perkitakan tadi serasa melayang-layang di atas kepalanya, berputar-putar, dan sesekali keluar masuk kedalam otaknya. Alhasil, obrolan dan pertanyaan tersebut tidak mungkin tidak dia pikrkan.
Dan inilah hasil perenungan yang sebenarnya telah ada jauh di dalam dirinya. Akan tetapi alangkah membingungkannya ketika perenungan itu tidak didasari kejelasan permasalahan yang dialami si B atas obrolan yang terjadi. Dan inilah singkatnya: entah mengapa si B, adalah juga manusia biasa. Tentang apa yang menjadi bahan obrolan itu, adalah tentang sebuah ‘kejadian’ yang juga dialami oleh sebagian besar makhluk yang bernyawa. Silakan menebak apa itu.
Sekarang kita kaitkan dengan pertanyaan dengan kejadian yang dialami si B maupun manusia pada umumnya.. Mungkin saja si B salah arti tentang sebuah sebab yang dirasakannya, tentang siapa. Tapi ini terlepas dari siapa yang dimaksud. Yang ada dalam perenungan si B, tokoh misterius ini, dia merasa berbeda dengan orang kebanyakan mengenai ‘kejadian’.
Yang dia rasakan, ketika ‘kejadia’ telah menimpanya, maka yang ada dalam pikirannya adalah menjaga. Dan dari obrolan singkat itu, dia kembali disadarkan makna menjaga itu. ‘Kejadian’ yang oleh orang kebanyakan dapat dijadikan senjata ampuh memperdayai orang lain, bahkan tak segan-segan merusaknya, oleh si tokoh ditangkap secara berbeda.
Baginya, ketika seseorang telah mengalami ‘kejadian’, maka jadi sebuah kewajibannyalah dia menjaga. Bukan menyakiti, bahkan digunakan sebagai dalih untuk memperoleh sesuatu. Yang seperti itu dapat dianggapnya tidak memahami. Baginya, apa yang disebabkan oleh ‘kejadian’ hakekatnya adalah menjaga. Bukan merusak.
Dapat diibaratkan seperti ini. Ketika kita masih kecil, dan ayah kita memberikan sebuah mainan yang sangat kita sayangi. Apa yang akan kita lakukan pada mainan itu? Hanya orang yang tidak menyayangilah yang akan sembarangan mempermainkannya. Dia tidak akan merasa sedih ketika mainan itu rusak. Dia juga tidak akan merasa kehilangan ketika mainan itu hilang. Itulah yang tidak memahami hakekat ‘kejadian’.
Berbeda ketika dia sangat menyayangi mainan itu, entah karena pemberian ayah atau memang dia suka mainan jenis itu, yang dilakukan salah sayang. Kalau dalam bahasa Jawanya eman. Eman dari kerusakan jenis apapun. Itulah hakekat menjaga.
Ketika kisah itu saya dengar, saya jadi ingin sekali meresapi penggalan kata-katanya Albert Camus. Kira-kira begini: Hasrat memiliki tidaklah tertahankan/sampai pada titik ia mampu bertahan bahkan dengan mencintai dirinya sendiri// Oleh karena itu/mencintai adalah menetralkan orang yang kita cintai//
Jadi, hakekatnya adalah menjaga. Meskipun kehilangan tidak dapat dipungkiri sebuah luka yang akan mengoyak. Hingga perih mengalir bersama dengan air laut yang begitu terasa mengharu. Akan tetapi, dari kisah obrolan tersebut saya jadi mengerti sebuah makna. Seolah John Dreyden berkata pada saya: “Pada masa-masa keshalehan/ luka akibat cinta jauh lebih manis ketimbang kesenangan apapun lainnya”//
Dan itulah jawaban yang oleh si tokoh dapat digali dari dasar dirinya sendiri. Jawaban atas perenungan pertanyaan yang seringkali muncul dan berputar-putar diatas kepala, kemudian menyusup masuk dalam otak. Hakekatnya adalah menjaga.
Solo, 26 Januari 2009
Agus Raharjo
Langganan:
Komentar (Atom)