Saat menginjakkan kaki pertama di Surabaya sekitar satu bulan yang lalu, hal yang saya ingat adalah saya melewati sebuah kebun binatang. Letaknya, yang membuat saya heran, adalah di wilayah kota yang padat. Saya, masuk ke kota Surabaya dari arah Gresik, lantas jalan yang saya lewati waktu itu adalah Jalan Diponegoro. Kebun binatang itu terletak diantara banyak jalan, jalan Diponegoro, Jalan Raya Darmo, jalan Raya Wonokromo, jalan Joyoboyo, jalan Aditya Warman, dan jalan Ciliwung. Alhasil, posisi kebun binatang itu sangat strategis. Pertama kali berhenti di lampu merah depannya dari jalan DIponegoro, saya langsung mengenali tempat itu adalah kebun binatang, karena papan nama yang terpasang di atasnya jelas bertuliskan ‘Kebun Binatang Surabaya’ dengan gambar berbagai binatang sebagai ‘background’nya.
Lalu, setelah beberapa hari tinggal di Surabaya, ternyata kebun binatang yang disingkat KBS tersebut saat ini tengah mengalami masalah. Masalahnya sangat kompleks, kata salah satu teman saya saat kami berbincang di gedung Negara Grahadi. Masalah itu meliputi konflik karyawan dengan pihak manajemen, lalu pengelolaan KBS, banyaknya satwa yang mati, dan juga pencabutan izin konservasi dari pemerintah. Lantas, berbekal sedikit informasi, saya memberanikan diri kesana dan mulai menggali informasi. Selanjutnya, apa yang saya temukan disana, sangat erat kaitannya dengan sebutan yang melekat dengan kebun binatang itu setelahnya.
Saya datang kesana bersama salah seorang teman saya. Sebelum masuk, saya melihat banyak orang berseragam sedang duduk-duduk di luar KBS. Apa yang mereka lakukan, waktu itu saya masih tidak terlalu peduli. Ternyata, apa yang saya lihat waktu itu, bahkan hingga saat ini adalah efek dari masalah di KBS yang sangat kompleks tadi. Mereka adalah korban dari konflik manajemen. Akibatnya, mereka yang seharusnya telah diangkat dengan Surat Keputusan dari manajemen lama, kembali menelan pil pahit karena SK manajemen lama tidak diakui oleh manajemen baru. Lantas nasib mereka menjadi terkatung-katung yang akhirnya membuat mereka dipecat oleh pihak manajemen baru. Jumlah mereka tak sedikit, 30 orang.
Menurut salah seorang karyawan yang diPHK sepihak itu, Dinas Tenaga Kerja bahkan sudah menghimbau pihak manajemen baru untuk mempekerjakan mereka lagi, dan membayar seluruh gaji bulan yang telah dilewati. Namun, putusan melalui pengadilan tersebut tak digubris. Pihak manajemen malah mengajukan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung. Hingga saat ini, nasib ke-30 karyawan KBS sangat menyedihkan. Mereka kehilangan sumber penghasilan, di sisi lain, mereka memiliki beban tanggungan keluarga. Saat saya mencoba mengklarifikasi masalah tersebut kepada pihak manajemen melalui Public Relationnya, dia menolak berkomentar dan menyerahkan masalah tersebut pada pihak Human Resource Development. Lantas, saat saya mencoba mengklarifikasi ke pihak HRD, tidak ada tanggapan sama sekali. Kesimpulan umum saya, memang terjadi masalah dalam lingkup kebun binatang yang menjadi andalan masyrakat jawa Timur tersebut.
Tak hanya itu, ketika masuk ke dalam KBS, hal pertama yang saya tangkap adalah sepi. Ya, ternyata hewan yang ada di KBS tidak selengkap nama besarnya. Apa yang saya lihat disana tak lebih baik daripada kebun binatang andalan masyarakat Yogyakarta Kebun binatang ‘Gembira Loka’. Selain sepi, kondisi satwanyapun terbilang menyedihkan. Ada satwa yang dalam satu kandang disesaki oleh satu jenis spesiesnya, namun tak jarang saya dapati satwa yang hanya sendirian tanpa pasangan. Bahkan, saya mendapat informasi bahwa satwa di KBS sudah banyak yang mati. Hal itu membuat saya lebih miris lagi dengan kondisi KBS. Kabar terakhir yang saya dapat, seekor jerapah dan Celeng Goteng mati. Jika Jerapah mati karena didalam perutnya terdapat 20 kilogram benda asing seperti plastic yang tak bisa dicerna, Celeng Goteng malah mati akibat racun Sianida.
