Aku adalah burung, yang kehilangan satu sayap. Ah… aku bahkan tidak pernah merasa pasti, apakah sayap itu memang melekat. Yang kurasakan selama ini, aku serasa terbang. Aku telah terbang pada banyak tempat, banyak sekali. Dan semuanya seolah mendewasakan aku. Pada impian, dan cita-cita. Aku pernah singgah pada puncaknya yang tertinggi. Saat itu, aku bahkan tidak takut jatuh. Aku merasa sayapku lengkap. Meskipun hanya sekadar bayangannya saja. Tapi aku merasa kedua sayapku dapat mengepak, seutuhnya. Saling melengkapi.
Tiba-tiba aku merasa kesepian. Satu sayap itu telah terbang sendirian. Dan satu lagi masih melekat. Selama aku masih bernafas, yang melekat ini akan selalu ada. Itulah diriku. Dan yang terbang, menghilang itu? Entahlah…mungkin itu hanya bayangan dari sebuah pantulan cahaya yang paling suci.
Dan betapa dahsyat bayangan itu. Hingga mampu membuatku mampu mengitari tempat-tempat yang paling tinggi sekalipun. Sedangkan, aku adalah burung yang terbuang dari kawanan, sendirian. Bagaimaan aku dapat terbang lagi ketika sayapku tak lengkap? Aku hanya sendirian dan punya satu sayap saja. Kalau aku bergabung dengan kawanan, aku akan terasing. Aku bukanlah jenis seperti mereka. Mereka yang selalu dipuja karena dapat mengicaukan lagu suci pada rumah-rumah yang banyak disinggahi malaikat. Dan aku adalah burung yang tahu diri. Buluku yang tak indah, suaraku yang melengking, adalah aib bagi kawanan burung indah itu. Aku terlalu sadar untuk tidak membuat mereka tidak dipuja. Biarlah mereka tetap pada kawanannya. Yang saling mengepakkan sayap, saling menopang dengan yang lain, berkicau bersama dan saling bersahutan. Biarlah aku sendirian, sama seperti dulu, ketika aku keluar dari cangkang telurku. Dan kudapati sayapku hanya satu. Kerena ketika itu, aku adalah burung yang tidak terbang. Hanya berjalan, berjalan, dan berjalan. Mungkin sesaat, kadang aku juga perlu untuk berlari. Tapi tidak pernah terbang, tidak pernah.
Seharusnya aku tahu, bahwa ketika sayap itu tiba-tiba ada, menawarkan dirinya untuk membawaku terbang, aku sekuat tenaga menolaknya. Karena aku tahu, ketika aku terbang, rasa sakit terjatuh lebih menyakitkan daripada ketika dulu aku berjalan dan berlari.
Tapi sayap itu terlalu nyaman. Dan sayapku terlanjur kesepian. Katanya dia butuh teman agar merasa sempurna. Dan sayap itu terlalu sempurna. Padahal aku juga telah menasehatinya, bahwa tidak perlu sayap yang bagus untuknya. Yang penting sayap yang selalu setia dan nyaman saja. Bukan sayap dari pantulan cahaya suci. Tapi aku juga tak mampu menahannya. Dia terlalu terbuai pada sayap itu. Katanya sayap itu datang diiringi sebuah lagu. Lagu yang selama ini aku dnegar, tapi tak tahu lagu apakah itu. Yang kulihat pada lagu itu, adalah gambaran seorang bidadari. Ah… apakah bidadari juga punya sayap. Karena yang aku tahu, mereka ada di atas. Sebenar-benarnya aku ingin melihat mereka, mengagumi keindahannya. Tapi bagaimana aku dapat terbang ke atas kalau sayapku hanya satu? Tidak lengkap.
Barangkali, sayap yang telah hilang, telah menemukan sayap keduanya pada kawanan burung yang bersama-sama hijrah itu. Dan barangkali juga, hijrah mereka adalah ke atas. Bukankah bayangan akan terpantul menjauh dari cahaya? Sedangkan cahaya ada di atas, dan aku ada di bawah. Jadi memang benar, sayap itu sebenarnya juga ada di atas. Dan menuju ke atas, menjauh dariku. Hanya bayangannya saja yang menyertaiku. Karena sesungguhnya, sayap itu juga ada di antara kawanan yang terbang ke atas. Aku masih ada di bawah. Andai saja memang ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku akan turut serta, karena tidak ada yang aku risaukan di bawah. Aku tidak perlu takut untuk meninggalkan siapapun. Karena aku independent.
