Juni,
malam-malam kurindukan kau karenaNya.
Cinta…
Cinta, itulah kata yang akan aku sematkan untukmu. Yang akan kuucapkan setiap kali aku memanggil namamu. Itulah kata serupa curahan yang aku timpakan padamu. Cukup satu kata saja, bagiku telah mewakili semua kelegaan dan beban dalam pikiran dan jiwaku. Itulah kata yang hanya akan aku ucapkan pada satu orang. Bukan orang lain. Bukan ibu dan ayah yang telah mengajariku bahasanya. Bukan teman dan sahabat yang bicara dengan ketulusannya. Bukan saudara yang membisikkan kebijaksanaannya. Juga bukan pada perempuan-perempuan yang aku nihilkan keberadaannya, setelah ada dirimu. Tapi hanya padamu saja aku gerakkan gairah bibirku untuk satu kata itu. Itulah kata sebagai wujud rasa sayangku. Rasa yang akan semakin menderaku sewaktu kata itu telah melekat untukmu. Dan hanya akan kupanggil untuk memanggilmu. Tentu saja disamping namamu sendiri.
Cinta…
Tahukah kau… Betapa berat menjaga nama itu? Dan betapa banyak cobaan yang menantang untuk aku lalui? Namun, sampai saat itu terjadi—sebuah moment indah—akan kujaga itu. Hanya untukmu seorang. Bukan yang lain. Karena aku juga tahu, Adam hanya untuk Hawa. Bukan yang lain. Akan aku jaga sampai benar-benar datang waktunya aku memanggilmu. Jika mungkin dulu aku pernah mengucapkannya, maafkanlah aku, dan anggaplah itu sebuah khilaf dari beratnya cobaan menjagamu. Dan kesalahan itu bukan untuk selamanya. Darinya aku dapat belajar untuk memaknai kedalaman yang ditawarkan kata itu. Setelah itu, hanya kebanggaan jika aku dapat menjadikannya mahkota yang akan menyanjungmu. Mencoba menerbangkanmu dan memberi ruang tanpa batas dalam mengarunginya.
Aku telah ikhtiarkan mengunci mulutku untuk tidak mengatakan itu pada yang lain. Aku tidak akan iri mendengar suara-suara menggelikan darinya yang dibisikkan orang lain dari kedangkalan nafsunya. Aku juga tak akan mendendam pada khilaf yang telah menyeretku pada kepedihan. Juga pada rasa sakit tatkala aku hanyut dalam melihatnya. Aku tak akan merasa iri pada semua itu. Aku tahu kesejatian adalah dari perjuangan. Dan aku selalu berjuang untuk mencapainya. Dengan segala penderitaan datangnya kelak, juga kerinduan yang ditawarkan iblis agar aku tersesat pada nikmat nafsu yang membakar kita berdua. Aku masih ingin melalui semua itu dengan gigih. Dengan tegak nantinya aku ingin meraih kemenangan dari semua tawaran yang menjatuhkanku pada rendahnya sebuah nilai dari kesejatian kehidupan. Karena telah banyak aku melihat bagaimana seseorang yang tak mampu menahan hanya terperosok semakin jauh dalam sisi kelam nafsunya. Aku memang sering melihat mereka tertawa dengan merendahkan kata itu. Tapi juga kulihat mereka tertawa dalam panasnya api yang disiramkan iblis pada tubuh-tubuh mereka. Sesungguhnya aku hanya merasa kasihan pada mereka, namun mereka tak menyadarinya dan justru menjadi sosok-sosok yang bebal dan buta. Ya Cinta… aku pernah melihat mereka semua tertawa dalam bara yang telah menunggu dalam rumah iblis dengan api nerakanya.
Aku tak menginginkan kita menjadi seperti mereka. Masih bisa tertawa senang sekarang, padahal nantinya apa yang mereka tertawakan adalah perbuatan yang akan mereka tangisi karena membawa mereka pada siksa panasnya api abadi. Bukan itu yang aku harapkan, aku juga yakin itulah yang ingin kamu jaga. Aku begitu paham. Sama sepertimu, aku ingin kamu juga menjelma wanita yang melebihi pesona bidadari. Yang “seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” Aku juga lebih bahagia ketika kau dapat melebihi seorang bidadari. Aku sungguh akan bangga dengan hal itu. Itulah kenikmatan yang hanya dapat dirasakan dalam taman-taman abadi. Aku tidak rela ketika kulitmu nanti terkelupas oleh panasnya api neraka karena apa yang menggoda kita sekarang ini. Meskipun kita juga tidak memungkirinya, bahwa godaan itu sungguh nikmat. Namun kita juga paham, bahwa nikmat itu bukan untuk selamanya. Selama masih kusimpan kata itu. Itu tanda bahwa apa yang kita lakukan adalah nikmat yang sementara belaka. Hingga saat-saat aku telah berikrar, dan kuucapkan kata itu layaknya sebuah lantunan ayat-ayat yang setapak demi setapak memberi jalan menuju taman abadi. Hingga waktu itu belum terjadi, jagalah dirimu dari semua godaan yang membuat kita menjadi rendah dimata Yang Maha Menyayangi.
