Kamis, 05 Juli 2012
Rumah dan Satu Peristiwa di Waktu Sahur
Pagi-pagi, Ibu membangunkanku, juga seluruh saudaraku. Hari masih gelap. Diantara pukul 02.30 hingga 03.00 Waktu Indonesia bagian Klaten. Beberapa saat kemudian, radio kecil hiburan kami yang paling mewah menyala. Seorang ulama dengan suara khasnya lalu sayup memenuhi ruangan tempat makan. Suara ulama yang sering menyebut kata “betul” dengan nada yang tak kalah khasnya. Bukan ruang makan, karena kami tak memiliki itu. Tak ada meja makan, juga tak ada piring ditata rapi agar meja disebut meja makan.
Lalu, Ibu yang sudah bangun lebih dahulu. Biasanya satu jam sebelum kami dibangunkan, masih menyiapkan nasi atau lauk untuk kami semua. Yang paling saya ingat, telur dadar di piring itu dipotong sesuai jumlah kami yang akan makan sahur. Kenapa tidak memilih di goreng telur mata sapi atau telur? Karena memang tidak ada pilihan itu. Dua butir telur sengaja digoreng dadar agar semua kebagian untuk memakannya. Irisan-irisan telur yang kadang saya rindukan setelah 15 tahun berlalu.
Saya sangat ingat, disaat kami saling berebut untuk mengambil telur pertama kali. Sebab, yang pertama memiliki kesempatan paling besar untuk memilih irisan terbesar telur dadar yang kadang dicampur dengan irisan bawang merah dan cabai. Selanjutnya, mengelilingi suara radio, kami makan sahur tanpa Ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak hanya menyiapkan makan sahur untuk kami. Meskipun kami ingin mereka ikut makan sahur dengan kami, tapi kehidupan demokrasi dan kebebasan yang tertanam secara tak sengaja di keluarga kami, membuat kami (ketujuh anak Ibu-Bapak) tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Secuil peristiwa itu adalah rutinitas yang terjadi di bulan Ramadhan, saat 9 anggota keluarga masih berkumpul 15 tahun lalu. Di sebuah tempat yang selalu kami rindukan untuk kembali. Sebuah tempat yang disebut rumah bagi sebuah keluarga besar Suranto Martowardoyo. Saat ini, rumah itu sudah lain. Peristiwa makan sahur di bulan Ramadhan sudah tak ada lagi seperti waktu aku kecil dulu. Waktu itu, kami masih berkumpul, lengkap. Sampai Lebaranpun, kami tetap berkumpul. Tapi saat ini, dan mungkin Ramadhan yang kurang sebulan lagi datang, sebagian kami ada di tempat yang jauh.
Bisa jadi rumah itu sepi. Sulung Ibu, saat ini masih berjuang dan berusaha mewujudkan impian di negeri nun jauh disana, Jerman. Kakak kedua, meskipun lebih dekat, tapi juga berusaha membangun rumah impian untuk keluarganya. Entah di Klaten atau di Ciamis. Aku sendiri, bahkan tahun lalu tidak dapat berkumpul saat Ramadhan dan Lebaran. Aku sedang berjuang membangun apa yang pernah aku impikan. Kedua adik perempuanku, saat ini lebih banyak tinggal di kota tempat mereka merancang masa depan, Yogyakarta. Praktis, hanya kakak perempuan dan adik laki-lakiku yang setia menjaga rumah. Menjaga Ibu dan Bapak. Semoga tetap menjaga suasana tenteram disana.
Kami, pergi untuk selalu kembali. Itulah yang selalu tertanam di pikiranku. Kembali pada keluarga, kembali untuk keluarga, dan kembali ke rumah. Meskipun, saat Ahmad Albar menyanyi, rumahku ‘hanya bilik bambu, tempat tinggal kita, tanpa hiasan tanpa lukisan, beratap jerami beralaskan tanah’, namun itu rumah kami.
