Pada suatu waktu, rumah saya kedatangan ‘keluarga’ baru. Dua ekor. Satu warnanya hitam dengan sedikit corak coklat, dan satu lagi warna putih dengan totol warna hitam. Sosok itu tak lain adalah dua ekor anjing. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata keluarga bukan tanpa sebab. Saya ingin memberi tekanan pada kata itu. Alasannya adalah waktu itu, saya terpaksa menerima kehadiran dua anggota keluarga baru itu.
Saya memang terpaksa menerima kedatangan dua anggota keluarga baru itu, dengan beberapa alasan. Yang pertama, jelas, saya sebagai seorang muslim menghindari berinteraksi dengan anjing, karena air liur dari anjing yang dapat menyebabkan najis. Karena sepengetahuan saya, air liur anjing mengandung bakteri yang berbahaya bagi manusia. Meskipun itu hanya alasan logis yang belum dapat saya terima sepenuhnya, karena kita juga tidak mengharamkan air liur Komodo yang nyata-nyata banyak sekali kandungan bakterinya. Akan tetapi alasan keyakinanlah yang lebih besar.
Alasan kedua adalah, saya meragukan nasib dua anjing yang datang kerumah itu. Akan seperti apa nantinya mereka kedepannya. Dan catatan saya ini, adalah arah dari nasib kedua keluarga baru tersebut. Kisahnya seperti ini:
Dari kedua anjing itu, sebut saja yang jantan namanya Kampret, dan betina saya panggil Pini. Pini telah melahirkan anak kecil-kecil yang lucu-lucu. dari 4 anaknya, 2 diminta oleh saudara, jadi hanya tinggal 2 di rumah. Yang satu warnanya seperti Kampret, dan yang satu seperti Pini. Dari dua anak anjing ini, yang mirip Pini waktu kecil menderita lumpuh. Dia tidak bisa lari-lari seperti saudaranya. Saya merasa iba padanya, maka ketika saya dirumah, saya yang biasa memberi makan dan menemaninya. Hal itu terjadi sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari lagi.
Ketika dia bisa berlari-lari, saudaranya yang mirip dengan Kampret telah pergi dari rumah dan tak pernah kembali. Maka kami menyebutnya ‘hilang’. Alhasil, hanya tinggal tiga ekor. Beberapa waktu setelah anak anjing itu ‘hilang’, ternyata Kampret juga dinyatakan hilang, karena keluar tapi tak pernah kembali pulang. Pada akhirnya tinggalah dua anjing yang memiliki warna dan kesetiaan yang begitu hebat. Karena dua anjing ini ternyata yang selalu kembali ketika letih keluar.
Pini dan anaknya, saya kira tipe-tipe anjing pemburu. Saya melihat tipikal dari posturnya yang kecil kurus, tapi gesit dan kebiasaan anjing itu yang suka membawa ayam mati ketika pulang dari keluar. Terlebih Pini. Saya tidak heran karena pernah melihat anjing yang tipikalnya sama dengan anjing itu di acara televisi yang digunakan untuk berburu babi hutan.
Entah mengapa kedua anjing ini juga sangat setia, terlebih anaknya Pini, terhadap saya. Bisa jadi dia masih mengingat bahwa yang merawatnya di waktu lumpuh adalah saya. Namun, catatan ini adalah ungkapan maaf yang mungkin tak akan pernah sampai. Saya begitu bodoh dan mungkin lebih hida dari dia. Saya tak akan marah, kalau dikatakan seperti itu. Ketika mengingat kejadian di suatu pagi itupun saya merasa menyesal dan selalu ingin menangis.
Pada pagi itu, ketika saya pulang dari Jakarta, saya mendengar bahwa Pini dan anaknya akan dijual. Sebelumnya saya sempat tidak percaya, akan tetapi hal itu ternyata kabar yang benar-benar terjadi. Pagi itu, datanglah seorang yang bernama Jenal. Laki-laki itu mungkin masih jadi satu-satunya penjual sate anjing di daerah saya. Lalu tawar menawar tentang harga dimulai. Saat itulah, saya benar-benar ingin marah dan ingin memaki orang-orang yang ada dirumah. Ketika saya tanya, kenapa anjingnya mau dijual, alasannya sungguh tidak bijaksana sama sekali. “Karena anjingnya suka menerkam ayam!”