Cinta… tahukah kau aku sering menitikkan airmata? Ah, bodohnya aku, pasti kau tidak akan tahu. Iya Cinta… dalam kesunyian malam-malamku, kerinduan padamu sungguh begitu besar. Benar-benar menjadi terpaan yang sangat berat untukku. Namun kau tahu? Itu yang selalu memberiku jalan lapang hingga aku senantiasa bermunajat pada Dia Yang Maha Pemurah. Atas kemurahanNya aku masih diberi kesempatan merasakan kerinduan dan cinta. Dan atas kasih sayangNya aku masih diberi jalan untuk dapat bermunajat padaNya. Meskipun kerinduan padamu begitu besar, namun aku sadar karena Allah aku merindukanmu. Karena Allah jua aku merasakan cinta padamu. Aku merasa, Allah telah membuat jalan untuk kita lalui seperti sekarang ini. Entah apa yang akan terjadi nanti, biarlah itu jadi rahasiaNya saja. Kita akan coba menebak dengan ikhtiar kita. Dengan rencana-rencana, dan jerih payah yang kita lakukan, juga doa yang tak alpa kita panjatkan. Darinya, ada tempat terbaik yang menanti kita pada ridho dan barakahNya yang menanti. Biarlah kita titipkan harapan-harapan pada doa yang selalu kita lantunkan ketika kita bergumul dengan ketaatan padaNya.
Nanti… ketika harapan-harapan itu telah mewujud, aku ingin sekali bercerita padamu. Cerita tentang keseharianku, apa yang aku rasakan ketika merindukanmu, tentang ikhtiar yang aku lakukan selama ini, ah…aku akan cerita apa saja padamu. Dan kau adalah sosok yang dengan bijak mendengarkan cerita-ceritaku. Lalu, aku yang akan mendengarkan cerita-cerita tentangmu. Apa saja ingin aku dengar, asal kau yang menceritakannya. Kita akan selalu bercerita ketika kita tengah menikmati ridho dariNya. Dan tak lupa kita akan membuat cerita tentang kehidupan yang senantiasa berjuang untuk apa yang telah kita yakini. Apa yang saat ini masih kita perjuangkan sendiri-sendiri. Kelak, ketika kau mengalami kepenatan atas perjuangan ini, aku yang akan menjadi embun bagi gersangnya kemarau dalam semangatmu. Kau akan menjadi oase bagi Sahara atas jenuh dan lelah yang kualami. Ah…alangkah indah saat-saat seperti itu. Ketika kita berdua dapat saling menguatkan dan saling menopang. Karena yang setengah telah menjadi seutuhnya. Dan kita menjadi pejuang yang sempurna.
Cinta…
Apa yang aku tulis sekarang ini adalah sebuah harapan. Walau masih banyak harapan yang ingin aku tulis, namun aku tak pandai merangkai kata-kata. Aku masih sulit menyusun kata menjadi kalimat sehingga membangun menjadi sebuah paragraph yang indah selayaknya istana Sulaiman. Aku takut ketika kau baca paragraph yang tak indah itu, kau menjadi jenuh. Biarlah harapan-harapan sementara aku titipkan pada Allah saja. Dia akan menyimpannya dalam peluk kasih sayang ketika kulantunkan ayat-ayat doa padaNya. Tapi yakinlah, masih banyak harapan yang tak tertulis dalam bait-bait yang sedikit ini. Dan pahamilah, ada doa dalam ruh ketika aku menulis surat ini padamu. Doa yang terlantun dari laki-laki yang merindukan keberadaanmu. Doa yang terngiang dalam jiwa yang menanti kehadiranmu. Dan doa yang menggelegar dalam semangat untuk menjemputmu. Disanalah aku titipkan segala rasa dan ungkapan. Suatu waktu nanti akan aku endapkan menjadi sebuah kata untuk memanggilmu… Cinta.
Dengan kasih sayang dan kerinduan yang dalam,
Tertanda, AR.