Hei… bukankah aku burung yang merdeka? Mengapa sekarang aku merasa kehilangan seberat ini? Apakah aku sebenarnya tidak merdeka sama sekali?! Bayangan sayap itukah penjaraku? Tapi sebesar apakah penjara itu hingga aku dapat terbang dan singgah pada tempat-tempat yang jauh dan tinggi? Ataukah hanya yang ada dalam dada ini yang terpenjara? Mungkin memang hanya itu. Organ kecil yang mengatur emosi dan hasrat. Namanya hati. Tapi bukankah aku adalah burung? Mengapa juga dapat merasa punya hati? Bukankah hati hanya dapat dirasakan oleh manusia saja? Manusia yang kebanyakan tolol untuk hati dan pikirannya. Sungguh ketololan luar biasa ketika anugerah itu masih membuat mereka seperti hewan.
Tapi sungguh, aku merasa bebas dalam penjara itu. Dan ketika sayap itu terbang bersama sayap yang lain, penjara itu serasa menyisakan luka. Bahkan aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya. Kalau aku saja tidak tahu, bagaimana yang lain dapat menyembuhkannya? Sedangkan hanya aku yang merasakan luka itu. Lagipula aku tidak punya teman. Siapa yang akan membantu membalut luka itu? Ah…. Luka itu?! Karenanya, sesaat aku menjelma seorang penyair. Aku mampu meresapi luka itu dengan kalimat yang sederhana tapi dalam untukku.. Luka:
Seperti hujan meninggalkan basah
Seperti api menyisakan bara
Dan seperti itulah luka
Sesaat setelah kau meninggalkanku
(AR, April 2009)
Kalau saja Haris Firdaus, penyair muda itu benar, bahwa ada Ajakan ke Atas, Langit, Surga.* Aku ingin mengikutinya. Karena luka terlalu perih dan menyakitkan. Mungkin dengan mengikuti ajakan, aku terbebas dari luka yang menyakitkan atau bahkan dari burung yang berharap pada sayap kedua untuk terbang ke atas.
Atau bila aku punya pilihan, aku akan memilih tetap tidur dalam cangkang telurku. Biarlah terlelap sampai mati sebelum lahir. Dengannya aku tidak akan melihat sayap itu, atau merasakan perih terluka karenanya. Tapi pilihan itu telah ada, sebelum aku merasa dilahirkan. Sekarang aku terlanjur lahir.
Dan aku adalah burung yang hanya punya satu sayap. Sedang mencari sayap kedua untuk dapat terbang ke atas. Dalam kesepian, bukan dengan kawanan.
*Judul Cerpen Haris Firdaus.
Ris, adakah ajakan itu?
Klaten, 2 Mei 2009
Agus Raharjo.
Senin, 04 Mei 2009
NOCTURNO: Malam Hari dan Kesepian
Nocturno, kata yang begitu dekat menjadi metafora dalam menggambarkan sebuah titik rendah dalam religiusitas seorang manusia. Dan tentu saja bagi seorang penyair sekalipun. Kata itu menjadi sangat pas ketika sebuah ketidakberdayaan maupun kesepian berada pada derajat paling puncak pada tingkatannya.
Dalam kesederhanaan kata-katanya namun dapat dirasakan pada bagian terdalam dalam hati manusia, Sapardi Djoko Damono menggambarkan Nokturno sebagai sebuah lagu yang bernada sendu. Penyair kelahiran Solo ini melukiskan sebuah kepasrahan dalam puisinya.
Kepasrahan untuk menyerahkan pada sesuatu yang lebih terang dari pada dirinya sendiri. Seolah dalam keadaan yang patah asa dia berkata pada sesuatu, atau bahkan seseorang, kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Karena dia yakin, ‘yang lain’ itulah yang dapat memberinya kejelasan dalam terang.
Ketidakberdayaan itu semakin terlihat jelas ketika ‘yang lain’, terlihat terlihat bersifat aktif dalam perebutan akan sesuatu itu. Bukan lagi hanya diam menunggu sang penyair menyerah, tapi telah memaksa pada diri sang penyair. Dangan sesuatu yang sebelumnya tidak diduga oleh penyair sendiri.