Rumah yang senantiasa terbawa selalu dalam perjalanan kami. Sejauh apapun itu, rumah selalu ada di hati kami. Juga seisinya. Kadang tawa, tangis, diam, sunyi, keluh, peluh, marah, pertengkaran. Namun kami mengerti, kami lahir dalam keadaan yang kami syukuri saat ini. Bersama rumah itu, Ibu-Bapak, Kakak-Adik, aku mengerti, aku lahir di sana bukan tanpa alasan. Aku mengerti arti hidup sesungguhnya, arti menghargai pendapat, belajar bijaksana bukan hanya berpijak pada satu sudut pandang, dan arti kebahagiaan itu seperti apa.
Dulu, pertama kali aku ‘pergi’, dalam hati aku berjanji, tak akan pulang sebelum sukses. Akhirnya, sukses itu bukan soal kaya raya. Bukan soal aku punya jabatan tinggi, punya banyak uang. Tapi aku mengerti aku merindukan mereka semua, Ibu-Bapak, kakak-adik, dan rumahku di ‘56’. Ramadhan tahun ini, sepertinya ada kekuatiran tidak dapat pulang lagi. Meskipun pulang, semua akan terasa lain. Tanpa ketiga kakakku dengan keluarganya, tanpa ketiga adikku dengan kenakalannya. Ah, semua begitu indah untuk dibayangkan. Terlebih banyak anggota baru yang akan meramaikan rumah kami. Aku rindu keramaian itu. Gelak tawa diantara canda-canda. Suara jengkel karena digoda. Aku rindu makan sahur dengan suasana sama seperti lima belas tahun lalu.
Untuk semua orang yang kusayangi disana, baik-baik kalian. Jaga baik tempat pulang itu, dan akan kurawat jalan pulang ini. Untuk semua yang tengah berjuang di tempat yang jauh, juga baik-baik disana. Rumah selalu menunggu untuk jadi tempat pulang. Meskipun bukan di Ramadhan ini, mungkin juga di Lebaran nanti. Tapi kita diikat oleh kisah yang besar. Kisah untuk bangkit karena rumah kita adalah rumah impian. Rumah semangat. Rumah perjuangan. Kita adalah keluarga besar. Ibu-Bapakku orang besar. Dari mereka lahirlah tujuh orang besar. Waktu selalu bergerak maju, tapi sejarah menyimpan kisah itu dalam buku kenangan. Rumahku dan juga Ramadhanku. Satu peristiwa di waktu sahur. Waktu itu.
Surabaya, 5 Juli 2012
Agus Raharjo
Label: foto
pribadi
Senin, 07 Mei 2012
“Dead Zoo”
Saat menginjakkan kaki pertama di Surabaya sekitar satu bulan yang lalu, hal yang saya ingat adalah saya melewati sebuah kebun binatang. Letaknya, yang membuat saya heran, adalah di wilayah kota yang padat. Saya, masuk ke kota Surabaya dari arah Gresik, lantas jalan yang saya lewati waktu itu adalah Jalan Diponegoro. Kebun binatang itu terletak diantara banyak jalan, jalan Diponegoro, Jalan Raya Darmo, jalan Raya Wonokromo, jalan Joyoboyo, jalan Aditya Warman, dan jalan Ciliwung. Alhasil, posisi kebun binatang itu sangat strategis. Pertama kali berhenti di lampu merah depannya dari jalan DIponegoro, saya langsung mengenali tempat itu adalah kebun binatang, karena papan nama yang terpasang di atasnya jelas bertuliskan ‘Kebun Binatang Surabaya’ dengan gambar berbagai binatang sebagai ‘background’nya.
Lalu, setelah beberapa hari tinggal di Surabaya, ternyata kebun binatang yang disingkat KBS tersebut saat ini tengah mengalami masalah. Masalahnya sangat kompleks, kata salah satu teman saya saat kami berbincang di gedung Negara Grahadi. Masalah itu meliputi konflik karyawan dengan pihak manajemen, lalu pengelolaan KBS, banyaknya satwa yang mati, dan juga pencabutan izin konservasi dari pemerintah. Lantas, berbekal sedikit informasi, saya memberanikan diri kesana dan mulai menggali informasi. Selanjutnya, apa yang saya temukan disana, sangat erat kaitannya dengan sebutan yang melekat dengan kebun binatang itu setelahnya.