Sungguh, siapa sebenarnya yang tidak bermoral? Anjing yang berkelakuan sesuai naluri atau manusia yang menuntut anjing berkelakuan seperti manusia?! Bagi saya sungguh tidak bijak ketika menuduh seekor anjing ‘cluthak’ ketika menerkam ayam. Karena justru itulah naluri dasarnya sebagai seekor anjing pemakan daging!
Waktu itu, anaknya Pini yang akhirnya disepakati dijual. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih ketika itu, yang saya lakukan sesegera mungkin adalah pergi dari rumah. Saat itu saya piker apa yang dilakukan orang-orang di rumah saya sungguh keterlaluan. Kesetiaan dibayar dengan pengkhianatan. Itulah yang ada dalam kepala saya. Rasanya saya tidak ingin kembali lagi kerumah itu, atau pulang.
Pada saat anaknya Pini—saya sebut Pini kecil—akan ditangkap, orang-orang rumah kesulitan. Pini kecil selalu mendekat ke saya. Lalu ibu saya yang waktu itu juga ingin menangkapnya memerintahkan saya untuk menangkapnya. Saya, yang saat itu menahan air mata, menjawab dengan kata “Rasudi!” yang memang kasar. Tapi, itu adalah ungkapan emosi saya atas apa yang terjadi. Setelah itu saya yang rencananya akan ke Solo siang, saat itu juga berangkat ke Solo. Saya tidak sanggup katika harus melihat apa yang akan terjadi dnegan Pini Kecil. Karena saya membayangkan Pini Kecil akan dibunuh dengan cara yang paling biadab, seperti oaring membunuh anjing pada umumnya untuk dijadikan sate.
Untuk Pini Kecil, maaf saya juga menjadi seorang pengkhianat karena tidak bisa menolongmu. Saya benar-benar menyesal tidak bisa menolongmu. Ketika mengingatmu, saya teringat dengan sebuah cerpen karya Martin Aleida, “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”. Sebuah contoh manusia bisa lebih rakus dan biadab dari seekor anjing. Sama seperti apa yang dikatakan Martin Aleida, “Mati Baik-baik, Kawan!”
Maaf, dan selamat jalan!
27 februari 2011
agus raharjo
Senin, 28 Februari 2011
Minggu, 23 Mei 2010
Surat Untuk Cinta #6
Cinta,,
Apa yang harus kukatakan, jika engkau telah memenuhi warna hidup ini? Jika kuhirup udara pagi nan sejuk, terasa bagaikan embun di pucuk daun. Hampir jatuh dan terlepas bersama tetes resah mencium tanah. Lalu tanah telah basah akan doa dan keinginan. Menjalar, menyusup, dan membelai lembut akar-akar hidup. Dan kembali untuk menggapai bunga dan daun nafasku.
Sapalah aku cinta.
Dengan merdu langkah-langkah anggun menuju tanah terang. Sapalah aku dengan suara dari ayat-ayat hayat. Akan kudengar setiap katamu bagaikan intonasi dan nada berharmoni tinggi. Akan kucerna bait demi bait suara yang menggemakan hatimu. Hingga kurasakan setiap tarikan nafasmu adalah obat dari segala rindu. Dia adalah penawar, dia adalah racun, dia adalah cinta.
Sapalah aku ketika bulan merasa menang dari mentari. Di setiap cahaya jingga parasnya, meski disekeliling kita adalah malam tergelap. Akulah cahayamu, atau kamulah cahayaku. Dan katakanlah bahwa kita saling merindu kepada bulan. Agar dia tak lagi angkuh menjadi cahaya yang sementara pada gelap kita. Sapalah aku, Cinta.
Cinta, tidakkah kau lihat kita tengah dipermainkan. Bagaikan boneka aku pasrah, bagaikan boneka kau selalu tersenyum. Kita menjadi lautan yang tak lagi diterka dalamnya. Dengan lantunan syair biru langitnya. Apakah kau malu pada pandangannya? Apakah kau takut kata tak setia? Namaku hanyalah nama. Sebab aku dipanggil oleh mereka. Tapi bukan namaku yang datang meminta cintamu. Jikapun namaku lain, aku tetap menjadi aku. Aku tetap yang mengurai makna keberadaanmu. Aku tetap mencintaimu. Cintaku hanya untuk Cinta. Untukmu.
Cinta,
Disini aku seperti hidup dalam kepingan kisah yang tak utuh. Ada bayangmu yang mengintai sejak senja menemukanku dalam airmata kehilangan. Kau jauh. Jauh dalam tapal imaji yang menggoda. Yang dibalik bukit kukira aku menemukan cakrawala. Tapi kau selalu ada dibatas malam. Ketika sabda Sang Esa terasa mendekat di telinga. Memanggil, memanggilku untuk takluk pada rayuan pagi yang melankoli. Hari esok yang terdengar lain dari saat ada kau.