Hanya isyarat atau tanda yang dapat tersisa dari yang lain itu. Dan sesuatu dari sang penyair telah hilang dari dirinya. Tanpa dia dapat mencegahnya. Bahkan mungkin tanpa dia dapat mengira sebelumnya. Sebuah laku yang putus asa. Putus asa itulah yang membuat kita membuat laku yang tanpa prediksi. Hanya tindakan yang serampangan, pasrah dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat terjadi di belakangnya. Mungkin itulah gambaran sebuah kepasrahan dan ketidakberdayaan. Kalah dari ‘yang lain’, seperti kalimat selanjutnya: Kubiarkan angin yang pucat/ Dan tak habis-habisnya/ gelisah/ Tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu/
Dan nyata sekali bahwa ketidakberdayaan itu mewujud dalam kalimat terakhir, yang secara bijaksana mengisyaratkan asa pada titik paling rendah. Yaitu ketidaktahuan dengan mengajukan pertanyaan yang semestinya dia sendiri yang dapat menjawabnya: Entah kapan kau bisa kutangkap…
Pertanyaan itu diucapkan bukan pada ‘yang hilang’. Justru pada dirinya sendiri. Sikap pesimis telah membuatnya bingung bahkan untuk menjawab pertanyaan yang hanya dia sendiri yang dapat menjawabnya.
Saya, ketika membaca puisi itu, dan dengan mengingat kata-kata Nokturno, membayangkan bahwa yang hilang dari diri sang penyair adalah seseorang. Bisa jadi, yang mempengaruhi saya berpikiran demikian adalah sebuah sinetron remaja yang dulu, sewaktu saya masih SMP pernah mengenalkan saya tentang kata Nokturno untuk pertama kali.
Pada moment yang saya ingat, Nokturno adalah sebuah metafor untuk sebuah kesendirian. Meskipun ketika saya melihat kata itu dalam sebuah kamus, saya mendapati arti sebuah lagu malam hari. Malam hari, bagi saya menjelma menjadi sebuah kesunyian, dan ketakutan akan mengingat sesuatu. Di sanalah kita akan bertemu dengan mimpi-mimpi. Dan disana pulalah kesunyian selalu lekat pada diri kita. Seperti juga gambaran Nocturno-nya Chairil Anwar: Aku menyeru--tapi tidak satu suara/ Membalas, hanya mati di beku udara.
Ada rasa membutuhkan yang sangat besar ketika kita terbangun pada moment-moment malam hari. Dalam kesendirian itu, kita menjadi seorang tak berdaya tanpa ‘yang lain’. Segala semangat juga keinginan, tak beranjak dari tempatnya. Hanya menjadi keinginan dan semangat yang tersimpan dalam diri kita saja. Yang semakin bergejolak dan membuat rasa nyeri dalam jiwa kita. Seolah kita tengah merindukan sesuatu tapi tak pernah sampai juga sesuatu itu pada kita.
Chairil Anwar, penyair yang disebut-sebut pelopor lewat puisi-puisinya, pada bait selanjutnya juga mengurai kedalaman rasa seperti itu dengan kata-katanya: Dalam diriku terbujur keinginan/ Juga tidak bernyawa// Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/ Patah kapak, sia-sia berdaya/ Dalam cekikan hatiku
Di dalam benak saya, bercermin dari pandangan religius, ketika ada anggapan bahwa kita akan lebih dekat dengan Yang Esa, ketika kita bermunajat pada sepertiga malam, adalah sesuatu yang sangat benar. Ketika pada malam hati, kesunyian yang teramat sangat menggelayuti, juga kegundahan luar biasa menerpa, pada momentum itulah kita serasa dapat menerima sesuatu lebih lapang. Karena saat-saat itu kita berada dalam sebuah kerinduan yang memuncak. Karena bias jadi apa yang kita rindukan adalah sesuatu yang sifatnya abstrak.
Saya tidak akan heran, ketika ada seseorang yang dalam waktu-waktu seperti itu dapat meneteskan airmata ketika bermunajat. Bahkan, tanpa bermunajat sekalipun kegundahan dan kerinduan itu dapat memberatkan air yang selalu tersimpan dalam mata kita. Dan tanpa kita sadari, mengalir membasahi kedua pipi kita.