Saya datang kesana bersama salah seorang teman saya. Sebelum masuk, saya melihat banyak orang berseragam sedang duduk-duduk di luar KBS. Apa yang mereka lakukan, waktu itu saya masih tidak terlalu peduli. Ternyata, apa yang saya lihat waktu itu, bahkan hingga saat ini adalah efek dari masalah di KBS yang sangat kompleks tadi. Mereka adalah korban dari konflik manajemen. Akibatnya, mereka yang seharusnya telah diangkat dengan Surat Keputusan dari manajemen lama, kembali menelan pil pahit karena SK manajemen lama tidak diakui oleh manajemen baru. Lantas nasib mereka menjadi terkatung-katung yang akhirnya membuat mereka dipecat oleh pihak manajemen baru. Jumlah mereka tak sedikit, 30 orang.
Menurut salah seorang karyawan yang diPHK sepihak itu, Dinas Tenaga Kerja bahkan sudah menghimbau pihak manajemen baru untuk mempekerjakan mereka lagi, dan membayar seluruh gaji bulan yang telah dilewati. Namun, putusan melalui pengadilan tersebut tak digubris. Pihak manajemen malah mengajukan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung. Hingga saat ini, nasib ke-30 karyawan KBS sangat menyedihkan. Mereka kehilangan sumber penghasilan, di sisi lain, mereka memiliki beban tanggungan keluarga. Saat saya mencoba mengklarifikasi masalah tersebut kepada pihak manajemen melalui Public Relationnya, dia menolak berkomentar dan menyerahkan masalah tersebut pada pihak Human Resource Development. Lantas, saat saya mencoba mengklarifikasi ke pihak HRD, tidak ada tanggapan sama sekali. Kesimpulan umum saya, memang terjadi masalah dalam lingkup kebun binatang yang menjadi andalan masyrakat jawa Timur tersebut.
Tak hanya itu, ketika masuk ke dalam KBS, hal pertama yang saya tangkap adalah sepi. Ya, ternyata hewan yang ada di KBS tidak selengkap nama besarnya. Apa yang saya lihat disana tak lebih baik daripada kebun binatang andalan masyarakat Yogyakarta Kebun binatang ‘Gembira Loka’. Selain sepi, kondisi satwanyapun terbilang menyedihkan. Ada satwa yang dalam satu kandang disesaki oleh satu jenis spesiesnya, namun tak jarang saya dapati satwa yang hanya sendirian tanpa pasangan. Bahkan, saya mendapat informasi bahwa satwa di KBS sudah banyak yang mati. Hal itu membuat saya lebih miris lagi dengan kondisi KBS. Kabar terakhir yang saya dapat, seekor jerapah dan Celeng Goteng mati. Jika Jerapah mati karena didalam perutnya terdapat 20 kilogram benda asing seperti plastic yang tak bisa dicerna, Celeng Goteng malah mati akibat racun Sianida.
Lantas, predikat ‘Dead Zoo’ KBS tidak berhenti disana. Karena masih banyak satwa yang hingga hari ini mati. Terakhir, seekor ikan terbesar air tawar Aipama juga ditemukan mati. Dari data yang saya dapatkan dari humas KBS, angka kematian satwa di KBS berkisar 50an setiap bulan. Bukankah itu aneh?! Menurut saya, sangat layak jika izin KBS sebagai wahana konservasi satwa dicabut oleh pemerintah. Karena manajemen KBS tidak mampu mengelola kekayaan fauna langka di Indonesia. Menurut humas KBS, satwa yang mati dari berbagai jenis, yang paling banyak didominasi oleh burung dan mamalia. Akibatnya, predikat ‘Dead Zoo’ memang layak jika disematkan pada kebun binatang kebanggaan Jawa Timur ini. Bahkan anak sekolah dasar di Surabayapun telah memiliki persepsi bahwa KBS merupakan ‘Dead Zoo’.