Aku menghitung detik-detik yang berganti. Menandai bahwa kau terlalu lama bersembunyi. Adakah kau merasa bahwa kita seharusnya terbuka? Karena ada hal lain dari sekadar untuk bertahan hidup. Ada sosok yang muncul tenggelam diruang ego kita. Apakah cinta mendengarku? Apakah kau mau menyapaku?
Aku tubuh dari derita semesta. Aku jiwa yang tertahan dunia. Apakah masih sama seperti impian berujud kata? Kata serupa mengganti frasa puitis. Kau adalah senja selamanya. Rawan, resah, melankoli, tapi tak mampu ku menolak cinta. Bibirmu memberi alunan setiap kata terdengar tak semestinya. Bagai sabda ratu menawan pencari hati. Melintang, dalam garis jelas penjaraku. matamu, hidungmu, rambutmu, dan semua tentangmu terlukis pada dewi keindahan. Aku takluk, aku tunduk, bersama bait-bait pembawa kabar gembira. Tentang kita yang semakin merasa dekat. Meski kau tak mendengarku. Meski ku tak melihatmu.
Cinta, aku ingin mengirim puisi terindah padamu. Puisi yang bukan aku penulisnya. Penulisnya berkata,”Berikanlah puisi terindah pada cinta terindah. Serahkanlah puisi teranggun pada cinta yang terpilih. Karena puisi ini hanya untuk dia yang berhak. Puisi ini lebih indah dari semua yang pernah ditulis. Karena puisi ini adalah kau! Maka serahkan jiwamu pada dia yang mampu membimbingmu! Dia bukan pencari dunia, tapi dia menyusun setiap keping pasir menjadi istana di surga. Dia adalah cinta yang akan abadi. Maka berikanlah puisiKu padanya!”
Cinta, itulah kau. Yang tengah menyusun pasir-pasir kebijaksaan hingga menjelma istana di negeri sana. Aku ingin menyerahkan puisi terindah itu. Karena kau adalah cinta. Karena kau memang patut dipuja.
Maka, berikanlah aku sapa. Agar aku menjelma puisi seindah lantunan ayat-ayat hayat!
Klaten, 22 Mei 2010
Agus Raharjo
Apa yang harus kukatakan, jika engkau telah memenuhi warna hidup ini? Jika kuhirup udara pagi nan sejuk, terasa bagaikan embun di pucuk daun. Hampir jatuh dan terlepas bersama tetes resah mencium tanah. Lalu tanah telah basah akan doa dan keinginan. Menjalar, menyusup, dan membelai lembut akar-akar hidup. Dan kembali untuk menggapai bunga dan daun nafasku.
Sapalah aku cinta.
Dengan merdu langkah-langkah anggun menuju tanah terang. Sapalah aku dengan suara dari ayat-ayat hayat. Akan kudengar setiap katamu bagaikan intonasi dan nada berharmoni tinggi. Akan kucerna bait demi bait suara yang menggemakan hatimu. Hingga kurasakan setiap tarikan nafasmu adalah obat dari segala rindu. Dia adalah penawar, dia adalah racun, dia adalah cinta.
Sapalah aku ketika bulan merasa menang dari mentari. Di setiap cahaya jingga parasnya, meski disekeliling kita adalah malam tergelap. Akulah cahayamu, atau kamulah cahayaku. Dan katakanlah bahwa kita saling merindu kepada bulan. Agar dia tak lagi angkuh menjadi cahaya yang sementara pada gelap kita. Sapalah aku, Cinta.
Cinta, tidakkah kau lihat kita tengah dipermainkan. Bagaikan boneka aku pasrah, bagaikan boneka kau selalu tersenyum. Kita menjadi lautan yang tak lagi diterka dalamnya. Dengan lantunan syair biru langitnya. Apakah kau malu pada pandangannya? Apakah kau takut kata tak setia? Namaku hanyalah nama. Sebab aku dipanggil oleh mereka. Tapi bukan namaku yang datang meminta cintamu. Jikapun namaku lain, aku tetap menjadi aku. Aku tetap yang mengurai makna keberadaanmu. Aku tetap mencintaimu. Cintaku hanya untuk Cinta. Untukmu.