Ketika kita berbicara tentang kesepian, mungkin Nocturno adalah yang paling tepat sebagai metafornya. Nocturno yang berbicara tentang malam, juga tentang kesunyian itu sendiri. Bukan hanya Sapardi dan Chairil yang dapat merasakan romantisme malam hari, tapi dalam sisi religius seseorang, kita bahkan perlu untuk menyelami kesunyian itu, agar kita lebih dekat dengan Yang Esa.
29 April 2009
Agus Raharjo
Dalam kesederhanaan kata-katanya namun dapat dirasakan pada bagian terdalam dalam hati manusia, Sapardi Djoko Damono menggambarkan Nokturno sebagai sebuah lagu yang bernada sendu. Penyair kelahiran Solo ini melukiskan sebuah kepasrahan dalam puisinya.
Kepasrahan untuk menyerahkan pada sesuatu yang lebih terang dari pada dirinya sendiri. Seolah dalam keadaan yang patah asa dia berkata pada sesuatu, atau bahkan seseorang, kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Karena dia yakin, ‘yang lain’ itulah yang dapat memberinya kejelasan dalam terang.
Ketidakberdayaan itu semakin terlihat jelas ketika ‘yang lain’, terlihat terlihat bersifat aktif dalam perebutan akan sesuatu itu. Bukan lagi hanya diam menunggu sang penyair menyerah, tapi telah memaksa pada diri sang penyair. Dangan sesuatu yang sebelumnya tidak diduga oleh penyair sendiri.
Hanya isyarat atau tanda yang dapat tersisa dari yang lain itu. Dan sesuatu dari sang penyair telah hilang dari dirinya. Tanpa dia dapat mencegahnya. Bahkan mungkin tanpa dia dapat mengira sebelumnya. Sebuah laku yang putus asa. Putus asa itulah yang membuat kita membuat laku yang tanpa prediksi. Hanya tindakan yang serampangan, pasrah dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat terjadi di belakangnya. Mungkin itulah gambaran sebuah kepasrahan dan ketidakberdayaan. Kalah dari ‘yang lain’, seperti kalimat selanjutnya: Kubiarkan angin yang pucat/ Dan tak habis-habisnya/ gelisah/ Tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu/
Dan nyata sekali bahwa ketidakberdayaan itu mewujud dalam kalimat terakhir, yang secara bijaksana mengisyaratkan asa pada titik paling rendah. Yaitu ketidaktahuan dengan mengajukan pertanyaan yang semestinya dia sendiri yang dapat menjawabnya: Entah kapan kau bisa kutangkap…
Pertanyaan itu diucapkan bukan pada ‘yang hilang’. Justru pada dirinya sendiri. Sikap pesimis telah membuatnya bingung bahkan untuk menjawab pertanyaan yang hanya dia sendiri yang dapat menjawabnya.
Saya, ketika membaca puisi itu, dan dengan mengingat kata-kata Nokturno, membayangkan bahwa yang hilang dari diri sang penyair adalah seseorang. Bisa jadi, yang mempengaruhi saya berpikiran demikian adalah sebuah sinetron remaja yang dulu, sewaktu saya masih SMP pernah mengenalkan saya tentang kata Nokturno untuk pertama kali.
Pada moment yang saya ingat, Nokturno adalah sebuah metafor untuk sebuah kesendirian. Meskipun ketika saya melihat kata itu dalam sebuah kamus, saya mendapati arti sebuah lagu malam hari. Malam hari, bagi saya menjelma menjadi sebuah kesunyian, dan ketakutan akan mengingat sesuatu. Di sanalah kita akan bertemu dengan mimpi-mimpi. Dan disana pulalah kesunyian selalu lekat pada diri kita. Seperti juga gambaran Nocturno-nya Chairil Anwar: Aku menyeru--tapi tidak satu suara/ Membalas, hanya mati di beku udara.
Ada rasa membutuhkan yang sangat besar ketika kita terbangun pada moment-moment malam hari. Dalam kesendirian itu, kita menjadi seorang tak berdaya tanpa ‘yang lain’. Segala semangat juga keinginan, tak beranjak dari tempatnya. Hanya menjadi keinginan dan semangat yang tersimpan dalam diri kita saja. Yang semakin bergejolak dan membuat rasa nyeri dalam jiwa kita. Seolah kita tengah merindukan sesuatu tapi tak pernah sampai juga sesuatu itu pada kita.