Lantas, predikat ‘Dead Zoo’ KBS tidak berhenti disana. Karena masih banyak satwa yang hingga hari ini mati. Terakhir, seekor ikan terbesar air tawar Aipama juga ditemukan mati. Dari data yang saya dapatkan dari humas KBS, angka kematian satwa di KBS berkisar 50an setiap bulan. Bukankah itu aneh?! Menurut saya, sangat layak jika izin KBS sebagai wahana konservasi satwa dicabut oleh pemerintah. Karena manajemen KBS tidak mampu mengelola kekayaan fauna langka di Indonesia. Menurut humas KBS, satwa yang mati dari berbagai jenis, yang paling banyak didominasi oleh burung dan mamalia. Akibatnya, predikat ‘Dead Zoo’ memang layak jika disematkan pada kebun binatang kebanggaan Jawa Timur ini. Bahkan anak sekolah dasar di Surabayapun telah memiliki persepsi bahwa KBS merupakan ‘Dead Zoo’.
Bagaimana penyelesaiannya? Harus melibatkan keseriusan pihak terkait. Permasalahan antara manajemen dan karyawan juga menjadi pemicu bagaimana pengelolaan KBS tidak diurusi secara benar. Pasalnya, akibat kebijakan manajemen baru, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari mantan karyawan, ada seorang pawang gajah yang sudah ahli dan bersertifikasi justru dipindah menjadi security. Bukankah itu hal yang ironis? Atau justru masalah ini sangat politis?! Kita belum mampu melihat faktanya. Yang perlu kita pikirkan di sini, ada seekor Bison di KBS yang saat ini sedang sekarat. Bahkan untuk berjalan saja bukan lagi melihat dengan mata, tapi sudah menggunakan instingnya karena kedua matanya buta. Ironisnya, satwa bukan asli Indonesia itu hanya satu-satunya di KBS.
Maka kesimpulan KBS menyandang predikat ‘Dead Zoo’ harus segera dibenahi. Bagaimanapun caranya. Butuh keseriusan dan partisipasi banyak pihak untuk menyelesaikannya, agar fungsi konservasi kembali berlaku untuk kelestarian kekayaan fauna di Indonesia. Damai Indonesiaku, damailah satwa-satwaku.
Surabaya, 3 Mei 2012
Agus Raharjo
Senin, 07 Mei 2012
Rabu, 22 Februari 2012
Aura Keraton
Selasa malam, saya berangkat untuk meliput sebuah acara pembacaan puisi. acara itu adalah peringatan satu abad Hamengkubowono IX yang jatuh tepat 12 April nanti. Yang menarik minat saya untuk datang walau itu bukan tugas kantor adalah disebut nama GKR Pembayun dalam undangan peliputan. GKR adalah kependekan dari Gusti Kanjeng Ratu. Dan pembayun mengingatkan saya akan sebuah nama jalan ketika saya melakukan liputan khusus ke kota Mataram Islam lama di Kotagedhe, Yogyakarta. Entah nama itu merujuk pada satu hala atau bukan, yang pasti saya penasaran ada dua nama Pembayun yang sama. Satu disebutkan dalam undangan pembacaan puisi cinta GKR Pembayun dan satunya adalah jalan Nyi Pembayun.
satu nama yang mungkin hampir sama saya temukan ketika membaca novelnya Afidah Afra 'De Wints' (ejaan judulnya agak lupa). namun di salah satu tokohnya, Afifah menggunakan nama Prembayun (ada huruf 'R' di dalamnya). Saya menduga nama tersebut memang menjadi legenda tokoh perempuan hingga namanya banyak disebut-sebut.
Kesan yang saya tangkap ketika melihat ada nama Nyi Pembayun adalah seorang tua yang menjadi generasi awal pendirian kotagedhe. Yah, walapun saya tidak mencari data-data terkait nama itu. Saya hanya sekadar menuliskan kesan tiga nama yang sering disebut. Dalam kisah di novelnya, saya membaca tulisan Afifah sangat mirip atau sengaja dimirip-miripkan dengan novel Bumi Manusianya Ananta Toer. Namun, justru hal itulah yang membuat saya 'illfeel' untuk melanjutklan membaca novel itu. Masalahnya, saya seperti membaca jiplakan Ananta Toer yang jauh lebih tidak bermutu dibanding novel-novel remaja biasa. Saya kira novel itu ingin menjadi novel sejarah, namun, tidak mendapatkan auranya. Terlebih ketika menceritakan keraton dan kehidupan masa lalu.