Ya Allah…
Kutitipkan surat ini padaMu. Sampaikan pada sosok yang aku rindukan itu. Dan katakan padanya dengan semua ketulusanku, aku akan mencintainya karenaMu. Aku akan menjaganya untukMu. Aku akan membimbingnya menujuMu. Dan aku akan selalu menemaninya bersamaMu.
Ya Allah…
Katakan juga padanya, akan aku simpan sebuah kata itu hanya untuknya. Cinta. Akan kusematkan kata itu ketika dia telah menjadi pendampingku. Menjadi istriku. Dan katakanlah sebuah pesan untuknya dariku. Bilang padanya untuk bersabar dan selalu menjaga diri. Ikutkanlah ridho dan kasih sayangMu pada kami, Ya Allah. Karena sekarang ini aku belum dapat memanggilnya Cinta.
Solo, 11 Juni 2009
Agus Raharjo
Senin, 29 Juni 2009
Kamis, 28 Mei 2009
Asal Mula Sukoharjo: Menikmati cerita historis, menikmati sebuah kenangan.
Pada suatu waktu, di Majapahit terjadi huru-hara. Banyak prajurit yang tidak lagi setia terhadap kerajaan, melarikan diri dari Majapahit. Mereka tak lagi dapat menepis bahwa Majapahit telah diambang keruntuhan. Dilain sisi, kerajaan Demak maju lebih pesat. Sehingga keberadaannya semakin hari menggusur bumi Majapahit. Demak adalah kerajaan Islam yang maju pesat dengan dukungan para walinya. Dalam keberadaannya, kerajaan Demak bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam di bumi Jawa. Salah satu sebab keruntuhan Majapahit adalah juga disebabkan oleh keberadaan kerajaan Demak. Bala tentara Majapahit telah kalah dari prajurit Demak.
Ketika Majapahit telah diambang keruntuhan, tersebutlah seorang pangeran yang masih bertahan dalam kebimbangannya. Pangeran Banjaransari. Dia merupakan gambaran sosok yang bimbang antara mempertahankan Majapahit ataukan ikut pergi dari Majapahit. Lalu, pilihan telah diambil, dan dia memutuskan untuk pergi berkelana.
Dalam pengelanaannya, suatu ketika, dia dicegat oleh segerombolan begal yang akan merampoknya. Namun, karena kemampuan kanuragan yang dia miliki, Pangeran Banjaransari tak sedikitpun gentar dengan begal yang hendak merampoknya itu. Bahkan malah menantang begal-begal tersebut. Namun, sebelum adu kanuragan terjadi antara Pangeran Banjaransari dan begal-begal terjadi, maka, muncullah sosok manusia yang melerai perkelahian itu.
Dengan bijaknya, sosok laki-laki yang melerai tersebut menasehati para begal agar tidak melawan laki-laki yang dicegatnya, yang adalah Pangeran Banjaransari. Para begal tetap akan kalah ketika melawan Pangeran Banjaransari. Tetapi, apa yang dinasehatkan pada para begal seolah menguap begitu saja. Bahkan laki-laki yang meleraipun akan dibininasakan juga.
Namun, sebelum hal itu terjadi, sosok laki-laki dengan pakaian wali tersebut mengaku di sebagai Sunan Kalijaga. Maka, terkejutlah para begal dan Pangeran Banjaransari dengan kemunculan Sunan Kalijaga. Selanjutnya, Pangeran Banjaransari dan begal yang hendak merampoknya berlutut di hadapan Sunan Kalijaga agar diterima menjadi muridnya. Dengan ketakutan sekaligus kagum, para begal mengatakan bahwa mareka sebenarnya ingin bertobat sejak lama. Maka diterimalah para begal dan Pangeran Banjaransari menjadi murid Sunan Kalijaga. Dan berangkatlah mereka menuju padepokan sang Sunan.
Setelah sekian lama belajar pada Sunan Kalijaga, maka Pangeran Banjaransari mendapat tugas membabat alas Taruwongso dan membantu penduduk sekitarnya untuk keluar dari paceklik yang tengah melanda mereka. Maka dengan segala ilmu yang dimilikinya, didatangilah alas Taruwongso yang terkenal sebagai istana para jin. Usaha babat alas bukan tidak mengalami gangguan. Akan tetapi setelah terjadi pertempuran denan para jin penghuni alas Taruwongso, keluarlah Pangeran Banjaransari sebagai pemenangnya. Para jin yang berhasil dikalahkannya dipindah ke gunung Lawu.