Chairil Anwar, penyair yang disebut-sebut pelopor lewat puisi-puisinya, pada bait selanjutnya juga mengurai kedalaman rasa seperti itu dengan kata-katanya: Dalam diriku terbujur keinginan/ Juga tidak bernyawa// Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/ Patah kapak, sia-sia berdaya/ Dalam cekikan hatiku
Di dalam benak saya, bercermin dari pandangan religius, ketika ada anggapan bahwa kita akan lebih dekat dengan Yang Esa, ketika kita bermunajat pada sepertiga malam, adalah sesuatu yang sangat benar. Ketika pada malam hati, kesunyian yang teramat sangat menggelayuti, juga kegundahan luar biasa menerpa, pada momentum itulah kita serasa dapat menerima sesuatu lebih lapang. Karena saat-saat itu kita berada dalam sebuah kerinduan yang memuncak. Karena bias jadi apa yang kita rindukan adalah sesuatu yang sifatnya abstrak.
Saya tidak akan heran, ketika ada seseorang yang dalam waktu-waktu seperti itu dapat meneteskan airmata ketika bermunajat. Bahkan, tanpa bermunajat sekalipun kegundahan dan kerinduan itu dapat memberatkan air yang selalu tersimpan dalam mata kita. Dan tanpa kita sadari, mengalir membasahi kedua pipi kita.
Ketika kita berbicara tentang kesepian, mungkin Nocturno adalah yang paling tepat sebagai metafornya. Nocturno yang berbicara tentang malam, juga tentang kesunyian itu sendiri. Bukan hanya Sapardi dan Chairil yang dapat merasakan romantisme malam hari, tapi dalam sisi religius seseorang, kita bahkan perlu untuk menyelami kesunyian itu, agar kita lebih dekat dengan Yang Esa.
29 April 2009
Agus Raharjo
Kamis, 30 April 2009
Asal Mula Ketakutan
Pernahkah kita merasakan takut akan sesuatu? Entah pada apapun itu. Mengapakah kita bisa merasakan perasaan seperti itu?
Belum selesai saya membaca Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata, saya menemukan sebuah simpul penyebab rasa takut itu. Mungkin kita telah mengalaminya sejak awal, tapi mungkin kita tidak menyadarinya. Dan ini erat hubungannya dengan persepsi.
Satu pertanyaan kecil sederhana untuk memulainya. Adakah yang bilang cabe itu manis? Pasti tidak ada ya?! Namun, siapa yang menciptakan cabe itu rasanya pedas? Atau apa sih pedas itu? Bisa jadi itu adalah nama turunan yang kita kenal dari orang tua kita. Dulu, salah satu dari kita pasti ada yang menganggap es itu terasa panas kalau kita pegang. Sesungguhnya kita belum mengenal apa itu dingin ketika menamai rasa yang ditawarkan es untuk kita. Tapi orang tua atau siapapun pasti akan memberikan “pembenaran” bahwa es itu dingin.
Hal itu akan sama kasusnya dengan terciptanya sebuah ketakutan. Masih erat hubungannya dengan persepsi yang kita terima dalam memaknai suatu obyek yang ditangkap oleh indera kita. Mengutip dari Psikologi Komunikasi-nya Jalaluddin Rakhmat, Desiderato berpendapat, persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Lebih lanjut, persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi.
Pengalaman. Itulah yang hingga kini membentuk sebuah persepsi pada diri kita tentang sebuah obyek tertentu. Tentu saja bukan pengalaman kita sendiri. Bisa jadi semua itu adalah pengalaman orang-orang terdahulu. Dan seiring dengan interaksi kita dengan orang-orang terdahulu( yang mendahului kita lahir) itulah yang perlahan ikut membentuk persepsi kita akan sebuah obyek yang ditangkap indera kita.