Cinta,
Disini aku seperti hidup dalam kepingan kisah yang tak utuh. Ada bayangmu yang mengintai sejak senja menemukanku dalam airmata kehilangan. Kau jauh. Jauh dalam tapal imaji yang menggoda. Yang dibalik bukit kukira aku menemukan cakrawala. Tapi kau selalu ada dibatas malam. Ketika sabda Sang Esa terasa mendekat di telinga. Memanggil, memanggilku untuk takluk pada rayuan pagi yang melankoli. Hari esok yang terdengar lain dari saat ada kau.
Aku menghitung detik-detik yang berganti. Menandai bahwa kau terlalu lama bersembunyi. Adakah kau merasa bahwa kita seharusnya terbuka? Karena ada hal lain dari sekadar untuk bertahan hidup. Ada sosok yang muncul tenggelam diruang ego kita. Apakah cinta mendengarku? Apakah kau mau menyapaku?
Aku tubuh dari derita semesta. Aku jiwa yang tertahan dunia. Apakah masih sama seperti impian berujud kata? Kata serupa mengganti frasa puitis. Kau adalah senja selamanya. Rawan, resah, melankoli, tapi tak mampu ku menolak cinta. Bibirmu memberi alunan setiap kata terdengar tak semestinya. Bagai sabda ratu menawan pencari hati. Melintang, dalam garis jelas penjaraku. matamu, hidungmu, rambutmu, dan semua tentangmu terlukis pada dewi keindahan. Aku takluk, aku tunduk, bersama bait-bait pembawa kabar gembira. Tentang kita yang semakin merasa dekat. Meski kau tak mendengarku. Meski ku tak melihatmu.
Cinta, aku ingin mengirim puisi terindah padamu. Puisi yang bukan aku penulisnya. Penulisnya berkata,”Berikanlah puisi terindah pada cinta terindah. Serahkanlah puisi teranggun pada cinta yang terpilih. Karena puisi ini hanya untuk dia yang berhak. Puisi ini lebih indah dari semua yang pernah ditulis. Karena puisi ini adalah kau! Maka serahkan jiwamu pada dia yang mampu membimbingmu! Dia bukan pencari dunia, tapi dia menyusun setiap keping pasir menjadi istana di surga. Dia adalah cinta yang akan abadi. Maka berikanlah puisiKu padanya!”
Cinta, itulah kau. Yang tengah menyusun pasir-pasir kebijaksaan hingga menjelma istana di negeri sana. Aku ingin menyerahkan puisi terindah itu. Karena kau adalah cinta. Karena kau memang patut dipuja.
Maka, berikanlah aku sapa. Agar aku menjelma puisi seindah lantunan ayat-ayat hayat!
Klaten, 22 Mei 2010
Agus Raharjo
Label: foto
pribadi
Mei: Setangkai bunga Morishcha yang Indah
Pada kisah Mei selanjutnya, saya ingin bercerita tentang sebuah imajinasi yang banal. Kisah ini bisa jadi akan selalu mengingatkan saya dengan bulan yang paling sedikit hurufnya, namun banyak cerita yang lahir di dalamnya. Ini tentang sebuah bunga, yang anggap saja kita mengenalnya seperti kita mengenal anggrek maupun melati—saya lebih menyukai anggrek. Terlebih anggrek putih yang meskipun tergolong murah, namun baunya sangat wangi. Ini kisah tentang setangkai bunga yang bisa kita gambar dalam imajinasi kita. Kisah tentang ‘setangkai bunga Morishcha’.
Setangkai bunga Morishcha, adalah setangkai bunga yang pernah saya dengar baru sekali. Entah nama latin untuk bunga apa atau nama bunga dari bahasa mana, saya tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah merasa kehilangan bunga itu pada bulan Mei, tahun lalu. Nama bunga itu untuk pertama kali saya dengar dari seseorang yang pernah diberitahu oleh seseorang yang dahulu adalah penari.
Kisah perkenalan saya dengan bunga Morishcha adalah sebuah kesengajaan yang tidak disengaja. Jauh sebelum saya mengenal bunga itu, jauh dalam imajinasi saya telah melukis sesosok bunga yang membuat saya merasa terkesan. Bunga itu, saya gambarkan sebagai bunga yang menyimpan misteri dalam keangkuhannya. Aura yang terpancar dari anggun warnanya membuat seseorang yang melihatnya akan tertawan jiwanya. Dari dasar imajinasinya segera menjelma sebuah misteri yang tak terjangkau dalamnya. Dan bunga itulah yang senantiasa membuat saya merasa ikut menjadi seorang yang angkuh.