Melihat keadaan masyarakat sekitar alas Taruwongso yang sedang dilanda paceklik dan mengidam-idamkan keadaan Raharjo, maka Pangeran Banjaransari menamakan daerah tersebut dengan nama Sukoharjo.
***
Sampai saat inipun nama Sukoharjo masih tetap ada. Bisa jadi kita termasuk orang yang belum mendengar cerita itu?! Sebuah cerita historis tentang asal mula nama kota Sukoharjo. Cerita yang bisa jadi adalah sebuah karangan saja, atau memang benar adanya, pada masa keruntuhan Majapahit. Dan masih dekat dengan kehidupan para Wali di tanah Jawa.
Terlepas dari kebenaran tidaknya cerita tersebut, memang terdapat sebuah makam yang disebut-sebut sebagai makam Pangeran Banjaransari di Taruwongso, daerah yang menjadi bagian daerah Tawangsari, Sukoharjo. Dan tentang makam itupun, apakah memang makam Pangeran Banjaransari ataukah bukan, saya sendiri juga tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah melihat papan nama yang menulis tempat itu ketika saya pulang dari Wonosari, Gunung Kidul.
Tulisan penunjuk tempat itu sengaja menarik perhatian saya karena malam hari sebelum hari itu, saya ikut menyaksikan sebuah latihan ketoprak dari suatu Padepokan di daerah Pajang. Sehari setelah saya melihat mereka latihan, saya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan mereka. Pertunjukan tentang asal mula nama Sukoharjo. Ya… dari pagelaran ketoprak itulah awal saya mengetahui cerita dibalik nama kota Sukoharjo yang dekat dengan Solo.
Menikmati cerita-cerita historis bagi saya juga menikmati kembali sesuatu yang telah lama hilang. Ketika saya dapat menikmati cerita yang bernuansa sejarah, saya rasa imajinasi saya akan melarutkan kita kembali pada masa cerita itu terjadi. Ada sebuah sensasi tersendiri ketika dapat melihat masa lalu. Rasa-rasanya saya ingin dapat menjelajah waktu dan kembali pada masa-masa dulu ketika cerita itu dapat diingat sebagai sebuah sejarah pada masa kini.
Meskipun begitu, kehilangan itu tetap saja menjadi sebuah kehilangan. Tak dapat lagi menjadi sebuah kenyataan pada masa kini. Dan pagelaran adalah sarana mengenang sejarah layaknya kita memandangi sebuah potret masa kecil kita. Ada sesuatu yang kita rindukan ketika kembali menyimak gambaran-gambaran sejarah yang melintas di hadapan kita.
Malam itu, ketika saya menikmati uraian peritiwa tentang asal mula kota Sukoharjo, adalah sebuah peristiwa yang juga telah menjadi sebuah sejarah saja bagi saya. Mungkin kalau boleh saya bilang, sebuah peristiwa yang akan selalu melekat dalam memori kenangan saya. Peristiwa semacam itu tidak akan dapat saya temui lagi kedepannya. Karena setelah malam itu, saya telah kehilangan salah satu orang terdekat saya. Dan pagelaran ketoprak tentang asal nama kota Sukoharjo, adalah satu kenangan yang dapat dia tinggalkan untuk saya ingat.
Saya hanya dapat mengingat moment menikmati asal mula kota Sukoharjo menjadi bagian dari sejarah yang telah saya lalui. Mengingatnya bagi saya berarti juga menikmati apa yang telah hilang dari diri saya, meskipun saya tidak menginginkannya. Masa lalu telah membingkai moment itu pada tempat terdekat dengan kerinduan saya. Waktu begitu cepat berlalu meninggalkan sejarah yang diukir oleh setiap pribadi.
Sampai saat ini, saya masih dapat melihat dengan jelas kenangan yang baru beberapa hari lalu saya lalui. Namun, waktu jualah yang menjadi pemisah masa. Peristiwa itu menjadi sebuah masa lalu yang tersimpan sebagai penanda saya pernah kehilangan seseorang. Saya hanya dapat menikmati kenangan itu dalam pikiran saya. Gambaran yang sifatnya historis selalu saja menggugah kedalaman batin manusia. Dan sejarah bagi saya adalah bergumul dengan rasa kehilangan. Kenangan selalu saja menyita perhatian kita pada kedalaman peristiwanya.