Ketika kita mendapati seseorang dengan ketakutan yang luar biasa pada sesuatu, patut kita lihat pengalaman yang ada di belakangnya. Jangan salahkan si penakut. Taruhlah misalnya, ada orang yang sangat takut akan hal-hal yang berbau mistik, atau hantu. Bisa jadi, ketika kecil, ketakutan itu disebabkan karena ditanamkannya persepsi bahwa hantu itu menakutkan. Ingat, seorang anak kecil yang polos tidak akan langsung dapat mempersepsikan segala sesuatu. Dia tidak akan mengerti apa itu takut, apa itu panas, apa itu pedas.
Persepsi dari orang lainlah yang dapat mempengaruhi pembentukan persepsi itu. Pernah suatu kali saya dapat cerita dari seorang teman saya. Tentang keponakannya yang masih kecil melihat sesosok pocong (diluar konteks benar atau tidak). Tidak ada yang memberitahu keponakan teman saya itu bahwa apa yang dilihatnya adalah pocong (katanya dia sangat sensitive dnegan hal-hal gaib). Yang dia tahu, makhluk serupa pocong itu dia persepsikan sebagai sosok boneka Teletubies. Teman saya dan keluarganya sering melihat keponakannya itu teriak-teriak senang ketika malam, seperti melihat Teletubies. Kalau tidak ada sinetron Jadi Pocong yang diperankan Mandra (Pelawak yang Nyaleg), teman saya dan keluarganya tak akan pernah tahu bahwa yang dilihat keponakannya pada malam-malam itu adalah pocong. Ya, waktu dia melihat sosok pocong pada sinetron itu, seperti biasanya dia berteriak-teriak Teletubies dengan senangnya. Kontan sekeluarga yang melihat itu kaget dan baru sadar kenapa dia sering teriak-teriak Teletubies dan menunjuk pada suatu tempat ketika malam.
Itulah. Anak kecil belum dapat memahami apa itu rasa takut. Mungkin ketika yang melihat itu kita, bisa jadi kita akan merinding dibuatnya. Kenapa? Karena persepsi bahwa pocong itu menakutkan bagi sebagian orang telah melekat pada diri kita. Suatu saat bisa saja persepsi itu berubah atau hilang sama sekali, tapi bisa jadi akan semakin menjadi sebuah ketakutan yang luar biasa. Tinggal bagaimana pengalaman kita sendiri yang memupuknya.
Dan ketika tayangan-tayangan mistik yang belakangan sudah tak laku lagi dalam dunia layar kaca kita tempo hari, bisa jadi membentuk sebuah generasi yang menyepakati bahwa mistik dan hal gaib adalah sebuah hal yang mengerikan dan menakutkan. Jangan lupa bahwa media sangat besar pengaruhnya dalam membentuk sebuah generasi pada diri masyarakatnya.
Ketika kita telah mengetahui betapa persepsi dapat dipengaruhi oleh keadaan kita sekarang, maka bagaimana kita akan turut andil dalam membentuk sebuah penanaman persepsi pada generasi kita kelak? Minimal untuk anak-anak kita, apa yang akan kita tularkan pada anak-anak kita kelak. Itu tergantung pada diri kita. Nah, sekarang hendaklah dipikirkan persepsi apakah yang akan kita tanamkan pada anak kita, apakah jadi seorang penakut? Patriot? Ambisius? Semua tergantung kita sebagai ‘yang terdahulu’.
Solo, 28 April 2009
Agus Raharjo
Belum selesai saya membaca Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata, saya menemukan sebuah simpul penyebab rasa takut itu. Mungkin kita telah mengalaminya sejak awal, tapi mungkin kita tidak menyadarinya. Dan ini erat hubungannya dengan persepsi.
Satu pertanyaan kecil sederhana untuk memulainya. Adakah yang bilang cabe itu manis? Pasti tidak ada ya?! Namun, siapa yang menciptakan cabe itu rasanya pedas? Atau apa sih pedas itu? Bisa jadi itu adalah nama turunan yang kita kenal dari orang tua kita. Dulu, salah satu dari kita pasti ada yang menganggap es itu terasa panas kalau kita pegang. Sesungguhnya kita belum mengenal apa itu dingin ketika menamai rasa yang ditawarkan es untuk kita. Tapi orang tua atau siapapun pasti akan memberikan “pembenaran” bahwa es itu dingin.