Bagaimana penyelesaiannya? Harus melibatkan keseriusan pihak terkait. Permasalahan antara manajemen dan karyawan juga menjadi pemicu bagaimana pengelolaan KBS tidak diurusi secara benar. Pasalnya, akibat kebijakan manajemen baru, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari mantan karyawan, ada seorang pawang gajah yang sudah ahli dan bersertifikasi justru dipindah menjadi security. Bukankah itu hal yang ironis? Atau justru masalah ini sangat politis?! Kita belum mampu melihat faktanya. Yang perlu kita pikirkan di sini, ada seekor Bison di KBS yang saat ini sedang sekarat. Bahkan untuk berjalan saja bukan lagi melihat dengan mata, tapi sudah menggunakan instingnya karena kedua matanya buta. Ironisnya, satwa bukan asli Indonesia itu hanya satu-satunya di KBS.
Maka kesimpulan KBS menyandang predikat ‘Dead Zoo’ harus segera dibenahi. Bagaimanapun caranya. Butuh keseriusan dan partisipasi banyak pihak untuk menyelesaikannya, agar fungsi konservasi kembali berlaku untuk kelestarian kekayaan fauna di Indonesia. Damai Indonesiaku, damailah satwa-satwaku.
Surabaya, 3 Mei 2012
Agus Raharjo
Lalu, setelah beberapa hari tinggal di Surabaya, ternyata kebun binatang yang disingkat KBS tersebut saat ini tengah mengalami masalah. Masalahnya sangat kompleks, kata salah satu teman saya saat kami berbincang di gedung Negara Grahadi. Masalah itu meliputi konflik karyawan dengan pihak manajemen, lalu pengelolaan KBS, banyaknya satwa yang mati, dan juga pencabutan izin konservasi dari pemerintah. Lantas, berbekal sedikit informasi, saya memberanikan diri kesana dan mulai menggali informasi. Selanjutnya, apa yang saya temukan disana, sangat erat kaitannya dengan sebutan yang melekat dengan kebun binatang itu setelahnya.
Saya datang kesana bersama salah seorang teman saya. Sebelum masuk, saya melihat banyak orang berseragam sedang duduk-duduk di luar KBS. Apa yang mereka lakukan, waktu itu saya masih tidak terlalu peduli. Ternyata, apa yang saya lihat waktu itu, bahkan hingga saat ini adalah efek dari masalah di KBS yang sangat kompleks tadi. Mereka adalah korban dari konflik manajemen. Akibatnya, mereka yang seharusnya telah diangkat dengan Surat Keputusan dari manajemen lama, kembali menelan pil pahit karena SK manajemen lama tidak diakui oleh manajemen baru. Lantas nasib mereka menjadi terkatung-katung yang akhirnya membuat mereka dipecat oleh pihak manajemen baru. Jumlah mereka tak sedikit, 30 orang.
Menurut salah seorang karyawan yang diPHK sepihak itu, Dinas Tenaga Kerja bahkan sudah menghimbau pihak manajemen baru untuk mempekerjakan mereka lagi, dan membayar seluruh gaji bulan yang telah dilewati. Namun, putusan melalui pengadilan tersebut tak digubris. Pihak manajemen malah mengajukan kasasi ke tingkat Mahkamah Agung. Hingga saat ini, nasib ke-30 karyawan KBS sangat menyedihkan. Mereka kehilangan sumber penghasilan, di sisi lain, mereka memiliki beban tanggungan keluarga. Saat saya mencoba mengklarifikasi masalah tersebut kepada pihak manajemen melalui Public Relationnya, dia menolak berkomentar dan menyerahkan masalah tersebut pada pihak Human Resource Development. Lantas, saat saya mencoba mengklarifikasi ke pihak HRD, tidak ada tanggapan sama sekali. Kesimpulan umum saya, memang terjadi masalah dalam lingkup kebun binatang yang menjadi andalan masyrakat jawa Timur tersebut.