28 Mei 2009
Agus Raharjo
Ketika Majapahit telah diambang keruntuhan, tersebutlah seorang pangeran yang masih bertahan dalam kebimbangannya. Pangeran Banjaransari. Dia merupakan gambaran sosok yang bimbang antara mempertahankan Majapahit ataukan ikut pergi dari Majapahit. Lalu, pilihan telah diambil, dan dia memutuskan untuk pergi berkelana.
Dalam pengelanaannya, suatu ketika, dia dicegat oleh segerombolan begal yang akan merampoknya. Namun, karena kemampuan kanuragan yang dia miliki, Pangeran Banjaransari tak sedikitpun gentar dengan begal yang hendak merampoknya itu. Bahkan malah menantang begal-begal tersebut. Namun, sebelum adu kanuragan terjadi antara Pangeran Banjaransari dan begal-begal terjadi, maka, muncullah sosok manusia yang melerai perkelahian itu.
Dengan bijaknya, sosok laki-laki yang melerai tersebut menasehati para begal agar tidak melawan laki-laki yang dicegatnya, yang adalah Pangeran Banjaransari. Para begal tetap akan kalah ketika melawan Pangeran Banjaransari. Tetapi, apa yang dinasehatkan pada para begal seolah menguap begitu saja. Bahkan laki-laki yang meleraipun akan dibininasakan juga.
Namun, sebelum hal itu terjadi, sosok laki-laki dengan pakaian wali tersebut mengaku di sebagai Sunan Kalijaga. Maka, terkejutlah para begal dan Pangeran Banjaransari dengan kemunculan Sunan Kalijaga. Selanjutnya, Pangeran Banjaransari dan begal yang hendak merampoknya berlutut di hadapan Sunan Kalijaga agar diterima menjadi muridnya. Dengan ketakutan sekaligus kagum, para begal mengatakan bahwa mareka sebenarnya ingin bertobat sejak lama. Maka diterimalah para begal dan Pangeran Banjaransari menjadi murid Sunan Kalijaga. Dan berangkatlah mereka menuju padepokan sang Sunan.
Setelah sekian lama belajar pada Sunan Kalijaga, maka Pangeran Banjaransari mendapat tugas membabat alas Taruwongso dan membantu penduduk sekitarnya untuk keluar dari paceklik yang tengah melanda mereka. Maka dengan segala ilmu yang dimilikinya, didatangilah alas Taruwongso yang terkenal sebagai istana para jin. Usaha babat alas bukan tidak mengalami gangguan. Akan tetapi setelah terjadi pertempuran denan para jin penghuni alas Taruwongso, keluarlah Pangeran Banjaransari sebagai pemenangnya. Para jin yang berhasil dikalahkannya dipindah ke gunung Lawu.
Melihat keadaan masyarakat sekitar alas Taruwongso yang sedang dilanda paceklik dan mengidam-idamkan keadaan Raharjo, maka Pangeran Banjaransari menamakan daerah tersebut dengan nama Sukoharjo.
***
Sampai saat inipun nama Sukoharjo masih tetap ada. Bisa jadi kita termasuk orang yang belum mendengar cerita itu?! Sebuah cerita historis tentang asal mula nama kota Sukoharjo. Cerita yang bisa jadi adalah sebuah karangan saja, atau memang benar adanya, pada masa keruntuhan Majapahit. Dan masih dekat dengan kehidupan para Wali di tanah Jawa.
Terlepas dari kebenaran tidaknya cerita tersebut, memang terdapat sebuah makam yang disebut-sebut sebagai makam Pangeran Banjaransari di Taruwongso, daerah yang menjadi bagian daerah Tawangsari, Sukoharjo. Dan tentang makam itupun, apakah memang makam Pangeran Banjaransari ataukah bukan, saya sendiri juga tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah melihat papan nama yang menulis tempat itu ketika saya pulang dari Wonosari, Gunung Kidul.
Tulisan penunjuk tempat itu sengaja menarik perhatian saya karena malam hari sebelum hari itu, saya ikut menyaksikan sebuah latihan ketoprak dari suatu Padepokan di daerah Pajang. Sehari setelah saya melihat mereka latihan, saya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan mereka. Pertunjukan tentang asal mula nama Sukoharjo. Ya… dari pagelaran ketoprak itulah awal saya mengetahui cerita dibalik nama kota Sukoharjo yang dekat dengan Solo.
Menikmati cerita-cerita historis bagi saya juga menikmati kembali sesuatu yang telah lama hilang. Ketika saya dapat menikmati cerita yang bernuansa sejarah, saya rasa imajinasi saya akan melarutkan kita kembali pada masa cerita itu terjadi. Ada sebuah sensasi tersendiri ketika dapat melihat masa lalu. Rasa-rasanya saya ingin dapat menjelajah waktu dan kembali pada masa-masa dulu ketika cerita itu dapat diingat sebagai sebuah sejarah pada masa kini.