Bisa jadi, penulis tidak mengalami atau mempunyai interaksi langsung dengan riset-riset sejarah seperti yang dilakukan Ananta Toer. Hal itulah yang membuat saya melepas novel yang katanya best seller tersebut, dan berhenti membacanya. Afifah terlalu membawa ide 'agamis' dalam tulisannya. Inilah kesan nama Prembayun, yang memang sengaja belum saya buat uraian panjang untuk mereview novel tersebut. Mungkin suatu saat nanti saya akan membacanya, namun sekadar untuk memberikan tanggapan. Mungkin.
Nama yang kedua adalah Nyi Pembayun, sebuah jalan di Kotagedhe sebelum memasuki pasar Kotagedhe. Kalau diterangkan jalan itu merupakan jalan menyilang dari jalan Mondorakan. Posisinya ada setelah jembatan yang menghubungkan jalan Tegalgendhu dengan Jalan Mondorakan. Sesuai dengan alur kisah Mataram Islam lama, bisa jadi jalan itu mengambil nama seorang tokoh yang hidup di jaman Mataram Islam. Bisa jadi.
Nama yang ketiga ini yang paling menarik untuk saya. Ternyata GKR Pembayun adalah sosok yang hingga saat ini masih ada. Ia adalah putri pertama Hamengkubuwono X, yang saat ini masih jadi orang nomor satu di Yogyakarta. Saya baru pertama melihat sosoknya di acara pembacaan puisi di Roemah Pelantjong di jalan Magelang itu. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau orang yang berbaju biasa tersebut adalah seorang putir keraton. Namun, saya sudah merasakan aura berbeda ketika ia duduk di kursi-kursi yang disediakan oleh panitia.
Saya bertanya pada seorang wartawan senior, siapa wanita yang duduk paling depan itu. Teman saya menjawan pertanyaan saya dengan menuliskan sebuah nama pada booknote'nya dengan sebuah huruf tersusun tegas, GKR Pembayun. Sontak saya tercengang, baru sekali itu saya merasakan bertemu langsung dengan seorang putri keraton. Lantas saya hanya bisa memaklumi apa yang saya rasakan, bahwa sebelum saya mengetahui ia seorang putri keraton, auranya sudah mengatakan bahwa ia bukan wanita biasa.
Kemudian saya mengamali gerak-geriknya, dan saya meyakini ada aura yang membedakan antara wanita biasa dnegan wanita dari kalangan keraton. Tingkahnya seperti telah dipelajari hingga mengakar pada kepribadiannya sendiri. Jika dibandingkan dengan gerakan seorang foto model, saya yakin cara berjalannya Putri Keraton itu lebih indah. Cara dia vertutur, cara dia memandang, dan cara dia memberikan gerakan tubuhnya, mencerminkan aura keraton Jawa yang gemulai dan harmonis. Inilah pengalaman pertama saya melihat secara langsung seorang putri raja yang masih disegani di Idonesia. Apakah saya terpukau? Hanya kesan saya yang mengetahuinya.
satu nama yang mungkin hampir sama saya temukan ketika membaca novelnya Afidah Afra 'De Wints' (ejaan judulnya agak lupa). namun di salah satu tokohnya, Afifah menggunakan nama Prembayun (ada huruf 'R' di dalamnya). Saya menduga nama tersebut memang menjadi legenda tokoh perempuan hingga namanya banyak disebut-sebut.
Kesan yang saya tangkap ketika melihat ada nama Nyi Pembayun adalah seorang tua yang menjadi generasi awal pendirian kotagedhe. Yah, walapun saya tidak mencari data-data terkait nama itu. Saya hanya sekadar menuliskan kesan tiga nama yang sering disebut. Dalam kisah di novelnya, saya membaca tulisan Afifah sangat mirip atau sengaja dimirip-miripkan dengan novel Bumi Manusianya Ananta Toer. Namun, justru hal itulah yang membuat saya 'illfeel' untuk melanjutklan membaca novel itu. Masalahnya, saya seperti membaca jiplakan Ananta Toer yang jauh lebih tidak bermutu dibanding novel-novel remaja biasa. Saya kira novel itu ingin menjadi novel sejarah, namun, tidak mendapatkan auranya. Terlebih ketika menceritakan keraton dan kehidupan masa lalu.