Hal itu akan sama kasusnya dengan terciptanya sebuah ketakutan. Masih erat hubungannya dengan persepsi yang kita terima dalam memaknai suatu obyek yang ditangkap oleh indera kita. Mengutip dari Psikologi Komunikasi-nya Jalaluddin Rakhmat, Desiderato berpendapat, persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Lebih lanjut, persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi.
Pengalaman. Itulah yang hingga kini membentuk sebuah persepsi pada diri kita tentang sebuah obyek tertentu. Tentu saja bukan pengalaman kita sendiri. Bisa jadi semua itu adalah pengalaman orang-orang terdahulu. Dan seiring dengan interaksi kita dengan orang-orang terdahulu( yang mendahului kita lahir) itulah yang perlahan ikut membentuk persepsi kita akan sebuah obyek yang ditangkap indera kita.
Ketika kita mendapati seseorang dengan ketakutan yang luar biasa pada sesuatu, patut kita lihat pengalaman yang ada di belakangnya. Jangan salahkan si penakut. Taruhlah misalnya, ada orang yang sangat takut akan hal-hal yang berbau mistik, atau hantu. Bisa jadi, ketika kecil, ketakutan itu disebabkan karena ditanamkannya persepsi bahwa hantu itu menakutkan. Ingat, seorang anak kecil yang polos tidak akan langsung dapat mempersepsikan segala sesuatu. Dia tidak akan mengerti apa itu takut, apa itu panas, apa itu pedas.
Persepsi dari orang lainlah yang dapat mempengaruhi pembentukan persepsi itu. Pernah suatu kali saya dapat cerita dari seorang teman saya. Tentang keponakannya yang masih kecil melihat sesosok pocong (diluar konteks benar atau tidak). Tidak ada yang memberitahu keponakan teman saya itu bahwa apa yang dilihatnya adalah pocong (katanya dia sangat sensitive dnegan hal-hal gaib). Yang dia tahu, makhluk serupa pocong itu dia persepsikan sebagai sosok boneka Teletubies. Teman saya dan keluarganya sering melihat keponakannya itu teriak-teriak senang ketika malam, seperti melihat Teletubies. Kalau tidak ada sinetron Jadi Pocong yang diperankan Mandra (Pelawak yang Nyaleg), teman saya dan keluarganya tak akan pernah tahu bahwa yang dilihat keponakannya pada malam-malam itu adalah pocong. Ya, waktu dia melihat sosok pocong pada sinetron itu, seperti biasanya dia berteriak-teriak Teletubies dengan senangnya. Kontan sekeluarga yang melihat itu kaget dan baru sadar kenapa dia sering teriak-teriak Teletubies dan menunjuk pada suatu tempat ketika malam.
Itulah. Anak kecil belum dapat memahami apa itu rasa takut. Mungkin ketika yang melihat itu kita, bisa jadi kita akan merinding dibuatnya. Kenapa? Karena persepsi bahwa pocong itu menakutkan bagi sebagian orang telah melekat pada diri kita. Suatu saat bisa saja persepsi itu berubah atau hilang sama sekali, tapi bisa jadi akan semakin menjadi sebuah ketakutan yang luar biasa. Tinggal bagaimana pengalaman kita sendiri yang memupuknya.
Dan ketika tayangan-tayangan mistik yang belakangan sudah tak laku lagi dalam dunia layar kaca kita tempo hari, bisa jadi membentuk sebuah generasi yang menyepakati bahwa mistik dan hal gaib adalah sebuah hal yang mengerikan dan menakutkan. Jangan lupa bahwa media sangat besar pengaruhnya dalam membentuk sebuah generasi pada diri masyarakatnya.
Ketika kita telah mengetahui betapa persepsi dapat dipengaruhi oleh keadaan kita sekarang, maka bagaimana kita akan turut andil dalam membentuk sebuah penanaman persepsi pada generasi kita kelak? Minimal untuk anak-anak kita, apa yang akan kita tularkan pada anak-anak kita kelak. Itu tergantung pada diri kita. Nah, sekarang hendaklah dipikirkan persepsi apakah yang akan kita tanamkan pada anak kita, apakah jadi seorang penakut? Patriot? Ambisius? Semua tergantung kita sebagai ‘yang terdahulu’.
Solo, 28 April 2009
Agus Raharjo
Label: foto
kehidupan
Langganan:
Komentar (Atom)