Meskipun begitu, kehilangan itu tetap saja menjadi sebuah kehilangan. Tak dapat lagi menjadi sebuah kenyataan pada masa kini. Dan pagelaran adalah sarana mengenang sejarah layaknya kita memandangi sebuah potret masa kecil kita. Ada sesuatu yang kita rindukan ketika kembali menyimak gambaran-gambaran sejarah yang melintas di hadapan kita.
Malam itu, ketika saya menikmati uraian peritiwa tentang asal mula kota Sukoharjo, adalah sebuah peristiwa yang juga telah menjadi sebuah sejarah saja bagi saya. Mungkin kalau boleh saya bilang, sebuah peristiwa yang akan selalu melekat dalam memori kenangan saya. Peristiwa semacam itu tidak akan dapat saya temui lagi kedepannya. Karena setelah malam itu, saya telah kehilangan salah satu orang terdekat saya. Dan pagelaran ketoprak tentang asal nama kota Sukoharjo, adalah satu kenangan yang dapat dia tinggalkan untuk saya ingat.
Saya hanya dapat mengingat moment menikmati asal mula kota Sukoharjo menjadi bagian dari sejarah yang telah saya lalui. Mengingatnya bagi saya berarti juga menikmati apa yang telah hilang dari diri saya, meskipun saya tidak menginginkannya. Masa lalu telah membingkai moment itu pada tempat terdekat dengan kerinduan saya. Waktu begitu cepat berlalu meninggalkan sejarah yang diukir oleh setiap pribadi.
Sampai saat ini, saya masih dapat melihat dengan jelas kenangan yang baru beberapa hari lalu saya lalui. Namun, waktu jualah yang menjadi pemisah masa. Peristiwa itu menjadi sebuah masa lalu yang tersimpan sebagai penanda saya pernah kehilangan seseorang. Saya hanya dapat menikmati kenangan itu dalam pikiran saya. Gambaran yang sifatnya historis selalu saja menggugah kedalaman batin manusia. Dan sejarah bagi saya adalah bergumul dengan rasa kehilangan. Kenangan selalu saja menyita perhatian kita pada kedalaman peristiwanya.
28 Mei 2009
Agus Raharjo
Label: foto
coretan
Minggu, 24 Mei 2009
Doa dan Ikrar
Bulan ini, nampaknya adalah bulan yang sungguh baik. Bernuansa positif. Kalaupun ada peramal yang mengatakan, bulan ini adalah bulan bahagia. Mungkin saja benar adanya (bukan bermaksud percaya pada peramal). Bulan dimana banyak penyatuan moment yang menyatukan hati. Bulan berkah bagi para insan yang sedang merindukan “sang pelengkap”.
Bagaimana tidak? Dalam satu bulan ini, ada empat orang dekat saya yang akan berikrar setia pada ikatan suci perkawinan (Hmm…jadi pengen, Ya?!). Dan semuanya saya yakin telah melalui lika-likunya masing-masing untuk dapat berikrar di depan saksi seperti yang akan mereka lakukan itu. Sebuah ikrar yang akan membuat dua insan memegang kewajiban dan haknya masing-masing pada pasangannya.
Ada undangan yang benar-benar saya cermati isi dan gambar-gambarnya. Memang biasanya saya sering tidak memcermati undangan, hanya melihat waktu dan tempatnya saja. Tapi kali ini lain. Ada gambar kupu-kupu dan siput pada desainnya. Pertanyaan pertama yang timbul adalah, apa maksud kupu-kupu disandingkan dengan siput? Yang saya tahu, kupu-kupu adalah penjelmaan dari sebuah proses pembelajaran. Dari ulat yang bisa kita anggap menjijikkan sampai pada kupu-kupu yang menarik perhatian kita. Bisa jadi kupu-kupu adalah sebuah kelahiran baru. Yang jelas, siapa yang merasa menjadi kupu-kupu adalah seorang yang merasa dirinya terlahir kembali dengan segala kebaikan yang melekat padanya. Bagi saya, seseorang yang merasa seperti itu saya anggap adalah orang yang sangat menghargai sebuah proses.
Sedangkan siput? Kita tahu bahwa siput adalah seekor hewan yang malu-malu. suka bersembunyi dalam rumahnya. Dan sangat lambat sekali untuk bergerak. Bisa jadi, lambang dari keberadaan siput adalah gambaran sebuah kesabaran dan “menikmati” perjalanan. Sampai saking lambatnya, mungkin dia adalah seorang yang benar-benar detail jika diminta menerangkan apa yang telah dilewatinya.