Bisa jadi, penulis tidak mengalami atau mempunyai interaksi langsung dengan riset-riset sejarah seperti yang dilakukan Ananta Toer. Hal itulah yang membuat saya melepas novel yang katanya best seller tersebut, dan berhenti membacanya. Afifah terlalu membawa ide 'agamis' dalam tulisannya. Inilah kesan nama Prembayun, yang memang sengaja belum saya buat uraian panjang untuk mereview novel tersebut. Mungkin suatu saat nanti saya akan membacanya, namun sekadar untuk memberikan tanggapan. Mungkin.
Nama yang kedua adalah Nyi Pembayun, sebuah jalan di Kotagedhe sebelum memasuki pasar Kotagedhe. Kalau diterangkan jalan itu merupakan jalan menyilang dari jalan Mondorakan. Posisinya ada setelah jembatan yang menghubungkan jalan Tegalgendhu dengan Jalan Mondorakan. Sesuai dengan alur kisah Mataram Islam lama, bisa jadi jalan itu mengambil nama seorang tokoh yang hidup di jaman Mataram Islam. Bisa jadi.
Nama yang ketiga ini yang paling menarik untuk saya. Ternyata GKR Pembayun adalah sosok yang hingga saat ini masih ada. Ia adalah putri pertama Hamengkubuwono X, yang saat ini masih jadi orang nomor satu di Yogyakarta. Saya baru pertama melihat sosoknya di acara pembacaan puisi di Roemah Pelantjong di jalan Magelang itu. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau orang yang berbaju biasa tersebut adalah seorang putir keraton. Namun, saya sudah merasakan aura berbeda ketika ia duduk di kursi-kursi yang disediakan oleh panitia.
Saya bertanya pada seorang wartawan senior, siapa wanita yang duduk paling depan itu. Teman saya menjawan pertanyaan saya dengan menuliskan sebuah nama pada booknote'nya dengan sebuah huruf tersusun tegas, GKR Pembayun. Sontak saya tercengang, baru sekali itu saya merasakan bertemu langsung dengan seorang putri keraton. Lantas saya hanya bisa memaklumi apa yang saya rasakan, bahwa sebelum saya mengetahui ia seorang putri keraton, auranya sudah mengatakan bahwa ia bukan wanita biasa.
Kemudian saya mengamali gerak-geriknya, dan saya meyakini ada aura yang membedakan antara wanita biasa dnegan wanita dari kalangan keraton. Tingkahnya seperti telah dipelajari hingga mengakar pada kepribadiannya sendiri. Jika dibandingkan dengan gerakan seorang foto model, saya yakin cara berjalannya Putri Keraton itu lebih indah. Cara dia vertutur, cara dia memandang, dan cara dia memberikan gerakan tubuhnya, mencerminkan aura keraton Jawa yang gemulai dan harmonis. Inilah pengalaman pertama saya melihat secara langsung seorang putri raja yang masih disegani di Idonesia. Apakah saya terpukau? Hanya kesan saya yang mengetahuinya.
Label: foto
coretan
Selasa, 14 Februari 2012
Surat Untuk Cinta #8

Selamat hari yang gembira untuk Cinta…
Tapi bukan karena hari ini sebagian orang merayakan hari kasih sayang. Aku tidak ikut merayakannya. Dan kuyakin kau juga tidak.
Bagaimana kabarmu disana, Cinta? Apakah masih sering dilanda hujan, ditempatmu? Hujan yang terkadang memberi lambang duka, sedih dan tangis.
Mungkin sebagian dari orang-orang ditempatmu itu, hujan membuat kesedihan secara nyata. Membuat negara kerepotan untuk mengungsikan penduduk, membuat warga sendiri harus menerima kenyataan bahwa mereka harus takluk pada alam. Namun disini, ditempatku sekarang, hujan sangat dinanti-nanti. Ia dipuja, disanjung. Bahkan hewan semacam ‘Kinjeng’ pun akan bernyanyi. Nyanyian itulah yang membuat petani—sebagian masyarakat disini masih petani, bersiap untuk menanam. Ya, walaupun juga terkadang hujan membuat seseorang menjadi malas beraktifitas. Namun, airnya sangat dinanti-nanti. Saat itu, padi-padi akan segera menghijau diantara pematang sawah.
Taukah kau, Cinta? Aku mendamakan kehidupan seperti itu. Ada sawah, petani, ternak, dan udara segar di pagi hari. Apakah kau juga memimpikannya?