Tak hanya itu, ketika masuk ke dalam KBS, hal pertama yang saya tangkap adalah sepi. Ya, ternyata hewan yang ada di KBS tidak selengkap nama besarnya. Apa yang saya lihat disana tak lebih baik daripada kebun binatang andalan masyarakat Yogyakarta Kebun binatang ‘Gembira Loka’. Selain sepi, kondisi satwanyapun terbilang menyedihkan. Ada satwa yang dalam satu kandang disesaki oleh satu jenis spesiesnya, namun tak jarang saya dapati satwa yang hanya sendirian tanpa pasangan. Bahkan, saya mendapat informasi bahwa satwa di KBS sudah banyak yang mati. Hal itu membuat saya lebih miris lagi dengan kondisi KBS. Kabar terakhir yang saya dapat, seekor jerapah dan Celeng Goteng mati. Jika Jerapah mati karena didalam perutnya terdapat 20 kilogram benda asing seperti plastic yang tak bisa dicerna, Celeng Goteng malah mati akibat racun Sianida.
Lantas, predikat ‘Dead Zoo’ KBS tidak berhenti disana. Karena masih banyak satwa yang hingga hari ini mati. Terakhir, seekor ikan terbesar air tawar Aipama juga ditemukan mati. Dari data yang saya dapatkan dari humas KBS, angka kematian satwa di KBS berkisar 50an setiap bulan. Bukankah itu aneh?! Menurut saya, sangat layak jika izin KBS sebagai wahana konservasi satwa dicabut oleh pemerintah. Karena manajemen KBS tidak mampu mengelola kekayaan fauna langka di Indonesia. Menurut humas KBS, satwa yang mati dari berbagai jenis, yang paling banyak didominasi oleh burung dan mamalia. Akibatnya, predikat ‘Dead Zoo’ memang layak jika disematkan pada kebun binatang kebanggaan Jawa Timur ini. Bahkan anak sekolah dasar di Surabayapun telah memiliki persepsi bahwa KBS merupakan ‘Dead Zoo’.
Bagaimana penyelesaiannya? Harus melibatkan keseriusan pihak terkait. Permasalahan antara manajemen dan karyawan juga menjadi pemicu bagaimana pengelolaan KBS tidak diurusi secara benar. Pasalnya, akibat kebijakan manajemen baru, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari mantan karyawan, ada seorang pawang gajah yang sudah ahli dan bersertifikasi justru dipindah menjadi security. Bukankah itu hal yang ironis? Atau justru masalah ini sangat politis?! Kita belum mampu melihat faktanya. Yang perlu kita pikirkan di sini, ada seekor Bison di KBS yang saat ini sedang sekarat. Bahkan untuk berjalan saja bukan lagi melihat dengan mata, tapi sudah menggunakan instingnya karena kedua matanya buta. Ironisnya, satwa bukan asli Indonesia itu hanya satu-satunya di KBS.
Maka kesimpulan KBS menyandang predikat ‘Dead Zoo’ harus segera dibenahi. Bagaimanapun caranya. Butuh keseriusan dan partisipasi banyak pihak untuk menyelesaikannya, agar fungsi konservasi kembali berlaku untuk kelestarian kekayaan fauna di Indonesia. Damai Indonesiaku, damailah satwa-satwaku.
Surabaya, 3 Mei 2012
Agus Raharjo
Label: foto
coretan
Rabu, 22 Februari 2012
Aura Keraton
Selasa malam, saya berangkat untuk meliput sebuah acara pembacaan puisi. acara itu adalah peringatan satu abad Hamengkubowono IX yang jatuh tepat 12 April nanti. Yang menarik minat saya untuk datang walau itu bukan tugas kantor adalah disebut nama GKR Pembayun dalam undangan peliputan. GKR adalah kependekan dari Gusti Kanjeng Ratu. Dan pembayun mengingatkan saya akan sebuah nama jalan ketika saya melakukan liputan khusus ke kota Mataram Islam lama di Kotagedhe, Yogyakarta. Entah nama itu merujuk pada satu hala atau bukan, yang pasti saya penasaran ada dua nama Pembayun yang sama. Satu disebutkan dalam undangan pembacaan puisi cinta GKR Pembayun dan satunya adalah jalan Nyi Pembayun.
satu nama yang mungkin hampir sama saya temukan ketika membaca novelnya Afidah Afra 'De Wints' (ejaan judulnya agak lupa). namun di salah satu tokohnya, Afifah menggunakan nama Prembayun (ada huruf 'R' di dalamnya). Saya menduga nama tersebut memang menjadi legenda tokoh perempuan hingga namanya banyak disebut-sebut.