Siput dan kupu-kupu? Adalah perpaduan yang tidak sepadan dalam arti ruang dan waktu. Itupun saya dapati pada halaman “Tentang Kami” yang menerangkan tentang pribadi calon pengantin. “Hampir semua yang ada pada kami adalah beda.” Namun, sungguh sangat bijak ketika mereka dapat disatukan oleh “Cinta (Misi dan Jiwa)”. Bisa jadi keduanya sangat menyadari benar perbedaan tersebut, namun, pada akhirnya mereka akan menginjak ke pelaminan.
Ada yang menarik lagi bagi saya pada undangan yang saya terima itu. Adalah doa calon pengantin. Saya akan jujur, bahwa saya membaca sampai pada akhir setiap kata-katanya. Entah itu benar-benar doa mereka atau dibuat oleh desaigner undangan. Namun doa yang mereka panjatkan dapat membuat saya terharu.
:
Doa Kami
Habib:
Berkenanlah Engkau Yaa Rabb,..
Menjadikan hadirnya seorang wanita berada di samping
Hamba_Mu yang lemah ini
Menjadikan hadirnya seorang wanita memberikan kesejukan
Dalam rona-rona biru hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan lembut dan kelembutannya
Menjadikan karang dalam hati ini,…luluhhh
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan sabar dan kesabarannya
Menjdikan hati ini mampu mencapai Mardhatillah bersamanya…
Menjdaikan hadirnya seorang wanita dalam hari-hari
Menapaki jalan hidup di dunia menuju Akhirat yang abadi
Menjadikan hadirnya seorang wanita pengarah arah tujuan
Manakala terdapat khilaf dalam menapaki jalan hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita,.. sebagai kekuatan setelah kekuatan_Mu dengan doanya
Menjadikan hadirnya seorang wanita dnegan ketaatannya
Memasukkan kami bersama dirinya dalam Syurga dengan Ridho_Mu
Eni:
Dalam jalani hidup dan kehidupan
Tuhanku…
Aku berdoa untuk seiorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Tuhanku…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuik mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkandiriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Tuhanku…
Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekadar cintaku..
Pada akhir doa, masih ditambah lagi kalimat: Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: “Betapa Maha Besar Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”
Bagi saya sungguh menjadi doa yang menggetarkan. Bukan karena umur saya yang mendekatinya, tapi karena ada ketulusan yang saya rasakan. Ketulusan yang tidak muluk-muluk. Ketulusan yang muncul dari hati.
Bisa jadi saya iri pada keduanya. Dan membaca kedua doa tersebut, saya berpikir, kapan saya dapat membacanya? Juga kapan saya akan didoakan seperti itu. Hmm…mungkin saat ini saya hanya bisa berdoa, Ya Allah…berikanlah kekuatan pada kami sedikit kekuatanmu untuk kesabaran kami menunggu saat-saat itu terjadi. Jagalah kami seperti kami juga berniat untuk menjaga diri masing-masing sampai pada waktunya nanti. Amin…
Doa dan Ikrar? Menjadi benar-benar sakral ketika berada pada momentum yang tepat. Sebelum Ikrar itu benar-benar diucapkan. Doa adalah tempat yang paling tepat untuk meletakkan janji. Dan sebuah Nadzar adalah perwujudan dari seberapa besar kesungguhan akan hal itu. Sekali lagi, semoga Allah memberikan jalan yang terang…
Solo, 20 Mei 2009
Agus Raharjo
Bagaimana tidak? Dalam satu bulan ini, ada empat orang dekat saya yang akan berikrar setia pada ikatan suci perkawinan (Hmm…jadi pengen, Ya?!). Dan semuanya saya yakin telah melalui lika-likunya masing-masing untuk dapat berikrar di depan saksi seperti yang akan mereka lakukan itu. Sebuah ikrar yang akan membuat dua insan memegang kewajiban dan haknya masing-masing pada pasangannya.