Aku menyadari, di tempatmu, gedung-gedung berebut mencium langit. Sawah, ladang, dan tumbuhan yang hijau hanya jadi poster kampanye ‘Global Warming’. Disini, kau tidak hanya menikmati negeri impian itu sebatas melihat gambar kalender. Namun, kau akan menemukan semua pesona gambaran hidup asri disini. Di negeri yang bisa kausebut kampung atau desa. Disini, sekelilingmu adalah hamparan padi yang menghijau. Sungai yang mengalir airnya jernih. Dan keramahan penduduk akan menyapamu. Semua itu bukan kisah di dalam poster yang kaulihat dikantormu, atau di jalanan yang biasa kau lewati. Disini, semua itu nyata.
Na, terkadang—seringkali, hujan mengingatkanku akan masa lalu. Masa lalu saat kita masih mencari, siapa diri dan dimana bediri. Kala itu, kau mungkin tak pernah menerka, ada apa dengan hari ini. Saat itu juga, aku mungkin tak bisa memilah, impian dan kenangan. Semua tentang kau. Masa lalu, berlalu, lantas menyisakan ingatan tentang kenangan.
Na, suatu kali, kukunjungi titik pangkal masa lalu suatu bangsa. Namanya Mataram Islam. Ia, bagi sebagian orang hanya tinggal direntetan tulisan buku sejarah di sekolah. Namun disini, ia masih hidup. Hidup dengan semangat dan mitos-mitos yang melestarikannya. Ia pernah menjadi besar, lalu sekarang hanya tersisa puing-puing berserakan. Seperti kenangannya berserakan di buku-buku sejarah dan ingatan masyarakatnya. Namun, bagiku, ketika aku singgah disana, barang sejenak menikmati betapa besar ia masa itu, aku ingin menyesap kenangan yang tersebar menjadi tulisan yang mungkin tak ada arti lagi. Aku sungguh menikmatinya. Seolah aku ingin benar-benar dapat kembali mengulang masa itu. Atau setidaknya ada di saat kenangan itu mulai menjadi cerita.
Ada masa saat kita ingat kenangan, bukan? Mungkin saat itulah terkadang seseorang menemukan kembali rasa bahagianya. Bukan uang, harta, pangkat, jabatan ataupun segala rupa penghias dunia. Karena masa itulah yang paling setia. Ia ada dibelakang kita, selamanya.
Na, ingatkah kau pada saat sujud menjadi peletup kecintaan? Disana ada rongga yang minta diisi. Apa yang mengisinya semoga tetap sebuah ketentraman hati. Ah.. aku semakin lupa, bahwa selama ini aku memang merindukanmu. Suka menemukanmu dalam kenangan yang dibawa masa lalu. Merindukan gejolak dikala kita berjauhan seperti ini. Aku lupa itu, mungkin juga tak menyadarinya. Kenangan yang dibawa masa lalulah tempat rindu itu bersembunyi. Ia setia ketika kau ada di dekatku. Jadilah seperti itu, karena kerinduan ini jadi harta tak terduga yang suatu kali akan kutemukan lagi. Dia ada di dekat, tapi terkadang tak kupahami, atau kusadari. Begitu juga kau.
Biarlah tetap seperti itu, Cinta. Dengan begitu kita dapat saling meresapi lagi. Menikmati setiap nafas yang kauhirup terkandung namaku, dan di nafasku ada namamu.
Cinta, pernahkah kau tahu bahwa Eyang Pram pernah menyampaikan, bahwa temannya Minke yang semakin jauh dengan Annelies pernah mengungkapkan, di depan manusia itu ada jarak, ia menjadi pembatas antara kita dan ufuk yang jauh disana. Jika kita mendekat ke ufuk, ia akan berlari, yang ada di depan kita masih juga sama, jarak. Karena mereka abadi. Itulah yng terjadi diantara kita, ada jarak di depan kita, beruntung kau bukanlah ufuk, maka saat aku atau kau mendekat, jarak semakin pendek, dan tak akan ada ketika kita menyatu. Aku dan kau bukan ufuk. Tapi aku dan kau adalah cerita yang akan jadi kenangan masalalu bagi hari esok.
Kuakhiri surat ini dengan segenggam haru yang mungkin ingin segera bertemu. Agar kita memang bukanlah ufuk. Na, hati-hati di tempat penuh ketidakpastian seperti tempatmu itu. Semoga kau selalu baik-baik.
14 februari 2012
Agus Raharjo
Label: foto
pribadi
Langganan:
Komentar (Atom)