Dan untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya menemukan sosok bunga itu hanya dalam setangkai bunga Morishcha. Hanya setangkai. Karena memang bunga ini mekar tidak bersama-sama, hanya setangkai saja. Maka, itulah yang menarik. Bunga ini menjadi setangkai bunga yang anggun dan menawan. Keindahannya terletak pada satu tangkainya. Jika bunga ini menguncup pada tangkai yang banyak, maka keindahan itu akan sama saja dengan bunga-bunga yang lain. Maka, inilah bait-bait perpisahanku dengan setangkai bunga itu.
Pada bulan ini satu tahun yang lalu, saya dengan bunga Morishcha juga gambaran keindahannya mengarungi suatu masa ketika pada suatu malam kita kembali ke jaman Majapahit. Saat itu, kita dengan damai memasuki wilayah Majapahit yang tengah terjadi huru-hara. Sampai akhirnya kita bertemu dengan sosok yang penuh karismatik Pangeran Banjaransari—orang yang erat hubungannya dengan lahirnya nama Sukoharjo. Saya, bersama setangkai Morishcha, menjadi saksi betapa dengan gagahnya, pangeran yang berguru pada Sunan Kalijaga ini membantu rakyat alas Taruwongso keluar dari masa paceklik yang telah lama dialaminya. Meskipun hanya kisah yang pendek, namun saya memahami, begitu dekatnya saya, bunga Morishcha, dan Pangeran Banjaransari waktu itu.
Namun, seperti halnya saya kehilangan Pangeran Banjaransari yang hanya dapat saya kenang melalui makamnya di Tamansari, Sukoharjo, sayapun merasa kehilangan bunga Morishcha dan hanya dapat mengenangnya melalui nisan yang tertancap dalam hati saya. Kisah itu begitu singkat, namun penuh liku. Dari sana, ada keberanian, ketakutan, kegelisahan, ketenangan, rasa pasrah, cemburu, tawa, tangis, dan kebijaksanaan serta ketololan. Hanya dari setangkai itu, telah lahir kisah yang selalu dapat saya ingat. Mungkin juga tidak akan pernah saya lupakan.
Jikapun ada sesal, sesal itu tak akan merubah apa-apa. Bunga itu telah hanyut dalam tangkainya entah pada imajinasi siapa. Saya masih dapat mengingatnya dengan jelas, ketika hujan menandai betapa kita saling membutuhkan. Hujan memberiku airmatanya, dan hujan mengantarkannya padaku sebagai setangkai bunga yang menakjubkan. Angkuh, anggun, namun menyimpan misteri yang menawan.
Jika saya masih mempunyai kesempatan untuk membelai bunga itu lagi, saya ingin menyimpannya erat-erat dalam hati dan kutanam agar benih yang angkuh itu merebak dengan wangi didalam imajinasi. Akan kusiram tanah yang merekah menerimanya sebagai bunga abadi nan puitis. Setidaknya akan kujelmakan ia dengan bahasa yang santun. Tapi pada bulan Mei itu, saya harus merelakannya tercabut dari akar imajinasi saya. Dan mungkin saya masih ingin mengirimkan puisi ini untuk mengingatnya.
Dalam rawan kelopakmu
Kutemukan sabda ratu keindahan
Meskipun angkuh, titahmu pernah menawanku
Dan pada bait sepi, tertulis lirik-lirik sedih
Aku telah kehilangan,
Sebuah melankoli kokohnya setangkaimu
Dari kata menjelma rupa, mewujud frasa takdirku
Pergimu, kuharap bukan tanda baca nihilmu
Aku lelap, dalam hujan yang membelaiku
Pada bau tanah basah,
Mengingatmu merindukan tanah merekah
Tempat disemainya bulir-bulir keanggunan
Setangkai bunga menjelma cinta, Morishcha.
(RA: ‘Setangkai Bunga Morishcha yang Indah’)
Solo, 21 Mei 2010 (02.45)
Agus Raharjo
Setangkai bunga Morishcha, adalah setangkai bunga yang pernah saya dengar baru sekali. Entah nama latin untuk bunga apa atau nama bunga dari bahasa mana, saya tidak tahu secara pasti. Namun, saya pernah merasa kehilangan bunga itu pada bulan Mei, tahun lalu. Nama bunga itu untuk pertama kali saya dengar dari seseorang yang pernah diberitahu oleh seseorang yang dahulu adalah penari.