Ada undangan yang benar-benar saya cermati isi dan gambar-gambarnya. Memang biasanya saya sering tidak memcermati undangan, hanya melihat waktu dan tempatnya saja. Tapi kali ini lain. Ada gambar kupu-kupu dan siput pada desainnya. Pertanyaan pertama yang timbul adalah, apa maksud kupu-kupu disandingkan dengan siput? Yang saya tahu, kupu-kupu adalah penjelmaan dari sebuah proses pembelajaran. Dari ulat yang bisa kita anggap menjijikkan sampai pada kupu-kupu yang menarik perhatian kita. Bisa jadi kupu-kupu adalah sebuah kelahiran baru. Yang jelas, siapa yang merasa menjadi kupu-kupu adalah seorang yang merasa dirinya terlahir kembali dengan segala kebaikan yang melekat padanya. Bagi saya, seseorang yang merasa seperti itu saya anggap adalah orang yang sangat menghargai sebuah proses.
Sedangkan siput? Kita tahu bahwa siput adalah seekor hewan yang malu-malu. suka bersembunyi dalam rumahnya. Dan sangat lambat sekali untuk bergerak. Bisa jadi, lambang dari keberadaan siput adalah gambaran sebuah kesabaran dan “menikmati” perjalanan. Sampai saking lambatnya, mungkin dia adalah seorang yang benar-benar detail jika diminta menerangkan apa yang telah dilewatinya.
Siput dan kupu-kupu? Adalah perpaduan yang tidak sepadan dalam arti ruang dan waktu. Itupun saya dapati pada halaman “Tentang Kami” yang menerangkan tentang pribadi calon pengantin. “Hampir semua yang ada pada kami adalah beda.” Namun, sungguh sangat bijak ketika mereka dapat disatukan oleh “Cinta (Misi dan Jiwa)”. Bisa jadi keduanya sangat menyadari benar perbedaan tersebut, namun, pada akhirnya mereka akan menginjak ke pelaminan.
Ada yang menarik lagi bagi saya pada undangan yang saya terima itu. Adalah doa calon pengantin. Saya akan jujur, bahwa saya membaca sampai pada akhir setiap kata-katanya. Entah itu benar-benar doa mereka atau dibuat oleh desaigner undangan. Namun doa yang mereka panjatkan dapat membuat saya terharu.
:
Doa Kami
Habib:
Berkenanlah Engkau Yaa Rabb,..
Menjadikan hadirnya seorang wanita berada di samping
Hamba_Mu yang lemah ini
Menjadikan hadirnya seorang wanita memberikan kesejukan
Dalam rona-rona biru hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan lembut dan kelembutannya
Menjadikan karang dalam hati ini,…luluhhh
Menjadikan hadirnya seorang wanita dengan sabar dan kesabarannya
Menjdikan hati ini mampu mencapai Mardhatillah bersamanya…
Menjdaikan hadirnya seorang wanita dalam hari-hari
Menapaki jalan hidup di dunia menuju Akhirat yang abadi
Menjadikan hadirnya seorang wanita pengarah arah tujuan
Manakala terdapat khilaf dalam menapaki jalan hidup
Menjadikan hadirnya seorang wanita,.. sebagai kekuatan setelah kekuatan_Mu dengan doanya
Menjadikan hadirnya seorang wanita dnegan ketaatannya
Memasukkan kami bersama dirinya dalam Syurga dengan Ridho_Mu
Eni:
Dalam jalani hidup dan kehidupan
Tuhanku…
Aku berdoa untuk seiorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Tuhanku…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuik mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkandiriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Tuhanku…
Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekadar cintaku..
Pada akhir doa, masih ditambah lagi kalimat: Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: “Betapa Maha Besar Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”
Bagi saya sungguh menjadi doa yang menggetarkan. Bukan karena umur saya yang mendekatinya, tapi karena ada ketulusan yang saya rasakan. Ketulusan yang tidak muluk-muluk. Ketulusan yang muncul dari hati.
Bisa jadi saya iri pada keduanya. Dan membaca kedua doa tersebut, saya berpikir, kapan saya dapat membacanya? Juga kapan saya akan didoakan seperti itu. Hmm…mungkin saat ini saya hanya bisa berdoa, Ya Allah…berikanlah kekuatan pada kami sedikit kekuatanmu untuk kesabaran kami menunggu saat-saat itu terjadi. Jagalah kami seperti kami juga berniat untuk menjaga diri masing-masing sampai pada waktunya nanti. Amin…
Doa dan Ikrar? Menjadi benar-benar sakral ketika berada pada momentum yang tepat. Sebelum Ikrar itu benar-benar diucapkan. Doa adalah tempat yang paling tepat untuk meletakkan janji. Dan sebuah Nadzar adalah perwujudan dari seberapa besar kesungguhan akan hal itu. Sekali lagi, semoga Allah memberikan jalan yang terang…
Solo, 20 Mei 2009
Agus Raharjo
Langganan:
Komentar (Atom)