Kesan yang saya tangkap ketika melihat ada nama Nyi Pembayun adalah seorang tua yang menjadi generasi awal pendirian kotagedhe. Yah, walapun saya tidak mencari data-data terkait nama itu. Saya hanya sekadar menuliskan kesan tiga nama yang sering disebut. Dalam kisah di novelnya, saya membaca tulisan Afifah sangat mirip atau sengaja dimirip-miripkan dengan novel Bumi Manusianya Ananta Toer. Namun, justru hal itulah yang membuat saya 'illfeel' untuk melanjutklan membaca novel itu. Masalahnya, saya seperti membaca jiplakan Ananta Toer yang jauh lebih tidak bermutu dibanding novel-novel remaja biasa. Saya kira novel itu ingin menjadi novel sejarah, namun, tidak mendapatkan auranya. Terlebih ketika menceritakan keraton dan kehidupan masa lalu.
Bisa jadi, penulis tidak mengalami atau mempunyai interaksi langsung dengan riset-riset sejarah seperti yang dilakukan Ananta Toer. Hal itulah yang membuat saya melepas novel yang katanya best seller tersebut, dan berhenti membacanya. Afifah terlalu membawa ide 'agamis' dalam tulisannya. Inilah kesan nama Prembayun, yang memang sengaja belum saya buat uraian panjang untuk mereview novel tersebut. Mungkin suatu saat nanti saya akan membacanya, namun sekadar untuk memberikan tanggapan. Mungkin.
Nama yang kedua adalah Nyi Pembayun, sebuah jalan di Kotagedhe sebelum memasuki pasar Kotagedhe. Kalau diterangkan jalan itu merupakan jalan menyilang dari jalan Mondorakan. Posisinya ada setelah jembatan yang menghubungkan jalan Tegalgendhu dengan Jalan Mondorakan. Sesuai dengan alur kisah Mataram Islam lama, bisa jadi jalan itu mengambil nama seorang tokoh yang hidup di jaman Mataram Islam. Bisa jadi.
Nama yang ketiga ini yang paling menarik untuk saya. Ternyata GKR Pembayun adalah sosok yang hingga saat ini masih ada. Ia adalah putri pertama Hamengkubuwono X, yang saat ini masih jadi orang nomor satu di Yogyakarta. Saya baru pertama melihat sosoknya di acara pembacaan puisi di Roemah Pelantjong di jalan Magelang itu. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau orang yang berbaju biasa tersebut adalah seorang putir keraton. Namun, saya sudah merasakan aura berbeda ketika ia duduk di kursi-kursi yang disediakan oleh panitia.
Saya bertanya pada seorang wartawan senior, siapa wanita yang duduk paling depan itu. Teman saya menjawan pertanyaan saya dengan menuliskan sebuah nama pada booknote'nya dengan sebuah huruf tersusun tegas, GKR Pembayun. Sontak saya tercengang, baru sekali itu saya merasakan bertemu langsung dengan seorang putri keraton. Lantas saya hanya bisa memaklumi apa yang saya rasakan, bahwa sebelum saya mengetahui ia seorang putri keraton, auranya sudah mengatakan bahwa ia bukan wanita biasa.
Kemudian saya mengamali gerak-geriknya, dan saya meyakini ada aura yang membedakan antara wanita biasa dnegan wanita dari kalangan keraton. Tingkahnya seperti telah dipelajari hingga mengakar pada kepribadiannya sendiri. Jika dibandingkan dengan gerakan seorang foto model, saya yakin cara berjalannya Putri Keraton itu lebih indah. Cara dia vertutur, cara dia memandang, dan cara dia memberikan gerakan tubuhnya, mencerminkan aura keraton Jawa yang gemulai dan harmonis. Inilah pengalaman pertama saya melihat secara langsung seorang putri raja yang masih disegani di Idonesia. Apakah saya terpukau? Hanya kesan saya yang mengetahuinya.
satu nama yang mungkin hampir sama saya temukan ketika membaca novelnya Afidah Afra 'De Wints' (ejaan judulnya agak lupa). namun di salah satu tokohnya, Afifah menggunakan nama Prembayun (ada huruf 'R' di dalamnya). Saya menduga nama tersebut memang menjadi legenda tokoh perempuan hingga namanya banyak disebut-sebut.