Kisah perkenalan saya dengan bunga Morishcha adalah sebuah kesengajaan yang tidak disengaja. Jauh sebelum saya mengenal bunga itu, jauh dalam imajinasi saya telah melukis sesosok bunga yang membuat saya merasa terkesan. Bunga itu, saya gambarkan sebagai bunga yang menyimpan misteri dalam keangkuhannya. Aura yang terpancar dari anggun warnanya membuat seseorang yang melihatnya akan tertawan jiwanya. Dari dasar imajinasinya segera menjelma sebuah misteri yang tak terjangkau dalamnya. Dan bunga itulah yang senantiasa membuat saya merasa ikut menjadi seorang yang angkuh.
Dan untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya menemukan sosok bunga itu hanya dalam setangkai bunga Morishcha. Hanya setangkai. Karena memang bunga ini mekar tidak bersama-sama, hanya setangkai saja. Maka, itulah yang menarik. Bunga ini menjadi setangkai bunga yang anggun dan menawan. Keindahannya terletak pada satu tangkainya. Jika bunga ini menguncup pada tangkai yang banyak, maka keindahan itu akan sama saja dengan bunga-bunga yang lain. Maka, inilah bait-bait perpisahanku dengan setangkai bunga itu.
Pada bulan ini satu tahun yang lalu, saya dengan bunga Morishcha juga gambaran keindahannya mengarungi suatu masa ketika pada suatu malam kita kembali ke jaman Majapahit. Saat itu, kita dengan damai memasuki wilayah Majapahit yang tengah terjadi huru-hara. Sampai akhirnya kita bertemu dengan sosok yang penuh karismatik Pangeran Banjaransari—orang yang erat hubungannya dengan lahirnya nama Sukoharjo. Saya, bersama setangkai Morishcha, menjadi saksi betapa dengan gagahnya, pangeran yang berguru pada Sunan Kalijaga ini membantu rakyat alas Taruwongso keluar dari masa paceklik yang telah lama dialaminya. Meskipun hanya kisah yang pendek, namun saya memahami, begitu dekatnya saya, bunga Morishcha, dan Pangeran Banjaransari waktu itu.
Namun, seperti halnya saya kehilangan Pangeran Banjaransari yang hanya dapat saya kenang melalui makamnya di Tamansari, Sukoharjo, sayapun merasa kehilangan bunga Morishcha dan hanya dapat mengenangnya melalui nisan yang tertancap dalam hati saya. Kisah itu begitu singkat, namun penuh liku. Dari sana, ada keberanian, ketakutan, kegelisahan, ketenangan, rasa pasrah, cemburu, tawa, tangis, dan kebijaksanaan serta ketololan. Hanya dari setangkai itu, telah lahir kisah yang selalu dapat saya ingat. Mungkin juga tidak akan pernah saya lupakan.
Jikapun ada sesal, sesal itu tak akan merubah apa-apa. Bunga itu telah hanyut dalam tangkainya entah pada imajinasi siapa. Saya masih dapat mengingatnya dengan jelas, ketika hujan menandai betapa kita saling membutuhkan. Hujan memberiku airmatanya, dan hujan mengantarkannya padaku sebagai setangkai bunga yang menakjubkan. Angkuh, anggun, namun menyimpan misteri yang menawan.
Jika saya masih mempunyai kesempatan untuk membelai bunga itu lagi, saya ingin menyimpannya erat-erat dalam hati dan kutanam agar benih yang angkuh itu merebak dengan wangi didalam imajinasi. Akan kusiram tanah yang merekah menerimanya sebagai bunga abadi nan puitis. Setidaknya akan kujelmakan ia dengan bahasa yang santun. Tapi pada bulan Mei itu, saya harus merelakannya tercabut dari akar imajinasi saya. Dan mungkin saya masih ingin mengirimkan puisi ini untuk mengingatnya.
Dalam rawan kelopakmu
Kutemukan sabda ratu keindahan
Meskipun angkuh, titahmu pernah menawanku
Dan pada bait sepi, tertulis lirik-lirik sedih
Aku telah kehilangan,
Sebuah melankoli kokohnya setangkaimu
Dari kata menjelma rupa, mewujud frasa takdirku
Pergimu, kuharap bukan tanda baca nihilmu
Aku lelap, dalam hujan yang membelaiku
Pada bau tanah basah,
Mengingatmu merindukan tanah merekah
Tempat disemainya bulir-bulir keanggunan
Setangkai bunga menjelma cinta, Morishcha.
(RA: ‘Setangkai Bunga Morishcha yang Indah’)
Solo, 21 Mei 2010 (02.45)
Agus Raharjo
Langganan:
Komentar (Atom)