Kesan yang saya tangkap ketika melihat ada nama Nyi Pembayun adalah seorang tua yang menjadi generasi awal pendirian kotagedhe. Yah, walapun saya tidak mencari data-data terkait nama itu. Saya hanya sekadar menuliskan kesan tiga nama yang sering disebut. Dalam kisah di novelnya, saya membaca tulisan Afifah sangat mirip atau sengaja dimirip-miripkan dengan novel Bumi Manusianya Ananta Toer. Namun, justru hal itulah yang membuat saya 'illfeel' untuk melanjutklan membaca novel itu. Masalahnya, saya seperti membaca jiplakan Ananta Toer yang jauh lebih tidak bermutu dibanding novel-novel remaja biasa. Saya kira novel itu ingin menjadi novel sejarah, namun, tidak mendapatkan auranya. Terlebih ketika menceritakan keraton dan kehidupan masa lalu.
Bisa jadi, penulis tidak mengalami atau mempunyai interaksi langsung dengan riset-riset sejarah seperti yang dilakukan Ananta Toer. Hal itulah yang membuat saya melepas novel yang katanya best seller tersebut, dan berhenti membacanya. Afifah terlalu membawa ide 'agamis' dalam tulisannya. Inilah kesan nama Prembayun, yang memang sengaja belum saya buat uraian panjang untuk mereview novel tersebut. Mungkin suatu saat nanti saya akan membacanya, namun sekadar untuk memberikan tanggapan. Mungkin.
Nama yang kedua adalah Nyi Pembayun, sebuah jalan di Kotagedhe sebelum memasuki pasar Kotagedhe. Kalau diterangkan jalan itu merupakan jalan menyilang dari jalan Mondorakan. Posisinya ada setelah jembatan yang menghubungkan jalan Tegalgendhu dengan Jalan Mondorakan. Sesuai dengan alur kisah Mataram Islam lama, bisa jadi jalan itu mengambil nama seorang tokoh yang hidup di jaman Mataram Islam. Bisa jadi.
Nama yang ketiga ini yang paling menarik untuk saya. Ternyata GKR Pembayun adalah sosok yang hingga saat ini masih ada. Ia adalah putri pertama Hamengkubuwono X, yang saat ini masih jadi orang nomor satu di Yogyakarta. Saya baru pertama melihat sosoknya di acara pembacaan puisi di Roemah Pelantjong di jalan Magelang itu. Awalnya, saya tidak mengetahui kalau orang yang berbaju biasa tersebut adalah seorang putir keraton. Namun, saya sudah merasakan aura berbeda ketika ia duduk di kursi-kursi yang disediakan oleh panitia.
Saya bertanya pada seorang wartawan senior, siapa wanita yang duduk paling depan itu. Teman saya menjawan pertanyaan saya dengan menuliskan sebuah nama pada booknote'nya dengan sebuah huruf tersusun tegas, GKR Pembayun. Sontak saya tercengang, baru sekali itu saya merasakan bertemu langsung dengan seorang putri keraton. Lantas saya hanya bisa memaklumi apa yang saya rasakan, bahwa sebelum saya mengetahui ia seorang putri keraton, auranya sudah mengatakan bahwa ia bukan wanita biasa.
Kemudian saya mengamali gerak-geriknya, dan saya meyakini ada aura yang membedakan antara wanita biasa dnegan wanita dari kalangan keraton. Tingkahnya seperti telah dipelajari hingga mengakar pada kepribadiannya sendiri. Jika dibandingkan dengan gerakan seorang foto model, saya yakin cara berjalannya Putri Keraton itu lebih indah. Cara dia vertutur, cara dia memandang, dan cara dia memberikan gerakan tubuhnya, mencerminkan aura keraton Jawa yang gemulai dan harmonis. Inilah pengalaman pertama saya melihat secara langsung seorang putri raja yang masih disegani di Idonesia. Apakah saya terpukau? Hanya kesan saya yang mengetahuinya.
Label: foto
coretan
Langganan:
Komentar (Atom)
